Qolam Gusti

Dalam tema mencari guru: (tema sinau bareng bulan Agustus 2020). Maka akan menjadi manusia yang educated (terdidik, terpelajar, terlatih, teruji). Kini lebih diurai bagaimanakah seseorang menjadi teridik?

Dalam pembelajaran ada kurikulum. Salah satu metode penyampaiannya melalui umur. Umur merupakan “teman belajar”. Umur akan menjumpakan pada 4 “ter-” diatas (terdidik, terpelajar, terlatih, teruji), dengan dipertemukannya pada permasalahan-permasalahan.

 

Dalam Tema LARAS pada bulan Agustus 2019 yang lalu., Ada dua jalur dalam kehidupan. Jalur Ahsani Taqwim (biru) dan Jalur Asfala Safilin (merah). Jalur Gelombang kenabian (amanah) adalah Biru, sedangkan gelombang pembangkangan (khianah) adalah jalur merah. Dua jalur ini juga terjadi dalam setiap diri manusia. Untuk kemudian manusia sendiri yang menetapkan pilihannya akan berjalan pada jalur Biru ataukah jalur Merah.

 

Dalam diri manusia terdapat bara, ngangah, panas (fire) dan juga terdapat tenang, sejuk, damai, tentram (light). Seolah-olah perumpamaan atau penggambaran tentang biru dan merah itu berlaku pada banyak hal. Pada teknologi komunikasi misalnya, dalam smartphone ada dua macam sistem share informasi nirkabil yang disebut infraRED dan BLUEtooth. Kemudian ada yang lantas lebih canggih lagi dari sisi kecepatan transfer dan penerimaan yaitu wi-fi. Demikian yang terjadi pada smartphone. Adakah kemungkinan teknis yang serupa juga terjadi pada smartcreature? Dimana ada model transfer data dan informasi untuk manusia tanpa jalur jasadiah. Merujuk pada Surat AL Alaq bahwa Allah adalah Robb yang mengajarkan manusia melalui perantara Qolam, maka boleh jadi diasumsikan bahwa qolam adalah semacam wifi yang difasilitaskan kepada manusia yang semakin hari semakin canggih dan cepat akselerasi akalnya.

Kita adalah ‘nas’ dan jika tereducated menjadi ‘insan’. Surah al-Insan lebih mendeskripsikan kehidupan surga. Sedangkan an-Nas, lebih menekankan pada petuah dan anjuran akan adanya hasutan di dalam dadanya selama masa pencarian. Dimana yang menghasut atau membisikkan itu berangkat dari dua sisi baik merah dan biru, yakni “minal jinnati wan nas”. Agar seseorang tersebut menjauhkan dari tradisi kehidupan surga, dan menggemari kemolekan semu Neraka. Neraka dan surga ada padanan di dunia.

 

Penerjemahan FIRE and LIGHT.

FIRE-> FRAMED (terbingkai). Alam dzohir. Lahir ada badan, dan badan membingkai menjadikan kita ada, tampak, teridentifikasi, menjadi substansi. Yang mana substansi ini menyatakan bahwa keberadannya adalah abdi. Dalam frame, kita akan menemukan hal lain dari F->FIGHT, bahwa kita siap bertarung, handal, penuh keperwiraan dalam mengawal pengabdian. Semangat tersebut harus ditambah juga dengan I->IDEA, INITIATIVE. Tidak hanya modal berani tapi juga inisiatif. R->RISK, REASONABLE adalah pemahaman Resiko. Inisiatif harus ditambah pengetahuan, apakah hal ini memiliki alasan cukup baik dan sadar bahwa setiap hal pasti ada resikonya, sehingga sudah menyiapkan mental untuk memanajemen risiko tersebut. Orang yang bisa menemukan alasan atas suatu upaya lebih memiliki kalkulasi dan seseorang yang mampu memanajemeni risiko akan menjadi pribadi yang bukan sekadar kalkulatif melainkan tangguh dan teruji . Setelah semua terkumpul, maka harus menjelma menjadi upaya (E->Effort). Tidak hanya konseptual tetapi juga harus menjadi perilaku.

 

Api yang besar menjadi amarah, api mobat-mabit lauwamah. Sebisa mungkin jadikan api dalam diri kita menjadi api muthmainah (anteng). Nafs kita harus menjadi tenang. (Coba cek di surah al Fajr). Didalam ketenangan maka api harus diterbitkan. Seperti matahari yang sangat panas namun panasnya tidak membasmi malah menumbuhkan. Sesuatu yang mengangah harusnya mencahaya. Fenomena panas yang membasmi masih dalam kondisi FIRE sedangkan menumbuhkan sudah di dalam kondisi LIGHT.

