LAKU KASANTIKAN

Bulan Desember senantiasa menjadi bulan penutup dalam satu tahun. Bertepatan dengan Tancep Kayon, yang digelar oleh Majlis Gugurgunung dimana menjadi penutup dalam kegiatan satu tahun. Tancep kayon menjadi momentum untuk mengevaluasi langkah serta memutuskan apakah pada tahun depan perlu dimulai lagi (bedol kayon) atau justru harus cukup berhenti sampai disini. Salah satu indikatornya ialah, dari segi kemanfaatan kehadiran Majlis Gugurgunung baik untuk dulur-dulur Gugurgunung sendiri, sedulur Maiyah lainnya serta masyarakat sekitar.

Pada 29 Desember 2018 kegiatan Tancep Kayon yang bersifat “sakral” tersebut digelar. Bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang. Semenjak siang harinya, aktivitas di Balai Desa Klepu sudah dimulai. Segala persiapan dikoordinir sangat apik oleh Mas Jion dan Mas Patmo yang didukung pula oleh beberapa sedulur yang lain. Mulai dari pengecekan sound system, penataan cahaya lampu, pemasangan backdrop, penempatan meja-meja untuk pameran produk dari dulur-dulur Gugurgunung hingga nggelar kloso, semua dilakukan dengan cara nggugur gunung. Lilo lan legowo menjadi bekal utama untuk melakukan segala persiapan.Continue reading

Silatnas Maiyah 2018

Hari jum’at pada tanggal 7 Desember 2018 Masehi seakan menjadi kegembiraan tersendiri bagi seluruh penggiat simpul Maiyah. Perhelatan tahunan yang sudah empat kali dilaksanakan ini menjadi ajang untuk bersilaturahmi, bertukar pikiran dalam sebuah diskusi, serta menetapkan beberapa hal untuk menjadi bahan eksperimentasi selama minimal setahun ke depan.

Kegiatan bertajuk Silaturahim Nasional 2018 (silatnas 2018) digelar selama 3 hari 2 malam. Dimana dibuka pada hari jumat sore, dan ditutup pada Minggu siang dengan tagline kali ini ialah Blueprint Peradaban Masa Depan”. Simpul Maiyah Bangbang Wetan beserta beberapa simpul sekitar kali ini yang menyediakan diri untuk menjadi tuan rumah hingga dipilihlah sebuah tempat di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

Semua simpul mendapatkan undangan untuk perwakilan dua orang. Begitupun Majlis Gugurgunung yang kali ini diwakili oleh Mas Patmo dan Dhika. Meskipun berangkat dari Ungaran, Kab. Semarang namun baru pada jum’at malam, kami berdua dapat berangkat menuju Surabaya dengan Bus Malam “Sugeng Rahayu”.

Perjalanan yang cukup panjang, yakni hampir sembilan jam dan hanya berhenti sekali di daerah Ngawi untuk makan malam. Pukul 05.30 WIB pagi, kami sampai di terminal Purabaya. Dikarenakan tidak adanya angkutan umum yang langsung menuju ke lokasi, maka menurut panitia kami lebih baik menggunakan Taxi online. Tepat di pinggir jalan, depan gapura bertuliskan Terminal Purabaya kami menunggu kedatangan Taxi online yang sudah kami pesan menggunakan aplikasi. Tak berselang lama, kami pun segera meluncur ke lokasi dengan jarak tempuh kurang lebih 10 Km.

Sabtu pagi kisaran pukul 07.00 WIB, tibalah kami di lokasi Asrama Haji Sukolilo Surabaya dimana disana sudah nampak beberapa wajah yang sangat familiar bagi kami. Memang waktu itu ialah waktu untuk sarapan pagi. Sebab acara baru akan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB pagi. Tidak menunggu lama, segera kami berdua mengisi daftar kehadiran dan mengambil beberapa peralatan tulis menulis serta suvenir seperti kalender 2019, buletin maiyah, serta stiker yang kesemuanya terbungkus rapi di dalam map berwarna putih yang disediakan oleh panitia. Usai mengisi daftar kehadiran, kami segera diantar oleh salah seorang panitia untuk menuju ke kamar dan meletakkan barang-barang pribadi kami terlebih dahulu.

