Road to Makan bareng Kanjeng Nabi – Bagian 4

Puncak Rindu adalah Tangis

 

Selain Rindu, sebetulnya Tangis juga menjadi puncak dari Bahagia, pun Sedih, dan sebagainya. Ke universalan tangis sebagai bahasa komunikasi, menjadi indikasi bahwa Tangis adalah salah satu bahasa Kasantikan.

Selepas adzan Ashar, masing masing dari kami tampak bergegas mempersiyapkan diri. aku sendiri salah tingkah setengah mati. Ke kamar mandi, cuci muka, ganti kaos, pakai sarung andalan, plus minyak wangi bayi yang aku sawut begitu saja saat berangkat dari rak perlengkapan anakku lanang, Pekik.

Bismillahirrohmanirrohiim, kami berangkat ke lokasi acara. Tampak berduyun duyun arak arakan mobil dan motor. Ibuk ibuk, Embak embak, Bapak bapak, Mas mas, dan tentunya Anak anak, tampak meriah dan sumringah. aku membayangkan ada rebana pengiring, wuaahhh, mbrabag aku. Kian salah tingkah, kian membayangkan bagaimana kalau ternyata Kanjeng Nabi rawuh lebih dahulu, sampun pinarak, atauΒ  jangan jangan Kanjebg Nabi sedang jumeneng sambil tersenyum menghadap ke arah arak arakan kami. Lalu bagaimana keterbatasan kami ini mampu mengakurasi kehadiran Beliau. Duhhh ….

Tampak berduyun duyun menuju lokasi acara

Merem sejenak, lalu melek lagi. Perjalanan menyusuri jalan di tepian sungai, seperti jalan produksi pertanian. Kanan Kiri tampak terbentang Hijau hampir menguning, yang di atasnya terbentang berjajar tali tali yang padanya terikat warna warni tas plastik kresek berjarak 3 jengkalan. Awan Putih tipis berserakan pada bentangan Langit yang Biru. “Sungguh Instalasi Warna yang dahsyat”. (Pinjam kalimat dari sedulur Pelukis Jepara yang turut hadir).

Juga gemericik air dari saluran sekunder yang mengucur ke kolam kolam ikan, tampak pula seseorang menggiring bebeknya menaiki tanggul sungai, berjalan pulang ke kandang. Pun kawanan burung terbang ke arah yang sama, ke arah pulang.

seseorang menggiring bebeknya menaiki tanggul sungai

Pada sebuah pertigaan jalan tertancap plang penunjuk arah bertuliskan “Kampus Sawah”, pertanda sudah hampir sampai lokasi acara. Arak arakan perlahan berbelok mengikuti penunjuk arah, berjalan perlahan lahan, namun degub jantung dan nafas justru sebaliknya. aku menatap aliran sungai yang langsam, perlahan degub jantung dan nafasku turut langsam. Pada 10 derajat arah perjalanan kami, tampak Mentari hampir Jingga parasnya, cahayanya menerobos rerimbunan ranting dan daun Randhu yang tumbuh kokoh dan subur berjajar di sepanjang saluran sekunder area pertanian Desa Karang Randhu.

tampak Mentari hampir Jingga parasnya

Semribit angin, masuk melalui jendela mobil yang kami biarkan terbuka, lalu menyeka wajah kami. Sangat menyegarkan.

aku segera uluk salam, “Salamku duhai wahai ke semua Panjenengan yang ada di sini, saking kersaning Allah, Laa ilaha illaLLah MuhammadunRosuluLLah …. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakhaatuh.

Kepada ke semuanya, …. Alfaatihah ”

Tiba di lokasi acara, area Kampus Sawah. Kampus yang terletak di area persawahan, dengan dilengkapi dengan satu bangunan berukuran kurang lebih 3 x 6 meter. Bangunan dari kayu dan bambu, dengan 6 tiang struktur dan 2 tiang praktis. Berlantai lampit bambu, beratap genteng tanah, tak berdidinding, dilengkapi dengan 1 meja yang di atasnya ada kendi tanah. Ada spanduk terbentang di bagian belakang, dan sebretan kayu jati tergantung di bagian depan, keduanya bertuliskan Kampus Sawah. Jelas sebuah bangunan yang lebih memper gubug, dan pasti akan tertolak habis habisan oleh skalatis Kampus ukuran orang orang modern saat ini, dengan barometer Kampus yang berupa bangunan bangunan megah dan luas, namun sempit laboratorium.

