Road to Makan bareng Kanjeng Nabi – Bagian 4

Puncak Rindu adalah Tangis

 

Selain Rindu, sebetulnya Tangis juga menjadi puncak dari Bahagia, pun Sedih, dan sebagainya. Ke universalan tangis sebagai bahasa komunikasi, menjadi indikasi bahwa Tangis adalah salah satu bahasa Kasantikan.

Selepas adzan Ashar, masing masing dari kami tampak bergegas mempersiyapkan diri. aku sendiri salah tingkah setengah mati. Ke kamar mandi, cuci muka, ganti kaos, pakai sarung andalan, plus minyak wangi bayi yang aku sawut begitu saja saat berangkat dari rak perlengkapan anakku lanang, Pekik.

Bismillahirrohmanirrohiim, kami berangkat ke lokasi acara. Tampak berduyun duyun arak arakan mobil dan motor. Ibuk ibuk, Embak embak, Bapak bapak, Mas mas, dan tentunya Anak anak, tampak meriah dan sumringah. aku membayangkan ada rebana pengiring, wuaahhh, mbrabag aku. Kian salah tingkah, kian membayangkan bagaimana kalau ternyata Kanjeng Nabi rawuh lebih dahulu, sampun pinarak, atauĀ  jangan jangan Kanjebg Nabi sedang jumeneng sambil tersenyum menghadap ke arah arak arakan kami. Lalu bagaimana keterbatasan kami ini mampu mengakurasi kehadiran Beliau. Duhhh ….

Tampak berduyun duyun menuju lokasi acara

Merem sejenak, lalu melek lagi. Perjalanan menyusuri jalan di tepian sungai, seperti jalan produksi pertanian. Kanan Kiri tampak terbentang Hijau hampir menguning, yang di atasnya terbentang berjajar tali tali yang padanya terikat warna warni tas plastik kresek berjarak 3 jengkalan. Awan Putih tipis berserakan pada bentangan Langit yang Biru. “Sungguh Instalasi Warna yang dahsyat”. (Pinjam kalimat dari sedulur Pelukis Jepara yang turut hadir).

Juga gemericik air dari saluran sekunder yang mengucur ke kolam kolam ikan, tampak pula seseorang menggiring bebeknya menaiki tanggul sungai, berjalan pulang ke kandang. Pun kawanan burung terbang ke arah yang sama, ke arah pulang.

seseorang menggiring bebeknya menaiki tanggul sungai

Pada sebuah pertigaan jalan tertancap plang penunjuk arah bertuliskan “Kampus Sawah”, pertanda sudah hampir sampai lokasi acara. Arak arakan perlahan berbelok mengikuti penunjuk arah, berjalan perlahan lahan, namun degub jantung dan nafas justru sebaliknya. aku menatap aliran sungai yang langsam, perlahan degub jantung dan nafasku turut langsam. Pada 10 derajat arah perjalanan kami, tampak Mentari hampir Jingga parasnya, cahayanya menerobos rerimbunan ranting dan daun Randhu yang tumbuh kokoh dan subur berjajar di sepanjang saluran sekunder area pertanian Desa Karang Randhu.

tampak Mentari hampir Jingga parasnya

Semribit angin, masuk melalui jendela mobil yang kami biarkan terbuka, lalu menyeka wajah kami. Sangat menyegarkan.

aku segera uluk salam, “Salamku duhai wahai ke semua Panjenengan yang ada di sini, saking kersaning Allah, Laa ilaha illaLLah MuhammadunRosuluLLah …. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakhaatuh.

Kepada ke semuanya, …. Alfaatihah ”

Tiba di lokasi acara, area Kampus Sawah. Kampus yang terletak di area persawahan, dengan dilengkapi dengan satu bangunan berukuran kurang lebih 3 x 6 meter. Bangunan dari kayu dan bambu, dengan 6 tiang struktur dan 2 tiang praktis. Berlantai lampit bambu, beratap genteng tanah, tak berdidinding, dilengkapi dengan 1 meja yang di atasnya ada kendi tanah. Ada spanduk terbentang di bagian belakang, dan sebretan kayu jati tergantung di bagian depan, keduanya bertuliskan Kampus Sawah. Jelas sebuah bangunan yang lebih memper gubug, dan pasti akan tertolak habis habisan oleh skalatis Kampus ukuran orang orang modern saat ini, dengan barometer Kampus yang berupa bangunan bangunan megah dan luas, namun sempit laboratorium.

