DOLANAN ING NJABA

Yo prakanca dolanan ing njaba

padhang mbulan padhangé kaya rina

rembulané kang ngawé-awé

ngélikaké aja turu soré-soré

 

Tembang dolanan di atas mungkin tak asing di telinga generasi yang lahir di tahun 90an ke bawah. Tembang dolanan Padhang Bulan yng ditulis oleh bapak R.C. Hardjasoebrata, adalah salah seorang komposer Karawitan Jawa pada era 1950 sampai 1970. Beliau lahir pada 1 Maret 1905, di Sentolo, Kulonprogo, DIY, dikenal sebagai guru, ahli seni tembang dan seni karawitan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Tembang ini sering dilagukan ketika bermain di luar rumah tatkala bulan purnama dengan riang gembira. Yang tentu dalam bermain tetap dalam naungan pengawasan kedua orang tua. Jika kita lihat dari metode pembelajaran dari tembang di atas. Maka dapat kita ambil satu gambaran pengajaran ke dalam ( internal learning ) dan pengajaran keluar ( eksternal learning ) dengan output perilaku sosial.

Dolanan = bermain dan bersanda gurau (kehidupan dunia)

Ing njobo : di luar. Setelah menempa dolanan internal (puasa) saatnya untuk bermain di luar : dolanan ing njobo. Dolanan, dalam bahasa Indonesia artinya : “Bermain” lalu bertaut dengan kata lainnya, seperti : mainan, main-main, dst. Kata-kata tersebut pada ranah anak-anak masih mempunyai kesamaan makna, yakni bersenda-gurau dan berinteraksi dengan riang. Fenomena bermain pada orang dewasa, justru mengalami distorsi makna sebab mulai dimasuki konsep baru seperti: kompetisi, tata aturan, manipulasi, taruhan, target, winner, loser, top scorer, best player, prestise, underdog, dan banyak lagi istilah-istilah yang makin membuat permainan terasa rumit dan njelimet.

Ketika terang bulan, anak-anak yang bermain terhimpun dalam satu nuansa kegembiraan, lahan lapang atau ruang yang relatif luas dipilih karena melibatkan banyak personal, dengan bermacam-macam karakter, dan macam-macam keunikannya. Keragaman yang sedemikian itu bisa tetap gembira bersama sebab mampu bersepakat dengan aturan main dari dolanan tersebut. Sebuah indikator, “ada nilai kasantikan” di situ, karena terbukti universal.

 

Puasa adalah Madrasah

Jika Puasa adalah lingkup pendidikan, maka pada buku-buku filsafat pendidikan, perkembangan peserta didik, dan buku buku lain yg banyak digunakan sebagai referensi pendidikan kita, secara umum mengenal istilah konsep “Taksonomi Bloom” yang ditulis oleh Benyamin Bloom, kurang lebih demikian; “Perkembangan Pendidikan pada peserta didik itu dipengaruhi oleh tiga faktor penting, yaitu : Aspek Kognitif, Aspek Afektif, Aspek Psikomotorik. Apa yang diuraikan bloom ini jauh-jauh hari telah diisyaratkan secara lebih kemperehensif di dalam Al Qur’an.

Salah satu Marja’ maiyah yakni Bapak Ahmad Fuad Effendi mengatakan dalam salah satu tulisannya yang berjudul ‘Ramadhan adalah Madrasah’ : “Tujuan pendidikan adalah terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku sebagai produk dari pendidikan puasa itu dalam bahasa Al-Qur`an (Al-Baqarah: 183) dirumuskan dan dipadatkan dalam satu kata tattaqun (kalian bertakwa). Digunakannya verba tattaqun dan bukan nomina muttaqun menunjukkan bahwa takwa adalah sebuah proses yang dinamis dan tidak pernah berhenti sepanjang hidup. Ijazah lulusan madrasah Ramadhan tidak diberikan oleh lembaga apapun dalam secarik kertas atau gelar, tapi diberikan oleh masyarakat setelah melihat sikap dan tingkah lakunya”.

QS.Al-Baqarah: 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“.

Masih dari Al Quran, ketiga aspek di atas bisa kita temukan pula dalam kalimat sbb:

QS.Al-Mulk: 23 Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati“. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Ataupun seperti kalimat : ‘tadzakaruun’, ‘tasykuruun’ sebagai aspek afektif. Kalimat : ‘tafakaruun’, ‘ta’qiluun’, sebagai aspek kognitif. Dan konsep bergerak  sebagai aspek psikomotorik yang temaktub dalam beberapa kalimat seperti :

QS.Ali-Imran: 137 “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.

