Jajah Deso Milangkori

NAWATARA

Jajah Deso Milangkori adalah kegiatan yang memiliki banyak fungsi. Jajah artinya menjelajah, Deso adalah kawasan, Milang artinya memilah, menyibak, menyeleksi, Kori dari kata Kor dengan imbuhan -i. ‘Kor’ artinya telur Tumo(kutu rambut) yang biasa ikut nangkring di kepala. Jadi, ‘jajah deso milang kori’adalah kegiatan penjelajahan dari satu kawasan ke kawasan berikutnya untuk memunguti “kor kor (telur-telur tumo)” untuk diletakkan pada tempat yang semestinya dan tidak mengganggu keseimbangan. Pilihan kata ‘Kor’ sebagai perumpamaan bukan tanpa alasan, Kor yang merupakan telur kecil dan tersembunyi ini perlu ketelatenan dan ketelitian dalam menyibak dan menelusurinya.Continue reading

Wewengkon Kadipaten

trianggulasi

Peta ini cara ini mempermudah pemetaan potensi dalam sebuah kawasan. Segitiga besar diibaratklan sebagai sebuah wewengkon Kadipaten yang mana di dalamnya terdapat segita lebih kecil sebagai Kademangan yang terdiri dari sekian Kalurahan. Di bawahnya ada segitiga lebih kecil sebagai wilayah padusunan.Continue reading

Abstrak Jaman

Abstrak Jaman ii

Di dunia ini terdapat dua wangsa besar yakni Wangsa Candra dan Wangsa Surya. Masing-masing bersama mengkontribusi kehidupan dengan cara yang berbeda.

Wuku adalah perhitungan dalam segala sudut pertimbangan. Sudut pertimbangan jasad sebagai tanda, sudut pertimbangan jiwa sebagai khazanah pengetahuan, sudut pertimbangan ruhani sebagai satu-satunya penyambung kepada segala titah

Pasaran adalah ruang berkumpul secara meriah untuk tujuan pertukaran barang kebutuhan, menimba ilmu, dan bersosialisasi antar masyarakat dari 4 penjuru mata angin. Barang yang dibawa untuk ditukarkan disebut dagang (nyuda pepegang/mengurangi bawaan). Pasaran ini sekaligus meningkatkan kualitas pengetahuan teknis, seperti mutu metalurgi, penyepuhan logam, penambangan tanpa merusak, ekstraksi tanaman menjadi makanan dan minuman, membuat kain lebih halus, pengolahan emas, perak, perunggu, tembaga. Ilmu kelautan dan perkapalan, perbintangan dan navigasi, pertahanan keamanan, seni budaya, tata bahasa dan sastra lesan maupun tulisan, dlsb.

Kawi adalah masyarakat yang memiliki ciri penyair, intektual, cerdas, cerdik, bijaksana, pintar, orang suci, hingga arti-arti lain seperti : burung hantu, planet venus, dan matahari.

Sejak hasta janma menguat dan mengakar sebagai jenis identifikasi besar, maka setiap lini hampir dipimpin/dikuasai oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Perkembangan masyarakat menuju Nabi Nuh, pengetahuan ini sudah semakin menghujam dan mengakar. Sehingga pencapaian-pencapaian pengetahuan dan kebudayaan terbentuk dengan sangat luar biasa maju.

Kemajuan-kemajuannya bukan hanya teknologi yang bersifat jasad seperti pesawat atau bangunan arsitektural. Namun juga teknologi internal seperti berbicara jarak jauh, berpindah secara cepat dari satu tempat ke tempat lain sekejap mata, berkomunikasi dengan binatang tertentu, memodifikasi genetika tanaman, mereka genetika hewan, dan masih banyak lagi.

Kehadiran Nabi Nuh adalah tengara jaman. Masyarakat yang saat sudah merasa sangat sempurna dengan segala pemahaman menjadi tidak menyadari perubahan jaman. Masyarakat pada saat Nabi Nuh turun adalah masyarakat yang sudah sangat menghormati pilihan dan cara hidup orang lain, sehingga tabu untuk memberi nasehat atau peringatan kepada orang lain, meski dianggap salah sekalipun. Sebab masing-masing menyadari bahwa kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh seseorang, dan setiap orang pasti akan belajar dari kesalahannya. Namun kesalahan-kesalahan yang dibiarkan tanpa peringatan akan membuat seseorang merasa diijinkan untuk lebih terbuai dalam kesalahan dan tidak hendak menuju perbaikan.

Di sinilah peran yang diemban Nabi Nuh menjadi sangat kompleks. Bukan hanya memperingatkan kaumnya kepada ketauhidan, yang secara kebudayaan menentang arus. Tapi juga peringatan ‘tersembunyi’ yang tidak bisa dibuktikan yakni dimulainya pengurangan usia manusia seiring perkembangan peradaban. Jika di jaman Nabi Nuh, rata-rata setiap orang berumur 900 tahun maka jikapun dia menumpuk kesalahan selama 100 tahun, dia masih berkesempatan menambahnya lagi selama 100 tahun lagi, dan jika masih ingin menambahnya lagi dia bisa gunakan 100 tahun lagi usianya untuk merasakan kebosanan, sehingga di 600 tahun berikutnya dia menjadi seseorang yang punya pengalaman akurat atas kesalahan sehingga lebih teguh memegang kebaikan. Namun, cara itu tidak bisa selamanya digunakan. Ketika nanti usia manusia makin singkat maka yang harus dilatih adalah kewaspadaan, mawas diri, kesabaran, dan keikhlasan. Dan itu harus dimulai jauh-jauh hari. Sehingga ketika saat itu tiba manusia sudah punya bekal untuk menyesuaikan diri.

