MENGARIFI JEBAKAN

Majlis Gugurgunung | “Mengarifi Jebakan” | Sabtu, 25 Mei 2019 jam 21.00WIB | Aula Madrasah Dinniyah Baburrohman, Jl. Watu lembu, RT. 05 RW. 05 Lemah abang, Bergas, Ungaran, Kab. Semarang. | #MGGMei

TRESNO WONG TUWO

LETAK PINTU KASIH SAYANG

Malam minggu terakhir pada 27 April 2019 menjadi malam rutinitas untuk Majlis gugurgunung menggelar maiyahan. Bertempat di Aula Madrasah Dinniyah Baburrohman, Jl. Watu lembu, RT. 05, RW. 05 Lemah abang, Bergas, Ungaran, Kab. Semarang. Merupakan tempat yang baru malam itu dipergunakan oleh Majlis gugurgunung untuk melingkar. Meskipun beberapa warga dan pengurus setempat telah memiliki kedekatan paseduluran. Tempat yang baru dan lengkap dengan sambutan hangat dari tuan rumah menjadi momen paseduluran yang nikmat tuk dirasa.

Jam menunjukkan hampir pukul 20.30 WIB, Mas Jion atur salam pambuko serta tak lupa menyampaikan terima kasih pada warga serta pengurus setempat seperti Mas Fajar dan Mas Mif. Semoga usai malam ini dapat membangun kebersamaan untuk menambah eratnya paseduluran.Berikutnya pembacaan doa wasilah oleh Mas Ari dilanjutkan Munajat Maiyah oleh Mas Tyo dan Pak Tri membaca doa.Moderator malam ini yakni Mas Kasno yang akan dibantu oleh Mas Chafid dan Mas Angling.

Mas Kasno membacakan puisi yang berjudul “Rindu Cahaya dan Rembulan”

Tema “Tresno Wong Tuwo” menjadi topik untuk dirembug. Dalam prolognya, Mas Kasno merasa kurang pintar untuk mendefinisikan. Jika semakin didefinisikan maka akan semakin tahu cara mencinta. Salah satunya pada orangtua, dengan banyaknya kalimat cinta yang tak bisa ditulis untuk menjadi kata. Namun dicoba oleh Mas Kasno ditulis menjadi puisi yang ditulisnya kala ia jauh dari orangtua. Sebuah puisi tentang kerinduan mendalam berjudul “Rindu Cahaya dan Rembulan”.

Usai pembacaan puisi oleh Mas Kasno, teringat pula ia dengan tulisan “Tetes” dari Simbah yang diminta untuk dibacakan oleh Mas Chafid.

Mas Chafid membacakan “Tetes” dari Simbah

Sebelum rembugan lebih lanjut, Mas Mif selaku perwakilan tuan rumah diminta untuk menyampaikan sesuatu. Diceritakannya awal mula diputuskan untuk menempati Aula Madrasah Diniyyah Baburrohman ini. Dimana Mas Patmo menceritakan bahwa tempat yang biasa (kediaman Mas Mun) sedang tidak bisa digunakan dikarenakan berbenturan dengan jadwal kegiatan Mas Mun yang tidak mungkin ditinggal. Beberapa alternatif dicari oleh Mas Patmo dan Mas Angling. Alih-alih mencari tempat justru disarankan untuk menempati Aula ini. Fenomena apik saat disampaikan pula oleh Mas Mif bahwa disini tidak ada yang namanya tuan rumah, pun tidak ada yang menjadi tamu. Sebab kesemuanya ialah seduluran.

Mas Agus menambahkan pantikan untuk diskusi dengan tema “Tresno Wong Tuwo”

Kemudian Mas Agus diminta untuk menambahkan pantikan untuk diskusi dengan tema “Tresno Wong Tuwo” ini. Bahwasanya tua disini bisa diterjemahkan secara perilaku bukan hanya sifat jasadiahnya saja. Dulur-dulur Lemah abang mencontohkan perilaku yang tua. Rela berkorban, tidak seperti anak-anak yang warna atau jiwa pengorbanannya belum kentara. Hal ini bisa menjadi uraian tema sehingga kita paham tentang proses untuk menua.

Orang lahir kesemuanya untuk menua. Di Jawa, tuwo berarti nutu howo (menempa /menumbuk hawa nafsu). Meski berusia muda dan masih brangasan tapi sudah ditutu. Seakan dihancurkan namun justru memunculkan kemanfaatan yang lebih luas. Sama halnya dengan gabah, setelah ditutu hingga menjadi beras dan dimasak menjadi nasi maka akan menjadi makanan yang bisa terdistribusi ke berbagai pihak. Disini diam-diam kita membidik informasi manakah yang bisa dijadikan pegangan. Dimana tidak harus tua secara umur tapi mengetahui bagaimana untuk menjadi “tua”. Kita merasa masih kekanakan namun kita rindu untuk menjadi figur tua. Dengan menjadi tua, sesungguhnya makin membuat kita semakin mengenali letak pintu kasih sayang.

 

LETAK ORANGTUA

Diskusi malam ini akan menjadi lebih hidup bila kita disini masing-masing saling menyumbang. Bersama mengisi kegembiraan dengan level yang sama. Tema ini merupakan tema kita bersama, sehingga menjadi kembulan dan santapan bersama.

Mbak Dewi tak ketinggalan dibidik moderator untuk merespon. Mbak Dewi seorang perantau, yang tidak tiap hari merasakan kebersamaan dengan orangtua. Tema malam hari ini membuatnya berat untuk berbicara. Namun bagaimanapun kondisi kita hingga menjadi seperti ini tidak terlepas dari peran orangtua. Orangtua selalu ada untuk kita. Apapun yang kita lakukan tidak membuat orangtua sakit hati. Namun sebagai anak pasti ada momen menjengkelkan bagi orangtua. Namun sebenarnya yang dirasakan hanyalah cinta, cinta dan cinta. Mbak Wulan juga berkisah yang hampir sama. Meskipun ia mengaku seorang “anak mami” yang tak bisa jauh dari ibunda namun ternyata justru keberadaan orangtua semakin tambah terasa dekat saat jauh secara ruang seperti sekarang. Sebenarnya orangtua memang memberi perhatian tanpa henti yang lebih dari siapapun, apa lagi ketika kita sakit. Dimana memang Mbak Wulan saat itu mengaku baru saja sembuh dari sakit.

Mas Kasno sebagai seorang yang berpengalaman pula dalam dunia perantauan memberi tambahan pantikan. Menurutnya bahwa cinta secara naluriah ialah hidangan oleh Allah SWT yang ditanamkan pada masing-masing hati atau jiwa manusia. Jadi ketika bersentuhan dengan momentum-momentum tertentu maka akan muncul kerinduan secara naluriah. Sehingga jarak takkan menjadi halangan sebab masing-masing akan mendekat secara getaran atau frekuensi.Kemudian ada Mas Ari yang menanggapi tentang Tresno Wong Tuwo ini. Didalamnya terdapat 2 (dua) hal yakni ada anak dan juga orangtua. Sebagai seorang anak, asalkan menurut saja dengan orangtua maka akan membuat orangtua bahagia. Itulah yang disebut kesanggupan menjalankan.Salah seorang sesepuh Majlis gugurgunung dalam hal usia yakni Pak Zam sependapat bilamana cinta hadir ketika kita merindu. Semakin rindu dirasa makin pula kita melihat apa itu cinta. Menurutnya, tidak ada kerinduan maka tidak ada yang namanya cinta.

Mas Amri yang syukur bisa hadir malam ini menceritakan sebuah fenomena pengalamannya. Pernah dilihatnya seorang anak kecil membawa tas besar di pinggir jalan. Didekatilah anak tersebut. Disapa dan diajak bercerita. Bahwa si anak tersebut ternyata sedang ada konflik di rumah dan ingin pergi namun membawa lukisan favoritnya yakni lukisan rukun Islam.Mas Angling berikutnya meminta Mas Mif menambahkan sudut pandangnya tentang cinta. Cinta sejak tadi dibahas bekisar seputar kerinduan dan jarak. Cinta biasanya kepada istri dan orangtua. Sementara Mas Mif dengan sang istri hanya beda RT saja. Sedangkan pada orangtua terkadang sebagai anak ingin kita bekerja hingga kaya lalu memberinya pada orangtua. Namun ternyata setelah anak mapan maka orangtua hanya butuh bahagia, bukan melulu tentang harta.

Dari beberapa responden memberi sudut pandang bahwa letak orangtua itu berada dalam kerinduan, dan cinta orangtua terletak pada cinta itu sendiri. Segala hal yang menghubungkan pada cinta maka akan menghubungkan pada orangtua dan segala hal yang berhubungan dengan orangtua akan menghubungkan dengan cinta. Yang menjaga, mengasihi, mendidik, menumbuhkan, berkorban, kepada buah hatinya.

