SALAM

Alhamdulilah, akhir tahun 2019 Majlis Gugur Gunung telah Tancep Kayon. Deretan List tentang tema besar Laku Kasantikan telah terbundeli. Guyub dan Rukun adalah salah dua diantaranya, sekaligus menjadi syarat dan tengara bahwa Majlis Gugur Gunung layak untuk Bedhol Kayon, kemudian segera membuka gelaran tema sinau bareng pada rentang 2020.

 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

SALAM, merupakan tema pertama yang diangkat untuk mengawali gelaran sinau bareng Majlis Gugur Gunung pada 2020 ini. Sekaligus sebagai bangunan adab untuk mengawali sesuatu, menyampaikan salam kepada segala apa atau siapa, kepada yang telah maupun yang akan bersentuhan ataupun singgah dalam Keluwarga Gugurgunung.

 

Untuk mengantarkan Tema ini dalam gelaran sinau bareng, sedikitnya telah disusun 10 pertanyaan yang berkaitan dengan “Salam”, antara lain :

 

  1. Apakah arti salam?
  2. Apakah kehidupan alam bisa menjadi contoh salam?
  3. Apa yang menjadi kelebihan mekanisme salam?
  4. Apa yang menjadi ancaman atau pelemahannya?
  5. Apakah salam bisa diwujudkan jd perilaku baku?
  6. Apakah ada hirarki dalam mekanisme salam?
  7. Jika ada apa contoh atau modelnya?
  8. Kapankah dan dimana salam diberlakukan?
  9. Kepada siapa salam disampaikan?
  10. Bagaimana jika salam tidak bersambut?

 

Apakah arti Salam ?

Salam merupakan salah satu akar kata dari 3 akar kata “Islam”. Atau,

secara lughawi atau etimologis, kata “Islam” berasal dari tiga akar kata, yaitu:

 

a. Aslama, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT.

 

b. Salam, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup. Dengan berpegang teguh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka jiwa atau ruh menjadi damai (tentram).

 

c. Salamah, yakni menempuh jalan yang selamat. Mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT agar mencpai keselamatan di dunia dan di akhirat serta terbebas dari kesengsaraan/bencana abadi (di dunia dan akhirat). Melaksanakan kewajiban dan kebajikan serta menghindari segala yang dilarang oleh Allah SWT adalah jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

 

Berdasarkan akar kata “Islam” tersebut,  maka siapa saja yang meyakini dan mengamalkan aslama, salam, dan salamah sapat disebut beragama Islam. Atas dasar kata itu pula, maka semua  Nabi membawa prinsip ajaran yang sama, yakni Islam (sekalipun mungkin namanya bukan Islam, karena antara lain perbedaan bahasa para Nabi, tapi esensinya sama yaitu Islam).

 

Adapun yang berpendapat bahwa makna dari Islam yaitu :

 

a. Al Islam Al Wajh (Menundukkan Wajah)

Islam menghendaki umatnya untuk menundukkan wajah dan dirinya kepada Allah swt. Ketundukkan itu harus dibuktikan dalam amalan berupa kebaikan yang sesuai dengan aqidah yang lurus.

 

b. Al Istislam (Berserah Diri)

Islam merupakan sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt dalam menghamba dan menjalankan perintah-Nya. Seluruh  makhluk yang ada di bumi dan langit patuh atas petunjuk-Nya.

 

“Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran : 83)

 

c. As Salam (Keselamatan)

Islam juga bermakna selamat dan sejahtera. Keselamatan adalah ciri mereka memeluk Islam, yang berarti bahwa mereka diselamatkan dari jalan yang gelap gulita ke jalan yang penuh cahaya kebenaran.

 

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am : 54)

 

d. As Salamah (suci bersih)

Islam adalah agama yang suci  dan bersih. Begitu pula yang dikehendaki dari umat Islam, yaitu suci dan bersih baik secara fisik maupun ruhaniyah.

“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, “ (QS. As Syu’ara : 89)

 

e. As Silmi (perdamaian)

Islam selalu tampil menebarkan cahaya bagi perdamaian seluruh umat manusia. Dengan datangnya Islam menjadikan hati menjadi tenang dan tentram.

 

Selanjutnya, kusampaikan salam jabat eratku bagi kesemua wahai, untuk melingkar dan bareng bareng sinau, mendiskusikan tentang 9 (sembilan) pertanyaan lainnya. Semoga implentasi Salam pada kehidupan menuju pada peningkatan yang menjulang dan mendalam justru dengan merunduk memahami arti kerendahan dan kedangkalan.

Laku Kasantikan 2019

Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2019
”LAKU KASANTIKAN”

Laku Kasantikan 2019

Laku Kasantikan 2019

Laku Kasantikan Keluwarga Gugurgunung sebelumnya dilambari dengan sebuah Work Shop kecil yang mengulas tentang “Panyondro”, yaitu salah satu ilmu warisan leluhur yang didalamnya mengkaji tentang potensi diri yang dibagi menjadi 3 peran berdasarkan tanggal lahir penanggalan “Bulan”. Tiga peran tersebut adalah Peran Teknik yang mengoptimalkan tenaga, Peran Ide/Gagasan yang mengoptimalkan fikiran, dan Peran Spiritual. Tiga buah peran penting yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dalam bangunan adab. Tujuan dari Ilmu Panyondro ini antara lain, masing masing personal keluwarga gugurgunung hendaknya lebih memahami peran dominan apa yang ada pada dirinya, untuk kemudian mau dan mampu mencari pasangan berupa peran peran lainnya dalam adab sesrawungan. Diharapkan tiap tiap lingkaran sesrawungan tersebut yaitu bertemunya masing masing peran, membentuk lingkaran yang mencahaya/lingkaran yang “Purnama”.

