LARAS
Tajdiidu-n-niyaat

Dorman

Bulan lalu, Juli 2019 Majlis Gugurgunung men-Dorman-kan diri. Momentum yang disepakati bersama sebagai intropeksi, evaluasi, perenungan, pembenahan, dan seterusnya dan seterusnya, terhadap beberapa hal yang terjadi secara personal maupun dalam lingkup keluarga gugurgunung.

Deskripisi umum  tentang Dorman bila dianalogikan terhadap tumbuhan demikian:  dor·man berkenaan dengan terhambatnya pertumbuhan (perkembangan) untuk sementara waktu meskipun keadaan lingkungannya sebenarnya bersifat menunjang (air dan cahaya cukup serta suhu naik)

 

Tajdiidunniyaat

(Pembaharuan Niat)

Merupakan dhawuh dari Mbah Nun ke pada seluruh simpul Maiyah, untuk mengangkat hal tersebut menjadi tema besar pada rutinan  tiap tiap simpul pada bulan Agustus 2019.

Pijakan tema besar tersebut salah satunya adalah Tajuk yang dirilis oleh Yai Toto Raharjo; Kembali ke Spirit. Mentadaburi Surat Al – Qoshos ayat 77; Walaa tansa nashiibaka mina-d- dunyaa, bahwa perjuangan manusia sesungguhnya adalah menemukan jati dirinya, siapa dirinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pijakan lain berupa panduan dari Mbah Nun mengenai “Jam’iyah Pengusaha Sorga”. Serta  4 Tajuk dari Mbah Nun, (1.Ihtimal; 2. Empat  Amniyat Bergembira dan Menikmati; 3. Air Kawah di Akhir Zaman; 4. Yang Percaya, Percayalah. Yang Ingkar, Ingkarlah). Yang garis besarnya adalah tentang “Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana/Kuasa”.

Seperti menemukan momentum. Saatnya majlis gugurgunung bangun dari masa dorman. Kembali me-remind beberapa proses sinau bareng gugurgunungan yang secara alamiah selaras dengan beberapa dhawuh tersebut. Kemudian segera melanjutkan rakaat-rakaat selanjutnya.

Momentum unik lainnya adalah Muharram. Bulan dimana satu tahun lalu majlis gugurgunung mengangkat tema “Paseban Muharram”, yang kita niatkan sebagai upaya membangun pondasi peradaban. Yang bahasan utamanya antaralain:

  • Manusia sebagai Khalifah Fil Ardh dan Ahsani Takwim dengan dibekali aset utama yaitu rasa kamanungsan;
  • Kesabaran adalah salah satu teknologi mutakhir.

Yang kemudian point tersebut mencoba diaplikasikan dalam laku srawung, dan menjalankan rintisan bidang-bidang usaha, serta beberapa hal lain.

Paseban Muharram ini juga disepakati sebagai tradisi keluarga gugurgunung, dimana tiap memasuki bulan Muharram, sebaiknya memiliki paugeran tentang hal apakah yang perlu kita lanjutkan/tidak lanjutkan. Atau hal apakah yang perlu untuk mulai diberlakukan dan tidak diberlakukan.

 

LARAS

Sebuah metode yang mencoba diangkat sebagai bahan kajian sinau bareng yang kemudian bisa diaplikasikan secara bersama sama untuk mencapai keselarasan terhadap Firman, atau mencapai laku diri sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Kesadaran yang terus dibangun adalah, semua proses terbaik justru harus dirintis setahap demi setahap. Seperti yang digambarkan Allah SWT melalui tanaman, melalui perpindahan siang malam, melalui tetesan yang menggenang, melalui masaknya buah, dan banyak hal lagi dimana hasil dari kesabaran memberikan kenikmatan yang tak akan dicapai oleh hasil yang didapat dari keterburu-buruan. Bahkan apabila dipersambungkan dengan hadist “sampaikanlah meskipun satu ayat”, maka bisa jadi setiap orang berpotensi sebagai hafiz meskipun hanya memelihara satu ayat yang ia suarakan dalam kehidupannya. Bukan hanya disuarakan dengan suara namun juga disuarakan dengan terjaga dalam setiap perilakunya. Sehingga jika diibaratkan, keseluruhan ayat dalam Al Qur’an adalah seperangkat alat musik orkestra atau seperangkat gamelan. Dimana setiap bilah atau instrumen adalah ayat yang memiliki suaranya masing- masing. Apabila suara itu bersama dengan indah dan tertata maka akan tercipta harmoni yang indah baik di telinga maupun di hati. Selayaknya gamelan, setiap instrumen perlu dipelihara dengan tetap dimainkan. Cara memelihara gamelan agar tetap terjaga kondisinya, tetap baik, tidak fals, dan terawat adalah dengan metode bernama: “LARAS”. Laras adalah memainkan gamelan tersebut secara rutin meskipun sedang tidak di panggung. Tone tiap gamelan akan terpelihara dan bisa menyuarakan dengan nada yang ‘dihafal’nya.