Riang menari-nari @Kampus Sawah

Oke Stop, saya nggak tertarik memperbandingkan lebih lanjut. Singkatnya, Kampus Sawah Karang Randhu ini mempunyai laboratorium yang luasnya ratusan bahkan ribuan kali lebih luas dari bangunan strukturnya. Laboratoriumnya, ya berupa sawah itu sendiri, sawah dalam arti yang sebenarnya. Penelitiannya melibatkan langsung tanah, udara, cahaya, hewan, tumbuhan, prilaku prilaku, adab adab, dan sebagainya yang ada di situ. Perpustakaan dan referensi ilmunya langsung tersambung dengan leluhur leluhurnya. Semangat dan kesadaran yang dibangun adalah kesadaran menuju ke Fitrah. Bahasa ringkasnya adalah “Pertanian Organik”. Sebuah sistem pertanian yang jelas sulit dipraktikkan pada era sekarang ini, era dimana tanah tercemari, udara tercemari, air tercemari, hewan hewan tercemari, ekosistem kacau, rantai makanan putus, dan prilaku prilaku yang nyaris putus asa, dan sebagainya. Acapkali dulur dulur ini juga harus berhadapan dengan angkuhnya bangunan bangunan pabrik. Upaya upayanya terhadap Sungai terus menerus berhantam hantaman dengan intalasi instalasi air limbah yang diameter lubang pipanya puluhan kali lebih besar dari diameter kepalan tangan dulur dulur tersebut. Menebar benih ikan, dengan jenis ikan yang lebih tahan dengan pencemaran, adalah salah satu cara yang mencoba di istiqomahkan dalam lelakunya. Karena upaya upayanya kepada pihak pihak terkait, hanya menghasilkan satu kalimat jawaban yang sudah terprediksi, yaitu : “Pencemaran ini bukan akibat dari limbah pabrik pabrik” ….. Sial !!!!!.

“Semakin tidak ada yang menemani, justru Allah sendiri yang akan menemani”, kurang lebih demikian, kalimat yang saya kutip dari Mbah Nun. Mungkin ini adalah realitas dulur dulurku yang justru mempunyai kesempatan mengakurasi kesaksian melalui peristiwa peristiwa yang mereka hadapi selama kurang lebih 8 tahun perjuangan. Satu Windu, adalah waktu yang sanggup mereka tempuh untuk mengenal sekian banyak kakaWin dan sekian banyak reriDu. Semoga terus berjalan pada putaran putaran WinDu berikutnya, doaku.

Mak wuthhh, aku terbangun dari lamunan. Berdiri diantara gelaran
keikhlasan, bersama dengan gelaran kelasa yang sudah ginelar di area Kampus Sawah, di atas jalan produksi, yang menyisakan 1 meter untuk lalu lintas pengguna jalan.

di tengah gelaran juga sudah tersedia beberapa hidangan yang hampir kesemuanya adalah hasil dari menanam, merawat, memanen, dan memasaknya sendiri. Diantaranya adalah ketela, singkong, nasi, aneka lawuhan, aneka sayur, klubanan, tidak ketinggalan pula Kang Wahid penggiat Simpul Gambang Syafaat juga hadir membawa produk pesisir Demak berupa Dendeng Gereh. Semua tertata berjajar di sepanjang kami duduk berhadap hadapan.

beberapa hidangan yang hampir kesemuanya adalah hasil dari menanam, merawat, memanen, dan memasaknya sendiri

Panitia menyalakan sound sistem, lalu mengetesnya. Properti dan panggung teater siap. Tim teater siap. Tim Hadroh juga telah memegang terbang nya masing masing. Mas Haris membuka HP, mempersiyapkan file Sholawat. Mas Burhan juga telah siyap berduet dengan Mas Haris. Jamaah duduk dengan posisi nyamannya masing masing. Anak anak dipangkuan orang tuanya. Beberapa bertugas mengatur lalulintas jalan. Mas Kafi yang duduk berdampingan dengan Mas Agus, segera menyalakan mic, lalu pegang kendali untuk memandu acara. Acara dibuka oleh Mas Kafi, lalu dilanjutkan dengan Tawasul. Kemudian Sholawatan, dipimpin oleh Mas Haris dan Mas Burhan. Momentum yang menggetarkan. Beberapa ada yang pecah tangisnya, dan bersembunyi diantara rancak tabuhan rebana. Mas Haris beberapa kali terdengar serak, parau, lalu ngunjal ambegan. Kulit wajahnya yang putih kian kentara Merah mBrambang.

Sholawatan yang dipimpin oleh Mas Haris dan Mas Burhan

Saat Mahalul Qiyam, lengkingan suara tinggi Mas Burhan lebih dominan terdengar. Kembali pecah tangis diantara Jamaah, saat Mas Burhan melantunkan : Marhaban Yaa Nurrul Aini, Marhaban Jaddal Husaini, Marhaban Ahlan wasahlan, Marhaban Ya Khoiro Dai.

