SASI TEMBANG WULAN TEMBUNG – Fitrah Makna & Tugu Kata

Sejuk menyelimuti malam. Hening yang seolah memuat banyak makna, penuh oleh kemungkinan-kemungkinan yang belum terucap. Tepat pada malam Minggu, 28 Maret 2026, Rutinan Sinau Bareng Majlis Gugurgunung kembali digelar. Bertempat di Griya Surya Pringsari No.49, Pringapus, Kabupaten Semarang—ruang sederhana yang malam itu menjadi tempat berlabuhnya rasa dan makna.  

Mengangkat Tema “Sasi Tembang Wulan Tembung” dengan tagline: “Fitrah Makna, Tugu Kata.” Sebuah tema yang berkaitan dengan bulan syawal yang banyak bertaburan kata-kata dan doa yang indah. Maka, malam itu adalah bagian dari pengkhidmatan bulan kembali ke fitrah dengan jembatan menelusur fenomena bahasa. Bagaimana bahasa itu bermula dan untuk apa bahasa itu diadakan. Penelusuran ini tidak sekadar untuk dipahami, tetapi untuk didekati perlahan… dirasakan… dan mungkin, diingat kembali. 

Sejarah Khalifatullah dan Tahap Bahasa 

Sinau bareng malam ini seolah mengajak setiap yang hadir untuk mundur sejenak—bukan ke masa lalu, tetapi ke dalam diri namun dihantarkan dengan penjabaran tahapan penciptaan Nabi Adam AS dari fase terlembut hingga paling kasap, dari yang paling murni hingga yang paling wujud. Ada satu titik dalam keberadaan manusia, di mana memahami tidak membutuhkan kata. Tidak ada tafsir, tidak ada penjelasan. Hanya ada kehadiran yang utuh… dan pemahaman yang langsung. Namun perjalanan manusia tidak berhenti di kejernihan itu.  

Lapisan demi lapisan mulai menyelimuti: akal, akhlak, adab… hingga pikir dan nafsu. Bukan sebagai penghalang semata, tetapi sebagai medan ujian—tempat manusia belajar membedakan, merasakan, dan memilih arah. Di situlah bahasa mulai berubah. Dari yang langsung menjadi berlapis. Dari yang jernih menjadi penuh gema. Syawal hadir sebagai pengingat: bahwa kejernihan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk disadari kembali. Maka sinau bareng malam itu bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk membuka kemungkinan—bahwa mungkin, kita hanya perlu belajar mendengar kembali.  

 

Tujuh Perangan 

Diskusi kemudian menelusuri tujuh lapisan dalam diri manusia—sebuah perjalanan dari yang paling jernih hingga yang paling tampak.  

Manusia sejatinya adalah makhluk yang diciptakan dengan bahasa sebelum kata-kata. Bahasa itu bukan bunyi—melainkan respon kesadaran terhadap kehendak Ilahi. Respon ini dimulai yang paling peka dan bening. Lalu selapis demi selapis menuju ke respon yang paling lamban. Maka perespon yang paling peka ini dititahkan sebagai penasihat utama untuk lapisan-lapisan berikutnya. Semakin bertambah unsur wujud, semakin ada rentang jarak. Namun Allah mengaruniakan pendengaran agar jarak tak mengurangi kedekatan. 

Pertama, konsep “Bahasa Rahmah”. Ini menarik karena tidak memakai bahasa sebagai alat komunikasi, tapi sebagai kehadiran makna itu sendiri. Manusia di fase ini bukan memahami lewat logika, tapi lewat penyatuan—makna langsung “hinggap” ke kesadaran tanpa proses. Ini kayak kondisi pra-dualitas: belum ada subjek-objek, belum ada jarak antara yang memahami dan yang dipahami. 

Kedua, “Bahasa Rahiim” kelanjutan yang rapi dan konsisten dari fondasi sebelumnya, tapi benar-benar “menumbuhkan” lapisan baru dari yang sudah ada. Di sini berkembang relasi bertingkat berkesinambungan: Iman → Akal  

Jadi akal di sini bukan sumber kebenaran, tapi penerjemah dari kesaksian iman. Dan “Bahasa Rahiim” kalau sebelumnya “Rahmah” itu murni tanpa medium, sekarang mulai ada “kelembutan yang sudah bertirai”. Artinya: 

  • sudah ada jarak,  
  • tapi jaraknya masih penuh kasih, belum terdistorsi. 

Berikut gambaran lengkap dan ringkasan bahasan malam itu. 

Dalam dirimu, ada tujuh perangan—tujuh lapis penerjemah wahyu kehidupan.  

 

1.⁠ ⁠IMAN — Bahasa Rohmah (Tanpa Jarak) Ini adalah fase pra-kata. Belum ada tafsir, belum ada logika—hanya langsung paham. Di sini berlaku hukum: “Aku berkehendak, maka engkau mengerti.” Ini sejalan dengan isyarat Al-Qur’an: bahwa manusia diajari asmaa kullaha (nama-nama, makna terdalam realitas).  

Adzan: Allahu Akbar → penegasan asal 

Bahasa: Rahmah 

Udzunun: Allahu Akbar → resonansi murni  

Talbis: belum mampu menembus Ini  

Fatwa Iman menjadi penasehat akal. 

 

2.⁠ ⁠AKAL — Bahasa Rohim (Mulai Terjemah)  

Akal mulai bekerja, tapi masih tunduk penuh pada Iman. Ia seperti bayi yang menerima dunia tanpa curiga. Di sini manusia mulai bersaksi.  

Adzan: Ashhadu an la ilaha illallah 

Bahasa: Rahiim 

Udzunun: mengafirmasi kesaksian  

Talbis: mulai muncul → memfitnah (membelokkan makna)  

Kurikulum: Sidiq & Tabligh  

Artinya: benar dalam memahami, benar dalam menyampaikan. 

Fatwa Akal menjadi penasihat Akhlak 

 

3.⁠ ⁠AKHLAK — Bahasa Rohman (Peneguhan Cahaya)  

Akhlak adalah manifestasi dari yang sudah dipahami. Bukan lagi sekadar tahu, tapi menjadi. Di sini manusia mulai menyadari keterhubungannya dengan Nur Muhammad—sebuah konsep penting dalam Tasawuf.  

Adzan: Wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah 

Bahasa: Rahman 

Udzunun: menghidupkan keteladanan  

Talbis: memusuhi (menolak kebenaran yang sudah jelas)  

Kurikulum: Amanah & Fathonah 

Fatwa Akhlak menjadi penasihat Adab 

 

4.⁠ ⁠ADAB — Bahasa Batin (Ambang Ujian)  

Di sinilah game dimulai. Adab bukan hanya sopan—ia adalah kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam realitas.  

Mulai ada: Relasi kompleks Interaksi beragam makhluk. Aktivasi kesadaran halus (kamu menyebut pineal—simbol pusat persepsi batin).  

Adzan: Hayya ‘alash sholah 

Bahasa: Irham (Bahasa bermuatan perintah menebarkan Rahmat) 

Udzunun: La haula wala quwwata illa billah 

Talbis: masuk lewat waswasu, bisikan yang tersembunyi. Menunggangi jalur bahasa Irham.  

Mulai berlaku hukum: Sirotunnubuwwah vs Sirotuttalbis  

Dan pertanyaan kunci: Telingamu (udzunun waiyah) lebih setia ke panggilan mana? 

Fatwa Adab dari nasihat akhlak menjadi penasihat kepada Pikir. ‘Fatwa’ Adab dari bisikan waswasu menjadi pengeruh pikiran. 