 

Perjuangan Manusia Sesungguhnya adalah menemukan jati dirinya

Tadabburnya demikian: perjuangan manusia bisa kita pelajari lewat sejarah manusia. Manusia mempunyai dua potensi yaitu, Ahsani Taqwim dan Asfala Safilin. Atau dengan kata lain, manusia itu dibedakan menjadi dua, bukan laki-laki atau perempuan, melainkan adalah manusia yang tunduk pada perintah Allah (Ahsani Taqwim) dan manusia yang tunduk pada perintah iblis (Asfala Safilin).

Setelah di bumi, versi ahsani taqwim kemudian bekerja dengan membangun strategi dan pertahanan. Namun demikian pula yang menganut versi asfala safilin. Sama-sama turun ke bumi dan juga membuat strategi untuk menggempur perjuangan manusia yang mengabdi.

Nabi Adam AS turun dan mulai membangun peradaban di Bumi. Proses ini diawali dengan perasaan perih dan merasa nestapa. Tapi Nabi Adam berbaik-sangka kepada Allah SWT senantiasa. Sehingga tak lelah memohon ampunan dan selalu membangun perbaikan di wilayah garapannya (bumi). Dibangunlah bumi dengan merujuk-pada tempat sebelumnya beliau tinggal, yakni taman eden atau firdaus, atau paradesa. Peradaban ini juga bisa disebut peradaban Timur karena dimulai dari timur, atau bisa juga digolongkan pada fase peradaban buah Tin (Lo) buah yang keluar langsung dari pohonnya.

Peradaban Nabi Adam juga adalah peradaban perintis, maka rintisan untuk membuka peradaban adalah fitratullah dan khalifatullah. Bahwa nabi Adam meletakkan dasar peradaban dengan konsep pengabdian (ngabekti, ngawulo) dan menjadi pengatur sesuai kehendak-Nya(memayu hayuning  bawana.

Berikutnya adalah peradaban ke dua, yakni peradaban Nabi Nuh AS, pada fase ini kemajuan teknologi di segala bidang sudah banyak dicapai. Era ini sangat maju dan canggih. Sehingga masyarakat ketika itu banyak yang menyangka mereka telah berada pada puncak peradaban sempurna, penuh keberkahan dan kebahagiaan. Layak ketika datang utusan kepada mereka, dianggaplah utusan ini sebagai pihak yang membawa kekisruhan dan dilabeli tidak tahu adat. Namun demikian pekerjaan dan membangun strategi penggembosandari pihak penganut Asfala safilin tidak tinggal diam dengan perjuangan para utusan Allah ini. Pihak yang berada pada jalur merah ini menciptkaanu upaya yang dibangun dengan cara yang lembut dan menjebak. Bagaimana strategi yang dibuat? Mudah-mudahan bisa kita jadikan bahan pasinaon bareng pada malam minggu terakhir ini.

31 Agustus 2019, Mari bersama sama memasuki ruang “Muharram, Harruma”, melingkar dan bertemu untuk saling menemukan. Bersama sama kembali memperbaharui “Niat”. Membangun semangat perjuangan untuk senantiasa “Merawat dan Menjaga”. Semoga senantiasa se-Laras dengan kehendak Allah SWT.

 

…… Aamiin.

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
(Peradaban Robbun Ghafur)

Semua orang memiliki keinginan untuk tinggal dan hidup dalam sebuah negeri yang menentramkan, menyamankan, menggembirakan, makmur, indah, penuh kreatifitas, saling berlomba menyuguhkan kebaikan. Namun, karena keinginan tersebut terdengar terlalu utopis maka banyak yang tetap menyimpannya sebagai keinginan terpendam dengan label ngimpi di siang bolong. Terlalu berharap dan terlalu naif. Namun, bagaimana jika sebaliknya? Justru sesungguhnya yang dilabeli ngimpi di siang bolong ini adalah informasi primer yang ditanamkan di dalam dada masing-masing orang oleh Tuhan. Agar manusia hidup bahagia dan penuh syukur.

