Imanitas Imunitas

Tema ini kami sampaikan sebagai oleh-oleh acara Silaturrahmi Penggiat Maiyah 2021, dari Mbah Nun untuk kulawarga gugurgunung. Kemudian kami tadaburi untuk kami angkat sebagai bahan sinau bareng dalam rangka merespon beberapa peristiwa luar biasa yang sedang terjadi saat ini. Sekaligus sebagai bentuk upaya kami dalam rangka beradaptasi dengan kondisi tersebut.

 

Pandemi sudah masuk pada gelombang ke dua, yang ombaknya kian bergulung gulung, hempasannya kian memporak porandakan banyak hal. Varian virus, tingkat penyebaran, angka kematian, dan sebagainya, menyerupa gelombang besar yang berpadu dengan hempasan angin dan sambaran sambaran petir. Berdampak hampir menyeluruh pada hampir semua aspek keberlangsungan hidup. Rasa takut yang mencekam sampai kepada garis putus asa.

 

Pemerintah dengan segala perangkatnya, dalam satu tahun ini terus berjuang mengupayakan banyak hal. Satu simpulan universalnya adalah peningkatan Imunitas.

 

Dalam lingkaran Maiyah sendiri, Mbah Nun juga merasa khawatir, belas kasih, dan tidak tega dengan kondisi anak cucunya. Beliau menyampaikan, bahwa bekal hidup Beliau yang nomer satu adalah “rasa tidak tega”. Pijakannya adalah QS : Attaubah 128-129.

 

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ

عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

 

Terjemah Arti: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. — Quran Surat At-Taubah Ayat 128

 

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

 

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.

 

Yang kemudian Beliau sendiri sebagai inisiator untuk diadakannya silaturrahim dengan anak cucu Maiyah yang diselenggarakan di beberapa wilayah. Salah satunya untuk memastikan bahwa anak cucunya tidak dalam kondisi yang putus asa.

 

Memang banyak peristiwa yang sungguh mengantarkan kita pada kondisi yang sungguh tidak berdaya. “Tidak Berdaya”, ini bisa jadi pintu penting atau justru menjadi salah satu rumus penting manusia yang mengantarkan manusia pada bangunan kesadaran “lahaula walakuata illabillah”

 

Hal hal lain lagi yang disampailan Beliau adalah :

– Bahasa apa yang digunakan dalam Alqur’an?

– Apa itu ayat Muhtasyabihat?

 

Kita tidak dituntut untuk memahami atau mengerti sesuatu, namun kita diharuskan untuk meyakini sesuatu. Contoh, Alif Lam Mim… Ayat yang hanya Allah sendiri yang tahu artinya, namun kita diwajibkan untuk meyakininya. Bahkan boleh, Alif Lam Mim kita jadikan wirid, dalam rangka

 

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

 

Terjemah Arti: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

 

– kita senantiasa dijaga oleh Malaikat Allah, namun sejauh mana kesadaran ini tertanam dalam diri kita. Maka juga boleh, setiap bangun tidur pagi, kita menyampaikan salam kepada Malaikat Allah, sebagai akurasi kesadaran dan keyakinan kita kepada Malaikat Allah.

 

Serta hal hal lain yang mengantarkan kami untuk kembali nyinauni tentang Iman, tentang Rukun Iman, yaitu :

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allah
  4. Iman kepada Nabi dan Rasul
  5. Iman kepada Hari Kiamat/hari akhir
  6. Iman kepada Qada dan Qadar.

 

 

 

Maka,

Bismillahirrohmaanirrohiim…

 

Iman+Imun = Aman

 

Aamiin, Aamiin, InsyaAllah

Aamiin, Aamiin, InsyaAllah

Aamiin, Aamiin, InsyaAllah

InsyaAllah, Aamiin, Aamiin

Mempuisikan puasa kehidupan

 

Hidup penuh hidangan, tidak semua yang bergizi tampil dengan menarik justru yang tidak bergizi sering tampil menarik. Ilmu puasa diperlukan untuk memilih dan memilah. Sehingga tiap-tiap waktu adalah pengendalian, kewaspadaan memilih, kecermatan memilah, maka konsep puasa telah diterapkan.

 

Berpuasa itu bukan fenomena kekurangan namun mengurangi. Bukan fenomena kemiskinan namun mencukupkan. Bukan fenomena menahan diri tapi mengenal porsi. Puasa juga mau memilih hal-hal tidak menarik sebab tahu bahwa itu bergizi. Pilihan tersebut menguntai. Betapa indahnya sehingga melantun sebagai bait-bait syair yang penuh makna dan pendalaman.