Pendekar Gugurgunung (Mas Padmo & Andhika) di lokasi Silatnas Maiyah 2018

Kamar nomor 218, bersama dengan beberapa simpul maiyah lain seperti Maneges Qudroh, serta Waro’ Kaprawiran. Sambutan hangat di kamar tersebut semakin terasa, sebab memang beberapa disana sudah memiliki kedekatan baik secara personal maupun secara simpul.

Tak menunggu lama, segera kami bersama-sama turun untuk menuju ruang makan. Berbagai hidangan sudah tersedia di meja, dengan nasi hangat lengkap bersama sayur pecel dan lauk-pauknya. Di meja makan, kami bertemu dengan sedulur dari Jepara seperti Mas Kafi dan Mas Haris yang sudah tiba sejak semalam. Obrolan ringan saling terlontar meskipun kami sedang menyantap sarapan pagi itu.

Hampir pukul 08.00 WIB pagi, panggilan suara speaker dari dalam Aula G mulai terdengar. Segera kami kembali memasuki kamar untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti silatnas ini dengan konsep diskusi selama seharian penuh.

Buku tulis dan pena bertuliskan silatnas maiyah tak lupa kami bawa menuju Aula G dimana aula tersebut menjadi ruangan yang dipergunakan untuk berdiskusi dengan serangkaian bahasan. Mas Hari, seorang koordinator dari region timur, yang juga menjadi salah seorang moderator membagi tempat duduk berdasarkan region-region. Majlis Gugurgunung kali ini berdampingan dengan Maneges Qudroh, serta Kidung Syafa’at.

Pembahasan pagi itu dimulai dengan salah satunya pelaporan beberapa kegiatan simpul Maiyah seperti workshop region, terapi alternatif, juga digital media. Kemudian dilanjutkan pada pemaparan raport tiap-tiap simpul yang dibacakan oleh Mas Rizky (koordinator region tengah) dan Mas Fahmi (koordinator region barat). Hasil evaluasi di dalam raport kurang lebih berisi tentang publikasi (poster, mukadimmah, reportase, live tweet) dan arsip (foto, audio, dan video) yang telah dilaporkan dari masing-masing simpul pada koordinator setiap bulannya selama setahun 2018 (kecuali bulan Desember).

Baik tema, poster, mukadimmah, pertemuan, hingga reportase, foto dan live tweet selama simpul mengadakan diskusi menjadi sorotan utama dari koordinator.

Meskipun ada dua poin lagi yakni audio dan video, namun masih belum menjadi sorotan utama oleh koordinator. Sebab tidak semua simpul memiliki resource atau sumber daya entah itu dari petugasnya ataupun perlengkapannya yang kurang memadai.

Dua poin tersebut memang nampak terlihat masih berwarna merah (belum terpenuhi) bagi hampir semua simpul tak terkecuali bagi Majlis Gugurgunung. Hanya sebagian simpul besar saja seperti Kenduri Cinta (Jakarta), Bangbang Wetan (Surabaya) yang sudah berwarna hijau (sudah terpenuhi) semuanya serta beberapa simpul lain seperti Suluk Surakartan (Solo).

Pemaparan terkait raport berjalan hingga hampir tengah hari, meskipun sekitar pukul 10.00 WIB pagi diselingi coffee break.

Sedikit yang spesial pada silatnas kali ini ialah, diadakan di ruang ber-AC dengan meja dan kursi yang ditata melingkar dengan puasa merokok minimal hingga istirahat pada waktu makan. Memang terasa sedikit berat jika berdiskusi, ditemani kopi tanpa dapat menghisap rokok seperti kebiasaan umumnya di Maiyah. Namun hal ini mengingatkan tentang berpuasa merokok juga memberikan sedikit pembersihan yang baik untuk kesehatan, begitu kata panitia sambil disambut tawa dan senyum agak kecut dari sebagian peserta silatnas kali ini.

Suasana silatnas Maiyah 2018

Menjelang waktu istirahat makan siang pembahasan dilanjutkan pada penugasan dari koordinator simpul kepada masing-masing simpul untuk mengisi form yang berisi tentang; dari sekian nilai maiyah, apa langkah konkrit yang bisa diterapkan untuk setahun ke depan (bidang ekonomi, sosial, politik). Masing-masing simpul sambil memikirkannya dipersilahkan untuk istirahat makan siang, dan diberikan waktu untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.

