Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2021
“Nuwuh Makmur”

Tentunya, betapa kami sangat bersyukur, Alhamdulillahirrobil ‘aalamiin. Pada kondisi yang sedemikian serba, kami masih diberi kesanggupan untuk menyelesaikan kurikulum sinau bareng sepanjang 2021 ini. Sungguh, Allah Maha Segala. Sedikit remind proses setahun kulawarga gugurgunung. Setiap awal tahun, kulawarga gugurgunung juga melaksanakan tradisi Bedhol Kayon, sebagai tanda dilanjutkannya kegiatan gugurgunungan dengan kurikulum baru untuk rentang 1 tahun. Syarat utama Bedhol Kayon tahun 2021 ini adalah “Kesabaran”. Dengan meniatkan bersama pola laku utama, antara lain :

– Sinau Bareng sebagai ikhtiar Maiyah.

– Sabar dan sholat

– Hizib Nashr

– Tahlil Nafas, dan

– Meneruskan “Revolusi Kultural” sebagai salah satu pilihan Daur, berupa kegiatan tandur/berkebun/bertani dan berdagang. Pola laku utama yang berupa anyaman antara dhawuh dhawuh Marja’ Maiyah dengan kegiatan kulawarga gugurgunung tersebut dalam kurun waktu satu tahun ini sudah terlaksanakan, dan sangat sadar masih jauh dari sempurna. Namun setidaknya kian menambah Imanitas dan Imunitas bagi kulawarga gugurgunung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses yang melibatkan langsung persentuhan seluruh inderawi terhadap apa saja dan siapa saja ini sungguh sangat melelahkan. Kelelahan demi kelelahan yang ternyata justru meninggalkan jejak Sesrawungan yang Eling. Yang kemudian belakangan ini kami tadabburi sebagai salah satu komponen penting prototype peradaban yang pada masa silam disebut sebagai Delta Asrama, yaitu tempat melelahkan diri. Dimana para Brahmana mendedar sekian banyak keilmuan untuk membentuk jaringan-jaringan Ekosofis atau jaringan penentu kebijakan yang konon mampu memberikan kontribusi penting bagi kejayaan dan kemakmuran. Untuk itu, kami merasa perlu terus melakukan Reminding Ekosofis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari sekian banyak rentetan peristiwa tersebut, kemudian kulawarga gugurgunung menengarai hal tersebut sebagai peristiwa “Nuwuh Makmur”

 

SEDEKAH DAN KEMAKMURAN

Bagi yang memiliki naluri bersedekah, itulah NUWUH.

Bersedekah adalah menghaturkan persembahan terbaik,
itulah ciri pertumbuhan yang sehat.

Masjid menumbuhkan mutu ruhani, sawah menumbuhkan pengabdian.

Mutu ruhani makmurkan sujud dan syukur.

Pengabdian makmurkan kemanusiaan.

Hutan tumbuhkan jiwa jelajah. Jiwa jelajah makmurkan kearifan.
Lautan tumbuhkan pelayaran. Pelayaran makmurkan pengetahuan arah.
Gunung-gunung menumbuhkan pendakian. Pendakian memakmurkan kegigihan,

Sungai menumbuhkan arungan. Arungan memakmurkan jalinan.

Tertawa tumbuhkan riang, riang makmurkan akrab.

Senyuman tumbuhkan indah, indah makmurkan kebahagiaan.
Rasa malu tumbuhkan martabat, martabat memakmur adab.

Tangis tumbuhkan iba, iba memakmur kasih sayang.

Kejujuran tumbuhkan kepercayaan,

kepercayaan memakmur ketentraman.
Itu semua Nuwuh Makmur (menumbuhkan kemakmuran).

 

Tubuh, akal, wawasan, ketidaktahuan, pengetahuan, hamparan, tenaga, pemikiran, rukuk, sujud, salam. Semuanya bernaluri tumbuh, dan oleh sebabnya sepantasnya dimakmurkan. Olehnya pula hamparan kehidupan berlangsung dengan makmur dan saling menyajikan hidangan terbaik. Akal setiap manusia tumbuh, ia memerlukan peristiwa guna kemakmuran akalnya. Kadang dijumpakanlah akal pada kesulitan untuk menemukan kemudahan sebagai rumus melanjutkan kehidupan.

Fisik pun tumbuh, ia memerlukan asupan yang baik, yang menyehatkan dan berasal dari asal-usul yang tidak mencederai siapapun. Atas kebutuhan kemakmuran, maka fisik atau tubuh memerlukan kesempatan bertindak-tanduk dengan bermanfaat bagi sebanyak-banyak hajat kebaikan.

