Awiting Rah – Sangkan Paran – ing Dumadi

majlisgugurgunung.com::Awal mula kehidupan dalam bahasa Jawa disebut sebagai awiting rah atau witrah yang  kemungkinan menjadi berkorelasi pula dalam terminology Islam dengan Fitrah. Rah bukan hanya berarti ‘hidup’ namun juga ‘kehidupan’, ‘jagad’, ‘rahsa’ atau ‘rahasia’, ‘rasa’, ‘roh’.

Begitulah memang, setiap insan memiliki rahasia jiwa yang hanya dipahami sendiri olehnya dengan Tuhan sesembahannya. Meski demikian bukan berarti setiap insan sama sekali berbeda tanpa sedikitpun persamaan dalam hal kerahasiaan ini. Ada Kebijakan Tunggal yang tetap berlangsung sebagai pranatan utama. Jagad sebelum kehidupan insaniah pasti ada, namun menjadi rahasia masing-masing karena tak lagi bisa dijumpai, hanya bisa dirasakan.Continue reading

Iblis Said

majlisgugurgunung::Kubuat 10 ribu manusia percaya adalah paling baik dan paling benar, dan kubuat keyakinannya itu merasuk dalam jiwanya, sehingga mempengaruhi raga dan ruhaninya. Setelah terkena bencana, mereka akan tau “mereka anak buahku yang tunduk kepada bisikanku” hai, aku iblis. Aku akan sampaikan kepada kalian manusia yang lama-lama aku kasihan juga kepada kalian yang makin pekok. Kasihan aku melihat kalian makin seperti boneka dashboard yang bergerak pun harus ada getaran. Bergerak pun hanya geleng-geleng atau manggut-manggut.Continue reading

Nabi Sis & Bangsa Wanara

majlisgugurgunung.com::Pasti bukan hal yang mudah menghadapi makhluk-makhluk rakus yang telah terbiasa hidup saling memangsa selama jutaan tahun. Kekurangan pangan, iklim yang ekstrim, menjadi faktor-faktor yang makin menjauhkan para makhluk ini menjauh menemukan diri sejatinya.  Mereka terlalu lama sibuk dengan cara bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan makanan. Yang kuat mengandalkan kekuatannya, yang lemah mengandalkan kerjasama kelompoknya.Continue reading

PRIYO UTOMO JOWO

majlisgugurgunung:: Sesungguhnya, meskipun dikatakan 5 perkara ini ditujukan bagi pria Jawa. Ternyata setelah dikupas, tak ada satupun yang menunjuk jenis kelamin.

  1. WISMO

Cumawis lan Momot

 Seorang pria, belum disebut pria sejati jika belum memiliki Rumah/Wisma. Namun Wisma yang dimaksud adalah kondisi mental seseorang yang mampu menjadi tempat persinggahan bagi oranglain. Mau dan mampu menerima. Semakin seseorang ini memiliki kondisi mental yang matang untuk mampu menerima oranglain maka kehadirannya bagai rumah bagi banyak orang yang ingin ikut singgah. Oranglain tidak memandang kehadirannya sebagai pihak asing, melainkan pihak yang seperti sudah dikenalnya sebagai tempat aman untuk berteduh. Semakin besar ‘rumah’ seseorang, semakin banyak orang merasa terlibat sebagai penghuninya.Continue reading