Bahtera dan Satwa

BAHTERA dan SATWA - 06 Juni 2017

BAHTERA DAN SATWA

Nabi Nuh tetap menyayangi anak-anaknya baik yang menentang maupun yang mendukung, namun ada kadar cinta yang kemudian berbeda. Karena Sang Ruhullah adalah utusan Allah, iapun secara otomatis mencintai pihak yang mencintaiNya pula.Continue reading

Nabi Nuh

NABI NUH - 05 Juni 2017

NABI NUH

Ia sangat mumpuni di bidang genetika, dan teknologi-teknologi mekanis. Hatinya sangat lembut dan penuh welas asih. Ia sangat mudah tersentuh dan takut kepada suatu perbuatan yang secara nurani ia anggap menyimpang. Segala hingar bingar dan kegemilangan makin tampak menuju kegelapan. Segala keceriaan dan dan geliat aktifitas bukan sedang menebarkan wewangian namun seperti menebarkan aroma busuk dan membangkai. Orang-orang sangat cepat membuat kesenangan-kesenangan namun sangat lamban memikirkan untuk bersyukur atas segala kenikmatan. Sebagian menyangka, asal masih ada Resi, Begawan, di sanggar pamujan berarti yang lain tak perlu berkewajiban melakukannya. Urusan pemujaan itu bidangnya para Resi dan Begawan. Seperti halnya urusan lain seperti arsitektur, pertanian, teknologi, diampu oleh yang memiliki ahli di bidangnya. Agaknya persepsi ini turun-temurun dipakai oleh manusia akhir jaman. Bahwa pengabdian adalah semacam kurikulum atau profesi khusus seperti halnya bidang profesi yang lain. Padahal Agama adalah tatanan dan paugeran untuk tidak rusak dan tetap terjaga pengabdiannya kepada Tuhan dengan cara apapun profesi yang ia pilih. Meskipun ia hanya seorang teknokrat, ia tetap harus bersikap dan mulai memberi peringatan. Ia akan berhadapan dengan 2 hal yang sangat berat.

Pertama ; peraturan adat yang tidak memperbolehkan seseorang memberi nasehat atau peringatan kepada oranglain tentang moral. Sebab peradaban ini percaya bahwa seseorang pasti akan menemukan sendiri pengalaman dari perbuatannya apakah perbuatannya tersebut pantas dilanjutkan ataukah dihentikan. Kedua ; Nabi Nuh sangat santun, welas asih dan mengerti adat, dia warga yang baik, manusia tulus, dan sangat berbudaya maka selain akan bertentangan dengan orang lain, Ia juga harus benar-benar menekan perasaanya pribadi yang sesungguhnya lembut agar tidak ragu-ragu berani menyuarakan pesan yang lebih baik. Nabi Nuh adalah Nabi yang memiliki suasana perasaan yang sangat peka dan tulus, ia adalah sang Manah.

Yang dikhawatirkan Nabi Nuh tidak keliru, ia ditentang habis-habisan oleh warga masyarakat lain. Ia dianggap seseorang yang melampaui batas, menyalahi adat, dan tidak punya kapasitas sama sekali untuk bertindak seperti tindakannya saat ini. Meski demikian ia tetap bertahan karena masih lebih besar rasa belas kasihannya kepada masyarakatnya yang makin mendera kerugian dengan sukacita. Ia sangat tidak tega jika masyarakat ini dihukum oleh Tuhan dengan mekanisme keadilan dan keseimbanganNya. Namun, kegigihan nabi Nuh tak banyak membuahkan hasil. Ia hanya berhasil mendapat pendukung beberapa orang. Beberapa orang yang lain lebih memilih tidak, justru menganggap kelakuan Nabi Nuh ini perlu diingatkan, Nabi Nuh dianggap kurang waras dan paranoid.

Puncak dari itu semua tatkala terjadi sebuah peristiwa dimana Nabi Nuh merasa terdorong untuk mengingatkan salah satu orang yang sangat terhormat di situ, semacam kepala Suku atau ketua adat. jika orang ini mau mendengarkan meskipun tidak mengikuti ajakannya akan membawa dampak baik dalam proses risalahnya. Apalagi jika mau, mungkin ia akan menyaksikan berbondong-bondong orang mendapat kesadaran dan kembali hidup dalam mekanisme ketuhanan yang Fitrah.