 

Syarat mencahaya, LIGHT  mengenali hati dan kemaluan kita. L->LOVE & LOFTY. Hati kita kawal untuk memendarkan cinta, kemaluan kita jaga untuk meluhurkan budi.

I->INSPIRATION. Orang sabar tidak pernah mengungkapkan bahwa dia sabar. Cari orang yang sesuai untuk menjadi teladan (Rasulullah Uswatun Hasanah)

G->GREATNESS, keagungan, memberi dengan tangan kanan seperti makan dll. GEORGEOUSLY (menawan). Lihat tangan kiri, baik bukan yg memakai cincin dll. Tapi yang mau memegang hal-hal yang dianggap jelek. Pandai merukuk.

H->HIGHNESS ( ketinggian keluhuran) yang mulia. A’la dan Karim. Pandai bersujud. Semua bersujud pada Allah, selanjutnya apakah kita mau merukuk dan bersujud. Jika iya maka pada proses tersebut kita berikan Totality  (pasrah, salam, total). Bukan  hanya madhep ngarep tapi juga lihat kanan dan kiri.

Antara Merah dan Biru, semua ada dalam diri manusia. Ada api dan ada potensi cahaya. Ada potensi pembangkangan dan juga ada kepasrahan. Semuanya ada sehingga harus sebisa mungkin terkenali dan terkelola. Fire and Light telah bekerjasama dengan cukup baik dalam diri kita sebagaimana tergambar dalam jaringan arteri dan vena. Ada fungsi membuka jalan dan ada fungsi mengembalikan kepada fitrah. Antara Api dan Cahaya jangan keliru memandangnya. Api adalah penghantar agar seseorang mampu menampilkan tarian cintanya dalam kehidupan. Keduanya (merah-biru, api-cahaya, ahsani taqwim-asfala safilin, naar-nur, neraka-surga, nafsu-akal) selalu ada, harus ada, dan bekerja secara balance sebagaimana perannya. Dengan kesemuanya ini semoga kita menjadi manusia yang makin teredukasi. Tidak hanya mengenal hal indah, tetapi juga menemukan keindahan pada hal yang tidak nampak indah. Semoga persambungan kita menjadi lebih erat terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

WIDYA DESA
– Murid Mencari Guru –

Ada momentum dimana seseorang akan ‘mengalami’. Maka dari yang ia alami tersebut jadilah pengalaman. Dari pengalaman itu terjadilah ilmu. Pada sekumpulan ilmu terjadilah pengetahuan. Pengetahuan baru semakin menjadi kelengkapan data untuk diterapkan. Penerapan pengetahuan menjadi pengalaman. Pengalaman menjadi ilmu. Terus seperti itu. Setiap penerapan ilmu menjadi data baru sehingga ia kembali menjadi pengetahuan secara lebih kaya dari sebelumnya. Kekayaan itu menjadi kekayaan pengetahuan.

 

Kekayaan pengetahuan dikumpulkan dari sekian ilmu dari sebanyak-banyak pihak yang bergotong-royong membangun pengetahuan. Setiap individu yang berpengetahuan akan merasa perlu menyumbangkan pengetahuannya yang berasal dari persentuhan diri pada pengalaman. Individu yang berpengetahuan merasa perlu memiliki pendamping atau mitra yang sama-sama berpengetahuan. Oleh sebab demikian orang yang memiliki pengetahuan membutuhkan oranglain yang sama-sama mengetahui untuk menegaskan bahwa dirinya tidak sendirian.

 

Jika kemudian individu ini menggumpal menjadi masyarakat, maka terciptalah masyarakat berpengetahuan dan terus belajar bersama dengan aplikasi dan kreatifitas agar ilmunya teraplikasi dan pengetahuannya semakin luas. Pengetahuan seperti penampang sedangkan ilmu seperti tiang pancang. Tanda-tanda masyarakat berilmu adalah sikap utamanya saling membantu, melengkapi, dan menambal kebocoran pada himpunan yang ia singgahi.

 

Jika, individu saja menghendaki mitra atau pendamping yang sama-sama berpengetahuan, maka demikian pula masyarakat yang berpengetahuan. Mereka akan mencoba melakukan perluasan dan membangun ikatan kepada masyarakat lain yang memiliki corak dominan memperhatikan dan merawat pengetahuan. Masyarakat yang lebih berpengetahuan akan mengajarkan kepada masyarakat lain.

 

  1. Masyarakat jasad akan membangun singgahan jasadiah
  2. Masyarakat ideologi akan membangun ruang idealis
  3. Masyarakat spirit akan membangun mutu/ bobot spiritualitas.