 

Laku Kasantikan merupakan laku perjalanan keluwarga gugurgunung dengan niat langkah memperkaya kecantikan. Laku Kasantikan ini kemudian pada awal 2018 kemarin disepakati sebagai tema besar sinau bareng Majlis Gugurgunung. Secara alamiah, tema besar ini ternyata harus menggelindhing selama dua tahun atau dua kali Tancep Kayon. Tadaburnya terhadap fenomena tersebut, mungkin karena manusia setidaknya terdiri dari irisan raga dan jiwa, maka kecantikan yang perlu diperkaya setidaknya adalah kecantikan raga dan jiwa. Kemungkinan lain, apabila manusia  ternyata terdiri dari irisan raga, jiwa, dan sukma, bisa jadi Laku Kasantikan ini akan menjadi tema besar Majlis Gugurgunung selama tiga tahun. Dan seterusnya dengan berbagai kemungkinan kemungkinan lainnya.  Wallahu ‘alam

 

Laku Kasantikan 2018 Majlis Gugurgunung telah membuat pijakan pijakan berupa sub sub tema pada setiap bulannya, diantaranya :

– Malikinnas Ilahinnas

– Sinau Mulat

– Sambung Rohso

– Manajemen Bhinneka Tunggal Ika

– Dolanan ing Njaba

– Mencari Dewan Sepuh

– Paseban Muharram

– Nyuwun Jawah

– Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW

– dan lahirnya beberapa rintisan bidang usaha

 

Laku Kasantikan 2019 Majlis Gugurgunung juga kian membangun pijakan pijakan selanjutnya,  antara lain :

– Sengkud

– Sulit tapi Solid

– Kepawangan

– Tresno Wong Tuwo

– Mengarifi Jebakan

– Masyarakat Lebah Memadu

– Tajdiidu-n-niyaat :

   – Laras

   – Padhang Pranatan

   – Wungu

 

Sebuah laku yang ternyata tidak ringan, dalam perjalanannya ternyata Majlis  gugurgunung belum mampu bedhol kayon sampai pada bergulirnya 4 tema di tahun berikutnya, tepatnya tema “Mengarifi Jebakan” pada bulan Mei 2019. Sebuah tengara bahwa Majlis Gugurgunung mengalami proses berhenti tumbuh, berhenti berkembang, dan sepakat untuk Dorman.

 

Magical Momentun

Tahaduts bin-ni’mah, merupakan dhawuh dari Mbah Nun yang berisi beberapa  point, antara lain :

  • Kemesraan bumi dengan silaturrahmi surga
  • Ujian Tauhid
  • Syukur

Yang kemudian Majlis gugurgunung merespon dhawuh tersebut berupa sebuah tulisan dengan judul “Peradaban Robbun Ghafur”. Selanjutnya tulisan tersebut dijadikan mukadimah pada sinau bareng dengan tema “Masyarakat Lebah Memadu”. Tema yang Alhamdulilah dibersamai Mas Sabrang. Sekaligus tema yang menemani Majlis Gugurgunung menjalani masa dorman, masa intropeksi diri, masa perenungan, dan sebagainya.

Magical moment selnjutnya adalah :

Tajdiidu–n–niyaat

(Pembaharuan Niat)

Merupakan dhawuh dari Mbah Nun ke pada seluruh simpul Maiyah, untuk mengangkat hal tersebut menjadi tema besar pada rutinan  tiap tiap simpul pada bulan Agustus 2019.

Pijakan tema besar tersebut salah satunya adalah Tajuk yang dirilis oleh Yai Toto Raharjo; Kembali ke Spirit. Mentadaburi Surat Al – Qoshos ayat 77; Walaa tansa nashiibaka mina-d- dunyaa, bahwa perjuangan manusia sesungguhnya adalah menemukan jati dirinya, siapa dirinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pijakan lain berupa panduan dari Mbah Nun mengenai “Jam’iyah Pengusaha Sorga”. Serta  4 Tajuk dari Mbah Nun, (1.Ihtimal; 2. Empat  Amniyat Bergembira dan Menikmati; 3. Air Kawah di Akhir Zaman; 4. Yang Percaya, Percayalah. Yang Ingkar, Ingkarlah). Yang garis besarnya adalah tentang “Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana/Kuasa”.

Bedhol Kayon

Tajdiidu-n-niyaat mempunyai galih yang sama dengan “Panyondro”, sebuah lambaran niat yang diperuntukkan untuk Laku Kasantikan. Untuk itu, saatnya majlis gugurgunung bangun dari masa dorman. Kembali me-remind beberapa proses sinau bareng gugurgunungan yang secara alamiah selaras dengan beberapa dhawuh tersebut. Kemudian segera melanjutkan rakaat-rakaat selanjutnya. Dan Majlis Gugurgunung menyepakati untuk “Bedhol Kayon”. Melanjutkan Laku Kasantikan dengan pijakan Magical moment tersebut, dengan menggelar tema antara lain :

 

LARAS, tema yang membahas tentang :

  • Mengingat kembali amanat utama dan gol utama dalam hidup dengan merunut jauh peradaban demi peradaban sejak sebelum era risalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW hingga terus di ujung mula peradaban Nabi Adam AS.
  • Keluwarga Majlis gugurgunung mencoba membuat penegasan bahwa hidup di dunia ini sangat komplek dan serius, dan kehadiran para utusan itu untuk membuat yang komplek tersebut menjadi tertata dan membenderangi keadaan.
  • Betapa perlunya menyambungkan diri secara LARAS posisi diri kita sekarang dengan sejarah panjang dan serius alasan kita diciptakan.