Ada lagi kalimat yang sering kita dengar sebagai berikut : QS.Ar-Ra’d: 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, dan masih banyak lagi.

Mari sejenak kita luangkan untuk keluar dari bilik penempaan kita masing-masing untuk bersama melingkar mengasyiki dolanan ing njaba. Silakan hadir di majlis gugurgunung dengan perasaan gembira, penuh sukacita, kita unduh bersama karunia waktu dan kesempatan dengan suasana riang untuk siap mengunduh bersama kucuran berkah yang Maha memberikan Pengajaran dan Hikmah.

MANAJEMEN BHINNEKA TUNGGAL IKA – Meruwat dan Merawat keanekaan

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Bhineka Tunggal Ika sebenarnya? Dan bagaimana langkah untuk mengolahnya?

Disini kita akan belajar dari yang paling dekat, yakni tubuh kita sendiri. Ada salah satu organ tubuh kita yakni tulang punggung. Tersusun atas 33 ruas tulang yang bekerja sebagai penopang tubuh atau bisa dikatakan sebagai penopang keberagaman organ tubuh agar tetap berjalan sebagaimana fungsinya masing-masing dengan tugas masing-masing dan karakteristik masing-masing dengan tujuan yang sama, yakni saling bekerjasama menopang hajat hidup manusia dalam menegakkan pengabdian.

Data medis menyebutkan, bahwa susunan tulang belakang sudah terbentuk pada fase pertama, yaitu fase Nutfah/Sulalah. Adapun rincian fase Nutfah adalah sebagai berikut:Continue reading

SAMBUNG ROHSO

Mendekati bulan Puasa biasanya banyak masyarakat kita melaksanakan tradisi-tradisi yang diturunkan oleh leluhur masing-masing. Salah satunya adalah Nyadran. Dimana tradisi ini biasanya diperingati di bulan Rajab atau Ruwah, atau bahkan keduanya. Rangkaian acara di dalamnya pun memiliki kesamaan di berbagai daerah yang melangsungkan tradisi ini, yakni sedekah bumi, zaroh makam leluhur, berdoa bersama, dan dilanjutkan makan bersama.

Jika dicermati dari asal kata nyadran = ny-sradan, Sradan berasal dari istilah Srada yang artinya adalah suci. Seiring berjalannya waktu, istilah sradan menjadi nyadran. Adapun kata sraddha, dalam bahasa Jawa Kuno memiliki makna sebagai perilaku suci untuk mengenang, mendoakan, ataupun memuliakan roh-roh leluhur yang sudah bersemayam di alam baka.

Apakah ini merupakan hasil elaborasi budaya (atau istilah tepatnya apa) dalam sarana dakwah, namun masih mengakomodir budaya sebelumnya? Kenapa hampir di semua daerah yang melaksanakan tradisi ini sepakat melaksanakannya di bulan rajab dan ruwah?

Marilah duduk melingkar dalam pertemuan rutin Majlis Gugurgunung yang bertempat di Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi’in Bodean RT. 02 / III Klepu Pringapus Kab. Semarang pada malam minggu tanggal 28 April 2018 pukul 20.00-selesai.

Marilah melingkar melepas rindu, marilah melingkar mengupas waktu, marilah melingkar dan bertukar.

Desa Purwa

Mukaddimah Maiyah Kalijagan edisi 6 April 2018 dengan tema “Desa Purwa”

Mukaddimah Maiyah Kalijagan edisi 6 April 2018

Wacana mengenai manusia tidak akan selesai sampai manusia diselesaikan oleh Allah. Namun yang perlu dipelajari manusia yakni asal-usulnya, sebagai penanda, pemetaan, penataan, perenungan dan sangu untuk berjalan di kesekarangan dan menuju masa depan. Dari asal-usulnya, manusia akan menemukan kesejatian hidupnya pula, yakni Allah sebagai desa wiwitan, Al Awwalu. Ya, dari desa, peradaban manusia mulai terbentuk oleh tatanan sistem yang telah Allah sabdakan dalam satu kata “Kun” di surat Yaasin.