 

 5.⁠ ⁠PIKIR — Bahasa Tanya (Friksi Kesadaran)  

Pikir adalah ruang antara yakin dan ragu. Mulai mengakomodir suara yang tidak hakiki, termasuk suara dirinya yang lebih rendah. Di sini manusia mulai: bertanya membandingkan bahkan membantah. 

Bahasa: Jalur Ilham 

Adzan: Hayya ‘alal falah  

Udzunun: tetap kembali ke la haula wala quwwata  

Talbis: masuk lewat pujian, Ini halus sekali, sebab pujian bisa membuat manusia lupa arah. 

 

6.⁠ ⁠NAFSU — Bahasa Penasaran (Tarikan Dunia)  

Di sini kisah Nabi Adam menjadi cermin. Peristiwa khuldi bukan sekadar pelanggaran, tapi: simbol dari rasa ingin tahu yang tidak dijaga oleh adab. 

Bahasa: Jalur Bathin 

Adzan: Allahu Akbar  

Udzunun: mengingat kembali kebesaran Allah  

Talbis: masuk lewat sanjungan  

Bedanya: Pujian (pikir) → mengganggu arah Sanjungan (nafsu) → mengikat hati  

 

7.⁠ ⁠JASAD — Bahasa Residu (Jejak Perwujudan)  

Jasad adalah hasil akhir dari seluruh proses batin. Ia membawa residu keputusan-keputusan sebelumnya. 

Bahasa: Jalur Amtsal, Perumpamaan, Hamparan Ciptaan. 

Adzan: Laa ilaha illallah  

Udzunun: Penegasan Tauhid  

Talbis: pemujaan (mengultuskan selain Allah).  

Ini titik paling rawan: ketika simbol dianggap sumber. 

 

Di tengah semua itu, ada satu kunci: Udzunun Wa’iyyah — bejana dengar dalam diri manusia. Ia yang menentukan: apakah kita lebih mendengar panggilan fitrah, atau justru terjebak dalam agresi gema talbis. Ketika Udzunun Wa’iyyah selaras dengan jalur sirothunnubuwwah, Insya Allah manusia berpotensi kembali pada posisi terbaiknya: ahsanu taqwim. 

Diskusi mengalir dengan begitu hangat dan khidmat meskipun hanya dihadiri beberapa orang saja. Dulur-dulur yang hadir mencoba mengaitkan tujuh lapisan ini dengan pengalaman pribadi, dimana kadang kita merasa “tahu”, tapi tidak benar-benar “mendengar”. Bahwa mungkin yang perlu dijaga bukan hanya apa yang dipikirkan, tetapi bagaimana cara mendengar. Karena dari situlah, arah langkah seringkali ditentukan.  

Bahwa di balik riuhnya kata-kata, masih ada bahasa yang lebih jernih, yang tidak selalu terdengar, tetapi selalu ada. Dan mungkin, perjalanan ini bukan tentang mencari yang baru, melainkan mengingat kembali suatu hal yang sejatinya kita sudah diberitahu. 

Sinau bareng menuju puncaknya di pukul 01.30 WIB. Suasana yang terasa lebih hening dan lebih dalam. Do’a dipanjatkan sebagai ucapan syukur atas terselenggaranya perjumpaan lahir dan batin, bergandengan bersama mengingat dan mendengar tentang apa yang sejatinya patut untuk didengar dan diingat. 

 

-Majlis Gugurgunung- 

IRIGASI 8 ASNAF – Gerak Pulang Hati Petani

Sinau Bareng dimulai pada pukul 20.39 WIB. Acara dibuka dengan do’a yang dipimpin oleh Mas Agus, diikuti pembacaan tawashshul oleh Pak Tri. Namun sesungguhnya, yang dibuka malam itu bukan sekadar sebuah acara. Yang dibuka adalah ruang kesadaran, ruang di mana manusia belajar kembali mendengar dirinya sendiri. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sinau Bareng bukanlah ruang untuk menambah kepintaran, melainkan ruang untuk merawat kehidupan batin. Sebab seringkali manusia tidak kekurangan pengetahuan ataupun aktivitas, tetapi kekurangan kesadaran dan makna. 

 

Puasa dan Zakat sebagai Sistem Irigasi Spiritual 

Puasa merupakan metode mendekatkan diri kepada Allah melalui ketakwaan. Ia berfungsi sebagai proses pengendalian diri dan penjernihan batin, sehingga manusia mampu kembali kepada kesadaran hakikatnya. 

Zakat, dalam makna yang lebih dalam, bukan hanya kewajiban sosial, tetapi merupakan proses stabilisasi dan penyucian diri. Zakat adalah kebutuhan pribadi agar manusia tetap bersih, tumbuh, dan hidup secara spiritual. Sebagaimana dijelaskan dalam konsep “zaka”, zakat berarti tumbuh, berkembang, dan menyucikan. 

Dalam konteks agraris, zakat lahir dari masyarakat yang berbasis produksi nyata seperti pertanian, peternakan, dan perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa zakat berkaitan erat dengan proses pertumbuhan kehidupan, sebagaimana benih yang tumbuh, dipanen, dan dibagikan untuk menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan kehidupan.  

Dengan demikian, zakat dapat dipahami sebagai sistem irigasi batin, yang menjaga agar jiwa tidak kering dan tetap bertumbuh. 

Zakatul Nafs: Mengelola Irigasi dalam Diri 

Konsep Zakatul Nafs mengajarkan bahwa manusia adalah Amil bagi dirinya sendiri, yaitu pengelola aliran kesadaran batin. Delapan asnaf zakat tidak hanya ada di luar diri, tetapi juga merupakan kondisi batin manusia yang membutuhkan “irigasi kesadaran”. 

Beberapa kondisi batin tersebut antara lain: 

Saat manusia haus pengakuan, ia membutuhkan irigasi ketauhidan. 

Saat merasa tertinggal, ia membutuhkan pupuk syukur. 

Saat kehilangan semangat, ia membutuhkan aliran konsistensi. 

Saat tertekan oleh ekspektasi, ia membutuhkan air ketenangan. 

Saat terjebak dalam sistem yang mengekang, ia membutuhkan irigasi pembebasan. 

Saat memasuki fase baru kehidupan, ia membutuhkan kesabaran dan pendampingan. 

Saat kehilangan arah hidup, ia membutuhkan penyelarasan dengan misi suci. 

Dalam hal ini, manusia bertanggung jawab mengairi bagian dirinya yang kering, agar tetap hidup dan bertumbuh. 

 

Makan, Keberlimpahan, dan Kesadaran Produksi 

Makan bukan hanya aktivitas biologis, tetapi merupakan metode menyerap berkah kehidupan. Namun, fenomena seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengundang refleksi mendalam: “apakah itu tanda keberlimpahan sejati, atau justru tanda melemahnya kemandirian?”. 

Program ini dinilai berpotensi berdampak pada tiga aspek kehidupan anak: 

  • Orang tua berpotensi menjadi lebih bergantung dan kurang waspada. 
  • Adanya kemungkinan paparan makanan olahan yang dapat memengaruhi kondisi tubuh secara jangka panjang. 
  • Anak-anak berisiko terbentuk menjadi pribadi konsumtif tanpa memahami proses produksi. 

Sebagai solusi, ditekankan pentingnya memperkuat fondasi keluarga dengan mengajarkan anak untuk memproduksi, seperti berlatih menanam atau bahkan beternak kecil-kecilan. Jadi, kalau sekolah bisa menjadi ‘foodcourt’ penyeimbangnya yang senafas dengan jalur pendidikan adalah melatih anak memiliki pengalaman memproduksi bahan pangan bukan hanya punya pengalaman makan saja di sekolah. Hal ini bertujuan menumbuhkan kemandirian, kesadaran, dan hubungan yang sehat dengan sumber kehidupan. 