PADHANG PRANATAN, tema yang membahas tentang :

  • Mengupas makna Negeri, sebuah kawasan nilai yang dipenduduki oleh manusia manusia yang menjaga nilai.
  • Memahami tugas dan peran yang perlu dirintis, dijalankan, dan dibangun dengan semangat menggapai suatu penataan yang berpendar cahaya rahmat Allah SWT.
  • Tadabur QS. Al Balad, untuk menemukan jawaban jawaban tentang Rahmatan Lil Bilad, serta rumusan rumusan menuju kembali pada Al Balad Al Amin.

 

WUNGU, tema yang membahas tentang :

  • “Ngambrukke roso wegah, Nungkulke roso pasrah, numungkul kanthi lilah”.
    “Merubuhkan rasa malas, menundukkan rasa pasrah, menunduk dengan lilah”
  • Pengembaraan diri melalui “Diri yang‘Ain atau Kifayah”
  • Selimut bagi Jiwa, Raga, dan Sukma
  • Wirid Akhir Zaman sebagai Convetter.

 

Pilihan 3 Daur (1. Revolusi Sosial, 2. Revolusi Kultural, 3. Revolusi Spiritual)

Seusai menggelar 3 tema pada 3 workshop, Alhamdulilah Majlis Gugurgunung juga telah menyampaikan pilihan sikap atas pilihan 3 Daur, demikian :

 

Sanubari pergerakan gugurgunung sejak dirintis hingga saat ini adalah yang ke dua, yakni :

  1. Revolusi Kultural

Thariqat             : Pendewasaan dan perluasan sinau bareng

Pelaku Utama : Masyarakat Maiyah

– Makrifat           : Pembaharuan mental dan kejiwaan masyarakat dan bangsa. Ketangguhan di dalam sistem negara apapun.

– Bisyaroh            : Waktu

Model rintisan DAUR yang secara ciri sudah pada DAUR kedua, tetap mengiringi perjalanannya dengan DAUR ketiga : Revolusi Spiritual. Harapannya, jika sudah tersusun kondisi masyarakat Maiyah yang secara Kultural dan Spiritual merasuk ke aspek Sosial sehari hari, lambat laun akan berevolusi pada skala yang lebih luas, dan dalam kehendakNya hal kecil dan sepele akan menjadi hal besar dan mahal.

 

Tancep Kayon

Tancep Kayon, sesungguhnya bisa diperistiwai menjadi sedih, namun juga peristiwa yang menggembirakan. Mengapa bisa diperistiwai secara sedih, sebab landasan utama menjalani Tancep Kayon sebenarnya bukan dalam rangka merayakan apapun, tetapi justru mengevaluasi diri, apakah kegiatan Majlis Gugurgunung selama setahun akan dilanjutkan atau tidak. Menilik pada apa yang sudah mampu diimplementasikan atau minimal ada atau tidak pertumbuhan. Apakah dengan adanya Majlis Gugurgunung mampu mempererat persaudaraan, atau malah justru terjadi perselisihan, baper-baperan, dll. Apakah kita mampu menikmati persaudaraan atau justru mencederai persaudaraan.

Namun kali ini, menilik dari fenomena yang terjadi pada kurun waktu 1 tahun perjalanan Laku Kasantikan yang ke dua ini, maka Tancep Kayon tahun ini kita peristiwai sebagai rasa syukur. Sebuah konsep acara yang sederhana, yang bermaksud mengajak keluwarga dalam hubungan Darah dan Daging, keluwarga dalam hubungan Udara dan Surya, keluwarga dalam hubungan Tanah dan Air, keluwarga dalam hubungan Bumi dan Langit, untuk melingkar bersama, mensyukuri segala karuniaNya.

PADHANG PRANATAN

Kegiatan Majlis gugurgunung kali ini mengangkat tema yang berjudul “PADHANG PRANATAN”. Rutinan yang juga masih merupakan rentetan workshop ini menjadi edisi kedua, digelar pada 28 September 2019 bertempat di Musholla Darussalam, Lemahabang Kab.Semarang. Sebagai moderator oleh Mas Kasno dengan pengantarnya yang menjelaskan tentang kronologi awal munculnya tema ini. Ialah adanya fenomena dalam majlis gugurgunung yaitu fenomena tandur, kemudian mencoba ditaddaburi dengan surah Al-Balad. Kemudian tersambung dengan tulisan Mbah Nun juga bertema tentang Balad (negeri). Peradaban Kawi yang ada dalam surah Al-Balad, salah satunya ialah orang-orangnya senang berpantun dan berpuisi.