 

ORANGTUA JASAD, JIWA, RUHANI

Mas Agus memberikan tambahan tentang pilahan bahasan dari tresno wong tuwo. Orangtua dibagi menjadi tiga. Yakni:

  1. Jasad. Wujud : yakni kedua orangtua kita
  2. Jiwa : yakni yang menanamkan nilai atau gagasan, pemikiran, ideologi.
  3. Ruhani : yakni yang memanggil untuk mencahaya

Mengacu pada unsur yang ada dalam diri kita juga terdapat akantiga hal tersebut. Body, andMind, Soul. Hal ini akan mempengaruhi segala sepak terjang yang gagasan utamanya mempertimbangkan 3 hal tersebut.

 

ORANGTUA JASAD

Andai ada lowongan pekerjaan untuk menjadi orangtua. Dengan gaji perbulan yang belum pasti jam kerjanya 24 jam sehari tanpa istirahat, memberi kasih banyak hal dan mengorbankan dirinya dalam banyak hal. Maka siapa yang sanggup menerima pekerjaan seperti itu? Itulah kedua orangtua kita. Mereka melakukan itu agar kita hidup bahagia, terlindungi, mendapat kasih sayang, perhatian, disenangkan hatinya, dibiayai pendidikannya, diobatkan saat sakit, dibiarkan kenyang meski mungkin mereka lapar, dibiarkan bergembira meskipun mungkin mereka penuh luka. Mereka tersenyum saat anaknya tersenyum, lupa semua lelah dan jerih payah. Maka berusahalah untuk menjadi anak yang memberi kebahagiaan dengan banyak bakti penuh senyum dan jangan menambah luka dengan perbuatan yang menambah tangis.

Mengawal anak kecil sampai dewasa bukanlah pekerjaan mudah. Sementaraorangtua mengambil pekerjaan tidka mudah itu kita. Secara pekerjaan seharusnya bukan pekerjaan yang menarik. Terutama pekerjaan sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui. Mengapa orangtuakita mau melakukan itu untuk kita? Karena pekerjaan tersebut dilandasi atas dasar keterdorongan bukan ketertarikan. Jika kita tertarik pada suatu profesi maka kita harus mendapat menuntut balasan yang setimpal. Berbeda dengan terdorong. Seorang ibu yang menyusui bayinya meskipun badan letih dan mengantuk tetap mau melakukan karena dilandasi dorongan sikap welas asih yang begitu besar kepada anaknya.

 

KISAH NABI YAQUB DAN NABI YUSUF

Dalam hidup sekarang secara mayor pasti ada ruang-ruang tertentu dimana orang melakukan sesuatu didasari pada ketertarikan bukan keterdorongan. Maka banyaknya yang didapat ialah kecewa. Hingga menyebabkan terdistruksinya cinta dan akhirnya menua. Hal ini harus ditengarai pada bentuk perjuangan dan pengorbanan. Menilik kisah Nabi Yaqub as dengan banyaknya putra yang dimilikinya. Pertama saat Nabi Yusuf kecil dibawa kakaknya untuk berburu padahal sebenarnya akan dibuang ke dalam sebuah sumur. Didramatisasi dengan baju yang robek dan darah kelinci yang seakan diserang binatang buas. Semua anak kompak mengatakan hal yang sama. Namun si anak-anak lupa menghitung bahwa ayahanda mereka bukan sekedar seorang bapak yang mungkin mudah dikelabui dengan informasi yang seolah meyakinkan. Sebagai bapak yang juga seorang nabi Yaqub pastinya memiliki nubuwah yang informasinya lebih hakiki. Maka nabi Yaqub tidak langsung percaya begitu saja bahwa hal buruk tersebut menimpa anaknya.Jasad hanya memiliki fungsi mereplika beberapa hal yang diciptakan oleh Allah. Mata akan menjumpai fenomena warna, bentuk, dll agar mendapat ilmu/pandangan(kaweruhan). Di titik tertentu kaweruhan akan masuk ke ruhani maka jasad tidak kuat menampung. Seperti halnya ketika Nabi Musa as ‘bertapa’ di Gunung Tursina. Ketika Nabi Musa as ingin berjumpa dengan Tuhan. Maka jasad tidak kuat menerimanya, gunung meluruh dan nabi Musa pingsan.

Sama halnya dengan fenomena Nabi Yaqub as. Nabi Yusuf dipantaunya dengan visi kaweruhan (pandangan) bukan sekedar paningal (penglihatan). Maka jasad tidak kuat menerimanya. Maka netra jasad nabi Yaqubtak cukup sanggup menampung, yang terjadi ialah kebutaan sementara.Nabi Yusuf as sudah diberitahu bahwa akan menjadi seorang Nabi. Dimana kemudian hari Nabi Yusuf digoda dengan Zulaichah. Saat itu level Nabi Yusuf hanyalah abdi dalem istana. Tapi rayuannya Zulaichah sangat maut. Hingga Zulaichah “golek kencono” (badan tak berbusana). Yusuf mulai tidak tahan. Akhirnya malaikat Jibril diutus untuk melarang Nabi Yusuf as. Dari dicabut kenabiannya hingga dijadikan musuh Allah SWT tak menggoyahkan Nabi Yusuf yang kala itu hampir terjerumus. Lalu muncullah sepintas sosok Nabi Yaqub as. Seakan luruh, runtuh semua. Kemudian ia siap dengan segala risiko apapun di dunia. Berbalik arah dan lari meninggalkan Zulaichah yang sempat menggapai bagian belakangnya hingga sobek. Nabi Yusuf benar-benar tak bisa menahan kerinduan kepada ayahanda yang dicintainya, sehingga saat itu cinta apapun apalagi hanya dari seorang perempuan menjadi sangat kecil dan tak lagi menarik hati apalagi mendorongnya untuk menggapai. Namun sebenarnya itulah yang menjadi titik tolak. Nabi Yusuf as sebagai seorang abdi dalem pun dipenjarakan sekian kurun dan kemudian hari dibebaskan berkat kemampuannya dalam hal ta’wil dan diangkat menjadi sosok yang berperan untuk Negeri Mesir. Mulai penasihat hingga menjadi kepala logistik. Dengan menjadi kepala logistik akhirnya dapat mempertemukannya dengan saudara-saudara dan juga sang ayahanda. Monentum pertemuan itu yang akhirnya membuat Nabi Yaqub as kembali bisa melihat.

 

ILMU DAN HIMAH

Dari kisah tersebut, maka proses cinta jangan sampai memutus kaweruh. Kita harus punya pengetahuan agar nalar kita tidak mudah ditundukkan oleh gelora cinta yang tidak hakiki. Jika terjadi maka kita hanya akan menjadi budak kesenangan. Dengan mempertaruhkan sesuatu yang sangat mulia. Pertaruhan tidak akan terjadi jika kita memakai kawruh. Ilmu, alim. Ada fadhilah yang dimiliki setiap orang. Maka Allah SWT akan memberi label ulama kepada seseorang ketika fadilah pada diri orang tersebut menjadi ilmu, dan ilmu tersebut bermanfaat untuk orang lain. Jika ilmu hanya bermanfaat untuk diri sendiri, sama dengan menunggangi fadilah dengan kepentingan tanpa kawruh. Kawruh yang ditangkap hanya ‘alimul, sedangkan kelanjutan pengetahuan adalah kebijaksanaan. jadi selain ‘alimul itu juga harus hakiim. Jaman jahiliyah sudah banyak ahli. Artinya secara pengetahuan, orang-orang sudah berpengetahuan. Tapi tidak menghikmahi atau membijaksanai ilmu untuk kepentingan bersama. Ilmu hanya digunakan untuk diri sendiri.

Nabi Muhammad SAW ditolak bukan karena nilai agama dan kandungannya. Yang ditolak ialah segala kerugiannya secara materi. Wanita jaman dulu bisa dijual. Jika Islam diterima maka akan mengorbankan banyak hal yang sudah menjadi zona nyaman. Abu Jahal pun juga bersaksi bahwa Muhammad merupakan seorang baik nan jujur. Namun tidak mau memelukIslam karena dia tak lagi bisa bebas berdagang dan berbisnis apa saja, omset dan pundi dinar dirhamnya terancam bangkrut jika ia memeluk Islam. Sebuah harga yang terlalu besar menurut pandangan abu jahal.

Sedangkan kita sekarang punya syahadat yang sama dengan syahadatnya para Sahabat Nabi, namun dalam hal perilaku malah mirip abu jahal yang jelas-jelas menolak Islam. Misalnya kita dianjurkan untuk saling menolong danmencintai, malah saling menuding, membenci, menebar kebencian, dan mencederai. Kita dianjurkan untuk mengasihi anak yatim, malah mengasihi harta benda dan takut sekali kehilangannya. Kita dianjurkan untuk menebarkan salam dan membawa kabar gembira, tapi malah menebarkan promo dan kabar produk-produk dagangan terbaru. Beberapa hal di atas itu masih wajar dan bahkan normal dalam kondisi jaman seperti sekarang. Namun sangat perlu berhati-hati agar sikap yang kita awali dengan menentukan prioritas, tidak menempatkan kita menjadi salah prioritas, dan alih-alih menjadi hipokrit. Ini yang perlu sekali diwaspadai. Menjadi hipokrit, munafik sebenarnya lebih berbahaya. Karena musuh bukan namun ternyata juga bukan teman. Ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi seperti itu.