Program MBG idealnya dijalankan dengan semangat gotong royong rakyat, yang memerlukan tiga unsur penting: 

  • Masyarakat yang kompak dan sadar 
  • Aparat yang amanah 
  • Alokasi dana yang transparan dan tepat sasaran dari desa ke masyarakat 

Padahal, zakat dan sistem kehidupan agraris mengajarkan bahwa keberkahan lahir dari produksi dan pertumbuhan, bukan sekadar konsumsi. Oleh karena itu, penting pula bagi setiap keluarga untuk memperkuat fondasi keluarga dengan mengajarkan anak menanam, beternak, dan memahami proses kehidupan. 

Keberlimpahan sejati bukan terletak pada menerima, tetapi pada kemampuan untuk menumbuhkan dan memberi. 

 

Niat sebagai Benih dan Penyesalan sebagai Tanda Kehidupan 

Kata “nawa” yang berarti biji juga bermakna niat. Sebagaimana biji adalah awal kehidupan tanaman, niat adalah awal pertumbuhan manusia. Segala perubahan berawal dari niat yang ditanam dalam kesadaran. 

Penyesalan juga merupakan berkah, karena penyesalan adalah tanda bahwa kesadaran masih hidup. Jiwa yang mati tidak mampu menyesal, sedangkan jiwa yang hidup mampu menyadari kesalahan dan memperbaiki arah. 

Sebagaimana petani mengelola irigasi untuk menjaga kehidupan tanamannya, manusia juga harus mengelola aliran kesadaran dalam dirinya. 

 

Kesimpulan: Manusia sebagai Pengelola Irigasi Kehidupan 

Inti dari Sinau Bareng dan konsep Zakatul Nafs adalah kesadaran bahwa manusia adalah pengelola bagi dirinya sendiri. Puasa adalah metode pengendalian aliran, zakat adalah metode penyucian dan pertumbuhan, dan niat adalah benih dari seluruh perubahan. 

Kehidupan yang sehat secara spiritual adalah kehidupan yang mampu menjaga keseimbangan antara menerima dan memberi, antara konsumsi dan produksi, serta antara dunia luar dan dunia batin. 

Sebagaimana tanah yang subur membutuhkan air yang cukup, jiwa manusia membutuhkan kesadaran, niat, dan latihan spiritual agar tetap hidup, bersih, dan bertumbuh menuju Allah. 

 

Sinau Bareng malam ini ditutup pada pukul 00.30 dengan ucapan syukur. Namun yang sesungguhnya terjadi bukanlah penutupan, melainkan pembukaan. Pembukaan kesadaran bahwa kehidupan bukan tentang mengumpulkan sebanyak mungkin, tetapi tentang menjaga agar aliran kehidupan dalam diri tetap terjaga. 

 

Tancep Kayon 1 Dasa Warsa Majlis Gugur Gunung 2024
MBANGUN TRESNO

Malam ini, Sabtu, 28 Desember 2024 Tancep Kayon Majlis gugurgunung dengan tema “Mbangun Tresno” di awali dengan pembacaan Tawassul.

 

Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tema untuk sinau bareng malam ini.

 

“Betapa indahnya cinta, namun betapa beratnya mengemban amanah Cinta.

 

Perlu dicari dari mana asal muasal cinta, asal usul konsep cinta. yaitu : “Bismillahirrahmaanirrahiim”

 

Bismillah

Ar – Rahman

Ar – Rahiim .

Menjadi alasan Allah untuk menciptakan kesemestaan. Ini adalah titik koordinat cinta, titik yang sangat penting supaya cinta tidak kehilangan arah untuk mencitai.

 

Cinta adalah karunia Allah, semua orang dikasih benih cinta, maka masing masing orang bisa saja mendefinisikan cinta serta mengekspresikan cinta. Supaya tidak terdistraksi, connecting-nya adalah asal usul sumber dari segala sumber cinta atau titik koordinat cinta. Indikasinya adalah output cinta.”

(Mas Agus Wibowo – Sesepuh Majlis Gugur Gunung)

 

“Cinta bukan cuman urusan perasaan saja, tetapi juga lebih ke tanggung jawab terhadap amanah cinta.

 

Indikator untuk mengukur cinta :

1.⁠ ⁠Pondasi cinta.

2.⁠ ⁠Pilar cinta.

3.⁠ ⁠Komitmen cinta.

4.⁠ ⁠Memelihara cinta.”

 

(Mbak Diyah – Penggiat Gambang Syafaat)

 

“Jarak, ketika berada di luar negeri, justru akan menimbulkan rasa cinta yang luar biasa terhadap tanah air Indonesia. Indonesia begitu merdeka dalam banyak hal, begitu membebaskan dalam banyak keadaan. Itulah hal yang paling dirindukan tentang tanah air ini.”

 

(Mas Danny Umboro – Perintis Tongil Qoryah, Owner LPK Geloja Jaya, Kulawarga Gugur gunung)

 

“Cinta adalah obat dari segala rasa sakit.”

 

(Mbak Rustyana Laraswati – Owner LPK Geloja Jaya, Kulawarga Gugur gunung)

 

“Salah satu ekpresi cinta adalah Istiqomah, maka penting untuk selalu bersyukur telah bisa istiqomah dalam 1 Dasa Warsa Majlis Gugur Gunung.

 

Alif, Lam, Nun, Wawu, Ya : Adalah huruf yang selalu ada pada seluruh  Surat dalam Al Qur’an, yang bila dirangkai akan membentuk kata Annawa (Benih),  seakar kata dengan Nawaitu (Niat).

 

 

Hadist Qudsi :

 

“أَنَا ضَخْمٌ مَخْبُوٌّ لا يُدْرَكُ كَثِيرٌ مَخْبُوٌّ عَنِ الْمَخْلُوقِينَ وَأَنَا أُحِبُ أَنْ أُعْرَفَ فَأَخْلَقَ الْخَلْقَ لِكَيْ أُعْرَفَ”

 

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, yang tidak dapat dipahami oleh makhluk. Aku menyukai untuk dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal.”

 

Tadabbur :

Allah adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah sangat senang bila dikenali, maka kemudian Allah menciptakan Mahkluk supaya mahkluk mengenali Allah dengan modal yang Allah sendiri tanamkan pada ciptannya, yaitu Hub/benih cinta. Dan kemudian Allah sendiri juga yang menfraktalisasi atau memecah/membelah benih tersebut untuk kemudian tumbuh hidup menjadi Cinta. Benih tersebut adalah Bismillahirrohmaanirrohiim. Zat yang potensial dan aktual.

 

“Benih langit” yang ditanam di bumi kemudian menjadi tanaman bumi, kemudian dirawat sampai berbunga, berbuah, dan menghasilkan benih selanjutnya, yang didalamnya menyimpan file sebagai persembahan langit kembali.

(Karep Alit selaras dengan Karep Ageng).

 

Al Qur’an mengandung 3 macam pedoman kehidupan yang sengaja diciptakan Allah :

1.⁠ ⁠Kitabun Maqnun: Yaitu, Pedoman yang tersembunyi. Kalamullah. Peradaban Rohmani, peradaban atas unsur unsur kehadiran cinta. “Aku hadir maka Aku ada”. Sabdo Tresno

 

2.⁠ ⁠Kitabun Mastur: Yaitu, pedoman yang terhampar pada semesta jagad raya. Kalimatullah. Sabdo Tresno merealisasi menjadi Mbangun Tresno

 

3.⁠ ⁠Kitabun Markum: Yaitu, kitab berupa algoritma/numerik Semesta jagad raya. Ayatullah. Angon Tresno

 

Syariat, Thoriqot, Ma’rifat, Hakikat, adalah satu kesatuan sistem dalam diri yang pancernya adalah diri manusia sendiri. Sekali lagi ini tidak melulu tentang Maqom, ini adalah peristiwa yang mustinya disadari dalam kehidupan sehari hari.