 

Usai Mas Kasno memberi sedikit kalimat pembuka tentang tema, lalu diteruskan dengan tawassul yang dipimpin oleh Mas Azam dan Sholawat yang dipimpin oleh Mas Ari. Sholawat selesai dilantunkan, langsung dibuka sesi tanya jawab untuk mengembangkan sayap diskusi. Penanya pertama yakni Mas Shohib. Mas Sokhib menanyakan tentang perumpamaan negeri dalam surah Al-Balad adalah negeri Mekkah, sebenarnya apa yang melatarbelakangi itu dan bagaimana gambaran kemakmurannya. Pertanyaan tersebut mendapat respon dari Mas Agus dengan menjelaskan dari keluarga sebagai piranti membangun suasana aman, dalam keluarga tersebut kita membutuhkan asupan “sembako” untuk jasad dan jiwa kita. Adapun sembako untuk jasad antara lain beras, minyak, telur, jagung, gula, minyak tanah, susu, garam, daging dll. Sedangkan untuk jiwa kita membutuhkan wiraga, wirasa, wirama, tetandur, tetulung, tetular, asah, asih dan asuh.

 

Wiraga masa dimana banyak bertingkah laku yang kemudian menjadi wirama yang tingkah laku tersebut berirama dan sudah bertanggung jawab ketika sudah berirama kita akan merasakan irama sehingga masuk dalam irama tersebut (wirasa). Kita juga diajari untuk tetandur (menanam) sebagai simbol untuk melanjutkan hidup karena kita hidup memang dijamin rezekinya oleh Allah swt tapi juga harus berusaha untuk bisa melanjutkan hidup, ketika tetandur ada panen bisa kita membagi sedikit hasil tandur dan tetulung (mengulurkan bantuan) kepada orang sekitar, setelah kita tetulung tersebut maka bisa tetular (berbagi) kepada yang lain untuk melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan.

Asah adalah tugas orang tua mengembangkan potensi anak yang disertai asih dengan memberi kasih sayang yang lebih maka akan terbentuk asuh yang akan terlatih pada suasana pengasuhan. Asah asih asuh akan berpengaruh sampai kita dewasa, bahkan harta berlimpahpun tidak bisa menggantikan nilai dari asah asih dan asuh itu sendiri.

 

 

Balad Al-Amin

 

Peradaban bisa disatukan dengan tawa dan tangis. Tawa dan tangis itu sebagai indikator Allah memberi adegan mempersatukan kita. Tugas seorang manusia ialah saling mengamankan satu sama lain. Untuk tercapainya hal itu membutuhkan piranti berupa iman. Jika seorang manusia tidak ada potensi untuk mengamankan maka itu termasuk benih yang mandul.

 

Balad al amin tidak bisa terlepas dari level keluarga sebagai level terkecil dalam sebuah negeri. Negeri Mekkah (Al-Balad) terdapat Masjidil Haram, air zam zam, Hijr Ismail, dan Makam Ibrahim. Kemudian Mas Agus memberi pertanyaan apakah negeri Mekkah dalam surah Al-Balad hanya ada di negara Mekkah itu sendiri atau bisa di negara selain itu? Jawabanya ialah tidak harus. Dengan alasan beberapa penjabaran sebagai berikut: dalam pembahasan tema “laras” kemarin disebutkan bahwa Hijr Ismail dan makam Ibrahim akan berlanjut di masa nabi Muhammad sebagai kiblat. Nabi Muhammad berasal dari Arab tapi risalahnya tidak untuk negara Arab saja (Rahmatan lil Alamin). Kemanapun engkau berada hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram maksudnya adalah anjuran menghadirkan Masjidil Haram dalam diri untuk hamparan bersujud dan tercegah dari perbuatan ingkar.

 

Air zam-zam mempunyai sejarah bukan sebagai aset kepemilikan melainkan ridho Allah yang dijaga dengan konsep tidak diperjual belikan. Konsep itu yang membuat air zam zam sampai sekarang tidak habis karena jika kemanfaatan yang diutamakan maka Allah akan terus memberi karunia atas penjagaanya. Sebagai simbol jasadiyah dalam surah Al-Balad memang adalah Mekkah tetapi Mekkah bisa dihadirkan di mana saja asal bisa menerapkan Hijr Ismail, Makam Ibrahim,Masjidil Haram,Air zam zam dalam negara tsb. Kemanapun kita melangkah adalah wajah Allah. Mas Agus juga sempat bercerita ada seorang ulama yang melaksanakan haji tapi ia tidak melihat ada malaikat saat ia berhaji,kemudian ia bertanya kemana para malaikat itu? Dijawab oleh sesorang bahwa malaikat itu sedang berada pada orang yang berangkat haji tapi terhenti karena melihat ada seseorang yang memakan bangkai. Setelah ditelusuri ternyata pemakan bangkai tersebut tidak ada yang bisa dimakan selain bangkai itu orang itu kemudian mensodaqohkan harta yang untuk haji tadi kepada orang yang memakan bangkai. Orang tersebut tidak jadi haji tetapi mendapat pahala seperti orang haji karena perbuatannya.

 

Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji tidak bisa terpisah satu dengan yang lainya karena ketika kita sholat kita juga bersyahadat ketika kita puasa kita juga sholat dan syahadat ketika zakat kita syahadat,sholat puasa dan hajipun kita juga tidak lepas dari syahadat, sholat, puasa dan zakat. Dalam surah Al Fajr, Al Lail, Al Asr, As Syam dan Ad Dhuha, Allah berani bersumpah “demi waktu” dan setiap saat kita harus bersaksi karena Allah selalu ada setiap saat.