 

 

Rasa Terburu-buru dan Etos Hasil

Karakter dasar secara general manusia adalah rasa ingin segera terjadi. Ingin agar segera terlaksana, ingin segera menikmati hasil dan menjadi bagian dari kegembiraan. Yah, mungkin semacam hari Raya, dimana yang merayakan tidak selalu bersedia untuk berpuasa sebelumnya. Oleh sebab itu, penting bagi tiap manusia memahami karakter dasar ini. Sehingga punya kewaspadaan dan penjagaan diri agar tidak mudah terhasut sikap terburu-buru. Dalam istilah Jawa disebut “Nggege Mongso”. Segala sudah ada ketentuan waktunya dan itu dalam kuasa Allah SWT, oleh sebab itu manusia secara mendasar harus meletakkan ini sebagai sikap fundamental, bahwa terjadinya segala sesuatu bukan wilayah kerja manusia melainkan mutlak Hak Allah SWT.

Manusia hanya dalam posisi menjalankan dan berproses sejauh yang bisa dijangkau. Cara yang tampak pasif dan narimo ini sesungguhnya justru proses dinamis dan progresif. Tentunya ini mudah dipahami kenapa justru menjadi sikap yang dinamis dan progresif, sebab manusia diwajibkan berbuat baik maka harus berbuat sesuatu yang produktif. Sedangkan Tuhan Pencipta langit dan Bumi, maka kejadian yang ada di langit dan di bumi adalah Ciptaan Allah termasuk berarti segala gerak-gerik dan aktifitas apapun dilangit dan bumi. Sedangkan manusia ketika membikin sesuatu saja memiliki maksud dan tujuan, apakah mungkin Allah tak memiliki maksud dan tujuan terhadap CipatanNya? Allah pasti punya kehendak, jika manusia yakin bahwa ia ciptaan Allah maka kesadaran utamanya pada proses menyelaraskan kehendaknya dengan Kehendak Allah SWT. Allah sudah memiliki waktu yang mutlak di bawah KuasaNya. Sehingga wajar jika manusia dianjurkan untuk tidak terburu-buru, agar proses bisa berjalan lancar dan selaras sesuai kehendak Allah SWT. Kehendak pribadi manusia yang tidak selaras justru bisa menambah hambatan kehendak Allah SWT yang mau segera menurunkan karuniaNya.

Rasa khawatir dari manusia yang sering menyangka sikap terburu-buru merupakan upaya yang berguna demi memastikan hasil cepat teraih. Takut kehilangan dan cemas jika sesuatu yang diidam-idamkan itu tiba-tiba terlepas. Rasa khawatir, takut kehilangan, dan cemas itu sebagai tanda bahwa manusia masih lebih meyakini dirinya sendiri, lebih mempercayai pikiran dan imajinasi kesuksesannya sendiri daripada mempercayai kekuasaan dan Rancangan Tuhan Yang Maha Adil yang Maha Penyantun yang tak pernah berhenti memberikan karunia dengan penuh Kemurahan. Diam-diam manusia menjadi pembantah padahal tadinya dia kecil tersembunyi tak terhitung, hanya sekedar titik mani. Kemudian pada akhirnya diperkenankan Tuhan untuk menjadi manusia, lantas merasa menjadi pengatur dan pencipta segala hal sehingga malah mencemaskan kinerja Allah, mengkhawatirkan kehendak Allah, meragukan Keadilan Allah, dan merisaukan kebijakanNya seolah-olah Tuhan pelupa kepada semua rancangan dan ciptaanNya yang Agung sehingga butuh bantuan dari dirinya.

Generasi Maiyah telah mendapat pembekalan sikap untuk tidak terburu-buru ini sejak lama bahkan jauh sebelum Maiyah ada. Dalam salah satu tulisan pada kurang-lebih tahun 1983-an, Mbah Nun menyampaikan sbb:

“Dalam dimensi yang lebih mendalam kita juga bisa kehilangan ruhani sebagai bangsa. Kita menjadi rangka-rangka patung, robot-robot yang rakus uang dan segala materi. Yang terpenting dari semua: bahwa dengan mendominasikan etos hasil, sesungguhnya hasil yang kita capai juga tidak maksimal. Etos kerja justru yang menawarkan berbagai kemungkinan hasil. Kita jangan dulu memperdebatkan hal itu, tapi silahkan buktikan dalam suatu jangka waktu.”