Seusai Sholawatan, Mas Kafi menyambungnya dengan bacaan do’a. Semua menengadahkan tangan, sebagian besar memejamkan mata. Pada bacaan : Yaa Allah Yaa Rohmaan Yaa Rohiim Irhamnaa …. Mas Kafi pecah tangisnya, meraung raung, beberapa saat hanya terdengar Huu .. Huu … Lalu melanjutkan menyelesaikan do’a.

Acara dilanjutkan dengan sambutan sambutan, dari perwakilan panitia, dan dari perwakilan majlis gugurgunung. Masing masing tidak menyampaikan secara panjang lebar. Mungkin karena masih terbawa suasana haru hingga medesel.

Butuh jeda sejenak, maka acara dilanjutkan dengan perform dari teater Wangker Bayu. Para talent bersiyap di sisi panggung. Mas Agus dan Mas Kafi beranjak dari duduknya, lalu berdiri pada jarak terdekat dengan panggung. Jamaah lainnya pada posisi nyamannya masing masing. Anak anak berlarian melintasi panggung. Suasana natural tersebut melahirkan kesan seperti bukan sebuah performa teater, namun seperti ruang dialog yang riil.

Teater saya mulai dengan menyampaikan preambule singkat, kurang lebih begini :


Apakah menanam, selamanya berorientasi pada memanen ?
Apakah panen, selalu berotientasi pada jumlah yang besar, atau harga yang tinggi ?

Mengutip tulisan Mbah Nun pada sebuah buku Beliau, kurang lebih, “Menjadi, pasangan kata yang tepat adalah Manusia, menjadi apapun itu sebaiknya digunakan sebagai upaya untuk tetap menjadi Manusia”

Petani bukan profesi, Petani adalah salah satu Titah, untuk tetap menjadi Manusia.

Aset Utama Manusia adalah rasa kamanungsan. Tugas utama Manusia adalah Khalifah fil Ardh.

Seluruh Mahluk diciptakan dari Nur Muhammad.

Hati Petani adalah Hati yang senantiasa membangun kesadaran laku lampah yang terus mengakurasi ke Fitrah.

Maka, “Panen” adalah …. Ketika laku lampah kita senantiasa dibersamai Kanjeng Nabi … ”

Kemudian satu persatu talen saya perkenalkan, lengkap dengan kontribusi dan peran yang dimainkannya. Seting lokasi sawah, tema acara, tema teater, jamaah yang hadir, lalu lalang anak anak kecil di sepanjang pertunjukan dan sebagainya dan sebagainya, seperti membentuk jaringan jaringan frekwensi yang “Mencahaya”

Perform dari teater Wangker Bayu

(Sengaja isi dialog dalam pertunjukan teater tersebut tidak saya urai, cukup saya wakilkan dengan foto, karena rencana akan menjadi pertunjukan selanjutnya pada “Tancep Kayon” Majlis gugurgunung, Desember ini …. biar tidak imajiner, Silahkan hadir )

Acara selanjutnya adalah Makan Bareng/KemBulan. Hidangan ditata sedemikian rupa. Semua berbaur menjadi satu. “Iki coro mangane yo podho coro dhahare Kanjeng Nabi, nganggo driji telu ngono ?”, seloroh salah seorang teman. Tentunya, yang terjadi tidak se “gembagus” itu. Kami makan sebagaimana biasanya cara kami makan. Cuman kali ini, paling tidak kami mampu memaknai apa itu nikmat, sadar tentang kapan harus berhenti, bergantian, berbagi, bersyukur, dan sebagainya dan sebagainya.

Makan Bareng/KemBulan

Menjelang Maghrib, kami bersama sama membersihkan lokasi acara. Menggulung tikar untuk digelar kembali di rumah Mas Burhan. Setelah semua beres, kami bersama sama pulang, berjalan ke arah munculnya Rembulan. Dan tentunya, kerinduan itu mulai bersemayam di hati, sejak langkah pertama kami beranjak dari tempat itu. Benih Rindu yang sejak itu pula kami niatkan untuk terus kami rawat, sampai pada musim panen berikutnya.