Riang menari-nari @Kampus Sawah

Oke Stop, saya nggak tertarik memperbandingkan lebih lanjut. Singkatnya, Kampus Sawah Karang Randhu ini mempunyai laboratorium yang luasnya ratusan bahkan ribuan kali lebih luas dari bangunan strukturnya. Laboratoriumnya, ya berupa sawah itu sendiri, sawah dalam arti yang sebenarnya. Penelitiannya melibatkan langsung tanah, udara, cahaya, hewan, tumbuhan, prilaku prilaku, adab adab, dan sebagainya yang ada di situ. Perpustakaan dan referensi ilmunya langsung tersambung dengan leluhur leluhurnya. Semangat dan kesadaran yang dibangun adalah kesadaran menuju ke Fitrah. Bahasa ringkasnya adalah “Pertanian Organik”. Sebuah sistem pertanian yang jelas sulit dipraktikkan pada era sekarang ini, era dimana tanah tercemari, udara tercemari, air tercemari, hewan hewan tercemari, ekosistem kacau, rantai makanan putus, dan prilaku prilaku yang nyaris putus asa, dan sebagainya. Acapkali dulur dulur ini juga harus berhadapan dengan angkuhnya bangunan bangunan pabrik. Upaya upayanya terhadap Sungai terus menerus berhantam hantaman dengan intalasi instalasi air limbah yang diameter lubang pipanya puluhan kali lebih besar dari diameter kepalan tangan dulur dulur tersebut. Menebar benih ikan, dengan jenis ikan yang lebih tahan dengan pencemaran, adalah salah satu cara yang mencoba di istiqomahkan dalam lelakunya. Karena upaya upayanya kepada pihak pihak terkait, hanya menghasilkan satu kalimat jawaban yang sudah terprediksi, yaitu : “Pencemaran ini bukan akibat dari limbah pabrik pabrik” ….. Sial !!!!!.

“Semakin tidak ada yang menemani, justru Allah sendiri yang akan menemani”, kurang lebih demikian, kalimat yang saya kutip dari Mbah Nun. Mungkin ini adalah realitas dulur dulurku yang justru mempunyai kesempatan mengakurasi kesaksian melalui peristiwa peristiwa yang mereka hadapi selama kurang lebih 8 tahun perjuangan. Satu Windu, adalah waktu yang sanggup mereka tempuh untuk mengenal sekian banyak kakaWin dan sekian banyak reriDu. Semoga terus berjalan pada putaran putaran WinDu berikutnya, doaku.

Mak wuthhh, aku terbangun dari lamunan. Berdiri diantara gelaran
keikhlasan, bersama dengan gelaran kelasa yang sudah ginelar di area Kampus Sawah, di atas jalan produksi, yang menyisakan 1 meter untuk lalu lintas pengguna jalan.

di tengah gelaran juga sudah tersedia beberapa hidangan yang hampir kesemuanya adalah hasil dari menanam, merawat, memanen, dan memasaknya sendiri. Diantaranya adalah ketela, singkong, nasi, aneka lawuhan, aneka sayur, klubanan, tidak ketinggalan pula Kang Wahid penggiat Simpul Gambang Syafaat juga hadir membawa produk pesisir Demak berupa Dendeng Gereh. Semua tertata berjajar di sepanjang kami duduk berhadap hadapan.

beberapa hidangan yang hampir kesemuanya adalah hasil dari menanam, merawat, memanen, dan memasaknya sendiri

Panitia menyalakan sound sistem, lalu mengetesnya. Properti dan panggung teater siap. Tim teater siap. Tim Hadroh juga telah memegang terbang nya masing masing. Mas Haris membuka HP, mempersiyapkan file Sholawat. Mas Burhan juga telah siyap berduet dengan Mas Haris. Jamaah duduk dengan posisi nyamannya masing masing. Anak anak dipangkuan orang tuanya. Beberapa bertugas mengatur lalulintas jalan. Mas Kafi yang duduk berdampingan dengan Mas Agus, segera menyalakan mic, lalu pegang kendali untuk memandu acara. Acara dibuka oleh Mas Kafi, lalu dilanjutkan dengan Tawasul. Kemudian Sholawatan, dipimpin oleh Mas Haris dan Mas Burhan. Momentum yang menggetarkan. Beberapa ada yang pecah tangisnya, dan bersembunyi diantara rancak tabuhan rebana. Mas Haris beberapa kali terdengar serak, parau, lalu ngunjal ambegan. Kulit wajahnya yang putih kian kentara Merah mBrambang.