Usai jeda waktu istirahat, seluruh peserta silatnas kembali diminta untuk merapat di Aula. Dengan agenda pembahasan kali itu ialah, pemaparan hasil rembugan dari masing-masing simpul tentang tugas yang diberikan sebelum waktu makan siang tadi.

Dari Majlis Gugurgunung sendiri menuliskan kurang lebih seperti berikut :

Ekonomi ; Mengembangkan sistem kerjasama antar keluarga maiyah dengan landasan dasar seperti yang disampaikan Mbah Nun ; bahwa laba ekonomi jangan sampai menyingkirkan laba kemanusiaan.

5 hal yang dipakai adalah prinsip rukun Islam.

  1. Komitmen
  2. Menegakkan waktu agar tetap tegak kemanusiaan
  3. Memahami proporsi dan pengendalian diri
  4. Membina hubungan sosial secara lebih tertata
  5. Mengaji dan terus mengkaji kehidupan

Andhika mengutarakan beberapa usulan dari Majlis Gugurgunung

Dalam hal di atas sekaligus urusan sosial sudah terengkuh sebagai bagian tak terpisahkan. Dan menjalankan di atas adalah politik menyempurnakan akhlak. Bahwa sesungguhnya daya tarik utama pihak lain terdorong untuk bergabung dan rela menjadi bagian untuk bahu-membahu adalah ketertarikan mereka kepada kemuliaan akhlak.

Meskipun sekian banyak masukan dari seluruh simpul, masih perlu dirembug oleh koordinator region untuk menarik garis besarnya dan dibuat dalam beberapa poin.

Diskusi terus bergulir hingga waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Di sela coffee break, koordinator region menyatakan bahwa berencana untuk membagi masing-masing simpul Maiyah yang memiliki kedekatan secara geografis, akan digabung untuk membentuk sub-sub region (Cluster). Dengan beberapa tujuan antara lain, mempermudah jalur komunikasi dari koordinator simpul untuk diteruskan informasinya pada simpul masing-masing, selain itu juga dirasa lebih efektif dan efisien bagi koordinator seluruh simpul maiyah yakni Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh (Mas Sabrang / Noe) untuk mengunjungi ke sub-sub regionnya, bukan ke seluruh simpul.

Kemudian masing-masing sub tadi diminta untuk berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil untuk membahas beberapa hal yang akan dilakukan bersama selama satu tahun ke depan yang terbagi tiap empat bulanan sekali.

Terdapat 7 simpul lain dalam cluster yang sama dengan Majlis Gugurgunung. Yakni Gambang Syafa’at Semarang, Kalijagan Demak, Semak Kudus, Majlis Alternatif Jepara, Kidung Syafa’at Salatiga, Tembang Pepadhang Kendal, beserta Majlis Gugurgunung Ungaran. Cluster ini dikoordinatori oleh Mas Yunan dari Gambang Syafa’at. Selain itu ketujuh simpul ini diberi usulan nama oleh Mas Agus Wibowo yakni, “PARADESA KEN SENGKUD”. Paradesa adalah wilayah yang di dalamnya berisi kemakmuran, ketentraman, kepatutan, kemurahan, dan kedamaian yang teramat sangat. Ken : seyogyanya, dipinta, dianjurkan, disuruh. Sengkud : Segera, Srempeng, Sregep, cekat-ceket, cekatan. Maka arti “PARADESA KEN SENGKUD” adalah : Bahwa upaya menuju satu wilayah yang bernaungkan kemakmuran, ketentraman, kepatutan, kemurahan, dan kedamaian di dalamnya seyogyanya segera dilaksanakan dengan srempeng dan cekatan.

Cluster “PARADESA KEN SENGKUD”

Usai makan sore yakni kisaran ba’da maghrib, sekian cluster diminta memaparkan rencana kegiatannya. Dan Mas Kafi dipilih untuk memaparkan, mewakili cluster ini.

Mas Sabrang selaku koordinator simpul Maiyah, memberikan beberapa uraian terkait kegiatan-kegiatan simpul. Bahwasannya kita disini semua berkumpul dengan rasa bungah atau bahagia sudah mengandung kemanfaatan. Namun selain manfaat juga diperlukan untuk tumbuh lebih lebar, lebih dalam dst. Maka tidak perlu kita membuat parameter-parameter tentang kemanfaatan.