 

Sholat merupakan metode menegakkan gelombang dengan kenabian dan keterhubungan untuk menciptakan rasa kemanusiaan (Ahsan). Meskipun kita sholat belum tentu kita menegakkan rasa kemanusiaan jika belum berbuat baik/berbagi kepada anak yatim (surah Al-Ma’un). Kemudian Mas Agus turut mentadabburi surah Al-Balad ayat 2:Dan kau Muhammad bertempat di negeri Mekkah ini. Nabi Muhammad mempunyai spirit terpuji berarti ketika kita terpuji bisa menjadi ahmad dan jika dalam majlis orang-orangnya terpuji maka bisa menjadi majlis Nabi Muhammad. Dan jika kita bersaksi maka Allah dan Nabi Muhammad menyaksikan kita bersaksi dan ada ketika kita bersaksi. Ketika kita berakhlak baik jangan menganggap kita berahlak baik tapi anggaplah itu salah satu keberhasilan Nabi Muhammad untuk membangun manusia berahlak baik dengan mengaplikasikan 4 sifat Allah.

 

Pertanyaan kedua muncul dari Mbak Dewi, yaitu tentang Rahmatan Lil Alamin itu nabi Muhammad, Islamnya atau orangnya? Yang kemudian direspon oleh Mas Agus, tidak ada yang tidak terlibat dalam Rahmatan Lil Alamin entah itu Nabi Muhammad, Islam maupun orangnya karena mereka adalah bagian dari alam. Allah menciptakan sesuatu dengan konsep salam, adapun ciptaan Allah adalah persemayaman ilmuNya dengan kadar titah masing-masing. Untuk menjadi Rahmatan Lil Alamin dengan cara bagaimana mencintai ciptaan Allah agar mau bertauhid. Kita dianjurkan untuk Rahmatan Lil Alamin supaya kita bisa mencintai apa saja ciptaan Allah. Dilanjutkan oleh pertanyaan dari Mas Azam yang bertanya apakah jiwa itu nur yang ditumbuhkan supaya bermanfaat?

Langsung direspon oleh Mas Agus, bahwa karakter cahaya mencerahkan dan yang bisa mencerah ruh adalah alam jiwa,tetapi nur belum ada jika tidak ada ruh. Kiat menumbuhkan nur dengan cara memahami kegelisahan utama dalam diri kita maka bisa menumbuhkan jiwa dan nur.

Mas kasno juga memberikan responnya terhadap surah Al Balad yaitu Al Balad ayat 5 yang terkait dengan fenomena tandur yang dilakukan oleh dulur kita yaitu Mas Angling dan Mas Fajar, kemudian Mas fajar menceritakan sedikit mengenai susah payah tandur di lahan tandus bekas penggilingan batu yang tanahnya sangat padat. Fenomena itu juga berkaitan dengan tema padang tandur yang ada dalam surah Al Balad ayat 5.

 

Posisi kita dibagian negeri yang mana dan apa yang kita lakukan dengan keadaan kita saat ini? Merupakan salah satu pertanyaan dari Mas Ari malam itu. Mas Agus merespon dengan turut menjawab pertanyaan dari Mbah Nun yang tertulis dalam seri tulisan Rahmatan Lil Alamin yaitu :

 

  1. Apakah Rahmatan Lil’alamin dengan sendirinya sama dan sebangun dengan perjuangan nasional keIndonesiaan? Apakah skala dan hak serta kewajiban Nasionalisme Indonesia otomatis adalah skala dan hak dan kewajiban Rahmatan Lil’alamin?

 

Iya dengan catatan apabila pergerakan Indonesia bagian dari Rasulullah dalam Rahmatan Lil Alamin.

 

  1. Eksistensi dan perjuangan hidup sebagai warganegara Indonesia apakah merupakan perwujudan langsung dari tugas penciptaan Rahmatan Lil’alamin?

 

Bisa iya, tergantung eksistensinya dalam rangka menyebangunkan nilai untuk mengamankan satu dengan yang lain, ataukah perjuangan hidup untuk eksistensi diri dan golongan untuk menguasai aset Indonesia.

 

  1. Kalau prinsip dan praktek NKRI sendiri tidak berangkat dari prinsip Rahmatan Lil’alamin, maka bagaimana memaknai posisi Jamaah Maiyah antara Khalifah Allah dengan warganegara Indonesia?

 

Posisi NKRI untuk negeri aman dan damai, tugas manusia melanjutkan konsep utama Bhineka Tunggal Ika dan berusaha melanjutkan silah Al Balad

 

  1. Jamaah Maiyah Sinau Bareng terus apakah Rahmatan Lil’alamin identik dengan Rahmatan Lil Bilad, Lil Balad, Lil Buldan atau Lil Baldah?

 

karena Rahmatan berbicara tentang alam dan ilmu, dan negeri adalah kumpulan alam dan ilmu dan Rahmatan Lil Alamin lebih luas cakupanya. Balad Al Amin berkonsep pada identitas Ahsani Takwim.sehingga identik sebagai sebaik-baik kaum.

 

Demikianlah reportase mengenai Padhang Pranatan semoga sinau bareng kali ini bisa bermanfaat untuk kita yang senantiasa terus berusaha untuk menjadi bagian dalam Balad Al Amin.