 

ORANGTUA JIWA

Orangtua bukan secara jasadnya namun kepada pengetahuan, ide, gagasan. Pernah ada cerita tentang chef handal yang hendak ditarik ke Eropa. Suatu ketika ia ingin pulang kampung menjumpai orangtuanya di desa yang cukup terpencil. Ketika lewat rumahnya banyak yang ternyata hidupnya belum beres. Terutama masalah makannya yang kurang baik. Chef yang ahli menghitung segala hal tentang nutrisi, bahan hingga estetikanya ini menjadi tergerus hatinya. Titik tolaknya ketika melihat ada orangtua yang makan sepertinya sangat nikmat sekali. Padahal yang dimakan ialah tinjanya sendiri. Akhirnya dirumah chef tersebut menangis dan bercerita kepada ibunya untuk tidak jadi berangkat ke Eropa dan justru ingin memasak untuk warga kampungnya sendiri. Langkah besar untuk berjiwa indah dengan adegan ketidak-indahan.

Di lain kisah Mbah Nun pernah bercerita. Semasa kecilnya angon wedus (menggembala kambing). Beliau takjub dengan kambing ketika meminum air sungai di siang yang panas. Melihat hal demikian dirasanya indah sekali. Mengajarkan tentang rasa syukur, harmoni dll. Itulah pelajaran hidup. Dari itu Mbah Nun menyampaikan bahwa tidak berani hidup neko-neko. Seperti yang bisa dilihat sekarang, Mbah Nun hingga usianya yang sepuh tak neko-neko. Bisa jadi fenomena adegan tadi adalah pemantik suatu langkah besar Mbah Nun untuk memilih berjiwa indah dengan dipicu adegan yang indah.

Mas Agus mendengar kisah tersebut semasa masih di Kadipiro. Dimana memang Mas Agus cukup lama berada disana. Awal mulanya Mas Agus hanya mengenal Mbah Nun dari tulisan-tulisan beliau. Dengan agak sombong Mas Agus masih menjaga jarak dan beranggapan Jangan-jangan nanti kecewa ketika terlalu cinta. Karena memang sebelumnya Mas Agus sudah mencintai tulisan-tulisan Mbah Nun. Jika sekedar tulisan yang baik mudah untuk dibuat, namun perilakunya belum tentu baik pula. Namun setelah lebih mengenal keseharian Mbah Nun, ternyata yang tertulis hanyalah sedikit dari yang dilakukan. Jika tulisan Mbah Nun itu baik maka yang dilakukan Mbah Nun berlipat-lipat jauh lebih baik lagi. Barulah demikian Mas Agus merasa bahwa inilah wong tuwoku.

Pernah pula Mas Agus diminta untuk menemani salah seorang sesepuh lain. Tetapi bagi Mas Agus tidak masuk dalam kategori orangtua. Mbah Nun mengajarkan otentisitas dan kedaulatan diri. Maka penolakan tidak apa-apa, asalkan alasan harus kuat dan bukan hanya sekedar tidak mau saja.Memahami hidup dengan berdaulat pada hal yang menjadi proses kita dalam menjalani kehidupan. Apakah pengetahuannya juga terimplementasi dalam diri kita sehingga menjadi produk perilaku atau hanya sekedar jasadiahnya saja sehingga menjadi tiru-tiru.

 

ORANGTUA RUHANI

Untuk ruhani ini tidak diwedar secara direct oleh Mas Agus meskipun dari beberapa penyampaian Mas Agus sebelumnya sudah terdeliverisecara tidak langsung.

Kemudian Pak Narto salah seorang Pengurus Madrasah juga diminta untuk merespon mengenai tema. Banyak hal yang diulasnya tentang cinta. Salah satunya bahwa cinta orangtua ke anak sakklopo (sebutir kelapa), cinta anak ke orangtuasak upo(sebutir nasi). Selain itu juga, umum diketahui istilah anak durhaka. Namun apakah ada orangtua durhaka?

Mas Shohib menambahkan respon agar kita memahami membedakan mana cinta dan syahwat.Mas Azzam, salah seorang dulur yang sudah lama ingin ikut melingkar di Majlis gugurgunung juga diminta untuk menambahkan respon di majlis yang akhirnya berhasil ia bersamai di malam itu. Al Jannatu Tahta Aqdamil Ummahat ialah Surga di telapak kaki ibu. Menurut Mas Azzam ada 2 (dua) hal sakral di kehidupan yaitu saat ijab kabul dan membasuh telapak kaki orangtua. Kita bukan apa-apa tanpa mereka. Kita bukan menjadi kita kalau bukan perantara orangtua. Jika diminta menggambarkan tentang prosesi mencuci kaki ibu, ibarat menangis hingga tidak bersuara. Mencuci kaki dengan membaca syahadat, istighfar, sholawat, al fatihah lalu membasuh muka. Rasanya seperti rontok badan. Jika orang dalam kondisi nol.Mas Satrio, baru ikut melingkar pula malam ini. Iatermasuk baru di Ungaran, yakni kisaran tigatahun. Terkait tema, Mas Satrio mengungkap bahwa ketika sudah menjadi orangtua maka akan merasakan cintanya orangtua pada anak. Terutama ketika anak sedang sakit.

Kemudian Mas Ihda juga menambahkan, ketika Hamka mau meninggal. Dengan menjalani awal hidup yang penuh ketegangan. Dan ketika menjelang akhir hidupnya, ia menulis perumpamaan tua dan muda. Jika tua yang di depan bakal diam tak bergerak, sebab penuh ketakutan. Jika di depan yang muda, akan berjalan terus dan akhirnya menabrak karena penuh harapan. Solusi ketiga yakni yang tua ikut membersamai yang muda.

Mas Agus merespon Pak Narto. Apakah ada orangtua yang durhaka (duroko atau durhoko)? Tentang orangtua yang durhaka alias bertindak jauh diluar kategori orangtua bisa dicari banyak contoh kasusnya di media. Bahwa kata Duro disematkan pada orang yang mengabaikanperan dan merusak. Menurut Mas Agus bisa jadi ada orangtua yang durhaka, jika melihat adanya orangtua yan mengabaikan perannya dan merusak masa depan anak. Bahwa orangtua semacam ini kelak akan dihukum karena tindakannya atau malah bebas hukum di hadapan TuhanWallahua’lam.Tapi dalam kacamata hukum manusia tindakan orangtua menelantarkan anaknya tidak dibenarkan. Berkaitan hukum Tuhan adalah begini ; jika dihukum karena sengaja bertindak merusak dan mengabaikan, dan tidak dihukum karena digolongkan sebagai gangguan jiwa yang mengalami ketidakpresisian dalam berperan sebagai orangtua yang diakibatkan oleh kapasitas pengetahuannya yang sangat rendah. Sebab tidak semua orangtua menampung kebijaksanaan, ada yang benar-benar punya anak dengan dilatarbelakangi pandangan dan cita-cita berkeluarga yang baik sehingga siap bersikap bijaksana, ada yang memiliki anak karena suatu imbas yang belum siap disangga sehingga tak punya persiapan kebijaksanaan, ada orangtua yang hanya sekedar lebih tua usianya namun tidak secara mental, tampaknya yang terakhir tidak banyak di negara Indonesia, namun mungkin bisa menjadi angka yang cukup besar di beberapa negara lain yang menerapkan ciri egaliter dalam hirarki pergaulan sosialnya.

Bagai cahaya. Seperti matahari kita nikmati cahayanya namun kita abaikan keberadaannya. Sesuatu yang sangat bermanfaat dan biasanya tidak dihitung ucapan terima kasihnya. Inilah cinta yang tua. Cinta yang tidak lagi menuntut.Sebodoh-bodohnya orangtua (dengan ukuran pendidikan akademis) pasti masih jauh memiliki pengalaman hidup dibanding anaknya. Maka orangtua lebih mengerti cara menyayangi dan mencintai kepada anaknya dan anak masih dalam tataran belajar menyayangi dan mencintai dari orangtuanya. Maka layak disebut cinta orangtua sepanjang jalan. Ya, sebab mereka mengiring dari lahir sampai mengawal seluruh perjalanan kita dengan cinta yang tanpa henti.

Kuroba (kurban). Sebagai bentuk akrab dan ucapan cinta pada Allah SWT. Nabi Ismail dengan pengorbanannya mencontohkan secara real bahwa Allah lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Hal ini merujuk pada Mas Azzam. Di satu sisi sebagai anak memang meletakkan hormat pada orangtua, karena disitulah letak ridho. Seorang ibu toh nyowo(bertaruh nyawa) berkorban untuk melahirkan kita di dunia. Pengorbanan setingkat nyawa. Seperti pengorbanannya Nabi Ismail, maka betapa dekatnya Allah kepada ibunda kita. Merujuk ke pertanyaan Mas Sohib, untuk membedakan cinta dan syahwat adalah pada tingkat pengorbanan dan pamrihnya.