 

Masyarakat berpengetahuan juga memiliki kesadaran penangkaran atau pembenihan. Sepak terjangnya memiliki mental bawah sadar untuk mendukung sustainabilitas ilmu pengetahuan yang menjadi aset masyarakatnya agar tetap survive. Agar ilmu tidak punah disamping setiap bertambahnya masa diasumsikan sumberdaya makin kaya. Sehingga pembangunan tidak hanya sepotong dari tiga unsur manusia, melainkan membangun secara lebih utuh ranah-ranah kemanusiaan primer (jawad, jiwa, ruh). Maka bukan hanya berkutat pada kemegahan jasad, tak pula pada euforia ideologi, ataupun tingkah polah spirit yang simbolis.

 

Setiap terkumpulnya sebongkah ilmu pengetahuan dari masyarakat akan menghadirkan pengertian baru. Didapatlah kesabaran, kebijaksanaan, keadilan, demikian rumus pada setiap pemanunggalan.

SALAM

Alhamdulilah, akhir tahun 2019 Majlis Gugur Gunung telah Tancep Kayon. Deretan List tentang tema besar Laku Kasantikan telah terbundeli. Guyub dan Rukun adalah salah dua diantaranya, sekaligus menjadi syarat dan tengara bahwa Majlis Gugur Gunung layak untuk Bedhol Kayon, kemudian segera membuka gelaran tema sinau bareng pada rentang 2020.

 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

SALAM, merupakan tema pertama yang diangkat untuk mengawali gelaran sinau bareng Majlis Gugur Gunung pada 2020 ini. Sekaligus sebagai bangunan adab untuk mengawali sesuatu, menyampaikan salam kepada segala apa atau siapa, kepada yang telah maupun yang akan bersentuhan ataupun singgah dalam Keluwarga Gugurgunung.

 

Untuk mengantarkan Tema ini dalam gelaran sinau bareng, sedikitnya telah disusun 10 pertanyaan yang berkaitan dengan “Salam”, antara lain :

 

  1. Apakah arti salam?
  2. Apakah kehidupan alam bisa menjadi contoh salam?
  3. Apa yang menjadi kelebihan mekanisme salam?
  4. Apa yang menjadi ancaman atau pelemahannya?
  5. Apakah salam bisa diwujudkan jd perilaku baku?
  6. Apakah ada hirarki dalam mekanisme salam?
  7. Jika ada apa contoh atau modelnya?
  8. Kapankah dan dimana salam diberlakukan?
  9. Kepada siapa salam disampaikan?
  10. Bagaimana jika salam tidak bersambut?

 

Apakah arti Salam ?

Salam merupakan salah satu akar kata dari 3 akar kata “Islam”. Atau,

secara lughawi atau etimologis, kata “Islam” berasal dari tiga akar kata, yaitu:

 

a. Aslama, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT.

 

b. Salam, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup. Dengan berpegang teguh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka jiwa atau ruh menjadi damai (tentram).

 

c. Salamah, yakni menempuh jalan yang selamat. Mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT agar mencpai keselamatan di dunia dan di akhirat serta terbebas dari kesengsaraan/bencana abadi (di dunia dan akhirat). Melaksanakan kewajiban dan kebajikan serta menghindari segala yang dilarang oleh Allah SWT adalah jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

 

Berdasarkan akar kata “Islam” tersebut,  maka siapa saja yang meyakini dan mengamalkan aslama, salam, dan salamah sapat disebut beragama Islam. Atas dasar kata itu pula, maka semua  Nabi membawa prinsip ajaran yang sama, yakni Islam (sekalipun mungkin namanya bukan Islam, karena antara lain perbedaan bahasa para Nabi, tapi esensinya sama yaitu Islam).

 

Adapun yang berpendapat bahwa makna dari Islam yaitu :

 

a. Al Islam Al Wajh (Menundukkan Wajah)

Islam menghendaki umatnya untuk menundukkan wajah dan dirinya kepada Allah swt. Ketundukkan itu harus dibuktikan dalam amalan berupa kebaikan yang sesuai dengan aqidah yang lurus.

 

b. Al Istislam (Berserah Diri)

Islam merupakan sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt dalam menghamba dan menjalankan perintah-Nya. Seluruh  makhluk yang ada di bumi dan langit patuh atas petunjuk-Nya.

 

“Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran : 83)

 

c. As Salam (Keselamatan)

Islam juga bermakna selamat dan sejahtera. Keselamatan adalah ciri mereka memeluk Islam, yang berarti bahwa mereka diselamatkan dari jalan yang gelap gulita ke jalan yang penuh cahaya kebenaran.