 

Rukun Iman :

1.⁠ ⁠Iman kepada Allah, sebagai sumber dari segala sumber sistem/pengaruh.

2.⁠ ⁠Iman kepada Malaikat Allah, sebagai fungsionalisasi sumber sistem.

3.⁠ ⁠Iman kepada Kitab Allah, sebagai pedoman sistem.

4.⁠ ⁠Iman kepada Rasul Allah, sebagai duta sumber keberkahan sumber sistem.

5.⁠ ⁠Iman kepada yaumil akhir, sebagai konsekuensi logis atas sistem.

6.⁠ ⁠Iman kepada Qada dan Qadar, sebagai takaran sistem.”

 

(Gus Aniq – Pengasuh Pesantren RKSS, Sesepuh Gambang Syafaat, Kulawarga Gugur gunung)

 

“Cinta adalah bahasa perasaan. Menghubungkan bahasa perasaan dengan bahasa logika seringkali terjadi distraksi.

 

Puncak dari cinta adalah keyakinan.”

 

(Mas Ihfan – Owner Binar Qalbu, Penggiat Gambang Syafaat)

 

“Puncak dari segala sesuatu adalah penghambaan.

 

“Ilahi Anta Maksudi Wa Ridhoku Matlubi”

 

Terjemahan :

“Ya Allah, Engkaulah tujuan akhirku, dan keridhaan-Mu yang kucari.”

 

Sebuah bangunan kesadaran tentang :

  • ⁠ ⁠Mengakui Allah sebagai tujuan hidup.
  • ⁠ ⁠Mencari keridhaan Allah dalam setiap tindakan.
  • ⁠ ⁠Menyerahkan diri kepada kehendak Allah.”

 

(Mas Niza – Kulawarga Gugur gunung yang berdomisili di Brebes)

 

“Perbedaan antara Jatuh Cinta dan Cinta :

 

Jatuh Cinta itu seperti keadaan yang penuh dengan badai, guntur, penuh dengan aneka goncangan. Setelah semua itu berlalu kemudian ada fase sunyi, senyap, tenang.

 

Pada fase tenang tersebut, ketika kita masih  bisa bertahan, dan sanggup membangun kembali sesuatu, nahh … Itulah Bangunan Cinta.

 

Bagaimana cara menunjukkan cinta ?

: Ambilkanlah istrimu minum ketika dia haus sebelum dia meminta.

(Memberi tanpa diminta). Itulah konsep cinta Tuhan kepada kita mahklukNya.

 

Ekspresi cinta itu  sangat beragam :

  • ⁠ ⁠Memfasilitasi
  • ⁠ ⁠Ujian
  • ⁠ ⁠Perintah dan larangan.
  • ⁠ ⁠dst

 

Cinta adalah pendidik yang baik dalam berbagai peristiwa.

 

Maka kepada Allah itu hendaknya bukan menghamba, tapi mutlak hamba.

 

“aku ingin menuliskan semua tentang Kau, tapi Kau sudah menuliskan seluruhnya tentang aku””

 

(Pak Budi Maryono – Sesepuh Gambang Syafaat, Kulawarga Majlis Gugur Gunung)

 

“Cinta melahirkan Rindu.

Rindu melahirkan pertemuan.

Pertemuan melahirkan keintiman.

Keintiman melahirkan Cinta.

 

Guru menanamkan benih cinta berupa Ilmu kepada murid. Benih ilmu tersebut sangat mungkin mempunyai persambungan sanad kepada Rosulullah.

 

Murid bisa mengaktivasi ilmu tersebut dengan : Pengorbanan (Qur’ban), Pengabdian, dan Keyakinan.”

 

(Mas Kasno – Kulawarga Majlis Gugur Gunung)

 

Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2024 dengan tema “Mbangun Tresno” ditutup dengan pembacaan Do’a dan kemudian dilanjut makan bersama.

 

Selepas makan bersama, masih banyak yang berkumpul dan bercengkarama dengan suasana karib dan riang. Kemudian setelah beberapa saat hampir keseluruhan jamaah kembali ke rumah masing-masing, sementara kulawarga gugurgunung masing tetap berada di lokasi untuk membereskan lokasi menjadi seperti semula.

 

Demikian reportase Tancep Kayon 2024 “Mbangun Tresno”. Nuwun.

Reportase 2 : Keluarga Al Fatihah

Hari Raya Alhamdulillah

 

“Mana kala kita bisa menemukan (Arrahmaan Arrahiim) atau perwujudan kasih sayang pada setiap peristiwa, maka tidak ada hari yang bukan Hari Rayya Alhamdulillah. Setidaknya ini adalah salah satu kesimpulan pada Reportase 1 yang berjudul “Semesta Anggara Kasih”.

 

 

Keterlibatan seluruh unsur lengkap dengan fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing sudah absah disebut sebagai Kulawarga dengan modal Kasih Sayang. Langkah terdekat selanjutnya adalah perayaan rasa syukur. Kata Hari Rayya Alhamdulillah sengaja kami pilih untuk menggambarkan perayaan rasa syukur kami anak cucu Maiyah Ungaran yang sedang disambangi Mbah Nun.

Senja tiba sebagaimana biasanya. Kabut tipis terbawa semilir angin perlahan turun dari Gunung Munggut (Komplek Pesarean Mbah Benawa dan Syekh Basyaruddin), ke Pendopo Paseban Wijaya Kusuma, tempat akan digelarnya acara. Sejuk khas senja musim kemarau. Menyeka apa saja dan siapa saja. Persentuhan yang sedemikian menyegarkan segala Indera. Pendopo Paseban Wijaya Kusuma dengan segala perlengkapannya telah siap. Kelasa sudah digelar. Aneka kudapan dan minuman tertata di berbagai titik lokasi. Petugas siaga pada tugasnya masing-masing.

Selepas Maghrib Mbah Nun beserta rombongan tiba di Art Cafe, rumah Ibuknya Mas Agus Wibowo yang memang sudah dipersiapkan untuk transit. Kulawarga gugurgunung yang dibersamai oleh para Kyai dan Sesepuh desa yang memang sudah turut menunggu di tempat transit, turut menyambut kedatangan Beliau beserta rombongan. Haru nggak bisa dibendung. Tumpah, namun tetap kondusif. Tak ketinggalan pula anak anak kecil turut berbaur. Alamiah sekali sebagaimana anak-cucu yang sedang karawuhan Simbahnya. Duduk bersama, makan bersama, dilanjutkan ngopi dan ngudud bersama, dan tentunya alam alaman saling melepas kangen. Mengalir sangat langsam dan santai.

 

Jam 20:00, pengunjung mulai berduyun-duyun menuju lokasi acara. Kulawarga gugurgunung menyambut dan mempersilahkan hidangan lalu nyumanggakake untuk duduk di Pendopo. Acara pun dimulai, dibuka dengan menyapa hadirin yang sudah datang, kemudian bersama sama membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan pembacaan Gema Wahyu Ilahi, yang dilantunkan oleh Mas Agus Khamid. Mendayu, syahdu, dan suasana mendadak meruang hening.

 

Tak berjeda lama, Gus Arul beserta Tim Rebana MMA-nya melanjutkan mengambil alih acara. Gus Arul sendiri yang memimpin membacakan Tawashshulan, dan dilanjutkan dengan rangkaian Munajat dan Sholawat. Beberapa nomor Sholawat dilantunkan oleh 3 vokalis, yang lainnya makmum. Rebana genjring  dipilih sebagai instrumen pengiring. Tabuhan yang sederhana namun sedemikian ritmis dan sangat harmonis. Suasana mendadak meruang romantis.