Tulisan Mbah Nun ini jelas sangat futuristik, masih begitu relevan, mengandung kilatan anjuran dan kunci. Demi menjaga ruhani sebagai bangsa, manusia tidak disarankan untuk menenggelamkan diri pada hasil dan hasil, sementara hasil-hasil itu tidak berimbang dengan sejarah proses kerja yang ia tempuh. Orang yang berhasil mendapat fasilitas kemudahan nan melimpah sesungguhnya tidak lantas bisa dipastikan sebagai tanda keberhasilannya sebagai manusia. Justru bisa jadi yang berhasil adalah yang membangun fasilitas kemudahan berangkat dengan rasa syukur, presisi menggunakan akal dan memiliki ketangguhan mental sehingga mampu bertafakur mengkhidmati kesulitan dan kemudahan sebagai paket yang mendewasakan pengetahuan pengabdiannya kepada Tuhan.

 

Fasilitas Kemudahan Dari Tuhan dan KehendakNya

Pada dasarnya manusia hanya mau mengabdi kepada Tuhan, baik secara sadar maupun bawah sadar. Meskipun pikiran dan artikulasi kata tidak sempat tersemat namun kenangan Cinta Tuhan kepada dirinya seolah senantiasa tertambat. Orang ingin menjadi pemurah karena Tuhan Maha Pemurah. Orang ingin menjadi pemudah karena Tuhan Maha Memudahkan. Orang ingin bermanfaat bagi oranglain karena Tuhan Maha Penyantun. Inspirasi terbesar manusia adalah Tuhan sendiri. Jadi segala perbuatan baik manusia adalah manifestasi kerinduan hamba kepada Tuhan. Namun, manifestasi rindu kepada Tuhan ini bisa berkelok dan malah berputar arah pada saat kombinasi dalam diri mansuia berupa ‘kepasrahan’ dan ‘kepemilikan’ lebih didominasi kepemilikan.

Dari rasa kepemilikan munculah keinginan untuk berkuasa. Setelah berkuasa akan menimbulkan hasrat menguasai. Dengan kekuasaan dan hasrat menguasai menimbulkan sikap merendahkan, merasa superior. Dari sikap merendahkan dan perasaan superior itu muncul kecenderungan untuk mudah meremehkan dan mengabaikan, terdapat pohon kesombongan yang terus tumbuh dan beranting, meninggi dan membesar dari sikap abai dan tak acuh.

Dengan demikian betapa pentingnya menjaga kepasrahan diri. Salah satu metode kepasrahan adalah dengan menghitung kepemilikan dan fasilitas kemudahan dari Tuhan. Manusia bernalar pasti akan memahami kerapuhannya. Ia lebih banyak memiliki ketidaksanggupan daripada kesanggupan. Manusia memerlukan punggung kuda karena punggung dan kakinya tak cukup sanggup membawa beban berat dengan tangguh. Dan pernahkan manusia menciptakan kuda? Tuhan-lah yang menciptakan. Manusia kedinginan dan kelaparan, Allah memberikan binatang yang bisa diambil kulitnya sebagai pakaian dan menggunakan dagingnya untuk dimakan. Rapuh, ringkih, lapar, rentan, yang disangga manusia adalah Rahmat Allah. Karenanya Allah juga mengkaruniakan akal, pikiran, panca indera, dan perasaan sebagai jalan keluar bagi manusia untuk berjuang menemukan Rahmat Allah yang lain yang menjawab peristiwa kerapuhan, keringkihan, rasa lapar dan kerentanan hidupnya tersebut.

Kepasrahan diri akan membuat manusia menggunakan karunia fasilitas kemurahan Tuhan untuk mengabdi dan merias kehidupan dengan cinta yang terus meluap-luap kepadaNya. Kepada Tuhan Yang Maha Esa sesembahannya. Sedangkan hasrat kepemilikan akan membuat manusia menggunakan karunia fasiitas kemudahan Tuhan untuk ditundukkan, ditakhlukkan, sebagai sarana memenuhi kecintaan-kecintaannya sendiri. Yakni kepada hal yang ia puja dan ia sanjung sebagai sesembahan yang seolah memberinya kebahagiaan dunia akhirat.

Padahal fasilitas kemudahan dari Tuhan sesungguhnya sebagai tanda “kehadiranNya” secara mawujud. Allah menghadiahkan binatang-binatang dan tetumbuhan. Bukan sekadar Ia hendak hadir menjadi jawaban lapar dan dingin saja, namun juga hadir sebagai pelipur hati dengan keindahan visualnya. Keindahan yang Allah Ciptakan akan mengindahkan pandangan mata, mengindahkan bathin, dan mengindahkan pikiran manusia yang makin tak merelai kerusakan dan tak berselera terhadap penyimpangan.