 

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am : 54)

 

d. As Salamah (suci bersih)

Islam adalah agama yang suci  dan bersih. Begitu pula yang dikehendaki dari umat Islam, yaitu suci dan bersih baik secara fisik maupun ruhaniyah.

“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, “ (QS. As Syu’ara : 89)

 

e. As Silmi (perdamaian)

Islam selalu tampil menebarkan cahaya bagi perdamaian seluruh umat manusia. Dengan datangnya Islam menjadikan hati menjadi tenang dan tentram.

 

Selanjutnya, kusampaikan salam jabat eratku bagi kesemua wahai, untuk melingkar dan bareng bareng sinau, mendiskusikan tentang 9 (sembilan) pertanyaan lainnya. Semoga implentasi Salam pada kehidupan menuju pada peningkatan yang menjulang dan mendalam justru dengan merunduk memahami arti kerendahan dan kedangkalan.

“Tancep Kayon” Majlis Gugurgunung 2019
Laku Kasantikan

Setelah bulan lalu majlis gugurgunung libur sinau bareng dikarenakan membersamai kegiatan “jegur sawah” di Jepara. Sekarang bertepatan dengan bulan Desember bulan penutup dalam satu tahun yang bertepatan juga dengan “Tancep Kayon” yang digelar oleh majlis gugurgunung. “Tancep Kayon” menjadi momentum mengevaluasi langkah serta memutuskan apakah pada tahun depan perlu di mulai lagi (bedhol kayon) atau berhenti. Salah satu indikator dalam pengambilan keputusan adalah apakah majlis gugurgunung memberi manfaat pada yang lain atau tidak. Pada tanggal 28 Desember 2018 “Tancep Kayon” diselenggarakan di “Bina Lingkungan Congol”. Sebelum acara sinau bareng dimulai pada siang hari sedulur-sedulur majlis gugurgunung mempersiapkan tempat terselenggaranya acara tersebut. Sekitar pada pukul 16.00 WIB Mas Agus mengajak sedulur sedulur untuk berziarah ke makam Mbah Benowo dan Mbah Basyaruddin yang berada dalam satu kompleks pemakaman. Ziarah ini sudah menjadi satu tradisi paket Tancep Kayon sejak diadakan pertama kali.

 

“Tancep Kayon” kali ini dirawuhi oleh Gus Anik dan Pak Budi Maryono yang menjadi narasumbernya. Malam yang khidmat dengan menunjukan pukul 21.30 acara dimulai oleh Mas Kasno yang memberikann sedikit penjelasan tentang tema yang diangkat yaitu Laku Kasantikan. Konsep “Tancep Kayon” sebenarnya sederhana tapi tiba-tiba menjadi mewah karena kerawuhan sedulur sedulur yang ikut melingkar bersama.”Tancep Kayon” dimulai dengan bacaan basmalah yang dipimpin oleh Mas Kasno sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan tawasul dan sholawat oleh team bala swarna. ”Tancep Kayon” kali ini selain mas Kasno, juga dimoderatori oleh Mas Dian yang sedikit memberi arti bahwa laku kasantikan diawali dengan rekasa (susah) dulu, sebagai contoh orang tua yang mencari rejeki untuk keluarganya itu termasuk laku kasantikan. Mas Dian juga membagi para sedulur menjadi 4 kelompok supaya mudah ketika memberikan respon/pertanyaan. Sebelum ke pertanyaan/respon para sedulur Mas Azam terlebih dulu memberikan opini tentang laku kasantikan yaitu orang yang melakukan/menjalani sesuatu yang sudah dilakukan dengan indah melalui proses. Semua laku tidak mudah pasti ada proses dan pengorbanan. Jadilah diri sendiri, cari sejati diri. Mas Kasno juga memberikan opininya laku kasantikan secara universal yang bisa diterima oleh siapapun misal (rindu, riang gembira dst).