 

Mas Wahid dan dulur-dulur Gambang Syafaat yang terlibat dalam tim penyambutan dan pengawalan Mbah Nun mengabarkan, bahwa rombongan telah budhal dari transit. Tampak iring-iringan mobil dan motor mengawal Mbah Nun. Belasan menit kemudian tiba di lokasi, tepat saat satu nomor Sholawat menjelang Mahalul Qiyam. Semua jama’ah berdiri. Gus Arul melanjutkan Mahalul Qiyam. Seperti sebelumnya Imam dan Makmum bersahutan berurutan. Dimulai dengan nada rendah namun mandhes. Sampai pada nada tinggi membuncah sampai beberapa pecah, ajur, ajer. Suasana mendadak meruang haru.

 

 

 

 

 

 

Sesi Diskusi/Sinau Bareng

 

Mas Agus Wibowo mengambil alih acara. Memoderasi diskusi atau Sinau Bareng. Menyampaikan beberapa pantikan terkait dengan tema. Demikian :

  • Kulawarga adalah “organisasi” yang paling langgeng dan tidak mungkin terkudeta. Tiap anggota keluarga mempunyai peran, fungsi, dan tanggung jawabnya masing masing. Anak nggak mungkin mengkudeta Bapak karena ingin menjadi kepala Kulawarga. Hahaha
  • Dalam Kulawarga terdapat beberapa sektor penting dan utama yaitu, Asah, Asih, Asuh.
  • Bermodal dengan dua potensi di atas tersebut, maka dirasa sangat penting adanya formulasi sinkronisasi antara Kulawarga dengan Alfatihah. Besar harapannya, bahwa sinkronisasi tersebut bisa menjadi sebuah rintisan awal peradaban yang keren.

Narasi yang singkat, namun cukup memantik pintu berpikir. Sembari memeram pantikan untuk beberapa saat, Moderator mempersilahkan Pak Kades untuk menyampaikan sesuatu.

 

Pak Zaenal, Kades Pringsari

  • Menyampaikan atur pambagyo kepada Mbah Nun dan seluruh Jamaah. Menyampaikan rasa nggregel dan haru yang luar biasa. Kedatangan Mbah Nun yang selama ini masih berupa angan belaka, kini merealita.
  • Juga me-remind persambungan awal dengan simpul gugurgunung lewat sebuah acara besar di Desa Pringsari, dalam rangka sedekah desa sekaligus peresmian Pendopo Paseban dengan dimeriahkan pagelaran Wayang oleh Ki Dalang Sigit yang ternyata juga bagian dari Kulawarga Maiyah. Mengangkat lakon “Semar Mbangun Khayangan”, yang di dalamnya memuat cerita penting tentang Kembang Wijaya Kusuma. Sehingga pendopo tersebut diberi nama Pendopo Paseban Wijaya Kusuma. Ketersambungan demi ketersambungan yang terus terjalin hingga Pendopo tersebut menjadi salah satu lokasi utama digelarnya acara rutinan Majlis Gugurgunung. Dan tidak menyangka kalau ketersambungan selanjutnya adalah karawuhan Mbah Nun di Pendopo Paseban tersebut, dalam rangka mengunjungi anak cucu Maiyah di Ungaran.
  • Mengapresiasi tema Kulawarga Al Fatihah, karena ternyata juga menjadi persambungan penting lainnya. Yaitu, Pak Kades adalah pengamal wirid Al Fatihah dan Al Ikhlas, yang diturun-temurunkan oleh para leluhurnya.
  • Juga menjadikan komplek Pendopo Paseban Wijaya Kusuma sebagai sentral kegiatan ekonomi kerakyatan berupa Pasar Pagi, yang kegiatan utamanya adalah memasarkan seluruh produk unggulan masyarakat Desa Pringsari sebagai rintisan kegiatan ekonomi. Serta mengembangkan kegiatan pariwisata dan spiritual berupa Ziarah pada komplek Makam Mbah Benowo dan Syaikh Basyarudin, yang terletak di Puncak Gunung Munggut, sebelah atas Pendopo.

Pada kesempatan berikutnya, moderator mempersilahkan Pak Kyai Qomasyi, seorang pemuka agama dan tokoh masyarakat di Balongsari yang menjadi pimpinan Tarikah Qodiriyyah di Masjid Al-hasan yang ikut mendampingi sinau bareng kali ini, juga ada sesepuh lainnya. Namun Beliau memilih untuk dilewati dan langsung ke pembicara lain, karena konon niat dari rumah hanya ingin menyimak ngaji Mbah Nun. Sebuah pilihan sikap yang menurutku, justru sedang menyampaikan kerendah-hatian dengan cara indah.

Kesempatan selanjutnya adalah Pak Kyai Arifin,

salah satu Kyai di Mbalongsari yang memang sudah sangat erat dengan Kulawarga gugurgunung. Bahkan sempat meminjamkan salah satu gedungnya untuk majlis gugurgunung menggelar acara rutinan bulanan selama beberapa tahun. Dengan demikian beliau Pak Kyai Arifin telah sekaligus menjadi bagian dari shohibul hajat sinau bareng malam tersebut. Beliau pun mengambil waktu untuk menyampaikan dan mengulas beberapa hal, demikian :

  • Bismillah, Bi Ismi Llah, yaitu bersama atau bertemu Allah. Jalannya adalah mengabdi, dalam kontek Kulawarga berarti meniatkan secara bersama sama untuk membangun kesadaran mengabdi. Lewat cara apapun. Berbuatlah untuk jangan takut salah, Allah Maha Rohman dan Rohiim. Lalu menyudahi pantikan, lagi-lagi dalam rangka untuk tidak menyita waktu dan memberikan kesempatan yang lebih lama untuk nyimak Mbah Nun.

 

Gus Arul, selaku pemimpin dan pengasuh Majlis Majazi Alhasan (MMA) juga langsung dipersilahkan menyambung diskusi. Mbah Nun mempersilahkan Gus Arul untuk duduk di sebelah Beliau. Lalu Gus Arul menyampaikan :

  • “Mbah Nun, saya di sini hanya Wawu Zaidah, wawu yang hanya sebagai pelengkap di belakang saja. Ning insyaAllah siyap didhawuhi apa saja”

 

Demikian singkat yang disampaikan Gus Arul, dan kemudian memilih untuk kembali duduk di belakang Mbah Nun. Lagi lagi berupa pertunjukan sikap kerendah-hatian yang luar biasa.