………. Selesai

Mohon maaf dan Terimakasih.
Semoga bermanfaat.
šŸ™šŸ™šŸ™

 

Kasno

Road to ā€œMakan bareng Kanjeng Nabiā€ – Bagian 3

Silah Rindu

 

24 November, H-1 Makan bareng Kanjeng Nabi. Bertepatan dengan Rutinan Majlis Gugurgunung. Semilir angin Gunung Ungaran, Kopi, Rokok, Langit yang cerah, Rembulan bulat utuh, adalah swasana yang lengkap untuk menyicil rindu. Malam itu, edisi spesial Gugurgunung. Rutinan kami khususkan untuk Tawasul, Sholawat, dan Munajat. Wadyo bolo Gugurgunung datang lebih awal. Langsung menyeduh Kopi, menyalakan Rokok, lalu melingkar pada gelaran keloso yang sudah ginelar lebih awal oleh Mas Mundari Karya. Kopi, Rokok, dan Keloso bagiku adalah symbol pangeling tentang Khouf, Roja’, dan Keikhlasan. salah satu upaya yang sering saya sinauni untuk menyeimbangkan diri.

Kehangatan Majlis Gugurgunung

Setelah suasana meneb, acara segera dibuka oleh Mas Diyan. Tawasul dipimpin oleh Mas Ari Lodhang, Sholawat dan Munajat oleh Mas Tyo dan Om Jion. Khusuk dan khidmat. Di tengah berlangsungnya Sholawat, beberapa menit sebelum Mahalul Qiyam, Mbak Dewi beserta keempat temannya turut hadir, langsung gabung duduk melingkar. Dan sejenak kemudian kami sama sama berdiri Mahalul Qiyam.

Mas Tyo dengan nada suara lirih dan lembut namun jelas terdengar berkolaborasi dengan lengkingan nada suara Om Jion yang mendayu dayu. Sesekali nada suara jamaah terbawa naik, beberapa ada yang terputus karena isak tangis. Saya sendiri, pecah, justru ketika di tengah tengah Sholawat, Mas Tyo secara natural dan spontan bilang, “wah, sing iki aku lali nadane”. Sempat jeda sejenak, lalu Om Jion meneruskan dengan bait Sholawat lainnya. Menurutku, itu adalah adegan yang sungguh mengharukan.

Pembacaan sholawat yang di pimpin oleh Mas Tyo

Rangkaian Tawasulan, Sholawat, dan Munajat, rampung. Kami kembali duduk dan menghela nafas sejenak. Lalu kembali nyalakan rokok, ngejog kopi, dan gendhu gendhu rasa. Mas Diyan mempersilahkan tamu untuk memperkenalkan diri, dan perwakilan dari kami juga menyampaikan sekilas tentang Gugurgunung. Mas Agus menyampaikan beberapa hal terkait tema besar tahun 2018 yaitu “Laku Kasantikan”. Saya membantu Mas Diyan menggulirkan beberapa pantikan dari Mas Agus untuk didiskusikan bersama sama. Momentum yang pas untuk me remind kembali rekam jejak dan gapaian gapaian keluwarga Gugurgunung selama 2018. Untuk kemudian menjadi catatan catatan atau simpulan sementara yang akan kita usung pada puncak acara tahunan yang menjadi tradisi rutin Majlis Gugurgunung, yaitu Acara “Tancep Kayon” pada bulan Desember.

Sudah lingsir wengi, Mbak Dewi beserta keempat temannya pamit, kami saling menyampaikan untuk bisa sinau bareng lagi.

Acara dilanjutkan dengan rembug persiyapan “Tancep Kayon”. Kesanggupan teknis, rantaman acara beserta penugasannpenugasannya, satu persatu beres. Sisanya bergulir.

Rembug selanjutnya adalah persiapan berangkat ke Jepara, acara “Makan bareng Kanjeng Nabi”, yang terhitung tinggal beberapa jam lagi. Teknik keberangkatan,Ā  titik kumpul, estimasi waktu, dan lain lain, tersepakati. Tak ketinggalan pula, Pak Zamroni, sesepuh Gugurgunung dari Kendal, via Om Jion, menitipkan sekarung Mangga Manalagi yang Beliau antar dari Kendal ke Tugu – Semarang, rumah Om Jion.

“Kang, iki aku panen pelem ngarep omah, titip kanggo acara Makan bareng Kanjeng Nabi”, begitu kira kira yang disampaikan Pak Zam kepada Om Jion. Silah Rasa yang menurutku, sangat teatrikal.

Kokok Ayam kian bersahutan, juga kumandang Tarhim dari Masjid Masjid. “Sak ududan malih nggih”, begitulah aku mengusulkan. Kali itu batang rokok Mas Mundari yang kita sepakati. Kira kira jam tiga an, hisapan terakhir rokok Mas Mund, lalu tegesan diceceg pada asbak. Tikar digulung, kami pamit.