Sholawatan yang dipimpin oleh Mas Haris dan Mas Burhan

Saat Mahalul Qiyam, lengkingan suara tinggi Mas Burhan lebih dominan terdengar. Kembali pecah tangis diantara Jamaah, saat Mas Burhan melantunkan : Marhaban Yaa Nurrul Aini, Marhaban Jaddal Husaini, Marhaban Ahlan wasahlan, Marhaban Ya Khoiro Dai.

Seusai Sholawatan, Mas Kafi menyambungnya dengan bacaan do’a. Semua menengadahkan tangan, sebagian besar memejamkan mata. Pada bacaan : Yaa Allah Yaa Rohmaan Yaa Rohiim Irhamnaa …. Mas Kafi pecah tangisnya, meraung raung, beberapa saat hanya terdengar Huu .. Huu … Lalu melanjutkan menyelesaikan do’a.

Acara dilanjutkan dengan sambutan sambutan, dari perwakilan panitia, dan dari perwakilan majlis gugurgunung. Masing masing tidak menyampaikan secara panjang lebar. Mungkin karena masih terbawa suasana haru hingga medesel.

Butuh jeda sejenak, maka acara dilanjutkan dengan perform dari teater Wangker Bayu. Para talent bersiyap di sisi panggung. Mas Agus dan Mas Kafi beranjak dari duduknya, lalu berdiri pada jarak terdekat dengan panggung. Jamaah lainnya pada posisi nyamannya masing masing. Anak anak berlarian melintasi panggung. Suasana natural tersebut melahirkan kesan seperti bukan sebuah performa teater, namun seperti ruang dialog yang riil.

Teater saya mulai dengan menyampaikan preambule singkat, kurang lebih begini :


Apakah menanam, selamanya berorientasi pada memanen ?
Apakah panen, selalu berotientasi pada jumlah yang besar, atau harga yang tinggi ?

Mengutip tulisan Mbah Nun pada sebuah buku Beliau, kurang lebih, “Menjadi, pasangan kata yang tepat adalah Manusia, menjadi apapun itu sebaiknya digunakan sebagai upaya untuk tetap menjadi Manusia”

Petani bukan profesi, Petani adalah salah satu Titah, untuk tetap menjadi Manusia.

Aset Utama Manusia adalah rasa kamanungsan. Tugas utama Manusia adalah Khalifah fil Ardh.

Seluruh Mahluk diciptakan dari Nur Muhammad.

Hati Petani adalah Hati yang senantiasa membangun kesadaran laku lampah yang terus mengakurasi ke Fitrah.

Maka, “Panen” adalah …. Ketika laku lampah kita senantiasa dibersamai Kanjeng Nabi … ”

Kemudian satu persatu talen saya perkenalkan, lengkap dengan kontribusi dan peran yang dimainkannya. Seting lokasi sawah, tema acara, tema teater, jamaah yang hadir, lalu lalang anak anak kecil di sepanjang pertunjukan dan sebagainya dan sebagainya, seperti membentuk jaringan jaringan frekwensi yang “Mencahaya”

Perform dari teater Wangker Bayu

(Sengaja isi dialog dalam pertunjukan teater tersebut tidak saya urai, cukup saya wakilkan dengan foto, karena rencana akan menjadi pertunjukan selanjutnya pada “Tancep Kayon” Majlis gugurgunung, Desember ini …. biar tidak imajiner, Silahkan hadir )

Acara selanjutnya adalah Makan Bareng/KemBulan. Hidangan ditata sedemikian rupa. Semua berbaur menjadi satu. “Iki coro mangane yo podho coro dhahare Kanjeng Nabi, nganggo driji telu ngono ?”, seloroh salah seorang teman. Tentunya, yang terjadi tidak se “gembagus” itu. Kami makan sebagaimana biasanya cara kami makan. Cuman kali ini, paling tidak kami mampu memaknai apa itu nikmat, sadar tentang kapan harus berhenti, bergantian, berbagi, bersyukur, dan sebagainya dan sebagainya.

Makan Bareng/KemBulan

Menjelang Maghrib, kami bersama sama membersihkan lokasi acara. Menggulung tikar untuk digelar kembali di rumah Mas Burhan. Setelah semua beres, kami bersama sama pulang, berjalan ke arah munculnya Rembulan. Dan tentunya, kerinduan itu mulai bersemayam di hati, sejak langkah pertama kami beranjak dari tempat itu. Benih Rindu yang sejak itu pula kami niatkan untuk terus kami rawat, sampai pada musim panen berikutnya.

………. Selesai

Mohon maaf dan Terimakasih.
Semoga bermanfaat.
πŸ™πŸ™πŸ™

 

Kasno

Facebooktwittertumblr
Posted in Kembang Gunung.