Tentang kisah Maling Kundang. Bagaimana jika kisah Malin Kundang hanyalah perumpamaan. Yang menjadi batu, bukanlah tubuhnya tapi hatinya yang sekeras batu. Ketika hati sekeras batu dia akan lebih keras dan menjadi semakin keras.Andai orangtua memakai metode ing ngarsa sung tulodho, sehingga dapat menumbuhkan pikiran-pikiran. Lalu ing madya mangun karso, yakni membangun kehendak hingga sudah bisa berjalan sendiri. Maka tinggal tut wuri handayani yang mengikuti dari belakang namun memiliki kedigdayaan. Seperti tanah yang menumbuhkan rela diinjak namun tetap konsisten menumbuhkan dan membuahkan. Seperti udara bisa dihirup tanpa memilih siapa yang akan menghirupnya. Menyelusup dan menyapa kembang salak yang tersembunyi untuk membuah. Seperti air yang selalu akrab dengan kekeruhan padahal ia adalah lahir sebagai kejernihan.

Hampir memasuki jam 00.00 WIB. Seperti biasanya, majlisan ditutup terlebih dahulu meskipun kemudian berlanjut dengan lingkaran-lingkaran diskusi kecil. Mas Kasno menutup malam hari ini dengan meminta mas Sohib memimpin do’a. Sebagai moderator tak seperti biasa kali ini ia tidak mampu untuk menyimpulkan. Menurut Mas Kasno sebab semua yang hadir mungkin punya kesimpulan yang berbeda-beda yang tak ingin dirusak dengan kesimpulan yang dibuatnya. Sebagai ganti kesimpulan Mas Kasno menyampaikan kalimat penutup, “biarlah semua materi malam ini menjadi material untuk membangun tresno pada siapa saja, terutama orangtua kita. Dengan harapan gusti Allah ridho dan cinta pada kita”.

Sekian reportase edisi bulan April 2019, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

TRESNO WONG TUO

Majelis Masyarakat Maiyah: MAJLIS GUGURGUNUNG

27 April 2019 – 20.00 WIB

” TRESNO WONG TUO”

Aula Madrasah Dinniyah BABURROHMAN – Situs Watu Lembu – Lemahbang RT. 05 RW. 05 Karangjati, Bergas – Kab. Semarang.

 

KEPAWANGAN

Majlis gugurgunung kembali menggelar rutinitas bulanan, dimana pada bulan ini diadakan pada tanggal 30 Maret 2019. Tema yang diangkat adalah: “Kepawangan”. Seperti biasa Mas Ari membuka dengan doa wasilah dan Mas Jion memimpin Munajat Maiyah. Mas Kasno sebagai noderator bersama Mas Chafid memberikan prolog untuk memantik diskusi malam ini. Kepawangan mengandung arti bahwa seseorang mempunyai keahlian khusus. Terdapat dua fenomena kepawangan. Yang pertama ditempuh melalui proses berlatih secara intens atau mempelajari perilaku-perilaku. Kedua ujug-ujug (otomatis) mempunyai kemampuan akan sesuatu yang mungkin ditengarai dari kepemilikan jalur kenasaban. Dari bahasa Sansekerta kepawangan juga dikenal sebagai Avatara atau yg lebih familiar dengan sebutan Avatar dengan Manifestasi Ketuhanan. Dalam khasanah kitab Hindu ada tokoh namanya Kalki Autar yg mempunyai bapak Wisnu Bagad dan ibu yg bernama Usama Ani.

Sedikit mereview perjalanan ke Jalawastu bersama Mas Dika disana masih banyak proses kepawangan. Banyak yang masih menekuni proses pawang seperti pawang harimau, hujan dan angin. Masyarakat disana dilarang menyia-nyiakan hewan, tumbuhan apalagi sesama manusia. Salah satu keilmuan yang didalami penduduk Jalawastu, ada yang namanya keilmuan Aji Dwipa, sebuah ilmu yang mempelajari kemampuan komunikasi dengan alam. Mempelajari bagaimana cara memperlakukan hewan dan tumbuhan sebagaimana mestinya. Menciptakan sebuah fenomena lingkungan yang damai tentram dan jauh dari rasa takut. Avatar ilmunya nanti ke vatara (Fathorossamawati wal ardl). Kalki Avatara, Wisnu Bagad diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa dibilang Abdullah dan Usama Ani ialah Aminah. Artinya Kalki Avatara dalam khasanah Hindu dapat diartikan sebagai abdi Tuhan.

Mas Jion menceritakan kisah kepawangan ular, dimana semasa kecil Mas Jion senang bermain ular. Dipelajarinya ilmu tentang cara bagaimana agar ular itu tidak menggigit. Di kampungnya ada orang tua yang memberikan sebuah pelajaran melalui tahapan puasa, untuk ular kecil mungkin hanya bekisar 3 hari tapi kalau yang bisanya mematikan bisa mencapai 7 hari. Tujuan sebenarnya bukan untuk menguasai ular, akan tetapi mencoba untuk bisa berkomunikasi dan mempelajari bagaimana tentang karakter ular tersebut sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi. Kemudian ada Mas Ihda yang menceritakan kisah wali Allah yang punya istri galak. Dikisahkan seorang temannya datang ke rumahnya dan disuruh menunggu sampai sore hari. Ketika sore temannya tadi datang bersama macan dan bahkan membantu membawakan kayu bakar. Beberapa bulan kemudian dateng lagi ke rumahnya dan membawa kayu bakar sendiri. Dan ketika ditanya dimanakah macannya? Dijawab ternyata semenjak istrinya meninggal macannya tidak pernah datang lagi. Mungkin ini konsep pawang dengan mencintai bukan menguasai. Mas Ihda kemudian mempertanyakan memawangi hoax seperti apa?

Beberapa pantikan dari dulur-dulur yang hadir saling terkait satu dengan yang lainnya. Diawali dengan sebuah kisah kepawangan ular dimana sama seperti kisah Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dengan Abu Bakar. Di tengah lelahnya perjalanan lalu beristirahat sejenak di dalam sebuah gua. Rasa sayang Abu Bakar terhadap Kanjeng Nabi membuatnya menyediakan pahanya untuk dipergunakan sebagai bantalan. Kemudian terlelaplah Rasulullah dalam pangkuan Abu Bakar. Sementara Rasulullah tertidur, Abu bakar masih berjaga dan dalam kewaspadaannya melihat ular besar yang muncul dari sebuah lubang. Karena tidak ingin membangunkan Rasulullah maka ditutuplah lubang tersebut dengan kaki yang sebelahnya. Kemudian ular besar tersebut menggigit kaki Abu Bakar. Rasa sakit ditahan oleh Abu Bakar bahkan hingga meneteskan air mata. Lalu air matanya menetes hingga membangunkan Rasulullah. Ditanyalah Abu Bakar, kenapa menangis. Barulah Abu Bakar menceritakan bahwa ada ular yang muncul dari sebuah lubang. Rasulullah pun meminta Abu Bakar untuk membuka lubang tersebut dari kakinya. Kemudian ular tersebut berhadapan wajah dengan Rasulullah. Kemudian ular tersebut pergi. Ternyata ada dialog yang terjadi ketika ular tersebut berhadapan wajah dengan Rasulullah. Ular tersebut dulu pernah berdoa pada Allah SWT, “Ya Allah berikan saya kesempatan untuk menatap wajah Rasulullah kekasihMu secara langsung meskipun harus menunggu ratusan tahun”. Kemudian Allah memerintahkan si ular untuk ke gua itu menunggu kehadiran Rasulullah. Tapi ketika Rasulullah tiba, justru ada kaki yang menutup lubang. Maka digigitlah kaki tersebut. Usai pertemuan singkat tersebut, kemudian ular tersebut diminta pergi karena sudah bertemu dengan Rasulullah yang ditunggunya sekian lama. Dan kaki Abu Bakar diobati oleh Rasulullah. Disana Abu bakar menemukan pelajaran, yakni tentang buah kesabaran bahwa ular tersebut, maka trnyata ia bersama Rasulullah singgah ke gua itu bukan karena bersembunyi, tetapi adalah alur yang sudah menjadi kehendak Allah SWT. Betapa istimewanya si Ular yang berkesempatan dikunjungi Kekasih Allah yang sangat dirindukannya. Tentu bukan tanpa perjuangan, ular tersebut menebusnya dengan menunggu ratusan tahun dalam gua. Karakteristik ular ialah bertapa. Menelan makanan ditunggu sekian periode baru dikeluarkan dan dimakan lagi. Ular tersebut digambarkan secara lebih positif. Di kisah tersebut ular digambarkan sebagai kesabaran.

