Berkumpul setiap Malam Minggu terakhir di:
Griya Surya Pringsari No. 49, Kel. Pringsari, Kec. Pringapus, Kab. Semarang. (Secara tentative berkemungkinan berpindah lokasi yang akan diinformasikan melalui poster atau leaflet digital pada akun media sosial majlis gugurgunung)
MERDEKA MENJADI ABDILLAH
– Maqsud, Silah, Islah, Uzlah –
Suasana Sinau Bareng Majlis Gugurgunung malam itu terasa guyub dan menenangkan. Para dulur berkumpul dalam satu lingkar, membawa cerita, pengalaman, dan pemikiran masing-masing untuk kembali bersama menggelar tikar Sinau Bareng. Sinau bareng diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno. Tema yang diangkat kali ini adalah “Merdeka Menjadi Abdillah”, dengan tagline “Maqsud, Silah, Islah, Uzlah.” Beberapa dulur […]
MERDEKA MENJADI ABDILLAH
– Maqsud – Silah – Islah – Uzlah –
Bulan Agustus bagi kita bangsa Indonesia selalu mengajak kita berbicara tentang kemerdekaan. Tentang tanah air, bangsa, sejarah, perjuangan, dan tentang mereka yang dahulu mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, agar hari ini kita dapat menyebut negeri ini sebagai tanah air merdeka. Tetapi barangkali, setiap kali kita memperingati kemerdekaan, ada satu pertanyaan yang perlu kita bawa sedikit lebih […]
Adzan, Idzin, Udzun
– Menumbuhkan Tunas Iman –
Sinau Bareng Majlis Gugurgunung bulan ini mengangkat tema “Adzan, Idzin, Udzun”. Acara diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah tema. Setelah itu, Sinau Bareng bergulir dalam suasana yang hangat dan menggembirakan. Dari awal hingga tengah malam, pembahasan berkembang melalui berbagai sudut pandang, pengalaman, serta perenungan yang saling berkelindan. Adzan, Idzin, Udzun Adzan, Idzin, dan Udzun tidak dipandang sekadar sebagai urutan kata yang kebetulan memiliki kemiripan […]
ADZAN – IDZIN – UDZUN
Hidup ini sesungguhnya adalah semesta panggilan. Langit mengumandangkan adzan melalui matahari, bulan, bintang, dst. Bumi mengumandangkan adzan melalui gunung, sungai, pepohonan, satwa, tanah, dst. Tubuh mengumandangkan adzan melalui sehat, sakit, dst. Hati mengumandangkan adzan melalui rindu, gelisah, syukur, sabar, penyesalan, dst. Bahkan setiap kehidupan dan kematian adalah adzan yang menyeru manusia agar membaca ayat-ayat Allah di luar diri dan di dalam diri Namun, tidak setiap adzan didengar. Banyak telinga menangkap suara, tetapi tidak menangkap makna. Banyak mata melihat tanda, tetapi tidak membaca hikmah. Sebab, diantara Adzan dan Udzun, terdapat satu poros yang sering luput dari perhatian, yaitu Idzin. Idzin Allah (bi Idznillah) adalah gerbang perjalanan ilmu. Tanpa izin-Nya, adzan hanya menjadi bunyi. Tanpa izin-Nya, ilmu hanya menjadi informasi. Tanpa izin-Nya, telinga hanya menjadi alat pendengar. Akan tetapi, ketika Allah berkehendak membuka pintu hati seorang hamba, maka setiap desir angin menjadi nasihat, setiap peristiwa menjadi pelajaran, setiap ayat menjadi cahaya, dan setiap langkah kehidupan menjadi madrasah. Panggilan Allah dan kemampuan manusia untuk benar-benar mendengar, selalu ada rahasia Idzin-Nya. Maka perjalanan ilmu bukanlah perjalanan mencari sebanyak-banyaknya pengetahuan. Perjalanan ilmu adalah perjalanan memantaskan diri agar Allah berkenan membuka pendengaran lahir dan batin. Ketika izin itu datang, telinga berubah menjadi udzunun wa’iyah—pendengaran yang menyimpan hikmah. Ilmu berubah menjadi amal. Amal berubah menjadi adab, akhlak, akal, dan Iman, yang akan mengantarkan manusia menuju kepada Rabb-nya. Semoga majelis ini menjadi ikhtiar untuk semakin peka mendengar setiap adzan, memohon Idzin Allah agar hati dibukakan, dan dianugerahi udzun yang mampu menangkap hikmah di balik setiap ayat-Nya. Karena pada akhirnya, ilmu bukanlah apa yang sekadar terdengar, melainkan apa yang Allah izinkan untuk hidup di dalam hati. Wallāhu a’lam bish-shawāb.