 

Gus Aniq, pengasuh Ponpes RKSS Semarang, pendamping tetap simpul Gambang Syafaat, dan seringkali membersamai majlis gugurgunung pada momentum momentum penting. Hadir bersama para santri dan teman teman Gambang Syafaat. Datang lebih awal, dan langsung kami sambat untuk turut menyambut Mbah Nun. Nampaknya ruang diskusi sedikit memaksa Beliau untuk menyampaikan lebih banyak. Karena kerendah-hatian dengan cara menyampaikan narasi yang relatif singkat sudah diambil perannya oleh pembicara sebelumnya. Beliau memilih rendah hati dengan cara lain. Maka Beliau menyampaikan demikian :

  • Apa yang akan saya sampaikan ini saya niatkan sebagai Sorogan. Mumpung ada Mbah Nun dan para Kyai serta Sesepuh yang turut hadir untuk menyimak dan mengoreksi terhadap yang saya sampaikan. Kalimat pembuka yang menarik. (Nampak sekali Beliau sedang dalam rangka ingin nyantri).
  • Tadabbur selanjutnya adalah melalui pendekatan Ma’am Khuruf. BA, mengandung makna asal-muasal, permulaan realitas. Allah yang ada di Bismillah berati Allah secara realitas, manifestasi, tajali, ejawantah. Arrahmaan adalah wujud potensial Allah. Sedang Arrahiim adalah Wujud realitas Allah.
  • Menyambungkan dengan fenomena Nabi Khidir, bahwa Alhamdulillahirobbil ‘Aalamaiin adalah sebagai Majmaal Bahrain, yaitu bertemunya Rohmaan Rohiim yang pertama (Khalik) dengan Rohmaan Rohiim yang ke dua (Makhluk).
  • Kulawarga, dari Warga atau bisa juga Marga. Marga atau Margi dalam Jawa adalah Jalan. Dalam Alfatiha, Jalan adalah Ihdinashshiratal Mustaqim. Jadi, sungguh sangat terkait antara Kulawarga dengan kesadaran Abdi dengan Jalan. Jalan dengan sistem kerahmatan dan kenikamatan.
  • Maka An ‘amta merupakan aktifasi Gusti Allah pada diri Makhluk.

Lalu Gus Aniq memungkasi dengan informasi tentang “Sapta Mandala”, atau 7 lapisan kesadaran diri, diantara adalah :

  1. Mandala Personal
  2. Mandala Marital
  3. Mandala Sosial
  4. Mandala Komunal
  5. Mandala Global
  6. Mandala Universal
  7. Mandala Celestial.

 

 

Narasi dari beberapa pembicara seperti membentuk gelombang. Secara alamiah saling berkait paut, saling melengkapi. Suasana kian hangat. Giliran Mas Helmi melanjutkan diskusi, menyampaikan beberapa hal penting dengan cara yang santai. Demikian :

  • Apresiatif terhadap gelaran acara tersebut, yang mengangkat tema Keluarga Alfatihah.
  • Merasa bahagia bisa hadir bersama Mas Ale nderekaken Mbah Nun untuk yang pertama kalinya mengunjungi Kulawarga gugurgunung. Benar-benar suasana yang sejuk, di tengah sawah, penuh dengan limpahan berkah dan rahmat. Semoga sebuah tengara bahwa ini adalah salah satu perwujudan liqo’ul adhim (perjumpaan yang Agung).
  • Agenda 2 tahun terakhir Mbah Nun untuk menyambangi anak cucunya di banyak simpul, sebagai wujud kasih sayang yang sungguh-sungguh kepada anak cucunya.
  • Mbah Nun dan Maiyah selama ini juga sungguh-sungguh menyemai nilai nilai kekeluargaan. Salah satu produk pokok dan pesan pentingnya kepada semua yang dijumpainya adalah, “kedepankan Rembug”.
  • Mengulik penyematan nama Mbah pada Mbah Nun, bahwa ‘Mbah’ adalah panggilan dalam Keluarga yang tidak ditemui di organisasi masa atau politik mana pun. Dan ternyata bila ditelusur lebih lanjut, Mbah pada struktur Kulawarga merupakan konsep dari Allah sendiri. Terbukti pada penyebutan, “Ya Bani Adam” (Wahai anak cucu Adam). Mas Agus menimpali, bahwa Nabi Adam, yaitu Mbah yang satu-satunya manusia yang pernah atau pertama kali berkeluarga di Surga.
  • Al Quran sebagai petunjuk kepada seluruh manusia (Hudan Linnas), dan yang selama ini dilakukan oleh Mbah Nun adalah merespons ayat-ayat Al-Quran tersebut. Salah satu produknya adalah tadabur Al Fatihah, serial tadabur harian yang berjudul Tadabbur Hari Ini. Dan sangat menyenangkan sekali kalau anak cucu Mbah Nun merespons atau mengapresiasi produk tersebut dengan mengangkatnya menjadi tema sinau bareng.

 

 

Sampailah pada puncak diskusi. Mbah Nun nglambari dengan bacaan “Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.” Artinya: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha ayat 25-28). Dilanjutkan dengan menyapa dengan hangat seluruh yang hadir lalu melanjutkan dengan respon-respon ringan dan singkat dari beberapa pembicara sebelumnya. Demikian :

  • Mengapresiasi group rebana MMA. Nama singkatan yang menarik, sebab mengingatkan kepada Mixed Martial Art, sebuah program seni bertarung yang digemari Mbah Nun. Kefasihan dalam menarasikan MMA lengkap dengan sekian tokoh-tokohnya membuat jamaah tertawa gembira. (Sebuah intermezo yang menyegarkan ala Mbah Nun).

Kemudian masuk ke tema. Mencoba memulai bahasan tema dengan cara yang ringan pula. Demikian :

Semua yang disampaikan oleh para pembicara sebelumnya adalah komponen-komponen penting. Mari kita nggambar dengan cara menggabungkan komponen komponen tersebut. Mbah Nun kemudian mengajak “nggambar” Kulawarga terlebih dahulu.

  • Kulawarga adalah sekumpulan unsur yang mempunyai tugas, manfaat, dan tanggung jawabnya masing masing. Mempunyai struktur yang jelas, yaitu Bapak, Ibuk, anak, dan seterusnya.
  • Kulawarga seberapapun besarnya, yang perlu perhatian khusus adalah anggota Kulawarganya, bukan bangunan fisik rumahnya. Dalam skala lain yang perlu fokus Jamaahnya bukan bangunan Masjidnya bukan materialistiknya, dst, dst.
  • Ada dua unsur penting yang perlu diperhatikan dalam diri kita masing-masing untuk membangun Kulawarga, desa, peradaban, dst. Yaitu Malaikat dan Setan. Malaikat yang dimaksud di sini adalah berupa sebaran frekuensi energi yang baik yang keluar dari diri manusia. Output-nya adalah bentuk ketaatan pada Allah. Sedangkan setan adalah kebalikannya. Maka silakan terus belajar menemukan Malaikatnya sendiri-sendiri sesuai dengan kecenderungan potensi masing-masing.

Membangun Kulawarga, membangun desa, membangun peradaban, dst, sesuai dengan potensi, fungsi, dan tanggung jawabnya masing-masing. Jangan bermental pengemis, cegahlah diri untuk tidak menjadi pengemis, dan lanjutkan sebisa mungkin mencegah Kulawarga kita untuk tidak mengemis. Jangan mengemis dalam hal apa pun sampai pada wilayah yang lebih luas lagi. Lebih-lebih ngemis kekuasaan. Peradaban sekarang ini sedang tidak henti-hentinya secara masif memamerkan praktik mengemis kekuasaan. Padahal peringatannya sangat jelas sekali, kalau mengemis kekuasaan maka Allah tidak akan turut campur pada hidupmu.

 

Al Fatihah adalah Ummul/Ibu Quran

Lalu Mbah Nun mengajak menggambar lebih lanjut lagi. Kalau Al Fatihah adalah Ibu, lalu yang sebagai fungsi Bapak, Suami, Laki-laki, siapa? Kemudian Beliau mem-breakdown beberapa hal. Demikian :

  • Pemerintah itu fungsi Suami, pada Rakyat yang fungsinya Istri.
  • Manusia itu fungsinya suami, Alam sebagai istri.
  • Allah “suami”, manusia istri.
  • Nah, Maiyah itu sendiri adalah sebuah kesadaran Kulawarga yang “Al Ushro yang Akbar”. Kesadaran Kulawarga yang Allah ada di dalamnya atau bersamanya.

