Hawa sejuk mengiringi perjalanan dulur-dulur menuju rumah Mas Satria di wilayah Pringapus. Malam itu, rumah Mas Satria menjadi ruang untuk kembali melingkar, duduk bersama, dan melaksanakan Sinau Bareng.
Mengangkat tema “OMAH – Ombo lan Mahanani”, dulur-dulur hadir dalam suasana hangat dan guyub, membawa niat untuk sinau bareng, belajar bersama melalui sebuah ruang persaudaraan.


Tepat pukul 20.00, acara dimulai dengan melantunkan tawashshul, munajat, dan sholawat. Setelah itu, pembacaan mukadimah disampaikan oleh Mas Kasno sebagai pondasi dasar untuk menentukan arah Sinau Bareng malam itu.
Dari sanalah pembahasan perlahan diarahkan kepada satu kata: omah.
“Omah” adalah Hati
Omah tidak hanya dipandang sebagai bangunan yang memiliki dinding, pintu, dan atap. Omah adalah hati.
Jika hati adalah omah, lalu siapa yang menjadi tuan rumah?
Dalam Sinau Bareng malam itu ditegaskan bahwa tuan rumah utama adalah Allah SWT, sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah penjaga pintunya. Konsep Shohibu Baity yang dikenalkan Mbah Nun kepada Maiyah.

Maka ada sebuah belief system yang perlu disepakati oleh para penghuni rumah: jangan bergantung kepada sesuatu yang tidak abadi. Pegang kembali kesadaran tentang siapa tuan rumah dan siapa penjaga pintu.
Pembahasan kemudian menyentuh konsep Priyo Utomo Jowo:
- wismo,
- turonggo,
- kukilo,
- curigo,
- wanito.
Rumah tidak berhenti pada bangunan jasad. Ada bangunan lain yang lebih dahulu perlu dirintis, yaitu bangunan batin. Dalam konsep Priyo Utomo Jowo, landasan utamanya adalah bangunan batin tersebut.
Rumah pertama kali adalah rumah Siti Hawa, di surga. Sebelum ada Sayidah Hawa, Nabi Adam tinggal di dalam surga yang terhampar. Rumah Nabi Adam adalah surga itu sendiri, sekaligus kesadaran bahwa surga bukanlah miliknya terus menyala.
Ketika ada seorang wanita, harus ada dan bisa menjadi tempat untuk pulang. Harus ada ruang privasi, ada ruang rahim. Begitu pula Sayidah Hawa yang menjadi pasangan Nabi Adam: perempuan yang menjadi pasangan laki-laki.
Laki-laki lebih bernaluri bergerak di wilayah Rahman yang terhampar, sedangkan perempuan lebih terlatih menekuni ketenangan dan keteduhan rumah yang menjadi tempat pulang pengalaman Rahman, sekaligus tempat lahir atau berangkatnya penjelajahan rahmat. Sebab, perempuan menampung alam rahim dalam dirinya. Dan alam rahim memiliki belief system yang tunggal dan privat.
Dari sini, kesadaran yang harus dijaga adalah kesadaran adab.
Lalu, Apa “Buah Khuldi” di Rumah Kita?
Jika di surga ada pohon Khuldi yang tidak boleh didekati, maka muncul sebuah pertanyaan yang kemudian dilemparkan kepada para dulur:
Kalau rumah adalah hati, apa “buah Khuldi” yang ada di dalam rumah kita sendiri dan tidak boleh kita dekati?
Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai sebuah konsep. Satu per satu dulur mencoba melihat ke dalam “rumahnya” masing-masing.