Pukul 10.45 Mas Fidoh perform yang dilanjutkan Mas Azam nyanyi Lir ilir. Mas Agus juga ikut andil dalam beropini tentang laku kasantikan yang mana laku kasantikan dilanjutkan karna belum matang mempelajari kasantikan. Menurut Mas Sabrang dan Mbah Nun maiyah itu “prasasat koyo unta” yang pandai cari mata air, menyimpan air dan bisa bermanfaat untuk yang lain. Dahulu ketika jaman Nabi Muhammad hijrah banyak umat Islam yang menawarkan kediaman untuk singgah Rasulullah, tetapi Nabi Muhammad memilih ikut berhentinya unta karena unta yang mempunyai kepekaan dalam hal menemukan sumber air dengan nalurinya. Dalam bahasa Arab, unta disebut Jamal (cantik). Laku kasantikan = laku unta; karena bukan figur unta yang dinilai cantik tapi fungsi unta tersebut yang bisa mencari, menyimpan air dan bermanfaat untuk yang lain. Tak ubahnya kita, ketika kita tidak dapat mencari, menyimpan kebeningan, kesejukan yang bermanfaat bagi yang lain maka bisa dikatakan kita disfungsi. Terminologi kecantikan tidak disematkan pada fisik cantik tapi pada fungsi cantik. ”Tancep Kayon” evaluasi selama setahun menjadikan kita cantik/buruk. Bentuk laku kasantikan 2019 merupakan lanjutan dari laku kasantikan 2018 yang mengandung penegasan banyak hal. Cantik = bentuk syukur yang dikonversi dalam kemanfaatan yang dilapangkan. Cantik juga memiliki kandungan yang sama dengan sakti dan bisa juga untuk merugikan orang lain karena Cantik bisa menembus ruang paling dalam seseorang. Kita bisa membuat bahagia dengan kebermanfaatan kita, minimal bisa melihat orang lain bahagia dan kita juga ikut bahagia. Seperti tenis meja; permainan ini merupakan simbol sufistik yang mengajarkan pada kita jika mendapat sesuatu secara lincah segera diberikan kepada orang lain. Laku kasantikan dalam menang atau kalah bisa seperti memimpin diri sendiri agar makin cepat menemukan fitrah. Semakin baik fitrahnya terpelihara akan mengembalikan keberadaan dirinya sebagai insan yang menggembirakan. Semisal seperti bayi yang mana ia masih dalam keadaan fitrah. Keberadaannya tidak mengancam orang lain tapi justru memberi ketenangan bahkan kesenangan pada orang lain, itulah tampilan menang yang cantik. Setelah Mas Agus cukup memberikan beberapa opininya tentang laku kasantikan dilanjutkan dengan respon para sedulur yang melingkar. Respon pertama berupa pertanyaan yang ditanyakan oleh Mas Rahmat yaitu laku kasantikan yang menurut kita itu sudah benar menurut kita tapi menurut orang lain belum benar dan bagaimana laku kasantikan di jalan yang lurus?

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Gus Anik, ada beberapa segmen kehidupan yang mempunyai 2 modal (hikmah dan kalimah). Hikmah adalah rumusan konsep kehidupan dan kalimah adalah membawa rumusan konsep kehidupan. Memaknai laku para nabi contohnya nabi Sulaiman, hikmah rohmaniah (surat sakti bismilahirahmanirohhim). Ada tiga aktor intelektual dalam kejadian tersebut yaitu nabi Sulaiman, ratu Bilqis, dan burung Hud-hud. Hud-hud di mata Nabi Sulaiman adalah binatang malas karena terus-terusan pacaran dengan markalah. Sedangkan menurut Markalah, Hud-hud tidak pernah ada waktu untuk dirinya. Untuk membuktikan loyalitas Hud-hud kepada Nabi Sulaiman dan Markalah, dia pergi dan menemukan kerajaan Ratu Bilqis kemudian dia mengintipnya. Hud-hud heran kenapa Ratu Bilqis kok menyembah matahari. Hud-hud yang sedang mengintai dari atas pohon tiba-tiba di dekati oleh Haida dan terjadi komunikasi antara kaduanya. Kemudian hud-hud kembali ke kerajaan Nabi Sulaiman bercerita tentang Bilqis tersebut, dan kemudian Nabi Sulaiman mengirim surat kepada Bilqis tersebut yang berisi bismilahirahmanirahim dan sudah diterima dan dibaca oleh Ratu Bilqis.

 

Dalam peristiwa tersebut ada 3 aktor yang mempunyai kecerdasan organik yaitu Nabi Sulaiman yang memiliki pola menyampaikan, burung Hud-hud intelejen dan Ratu Bilqis memiliki pola menerima. Kode laku kasantikan bagaimana gunung ditegakkan langit ditinggikan dan bumi dihamparkan itu cara bagaimana kita memperlakukan langit dan bumi. Alasan kenapa binatang dijadikan hikmah karena manusia punya mitra dengan hewan dan mencintai hewan bisa mendapatkan hikmah. Laku manusia tidak berpotensi mencederai sesama mahluk karena ada potensi cinta dan rohman. Perbarui kecantikan kita ketika orang lain belum menganggap cantik (terus berbuat baik).