 

Romadhon adalah puasa wajib namun kewajiban berpuasa bisa diberlakukan selain romadhon. Sebagaimana kita selalu mengidamkan hidup dalam keseimbangan dan terkendali tidak hanya dalam satu bulan, melainkan sepanjang tahun bahkan sepanjang kehidupan.

 

Mari kita berpuisi di tengah bulan puasa ini, dimana bait-baitnya adalah perilaku, syairnya adalah cinta, lekuk dan pekikannya adalah jelmaan keindahan yang ngejawantah dalam kata dan saling menjaga. Sebab waktu berkata, angin berkata, laut berkata, langit berkata, mata kita berkata, lapar kita berkata, nikmat kita berkata, sedih kita berkata. Bahasanya berbeda, tapi caranya sama saja: bersyair.

 

Keluarga gugurgunung kembali menghelat Sinau Bareng bulan inin, berkenan menghadiri?
Monggo sugeng rawuh sugeng piranak.

Nisfu Sya’ban & Jimat Tolak Balak

Nisfu Sya’ban & Jimat Tolak Balak

Nisfu Sya’ban & Jimat Tolak Balak

Pada bulan Maret ini kulawarga Gugurgunung mencoba merekonstruksi lagi beberapa komponen penting bangunan “rumah”nya. Dari beberapa personil yang masih aktif, menopang kembali peran-peran penting atau mengaktifkan kembali peran-peran yang sempat kurang optimal. Salah satu referensi pola yang teranyam adalah Sya’ban atau Ruwah. Yakni bulan penting yang sejak 2018 disepakati sebagai momentum “Tunas”.

 

Pawon kini kembali menyala, memasak bahan-bahan oleh tangan-tangan terampil berdasar potensi masing-masing, dengan dasar ilmu Candra (panyandra). Ringkasnya yaitu, setiap personal kulawarga Gugurgunung menjalankan perannya masing-masing sebagai upaya memberikan konstribusi “cahaya rembulannya”. untuk terkumpul sebagai himpunan cahaya yang “Purnama”.

 

Dasar pijakan lainnya adalah sikap utama kulawarga gugurgunung yakni, “menggugurkan diri”. Sebisa mungkin menghindari umuk dan sombong. Tak minat pada pameran kesaktian, kepandaian, kekayaan, kepopuleran, dslb. Terus teguh tak peduli dan kagum pada hal-hal tersebut, yang seringkali hanya untuk meningkatkan mutu kesombongan seseorang secara laten. Memilih sikap lebih tegas kepada potensi-potensi meremehkan, baik ke dalam maupun ke luar.

 

 

قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

 

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim).

 

Mengutip hadist di atas, tentulah kita sudah tidak asing dengan salah satu bentuk ungkapan nafsu, yakni sifat sombong. Tak seorang pun yang membaca ini termasuk yang sedang menulis ingin menjadi pihak yang masuk dalam golongan orang-orang sombong. Namun dalam kenyataan hidup, apa yang tidak kita maui terkadang bebas hinggap dalam diri seperti ketombe atau jamur kulit.

 

Sadar atau tidak sadar kita semua pasti pernah atau bahkan sedang melakukan perilaku sombong tersebut. Apakah kesombongan hanya sebatas bangga atas apa yang dia punya dengan meremehkan hal lain di luar dirinya dengan jumawa? atau barangkali ada varian lainnya? Bagaimana pula setitik kesombongan mampu menghambat seorang hamba memasuki surga? Mengapa setitik ini menjadi begitu serius? Bagaimana pula cara mengelola sifat sombong tersebut? atau bahkan barangkali ada jimat  tolak balak (menolak efek destruksi) yang timbul akibat kesombongan.

 

Monggo silakan melingkar bertikar bersama kami jika berkenan bergabung dalam kebersahajaan silaturahmi. Kami menyambut baik setiap kebaikan dan tak punya cukup kecakapan untuk menyambut kebaikan secara sempurna, baik dari sisi tempat, suguhan hiburan, dan hal lain. Namun, kami tetap berusaha menyambut secara patut. Katuran pinarak, melingkar, meluruhkan diri dalam rindu, saling membahagiakan satu dengan yang lain untuk sinau bareng di malam menjelang Nisfu Sya’ban yang penuh makna.

 

Bismillah, terpinta dengan tengadah. Gusti Allah dan Kanjeng Nabi membersamai kita Aamiin.

 

 

 

-Tim Pawon Sinau Bareng MGG-