PADEPOKAN HASTA JANMA

  1. Janma Tani
  2. Janma undagi
  3. Janma ujam dudukan
  4. Janma prajurit
  5. Janma pangniarik
  6. Janma baruna
  7. Janma mitra
  8. Janma pandito/kawi

Pemaparan tentang Hasta Janma : tulisan 01tulisan 02

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

Struktur kerajaan yang beraneka warna daulat janma memiliki muara ilmu dari ajaran resi. Resi tidak bisa dilepaskan dalam struktur kerajaan yang kemudian disebut sebagai Janma Pandito atau Janma Kawi yang bertugas memberi nasehat ‘langit’.

Kedaulatan manusia disebut sebagai Empu, dan kedaulatan Raseksa disebut Denawa. Stereotip yang terbangun adalah Denawa sebagai bangsa kurang beradap dan Empu sebagai penyelaras dan mengatur dalam tatanan lebih mulia. Pada prakteknya sering terjadi kasus-kasus sebaliknya, meski demikian baik Denawa maupun Empu sepakat terhadap stereotip itu. Denawa menyetujui karena banyak golongan raseksa yang bernaluri memakan daging manusia sebagai penghangat tubuh, sehingga stereotip itu membantunya terasa legal dengan kebiasaannya. Namun secara mental spiritual, manusia janma lebih beruntung posisinya justru karena terinspirasi berbuat baik dengan bercermin pada prilaku para raseksa yang susah sekali beranjak menjadi bermartabat.

Bencana membuat perpindahan besar-besaran para empu ke berbagai penjuru.

-BANJIR BESAR & WARISAN-

Jawa tenggelam dan tampak terpecah menjadi kepulauan kecil-kecil. Para pengungsi yang berpindah jauh di daerah-daerah (kepulauan) terpencil mengabadikan nama Jawa dalam berbagai sebutan[1].

Dua gunung es raksasa di utara dan selatan terpapar hujan badai yang juga berkekuatan raksasa. Dua kutub ini bagai dapur air yang menunggu perintah untuk melelehkan diri. Benarlah, di saat perintah itu datang, lelehannya menciptakan arus air yang besar, ditambah hujan dan badai angin yang dahsyat. Kehadiran arus air menggulung-gulung bagai ombak dalam ukuran tidak wajar, sangat besar dan menakutkan. Langit menghitam dan kilatan-kilatan petir berpijaran dalam kejap-kejap yang menyilaukan. Gemuruh suara ombak, angin, guntur, menggetarkan bagai melepaskan sendi. Kapal Nabi Nuh tampak sangat kecil di tengah lautan gunung air. Hewan-hewan yang terbawa ikut tercekam ngeri. Tasbih, dan Takbir tanpa henti bergaung di dalam dada Nabi Nuh.

Makin lama, hujan badai kian reda. Kilatan-kilatan sesekali masih nampak dibalik mendung hitam. Laut pun mulai tenang. Tapi yang benar-benar tidak pernah disangka adalah, peristiwa itu membuat wajah bumi yang lama terendam air dari lelehan kutub. Kota-kota yang gemilang dengan segala pencapaiannya bukan dibuat untuk mampu menahan ombak setinggi gunung. Manusia-manusianya hampir tak punya tempat berlindung dan menyelamatkan diri. Mungkin ada yang dikecualikan atas nama Kasih Sayang Allah.

Kemudian air mulai surut terserap bumi. Hamparan darat mulai tampak lebih jelas. Kapal Nabi Nuh tertambat di Gunung. Hewan-hewan yang terbawa banyak yang kondisinya tidak sehat, beberapa ada yang sangat lemah. Namun banyak juga yang tetap sehat. Namun Nabi Nuh yang dianggap tidak berpengetahuan oleh umatnya ketika itu, sesungguhnya benar-benar utusan Allah yang diberikan karunia pengetahuan yang sepadan dan bahkan lebih dari pengetahuan umatnya waktu itu. Yang dilakukan Nabi Nuh kemudian salah satunya adalah kembali ke pembiakan atau pembuahan benih-benih yang telah sebelumnya disimpan. Setelah berhasil dibuahkan, binatang-binatang itu dikembalikan ke habitat aslinya meskipun banyak wilayah yang kini telah terendam lautan.

Dalam kondisi habitat yang semakin menyempit, Nabi Nuh melakukan penyesuaian dengan kondisi yang baru ini. Yakni binatang-binatang dibuat jauh lebih kecil dari ukuran aslinya. Sedangkan dalam perkembangan zaman, pasca banjir juga sebuah transisi dimana manusia pun semakin kecil ukuran tubuhnya dan semakin pendek usianya.

Para pengikut Nabi Nuh yang tersisa menggunakan hewan-hewan yang dibawa dari kapal menjadi santapan. Karena kondisi pendaratan pasca banjir besar ini tidak memungkinkan tersedianya pangan. Dari titik pendaratan ini kemudian bermukim sementara, menata diri, membangun kehidupan dan mulailah terjadi penyebaran ke beberapa penjuru Eropa dimulai dari Turki. Ada yang ke Mesir, Persia, India, China, Yunani, Irlandia, dan Amerika. Sekian lagi kembali ke tanah asal usul bersama Nabi Nuh yakni ke Jawadwipa.

Kisah serupa bisa pula dibaca di : Nabi NuhBahtera & SatwaBanjir Besar.

-ERA BARU, TIKAR SUDAH DIGELAR-

Smoro berbahagia karena kini kekuatan terasa tampak seimbang bahkan berpotensi lebih kuat. Peristiwa banjir Nuh ibarat perekrutan masal besar-besaran  _seperti halnya Banujan yang tidak menunjukkan mutu kekhalifahan karena tertambat pada keterterikan hal-hal yang menutupi kebenaran_ sebab ruhani mereka tidak mau menguak hijabnya sendiri, dan justru terus-menerus menutupi peringatan yang benar maka mereka menjalani hukuman untuk membantu pihak-pihak positif sebagai katalisator yang bergabung di bawah pengawasan Smoro. Kekuatan gabungan ini menjadi makin ‘sempurna’ karena ditambah kedunguan dan kedangkalan para raseksa rakus. Mereka mudah diprovokasi dan segera melakukan tindakan brutal, bombongan, gegabah, dan merusak. Dalam beberapa hal kemunculan para raseksa efektif sebagai bentuk teror atau penciptaan disharmoni terus menerus atas upaya penyelarasan.