Mas Dany, Pak Tri, Mas Arif, dan Pak Edi secara garis besar sepakat menyebut rasa memiliki sebagai buah Khuldi tersebut
. Mas Yusup menyebut listrik sebagai buah Khuldi-nya. Sementara Mas Satria membawa jawaban dari khazanah Jawa: paku emas, yaitu mapag keakuan—menumpulkan keakuan. Sedangkan Mas Kasno menyebut bahwa apa yang dibawa pulang ke rumah harus di-filter dengan baik, agar hanya keberkahan yang berhak masuk ke dalam rumah.
Jawaban-jawaban dari para dulur tersebut mengajak untuk melihat kembali apa yang berada di dalam rumah, sekaligus apa yang perlu diwaspadai dan dijaga agar tidak kita dekati. Mas Agus kemudian merangkainya menjadi kurang lebih sebagai berikut:
Pada dasarnya, alam surga adalah alam rida yang tidak menampung rasa memiliki. Sehingga benar bahwa rumah harus menjadi ruang pertama bagi seluruh anggota keluarga untuk tidak menjadikan rasa memiliki atau kuasa sebagai perilaku yang boleh tumbuh atau dimaklumi.
Pohon Khuldi adalah pohon yang menawarkan buah keabadian. Ia membawa daya tarik dan pesona yang membuat pikiran, nafsu, dan jasad kita tergiur untuk menggigitnya.
Jika istilah Khuldi berasal dari kata kholida yang berarti abadi, marilah kita periksa apa yang telah diam-diam kita nomor satukan di dalam rumah atau hati kita. Apakah ketenaran, kekuasaan, kekayaan, jabatan, atau pujian dan sanjungan?
Semua itu seperti listrik yang, jika diletakkan pada tempat yang tepat, bisa membawa manfaat. Siapa pun pernah kesetrum, tetapi mungkin jarang yang dengan sengaja memegangnya.
Jika dipegang, tangan kita seolah terserap arus dan tidak mudah melepaskan diri, meskipun batin kita berteriak-teriak. Dunia tidak tahu kita berteriak. Dan ketika batin kita berteriak, Allah-lah yang mendengar dan mampu membebaskannya.
Menggenggam sesuatu yang kita tempatkan sebagai nomor satu selain Allah karena menyangka akan hidup kekal atau dikenang selamanya di dunia adalah gigitan Khuldi.
Jika demikian, apakah semua itu tidak boleh didekati?
Aturan pertama: iya, tidak boleh didekati. Namun ada aturan berikutnya: jika terlanjur tergigit, jangan biarkan dirimu merasa tinggi karena gigitan itu. Memohonlah ampun, turunkan dirimu lebih rendah lagi di hadapan Allah, sehingga gigitan Khuldi tidak menjadi musibah, melainkan menjadi anugerah untuk menyempurnakan penghambaan dan melaksanakan kekhalifahan.
Khuldi: Yang Dianggap Abadi
Khuldi dikaitkan dengan khuld, yaitu keabadian. Namun justru di situlah letak persoalannya: sesuatu yang kita anggap abadi, padahal sejatinya bukanlah yang abadi. Hukum dunia bersifat dinamis dan berubah-ubah. Sedangkan hukum Allah bersifat statis, tetap, dan langgeng. Maka, selama kita masih berada di dunia, di dalam rumah dan di dalam hati kita akan selalu ada “Khuldi”. Ia akan selalu menjadi sesuatu yang perlu dikenali. Yang menawarkan keabadian adalah sesuatu yang mudah membuat kita lupa posisi sebagai hamba.
Tugas kita bukan menganggap rumah telah bersih dari “Khuldi”, melainkan tidak mendekatinya. Karena bisa jadi, yang menjadi “buah Khuldi” bukan sesuatu yang jauh dan kita benci. Ia justru berada sangat dekat dengan kita, dan membuat kita terpana dan menyukainya.
Behavior Surga dan Neraka
Di titik ini, pembahasan kemudian mengarah pada dua macam behavior: surga dan neraka. Behavior surga adalah rida. Sedangkan behavior neraka adalah milik.
Maka “milik” menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Ketika sesuatu yang sejatinya berbentuk fasilitas untuk sarana kita beribadah dianggap sebagai milik, ketika sesuatu yang seharusnya berada di luar diri mulai kita tempatkan sebagai bagian dari kepemilikan, di situlah “buah Khuldi” berada di dalam rumah.

Kesadaran tentang “milik” bukan berarti meniadakan fungsi benda, jabatan, kekayaan, kekuasaan, atau berbagai fasilitas kehidupan. Yang perlu diperiksa adalah bagaimana semua itu ditempatkan di dalam rumah batin: apakah menjadi sarana, atau perlahan berubah menjadi sesuatu yang kita genggam sebagai milik dan kuasa.
Di sanalah kesadaran adab kembali diperlukan. Bukan untuk menganggap diri telah terbebas dari Khuldi, tetapi untuk mengenali daya tariknya, menjaga jarak darinya, dan ketika terlanjur menggigitnya, kembali merendahkan diri di hadapan Allah.
Pulang Membawa Bekal Kesadaran
Sekitar pukul 01.00, Sinau Bareng ditutup dengan membaca hamdallah bersama-sama. Setelah itu, dulur-dulur tidak langsung beranjak. Makan bersama dan berbincang menjadi bagian dari menu lezat malam itu.