 

Pak Budi juga membagikan sedikit pengalamanya ketika berencana ke Semak taddaburan di Kudus, “saya tidak ada kendaraan kemudian saya putuskan untuk menunda acara semak tadaburan bulan depan, tetapi sekitar jam 17.00 saya dikabari sudah mendapat jemputan grab ke Kudus. Ketika apa yang ditetapkan dan kita menerima merupakan laku kasantikan.”

Acara diselingi oleh perform dari Mas yoga pada pukul 12.45. Setelah perform tersebut moderator meminta kepada sedulur sedulur untuk memberi respon atau bertanya, dan mas Shohib bertanya tentang lebih dulu mana mencari Tuhan atau mencari jati diri dan tanda ditemukanya jati diri dan Tuhannya bagaimana? Pertanyaan tersebut di tanggapi oleh Pak Budi bahwa ukuran baik adalah menurut norma yang berlaku, kita mengikuti norma dan ukuran norma. Norma agama yang akhlaknya baik itu sudah termasuk cantik. Ada kesepakatan secara umum itu baik contohnya senyum dan kita juga punya kecenderungan baik. Kemudian Gus Anik juga merespon bahwa makrifat diawali sikap mempertanyakan. Contohnya Nabi Ibrahim yang melihat bintang, melihat langit dan ia heran siapa yang menciptakan dan ia juga berfikir setelah yakin siapa Tuhannya dia mengalahkan orang-orang yang tidak menyembah Tuhannya dengan cara merusak patung sesembahan. Kemudian setelah tahu siapa yang merusak Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup tapi tidak mati. Allah mempunyai sifat rahman dan kita hanya dititipi sifat rahman. Gus Anik juga menyampaikan bahwa kitab Taurat sudah mengenal angka-angka makanya orang Yahudi dianggap modern/canggih karena angka-angkanya. Kemudian pertanyaan terahir dari Mas Rian ilmu kasepuhan ada korelasi dengan laku kasantikan dan bagaimana cara menularkan ke generasi kanoman?

Direspon oleh Mas Agus bahwa tujuan utama memiliki kesaktian untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Jika perhiasan mayornya hanya untuk pamer malah tidak punya guna tapi jika untuk menghamba dan tidak mengancam orang lain itu bagus sebab masih terletak pada tempatnya. Ilmu tersebut untuk “berdiri”(menegaskan peran diri) tapi apakah peran tersebut untuk menggapai sampai salam atau sekadar untuk jumawa dalam kehidupan? Telah dianjurkan kepada manusia untuk mengemban pilar-pilar waktu untuk menyempaikan salam supaya tidak menjadi orang yang mengancam. Ilmu cantik yang perlu dipertahankan adalah ilmu salam.

 

Setelah terjadi pasinaon bareng, sudah waktunya untuk memuncaki acara. Pak Budi Maryono berpuisi dan pemberian kenang-kenangan berupa buku dan kalender kepada para narasumber dan beberapa penanya. Acara pada malam tersebut ditutup dengan talaman atau makan bersama sebagai bentuk rasa syukur.

 

Demikian reportase yang dapat saya buat semoga kita bisa tetap menjadi keluarga yang saling berguna dan semoga reportase ini bermanfaat.

 

CAHYA_MGG

Laku Kasantikan 2019

Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2019
”LAKU KASANTIKAN”

Laku Kasantikan 2019

Laku Kasantikan 2019

Laku Kasantikan Keluwarga Gugurgunung sebelumnya dilambari dengan sebuah Work Shop kecil yang mengulas tentang “Panyondro”, yaitu salah satu ilmu warisan leluhur yang didalamnya mengkaji tentang potensi diri yang dibagi menjadi 3 peran berdasarkan tanggal lahir penanggalan “Bulan”. Tiga peran tersebut adalah Peran Teknik yang mengoptimalkan tenaga, Peran Ide/Gagasan yang mengoptimalkan fikiran, dan Peran Spiritual. Tiga buah peran penting yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dalam bangunan adab. Tujuan dari Ilmu Panyondro ini antara lain, masing masing personal keluwarga gugurgunung hendaknya lebih memahami peran dominan apa yang ada pada dirinya, untuk kemudian mau dan mampu mencari pasangan berupa peran peran lainnya dalam adab sesrawungan. Diharapkan tiap tiap lingkaran sesrawungan tersebut yaitu bertemunya masing masing peran, membentuk lingkaran yang mencahaya/lingkaran yang “Purnama”.