Smoro dan pasukannya tinggal di salah satu titik koordinat bumi yang tidak terduga oleh manusia. Tempat itu bagaikan benua kecil yang tidak mampu dideteksi dengan kemampuan teknologi jaman sekarang, yakni ketika teknologi telah makin condong ke jasad daripada batin.

Benua kecil itu tidak hanya dihuni Smoro dan pasukannya. Akan tetapi juga didiami pihak-pihak yang diselamatkan karena pencapaian pengetahuan keikhlasannya. Disana mereka tidak berseteru sebab wilayah itu wilayah netral yang telah ‘diijinkan’ terlepas dari permainan bumi. Mereka semacam pengawas dan penyelaras. Mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi? Ini uraian singkatnya :

Pengetahuan Hasta Jalma membuat hirarki kualitas yang dekat representasinya dengan tahapan-tahapan fitrah ruhani. Jalma – Janma – Datu – Ratu – Resi – Bagawan – Kawi. Rekaman proses ini tercatat dalam permainan Caturangga.

  1. Jalma : pengetahuan dasar naluriah. Yang didengar dan dilihat adalah yang berdasar perangkat indrawi.
  2. Janma : intensifikasi, optimalisasi sesuai jalur abiliti. Yang dilihat dan didengar adalah yang berdasar perangkat indrawi dengan pemahaman penglihatan batin.
  3. Datu : pengetahuan gabungan abiliti hasta Janma dalam seorang. Yang didengar dan dilihat keseimbangan anatara penglihatan indrawi dan batiniah.
  4. Ratu : pengetahuan gabungan paradatu dalam seorang. Penglihatan dan pendengaran adalah pandangan batiniah yang menyesuaikan dengan pandangan umum yang jasadiah
  5. Resi/Pandito : pengetahuan gabungan dari pararatu dalam seorang. Penglihatan batiniah dan melakukan kegiatan yang menjauh dari keputusan-keputusan jasadiah agar terjaga batiniahnya.
  6. Bagawan/Begawan : pengetahuan gabungan dari para resi dalam seorang. Yang didengar dan dilihat adalah seruan dan ekspresi batiniah dan menyembunyikan diri dari jalur aturan bumi yang jasadiah, tapi meranggeh informasi samawi dalam penyelarasan kehidupan bumi.
  7. Kawi : pengetahuan puncak manusia yang kembali menjadi manusia yang tidak mengetahui apapun tapi sekaligus mengetahui banyak hal, bisa melakukan apapun tapi sekaligus hanya boleh melakukan sedikit dalam batasan kemanusiaan. Menyangga kesabaran dan keikhlasan sehingga terlepas dari hukum dunia yang tersekat ruang dan waktu. Yang dilihat dan didengar hanyalah suara dan penglihatan batin sehingga makin nampak jelas ilusi bumi dan kasunyatan hakiki, tapi harus kembali menjadi manusia jasad bahkan tingkat jalma sebagai kodrat titah kehidupan dia turun/dilahirkan. Penyembunyian diri yang juga menahan diri ini ditempuh untuk mengkontribusi kehidupan dengan jalur bathiniah. Seorang Kawi yang terjaga ikhlasnya secara konstruktif menyambung karunia. Ibaratnya seribu orang jalma melakukan ingkar sehingga efeknya seharusnya membuat daun mengering, tanaman banyak hama, musim kering berkepanjangan, bunga-bunga gugur, sehingga membuat kekurangan pangan bisa dicegah dengan pengabdian batin seorang Kawi yang ikhlas.

Wallahu a’lam bishawab  

[1] A sunken land called Rutas was an immense continent far to the east of India and home to a race of sun-worshippers. Rutas was torn asunder by a volcanic upheaval and sent to the ocean depths. Fragments remained as Indonesia and the Pacific islands, and a few survivors reached India, where they allegedly became the elite Brahman caste.

 

 

PASAR DAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MODEL DESA

EKONOMI PASAR

Dari beberapa paparan di awal-awal tulisan, diharapkan terbangun sebuah bingkai konsep kawasan pemukiman (Desa) dalam struktur yang terinspirasi dengan Firdaus, Paradesa. Masyarakat ini tidak akan menjadi masyarakat yang solid jika ketahanan mental, edukasi, kemandirian, etos kerja, hingga visi tidak dibangun dari bagian terkecil dalam sebuah sosial kawasan yakni KELUARGA.

Peran orangtua untuk membangun semangat menjadi manusia bermartabat adalah hal yang ditanamkan secara general, kompak, dan turun-temurun. Orangtua, berposisi sebagai semacam miniatur Hasta Janma yang memberikan ruang selengkap-lengkapnya bagi kebutuhan jawaban dari rasa ingin tahu sang anak. Pada kawasan sosial lebih luas, yakni Padusunan kelompok sosial dengan usia lebih tua akan menjadi mentor dan pengasuh bagi seluruh generasi di dalam kawasan tersebut.

Kini kita akan membahas sebentar tentang sistem ekonomi yang dibangun antar kawasan, yakni antar Padusunan dalam naungan Kaluhurahan. Disini saya akan membaginya dalam beberapa termin.