Belum juga tidur, namun tak kunjung ngantuk, seperti fenomena masa kecil dulu saat mau pergi tamasya. Atau ketika masa remaja saat janjian ketemu dengan kekasihnya. Selepas subuh notifikasi WA sudah kluntang klunting, saling konfirmasi persiyapan keberangkatan. Titik kumpul di Bangetayu. Mas Agus, Kang Padmo dan Mbak Dewi berangkat dari Ungaran satu mobil. Tim teater Wangker Bayu juga berangkat satu mobil, para kekasihnya turut serta. Om Jion beserta dua dulur lainnya menyusul serampung acara keluwarga di Grobogan. Perjalanan sangat lancar, kami tiba di Karangrandu –Ā  Jepara lebih awal. Transit di rumah Mas Burhan. TampakĀ  aktifitas persiyapan dulur dulur Karangrandu. Ibu ibu dan Mbak Mbak sibuk masak. Bapak Bapak dan Mas Mas sibuk menata lokasi acara. Juga Anak Anak kecil tampak mulai ramai, minta mandi dan nganggo klambi anyar.

Mas Kafi menemani kami di tempat transit yang sudah tersedia Kopi, Teh, Pohong Goreng mrekah yang empuk kemrunggi, serta buah buahan.

Kehangatan di Karangrandu, Jepara

Tampak Mas Kahfi mendiskusikan beberapa hal dengan Mas Agus di teras. di ruang dalam, tampak pula Mas Ginanjar, Mas Chafid, dan Mas Yoga melanyahkan dialog. Mbak Dewi dan Mbak Aul dandan sedemikian rupa. Mas Dhika, Mas Diyan, dan Mas Pungki berdumplak dumplak meramu akapela yang bakal mengiringi pembukaan teater.

 

Kasno

Road to ā€œMakan bareng Kanjeng Nabiā€ – Bagian 2

ā€œAndum Bebungahā€

 

Pada bagian ini saya bingung mau mendahulukan kisah yang mana, karena sangat banyak bebungah yang musti diceritakan.

Baiklah aku mulai dari yang paling universal yang mendasari diadakannya acara “Makan bareng Kanjeng Nabi” tersebut, yang belakangan saya dapat bocoran dari Mas Kafi bahwa kontributor utama ide dan gagasan acara tersebut salah satunya adalah Mas Agus. Hmmm ….

Kerinduan. Iya, menurutku, yang paling universal yang mendasari diadakannya acara tersebut adalah “Kerinduan”

Sejenak mari kita simak Tembang Kerinduan ini

 

Pangkur Kerinduan

 

Kangen Pasuryan Paduka.

Kanjeng Nabi kang angon Langit lan Bumi.

Kuthaning berkah lan ngelmu.

Endah tan kinoyo ngopo.

Kekasihing Gusti ingkang Moho Luhur.

Duh Nabi nyuwun margi.

Trisno lahir trus ing batin.

 

Tembang tersebut bisa dianggap seperti tembang wajib bagi Majlis Gugurgunung, karena setiap kegiatan rutinanĀ  selalu melantunkan tembang tersebut yang dirangkai dengan Sholawat dan do’a. Tembang yang menurutku sangat pas dibawakan oleh Om Mujiono ini seolah menjadi pengantar rindu kaluwargo gugurgunung kepada Kanjeng Nabi.

Bahasa universal lain yang terkait dengan rindu, salah satunya adalah bungah. Terhadap sesuatu yang dirindukan, yang ingin dipersembahkan adalah bebungah. Begitu idealnya. Dan bahasa yang paling universal untuk menyampaikan bebungah adalah bahasa kesenian.

ā€œLiterasi akademis, kurikulum, ilmu opo wae sing diwakili kata, koma, dan titik, ora iso nyonggah manungso lan kamanungsan. Mulo ilmu njaluk ewang kesenian, sastra, teater, lan sakpiturute. Mulo Alqur’an dibahasakan sangat sastrawi, kisah kisah sejarah dituturkan sangat teatrikal oleh Allah.” (Mbah Nun kepada Majlis Gugurgunung, via Mas Agus)

Teater adalah yang diusulkan oleh Mas Agus untuk sarana andum bebungah, dan dulur dulur sanggar Wangker Bayu sendhiko atas usulan tersebut. Naskah digarap oleh Mas Diyan, penyutradaraan disanggupi oleh Mas Chafid dan Mas Diyan. Rekruitment talent dilaksanakan dengan segera. Ada yang unik pada proses audisinya. Begini ….