Keadaan menghangat dan hening. Lalu Mbah Nun mencoba intermeso sebentar, sembari merespon tentang Nabi Adam adalah mbah mbahnya mbah manusia yang awalnya berkeluarga di Surga. Turun ke dunia karena makan buah Khuldi, yaitu konon buah yang berasal dari Bumi dan disimpan di Museum Surga. Seluruh produk Surga tidak ada yang menghasilkan residu, semuanya akan terdaur ulang menjadi nutrisi secara terus menerus. Nah karena Nabi Adam makan buah yang berasal dari Bumi, maka dalam tubuh Nabi Adam ada residu, Beliau berasa ingin buang air besar. Dan karena di Surga tidak boleh buang air besar, maka Nabi Adam di perintahkan untuk buang air besar ke Bumi. Tentunya ini adalah sebuah guyonan segar ala Mbah Nun. Yang sontak disambut gelak tawa para jamaah. Namun bukan guyonan ala Mbah Nun kalau tidak diselipkan nilai-nilai penting yang bisa kita cermati. Salah satunya adalah tentang residu yang terdaur ulang menjadi nutrisi baru. Ini yang sesungguhnya selama kurang lebih 2 tahun belakangan menjadi konsentrasi kegiatan utama tim Tani Gugurgunung dalam rangka Revolusi Kultural, yaitu mengolah sampah organik menjadi pupuk untuk diolah dan kemudian diaplikasikan pada tanaman sebagai pengganti pupuk kimia.

Alhamdulillah, berasa tadarus atau sedang men-download salah satu informasi penting Surga untuk diaplikasikan di dunia. Hehehe.. Setelah intermeso kedua dianggap cukup, lalu Mbah Nun masuk ke Tema lagi. Dengan memaparkan Al Fatihah sebagai Format 313 (tiga ayat, 1 ayat, 3 ayat) Sebagai berikut :

  • Hidup itu rumusnya adalah Cinta. Rohman itu cinta meluas. Rohiim itu cinta mendalam.
  • Suami itu harus bersifat Al-Fatihah kepada istri.
  • Lalu apa yang pertama kali dilakukan suami kepada istri? pemerintah kepada rakyat? manusia kepada alam? Allah kepada manusia?: yang dilakukan pertama kali adalah “Bismillahirrohmaanirrohiim”
  • Bapaknya Al-Quran adalah Allah. Al-Quran bukan semata bahasa Arab, tetapi bahasa Allah menggunakan bahasa Arab.
  • Maalikiyyaumiddin adalah soko guru atau penyeimbang.
  • Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in merupakan “akad” kita pada Allah, untuk mendapatkan Ihdinas Sirotol Mustaqim.
  • Dalam khasanah Jawa Na’budu lebih kaya maknanya ketimbang bahasa Arab. Jawa mempunyai perbedaan makna antara Manembah dan Menyembah. Sedang bahasa Arab, Na’budu hanya berarti menyembah. Ini yang kemudian disalah pahami Iblis ketika turun perintah dari Allah untuk bersujud kepada Adam. Orang Jawa memahami konteks ini sebagai manembah, berbakti, dst. Tapi waktu itu Iblis hanya memahami sebagai konteks menyembah, maka menolaknya. Dalam hal ini Jawa lebih kaya pemaknaan. Jiwa manusia Jawa adalah jiwa Surga. (Demikian Mbah Nun selalu nggedhekke ati anak cucu).

Jadi ringkasnya, Keluarga Alfatihah adalah Kulawarga yang berkarakter atau berkurikulum Alfatihah. Sehingga keluarga yang dibangun bukan hanya dalam luasan kecil, namun berpeluang menjadi keluarga besar dengan segala Ciptaan Allah SWT dan berkeluarga dengan Allah sebagai Pemilik Segala hal yang ada di langit dan di bumi.

Mbah Nun menyudahi “menggambar”. Sudah kian nampak titik yang diperpanjang menjadi garis sampai terbentuk imajinasi gambar tentang Keluarga dan tentang Alfatihah. Dan sudah sedemikian tersambungkan sinkronisasi antara Keluarga dengan Alfatihah sehingga menjadi Keluarga Alfatihah. Jamaah menyimpannya ke dalam benak masing-masing, sebagai oleh-oleh yang sangat berharga dari Mbah yang menyambangi anak cucunya. Sebelum dipungkasi dengan do’a, moderator mempersilahkan kepada jamaah untuk mengajukan pertanyaan. Dipersilahkan untuk 2 penanya.

 

Mas Udin Demak.

Seorang Guru dari Demak. Menanyakan demikian :

  • Produk produk teknologi modern seperti AI, ChatGPT, dan sejenisnya dikhawatirkan akan menelan anak anak didik Gen Z. Lalu gimana cara menghadapinya.

Mbah Nun menjawab :

  • ChatGPT, AI, dst itu adalah kecerdasan buatan. Secanggih apapun buatan manusia pasti ada limitasinya, ada batasannya, ada kelemahannya. Salah satu kelemahannya adalah tidak akan bisa membikin Al Quran atau ayat-ayat Allah. Jadi untuk tidak bisa ditelan oleh hal seperti itu, maka jalannya atau jimatnya adalah Al Quran, Al Fatihah.

 

Mas Arif Ungaran.

  • Menanyakan, arti Bismillahirrahmanirrahim itu Dengan nama Allah atau atas nama Allah.

Mbah Nun menjawab  secara ringkas dengan kembali mengingatkan fungsi metode tadabbur:

  • Terserah merdeka saja mau memakai dengan nama Allah atau atas nama Allah, yang penting selalu ada Allah, selalu bersama Allah.

 

Waktu sudah lewat tengah malam. Sebagaimana yang telah disepakati bersama di awal, dan untuk menghormati berbagai keadaan, maka moderator menyudahi acara diskusi. Acara ditutup dengan do’a oleh Mbah Nun. Serangkaian kalimah do’a yang diamini oleh seluruh jamaah. Dipungkasi dengan “Innama Amruhu Idza Aroda Syaian Ayyakulalahu”, dan jamaah secara serempak menyahutnya dengan “Kun Fayakun” dan dilapis oleh mbah Nun dengan “Fa subḥaanallazii biyadihii malakụtu kulli syai`iw wa ilaihi turja’ụn”. Mbah Nun menutup dengan salam, kemudian beranjak dari tempat duduk untuk menuju mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta. Jamaah menghantarkan dengan salam dan berdiri dari tempatnya masing-masing dengan mengarahkan pandang ke arah Mbah Nun. Tampak beberapa jamaah ikut mengiringi mobil Mbah Nun dengan iring-iringan sepeda motor di belakangnya. Seiring Mbah Nun telah kembali ke Yogyakarta, maka acara telah usai namun panitia masih mempersembahkan satu mata acara paling pungkasan yakni makan lesehan bersama atau kembulan yang telah mentradisi di majlis gugurgunung.

Semua hadirin dipersilahkan untuk merapatkan diri dan menikmati kembulan berbagai hidangan yang sudah disediakan panitia. Ada sebagian dari para hadirin memilih langsung pamitan karena telah cukup kenyang dengan kudapan sebelumnya dan ada pula yang harus segera pulang karena ada aktivitas esok hari. Sebagian lainnya masih ingin melepas rindu, menikmati hidangan yang telah disediakan, sungguh nikmat makan bersama dengan sedulur-sedulur, sebagai seolah sedang makan bareng di dapur sendiri bersama seluruh anggota keluarga yang lain. Seusai kembulan, Gus Aniq, dulur-dulur GS, dan jamaah lainnya, kembali membentuk lingkaran kecil untuk alam-alaman. Keluarga gugurgunung mulai beres-beres tempat agar ketika ditinggalkan, tempat dalam keadaan bersih. Setelah malam semakin larut saling berpamitan saat Tarhim mulai berkumandang.