  1. Syarat Pengadaan Pasar
  2. Tugas-tugas ‘panitia’ pasar
  3. Lokasi Pasar
  4. Prinsip Dasar Pasar
  5. Arti Dagang dan Pasar
  6. Barang yang dipasarkan

SYARAT PENGADAAN PASAR

Setap Kalurahan seyogyanya memiliki pasar sendiri untuk menggulirkan pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder masyarakatnya. Arus perguliran ini harus dibangun bersama seluruh masyarakat dalam sebuah kawasan. Berikut syarat yang diperlukan untuk mengadakan Pasar yakni : Begawan, Tuha Dagang, Pamong Dagang, Pangurun Rembag, Panyarik, dan yang paling penting lagi adalah Lokasi.

FUNGSI DAN TUGAS PANITIA PASAR

FUNGSI DAN TUGAS BEGAWAN

Begawan adalah Janma Kawi yang dinisbatkan oleh masyarakat sebagai orang suci. Begawan pula sesungguhnya yang sejak awal mula menginisiasi adanya Pasar. Yakni metode berkumpul dari sebanyak-banyak orang dan saling memberikan manfaat satu dengan lainnya. Begawan akan diletakkan sebagai pihak yang akan membuka perhelatan Pasar dengan beberapa nasehat dan petuah-petuah singkat untuk kemudian dilanjutkan pada proses Masar.

Setiap Pekan Ageng / Pasar Agung pada setiap Kliwon, Sang Begawan senantiasa mengingatkan untuk saling meningkatkan pengamatan diri (eling) dan selalu waspada pada tipu daya. Baik tipu daya dari luar diri, mapun tipu daya dari dalam diri. Kemudian Sang Begawan melanjutkan bertutur tentan makna kekayaan, kesejahteraan, dan konteks terkait lain yang relevan aktual dengan kondisi yang tengah terjadi.

FUNGSI TUGAS TUHA DAGANG

Adalah seseorang yang berposisi saling menghubungkan dan membantu penebaran, penaburan. Menebarkan atau mendistribusikan barang kepada yang berkesesuaian. Menaburkan ke masing-masing tempat secara merata. ‘Tuha Dagang’ atau juga ‘Tuwa’ atau ‘Tetua Dagang’ adalah orang yang dipilih oleh masyarakat yang percaya akan kehandalan dalam menjaga dan ketelitiaanya dalam memetakan. Maka Tuha Dagang ini bukan profesi namun sebuah tugas yang dibebankan kepadanya oleh sebuah kesepakatan bersama. Tuha Dagang bisa dari Dhukun, Dhukuh, atau Dhusun yang dituakan dan disepakati oleh lintas antar padusunan. Meski demikian ada pula Tuha Dagang yang memang ditunjuk dan dipilih dengan cara lain. Misalnya ditunjuk oleh Begawan, diutus oleh Adipati atau bahkan Ratu, ini hanya soal teknis pengambilan keputusan yang harus semakin ringkas disaat melibatkan kuantiti masyarakat lebih luas.

Tuha Dagang menjadi pihak penentu Kerto Aji (nilai) akan sebuah barang. Ia memiliki pengetahuan yang komperehansif tentang sejarah pengadaan barang tersebut sehingga bisa memutuskan kertoaji barang tersebut. Apakah barang tersebut di tanam, atau tumbuh alami, atau benda-benda yang dibuat. Jika dibuat dengan bahan apa, berapa lama pembuatannya, hingga berapa jauh jarak pembuatan barang tersebut dibawa hingga ke pasar, dlsb. Sehingga tidak terjadi seekor Kuda ditukar dengan seekor kambing atau seikat sayuran. Seekor Kudai sering ditukar dengan beberapa ekor Kerbau atau Sapi. Seperangkat Gebyok yang terbuat dari Kayu Jati dan berukir-ukir tidak akan ditukar dengan Sapu lidi atau Rempeyek. Gebyok akan di kertoaji sepadan dengan proses sejarah pengadaan barang tersebut, bisa dengan sekian kilo beras, atau sekian gulung tenun.

Dengan demikian, Seorang Tuha Dagang memiliki tim konsultan yang bisa memberinya pertimbangan dan masukan untuk menentukan Kerto Aji sebuah barang. Ada konsultan di bidang pertanian dan peternakan, ada yang di bidang Pakriyan, ada konsultan di bidang sosiologi. Sebab penentuan Kerto Aji sebisa mungkin bulat (tidak sepenggal kesan) dan personal (disesuaikan dengan kerja keras di belakangnya), tidak boleh meletakkan Kerto Aji sebuah barang atau benda tanpa melihat kondisi di belakangnya, ini adalah upaya bersikap adil pada manusia.

LOKASI PASAR

TATA LETAK PASAR DAN PLANOLOGINYA

Untuk menentukan letak pasar, yang pertama kali dilakukan adalah menemukan terlebih dahulu pasar kliwonnya. Pasar Kliwon sebagai pusat yang kemudian bisa menjadi acuan penetuan letak 4 pasar yang lain. Penentuan pasar kliwon didasari sistem mata angin, yakni ditengah-tengah arah mata angin Timur, Utara, Barat, Selatan.

Utamanya, sebuah pasar harus berada pada tempat yang lapang dan datar dan mudah dijangkau. Pilihan ini sangat luwes sehingga patokan khusus hampir tidak ada karena benar-benar meletakkan pada kemudahan saling berkumpul dan bertukar pepegang /Bawaan.

PRINSIP DASAR PASAR

Jika untuk urusan mendasar yakni tentang Sandang, Pangan, dan Papan tidak mampu dijawab oleh keluarga kawasan sendiri, bagaimana hendak mengatakan merdeka? Sedangkan keluarga sendiri dalam satu kawasan saja tak bisa membantu, bagaimana bisa berharap bantuan tanpa pamrih dari luar keluarga? Maka, Pasar adalah upaya kerjasama yang meletakkan keutamaaan kesejahteraan bersama dengan cara tetap bermatabat dan melahirkan lipatan-lipatan manfaat.