Tapi peristiwa berkata lain, orang terhormat yang seorang perempuan itu merasa dihina dan direndahkan martabatnya oleh Nabi Nuh. Ia berdiri dan mengacung-acungkan jarinya ke muka Nabi Nuh. Sebagai seorang yang memiliki perasaan dan martabat, perilaku perempuan itu sungguh menusuk perasaannya. Kelak anak-turun beliau memiliki catatan ini, bahwa jari telunjuk yang mengarah ke muka adalah penghinaan martabat. Semenjak itu kehidupan sang Nabi Nuh mulai penuh teror, kecaman dan ancaman tidak hanya berasal dari luar namun juga dari dalam keluarganya sendiri. Beberapa ada yang netral, beberapa mendukung, beberapa yang lain menentang. Urusan risalah ini menjadi makin tidak sederhana.

Untuk para pengganggu dan pengecam dari luar yang ingin berbuat mencelakai dia dan keluarganya, Nabi membuat sebuah alat yang dinamai panah Predea. Panah ini bekerja otomatis pada batas tertentu, melesatkan anak panah petir buatan yang bereaksi terhadap logam yang menjadi bagian baju orang-orang pada zaman itu. Setiap orang asing memasuki area rumahnya dengan tidak wajar akan terdeteksi dan secara otomatis panah akan bekerja tepat sasaran mengusiri orang-orang itu dengan sambaran-sambaran kilat. Panah itu tidak membunuh, hanya sebagai alat usir yang efisien. Para keluarganya diminta untuk mengenakan pakaian dengan unsur kain saja.

Demikian rongrongan dari luar mampu diatasi. Namun untuk menanggulangi rongrongan dari dalam, Nabi Nuh tidak mungkin menggunakan senjata predea. Ia menghimbau kepada keluarganya untuk mempercayai ayahandanya. Ia meminta anak-anaknya paham posisi sulit yang dihadapinya saat ini. Oleh sebab itu sebuah kepercayaan akan sangat membantu dan sebaiknya tidak menambah masalah dengan menambah konflik internal keluarga. Yang mendukung ayahnya segera mengerti dan mengambil peran dibelakang ‘gerakan’ Nabi Nuh. Mereka berpedoman bahwa bapaknya bukan orang gila, selama ini mereka merasa dibesarkan oleh seseorang yang penuh welas asih dan lembut dan tak sedikitpun mencirikan ketidak-warasan, tidak mungkin ayahnya seorang yang gila seperti yang dituduhkan orang-orang.

Yang menentang mencoba mengingatkan Bapaknya bahwa ‘gerakan’ yang dilakukan ayahnya membuat alur harmonisasi menjadi terganggu. Masyarakat menjadi resah dan mengatakan bahwa : “jika yang dibawa adalah sesuatu yang lebih baik, mengapa kondisi menjadi tidak lebih baik? Mengapa justru sebaliknya?” Apakah tidak disadari oleh ayahnya bahwa igauan-igauannya seperti seseorang yang paranoid namun penuh ambisi berdasar logikanya sepihak.

Anak-anaknya yang menentang menambahkan : Imbas gerakan yang dipicu ayahnya merambah sampai kepada dirinya dan lingkaran pergaulannya, kini kehadirannya mulai dipandang sinis, acuh tak acuh dan bahkan ada yg terang-terangan bahwa ayahnya adalah manusia teknologi yang melampaui batas wilayahnya. Terlalu memasuki urusan pribadi oranglain dan tidak tahu diri. Seharusnya ia cukup fokus sebagai teknokrat dan biolog saja malah lebih baik dan terhormat.

Bukan malah soal moral dan kertagama, yang seharusnya dilakukan oleh para agamawan dan ruhaniawan. Nabi memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya apa yang dilakukannya justru karena kewarasan dan rasa sayangnya kepada masyarakat. Ia pernah hidup pada sebuah jaman yang lebih baik, seperti itulah yang hendak dikembalikan. Bukan akan merubah, jikapun sekarang merasa ada yang harus berubah sesungguhnya karena masyarakat sendiri yang sudah jauh berubah. Kita semua memasuki jaman dimana secara serempak kita menjauh dari kemurnian nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan yang dibawa oleh para leluhur oleh yang mulia Kakeknda Adam, Kakeknda Sis, Kakeknda Idris.

Bersambung…

Agus Wibowo

NABI ADAM BUKAN ORANG ARAB

NABI ADAM BUKAN ORANG ARAB - 4 Juni 2017

NABI ADAM BUKAN ORANG ARAB

Kita semua terkadang punya imajinasi bahwa semua Nabi berasal dari Arab atau wilayah Timur Tengah. Namun sesungguhnya justru banyak Nabi yang tidak berasal dari Arab. Nabi Adam bukan berasal dari suku manapun di dunia, sebab ketika Nabi Adam diturunkan ke dunia untuk menjadi Khalifah belum ada satu suku dan etnis manusia. Nabi diyakini oleh beberapa bangsa berasal dari mereka. Tidak ada yang mampu membuktikan salah dan benarnya. Kita tidak disuruh untuk itu, tapi kita disuruh untuk menghormati cara dan upaya mereka yang ingin menjadi bagian sejarah kepada Sang Nabi dan Manusia pertama itu.