Dari “Kun”nya Allah, bependarlah cahaya kehidupan, terciptanya makhluk-makhluk, tatanan jagad semesta dan segala ubo rampenya, termasuk desa. Khususnya desa, ada yang menarik untuk kita pelajari. Salah satunya mengenai pilar utamanya, yang pertama adalah spiritual. Kedua: pemikiran, jiwa, ideologi dan pranatan. Ketiganya yakni sandang, pangan, juga papan. Mengenai jalinan dan ikatannya, desa tidak bisa dilepaskan dari tiga subyek: Tuhan, Manusia dan Alam. Dari tiga pilar utama dan subyek jalinan tersebut ada tujuh hal yang tidak bisa kita pisahkan juga. Yakni i am, i feel, i think, i love, i speak, i see, dan i understand dalam konsep cahaya yang utuh dan manunggal. Dan desa yang utuh dan manunggal adalah desa di atas desa, desa yang tidak sekedar gemah ripah loh jinawi (baldatun thoyyibatun), lebih dari itu masyarakatnya mendapat pangapura dari Allah (Rabbun ghofur).

Desa sebagaimana konsep baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur dalam buku “Desa Purwa” disebutnya sebagai Paradesa. Secara linguistik, kata “paradesa” kemudian diadopsi menjadi kata “paradise”(di negara Inggris dan sekitarnya) dan “firdaus”(di negara Arab dan sekitarnya). Jika memang begitu, maka tak mengherankan kalau nuansa yang kita imajinasikan mengenai surga (paradise/firdaus) tidak jauh berbeda dengan nuansa paradesa. Banyak tanaman hidup didukung tanah yang subur, kondisi sandang, pangan dan papan yang makmur, serta masyarakat yang taat pada Sang Ada, Hyang Widi, Arrohman, Allah, Tuhan semesta raya.

Namun apakah hal itu masih bisa kita temukan di tengah penjajahan elit global, konspirasi global atas kapitalisme kerakusan fir’aun raja naga, namrud paman sam? Penggusuran desa demi kemaslahatan perut konglomerat unta, naga dan koboi? Sehingga penduduk paradesa agaknya kelimpungan dan lupa bahwa muasalnya adalah desa, paradesa, firdaus, paradise dan mereka harusnya nanti kembali ke sana. Ada pula masyarakat desa yang rela menyesatkan diri di belantara jalanan kota. Maka selebihnya mengenai desa mari kita diskusikan lebih mendalam, tenang dan mesra sebagaimana nuansa surga yang mengalir sungainya dan tumbuhnya banyak pepohonan dan hidup tentram bersama binatang. Mari pulang kepada keabadian desa sebagaimana tema Kalijagan April 2018, “Desa Purwa” adalah sebuah judul buku yang ditulis mas Agus Wibowo dan diterbitkan Maiyah Gugur Gunung Ungaran.

[Redaksi Kalijagan]

*Sumber: https://www.kalijagan.com/2018/04/02/desa-purwa/

Sinau Mulat

Sinau Mulat – Rutinan Majlis GugurGunung Tanggal Maret 2018

MajlisGugurgunung:: Segala hal yang telah diciptakan akan kita temukan bahwa semuanya saling berpasangan. Keadaan terbagi menjadi dua bagian yakni kakawin dan reridu. Kakawin digambarkan sebagai keadaan yang indah, baik itu dipandang, didengar, dicecap dan dirasakan. Sedangkan reridu ialah sebuah keadaan yang tidak tenang, gelap, ruwet dlsb. Oleh sebab itu setiap 8 tahun disebut sebagai windu (kakawin dan reridu). Yang perlu kita maknai ialah, tiap delapan tahun kita tengok kembali ke belakang dan evaluasi langkah dalam laku yang sudah dijalankan. Apa yang lebih banyak didalamnya? Hal baik kah? Hal buruk? Kakawin? Atau reridu? Seperti bertolak belakang, Kemudian “akan kita temukan bahwa semuanya berpasangan”

Fungsi dari mengamati dan meengevaluasi langkah hidup ini agar tetap menegakkan niat menjalani hidup hanya untuk kembali kepada nol atau kekosongan. Agar memahami kekosongan sebaiknya mengerti pada letak, untuk memahami letak sebaiknya mengerti untuk evaluasi, untuk bisa evaluasi sebaiknya bersyukur telah diberi hidup, untuk bisa menjalankan kehidupan harus mengerti peran, untuk mengerti peran harus berbuat, untuk bisa berbuat harus beranjak, untuk beranjak harus ada niat. Dan sebaik-baiknya niat adalah ALIF.

Marilah duduk melingkar dalam pertemuan rutin Majlis gugurgunung yang bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran Kab. Semarang pada Malam Minggu tanggal 31 Maret 2018 pukul 20.00 WIB. Mari bertukar pikiran, saling mengevaluasi diri untuk menetapkan langkah ke depan.