Tentang wayah/ waktu dulu diatur dengan kolomongso, masyarakat umumnya sudah tau pathokan ini. Juga petuah tetua kampung yang menjadi hukum sektoral sebagai patokan yang lain. Pasar itu ada lima yakni : Pasar Legi, Pasar Paing, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon. Per lima itu yang paling besar pada pasar Kliwon dimana semua barang berkumpul jadi satu. Penentuan pasar utamanya menemukan koordinat pasa Kliwonnya dulu, titik kasihnya dulu. Baru penentuan arah pasar yang lain dengan patokan koordinat Kliwon. Sebagai pancer adalah Kliwon. Dalam tata kelola pasar, ada “Tuha Dagang” yang mengatur distribusi dan penyebaran barang. Juga mengelola untuk barang-barang yang belum tertukar agar bisa memperoleh penukaran di saat Kliwon. Pasar harus dipertahankan keramaiannya  sebagai upaya saling bertemu dan bertukar informasi.  Juga ada faktor penting terkait larangan menimbun “emas dan perak”  menyimpan uang. Larangan penimbunan emas dan perak (alat tukar/uang kwartal) menjadikan kearifan terhadap keberadaan bahan baku sebagai simpanan pangan akan cepat bergulir. Pasar riil era industri sekarang ini sangat ditentukan oleh pasar valas dan pasar bursa.  “pasar ilang kumandhange”. Tentang larangan penyimpanan emas perak, pemahamannya bukan wujud emas dan peraknya.  Tapi orientasi menimbun Kapital. (visa berbagai bentuk,  salah satunya uang)

Emas dan perak mulai dilihat sebagai aset kekayaan setelah bangsa kita menggunakan ‘mata’ dan persepsi kolonial yang menghausi emas. Di era Swarnadwipa, jaman yang sudah sangat lama, emas sudah kita kenal dan berhasil dikelola menjadi berbagai macam hal. Utamanya sebagai alat peribadatan dan simbol-simbol kemuliaan yang tidak dimiliki secara personal namun substansi (Keratuan, Kadipaten, dlsb). Koin-koin emas adalah simbol peribadatan yang masing banyak ditemukan hingga sekarang. Sehingga lebih kepada makna filosofis spiritual daripada alat transaksional. Kepeng Luang (tengah bolong), sebagai simbol hidup menuju ketiadaan. Dimana tengah yang bolong melambangkan “tan kiniro tan keno kinoyo ngopo”.

NGUNDUH KARUNIA

Karena pasar berkaitan dengan berbaur, menyebar, memanusiakan manusia dan menjunjung martabat bersama dalam spirit kerelaan dan bukan kepemikikan, maka Konsep Pasar adalah proses mengunduh karunia. Berkah akan semakin terkucur dengan terlibatnya banyak pihak yang beraneka latar belakang namun satu dalam hal kesantunan dan pijakan bebrayan. Semuanya berbahagia sejak berangkat dari rumah, saat saling bertemu, hingga saat kembali berpisah. Sebab utama mereka rela melakukan itu semua karena didorong oleh rasa ingin senantiasa menjadi bagian dari proses pengunduhan karunia tersebut. Pertimbangan utama dari pasar adalah berkah. Apa yang menyebabkan ini menjadi berkah, adalah :

  • Semua yan berkumpul saling mengamankan satu dengan yang lain, tidak mengganggu harta, darah, dan martabat oranglain.
  • Semua yang berkumpul membawa sesuatu dari tempatnya sebagai bawaan (pepegang) yang perlu dikurangi karena dianggap melimpah (Suda)
  • Semua yang berkumpul menjunjung kerelaan dan memprioritaskan kebahagiaan bersama dengan cara mengorbankan sedikit kebahagiaan pribadi.
  • Semua yang berkumpul mengakurasi sikap penuh rela
  • Semua yang berkumpul membangun interaksi bukan hanya seputar bawaan yang mereka bawa, namun juga tentang pengalaman hidup, tentang kebijakan dan kearifan
  • Yang mereka sunggi di atas kepala, dan yang mereka pikul di pundak mereka bukanlah barang dagangan untuk di transaksikan guna memperoleh alat tukar jual-beli berupa uang. Yang mereka junjung di atas kepala mereka adalah persaudaraan atas nama Tuhan. Dan yang mereka pikul di pundak adalah beban dunia yang merasa harus diletakkan dan dikurangi agar tidak menjadi beban akhiratnya.

QS : 62 Al Jumuah ayat 9 – 11

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.

Pasar adalah bentuk kebudayaan yang mengusung semangat kebersamaan dengan konsep ‘Salam’  ‘Silaturahim’. Menebarkan salam melalui perilaku, bukan sebatas pada kata-kata. Esensi pasar = Ruang Silaturahmi dan membersamakan diri untuk mendapatkan karunia. Membeli kepada yang kita kenali. Mekanisme pasarnya seperti omah. Semua bisa berposisi tamu dan semua bisa berpososisi tuan rumah. Dengan kerendahan hatian bukan merendahkan.

Memperlalukan orang lain sebagai bagian dari kesatuan kesadaran diri. Dengan silaturahim seperti omah, Ombo lan Mahanani (OMAH). Tuan rumah menerima dengan kebahagiaan sebagai berkah dan mencawisi apa yang dia punya. Tanpa ada saling merendahkan.

” Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)              

SPIRIT PASAR

PASAR DAN BERKAH

Bangsa kita sesungguhnya sangat mengerti siapa orang yang pantas mengajarkan ilmu dan kebijakan, ini akan mereka dapatkan dan cari dari para Brahmana, Resi, Begawan, Pandhito, dlsb. Bukan kepada pedagang. Pedagang merupakan pihak yang tidak cukup memiliki kadar dan kompetensi untuk menyampaikan. Bahkan masih dianggap sebagai kasta yang cukup rendah, apalagi jika pedagang tersebut adalah orang asing atau manca, secara kasta bahkan dianggap lebih rendah lagi. Rendah disini terletak pada keberdayaannya yang lemah dalam hal keamanan, policy, regulasi, dlsb. Oleh sebab demikian maka bagi yang dianggap demikian justru perlu mendapat perlindungan, dijaga, dan dibantu agar lebih mudah urusannya. Yang lain, Pasar Purwa tidak meletakkan etos keuntungan sebagai spirit utama, namun menebar dan saling berbagi kasih sayang dengan cara saling memberi dan menerima. Spirit utama pasar ‘dipawangi’ oleh seorang Resi atau Begawan yang konsentrasi utamanya bukan mengajak untuk sibuk mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi, melainkan pengkondisian masyarakat untuk menggembirai dan sibuk dengan aktifitas apapun yang memberikan keuntungan-keuntungan ukhrowi. Saya sepakat dengan Pak Agus Sunyoto dalam bukunya ATLAS WALISONGO, setelah pembawa agama diperankan oleh para alim yang memenuhi standar kebegawanan atau dari kasta brahmana maka berbondong-bondong masyarakat menaruh hormat dan mengikutinya dengan tulus.

Pasar yang dibangun oleh para leluhur kita sejak era purwa, saya menganggapnya bahkan mirip Jum’atan pada saat ini. Setiap orang berkumpul dan menggapai keberkahan bersama, namun Jum’atan saat ini pun masih cenderung formal dan belum cukup efektif menyentuh kondisi interaksi yang menggairahkan. Peran pasar bukan sebagai transaksional, tapi ada muatan pertemuan dan pembelajaran.

JEJAK KONSEP PASAR PURWA

Di beberapa daerah, salah satunya di Jakarta masih lengkap istilah Pasar, dari Pasar Minggu, Pasar Senin, dan seterusnya sampai Pasar Sabtu. Dulu ia hanya pada hari itu tempatnya jadi Pasar. Tetapi detik ini tinggal nama. Karena setiap hari jadi pasar. Satu pekan = 7 hari. Pekan = peken = Pasar. Pasar Kawi yg 5 hari, muasalnya adalah pertemuan spiritual menyembah 5 dewa di 5 titik, yang dimulai oleh Jaka Sengkala dan Resi Raddi. Lalu terjadilah pasar. Misal pasar Legi, penyembahan Dewi Sri, di Timur kabuyutan, barang2 yg dipasarkan aslinya adalah bentuk/barang jamuan untuk para tamu yg datang beribadah dari selatan, barat, utara dan tengah desa, yg berkumpul di Timur. Orang2 yg ada di timur, sebagai Tuan rumah acara ibadah, menyediakan barang2/jejamuan kepada para tamu dari barang yg sifatnya Legi/manis/putih. Begitu seterusnya berlaku di arah desa yg lain. Semakin ramai, lalu orang2 yg hanya melihat duniawi, menjadikan momen ibadah itu hanya sebagai momen dagang.

Dulu di Mekkah juga begitu, istilah yg muncul dari Quran: Siqoyatul Hajj(memberi minum para jemaah haji, menjamu) adalah tugas peminpin Mekkah kepada para tamu yg hadir dari berbagai penjuru ke Mekkah. Ratusan domba, onta, dengan senang hati dijadikan jamuan untuk para tamu. Siqoyah, dari akar kata S.Q.Y, dekat dengan akar kata S.W.Q (yg dari akar ini muncul kata Suuq/pasar).

Abu Sufyan yg menjadi pemimpin politik, semakin kokoh karena didukung Abu jahal (ekonomi) dan Abu Lahab (juru kunci Ka’bah, ‘brahmana’-nya). Kombinasi Ka’bah (sebagai pancer berkumpulnya patung 360 dewa dari segala penjuru), dan mata air zamzam, menjadikan Mekkah sebagai pusat perdagangan kala itu. Religi menjadi alat utama penguasaan politik/ekonomi.

Abu Jahal dkk menentang Muhammad terutama karena Ka’bah dan Zamzam. Siapa menguasai 2 ini, dialah penguasa Mekkah dan potensi ekonominya. Harta, tahta, dan budak wanita. Itu saja yg dilihat Abu Jahal (Stupid’s Father) dkk. Maka mereka ibaratnya mau menukar bulan dan matahari (seberapapun dirham dan dinar) demi Mekkah dan Zamzam tidak jatuh ke tangan Muhammad.

Kembali ke kondisi pasar yang menjadi tradisi kita sejak masa Purwa.

‘IRUP’ SEPENGGAL KISAH BARTER DI JEPARA

Di beberapa tahun silam, di beberapa daerah terpencil di Karimun Jawa, saat Angin Baratan …. Hampir seluruh aktifitas pelayaran dihentikan, kapal kapal besarpun pada saat cuaca seperti itu sudah terbiasa singgah berlindung di pulau pulau untuk lempar jangkar sampai angin baratan reda, ini bisa berlangsung hampir satu bulan …. Praktis aktifitas penduduk setempat untuk menjual dagangan dan membeli sembako (biasanya di Jepara) juga berhenti total. Masyarakat   ttp butuh makan, awak awak kapal juga butuh untuk kelangsungan hidup, yang menarik, dari peristiwa angin baratan ini adalah, terjadinya pasar tiban. Masyarakat bermata pencaharian ikan, sayur, kelapa, buah, dll menuju ke tempat tempat kapal besar singgah atau nyandar sementara, biasanya awak kapal menyediakan minyak atau bahan bakar lain. Mereka melakukan barter pada pasar tiban tersebut. Istilahnya juga unik, …. “Irup, ben podo dene Urup, kanggo Urip” : Irup/ijol/tukar, ben podo iso Urup/nyala/kemebul pawone, ben podo dene iso Urip/memberlangsungkan kehidupan secara bersama-sama. Saat itu tahun 2006 an. Masih banyak saya jumpai di pulau pulau terpencil. Entah sekarang. Yang saya catat pada saat itu melibatkan masyarakat dari Suku Bajo (masyarakat yg hidup di atas air), suku Bugis yang hidup di hutan hutan, Jawa, Madura. Saya sepakat jika itu adalah berkah, terlihat sebagai silaturrahim tahunan, meskipun mungkin media sebagai bencana.