Kemudian yang disampaikan oleh Mas Ihda bahwa Allah menunjukkan tentang ketertundukan. Meskipun endingnya adalah hoaks. Hoaks merupakan kreasi dari makhluk. Seperti kuku panjang lalu dipotong. Padahal kuku terus ditumbuhkan oleh Allah. Namun karena manusia memiliki akal budi. Akal lebih ke arah analisis, dan budi cenderung berada di dalam hati. Di dunia ini ialah sendau gurau lalu mengapa kita serius. Apakah keseriusan ini juga merupakan salah satu bentuk hoaks? Apakah mungkin kita hidup di alam hoaks? Coba kita kerucutkan bahwa kata-kata sudah diplintir sedemikian rupa bahkan sampai terkotak-kotak. Termasuk istilah hoaks.

Coba kita bidik bagaimana Allah bikin “hoaks”. Karena semua adalah amtsal. Kita hidup pun sebuah permisalan. Karena di dunia itu hanya sebentar dan kekal ada di akhirat. Segala pembicaraan ini bukan tentang politik praktis. Politik tak praktis cenderung berorientasi menanam bukan sekedar mengunduh saja. Hoaks, ilusi atau permisalan sesungguhnya mengkonfirmasi kerangka penangkapan kita tentang sebuah informasi. Ada 5 (lima) metode menangkap informasi yakni melihat, mendengar, merasakan, mencium meraba. Sehingga kita akan merasakan perluasan. Pedas bukan hanya dari lombok. Merica, jahe pun pedas. Bahkan sandal, ulas Mas Agus sambil tertawa. Pedas lombok tidak mengartikan pedas yang sesungguhnya. Pedes yang sesungguhnya disembunyikan sehingga pemaknaannya linier bukan siklikal. Karena ilmu kita terbatas, maka perlu menggunakan 5 (lima) metode untuk memahami makna yang sesungguhnya. Garam dan asin mana yang lebih dulu diciptakan? Menurut Mas Agus asin lebih dulu diciptakan. Tetapi asin yang sesungguhnya bukan sekedar garam. Bila kita mampu meniru secara bentuk, ilmu hanya ada pada apa yang kita lihat. Kita akan meniru garam bukan pada asinnya tetapi pada bentuknya saja. Sedangkan rasa belum pasti sama asinnya. Kita tidak boleh terjebak pada satu cara, kita perlu pintu-pintu lain. Agar kita tidak termakan hoaks. Fenomena bikinan Allah pun bisa seperti itu. Seperti halnya adanya malam dan siang dibuat agar kita berpikir dengan akal kita, dlsb. Ini berfungsi untuk merangsang bagaimana kita menangkap informasi secara lebih utuh.

Mas Agus kemudian juga merespon dalam bentuk pertanyaan tentang preambule dari Mas Kasno. Dikatakan bahwa pawang ialah orang yang memiliki keahlian khusus. Lalu keahlian umum itu apa? Yang dikatakan ahli itu seperti apa? Kepawangan sebenarnya adalah karunia (fadilah). Pada wilayah kemampuan dan limitasi, yang dimiliki semua orang itu sama. Sebab semua orang mempunyai kemampuan dan limitasi. Karunia diletakkan pada orang yang wadahnya sesuai. Ilmu sebenarnya bukan sekedar untuk memudahkan hidup, tetapi yang penting ialah agar mendapat ridho. Mengenali kesulitan bukan dengan mencari kemudahan. Demikan ada yang bisa menerima ada pula yang tidak, bahkan ada pula justru yang bisa menyerapnya. Kebanyakan tidak sadar pada perilaku khusus yang tiba-tiba dapat serapan ilmu karena tidak sadar bahwa wadahnya telah terbentuk. Seperti halnya auliya yang bisa menaklukan macan tidak dengan serta merta sengaja ingin terbentuk sebagai penakluk macan. Namun mereka terlatih dengan dihadapkan pada situasi yang sulit. Yakni menghadapi istrinya yang galak. Kemudian mereka lulus atau tidak? Kalau lulus maka akan ada wadah yang lebih besar. Wadah ini akan menampung ilmu berupa kasih sayang. Power untuk istrinya yang galak bisa dialihkan untuk macan tersebut. Maka sekarang coba kita temukan kesulitan-kesulitan apa yang kita hadapi, sehingga bisa menjadi materi kepawangan. Orientasi sesungguhnya bukan sekedar keuntungan tetapi menghadapi segala masalah secara lebih proporsional. Dan hal ini bisa ditempuh dengan metode yang kita hadapi paling elementer terlebih dahulu.

Dalam contoh tadi misalkan, seorang auliya yang disandingkan dengan istri yang galak. Jika dalam pembalajaran akademis maka auliya tersebut akan dihadapkan langsung dengan macan. Sehingga akan ada tanding dan diperlukan kekuatan. Oleh karena kebuasan tidak harus disamadengankan macan, maka bisa kebuasan dapat diletakan pada galaknya sang istri. Berarti setingan cara tanding tidak selalu harafiah. Dalam kisah tersebut keberhasilan sang auliya menaklukan macan ialah karena berhasil menaklukan dirinya sendiri. Sehingga tidak diperlukan melawan dengan taring yang sama. Dalam falsafah Jawa inilah “menang tanpo ngasorake”.

Sebenarnya banyak kejadian atau fenomena tentang kepemimpinan. Pada jaman kekhalifahan Umar bin Khatab, hewan-hewan yang galak tahu diri. Suatu ketika ada penggembala kambing yang selama bertahun-tahun tak pernah diganggu oleh binatang liar dan buas. Pada suatu hari ia mengerjakan aktifitas seperti biasa namun hari itu berbeda, ada sekawanan serigala yang memangsa salah satu kambingnya, dengan sponten ia berkata “Wah ini tidak biasa… apakah Khalifah Umar telah meninggal?”, dan benarlah sang penggembala itu bahwa pada hari itu Sayyidina Umar telah wafat. Dan ternyata kondisi kepemimpinan seseorang memiliki pengaruh keteraturan yang mungkin saat ini belum pernah terbayangkan oleh para pemimpin dunia. Kisah ini sesungguhnya bisa menjadi inspirasi bagi para calon pemimpin. Apakah kita setia kepawangan itu ada di dalam atau hanya di luar diri kita?

Sayid Abdullah bersama Siti Aminah melahirkan Ahmad. Peristiwa itu memang sudah silami namun apakah peristiwa itu tidak bisa lagi terjadi secara jiwa? Bukankah peristiwa Nabi Adam as hingga Nabi Isa as jaman sekarang pun masih terus direkonstruksi oleh tiap-tiap manusia? Dengan kita semua merunduk pada asma-asma Allah SWT maka inilah metode Abdullah (metode yang kita gunakan untuk menghadap Allah SWT). Setelah kita merunduk maka juga memakai metode Aminah, bersikap aman terhadap semua makhluk. Sehingga segala produk-produk kita jadilah produk yang Ahmad. Satu Ahmad bertemu dan saling mengenal dengan Ahmad-Ahmad lainnya maka akan menjadi gumpalan ummat Muhammad SAW. Inilah kepawangan. Dimana manusia memiliki jiwa tunduk terhadap kasih sayang. Dan sadar bahwa kasih sayang utama hanyalah milik Allah SWT.

Andaikan manusia sekarang tidak dirangkai dengan sistem kamanungsan (kemanusiaan) maka orang-orang akan mengeluarkan kalimat-kalimat retorika tentang pentingnya rasa kemanusiaan dan kemenyatuan yang sulit untuk mencari contohnya. Bagusnya sudah ada contohnya dan bertahun-tahun sudah dicontohkan oleh Islam. Meskipun kamanungsan muncul tidak memandang agama manusia tersebut tapi pada fitrohnya. Seperti pada bayi baru lahir yang masih dekat dengan fitrohnya. Jika fitroh matching dengan kahanan (kondisi/keadaan) maka ketertundukan menjadi lebih mudah. Kepawangan di jaman umat Rasulullah bertujuan untuk menyempurnakan akhlak. Minimal menyempurnakan akhlak diri sendiri. Jika jiwa Rahmatan lil alamin klop dengan fitroh, maka akan bertemu dengan Al Fatir. Insya Allah dengan akhlak tersebut bisa menggiring orang lain tanpa harus dengan jalan menunjuk-nunjuk. Sebab orang lain punya akal, analisis, nalar serta observasi. Mengapa kita tidak mempercayai proses pembelajaran pada diri kita itu juga ada pada diri orang lain? Pantas dicoba untuk memawangi apa yang menjadi nafsu utama kita. Dimana kebuasan-kebuasan kita, itulah yg harus dipawangi.