Ada bermacam sedekah (persembahan). Sebagai bukti bahwa bersedekah memiliki kekayaan cara yang berbeda-beda, kesamaannya hanya satu, yakni menjunjung kebenaran. Yang mana menjunjungnya bisa dengan keindahan atau bisa pula dengan kesederhanaan. Bisa dengan kemegahan atau kebersahajaan. Bisa dengan kelembutan maupun keperkasaan. Bisa dengan pengetahuan ataupun ketidaktahuan.

Langit bersedekah kepada bumi melalui turunnya hujan, bumi bersedekah dengan mengerami biji, matahari bersedekah dengan panas yang menumbuhkan. Tumbuhan bersedekah dengan dimakan binatang atau dipanen manusia. Binatang bersedekah kepada manusia dengan daging, susu, keindahan, kesetiaan, ataupun tenaganya. Manusia bersedekah dengan menjaga dan memelihara keberlangsungannya. Inilah Nuwuh Makmur (menumbuhkan dan kemakmuran).

 

MAKMURNYA PERYATAAN

Persembahan itu sebagaimana persentuhan, persentuhan itu nyata dengan beragam cara, tidak selalu tentang bersentuhnya kulit kepada kulit, kendatipun hanya dengan ungkapan perasaan yang dinyatakan kepada sanubari penerimanya.

Banyak cara untuk saling menyentuh, manusia kepada sesama manusia, hati kepada hati,

manusia kepada bumi, jiwa tanam kepada tandus, kepandaian kepada kebodohan,

kaya kepada miskin. Sehingga pernyataan adalah nyata bisa terus tumbuh dan bisa membawa suluh. Inilah Nuwuh Makmur (menumbuhkan dan kemakmuran).

 

KEMAKMURAN RASA

Kian banyak aneka rasa dicecap makin kaya pula pustaka rasa disimpannya. Kepekaan hati dan perasaan, tumbuh. Makin banyak ia kelola beragam rasa, kian kaya hatinya bertabur semesta rasa, hingga makin sedaplah pula pribadinya yang tersaji masak, digemari banyak pihak. Sebab rasa dengan segala jenis pertunjukkannya, untuk meneguhkan pengertian rasa sejati, yang rasa tersebut menyemarakkan cinta merayakan kesaksian akan Cinta Tuhan yang telah terhampar secara memesona. Inilah Nuwuh Makmur (menumbuhkan dan kemakmuran).

 

DITUMBUHKAN DIMAKMURKAN

Seiring meningkatnya seseorang dalam menghikmahi hidupnya, tumbuh pula keprigelan berfikirnya, wawasan pun tumbuh. Cita-cita juga tumbuh. Harapan tumbuh jua. Semuanya memerlukan pertumbuhan yang makmur, bukan sekadar pertumbuhan yang tanpa arah, melainkan pertumbuhan thoyibbah dalam langkah perbuatan karimah. Inilah Nuwuh Makmur (menumbuhkan dan kemakmuran)

 

PERIBADI YANG MAKMUR

Kata-katanya indah, perbuatannya indah.
ekspresinya terkemas Subhanallah,
rasa syukurnya terbungkus Alhamdulillah,
keteguhannya dipeluk la ilaha ilallah,
gerak-geriknya dalam dekapan Allahu Akbar,
kesadarannya tersirami La Haula Wala Quwwata Illa Billah.

Setiap niatnya untuk menyempurnakan salam,
istirahatnya tadarus, masa senggangnya terlantun puji-pujian,

anjurannya sabar dan sholat,
ajakannya adalah bangkit secara berjamaah,
puncak kegembirannya adalah menebarkan kedamaian seluas-luasnya.

Inilah Nuwuh Makmur (menumbuhkan dan kemakmuran).
Setiap tetes kenikmatan memberikan pertumbuhan, dan hanya sedikit yang menyadarinya.

 

TAKMIR YANG MEMAKMURKAN

Kemakmuran Tanah ditandai kesuburan, keasrian.
Manusia adalah takmir yang memakmurkannya sehingga terkelola dan memberikan manfaat lebih mumpuni.

Kemakmuran Air terlihat pada kejernihan dan gemericiknya yang menyembuhkan segala jenis kehausan. Manusia adalah takmir yang menjaga aliran dan mencegah dari sabarang pengeruhan.

Kemakmuran Angin tersiar oleh setiap hembusnya nan sejuk, murni, menerpa bermacam kerontang dan penat. Manusia adalah takmir yang menjaga kemurniannya tetap tertebar segar tidak cemar.