ARTI DAGANG DAN PASAR

DAGANG – Hanyuda Pepegang

Suda dalam Bahasa Kawi artinya tersedia melimpah, hanyuda artinya mengurangi. Saat ini dalam bahasa Jawa ‘Suda’ justru sering diartikan berkurang, atau menurun. Mungkin karena saling berkait sehingga terjadi pencampur-adukan makna.

Dagang artinya Nyuda pepegang : Mengurangi bawaan, sehingga orang yang datang membawa bawaan harus sebisa mungkin dikurangi tidak dibawa pulang lagi karena berhasil disebarkan. Ini juga yang memberangkatkan istilah oleh-oleh, sebab sebelum berangkat keluarga selalu berpesan : “bawalah oleh-oleh” bawalah perolehan, memperoleh saudara baru, ilmu baru, pengalaman baru, dan membawa perolehan barang yang bisa dinikmati atau dirasakan oleh anggota keluarga di rumah. ‘Nyuda pepegang’ dan ‘Oleh-oleh’bentuk pertukaran barang tanpa mata uang, alias barter.

Etos utama masyarakat adalah menjadi produsen entah produksi pangan, kerajinan, ketrampilan, atau apapun agar bisa berkontribusi dan berkesempatan ikut berbaur dengan nilai tukar produksi yang ia hasilkan. Produksi ini ada yang kadang melimpah dan lebih dari cukup untuk kebutuhan daerahnya sendiri. Kemelimpahan ini disebut sebagai ‘SUDA’.

PASAR

Produk yang melimpah baru bisa ditebarkan untuk berbagi kenikmatan kepada daerah lain. Istilah ‘MASAR’ berarti menyebar membaur, tempatnya bernama PASAR tempat berkumpul yang disepakati bersama untuk proses penyebaran  dan pembauran. Apalagi tidak semua hal yang diperlukan dalam keberlangsungan komuniti bisa dipenuhi sendiri karena harus berhubungan dengan iklim dan topograsfi khusus. Seperti misalnya Beras yang tidak cocok di pesisir atau di gunung, namun Garam tidak bisa dihasilkan di gunung atau di darat karena umumnya harus di pesisir. Juga Gula Aren, pensuplai kolang-kaling dan gula, tidak seproduktif di daerah Gunung jika tumbuh di darat ataupun pesisir. Kelimpahan produk baru dibarterkan keluar sebagai ‘alat tukar’ dan berbagi kebahagiaan.

BARANG YANG DIPASARKAN

Karena ini adalah kegiatan yang mempermudah distribusi dan bergulirnya kebutuhan primer maupun non primer masyarakat setempat. Maka barang yang dipasarkan adalah hal-hal  yang diproduksi, dipiara, dikembangkan, ditanam sendiri oleh masyarakatnya. Karena wilayah agraris maka produk utama yang dihasilkan adalah hasil bumi dari sektor pertanian. Maka dibuatlah inisiatif lumbung untuk menekan overstock di pasar. Sementara mulai dikembangkan sektor-sektor lain yang diproduksi. Dengan demikian tinggal mengkombinasi berbagai model produk selain pertanian, sehingga desa menjadi multi produk untuk mencukupi kebutuhan.

Apapun produk yang dihasilkan adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat didalam komunitinya dahulu. Maka masing-masing komuniti masyarakat harus tahu kebutuhannya terlebih dahulu. Ada beberapa daerah yang membutuhkan Kuda sebagai penunjang transportsi, ada yang tidak memerlukan.

BARANG DAGANGAN

Barang Dagangan adalah barang yang dibawa dan diniatkan untuk dikurangi. Yang datang ke pasar sudah tahu barang apa yang akan dibawa sesuai dengan pasarannya. Contoh : Pasar Legi untuk hal-hal yang berwarna putih, seperti garam, beras, dan hal-hal yang bersifat menerangi.

PASAR LEGI : Sesuatu yang memiliki warna putih, atau manis, atau membenderang. Seperti minyak Jarak, ia tidak putih tapi membenderangi. Beras tidak manis namun memiliki warna putih, maka beras merah tidak dijual di pasaran Legi. Ada pula garam, ia tidak manis tapi memiliki warna putih. Madu juga diperdagangkan di pasaran ini, meski ia tidak berwarna putih namun memiliki rasa manis.

PASAR PAING : Menjual sesuatu yang pahit, atau sepet. Artinya sesuatu yang jika dikonsumsi akan memberikan rasa pahit ataupun benda-benda yang tidak untuk dimakan. Seperti misal, Tembikar, Gebyok, aneka mebel, Gedhek, Tikar, peralatan dapur dan alat rumah tangga.

PASAR PON : Pada pasaran ini yang dipasarkan adalah segala hal yang berkaitan dengan obat-obatan. Akar-akaran, daun-daun obat, para ahli pengobatan yang memberikan pengobatan cuma-cuma, Jamu, juga binatang ternak.

PASAR WAGE : Dipasarkan benda-benda dan peralatan yang berkaitan dengan peribadatan, Tosan aji, wewangian seperti bunga-bunga, daun pandan, Kemenyan.

PASAR KLIWON : Semua jenis yang dipasarkan dari Legi hingga Pon berkumpul menjadi satu. Ini adalah formasi pasar paling lengkap.

RAJA BRANA RAJA KAYA

Kita bisa masuk pada pemaknaan rajabrana dipandang sebagai “ujian nafsu”  rajakaya menjadi kekayaan yang sesungguhnya. Yang dimaksud dengan RAJA adalah Kedaulatan, Brana / BHARANA adalah : Sarana. Kedaulatan Sarana. RAJA KAYA  : Kedaulatan Semua orang, semuanya. Kaya kemudian yang menjadi kata : Kalayak.

