SENGKUD

Di tahun 2019 ini majlis Gugurgunung melangkah dengan pola “ancang-ancang”, dimana sedikit menarik mundur langkah ke belakang untuk melompat pada jangka yang ingin digapai. Jangka yang ingin digapai itu adalah menyatakan atau memperagakan secara riil hidup dalam semangat gotong-royong atau gugur-gunung sebagai pondasi bebrayan dan mbangun adab.

Di awal bulan di tahun 2019 ini majlis Gugurgunung mengangkat tema Sengkud, yang secara bahasa artinya adalah segera, srempeng, sregep, cekat-ceket, cekatan.

Memang hanya satu kata, tapi jika dilakukan maka tak cukup satu dua buku untuk mencatat langkah Sengkud.

Mari merapatkan lingkaran, menyeduh rindu dan mengemas kepulan irama dalam anyaman tikar pandan gugur-gunung.

Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2018
“Laku Kasantikan”

Laku perjalanan setahun selama 2018 Majlis gugurgunung dengan niat langkah memperkaya kecantikan. Laku Kasantikan.

Sedikit remind, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, sejak awal tahun 2018, Majlis gugurgununung bersama sama merumuskan tema besar sebagai “kurikulum” sinau bareng yaitu “Laku Kasantikan”.

Kasantikan, Santika, masih seakar kata dengan Santi, Saint, Santoso, Susanto, Santa, Sinter, dan sebagainya, yang mengandung arti membawa sifat rohani yang tenang, suci.

Peradaban manusia umumnya merindukan keindahan rohani yang bersifat universal. Keindahan yang merupakan miliknya Allah yang dititipkan di bawah alam sadar agar senantiasa merindukan keindahan universal tersebut. Keindahan yang pada titik tertentu, hanya dapat diungkapkan dengan bahasa universal pula, bahasa yang justru tidak bisa diaksarakan, yaitu tangis, sedih, bungah, haru, dan sebagainya.

Beberapa hal di atas tersebut menjadi pijakan bagi keluarga Gugurgunung untuk mengangkat sub sub tema pada tiap bulannya untuk disinauni bareng-bareng, diantaranya,

– Malikinnas Ilahinnas

– Sinau Mulat

– Sambung Rohso

– Manajemen Bhinneka Tunggal Ika

– Dolanan ing Njaba

– Mencari Dewan Sepuh

– Paseban Muharram

– Nyuwun Jawah

– Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW

 

Sebuah rangkaian laku keluwarga gugurgunung selama satu tahun, dengan  kesadaran utama yang ingin dibangun adalah “Eling lan Wadpodo” bahwa kemurnian, kesucian hanya milik Allah. Sehingga diri kita yang tidak murni ini, mau terus mengakurasi laku lampah menuju kemurnian.

Sudah masuk Bulan Desember. Sebagaimana tradisi Majlis gugurgunung, pada akhir tahun ini akan dilaksanakan “Tancep Kayon”. Sebuah kesadaran tentang kapan sebaiknya berhenti, dan kapan atau bagaimana sebaiknya untuk memulai kembali.

Perhelatan sederhana, biasa saja, tidak ada hiburan, tapi berusaha meletakkan sebagai peristiwa silaturahmi nan istimewa, luar biasa, saling menghibur dan terhibur demi mengenal kecantikan bebrayan secara lahir dan bathin.

Semoga kebahagiaan senampan nasi menjadi penuh makna dan merambah hamparan nikmat tak terhingga karena disantap bersama dalam perasaan sukacita dan gemah ripah bungah sumringah serta ternaungi berkahNya. Aamiin

Sumonggo bagi sedulur semua, selamat datang dan ijinkan kami bergandengan hati kepada Anda semua.

NYUWUN JAWAH

Marja’ maiyah Syech Muhammad Nurshamad Kamba dalam tahun ini menyampaikan bulir-bulir bening ilmu yang bisa dinikmati kesegarannya bagi banyak pihak, bukan hanya kepada lingkup keluarga Maiyah saja namun juga kepada segmen sosial yang bisa jadi notabene belum cukup ‘basah’ dengan Maiyah.
Bisa dikatakan, bahwa buliran-buliran ilmu beliau laksana butir-butir kesegaran dari langit guna membasahi bumi. Buliran itu antara lain diterbitkannya “Sejarah Otentik Nabi Muhammad” yang merupakan kitab referensi penting dari tulisan Prof. Dr. Husein Mu’nis yang oleh beliau Syech Kamba telah disulih bahasakan ke Bahasa Indonesia. Kemudian juga sebelumnya, terbit pula tulisan beliau bersama Sudjiwo Tedjo dalam buku bertajuk “Tuhan Maha Asyik” dan yang paling bungsu adalah buku beliau  yang berjudul “Kids Zaman Now menemukan kembali Islam”. Bagi gugurgunung deretan tulisan-tulisan beliau sangat mengandungi muatan cinta, terlebih lagi salah satu buku pustaka gugurgunung berjudul “Desa Purwa” pun turut dihantar oleh dhawuh yang bijak dan mendalam oleh Syech Kamba.

Bulan ini, sebagai sedikit wujud cinta kami kepada Syech, kami ingin mengangkat tema berangkat dari buku-buku atau tulisan-tulisan beliau. Bahwa tulisan beliau tentu tidak akan cukup satu malam saja diurai dan diserap maka dipilihlah satu bab dalam buku “Kids Zaman Now …” yang berjudul “Mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan”. Kami tetap tahu bahwa untuk satu tema ini saja tak bisa rampung disinaoni dalam semalam. Perjalanan untuk terus memahami kearifan dan kebijaksanaan ini akan terus berlanjut dalam setiap langkah kehidupan dalam pergantian siang malam dan pada putaran musim. Memang demikianlah sepertinya cara belajar, hujan semalam tak lantas menjadi jawaban kesuburan bagi keseluruhan sisa rentang masa. Akan tetapi harus ada guyuran hujan lagi dan lagi pada periode-periode hidup selanjutnya, sabab pasti akan mengalami kekeringan lagi dan kekerontangan kembali. Sebab itulah kami menempatkan diri bagai tanah kerontang yang sinau rindu untuk disapa kerinduan sang hujan yang menghantarkan basah. Nyuwun jawah melalui salah satunya buliran-buliran bening dalam tulisan Syech Kamba.

Dalam Bahasa Jawa disebut sebagai “Nyuwun Jawah” arti bebasnya adalah : “meminta hujan”. Bahwa tidak ada fenomena pertumbuhan di bumi tanpa melibatkan langit. Hal ini bisa diartikan secara jasadiah sebagai hujan yang harfiah yang kemudian menumbuhkan bebijian. Atau bisa juga dimaknai non harfiah bahwa uluran langit kepada bumi bisa berupa ilmu, keteladanan, utusan, pencerah, pemandhu, penuntun, ataupun pamomong.

Mukadimah Majlis gugurgunung,

Edisi Oktober 2018 “NYUWUN JAWAH”