Mas Kasno kemudian memperkenalkan Mas Yunan sebagai ketua klaster Paradesa Ken Sengkud (Simpul-simpul Maiyah Jepara, Demak, Salatiga, Kendal, Semarang, Ungaran dan Kudus). Mas Yunan merespon Tema Kepawangan, pada ulasan kisah Umar bin Khatab dengan hewan-hewan. Menyambung dengan diskusi beberapa hari ini Gus Aniq membuka kitab baru. Secara garis besar dalam kitab tersebut ada Segitiga Tritunggal Semesta. Allah, Manusia dan Alam. Tertulis disana tentang hubungan-hubungan ini bagaimana dalam perputarannya agar semua menjadi harmoni. Terkait dengan manusia dan hewan. Dulu mereka bisa saling berkomunikasi dan juga diduga saling memahami bahasa masing-masing. Tapi pada suatu peristiwa hewan itu mengejek manusia. Kemudian Allah mengingatkannya dengan cara bahasanya menjadi tidak dimengerti lagi oleh turunan Nabi Adam as. Begitupun sebaliknya. Terdapat contoh lain yakni pada anjing jelek yang dihina oleh Nabi Nuh as. Kemudian Nabi Nuh as dibuat menyesal dan menangis terus. Hingga Nabi Nuh diganti namanya yang semula adalah Abdul Ghofar. Hewan dan manusia akan diperingatkan oleh Allah jika saling mengejek. Kalau di Jawa, sesuatu yang terhormat juga akan berlaku pada benda dan hewan. Misalkan Kiai Slamet. Sehingga hubungan harmoni manusia tidak hanya pada saat sesrawungan saja. Dahulu hewan menempel di ruang yang paling intim dan bahkan bisa menjadi nama panggilan. Dan itu bukan malah menjadi hal yang memalukan. Jika dulu nama manusia banyak menggunakan nama hewan. Sekarang justru banyak memakai nama mobil dll? Apakah ini adalah sebuah kemunduran peradaban?

Direspon langsung oleh Mas Agus. Bahwa penyematan itu bukan hanya terjadi hewan. Bukan hanya Lembu, Mahesa dll. Tapi di Jawa ada juga nama guntur, bayu, tirta dll. Inilah bukti kecintaan mereka terhadap alam. Dalam Maiyah ada yang namanya Segitiga Cinta. Kita (hamba), Allah, Rasulullah. Dalam kitab yang diceritakan oleh Mas Yunan, sudut Muhammad SAW (Rasulullah) diganti dengan alam. Diterjemahkan secara lebih luwes bahwa salah satu dari kita bisa bersaksi kehadiran Muhammad karena kita berilmu. Maka akan sangat prigel membaca alam. Antara keprigelan dalam membaca otomatis sedang mengenali dan menjalankan dengan apa yg dilakukan oleh Rasulullah sendiri. Dan apa yg kita baca mengenai fenomena hewan, tumbuhan dll. Itulah cara kita berjumpa dengan kehadiran Muhammad sebagai utusan Allah yang paling terpuji. Sebab sebelum segala sesuatu diciptakan, kekasih yang paling terpuji bagi Allah telah diciptakan.

Sebenarnya setelah jaman Nabi Adam as masih bisa komunikasi dengan hewan, tumbuhan (alam). Seperti kisah Nabi Sulaiman as. Bisa berkomunikasi dengan hewan, jin dll. Selanjutnya coba kita terapkan pada sikap individual bukan komunal. Kita mengalami umur kekhalifahan, sadar atau tidak kita bisa menjinakkan binatang. Anak kecil bermain kobra. Kondisi fitroh (masih memegang) paugerane Adam. Akal semakin naik meskipun masih anak-anak tetapi sudah punya bahasa dan mampu mengenal yang lain. Menjelekkkan dapat pula salah-satunya dengan membuaskan. Oleh karena sifat baik dan buruk bukan di hewan tetapi di manusianya. Sifat baik itu bisa sama sekali tidak dimiliki oleh manusia. Sehingga jika kita berbuat baik, sabar, kasih sayang, bijaksana dll kita sebenarnya tidak bisa memproduksinya. Alllah meletakkannya pada manusia. Semakin kita mampu mengkoleksinya maka akan menjadi lebih mampu untuk mengidentifikasi bahwa baik dan buruk bukan ada di luar diri.Ada tercantum di Al Qur’an. Bahwa kita sama-sama membaca untuk mendapatkan sistem pembeda. Bukan hanya menjelekkan dan membaikkan yang lain. Kita akan merasa bisa memawangi. Tidak langsung menunjuk jika belum mengenali. Babi, anjing tidak haram jika tidak dimakan, kesemuanya pasti ada maksud yang menjadi kemanfaatan untuk manusia. Secara umum, najis diartikan pantang didekati dan dicintai. Kebocoran psikologi ini tidak hanya di kehidupan sehari-hari. Allah menciptakannya agar manusia tahu sifat-sifat buruk manusia sehingga dapat menjadi lebih proporsional.

Mas Aji kemudian juga diminta untuk merespon. Mas Aji menceritakan bahwa dulu di Mocopat Syafaat ada pemain Jazz dan ketika ditanya, kenapa bisa indah seperti itu? Hanya dijawab, saya memainkan apa yang saya dengar. Dulu penulis juga pernah ada. Saya hanya menulis apa yang dibisikkan. Keduanya adalah maestro dalam bidangnya. Dan mereka hanya menyampaikan apa yang Allah titipkan. Menanggapi Tritunggal Semesta, bahwa alam tidak memiliki opsi untuk tidak taat. Sedangkan manusia mempunyai opsi untuk ingkar. Ada proses intensifikasi dalam belajar dari beginner intermediate dan expert. Ada sesuatu yang awalnya di luar diri. Ada proses penghantar untuk sampai pada tahap maestro. Nanti akan ada pilihan memuja kemampuan diri atau diberikan untuk orang lain. Ada porsi ingkar, tetapi lebih memilih taat ketika sudah menjadi maestro. Bukan malah menjadi Fir’aun yang memberhalakan diri. Kesadaran komunikasi sampai pada Semesta juga berlaku pada ranah tersebut. Kepawangan disini juga ada luar dan dalam.

Mas Agus menambahkan, kepawangan adalah potensi untuk semua orang. Agar peradaban kita beranjak pada peradaban Rahmatan lil alamin. Peradaban yang sama-sama tunduk (rukuk dan sujud). Katakanlah nasi bisa menjadi hidangan adalah suatu keberhasilan. Karena ada nasi-nasi lain yang masih menjadi gabah. Tetapi gabah juga punya kemungkinan untuk menjadi nasi jika mau untuk berproses. Gabah, anggaplah manusia pada umumnya. Maka perlu dijemur, diselep atau ditumbuk, hingga ditanak agar dirinya bisa terhidang atau tersaji. Tersaji dengan tidak lagi tersembunyi pada kemasan-kemasan kecil tapi sudah menyatu dengan isi-isi yang lainnya. Kita punya kegembiraan terhadap Majlis tiba-tiba menyangka bahwa telah menjadi satu-satunya Majlis nasi. Itu sebenarnya masih imajiner. Inilah satu gabah (kemasan). Sementara yang dibutuhkan ialah sajian-sajian kemanfaatan. Ini adalah tolok ukur Rahmatan lil alamin.

Diskusi ditutup jam 00.18 WIB. Dengan kesadaran yang kita coba bangun salah satunya ialah kesadaran tentang batasan waktu. Sebagian pulang, meskipun banyak pula yang masih melanjutkan berdiskusi ataupun tidur di kediaman Mas Agus dan Mas Patmo sampai pagi menjelang. Sekian reportase kali ini semoga bermanfaat.

 

Andhika H

Road to Desa Jalawastu

Perjalanan ke Brebes dimulai dengan berkumpul di kediaman Pak Zam. Salah seorang sesepuh Majlis gugurgunung yang berdomisili Kendal. Hari Senin Tanggal 25 Maret 2019 dan kisaran waktu pukul 15.00 WIB. Kejutan bagi Pak Zam, sebab kedatangan kami memang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sepulang sholat ashar dari masjid masih di jarak kejauhan langsung tertawa lebar dan mempercepat langkah. Bahkan Pak Zam memang ada rencana untuk silaturahmi ke Bangetayu (Kediaman Mas Kasno) dalam 2 atau 3 hari ke depan. Tiga gelas kopi hitam panas segera disuguhkan sembari bertanya kabar dan memulai obrolan ringan. Pak Zam menceritakan sedikit progresnya untuk memulai perijinan pengolahan limbah dengan respon Mas Kasno berbekal pengalamannya dalam dunia proyek. Gerimis nampak ingin ikut bercengkerama, sehingga kami sedikit menunda perjalanan hingga kisaran pukul 17.00 WIB.

Mas kasno dan Oxypethalum yang mekar

Sebelum petang segera kami melanjutkan perjalanan ke barat (Brebes). Sesampai di Batang, kami singgah sejenak di Pom Bensin untuk maghriban. Langit mendung mulai bergeser sedikit menjauh dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Sesampai di Tegal, kami putuskan untuk beristirahat sembari makan malam. Nasi bakar isi jamur dan beberapa gorengan menjadi menu pilihan kami. Tegal memang menjadi pilihan untuk singgah, sebab sekalian pula menjumpai adik saya (Mas Andhika.red) yang memang bertugas di Tegal. Tak lama kami beristirahat, segera kami menuju Brebes dengan tujuan awal ialah rumah Mas Niza yang merupakan salah seorang kawan dari Mas Kasno, kerinduan dari keluarga Mas Niza bak sanak yang lama tak jumpa. Beberapa kuncup kembang Wijaya Kusuma nampak mekar malam ini, jelas ini sambutan khusus bagi Mas Kasno yang sangat mencintai dan nggulo-wethah tanaman-tanaman cantik itu dengan penuh perasaan. Apalagi bunga itu hanya mekar dalam satu malam saja. Salah satunya ialah jenis Oxypethalum yang mekar sejengkal tangan orang dewasa. Harum wangi semerbaknya menemani kopi hangat di bawah langit malam yang cerah. Wangi yang mengingatkan pada kisah Gedong Batu dan Burung Rangkok di hutan Jalawastu. Kemudian ibu Mas Niza yang belum tidur menyuguhkan tempe goreng dan mendoan yang masih mengepul.