Pasar jaman sekarang sama sekali tereduksi dibanding konsep pasar jaman dahulu. Kita sekarang sedang beramai-ramai meminjam ‘mata’ orang lain untuk melihat segala hal. Sekelumit uraian tentang pasar jaman dahulu yang saya tulis di atas, hanya sebagai rekomendasi untuk menggunakan ‘mata’ leluhur untuk memandang kehidupan. Sehingga menjadi alat pembanding dan bisa menjadi semangat penumbuhan gebyar pasar yang seiring dengan naluri dan jiwa kita sebagai manusia.

IDE PASAR TEMATIK   

Pembangunan beberapa Desa yang saling berdekatan, masing-masing desa memiliki potensi yang berbeda beda,  ada pasar tematik sesuai potensinya dan mendekatkan pasar itu dilokasi penghasil produk. Pembeli yang harus datang, bukan produk yang dibawa keluar. Keberadaan pasar tematik sekaligus bisa merancang laju produksi bahan yang akan dipasarkan. Misal : Panen kacang panjang tiap Pon,  panen Ikan tiap Wage. Tidak harus desa yang berdekatan, tapi juga bisa dirancang dalam Padukuhan yang berdekatan.

Tidak harus Dukuh,  tapi keluarga dan tetangga yg berdekatan. Cukup 5 keluarga nampaknya pasar barter bisa dimulai. Ini adalah upaya menampakkan desa yang di atas desa, PARADESA. Bukan semata karena kekayaan dan aset fisik pada kawasan tersebut, namun karena dihuni oleh keluarga-keluarga yang saling membenderangi satu dengan yang lain. Bukan para tengkulak dan bakul yang memenuhi pasar tapi antar warga sendiri yang langsung saling berinteraksi.

Contoh nyata yang bisa direvitalisasi ada di wilayah pegunungan. Bawang merah dari sana dibeli oleh tengkulak  dan pengumpul sayur untuk dibawa turun ke pasar, warga Pegunungan perlu sabun, beras, harus turun ke pasar. Kenapa tidak dibikin Pasar Tematik dimana ke Pegunungan beli sayur dengan cara bawa beras? atau orang Pegunungan bawa sayur ke pasar kampung sebelah untuk mendapatkan beras. Ini juga bisa menghubungkan desa penghasil berasnya kepada daerah penghasil sayur. Jepara tidak  menghasilkan Sayuran namun produktif dengan beras. Pedut tidak dapat menghasilkan padi namun produktif akan sayuran. Disinilah peran fasilitator, menjadi pembawa beras dan pembawa sayuran bergerak menghubungkan 2  area.

SYARAT KETENTUAN SOSIAL

Inti dari segala sistem adalah menyempurnakan akhlak dalam hal apapun. Ini sekaligus garis batas yang tegas untuk sebuah habitual, apakah perlu di lanjut atau justru penting untuk dihentikan. Ini hukum dasar untuk membuat syarat dan ketentuan, harus ada regulasi yang rapi agar tidak justru menjadi kontra produktif dalam sebuah kegiatan. Peran Begawan/ Orang Suci, Lurah, Sesepuh Desa, Kabuyutan, Dhukuh, Dhusun, Dhukun dan segenap kawula warga sangat penting. Semua bekerja dalam satu tubuh yang sama yakni Ngawula kepada Tuhan dengan fungsi dan peran masing-masing.

Hal ini akan terjadi jika pemahaman nilai dan aturan sudah ditanamkan sejak kecil pada level keluarga. Dan masing-masing keluarga satu suara dalam urusan akhlak, adab, atau paugeran hidup. Satu suara ini akibat petuah yang disuarakan secara periodik dan indah dari orang suci yang tak berpihak pada kepentingan pribadinya namun berpihak pada kepentingan Tuhan.

Kepentingan Tuhan adalah segal hal yang seharusnya terjadi dan terkuak, bukan tertutupi apalagi terkubur. Yang harusnya terkuat adalah rasa kasih sayang, kebersamaan, saling menolong, saling merengkuh, saling bersusun, saling rukun, dalam keluhuran budi dan keagungan jiwa. Kenapa orang suci yang di dengar? Karena manusia leluhur kita adalah manusia spiritual yang hakekatnya hanya mau menyembah dan tunduk kepada Tuhan, bukan kepada kekayaan, jabatan, bukan pula kepada seseorang, melainkan kepada pihak yang nyata membawa kadar Tuhan di dalam dirinya. Makin dominan kadar tersebut, makin beasr pula penghormatan kepada yang bersangkutan.

–o0o–

Majlis gugurgunung.

TIM PETAN (Perdikan Pranatan)

Terlibat sebagai kontributor dalam tulisan ; Afif Junaedi, Arif Wibowo, Dhidit, Fatma Effendi, Kasno Kirana, Norman Aks, Yudi Rohmad.

सुदा sudo adj. Menyediakan berlimpah-limpah

सुदा sudo adj. banyak sekali

सुदा sudo adj. Memberi banyak

सूद sUda m. baik

भरण bharaNa adj. Memelihara

भरण bharaNa n. Upah

भरण bharaNa n. Tindakan membawa membawa

भरण bharaNa n. bergizi

भरण bharaNa n. mendukung

भरण bharaNa n. rezeki

भरण bharaNa n. mempekerjakan

भरण bharaNa n. Mendukung

कय kaya . setiap orang

काय kAya adj. Berhubungan atau dikhususkan untuk dewa Ka

काय kAya m. orang banyak

काय kAya m. modal

काय kAya m. Ada obyek yang harus dicapai

काय kAya m. koleksi

काय kAya m. rumah

काय kAya m. himpunan