NUMBUHKE MINAT LAN BAKAT
Setiap manusia dianugerahi potensi yang tersimpan di dalam dirinya. Namun tidak semua potensi langsung tampak dan berkembang. Ada yang masih berupa benih, ada yang sedang bertunas, dan ada yang menunggu saat yang tepat untuk bertumbuh. Sering kali kita bertanya, “Apa bakat saya?” Padahal sebelum bakat dikenali, sering kali hadir terlebih dahulu sesuatu yang lebih halus, yaitu minat. Minat adalah ketertarikan yang menggerakkan perhatian, membangkitkan rasa ingin tahu, dan mendorong seseorang untuk terus belajar. Minat menjadi pintu yang membuka jalan menuju penemuan potensi diri. Bakat dapat diibaratkan sebagai benih yang telah ditanam dalam diri setiap manusia. Sebagian benih tumbuh cepat, sebagian lain memerlukan waktu, pengalaman, dan ketekunan untuk menampakkan dirinya. Minat menjadi air yang menyirami benih tersebut, sedangkan proses belajar, berlatih, dan berkarya menjadi cara merawat pertumbuhannya. Dalam perjalanan hidup, minat dan bakat tidak cukup hanya dikenali. Keduanya perlu diarahkan, dipupuk, dan dihidupkan melalui laku yang berkesinambungan. Sebab potensi yang tidak dilatih akan tertidur, sedangkan minat yang tidak dirawat akan memudar. Pada akhirnya, tujuan menumbuhkan minat dan bakat bukan sekadar mencapai keberhasilan pribadi. Lebih dari itu, keduanya diharapkan menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat, keberkahan, dan kontribusi bagi kehidupan bersama. […]
PADHEPOKAN WAKAFA
– Himayah, Kifyah, Maiyah –
Sinau Bareng Gugurgunung malam itu mengangkat tema “Padhepokan Wakafa”. Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB dengan pembacaan tawashshul yang dipimpin oleh Pak Tri. Setelah tawashshul selesai dilantunkan, forum dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno sebagai pengantar untuk memasuki tema pembahasan malam itu. Pada sesi gelar tikar tema, Mas Agus mengawali pembahasan dengan membedah beberapa fenomena yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. […]
PADHEPOKAN WAKAFA
– Himayah, Kifyah, Maiyah –
Kita telah memasuki bulan Mei yang menjadi bulan Milad-nya Mbah Nun. Salah satu yang masih segar di sanubari kita adalah nasihat Mbah Nun yang dituangkan dalam lirik lagu: Wakafa. Disadari atau tidak, ini adalah pusaka yang seolah diwekaskan kepada anak cucunya yang kian menghadapi kekeruhan dan ketidak-menentuan zaman. Maka, Wakafa bukan hanya sekadar lagu. Ia adalah nasihat sepuh yang menjadi pusaka bagi warga Maiyah, dan mungkin […]
Sejarah Tandur lan Wangsa
– Harmoni & Survival
Suasana malam minggu di bulan Apit ini tampaknya memberi impak pada perjalanan beberapa jemaah untuk melingkar tepat waktu. Sepanjang jalan dari arah Semarang bawah terdapat banyak perhelatan penduduk dan bahkan beberapa titik digelar Pakeliran Wayang Kulit. Namun, meskin demikian, peserta tetap relatif hadir tepat waktu. Sebagaimana biasa, Sinau Bareng Gugurgunung di awali dengan lambaran tawashul. Malam itu keluarga gugurnunung disambangi oleh beberapa sedulur maiyah dari Ambarawa yang berniat ingin menggelar […]
Sejarah Tandur lan Wangsa –
Ada satu cara melihat peradaban yang tidak dimulai dari perang, raja, atau teknologi—melainkan dari sesuatu yang lebih sunyi: seteguk air. Maka disampaikanlah kabar dari Allah kepada Nabi Adam AlaihisSalam melalui Malaikat Jibril : “Minumlah air ini, ini adalah air tawar yang halal bagimu. Janganlah engkau mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, dan janganlah engkau menghalalkan apa yang telah Allah haramkan” […]
SASI TEMBANG WULAN TEMBUNG – Fitrah Makna & Tugu Kata
Sejuk menyelimuti malam. Hening yang seolah memuat banyak makna, penuh oleh kemungkinan-kemungkinan yang belum terucap. Tepat pada malam Minggu, 28 Maret 2026, Rutinan Sinau Bareng Majlis Gugurgunung kembali digelar. Bertempat di Griya Surya Pringsari No.49, Pringapus, Kabupaten Semarang—ruang sederhana yang malam itu menjadi tempat berlabuhnya rasa dan makna. Mengangkat Tema “Sasi Tembang Wulan Tembung” dengan tagline: “Fitrah Makna, Tugu Kata.” Sebuah tema yang berkaitan dengan bulan syawal yang banyak […]






