Allah telah ‘hadir’ dengan segala kebaikan sehingga manusia yang berserah dan waspada akan menunaikan kebaikan sebagai pilihan sikap hidupnya. Sebagai suatu pengibaratan, Allah menciptakan pohon mangga, apakah Allah mengharapkan buah mangganya? Ataukah Allah mengharap perjuangan optimal sang pohon mangga sehingga Dia akan memeluk dengan belas-kasih kepada sang pohon mangga yang meskipun belum kunjung berbuah namun berjerih payah tumbuh dan meneduhi sekitarnya padahal sebelumnya ditumbuhkan pada tanah tandus. Dengan belas kasih sayang Allah, sangat mudah bagiNya mengkaruniakan bunga dan melebatkan buahnya. Bunga dan Buah itu bukan untuk Allah, namun untuk membahagiakan makhluknya yang berdedikasi menjaga cintanya kepada Tuhan melalui prosesnya dalam menjaga amanah.

Masyarakat Maiyah di-deder Mbah Nun untuk menerapkan sikap demikian dalam menjalani kehidupan. Melakukan segala pekerjaan sebagai ibadah. Ibadah Mahdhah dan Ibadah Muamalah. Dalam banyak kesempatan sering disampaikan kepada anak-cucu Maiyah untuk menyadari keringkihan kita di hadapan Tuhan namun berjiwa besar dan ksatria dalam menghadapi kehidupan dunia. Manusia tak boleh merasa mampu menjamin keselamatannya, karena keselamatan datang dari Tuhan, manusia itu ringkih sehingga butuh pertolonganNya secara terus menerus. Maka perlu pengabdian terus-menerus demi tegaknya keselamatan ini yang salah satu bentuknya adalah dengan menjamin kehadiran dan keberadaan dirinya tidak untuk menjadi ancaman bagi oranglain, tidak mengancam martabat oranglain, tak mengancam harta benda oranglain, dan tak mengancam darah oranglain.

Benar bahwa seseorang tak mampu menjamin keselamatan dirinya apalagi orang lain, namun tiap-tiap manusia bisa berpihak pada kedamaian yang sanggup diperjuangkan sehingga menjamin kehadirannya tak muncul sebagai ancaman keselamatan. Hal ini sering dianjurkan oleh mbah Nun kepada anak-cucu Maiyah dalam banyak kesempatan Sinau bareng. Anjuran tentang ibadah Mahdhah dan Muamalah ini begitu deras seolah tadris agar terus dideres anak cucu Maiyah hingga menjadi ilmu dan pemahaman mendasar. Dalam satu tulisan Mbah Nun menyampaikan sbb:

“Maka, bagaimana jalan keluarnya sebab manusia tidak boleh hidup kecuali untuk ibadah? Jawabnya: semua pekerjaan di luar ibadah Mahdhoh direkrut menjadi ibadah. Jadi apapun saja diniati sebagai ibadah. Caranya? Caranya adalah semua laku diarahkan ke pekerjaan-pekerjaan yang kira-kira diterima Allah. Dan, agar supaya diterima Allah maka jangan sampai pekerjaan itu melanggar aturan Allah“

 

Keselamatan Peradaban

Pada sub bahasan ini maka mulai beranjak kepada bahasan masyarakat Robbun Ghofur. Mbah Nun sudah menyampaikan tentang  Tadris, Ta’lim, Tafhim, Ta’rif, Tarbiyatul Islam, Ta’dibul Islam, yang bagi masyarakat maiyah merupakan kunci penting untuk menata dan menapaki fase peradaban. Tidak untuk skala peradaban dengan terlibatnya masyarakat dunia yang luas. Sebab, istilah peradaban tampaknya paling pokok adalah: disangganya adab. Bisa skala luas masyarakat dunia, bisa cukup skala sedang kelas regional, atau sekadar skala mikro level personal, dlsb. Adab tetap adab meskipun hanya dijunjung oleh seorang saja, penjunjung adab akan tampil sebagai orang yang beradab dan memiliki peradaban dalam kesemestaan hidupnya.

Apa kira-kira adab yang dimaui oleh Allah pada diri seseorang? Atau jika seseorang ini berjumlah banyak maka apa kira-kira yang dimaui oleh Allah pada diri suatu kaum? kaum yang seperti apa yang dikehendaki oleh Allah? Mungkin beberapa ayat dalam Surah An-Nahl bisa ditadabburi. Pada ayat kedua disampaikan bahwa “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”.