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Bulan berbentuk mangkuk jelas terlihat diatas. Segera kami bersiap untuk mulai berangkat menuju Desa Jalawastu sebab Upacara Adat Ngasa memang dimulai pagi hari, biasanya masyarakat sudah berkumpul kisaran pukul 05.00 WIB. Mas Kasno masih teringat pesan dari salah seorang Dewan Kakolot (sesepuh desa) bahwa disana tidak boleh membawa perlengkapan berbahan kulit seperti sepatu, ikat pinggang, dompet, dll. Bahkan sebisa mungkin untuk tidak memakan daging sebelum berangkat. Setelah semuanya siap segera kami menyalakan motor dan langsung tancap gas menuju Desa Jalawastu. Diawali jalanan aspal lurus, dengan sawah di kanan kirinya beriringan dengan sungai-sungai kecil serta rasi lintang gubug penceng jelas terlihat diatas seakan menunjukkan jalan ke arah selatan yang memang Desa Jalawastu berada di Brebes bagian selatan tepatnya di lereng Gunung Kumbang.

Mas Niza, Saya (Andhika. red), dan Mas Kasno di depan gerbang Desa Jalawastu

Satu per satu Desa kami lewati dengan Gapura besar di tiap perbatasan pintu masuknya. Salah satunya desa Karangbandung dengan berhiaskan tulisan Nirbaya Reksa Wicara di bagian atas gerbangnya. Setengah jam sudah kami di perjalanan. Dan nampaknya Mas Kasno dan Mas Niza yang sudah beberapa kali berkunjung ke Desa Jalawastu pun tidak mudah untuk mengingat jalannya apalagi di malam hari seperti ini. Sempat pula kami salah mengambil jalan dan diberitahu oleh masyarakat sekitar yang kebetulan berada di luar rumah. Hutan yang lebat dan gelap mulai kami masuki. Jalanan yang dulu hanya dari bebatuan kini sebagian sudah diaspal. Meskipun masih banyak pula bagian jalan yang rusak parah. Sekitar satu jam kami melintasi lereng Gunung Kumbang dengan kondisi seperti itu. Hingga sampailah kami di bagian luar Desa Jalawastu.

salah satu rumah yang dipasang pohon pisang yang telah berbuah

Ada suguhan pandangan yang sedikit unik, yakni tiap-tiap rumah dipasang pohon pisang yang telah berbuah. Namun tidak ada keberanian bagi kami untuk mengambil buah pisang yang sebenarnya sudah matang tersebut. Tidak adanya sinyal operator membuat kami sedikit susah untuk mencari rombongan dari sedulur maiyah Cirrebes. Yang memang kami sudah berjanjian untuk bertemu dengan mereka di Desa Jalawastu ini. Namun karena susah berkomunikasi, kami justru segera memasuki desa untuk menuju rumah salah seorang Dewan Kakolot yakni Pak Wardi. Jam masih menunjukkan setengah tiga pagi, membuat kami sungkan untuk mengetuk pintu rumah Pak Wardi. Sehingga kami putuskan untuk beristirahat di kursi-kursi teras rumah warga untuk sedikit menghilangkan lelah perjalanan sembari ngobrol ngalor ngidul dan menghisap Sampoerna kretek yang kami bawa.

Tak lama berselang, sinyal HP mulai muncul dan kami segera menghubungi dulur-dulur maiyah Cirrebes untuk menghampiri kami di depan rumah Pak Wardi. Sambil menunggu, kami berganti kaos Gugurgunung dan sarung motif Batik. Tidak ada ketentuan sebenarnya tentang kostum hanya memang kami lebih senang menggunakan kaos dan sarung. Dari kejauhan nampak tiga orang berkaos hitam mendekat seraya mengucap salam. Ya, dulur-dulur Maiyah Cirrebes dan Tari Topeng Losari Sanggar Purwa Kencana yang mendatangi kami. Mas Heri, Mas Dani dan Mas Gandi. Kemudian kami diajak untuk beristirahat di rumah Pak Edi yang juga salah seorang sesepuh Desa Jalawastu ini. Rumah Pak Edi berada di bagian luar Desa Jalawastu. Sambutan dari tuan rumah pun sangat hangat. Suguhan kopi dan buah-buahan di atas tikar yang sudah tergelar membuat kami lupa dengan lelahnya perjalanan bahkan justru bercengkerama hingga pagi.

kami (Mas Kasno, Mas Niza, Mas Andhika), dulur-dulur Maiyah Cirrebes dan Tari Topeng Losari Sanggar Purwa Kencana

Mas Heri menceritakan tentang pengalaman-pengalaman dalam perjalanan Maiyah Cirrebes dan juga Tari Topeng Losari. Mas Heri juga merupakan salah seorang pengurus di Sanggar Tari Topeng Losari yang dipegang oleh Mbak Nani yakni kakak Mas Heri. Mbak Nani juga salah seorang penari Topeng Losari. Ada dua jenis topeng, yakni Kancil dan Kujang. Mbak Nani memegang Topeng jenis Kancil ini. Lanjut Mas Heri menceritakan ketika mengikuti Festival Sanggarung, Mbak Nani kehilangan bandana/selendang. Sudah dicari kemana-mana dan tidak dapat diketemukan. Ketika Bulan Desember, maiyahan Cirrebes pertama kali digelar di sanggar dan kebetulan dihadiri oleh Pak Toto. Malam itu Pak Toto meminta untuk Sanggar Tari Topeng Losari datang ke Mocopat Syafa’at dan Sekolah Alam (Salam) pada bulan depan (Januari) untuk dibuatkan workshop. Saat workshop banyak dihadiri oleh teman-teman Pak Toto, yang ternyata juga merupakan teman-teman sanggar dari Mbak Nani yang sudah lama tak berjumpa. Usai kegiatan di Jogja tersebut, Pak Toto memberikan kenang-kenangan berupa bandana/selendang yang ternyata sangat mirip dengan kepunyaan Mbak Nani yang hilang di Festival Sanggarung dulu. Tari Topeng Losari sudah pernah tampil di Kenduri Cinta (KC) dan Mocopat Syafa’at (MS). Ketika di KC banyak pula berdatangan orang-orang dari Cirebon. Seperti tukang sound lalu beberapa Jama’ah yang mengajukan pertanyaan.

Maiyah Cirrebes belakangan sedang disibukkan dengan menyediakan mesin pengolah sampah yang bersifat efisiensi dan ekonomis serta fasilitator (orang yang mengelola masyarakat). Mesin tersebut merupakan pengolah sampah bikinan Mas Heru yang hari ini kebetulan tidak bisa datang. Sampah-sampah yang sudah tidak terpakai diharapkan dapat diolah dengan mesin tersebut. Salah satu tujuannya bukan sekedar produk tetapi lebih ke arah perilaku sosial masyarakat. Jika dihubungkan maka akan membentuk perilaku dengan membawa produk sebagai solutif. Beberapa kendala sudah dialami oleh Maiyah Cirrebes. Pertama, tidak adanya minat sebab beberapa instansi pernah membeli alat serupa namun tidak ada pengelolanya. Kedua, Ada perebutan di kolektifan sampah. Benturan-benturan dengan Bumdes. Dimana Bumdes sangat berresiko terhadap money politik di dalamnya. Hanya sampah bernilai ekonomis yang diambil seperti plastik, besi dll. Lalu yang tidak bernilai ekonomis akan dikemanakan? Maka kita suguhkan solutif. Mesin ini bisa mengolah sampah basah dan sampah kering. Mesin ini mengolah plastik menjadi biji plastik baru yang lebih berharga tinggi. Fokus pada hal yang tidak bernilai ekonomis.