Hingga tepat pukul 02.00, dulur-dulur mulai kembali melanjutkan perjalanan menuju “omah” masing-masing. Namun perjalanan menuju rumah belum benar-benar berakhir. Setiap dulur pulang membawa bekal kesadaran: bahwa tuan rumah yang sebenarnya di dalam rumah kita, di dalam hati kita adalah Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW adalah penjaga pintu rumah tersebut. Dan di dalam setiap omah, termasuk di dalam hati sendiri, akan selalu ada “buah Khuldi” yang perlu dikenali, namun bukan untuk didekati. Sebab mungkin, rumah bukan hanya tempat kita pulang. Rumah adalah tempat kita kembali memeriksa: siapa yang menjadi tuan rumah, apa yang kita anggap sebagai milik, dan apa yang harus kita jaga agar tidak kita dekati.




Namun, yang kita warisi seharusnya bukan hanya kemerdekaan namun juga perjuangan. Orang yang mendapat kehidupan aman tenteram tanpa perjuangan bukanlah orang merdeka. Itu hanya orang yang hidup dalam satu kemakmuran, alias persemakmuran. Persemakmuran tidak membutuhkan perjuangan karena hanya pemberian. Kita yang hidup dengan mental persemakmuran meski di tanah yang merdeka akan menghasilkan cara hidup yang miskin perjuangan dan pengorbanan. Sedangkan mungkin bagi manusia yang hidup di tanah persemakmuran namun hidup dengan tetap menjunjung perjuangan dan sikap rela berkorban, justru bisa sedang meneguhkan kedaulatan dan layak mengunduh kemerdekaan pada dirinya. 




Di situlah titik koordinat ayem. Ketika titik tersebut ditemukan, kreativitas berkembang dan kebermanfaatan dapat meluas. Dari sana terjadi siklus perputaran rahmat.
Sinau Bareng kemudian terus bergulir melewati tengah malam. Setelah seluruh pembahasan mengalir dan berbagai pengalaman saling dipertemukan, forum ditutup dengan bacaan hamdallah sebagai tengara bahwa Sinau Bareng malam itu telah selesai.
Pembahasan kemudian merambah pada aspek ekonomi yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari ekologi, ekosistem, perilaku, dan kultur masyarakat. Dalam konteks perilaku, nilai-nilai kenabian seperti sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah menjadi bagian penting yang perlu dihadirkan dalam kehidupan. Keseluruhan unsur tersebut pada akhirnya menjadi benih yang akan menentukan arah pertumbuhan suatu masyarakat. Selain itu, Mas Agus juga menyinggung persoalan identitas yang dibangun di atas kompetisi serta fenomena FOMO (fear of missing out) yang semakin banyak mempengaruhi cara pandang dan perilaku manusia saat ini. Takut ketinggalan, takut nggak beken, takut nggak dianggap sejajar pada level sosial, adalah ketakutan yang salah tempat. Ketakutan terbesar kita itu sesungguhnya ketika dicabut predikat abdillah dan khalifah. Karena dua hal itu identitas yang patut diperjuangkan bukan malah diabaikan diganti dengan label dan stempel sosial.
Pembahasan berikutnya dilanjutkan oleh Pak Pawit, salah seorang praktisi pertanian yang hadir jauh dari Temanggung. Dalam uraiannya, beliau mengajak jamaah melihat kembali pentingnya pertanian yang thoyyib. Pertanian tidak hanya dipahami sebagai aktivitas budidaya tanaman semata, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pertanian yang baik adalah pertanian yang ramah lingkungan, menjaga keberlangsungan alam, sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dan penerus kehidupan.
Mas Yusuf mengawali dengan pertanyaan mengenai bentuk pemberdayaan lingkungan yang dapat dilakukan, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Ia juga mempertanyakan seperti apa model budidaya yang tepat untuk dijalankan dalam konteks tersebut.
Mas Kasno selaku penata diskusi memberikan pandangan juga bahwa langkah awal yang paling memungkinkan adalah memulai dari rumah masing-masing. Menanam menggunakan polybag dipandang sebagai cara sederhana yang dapat dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu memiliki lahan yang luas.
Menjelang akhir diskusi, Mas Agus kembali memberikan penegasan. Menurutnya, dalam menanam tidak perlu terlalu dibebani oleh target-target tertentu terhadap tanaman yang ditumbuhkan. Biarkan tanaman tumbuh secara natural sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Yang lebih penting adalah mempertebal kembali niat awal dalam setiap ikhtiar yang dilakukan. Sebab niat yang kuat akan menjadi pondasi bagi proses yang dijalani.