Mas Yoga adalah Mahasiswa Teknik Mesin, dia bersama kekasihnya, Mbak Aul namanya. Mereka berdua sama sama dari Bekasi, yang kesehariannya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia versi remaja Ibukota. Contoh : Njir, Lu, Gue, dst, adalah kata kata yang sering saya dengar darinya. Suatu siang Mas Yoga menghadap Mas Diyan, sang Sutradara. Mas Diyan menyodorkan naskah, sembari berkata, “Yog, Lu mau ikut maen teater ga, silahkan pilih peran”. Mas Yoga menjawab, “Mau, Mas. Yaudah gue pilih memerankan Boniq”. “Oke, Lu diterima, Yog”, kata Mas Diyan. (Entah siapa yang “kenthir”, sesingkat itu audisinya, …. naskah teater berbahasa Jawa, pemeran pertama yang dipilih justru orang yang kesehariannya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia versi remaja Ibukota). Nyata !!! … untuk latihan satu kata dari sekian lembar naskah aja sudah problem. Contoh : Ha thek, Yog … Ha thek, bukan Ha tik, juga bukan Ha thik, tapi Haaaa Thek. (Hahaha, kebayang bukan ????). Oke Yog, waktu masih Tiga bulanan, mulai sekarang training Lu adalah, berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa ketika ngobrol dengan kami, “Saran Mas Dhika”. Disanggupinya, dan hasilnya luar biasa.

Audisi selanjutnya adalah Mbak Dewi. Perempuan dari Wonogiri, yang kerja di Ungaran, dan sering melingkar di berbagai simpul Maiyah. Hadir di Majlis Gugurgunung baru kali itu, itupun karena diberi tahu oleh Jamaah Maiyah di Suluk Surakartan – Solo, tentang keberadaan Majlis Gugurgunung. Pertemuan pertama dengan Mas Diyan, langsung ditawari main teater. “Mbak Dewi kerso main teater ?”, kata Mas Diyan. “Mau, Mas”, jawab Mbak Dewi. Sesingkat itu.

Siang itu, seluruh talent (Mas Ginanjar sebagai Mbah Dur, Mbak Dewi sebagai Bu Nyai, Mas Yoga sebagai Boniq, Mbak Aul sebagai Dayu, Mas Chafid sebagai Sutradara yg juga memerankan Pak Kamiyo, dan Mas Diyan sebagai Tengkulak, dibersamai oleh suporting dari dulur dulur lain, termasuk Mas Rizal dari Gambang Syafaat) berkumpul untuk latihan perdana di Sanggar Wangker Bayu, beralamat di Bangetayu, camp ngopi 0 mdpl. Sanggar yang berupa sebidang tanah kosong entah milik siapa. Tempat di mana dulur dulur ngopi 0 mdpl di bawah pohon mangga, bermeja ember cat dibalik, berkursi apa saja, banyak lalu lalang ayam segala umur. Ayam yang salah satu induknya adalah Si Gondhang, pemberian dari Mas Agus pulak. Sanggar yang kelahirannya dibidani oleh Mas Agus, dan ditempa oleh dulur dulur sepuh Gugurgunung ini telah melahirkan banyak karya, diantaranya : Pagelaran Pewayangan, Film Pendek, Teater Singkat, Menggores Langit Bangetayu, dll.

 

Latihan perdana di Sanggar Wangker Bayu

 

Lokasi lain yang juga berkesempatan untuk latihan diantaranya, balai RW, Warung Penyet Kirana, dan Kawasan Wisata Candi Ngempon.

Suasana Latihan di Kawasan Wisata Candi Ngempon

 

Suasana Latihan di Warung penyet Kirana

 

Suasana latihan di Balai RW 09 Tlogomulyo

 

Kasno

Road to “Makan Bareng Kanjeng Nabi”

ā€œRumah Bahagiaā€

 

Dulur-dulur Jepara menamainya “Rumah Bahagia”, dan aku setuju. Begini …..

Induk semang Rumah Bahagia tersebut adalah Mas Kafi dan Mbak Diyah, pasutri yang bertubuh makmur, dan mempunyai satu titik artistik yang sama yaitu lesung pipi. Pribadi yang ramah, supel, berinteraksi dengan berbagai kalangan, profesi, usia, dll. Belakangan saya tahu bahwa Beliau ternyata pernah diamanahi oleh masyarakat sebagai Petinggi. Layak, ” gumamku”.

Pertama kali saya berkunjung ke sana, ketika nderekke Mas Agus beserta Keluwarga Gugurgunung, selepas dari ngombyongi simpul Maiyah Semak – Kudus. Saya menangkap sebuah organisasi ruang yang menarik dari Rumah Bahagia tersebut. Begini ….