 

Laku Kasantikan merupakan laku perjalanan keluwarga gugurgunung dengan niat langkah memperkaya kecantikan. Laku Kasantikan ini kemudian pada awal 2018 kemarin disepakati sebagai tema besar sinau bareng Majlis Gugurgunung. Secara alamiah, tema besar ini ternyata harus menggelindhing selama dua tahun atau dua kali Tancep Kayon. Tadaburnya terhadap fenomena tersebut, mungkin karena manusia setidaknya terdiri dari irisan raga dan jiwa, maka kecantikan yang perlu diperkaya setidaknya adalah kecantikan raga dan jiwa. Kemungkinan lain, apabila manusia  ternyata terdiri dari irisan raga, jiwa, dan sukma, bisa jadi Laku Kasantikan ini akan menjadi tema besar Majlis Gugurgunung selama tiga tahun. Dan seterusnya dengan berbagai kemungkinan kemungkinan lainnya.  Wallahu ‘alam

 

Laku Kasantikan 2018 Majlis Gugurgunung telah membuat pijakan pijakan berupa sub sub tema pada setiap bulannya, diantaranya :

– Malikinnas Ilahinnas

– Sinau Mulat

– Sambung Rohso

– Manajemen Bhinneka Tunggal Ika

– Dolanan ing Njaba

– Mencari Dewan Sepuh

– Paseban Muharram

– Nyuwun Jawah

– Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW

– dan lahirnya beberapa rintisan bidang usaha

 

Laku Kasantikan 2019 Majlis Gugurgunung juga kian membangun pijakan pijakan selanjutnya,  antara lain :

– Sengkud

– Sulit tapi Solid

– Kepawangan

– Tresno Wong Tuwo

– Mengarifi Jebakan

– Masyarakat Lebah Memadu

– Tajdiidu-n-niyaat :

   – Laras

   – Padhang Pranatan

   – Wungu

 

Sebuah laku yang ternyata tidak ringan, dalam perjalanannya ternyata Majlis  gugurgunung belum mampu bedhol kayon sampai pada bergulirnya 4 tema di tahun berikutnya, tepatnya tema “Mengarifi Jebakan” pada bulan Mei 2019. Sebuah tengara bahwa Majlis Gugurgunung mengalami proses berhenti tumbuh, berhenti berkembang, dan sepakat untuk Dorman.

 

Magical Momentun

Tahaduts bin-ni’mah, merupakan dhawuh dari Mbah Nun yang berisi beberapa  point, antara lain :

  • Kemesraan bumi dengan silaturrahmi surga
  • Ujian Tauhid
  • Syukur

Yang kemudian Majlis gugurgunung merespon dhawuh tersebut berupa sebuah tulisan dengan judul “Peradaban Robbun Ghafur”. Selanjutnya tulisan tersebut dijadikan mukadimah pada sinau bareng dengan tema “Masyarakat Lebah Memadu”. Tema yang Alhamdulilah dibersamai Mas Sabrang. Sekaligus tema yang menemani Majlis Gugurgunung menjalani masa dorman, masa intropeksi diri, masa perenungan, dan sebagainya.

Magical moment selnjutnya adalah :

Tajdiidu–n–niyaat

(Pembaharuan Niat)

Merupakan dhawuh dari Mbah Nun ke pada seluruh simpul Maiyah, untuk mengangkat hal tersebut menjadi tema besar pada rutinan  tiap tiap simpul pada bulan Agustus 2019.

Pijakan tema besar tersebut salah satunya adalah Tajuk yang dirilis oleh Yai Toto Raharjo; Kembali ke Spirit. Mentadaburi Surat Al – Qoshos ayat 77; Walaa tansa nashiibaka mina-d- dunyaa, bahwa perjuangan manusia sesungguhnya adalah menemukan jati dirinya, siapa dirinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pijakan lain berupa panduan dari Mbah Nun mengenai “Jam’iyah Pengusaha Sorga”. Serta  4 Tajuk dari Mbah Nun, (1.Ihtimal; 2. Empat  Amniyat Bergembira dan Menikmati; 3. Air Kawah di Akhir Zaman; 4. Yang Percaya, Percayalah. Yang Ingkar, Ingkarlah). Yang garis besarnya adalah tentang “Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana/Kuasa”.