Kemakmuran Api membawa khas menghangatkan dan mematangkan, ia hadir dengan maksud mengungkap rasa yang sebelumnya terselubung zona nyaman. Manusia adalah takmir yang mengelola gelora jilatanya agar tak membumi-hanguskan keadaan.

 

HATI MASJID TERMAKMURKAN

Kemakmuran Masjid adalah untuk menggemilangkannya dengan perilaku sujud, kalimat-kalimat yang thoyib serta perbuatan yang mengedepankan kearifan dan membelakangkan pengingkaran. Tiap-tiap orang memiliki masjidnya, sehingga kenapa setiap langkahnya dianjurkan dalam rukuk dan sujud.

Tiap-tiap orang menjadi takmir bagi masjidnya masing-masing, masjid yang berada di dalam hatinya, masjid yang menyertai nafasnya, masjid yang terhampar dalam setiap jangkah kakinya, masjid yang seiring dengan umur, yang mendekapnya dalam siang dan malam.

Umur seseorang adalah masjid yang tergelar, dimana tiap-tiap orang melakukan sujud dan rukuk disepanjang umurnya. Siapa saja yang berkepentingan dengan umurnya tersebut, patutlah tiap-tiap orang merasa perlu memakmurkannya sebagaimana masjid dimakmurkan.

Tancep Kayon kali ini digelar di Pelataran Kali Tuntang, Dusun Dawung, Desa Candirejo. Desa Wisata yang menamakan dirinya “Pesona Garda”. Mengingatkan tentang sebuah bumi perdikan Banyubiru yang mandiri dan memiliki daya juang yang tinggi. Marilah dengan hati dan tangan terbuka, kami mempersilahkan kehadiran siapa saja sebagai apa saja dari mana saja, untuk melingkar bersama, tumbuh bersama, menuju pada makmur bersama. Lahaula wala quwwata illa billahil‘aliyiil adhiim.

 

 

 

Tim Pawon Sinau Bareng

Srawung Eling

Manusia diperkenankan untuk membangun peradaban yang segemilang mungkin. Sehingga munculah berbagai peradaban manusia yang sangat unggul di atas bumi ini. Peradaban ini lantas musnah dan hanya meninggalkan puing-puing sebagai artefak hasil pencapaian peradabannya. Di antara peradaban yang hebat itu ada yang bahkan masih misteri dan tidak dapat dirumuskan oleh manusia sesudahnya. Kisah-kisah itu menjadi contoh bahwa kecanggihan yang dicapai suatu peradaban manusia akan menjadi hanya sekadar bangunan kertas yang diimajinasikan memiliki kecanggihan teknologi. Bangunan ini sangat rapuh dan mudah sekali musnah.

 

Kekuatan bangunan itu apabila disokong oleh rasa kemanusiaan yang tangguh, bening, dan beradab. Ketika kualitas itu pudar, maka pudar pula kualitas produk yang mereka hasilkan. Mereka tidak bisa mengandalkan ilmu yang ilmu itu justru terpakai untuk melupakan yang memiliki dan memberikan ilmu tersebut. Kehebatan ilmu yang dikaruniakan kepada kaum-kaum terdahulu seolah sudah sangat kuat dan tidak terbatas, sehingga sisa ketangguhan dan estetikanya masih bisa bertahan lama dan beberapa dapat disaksikan oleh manusia berabad-abad setelahnya.

 

Bisa jadi manusia selanjutnya iri dengan pencapaian yang dapat diraih pendahulu mereka, namun bisa jadi para pendahulu yang telah dimurkai oleh Allah itu justru mengidamkan atau merindukan kehidupan yang tidak perlu terlalu pandai namun masih memiliki ingatan serta tunduk kepada Tuhan. Ada satu kondisi dimana tidak terlalu pandai menjadi kesadaran motivasi dan ingat akan kelemahan diri, motivasi untuk terus berbenah dan sadar untuk tidak patut bersikap melampaui batas dan bahkan bersikap ingkar.

 

Tahun ini hampir usai dan bulan depan kembali Majlis Gugurgunung melaksanakan Tancep Kayon. Mari kita mengevaluasi diri bersama-sama dengan sinau bareng. Yang masih lemah dan kurang tidak untuk membuat kita ringkih, yang telah tumbuh dan kuat tidak untuk membuat kita angkuh.

Reminding Ekosofi

 

Kehidupan kita sebagai insan melewati beberapa fase. Ada tujuh fase mayor atau wajib yang telah sering kita jadikan bahan pasinaon. Dalam setiap fase ada beberapa fase minor atau sunnah. Dan pada setiap fase baik mayor maupun minor memiliki beberapa variable yang menarik. Justru bukan karena variable itu sederhana malainkan karena variable-variable itu kompleks.