Ruang tamu yang terbuka, terletak di teras belakang rumah, bersebelahan dengan kamar tidur yang ventilasinya berupa jendela kaca naco yang selalu terbuka, yang ternyata sengaja difungsikan untuk display mainan anak anak. Juga berhadapan dengan dapur, dan sejarak 5 meteran adalah kamar mandi. Tamu benar benar berasa bagai bagian dari anggota keluwarga rumah tersebut.

Rumah Bahagia

Pada sisi dinding yg batanya terekspose, juga terpampang kalender, yang bersebelahan dengan white board bertuliskan Jadwal kegiatan yang cukup padat. Luar biasa, ruangan terbuka yang bisa dibilang tidak luas tersebut, ternyata melahirkan rentetan kegiatan yang luas, “gumamku lagi”

White Board yang berisikan agenda Majlis Alternatif, Jepara

Berada dalam rumah tersebut, tidak bisa menghindar dari yang namanya diskusi. Banyak ide dan gagasan yang lahir, dan banyak ide dan gagasan yang terealisasi. Majlis Alternatif, Kampus Sawah, Hati Petani, Tabur Benih Ikan, Silaturrahim antar Simpul, adalah beberapa diantaranya yang berjalan secara Istiqomah. Lebih menakjubkan lagi, karena hampir semua kegiatan terschedule, terdokumentasikan, terevaluasi, dan terangkum menjadi literasi yang terkumpul sebagai khasanah pustaka yang kelak bisa menjadi referensi sinau generasi selanjutnya. Mas Agus menjadi salah satu asbab KetersambunganĀ  kaluwargo gugurgunung lewat benih katresnan yang ditanamnya sejak kurang lebih sewindu yang lalu.

Agustus 2018, keluwarga gugurgunung menemani dulur dulur Jepara di Rumah Bahagia berdiskusi tentang gegayuhan akan digelarnya sebuah acara sakral di bulan Maulud, acara yang dipandegani oleh Majlis Alternatif, Kampus Sawah, Hati Petani tersebut diberi judul “Makan bareng Kanjeng Nabi”.

Makan bareng Kanjeng Nabi ???? ” gumamku, kali ini sungguh sambil bergetar”.

Antusias terhadap acara tersebut sangat terasa, terbukti dari banyaknya peserta yang hadir dengan ide dan gagasannya. Namun ada pula yang datang untuk melepas rindu dengan Mas Agus.

suasana kehangatan ketika berdiskusi

Diskusi menggelinding sedemikian rupa, masing masing saling melempar gagasan, lalu masing masing saling menunjuk diri untuk menyampaikan kesanggupan. aku siyap nanam Jahe, aku tak nanam lomboknya, aku terongnya, aku sanggup kacang tanah, telo biar saya yang nanam, dst …. begitu kurang lebih mereka saling bersahutan. Ringkasnya, ini adalah acara Makan bareng Kanjeng Nabi. Masing masing ingin mempersembahkan yang terbaik untuk acara tersebut. sesuatu yang dihidangkan sebisa mungkin adalah hasil dari menanamnya sendiri.

Kesanggupan kesanggupan tersebut kemudian dicatat, dirangkum, dilaksanakan, diamati bersama progressnya, disinauni fenomena fenomenanya, dst dst. Bentuk diskusi yang mengharukan. Mas Agus pamit udut ke luar, (mungkin karena haru). Lalu giliran saya untuk dipersilahkan berbicara, namun gagal. Karena yang tumpah justru air mata. Entah ….

 

Kasno

DITUNTUN REMBULAN

Oleh : Ihda Ahmad Soduwuh

Masih ingat saat HTI ramai-ramai dirundung warga senegeri? Mbah Nun atau yang oleh Mas Agus dipanggil Sahan, waktu itu merangkul pelarian politik itu. Puncaknya adalah seorang dutanya yang mualaf-provokatif mendatangi forum maiyahan dan terharu pada fenomena sosial ini. Setelah reportasenya viral, maiyah ikut kena jatah lemparan celaan sebab dicap berpihak pada pengusung gagasan khilafah ini.

Kala itu secara spontan kuajak kopdar seorang kawan aktifis senior organisasi tersebut di Majlis Gugurgunung. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan lokasi. Kawan karib semenjak pakai seragam putih abu-abu ini antusias saja sebab lama kami tak bersua. Anomali kemesraan karena di grup-grup Whats App kami saling gasak soal ide. Di dunia nyata atau japri tetap ada keakraban dan kesadaran bahwa yang diperjuangkan sama juga.

Pertama kali datang ke Majlis Gugurgunung yang berlokasi di rumah seorang jamaah itu kami merasa sangat disambut hangat. Kebetulan jarak saya ke lokasi yang agak jauh, diperjalankan agak telat. Si pejuang khilafah sudah sampai dan ngopi duluan meski baru di teras. Buletin maiyah ia pegang sembari menunggu saya. Di dalam rumah rentetan acara pembuka maiyah sudah dimulai.