Di dalam tulisan ini, nabi Adam pun tidak berasal dari Timur tengah. Beliau berasal dari Kehendak Allah yang hendak mengutus khalifah di muka bumi. ‘asslembing’ jasad Nabi Adam dilakukan langsung di wilayah cyberspace yang Maha Agung dan Maha Canggih. Ketika kemudian diturunkan ke Bumi, hampir seluruh permukaan bumi beliau singgahi untuk sekaligus menemukan kembali Bunda Hawa kekasihnya. Kemudian setelah bertemu mereka berdua menetap di salah satu koordinatnya. Ada beberapa perpindahan demi perpindahan selama beliau berdua menjalani fungsi sebagai Khalifah. Lahirlah peradaban awal yang disebut juga peradaban Kawitan atau Purwa. Pada keturunannya yang bernama Nabi Idris, Nabi Adam telah meninggal. Perkembangan teknologi telah berkembang begitu hebat. Pengenalan tentang pengelohan besi, mineral tanah, pembuatan kain, telah dikuasai.

Pada kurun waktu berikutnya sepeninggalnya Nabi Idris peradaban terus berlanjut dan berkembang dengan baik abad demi abad. Peradaban makin sempurna membentuk sosial masyarakat, segala teknologi untuk mempermudah urusan hampir tidak ada yang tidak ditemukan. Alat transportasi laut, darat, udara, antar dimensi, bisa dijangkau. Sistem tata kota dan arsitektur sangat rumit dan canggih bisa dicapai. Penerangan dengan kekuatan cahaya yang mampu menerangi terus menerus bisa digapai. Seni, Budaya, Olahraga, Bahasa, Sastra, menemukan ruang dan gairah yang menggelora, semuanya tersentuh dengan kemajuan luar biasa. Kemampuan tinggi seperti telepati, telekinesis, dan teleport, adalah hal lazim saja di masyarakat itu. Dunia kesehatan, perbintangan, ilmu fisika, kimia, tak ketinggalan pula. Semuanya sangat maju dan mewah. Tampak pembangunan menyentuh ke segala bidang. Namun ternyata tidak menyentuh gairah pengabdian kepada Tuhan. Usia-usia mereka sangat panjang namun sangat pendek daya ingat mereka kepadaNya.

Salah seorang teknokrat dan ilmuwan genetika keturunan Nabi Idris di jaman tampil untuk mencoba memberi peringatan. Namun ia bukan kepala kabilah, bukan ketua adat, bukan kepala suku. Apalagi ia melihat mulai banyak ketimpangan kemanusiaan. Orang mulai merekayasa ilmu untuk kepentingan pribadi yang menjijikkan dan kotor. Seperti mereka kuda dengan manusia sebagai alat pemuas nafsu. Gairah berkeluarga semakin rendah, dan gairah melampiaskan nafsu dalam kesenangan-kesenangan yang sia-sia terus dimeriahkan. Kondisi hingar bingar seperti ini benar-benar menggelisahkan. Peradaban seakan memasuki fase istidraj dimana Tuhan sengaja menuruti terus kemauan mereka bukan karena sebagai limpahan karunia seperti sebelumnya, namun sebagai pembiaran atas kehendak mereka memuaskan diri hingga celaka sendiri. Sang Teknokrat inilah Nabi Nuh.

Agus Wibowo

WAHYU KEPRABON

WAHYU KEPRABON - 3 Juni 2017

WAHYU KEPRABON

Mekanisme kepemimpinan natural itu menjadi pilihan para leluhur untuk memilih sosok pemimpin.

Adalah “Wahyu Keprabon”. Keprabon dari kata ke-prabu-an. Prabu artinya Tuhan. Dalam Bahasa Kawi ‘Prabhu’ memiliki beberapa arti yang mengindikasikan Sang Maha, Mighty, Powerful, Master, Lord, Owner, Capable, Abundant, Having power to, More powerful than, Match for, Excelling, Having power over, Constant, Powerful, Able, Eternally, Rich. Maka Wahyu keprabon adalah wahyu ketuhanan. Yakni sikap, polah, tindak tanduk, perkataan, kebijakan, wawasan, seseorang yang terjaga. Sebab terjaga maka sedikit saja menimbulkan efek bahaya.