 

 

Andhika Hendryawan & Team Reportase

WUNGU

Masih dalam rangka netepi dhawuh Mbah Nun, yang setiap simpul diharapkan mengadakan workshop dalam rentang Agustus – Oktober, masih dalam rangka merespon berbagai fenomena dan informasi informasi yang beruntun dan berkelindan, dan juga masih dalam rangka terus melakukan pengembaraan diri. Oktober 2019 ini merupakan workshop ke tiga dari tiga workshop yang direncanakan. Dua workshop sebelumnya Majlis gugurgunung menggelar tema “LARAS” di bulan Agustus, dan tema “PADHANG PRANATAN” di bulan September.

 

 

 

Sedikit remind,

LARAS, tema yang membahas tentang :

  • Mengingat kembali amanat utama dan gol utama dalam hidup dengan merunut jauh peradaban demi peradaban sejak sebelum era risalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW hingga terus di ujung mula peradaban Nabi Adam AS.
  • Keluwarga Majlis gugurgunung mencoba membuat penegasan bahwa hidup di dunia ini sangat komplek dan serius, dan kehadiran para utusan itu untuk membuat yang komplek tersebut menjadi tertata dan membenderangi keadaan.
  • Betapa perlunya menyambungkan diri secara LARAS posisi diri kita sekarang dengan sejarah panjang dan serius alasan kita diciptakan.

 

PADHANG PRANATAN, tema yang membahas tentang :

  • Mengupas makna Negeri, sebuah kawasan nilai yang dipenduduki oleh manusia manusia yang menjaga nilai.
  • Memahami tugas dan peran yang perlu dirintis, dijalankan, dan dibangun dengan semangat menggapai suatu penataan yang berpendar cahaya rahmat Allah SWT.
  • Tadabur QS. Al Balad, untuk menemukan jawaban jawaban tentang Rahmatan Lil Bilad, serta rumusan rumusan menuju kembali pada Al Balad Al Amin.

 

Kemudian bulan Oktober ini akan menggelar tema “WUNGU”,  tema yang thukul dari semaian tema tema sebelumnya, diantaranya : MASYARAKAT LEBAH MEMADU, sebagai respon “TAHADDUTS BIN –  NI’MAH”, serta “LARAS” dan “PADHANG PRANATAN”, sebagai respon “TAJDIDUN-N- NIAT” yang Alhamdulillah dipertemukan dengan momentum cahaya “WIRID AKHIR ZAMAN” dan “DJD”.

 

WUNGU, mengandung arti bangun atau bangkit. Kondisi yang mencoba untuk terus terjaga:

“Ngambrukke roso wegah, Nungkulke roso pasrah, numungkul kanthi lilah”.
“Merubuhkan rasa malas, menundukkan rasa pasrah, menunduk dengan lilah”

Dan pengembaraan diri yang mencoba ditelusuri adalah “Diri yang ‘Ain atau Kifayah”. Jika seseorang punya prioritas pada satu peran kontributif bagi kehidupan bermasyarakat itu adalah ‘ain. Dia menemukan kewajibannya dalam hidup ini. Sedangkan Kifayah bahwa tidak lagi diharuskan jika suatu peran telah ada yang menjalankan/mendirikan kecuali memang ingin makmum dan menggabungkan diri pada hal/bidang tersebut. Seseorang akan segera mengenali ‘ain-nya jika melek terhadap kahanan. Apa dari keadaan sekarang yang memerlukan kontribusinya, apa yang menggelisahkannya, dan kegiatan apa yang bisa ia selami untuk njegur pada kemanfaatan. Maka menjadi betapa penting untuk memahami peran, amanat, dan tanggung-jawab kembali dengan tetap aman dalam menjaga amanat tersebut. Apakah yang dimaksud melek hanya dengan tanda mata terbuka? Apakah dengan badan beranjak dari baring itu sudah bangkit? Adakah perangan atau bilahan-bilahan dalam diri yang lain yang perlu juga bangun dan bangkit? yang karena kita tak mengenalnya, tak memahaminya, sehingga mereka masih dengan lelap ‘tertidur’ karena merasa tak bertugas. Apakah takut itu bilahan diri?

 

Wirid Akhir Zaman sebagai Converter

 

Wirid Akhir Zaman mengandung do’a berisi kepasrahan dan keperwiraan, Pasrah atas segala kehendak dan karunia kekuatan dari Allah, bahwa hanya Allah saja yang pantas untuk disebut sebagai Tuhan, permohonan Maghfrah dan Kasih Sayang Allah sebagai sebaik-baik Pemberi Rahmat, tentang ketidak-berdayaan apapun dan siapapun tatkala berhadapan dengan firman Allah, hingga pertolongan Allah yang akan mengkaruniakan Kebun yang lebih baik dari kebun-kebun lain yang dipupuk dengan mempersekutukan Allah swt. Sehingga segala proses hingga dhawuh Mbah Nun melalui Tajuk DJD seolah menjadi penegasan dan penetapan agar semua pihak yang akan merawat kebun baru ini tidak perlu memperpanjang ilusi dengan hantu-hantu peristiwa yang seolah menjadi alasan untuk mundur. Tidak untuk merasa kuat, tidak untuk merasa hebat, tak pula untuk merasa sangar. Semua tidak ada gunanya di hadapan Allah yang memiliki ketentuan. Jika ada penolong maka itu memang benar-benar dari Tuhan bukan dari hantu yang karena ditakuti lantas dianggap sebagai tuhan.