Mungkin karena lingkarannya di angka puluhan orang, suasana kekeluargaan begitu terasa di Simpul Maiyah Ungaran ini. Satu sama lain penggiat maupun jamaah saling menyambut dengan tangan terbuka dan senyuman ramah. Bahkan ada kesempatan mikrofon bergilir di mana tiap yang hadir berhak menyampaikan apa saja. Mulai dari curhatan, pertanyaan, sampai gugatan, boleh dilayangkan ke tengah forum. Sebuah wujud demokrasi tanpa babibu, selama ada kemauan, silakan ajukan.

Forum ini terdengar sampai telinga saya karena direkomendasikan beberapa pihak. Saya dapat dari Gus Aniq yang mengampu RKSS dan Om Budi Maryono yang narasumber tetap di SulukSastra. Keduanya yang juga pembicara di Gambang Syafaat seringkali menyatakan padaku bahwa kalau ingin belajar tentang Jawa dan tradisi, datang dan timbalah di Majlis Gugurgunung. Ditujukan sebagai laboratorium keJawa-an, sudah sangat terasa saat duduk di tengah lingkaran ini.

Uniknya, setelah setahun absen datang, kali ini Gusti Allah memperjalankan rutin hadir di tengah maiyahan ini. Melalui seorang kawan yang dipertemukan maiyah, seringkali ingatkan acara ini di hari H. A-ndil-Allah, selalu malam purnama atau mendekati bulat sempurna. Dua kali datang pertama dihadirkan di outdoor, pelataran sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Di seberang masjid besar itulah saya menikmati kesyahduan alam. Tadabbur alam yang sudah sangat lama saya tinggalkan seiring masa berkeluarga tiba.

Kapan lagi bisa duduk menyesap atmosfer berbintang, bulan, angin pegunungan, mistis, tanpa perlu merasa asing? Apalagi kopi yang selalu panas tinggal ambil tanpa sungkan. Sungguh lengkap Majlis Gugurgunung ini. Betul-betul Njawani, tanpa sekat, egaliter, menguliti konsep warisan leluhur dengan rendah hati dan hati-hati. Saling timpal pendapat usai pemaparan tema menandakan kehangatan persaudaraan berwasilah maiyah. Bahkan gasak-gasakan antar penggiat dan jamaah sesekali mencuat, membuat suasana terus saja cair dan hangat menyelingi kepadatan bahasan.

Mas Kasno bahkan pernah berkata bahwa kehadiranku yang kurasa diperjalankan ini sebagai jawaban atas doa-doa di awal memulai Majlis Gugurgunung. Sebuah ajakan untuk kehadiran sedulur-sedulur yang butuhkan. Ini terasa sekali saat momen mengundang Master Zaen Sang Ahli Terapi Tulang Punggung. Tak dinyana kemunculanku sangat pas, hanya karena ingin memandang rembulan lantas dapat temukan solusi yang selama ini mustahil kudapat. Alhamdulillah manjur, bisa bermaiyah dalam jangka lama tanpa harus bergantung pada sandaran. Sebuah sunnah Kanjeng Nabi yang akhirnya bisa kutempuh tanpa kesakitan.

Suatu saat Om Eko Tunas, kawan lama Mbah Nun, hadir di Gugurgunung bawakan monolog beliau. Di momen itu kebetulan ada sedulur-sedulur datang dari desa sekitar dan Simpul Maiyah Salatiga. Setelah acara resmi selesai, mikrofon dimatikan, nasi jagung berikut lauk-pauk dibagikan. Inilah keunikan lain dari simpul maiyah ini. Selalu ada tanda syukur sederhana khas pegunungan. Menu yang kujumpai hanya di satu tempat ini.

Pas menyantap makan itulah perbincangan basa-basi hadir di antara jamaah. Saya dan kawan langsung akrab dengan lingkaran kecil yang terbentuk. Di situlah kami cari persamaan antar jamaah. Rupanya ada kemiripan dalam kejadian-kejadian pertanda kehadiran Tuhan. Sesepele bisa bernegosiasi soal turunnya hujan. Kawan-kawan ini sudah buktikan bahwa Gusti Allah memang bisa disapa meski ibadah bolong-bolong.

Kini sudah kubulatkan tekad untuk rutin hadir ke simpul ini. Menimba ilmu Jawa secara mendalam sebagai niat awalan. Semoga senantiasa diperjalankan Tuhan. Berbekal paseduluran memperkaya pengetahuan dan mengasah pengalaman.