Kenapa seseorang terjaga dan beberapa orang yang lain tidak?

Ada hal yang sama diberikan kepada manusia secara keseluruhan, seperti udara untuk bernafas, air untuk minum, mencuci, dlsb. Tanah untuk berpijak, sinar matahari, naungan langit, dan banyak hal kenikmatan yang diberikan cuma-cuma. Kebanyakan menikmati tanpa bersyukur, kebanyakan menikmati tapi kufur. Namun demikian ada pula diberi sesuatu secara khusus, maka ini pasti ada sebabnya bukan terjadi tanpa alasan.

Hanya sangat sedikit yang menikmati dengan rasa syukur dan menggunakan dalam batasan paling minim. Yang sangat jarang ini kemudian melahirkan anak turun, dengan tetap melanjutkan ‘tradisi’ mengenal batas dan beretika dalam menggunakan fasilitas ditengah sementara pihak yang sebagian besarnya masih gembira dengan keserakahan, suka dengan rebutan, puas dengan mengalahkan yang lain. Orang yang dilahirkan dari nasab yang lebih menjaga hidupnya kemudian menjadi terjaga, dikaruniai oleh Tuhan kepenjagaan dan karunia kesadaran yang lebih cemerlang. Dalam kondisi terjaga seperti ini, ia tidak mudah terlena pada keelokan dunia dan terus menjalin hubungan yang intim kepada Tuhan. Tidak heran dengan kekayaan karena tidak mengejarnya, tidak takjub dengan kekuasaan karena memang tidak menghendakinya. Namun justru dengan ini Tuhan menghendaki untuk memberinya amanah kekuasaan dan kekayaan. Dari sini kemudian mulailah terjadi distorsi yang membelokkan perjuangannya.

Dengan kata lain mungkin bisa diartikan bahwa ‘Wahyu Keprabon’ adalah ‘Kadar Tuhan’ dalam diri seseorang yang terakumulasi secara turun-temurun melalui jalur nasabnya. Wahyu ini tidak selalu berlanjut kepada fenomena pentahtaan dan teritori kekuasaan. Ada beberapa pihak yang dianugerahi Wahyu keprabon namun tidak untuk meletakkannya sebagai Raja.

Para Nabi adalah pihak-pihak yang menerima Wahyu ini. Ada yang menjadi Abdan Nabiya dan ada pula yang menjadi Mulkan Nabiya.

Di Nusantara, konsep berkerajaan ini telah turun temurun menjadi tradisi untuk mengatur dan menata peri kehidupan dengan konsep yang terkoneksi antara langit dan bumi. Yakni tidak melepaskan diri dari hubungan Langit, Bumi, dan diantara keduanya. Langit dan Bumi ini tidak bisa dipisahkan, Oleh sebab itu hingga ke soal pemimpin pun harus mengelaborasi keduanya. Seorang pemimpin harus memiliki syarat kepemimpinan mutlak yakni Wahyu Keprabon. Seseorang yang mendapat wahyu keprabon akan memenuhi beberapa ciri, ketika dia berbicara bisa dipercaya, ketika ia berjanji akan ditepati, ketika ia bertindak pertimbangan utamanya adalah Maslahat. Ucapan dan tingkah lakunya sepadan, bisa diterima siapapun, bisa diterima dalam strata atau semesta apapun, menyenangkan hati saat bertatap wajah. Tutur katanya indah, dan senantiasa membawa keindahan baik lahir maupun bathin.

Pemimpin ini adalah pemimpin natural, tidak perlu dipromosikan, dicitrakan, dikampanyekan, sebab masing-masing orang akan dengan sukarela mengungkapkan pengalamannya sendiri kepada oranglain tentang pengalaman dan pertemuannya dengan seseorang yang mengindahkan. Konsep kerajaan, wahyu keprabon, untuk saat sekarang agaknya sengaja sedang dihilangkan atau tertimbun pada sebuah sistem yang dianggap mampu menjawab persoalan manusia secara lebih konkret dan jitu. Namun meski demikian, konsep ini tak lantas tiba-tiba tidak berlaku hanya dikarenakan manusia tidak mengakuinya. Sebuah konsep yang baik dan diperuntukkan kemanfaatannya bagi sebanyak-banyak orang akan cenderung dijadikan target pengambil-alihan. Sebab pada sistem yang telah memperoleh kepercayaan sesungguhnya menjadi tali utama penguasaan. Sehingga ketika sebuah sistem berhasil merebut kekuasaannya akan memperoleh tali kendali dalam hal penguasaan alam, aset, dan manusianya sekaligus.