 

 

Reportase oleh: Kasno MGG
Dokumentasi: Koko Nugroho

Reportase 1: Keluarga Al Fatihah

Semesta Anggara Kasih

Selasa Kliwon, 13 Juni 2023. Sederetan bilangan Hari, Pasaran, dan Tanggal, ini mungkin nampak biasa saja. Tapi tentu tidak bagi kami anak cucu Maiyah yang teruntai pada simpul Majlis Gugurgunung – yang bersentral kegiatan di tlatah Ungaran. Kombinasi tanggal tiga belas dan hari Selasa Kliwon kali ini dipenuhi perasaan penuh luapan kegembiraan dan kasih sayang.

Sejak pagi cuaca pun cerah, gunung-gunung di sekitaran Ungaran yang tampak begitu anggun dan tampil jernih tanpa ditabiri awan. Hari tersebut juga burung prenjak sudah nggancer di dahan-dahan pohon Kelengkeng. Bagi masyarakat Jawa kicau burung prenjak dianggap sebagai tanda bahwa ia ikut menantikan kehadiran seseorang yang akan hadir pada hari tersebut. Udara pun sejuk dengan langit yang biru terang dan tampil cerah setelah tadi malam menurunkan hujan cukup basah.

Selasa Kliwon adalah Hari Anggara Kasih. Banyak dipahami oleh masyarakat Jawa sebagai hari perwujudan Kasih Sayang dengan nilai kerto aji dino menjadi sebelas, penjumlahan nilai Selasa dengan nilai kerto aji: tiga dan Kliwon dengan nilai kerto aji: delapan, jadilah sebelas. Sebelas adalah tetenger, maesan, tanda letak koordinat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dan tanda letak pengabdian hamba kepada Tuhan-Nya. Posisi kasih Sayang ini diserap energinya secara baik di tiap hari Selasa Kliwon.

Selain dari Selasa Kliwon sang Anggara kasih. Simbol kasih sayang ini masih diwakilkan lagi pada tanggal tersebut yakni tigabelas, dengan angka ‘satu’ dan ‘tiga’. Bila mengacu pada Al Fatihah (Induk/Ibu Al Qur’an) Ayat 1 adalah Bismillahirrohmaanirrohiim. Ayat 3 adalah Arrohmaanirrohiim. Ada Arrohmaan dan Arrohiim pada ayat 1 dan diulang di ayat 3. Oke, mari kita anyam persambungan tersebut. Dan kita runtut peristiwanya. Tentunya ini pola Tadabbur saya, dan tentunya lagi adalah Tadabbur kelas ndek ndekan, atau bisa juga ming nggathukke Otak dan Ati, atau Otak Ati Gathuk, dan sejenisnya, dst.

Hari itu adalah jadwal dimana Mbah Nun ngersakke menyambangi anak cucunya di Ungaran. Ini murni perwujudan kasih sayang Beliau kepada anak cucunya. Agenda yang memang lebih intens dilaksanakan selama kurun waktu 2 (dua) tahun belakangan ini, beliau menyambangi anak cucunya pada simpul-simpul Maiyah seluruh dunia. Perwujudan kasih sayang tersebut tentu kami sambut dengan sangat bahagia yang mengantarkan pada perayaan rasa syukur yang luar biasa. Perwujudan kasih sayang juga teranyam dengan sedekah Beliau berupa serial Tadabbur Harian Mbah Nun tentang Alfatihah.

Pagi merekah, merekah pula hati kami semua. Sejuk khas udara pagi pada musim kemarau. Keluarga gugurgunung saling berkabar tentang persiapan tugasnya masing-masing. Dari sektor Revolusi Kultural, Om Nardi selaku imam pertanian mengabarkan kalau melon sudah siap panen, bisa dipetik untuk suguhan Mbah Nun.

 

Pak Tri juga memanen Ikan Nilanya.

 

Mas Santoso dari sektor petani Palawija dan Ternak Unggas, menyedekahkan satu ekor Kalkun dan bernampan-nampan jajanan khas desa.

 

Mas Koko dan Pak Satriyo, sektor bidang usaha jajanan, menampilkan Lumpia dan Sosis.

 

Tak ketinggalan pula Ibuk-Ibuk yang dibantu Mbak-Mbak, menyajikan salah satu makanan khas Ungaran yaitu Gendar Pecel dan kudapan khas lainnya.

 

Semua kudapan terkoordinir di Art Cafe, sebuah Warung Makan kepunyaan Ibunda Mas Agus Wibowo. Yang memang dipersiapkan secara patut untuk menyambut kedatangan Mbah Nun, sekaligus sebagai tempat transit. Om Didit dan Mas Dhika siaga pada kesiapan armada. Mas Ganjar pada dokumentasi. Dan yang lain pada persiapan lokasi acara.

Dari sektor kesenian, Gus Arul turut ambil bagian dengan seperangkat sound system, lengkap dengan group rebananya yang tergabung dalam MMA (Majlis Majazi Al-Hasan).

Juga para perangkat keamanan mulai dari Linmas dan Babinkamtibmas turut sigap dan siaga menjaga acara dari pra sampai acara selesai. Para Ulama dan Umaro, serta para Sepuh, pinisepuh dari tingkat Desa sampai Kecamatan turut nyengkuyung, mangestoni, dan Tut wuri atas apa yang menjadi hajat Kulawarga gugurgunung tersebut. Ejawantah atau perwujudan kasih sayang yang mengantarkan pada raya syukur, kemudian beranak-pinak kasihsayang-kasihsayang lainnya atas seluruh kelengkapan unsur-unsur, begitu tampak manfaat dan tanggung jawab dari masing-masing unsur tersebut. (Ini yang belakangan kami pahami sebagai definisi Keluarga). Kulawarga kecil gugurgunung yang membangun bebrayan ageng (besar) kepada Kulawarga lainnya, secara alamiah membentuk Kulawarga besar, dan sepakat untuk terus berupaya menjadi Kulawarga Akbar.

Hiruk-pikuk kesibukan pagi itu dan pencurahan perhatian dari setiap person di dalam keluarga gugurgunung dan disengkuyung pula oleh pihak-pihak lain merupakan lembaran kegembiraan awal yang seolah menjadi kelasa atau tikar untuk mewadahi kebahagiaan-kebahagiaan berikutnya. Tentunya memang demikian yang diharapkan, bahwa semua anak-cucu Maiyah Ungaran sedang membuncah perasaan bungah karena hendak ditiliki oleh Mbah Nun, betapa tak terkira rasa bahagia kami. Majlis gugurgunung otomatis menjadi panitia dan shohibul hajah kegiatan ini. Pembagian tugas telah dilakukan dan semua yang dimandati telah memulai bukan hanya sejak pagi itu, namun ada yang telah memulai sejak seminggu sebelumnya. Namun pagi itu suasana tampil secara apik, rampak dan serempak bahu-membahu njunjung keceriaan bersama, kami benar-benar sedang “nduwe gawe”. Semakin siang semakin bertambah pihak yang hadir dan mendaulat diri untuk ikut bantu-bantu. Semakin sore semakin banyak lagi yang berduyun-duyun hadir, bukan hanya dari internal keluarga gugurgunung namun telah dihadiri pula oleh sanak-kadang Maiyah dari simpul lain. Ada yang hadir untuk membantu kesiapan di ruang transit, ada pula yang membantu ke lokasi acara untuk ikut terlibat membantu proses persiapan lokasi.

___Bersambung ke reportase 02

 

 

 

Reportase oleh: Kasno MGG
Dokumentasi: Koko Nugroho