Bedhol Kayon

Tajdiidu-n-niyaat mempunyai galih yang sama dengan “Panyondro”, sebuah lambaran niat yang diperuntukkan untuk Laku Kasantikan. Untuk itu, saatnya majlis gugurgunung bangun dari masa dorman. Kembali me-remind beberapa proses sinau bareng gugurgunungan yang secara alamiah selaras dengan beberapa dhawuh tersebut. Kemudian segera melanjutkan rakaat-rakaat selanjutnya. Dan Majlis Gugurgunung menyepakati untuk “Bedhol Kayon”. Melanjutkan Laku Kasantikan dengan pijakan Magical moment tersebut, dengan menggelar tema antara lain :

 

LARAS, tema yang membahas tentang :

  • Mengingat kembali amanat utama dan gol utama dalam hidup dengan merunut jauh peradaban demi peradaban sejak sebelum era risalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW hingga terus di ujung mula peradaban Nabi Adam AS.
  • Keluwarga Majlis gugurgunung mencoba membuat penegasan bahwa hidup di dunia ini sangat komplek dan serius, dan kehadiran para utusan itu untuk membuat yang komplek tersebut menjadi tertata dan membenderangi keadaan.
  • Betapa perlunya menyambungkan diri secara LARAS posisi diri kita sekarang dengan sejarah panjang dan serius alasan kita diciptakan.

PADHANG PRANATAN, tema yang membahas tentang :

  • Mengupas makna Negeri, sebuah kawasan nilai yang dipenduduki oleh manusia manusia yang menjaga nilai.
  • Memahami tugas dan peran yang perlu dirintis, dijalankan, dan dibangun dengan semangat menggapai suatu penataan yang berpendar cahaya rahmat Allah SWT.
  • Tadabur QS. Al Balad, untuk menemukan jawaban jawaban tentang Rahmatan Lil Bilad, serta rumusan rumusan menuju kembali pada Al Balad Al Amin.

 

WUNGU, tema yang membahas tentang :

  • “Ngambrukke roso wegah, Nungkulke roso pasrah, numungkul kanthi lilah”.
    “Merubuhkan rasa malas, menundukkan rasa pasrah, menunduk dengan lilah”
  • Pengembaraan diri melalui “Diri yang‘Ain atau Kifayah”
  • Selimut bagi Jiwa, Raga, dan Sukma
  • Wirid Akhir Zaman sebagai Convetter.

 

Pilihan 3 Daur (1. Revolusi Sosial, 2. Revolusi Kultural, 3. Revolusi Spiritual)

Seusai menggelar 3 tema pada 3 workshop, Alhamdulilah Majlis Gugurgunung juga telah menyampaikan pilihan sikap atas pilihan 3 Daur, demikian :

 

Sanubari pergerakan gugurgunung sejak dirintis hingga saat ini adalah yang ke dua, yakni :

  1. Revolusi Kultural

Thariqat             : Pendewasaan dan perluasan sinau bareng

Pelaku Utama : Masyarakat Maiyah

– Makrifat           : Pembaharuan mental dan kejiwaan masyarakat dan bangsa. Ketangguhan di dalam sistem negara apapun.

– Bisyaroh            : Waktu

Model rintisan DAUR yang secara ciri sudah pada DAUR kedua, tetap mengiringi perjalanannya dengan DAUR ketiga : Revolusi Spiritual. Harapannya, jika sudah tersusun kondisi masyarakat Maiyah yang secara Kultural dan Spiritual merasuk ke aspek Sosial sehari hari, lambat laun akan berevolusi pada skala yang lebih luas, dan dalam kehendakNya hal kecil dan sepele akan menjadi hal besar dan mahal.

 

Tancep Kayon

Tancep Kayon, sesungguhnya bisa diperistiwai menjadi sedih, namun juga peristiwa yang menggembirakan. Mengapa bisa diperistiwai secara sedih, sebab landasan utama menjalani Tancep Kayon sebenarnya bukan dalam rangka merayakan apapun, tetapi justru mengevaluasi diri, apakah kegiatan Majlis Gugurgunung selama setahun akan dilanjutkan atau tidak. Menilik pada apa yang sudah mampu diimplementasikan atau minimal ada atau tidak pertumbuhan. Apakah dengan adanya Majlis Gugurgunung mampu mempererat persaudaraan, atau malah justru terjadi perselisihan, baper-baperan, dll. Apakah kita mampu menikmati persaudaraan atau justru mencederai persaudaraan.

Namun kali ini, menilik dari fenomena yang terjadi pada kurun waktu 1 tahun perjalanan Laku Kasantikan yang ke dua ini, maka Tancep Kayon tahun ini kita peristiwai sebagai rasa syukur. Sebuah konsep acara yang sederhana, yang bermaksud mengajak keluwarga dalam hubungan Darah dan Daging, keluwarga dalam hubungan Udara dan Surya, keluwarga dalam hubungan Tanah dan Air, keluwarga dalam hubungan Bumi dan Langit, untuk melingkar bersama, mensyukuri segala karuniaNya.