Masih banyak guliran pertanyaan terkait mengapa Maiyah tidak dijadikan partai atau ormas apalagi timses, memang yang dicoba oleh Mbah Nun ialah hipotesis yang berbeda. Hipotesis yang saat ini diterapkan tidak menjawab persoalan, maka disini Mbah Nun memiliki hipotesis baru untuk menjawab persoalan.

Ada konsep yang berbeda antara “hukum Tuhan” dengan hukum manusia. Dalam hukum manusia, diciptakan oleh manusia, semuanya harus mentaatinya kemudian ada penegak hukumnya disana, kita mematuhinya tanpa ada kesempatan untuk tidak patuh. Tidak bisa tiba-tiba seorang pencuri tidak kita masukkan penjara. Di Maiyah tidak bisa dilakukan, maka mencoba hukum yang lain yakni “hukum Tuhan”. Ketika berhadapan dengan hukum, maka sebagian manusia akan menyerahkan sebagian kebebasannya untuk patuh terhadap hukum tersebut. Maka kita bersyahadat, menyerahkan sedikit kebebasan pada yang namanya kepercayaan. Perbedaan yang signifikan dengan ialah orang-orang menyatakan diri untuk memasuki “hukum Tuhan” sedangkan hukum manusia memaksa orang-orang untuk memasukinya.

Di Maiyah tidak ada peraturan, tidak ada kewajiban, tidak ada pengawasnya pula. Tetapi maukah kita memasuki sebuah kebudayaan untuk hipotesis yang baru? Mungkin efeknya tidak akan serapi Undang-undang, tetapi hipotesisnya lebih mendalam untuk digunakan pada manusia. Yang lebih didorong di Maiyah ialah, kemauan seorang manusia untuk memasuki sistem di dalam dirinya sendiri. Maka metodenya ialah dengan mencontoh, learning by modelling bukan semata dengan aturan belaka. Kita pernah mendengar Jannatul Maiyah, Kebun Maiyah. Yang sedang kita bangun untuk dicontoh ialah cuacanya. Hal ini lebih cocok dengan nilai-nilai tanpa meninggalkan pokok utamanya yakni kebersamaan.

Perang singkat membutuhkan taktik, peralatan, dll. Namun untuk menuju perang panjang, kita membutuhkan sesuatu yang disebut “nilai”. Dimana setiap simpul memiliki interpretasinya sendiri-sendiri. Dapat kita contoh palang merah ketika sedang dalam berperang, harusnya menolong siapapun yang terluka dan membutuhkan bantuan meskipun itu adalah musuh. Terlihat tidak masuk akal, namun ada nilai yang terus menjadi pegangannya yakni nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada peperangan itu sendiri.

 

Thoriqot maiyah

Ada salah seorang peserta silatnas yang menganalisis bahwa mungkin ada kemunduran yang sedang terjadi di Maiyah tiap tahunnya. Namun direspon oleh Mas Sabrang bahwa Mbah Nun ketika memulai di Padhang mBulan juga jangan kita lupakan pasang surutnya. Awal-awal hanya 10-15 orang hingga pernah mencapai 25.000 orang ketika diadakan di lapangan. Lalu dipindah dalam rumah, menjadi sedikit lagi 10an orang. Mbah Nun pernah mengatakan, bukan tentang jumlah yang banyak atau sedikit, tetapi istiqomah atau tidak dalam melakukannya. Thoriqot Maiyah adalah thoriqot istiqomah. Keistiqomahan yang bisa kita contoh dari beliau Mbah Nun ialah, keistiqomahannya dalam melakoni Padhang mBulan. Dari dulu jaman belum ada media digital hingga sekarang merebak luas. Kelakar Mbah Nun yang diceritakan Mas Sabrang, bahwa youtube diciptakan untuk Mbah Nun. Sebab sudah berbagai macam cara ditempuh untuk talak dari media massa dan pertelevisian Indonesia, malah ada youtube dengan segala macam “sop buntutnya”. Namun dengan demikian aroma Maiyah semakin tersebar dimana-mana. Banyak jama’ah yang datang bermaiyah namun sekedar untuk mencari tokohnya. Padahal mana yang lebih penting, antara tokohnya ataukah nilai-nilai yang dibawanya? Tetapi tidak apa, sebab setiap orang ada prosesnya dan tidak boleh kita halangi. Kemauan untuk belajar harus kita jaga bahkan harus kita galakkan.