 

Lebur dan pecah dulu diri gunung-gunung diri agar tak menghantui kepasrahan kita kepada Tuhan yang sudah memberikan amanat kebun-kebun Maiyah yang tumbuh dengan keberserahan diri, yang tak mempersekutukan-Nya, yang saling bertalian kasih sayang karena Allah swt. Yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dimana amanat Tuhan ini disanggupi oleh manusia yang bodoh dan jahul, yang berpotensi berkhianat atas amanat tersebut. Oleh sebab demikian maka amanat Tuhan tak akan mampu disandang oleh seorang manusia pun, kecuali manusia telah mentransformasi dirinya lebur menjadi ayat Allah sendiri, menjadi Firman Allah sendiri. Yakni manusia yang sadar akan potensi dholim dan jahul-nya sehingga sanggup menjadi nol untuk manunggal dalam kehendak Tuhan Yang Maha Suci dan Tiada Ingkar Janji. Apabila dholuman jahula itu dianggap tidak konstruktif maka harus dhedhel (lepas) agar menjadi konstruktif. Atau jika justru dengan dholuman jahula itu manusia menjadi konstruktif maka tentunya sudah ada formula konversi (converter) agar potensi bahaya yang bisa merubah amanat menjadi produk khianat kelak terhindarkan. Amanatnya adalah menata dan mempercantik, bukan merusak dan mencederai. Wirid Akhir Zaman perlu dihayati dan dirasuk dalam diri, siapa tahu bahwa itu adalah conveter-nya.

 

Mari bangun untuk melingkar bersama, mengkonversi energi untuk membangun kesadaran tanggung jawab atas peran kita, wungu di kedalaman merah putihnya, dipandu oleh irama Irodah-Nya.

 

 

Tim Pawon Tema MGG, 23 Oktober 2019

DJD Keluarga Majlis gugurgunung

“Bahwa apa yang akan kita mulai malam ini merupakan upaya penetapan diri untuk menjadi pihak yang senatiasa berlindung dan menjaga amanat dari Allah swt. Mungkin sejak mulai besok ada banyak hal yang terus menerus berusaha memojokkan dan mencoreng-moreng muka martabat amanat kita dengan berbagai macam metode dan dukungan-dukungan kekuatan. Kekuatan jaringan, dana, media, bahkan kekuatan militer. Seolah jika ingin aman justru apabila kita menjadi pihak yang oportunis,menjadi pihak yang hura-hura, generasi eiya-eiya, cengengesan, demen pamer, gemar bersolek dan jika perlu menjadi peserta penyimpangan kodrat. Pilihan itu mungkin bukan hanya akan aman namun juga akan dibela atas nama kemanusiaan. Lain halnya yang sedang berusaha menjaga amanat Tuhan yang berusaha menjalin perilaku yang terus bersambung dalam gelombang kenabian, yang memilih amanat, tabligh, sidiq, fathonah, justru bisa saja akan banyak dicerca dengan berbagai ungkapan yang menghasut, penuh fitnah, dan manipulatif”, demikian prakata malam tadi yang menjadi sedikit ungkapan pembuka sebelum dimulainya pelaksnaaan dhawuh Mbah Nun yang termaktub dalam Tajuk DJD.

Tentunya ini menakutkan apabila dibayangkan. Namun, tampaknya kondisi ini tak ubahnya sebagaimana Firman Allah swt yang akan menguji kepada yang mengaku beriman dengan hantu-hantu yang seolah siap mencengkram dalam suasana ketakutan dan tiada pertolongan. Diberikan ketakutan dari sisi lahir, dari sisi pikir, dan juga dari sisi bathin. Oleh sebab demikian perlu kiranya ketakutan ini segera disambungkan dengan suasana bathin yang dialami oleh Nabi Ismail AS. Apabila hantu-hantu dalam pikiran itu lebih dominan dan sehingga gentar dan lari maka tidak akan ada momentum aqrob, quroba, yakni kedekatan hamba dengan Tuhan secara karib. Nabi Ismail menjadi teladan yang mampu menghadapi fitnah karena keyakinannya yang besar kepada kepada Allah dan rasul-Nya, maka martabat Nabi Ismail AS sama sekali bukan binatang ternak atau domba yang digembalakan, melainkan penggembala dan berkedudukan sebagai manusia yang beriman karena sanggup menghadapi ujian yang seolah siap merenggut jiwanya.

Jamaah Maiyah Ungaran, Majlis gugurgunung sudah sejak 10 Muharram melakukan upaya pemindaian diri dan penetapan langkah mengingat telah memasuki tahun hijriah yang baru. Yang hijrah atau tahun perpindahan yang baru. Pada 22 Muharram 1441 H, ada semacam ‘paksaan’ untuk segera melaksanakan peristiwa berlatih menghadapi ketakutan itu dengan cara yang bisa dibilang cukup aneh dan tidak populer di kalangan umum, yakni memberanikan diri memasuki hutan yang sepi dan sendirian dengan hanya bermodal kepasrahan diri atas segala pengamatan dan perlindungan Allah swt.