Yang dikehendaki dari hamba-hamba Allah adalah yang bersedia memberi peringatan tentang ketauhidan, tentang ke-Esa-an Allah dan anjuran untuk bertaqwa kepadaNya. Namun, apakah memberi peringatan itu lantas bermodal ucapan dan dalil-dalil saja? Tampaknya tidak, justru lebih kepada perilaku-perilaku yang dilakukan. Perilaku kemanusiaan utuh yang tidak hanya sekadar bergerak dan bernafas namun juga menggunakan akal pikir yang terindikator bahwa hamba tersebut prigel melewati proses secara aktif menggunakan karunia kemanusiaan yang telah dipasang Tuhan terhadapnya. Berikut ada sembilan indikator berdasar uraian pada Surah An-Nahl:

  1. Yatafakkaruun :Yang berfikir. Berfikir tentang tanda Kekuasaan Allah melalui fenomena lahiriah. Sepertinya berfikir adalah suatu gerakan aktif dari diri manusia dalam hal mengamati kondisi sekitarnya yang tertangkap panca indera.
  2. Ya’qiluuna :Yang menggunakan akal. Menggunakan nalar tentang Kebesaran Allah melalui fenomena bathiniah seperti bagamana Allah menundukkan siang, malam, matahari, bulan, bintang. Akal digunakan untuk memahami hal-hal yang tidak tertangkap secara konkret oleh Panca Indera.
  3. Yadzdzakkaruuna, Tadzakkaruuna :Yang mengingat dan mengambil pelajaran, Mengambil pelajaran dari suatu fenomena dengan kondisi mengingat Allah. Mengambil pelajaran dari peristiwa apa saja hendaknya dilandasi mengingat Allah sebab dengan demikian pelajaran berguna tidak hanya berhenti sebagai ilmu namun juga sebagai kebijaksanan(hakiim).
  4. Tasykuruuna :Yang bersyukur, Tidak menuntut dan tahu berterimakasih kepada Tuhan atas segala karuniaNya. Bagaimana manusia menyangka punya hasil panen dari kebun dan ladangnya sedangkan Tuhan yang punya Kuasa Menciptakan. Tanahnya, matahari, air, udara, benih, hujan yang diturunkan dari langit, tangan dan kakinya, penglihatan, pendengarannya, pikirannya, hatinya, hingga bahkan rasa gembira yang ia miliki pun adalah ciptaan Gusti Allah SWT.
  5. Tahtaduun :Tertunjuki, menyadari akan keterbatasan sehingga sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dari Tuhan. Segala aliran dan pijakan, kerlipan, merupakan petunjuk demi petunjuk untuk memahami arah mendekat secara presisi kepada dumadi.
  6. Inna Allaaha Laghafuurun Rahiimun :Tak sanggup manusia menghitung Ampunan dan Kasih Sayang Allah. Kesadaran manusia bahwa banyak sekali melakukan kesalahan, besar, kecil, halus, kasar, lembut, keras, tampak ataupun tersembunyi, sehingga memerlukan ampunan terus menerus dari Allah yang Maha Pemberi ampunan lagi Maha Pengasih.
  7. Yasma’uuna :Yang pandai mendengar, menyimak, mengindahkan karunia pendengaran. Bahwasanya orang yang tidak cukup pandai mendengarkan biasanya lebih dominan hasaratnya untuk didengarkan. Orang yang kurang mampu mengindahkan perkataan baik akan membuka risiko pada dirinya sendiri untuk makin tuli dan bisu, sebab kemampuan pendengarannya hanya untuk mendengar suaranya sendiri dan perkataannya pun hanya dia sendiri yang memahami. Oleh sebab demikian, perlu membuka peluang untuk menjadi lebih beruntung dengan cara menambah kepandaian dalam hal mendengarkan nasehat Tuhan yang diejawantahkan dalam audio visual kehidupan.
  8. Yu’minuun :Yang menjaga keimanan. Yang senantiasa merawat dan menjaga (ngeman-eman)untaian cintanya kepada Tuhan.Ia punguti dan untai sebutir demi sebutir di sepanjang jalan yang ia lalui.
  9. Khayrun Lishshaabiriina :(kondisi yng diceritakan pada kata2 sebelumnya) lebih baik bersabar. Yang bisa bersikap penuh kesabaran dan tidak terburu-buru. Kesabaran sangat berkaitan dengan waktu. Jika manusia menemui satu kebaikan dan kebaikan itu ia terapkan dengan sungguh meski menemui segala macam kondisi gelap terang, maka sepanjang itulah ia mampu buktikan kesabaran.