Fase itu merupakan fase perjalanan hidup di dunia, atau ekosistem dunia. Sementara kita diajarkan bahwa ada beberapa alam yang berbeda-beda yang telah dan atau akan kita lalui. Setiap ekosistem menampilkan ekologi yang berbeda-beda pula. Meski demikian, kita dibantu melalui setiap alam tersebut dengan rumus yang berlaku dalam setiap alam. Yakni ekosofi. Mari kita bebarengan sinau mengingat kembali hal tersebut sebagai alat melewati setiap variable dan setiap fase baik mayor maupun minor.

 

Imanitas Imunitas

Tema ini kami sampaikan sebagai oleh-oleh acara Silaturrahmi Penggiat Maiyah 2021, dari Mbah Nun untuk kulawarga gugurgunung. Kemudian kami tadaburi untuk kami angkat sebagai bahan sinau bareng dalam rangka merespon beberapa peristiwa luar biasa yang sedang terjadi saat ini. Sekaligus sebagai bentuk upaya kami dalam rangka beradaptasi dengan kondisi tersebut.

 

Pandemi sudah masuk pada gelombang ke dua, yang ombaknya kian bergulung gulung, hempasannya kian memporak porandakan banyak hal. Varian virus, tingkat penyebaran, angka kematian, dan sebagainya, menyerupa gelombang besar yang berpadu dengan hempasan angin dan sambaran sambaran petir. Berdampak hampir menyeluruh pada hampir semua aspek keberlangsungan hidup. Rasa takut yang mencekam sampai kepada garis putus asa.

 

Pemerintah dengan segala perangkatnya, dalam satu tahun ini terus berjuang mengupayakan banyak hal. Satu simpulan universalnya adalah peningkatan Imunitas.

 

Dalam lingkaran Maiyah sendiri, Mbah Nun juga merasa khawatir, belas kasih, dan tidak tega dengan kondisi anak cucunya. Beliau menyampaikan, bahwa bekal hidup Beliau yang nomer satu adalah “rasa tidak tega”. Pijakannya adalah QS : Attaubah 128-129.

 

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ

عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

 

Terjemah Arti: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. — Quran Surat At-Taubah Ayat 128

 

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

 

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.

 

Yang kemudian Beliau sendiri sebagai inisiator untuk diadakannya silaturrahim dengan anak cucu Maiyah yang diselenggarakan di beberapa wilayah. Salah satunya untuk memastikan bahwa anak cucunya tidak dalam kondisi yang putus asa.

 

Memang banyak peristiwa yang sungguh mengantarkan kita pada kondisi yang sungguh tidak berdaya. “Tidak Berdaya”, ini bisa jadi pintu penting atau justru menjadi salah satu rumus penting manusia yang mengantarkan manusia pada bangunan kesadaran “lahaula walakuata illabillah”

 

Hal hal lain lagi yang disampailan Beliau adalah :

– Bahasa apa yang digunakan dalam Alqur’an?

– Apa itu ayat Muhtasyabihat?

 

Kita tidak dituntut untuk memahami atau mengerti sesuatu, namun kita diharuskan untuk meyakini sesuatu. Contoh, Alif Lam Mim… Ayat yang hanya Allah sendiri yang tahu artinya, namun kita diwajibkan untuk meyakininya. Bahkan boleh, Alif Lam Mim kita jadikan wirid, dalam rangka

 

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

 

Terjemah Arti: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

 

– kita senantiasa dijaga oleh Malaikat Allah, namun sejauh mana kesadaran ini tertanam dalam diri kita. Maka juga boleh, setiap bangun tidur pagi, kita menyampaikan salam kepada Malaikat Allah, sebagai akurasi kesadaran dan keyakinan kita kepada Malaikat Allah.

 

Serta hal hal lain yang mengantarkan kami untuk kembali nyinauni tentang Iman, tentang Rukun Iman, yaitu :

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allah
  4. Iman kepada Nabi dan Rasul
  5. Iman kepada Hari Kiamat/hari akhir
  6. Iman kepada Qada dan Qadar.

 

 

 

Maka,

Bismillahirrohmaanirrohiim…

 

Iman+Imun = Aman

 

Aamiin, Aamiin, InsyaAllah

Aamiin, Aamiin, InsyaAllah

Aamiin, Aamiin, InsyaAllah

InsyaAllah, Aamiin, Aamiin