Hawa takut masih menyelimuti namun untuk lari rasanya malu hati. Hawa was-was sesekali menghinggapi namun untuk takut rasanya tidak lagi memberi kemanfaatan diri. Suasana tentram dalam sunyi dan gelap, menjadi perumpaan pikiran buruk diri yang selama ini keliru memburuk-sangkai bahwa dalam gelap dan sepi itu adalah ngeri yang patut dijauhi bahkan dihindari. Padahal suasana tentram dan khidmat didapat apabila yang nyata bukan produksi pikiran yang menghasut untuk ngeri dan kalau perlu lari menjauh kembali mendekat bersama keramaian yang disangka lebih memberikan jaminan kemananan danmanfaat. Suasana tentram dan khidmat didapat apabila yang nyata adalah ketidak-berdayaan diri namun juga sekaligus keperwiraan untuk berusaha berjuang mendekatkan diri lahir dan bathin, maka yang nyata kemudian adalah perlindungan, pengawasan, dan segala aspek pertolongan yang dicurahkan Allah dengan besar melalui lahir, pikir, dan bathin pula.

Wirid Akhir Zaman pun pada akhirnya dibacakan pertama kali dengan memilih di tengah hutan. Kali ini bersama-sama, saling menjaga dan mengawasi. Rasa takut itu mungkin berasal dari naluri Dholuman Jahula, yang merasa mampu dan berani menyangga firman Tuhan dengan gagah berani. Padahal semakin merasa gagah justru akan semakin gelisah, semakin merasa berani justru semakin ringkih hati. Tampaknya kepasrahan dan keperwiraan tetap harus bertahan bersamaan. Agar tidak merasa hebat namun juga tidak lantas melarikan diri karena takut secara ironis di tengah suasana menjalani ujian untuk semakin dekat. Wirid Akhir Zaman mengandung do’a berisi kepasrahan dan keperwiraan, Pasrah atas segala kehendak dan karunia kekuatan dari Allah, bahwa hanya Allah saja yang pantas untuk disebut sebagai Tuhan, permohonan Maghfrah dan Kasih Sayang Allah sebagai sebaik-baik Pemberi Rahmat, tentang ketidak-berdayaan apapun dan siapapun tatkala berhadapan dengan firman Allah, hingga pertolongan Allah yang akan mengkaruniakan Kebun yang lebih baik dari kebun-kebun lain yang dipupuk dengan mempersekutukan Allah swt.

Sehingga segala proses hingga dhawuh Sahan melalui Tajuk DJD seolah menjadi penegasan dan penetapan agar semua pihak yang akan merawat kebun baru ini tidak perlu memperpanjang ilusi dengan hantu-hantu peristiwa yang seolah menjadi alasan untuk mundur. Tidak untuk merasa kuat, tidak untuk merasa hebat, tak pula untuk merasa sangar. Semua tidak ada gunanya di hadapan Allah yang memiliki ketentuan. Jika ada penolong maka itu memang benar-benar dari Tuhan bukan dari hantu yang karena ditakuti lantas dianggap sebagai tuhan. Lebur dan pecah dulu diri gunung-gunung diri agar tak menghantui kepasrahan kita kepada Tuhan yang sudah memberikan amanat kebun-kebun Maiyah yang tumbuh dengan keberserahan diri, yang tak mempersekutukan-Nya, yang saling bertalian kasih sayang karena Allah swt. Yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Dimana amanat Tuhan ini disanggupi oleh manusia yang bodoh dan jahul, yang berpotensi berkhianat atas amanat tersebut. Oleh sebab demikian maka amanat Tuhan tak akan mampu disandang oleh seorang manusia pun, kecuali manusia telah mentransformasi dirinya lebur menjadi ayat Allah sendiri, menjadi Firman Allah sendiri. Yakni manusia yang sadar akan potensi dholim dan jahul-nya sehingga sanggup menjadi nol untuk manunggal dalam kehendak Tuhan Yang Maha Suci dan Tiada Ingkar Janji. Dholuman Jahula ‘Dhedhel’, apabila dholuman jahula itu dianggap tidak konstruktif maka harus dhedhel (lepas) agar menjadi konstruktif. Atau jika justru dengan dholuman jahula itu manusia menjadi konstruktif maka tentunya sudah ada formula konversi (converter) agar potensi bahaya yang bisa merubah amanat menjadi produk khianat kelak terhindarkan. Amanatnya adalah menata dan mempercantik, bukan merusak dan mencederai. Wirid Akhir Zaman perlu dihayati dan dirasuk dalam diri, siapa tahu bahwa itulah converter-nya.

DJD, bisa apa saja kepanjangannta dengan pendekatan othak-athik gathuk. Bisa ‘Do’a Jaman Dajjal’ bisa ‘Do’a Jamaah Dunia’, menurut kami sebagai anak-putu Miayah sejak beberapa bulan terakhir sudah diberikan hadiah-hadiah susul menyusul yang sangat indah dan begitu berguna, baik dari Mbah Nun, Marja’ Maiyah, Pak Toto, dan suplemen-suplemen berkelas yang tak cuma lahir namun juga bathin. Betapa teramat sangat kami syukuri. Tadinya tulisan ini berniat merespon tawaran hadiah dengan mengungkapkan atau menterjemahkan kepanjangan DJD. Namun betapa itu menjadi batal dan cukup menjadi tulisan bekti sebagai respon semata. Sebab DJD akan tidak punya kepanjangan apa-apa tanpa dilanjutkan dalam perilaku, sebaliknya maka akan terus ada kepanjangannya yang tiada bertepi jika Jamaah Maiyah senantiasa mempertautkan diri dengan Welas Asih Tuhan dengan saling menopang menjaga amanat dari-Nya.

 

Keluarga Majlis gugurgunung, 21 Oktober 2019