Berkaca dari kategori kaum terpilih di atas ternyata dapat kita temui kekeliruan sistem peradaban jaman sekarang yang dikawal oleh manusia yang tidak seperti kategori di atas. Sehingga lahir pula sistem nilai dan tata aturan yang tidak bertitik tolak dari tanggung-jawab primer yakni memberi peringatan tentang ke-Esa-anTuhan. Manusia satu dengan yang lain tidak memiliki pengertian universal yang memusat. Cenderung masih terserak atau berkamar-kamar yang tiap-tiap kamar punya pengertian berbeda-beda. Sehingga peringatan yang dilontarkan hanya sebatas pemahaman kamar per kamar yang bisa saling bertolak belakang. Dengan ke-Esa-an Tuhan, maka manusia akan tertuntun pada satu rujukan yang terpusat. Konsep ini akan menghadirkan secara lebih konkret posisi sebagai hamba kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan bisa saja dengan mudah membuat manusia menjadi hamba yang mengEsakan dan menyembahNya tanpa berubah, seperti halnya manusia dari manapun mengEsakan cara menangis dan tertawa. Tapi dalam urusan penghambaan manusia terhadapNya, Gusti Allah mau manusia yang sudah diberiNya pendengaran, penglihatan, akal, pikiran, dan hati bisa memperoleh kesadaran sebagai hamba dengan peranti-peranti tersebut.

Sejujurnya manusia takkan sudi menyembah selain Tuhan. Datang saja pada tukang apapun saja, bisa tukang cuci, tukang jahit, petani, montir, dlsb. Hadirlah dengan sopan-santun dan setelah selesai pekerjaannya bayar dua kali lipat tarif jasa yang ia sebutkan. Sesaat kemudian musnahkan hasil kerjanya dan pesanlah kembali dengan iming-iming akan dibayar dua kali lipat uang jasa lagi. Kalau tukang tersebut mau pastilah suasana bathinnya tidak lagi setulus dan sebahagia sebelumnya. Untuk yang kedua ini ada tekanan aneh di dadanya dimana bayaran puncak yang ia harapkan tak muncul, yakni wajah bahagia pelanggan dan senyum puas pengguna jasanya.

Pada pekerjaan yang kedua ini segera rusak lagi atau kotori hasil kerja tukang tersebut dan bayar dua kali lipat lagi. Lalu pesan lagi yang serupa. Kali ini mungkin orang itu tak akan sanggup. Ia merasa gagal dengan pekerjaannya atau diremehkan pekerjaan sepenuh hatinya itu, ia juga tak mau melayani satu orang saja yang menyia-nyiakan usahanya, tak menghormatinya meski punya uang yang mampu membayar dua kali lipat jasanya. Ia ingin waktu yang ia jalani mengandung manfaat luas dan bermartabat bagi sebanyak-banyak orang.

Pada tingkat peristiwa tertentu manusia akan lelah berpura-pura mengabdi kepada uang atau kepada apapun yang bukan Tuhan, dia akan menunjukkan diri sebagai manusia bermartabat, karena dia dan rasa kemanusiaannya tak bisa dinilai dengan harga buatan manusia, melainkan hanya Tuhan saja yang berhak berkuasa atas dirinya. Segala perilaku kebaikan yang ia lakukan pun dalam rangka mengabdi kepada Tuhan, yakni dengan cara ia bermanfaat bagi oranglain. Sehingga jika lantas proses pengabdiannya ini tak disyukuri dan direndahkan, ia tidak akan terima dengan mudah. Ada kesepakatan bawah sadar yang ‘ahad’ dalam nurani setiap manusia tentang pengabdian, yang pengabdiannya itu sebagai bentuk menghamba hanya kepada Yang Ahad.

Menyampaikan peringatan itu bukan tugas agamawan yang dipahami secara formal, namun adalah tugas hamba-hamba Allah yang terpilih atau dikehendaki. Rata-rata manusia masih enggan atau setengah hati untuk menghadirkan Tuhan sebagai puncak prioritas, puncak kebijakan, puncak inspirasi kasih-sayang, puncak atastujuan segala sepak terjangnya dalam menjalani kehidupan. Yang masih terjadi saat ini fikiran digunakan untuk hal-hal yang memusingkan. Akal dipakai untuk memanipulasi keburukan sehingga tampak sebagai keindahan. Tuhan dibiarkan kos di Masjid saja, segala perbuatan baik dan suci ada di area Tuhan, dan Tuhan ada di Masjid maka penipuan, penyelewangan, dan segala pemalsuan sah dilakukan asal tidak di Masjid, jadi ada wilayah Tuhan dan ada wilayah yang Tuhan tak berkepentingan. Tuhan diletakkan di lokasi statis dan minor, bukan di semesta yang penuh dinamika, bukan di dalam detak jantung, putaran darah dan nafasnya, yang kemanapun ia pergi selalu disertai olehNya.