Lantas bagiamana sistem ini akan dijalankan ketika tidak ada lagi simbol-simbol jasadiah yang mengkonfirmasi masih berlakunya sistem ini? Wahyu keprabon untuk kondisi saat ini sepertinya menggunakan jalur kebersamaan bukan personal individual. Jika pada jaman dahulu dikaruniakan pada seseorang kini dikaruniakan kepada sekian banyak orang sekaligus jika memenuhi syarat dan kesanggupan. Siapapun akan menerima percikan Wahyu ini jika berhasil menata dirinya dengan baik dan beradab. Adab tutur kata, adab berjanji, adab bertindak.

 

Agus Wibowo

RAGA – JIWA – SUKMA DALAM DIRI MANUSIA

RAGA – JIWA – SUKMA DALAM DIRI MANUSIA - 02 Juni 2017

RAGA – JIWA – SUKMA DALAM DIRI MANUSIA

3 unsur itu tergabung dalam diri manusia. Masing-masing memerankan karakter paling dominan dari pengaruh salah satu dari ketiga unsur di atas. Jika pengaruh utama ia bangun berdasar dominasi kesadaran jasadiah maka outputnya pun memandang segala hal dalam koridor jasadiah. Jika yang paling dominan adalah Jiwa, maka ia akan akan bersikap dan memandang dengan pertimbangan jiwa. Jika yang paling dominan adalah sukma, maka akan memandang dan menyikapi hidup dalam konsentrasi ruh kesemestaan.

Masing-masing jenis ini akan saling berbeda cara pandang dan jarak pandangnya. Meski sesungguhnya punya satu titik pandang yang sama namun argumen, penyampaian, logika berfikir, dan analisanya berbeda-beda. Yang jasadi mengedepankan bukti-bukti jasadiah yang tampak mata. Sedangkan yang ruhani akan menyampaikan sesuatu dengan mengedepankan logika uluhiah yakni serba mungkin dan berlapis-lapis. Kata-kata dan argumentasinya penuh kembang dan bersayap. Susah dimengerti dan cenderung dituduh sebagai filsuf, sufi, sastrawan, pujangga, dlsb.

Maka yang paling memungkinkan menjadi gandengan (bridging) keduanya adalah jiwa. Jiwa ini telah belajar banyak dari Sukma tentang antipolaritas dan memahami banyak hal pandangan Jasad tentang polaritas-polaritas. Jiwa menjadi perantara yang ideal untuk mempertemukan antara lahir dan bathin. Manusia yang memiliki jiwa akan lebih memungkinkan bersambung dengan lintas bangsa dan bahasa karena jiwa memilih tinggal dalam kesamaan cara pandang atau perspekstif dalam melihat kehidupan. Pada dasarnya apa yang menjadi perspektifnya adalah hasil penterjemahannya dari pandangan-pandangan sukma. Penterjemahan ini disesuaikan dengan bahan-bahan jasadiahnya. Ia tetap menggunakan bahasa, gestur, idiom, konsentrasi utama, kecenderungan yang lokal, namun membawa pemahaman yang universal. Sukma memang memiliki kesatuan yang lebih luas, ia ada di seluruh manusia. Sukma membawa anjuran, nasehat, fatwa yang Tunggal. Ketika jiwa mampu mendengarkan fatwanya ia akan menjadi lebih bijak mengemban amanah jiwanya dan akan lebih bajik dalam memperjalankan jasadnya (kaki, tangan, dan panca inderanya).

Manusia yang berjiwa, akan lebih siap menjadi bagian dari masyarakat universal. Meskipun pada dasarnya semua manusia pasti memiliki Jiwa dan Sukma namun Jiwa dan Sukma sering tertimbun dan tidak populer dalam policy hidupnya sendiri. Ia yang memilih menimbun jiwa kemanusiaan telah lebih membimbing hidup dan cara pandangnya dalam kehidupan dengan pertimbangan ego, atau diri, atau jasadiah. Jika kita mengamati kecenderungan sosial sekarang, inilah yang terjadi. Seseorang menjadi kaku dan tidak tampak sebagai manusia yang luwes dan memiliki kecemerlangan. Sering ia timbun jiwa kemanusiaannya sendiri demi urusan urusan duniawi. Orang lebih senang menonton penderitaan oranglain daripada menolongnya merupakan salah satu indikator jiwa kemanusiaan seseorang rela digadaikan untuk ditukar ‘like’, dan impian menjadi viral di sosmed.

Agus Wibowo