Mesin ini sudah terdistribusi ke beberapa tempat ataupun instansi. Si pembuat yakni Mas Heru pernah mendapatkan proyek pengadaan mesin ini senilai 20 M di Kecamatan Banyumas. Sedikit permasalahan, yakni ketika disana, bukan diambil secara tim tapi justru personal. Harga mesin ini kisaran 75 juta rupiah dengan kapasitas 4 kubik dan waktu olah ialah 4 jam. Ada mesin serupa dari Jerman, namun harganya tergolong mahal. Harga produk dari Jerman kisaran 150 juta dengan kapasitas hanya 2 kubik saja. Salah satu bentuk produk hasil dari pengolahan mesin ini ialah bentuk fly ash, abu yang bisa dipadatkan.

berfoto bersama masyarakat Desa Jalawastu sebelum menuju lokasi upacara adat Ngasa

Obrolan terus bergulir. Selain obrolan tentang mesin pengolah sampah, Mas Gunawan salah seorang anak dari Pak Edi (Dewan Kakolot) juga ikut nyangkruk pagi itu menceritakan tentang kegelisahannya pada penerus dari kaum muda Desa Jalawastu agar mempertahankan budaya dan tidak terbawa budaya dari luar. Mas Gunawan sendiri juga merupakan salah seorang pengurus Desa Jalawastu. Kisaran jam 05.30 WIB, semua bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi upacara adat Ngasa. Bulan masih terlihat berada tepat diatas kepala, dan dari arah timur matahari pun sudah mulai menampakkan wajahnya. Kami mulai berjalan kaki menuju lokasi. Melintasi sawah dan sungai-sungai yang jernih mengalir begitu derasnya. Masyarakat sekitar pun mulai berbaur di luar rumah dengan kostum putih-putih dari baju, sarung atau celana dan ikat kepala. Saling sapa, bercengkerama dengan bahasa yang digunakan ialah bahasa Sunda. Hiasan pohon pisang di depan rumah disertai semacam gawangan yang digantung bermacam buah-buahan. Keramahan warga khas desa sangat kental disana, termasuk juga kami ditawari untuk mengincipi buah-buah pisang yang tergantung di depan rumahnya.

Suasana di lokasi upacara adat Ngasa

Lokasi upacara adat Ngasa berada di dekat pesarean (makam) leluhur. Bebatuan semacam pondasi rumah menjadi pembatas yang diatasnya dibentangkan kain-kain panjang berwarna putih. Bakul-bakul berisi nasi jagung dan sayuran sudah tersedia diatas terpal dan tikar yang digelar untuk duduk masyarakat yang mengikuti upacara adat. Jam 06.50 WIB dua tandu yang memikul pisang berbentuk seperti gunung dibawa memasuki lokasi upacara adat. Tua, muda, lelaki, perempuan jadi satu di lokasi tersebut. Rombongan anak-anak sekolah yang masih mengenakan seragam juga tak mau ketinggalan meramaikan acara. Upacara sedikit tertunda disebabkan menunggu beberapa pejabat molor yang belum datang. Jam 07.00 WIB barulah dimulai pembukaan. Dan sambutan-sambutan termasuk salah satunya dari wakil bupati Brebes. Bebarengan pula di belakang kami nampak beberapa ekor monyet yang seakan ingin ikut bergabung dan justru menjadi pilihan tontonan bagi anak-anak sepanjang acara. Pukul 08.00 WIB, upacara ditutup dengan do’a-do’a dari Sesepuh Desa dan juga Juru Kunci. Bahasa yang digunakan ialah bahasa Sunda kuno. Agak sulit diartikan namun bisa kami pahami sedikit-sedikit. Kuncen memimpin do’a:

Pun sadupun arek ngimankeun
titiwalari kanu baheula.

Titiwalari ti baharu, taratas tilas
nu baheula cuwang mumunjang.

Anak putu sakalih, ka Indung ka Bapak,
ja Nini ka Aki, ka Buyut ka Bao,
ka Bumi, ka Langit, ka Beurang, ka Peuting,
ka Basukana, ka Basukina.

Kanu antek kaluhuran.
Kanu antek kararahaban.

Kanu suci paweta.
Kanu kadi srengenge katinggangeun.
Kanu kadi Bentang kapurnaman.
Kanu kadi Bulan kaopat welasna.

Kanu kadi Saloka Jinibar.
Kanu kadi Emas winasukan.
Kanu kadi inten winantaya.

Kanu kadi hujan meneurang kapoya na.

 

Usai do’a dilantunkan, semua yang hadir dipersilahkan untuk menyantap nasi jagung dengan menggunakan lembaran daun pisang sebagai piring. Prosesi yang sangat mengingatkan kami dengan dulur-dulur Gugurgunung. Nasi jagung, oseng-oseng kacang panjang, lalap daun gunung, petai, dan jengkol menjadi menu dalam upacara ini. Nampak salah seorang ibu “memarahi” saya ketika saya mengambil jengkol dan petai, dimana menurut keterangan ibu tersebut tidak boleh makan petai dan jengkol secara bersamaan. “Bisa sakit perut” katanya dalam bahasa Sunda. Usai makan langsung kami kembali menuju ke rumah Pak Edi. Namun sampai di balai Desa, Mas Kasno dipanggil oleh Pak Wardi (salah seorang Dewan Kakolot) dan dipersilahkan untuk makan nasi dan lauk pauk seperti ayam lengkap dengan sayur-mayurnya. Sedikit catatan bahwa warga Desa Jalawastu tidak menggunakan beras sebagai bahan makanan pokok. Disini lebih menggunakan umbi-umbian dan jagung. Namun nasi dan daging disediakan hanya untuk para tamu dari luar.

Usai makan kami langsung turun ke rumah Pak Edi. Disana pun kami sudah disiapkan makanan lagi oleh Istri dari Pak Edi. Nasi, daging kambing, daging ayam dan juga sambal tersedia di tikar yang kami gunakan untuk melingkar pagi tadi. Keramahan dan cara menghargai tamu yang luar biasa bagi kami. Bukan sekedar tentang pilihan menunya saja namun mereka menyediakan sesuatu yang bukan menjadi bahan makanan pokok dan hanya tersedia ketika upacara adat saja untuk diberikan pada tamu-tamu dari luar. Obrolan-obrolan masih terus berjalan, dengan tema menggali tradisi di Desa Jalawastu serta Tari Topeng Losari hingga menjelang sore. Sebelum berpamitan Mas Kasno sempat memberikan Buku Desa Purwa dari Mas Agus kepada Mas Gunawan yang nantinya diberikan kepada Ketua Adat Desa Jalawastu.

Mas Gun adalah salah satu pemuda terpilih yang ditunjuk untuk ikut melestarikan Desa Adat. Singkat cerita mengalami fase “capek dan hampir putus asa dari tugasnya tersebut”. Buku ini juga lanjut diserahkan pada Pemangku atau Ketua Adat. Ketua Adat yakni Pak Dastam mengatakan bahwa ada juga yang baru saja memberikan buku di acara Ngasa tahun ini, da njudul adalah: Galuh Purwa.

“Ada apa ini kok purwa-purwa semua?” Kata Pak Dastam sambil sedikit tertawa. Apresiasi hangat diberikan oleh Pak Dastam pada beberapa orang yang masih peduli terhadap tradisi. Rasa haru nampak terlihat di pelupuk mata beliau. Yang kemudian mengatakan demikian.

“Sejatinya kita ini adalah orang gila di jaman sekarang masih mempertahankan tradisi. Beberapa pengaruh modern sudah mulai masuk Jalawastu dan sedikit merubah karakternya. Mulai terasa pergeseran dari Jalawastu yang sesungguhnya. Lalu bagaimana ini Jalawastu nantinya? Namun masih sedikit lega karena generasi muda masih mau ikut Ngasa. Mudah-mudahan nanti dengan buku ini bisa tergetar dan jadi kesinambungan.”

Mas Kasno menjawab demikian, “Pak Dastam dan Mas Gun, kami datang jauh dari Semarang, dari Majlis Gugurgunung Ungaran, datang ke sini untuk menyampaikan terimakasih kepada Panjenengan dan Masyarakat Jalawastu yang telah menjaga kelestarian adat yang begitu penting ini. Kecintaan dan kerinduan kami pada khasanah kepurwaan ini mencoba kami tulis dalam sebuah buku tersebut. Kami titip Jalawastu ini, kami titip “Desa Purwa” ini…”

Tak ada kata lagi yang bisa kami ucapkan selain mengangguk, berterima kasih dan menghisap rokok. Memasuki senja dengan cuaca yang sedikit gerimis, kami segera berpamitan untuk turun. Sebelum berpisah dengan dulur-dulur Maiyah Cirrebes kami sempatkan mampir di warung makan untuk mengisi perut. Salam hangat perpisahan meninggalkan bekas kerinduan dengan harapan semoga akan kembali dipertemukan. Sebelum kembali ke Kendal (kediaman Pak Zam) Mas Kasno mengajak singgah sejenak di Pondok Mbah Yai yang dulu sering disambanginya ketika masih bekerja di Brebes. Hanya sebentar disana langsung kami kembali ke rumah Mas Niza untuk mempersiapkan diri kembali pulang. Buah tangan dari Mas Niza seperti biji Kembang Wijaya Kusuma dan Seruling Bambu semakin menambah kebahagiaan. Kisaran pukul 02.00 WIB kami langsung berpamitan pulang. Sekian reportase perjalanan Majlis gugurgunung ke Desa Jalawastu Brebes. Semoga bermanfaat.

 

Andhika H & Kasno