Rasa syukur bukan lagi kepada kesehatan mata, pendengaran, hati, namun pada kenaikan pangkat, kenaikan gaji, bonus-bonus, diskon, paket hadiah gratis, dan segala macam hingar-bingar hasut kepemilikan yang melenakan. Manusia juga masih merepetisi permohonan untuk diberikan petunjuk namun tak benar-benar mau mendapat petunjuk, kecuali petunjuk itu memberi keuntungan secara cepat dan kasatperihal yang dia maui di dunia. Petunjuk untuk menemui artis idola mungkin lebih diminati daripada petunjuk untuk menemui Pencipta langit bumi. Untunglah Gusti Allah Maha Pengampun dan Maha Belas Kasih. Setiap proses hidup manusia selalu menjadi koma, tidak menjadi titik (kecuali yang berputus asa), atau sudah sampai ajal. Artinya masih akan ada kalimat selanjutnya yang diharapkan lebih baik dari hidup orang tersebut dan menegaskan makna hidupnya.

Masyarakat Maiyah mulai perlu menjajaki diri posisi sebagai anak cucu yang sedang menyeberang dengan obor penyuluh. Perjalanan ini penuh aral, tidak mudah, disalah-pahami, difitnah, diabaikan, namun tetap berproses. Justru semakin semarak berpuluh tahun dengan tetap gembira.Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal[1].

 

Kerumunan Lebah

Jamaah dan segenap generasi Maiyah bisa jadi merupakan kawanan lebah madu yang diperintah Gusti Allah untuk memaniskan gunung-gunung, memaniskan hutan-hutan, hingga memaniskan segala bangunan yang dibuat oleh manusia. Maka bathin masyarakat Maiyah disemangati khasiat obat sehingga kemana saja tinggal akan memberi kesenangan dan penyembuhan dengan corak dan warna yang beraneka. Mudah-mudahan masyarakat Maiyah, adalah yang dikehendaki Allah SWT untuk menjadi pembawa peringatan tentang keEsaanNya. Tidak mendua apalagi menandingkan Tuhan dengan segala sesuatu yang dibuat-buat sendiri dan disembah sendiri.

Semoga masyarakat Maiyah mendapat cahaya benderang di dadanya masing-masing sehingga bisa menjadi penyibak gelap di lingkungannya, memberikan kebahagiaan, tidak mengancam siapapun, senantiasa waspada, mahir bersyukur, terkaruniai petunjuk dari Allah, pandai bertafakur, tajam menggunakan nalar. Semoga masyarakat Maiyah adalah kawanan lebah madu yang segala perilakunya dipandu oleh Gusti Allah langsung di hatinya masing-masing. Sehingga segala karunia lahir maupun bathin tidak dianggap sebagai pencapaian yang ingin dipamerkan atau dipertandingkan, melainkan sebagai bentuk konkret Kasih Sayang Tuhan yang ingin menjadikan Masyarakat Maiyah saling melengkapi dan berlomba menyuguhkan kebaikan di saji tempayan kehidupan dengan banyak pencapaian, kepandaian, kecerdasan, kebenaran, keindahan yangempan papanyang bening dan menyegarkan. Hingga apabilakelak terwujudbaldatun thayyibatun wa rabbun ghafur semogalah keluarga Maiyahmenjadi salah bagian yang telah ikut merintisnya sejak sekarang, memperjuangkannya dengan gigih, dan anak-cucu Maiyah mendiami negeri tersebut bersama orang-orang yang dalam hati dan pikirannya selalu menyertakan Allah dan RasulNya secara damai dan aman. Aamiin.

 

Tulisan mas Agus Wibowo dalam rangka tahadduts binni’mah
yang diambil sebagai mukadimah tema MGG Juni 2019
Ungaran, 11 Juni 2019

 


[1] QS An-Nahl ayat 41. Ayat yang senada ada pada QS An-Nahl ayat 110 : Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

MENGARIFI JEBAKAN

Majlis Gugurgunung | “Mengarifi Jebakan” | Sabtu, 25 Mei 2019 jam 21.00WIB | Aula Madrasah Dinniyah Baburrohman, Jl. Watu lembu, RT. 05 RW. 05 Lemah abang, Bergas, Ungaran, Kab. Semarang. | #MGGMei

TRESNO WONG TUO

Majelis Masyarakat Maiyah: MAJLIS GUGURGUNUNG

27 April 2019 – 20.00 WIB

” TRESNO WONG TUO”

Aula Madrasah Dinniyah BABURROHMAN – Situs Watu Lembu – Lemahbang RT. 05 RW. 05 Karangjati, Bergas – Kab. Semarang.