 

Pergerakan Maiyah

Banyak pula diluar sana yang mempertanyakan, mengapa maiyah tidak membikin pergerakan atau movement? Mau dibawa kemanakah ini Maiyah, orang sudah berkumpul sebanyak ini, lalu apa yang akan dilakukan? Direspon oleh Mas Sabrang bahwa hingga empat kali dilakukan silatnas ini dalam rangka perlunya menjaga soliditas. Kita berusaha berbentuk cair, tapi perlu juga menjaga soliditas. Jangan sampai Maiyah gampang di catut oleh calon bupati, bahkan calon presiden sekalipun. Sebab demikian dengan mudahnya orang yang tidak tahu seluk-beluk Maiyah, namun menunggangi Maiyah untuk kepentingan pribadi ataupun golongannya sendiri. Seperti kedua kontestan untuk 2019, salah satunya sudah datang ke kadipiro. Dan hampir dapat dipastikan kontestan satunya juga akan merapat ke kadipiro.

Mungkin bagi kita hal tersebut tidak begitu penting. Namun sangat berbahaya ketika kita tidak membangun pagar-pagarnya terlebih dahulu. Kita tidak mungkin tidak mengambil posisi, dan kita tidak mungkin mengambil posisi di kontestan 1 atau kontestan 2. Jika kita tidak mengambil posisi, maka kita akan diseret-seret terus. Maka kita perlu mengambil satu posisi yang jelas dan seragam. Posisi akurat bagi Maiyah yang bisa kita ambil dalam skala nasional ialah, “jika ada dua tetangga kita sedang ribut mungkinkah kita tidak mendamaikan?”.

 

Dokumentasi simpul

Bagi Mas Sabrang, dengan sekian data yang dikumpulkan oleh ketiga koordinator region bukan semata iseng atau kesenangan. Mbah Nun pernah memiliki penyesalan terbesar yakni tidak pernah mendokumentasikan hidupnya. 52 buku yang tertulis, tidak termasuk puisi-puisinya yang hilang, sekian ribu kali kegiatan dengan Kiai Kanjeng masih belum menggambarkan dokumentasi lengkap perjalanan Mbah Nun. Sangat disayangkan meskipun hal tersebut bukan untuk semakin meninggikan Mbah Nun namun itu akan menjadi torehan sejarah. Termasuk sekian banyaknya kegiatan simpul Maiyah, amat sangat disayangkan ketika tidak didokumentasikan. Sebab hal tersebut bisa menginspirasi anak cucu. Sekalipun gagal, tetap bisa dicontoh yang bisa dipelajari oleh anak turun tentang arti perjuangan. Kiranya perlu kita berlatih mendokumentasikan setiap catatan simpul minimal selama satu tahun. “Dokumentasi ini bukan kewajiban kita, namun hak anak cucu”.

Bebas jika kita memilih menjadi seperti sunan atau wali yang bersembunyi di dalam keramaian, namun merupakan hak anak cucu untuk mengetahui bahwa Indonesia tidak kehilangan orang-orang yang mau untuk berbuat.

Selama setahun, Mas Sabrang menahan diri untuk banyak tidak melakukan sesuatu, sebab proses yang dijalani ialah bersama berlatih menulis. Jika kita ingin melangkah maka paling tidak kita bisa mendokumentasikannya. Alih-alih dibuat raport untuk tiap simpul, namun bukan dibilang prestasi juga, sebab hasilnya tidak dipergunakan untuk apa-apa kecuali untuk kita sendiri.

Kerja keras kalah dengan kerja pintar, kerja pintar masih kalah dengan kerja keras dan pintar, namun ini masih kalah lagi dengan kerja keras, kerja pintar tapi efisien, baiknya bekerja keras, pintar dengan efisien namun masih bisa dikalahkan pula dengan yang memiliki inovasi. Namun Maiyah ini terbalik, ini adalah inovasi tetapi belum berlatih bekerja keras, pintar juga efisien.

Menurut Mas Sabrang, tentang dokumentasi simpul baiknya tidak diserahkan pada generasi tua, alangkah baiknya jika generasi yang muda, yang setiap hari twitteran, setiap saat bermain instagram. Tidak harus langsung melangkah besar, langkah kecil-kecil tidak masalah seperti setahun kedepan kita pergunakan untuk belajar dokumentasi. Setahun berikutnya nanti apalagi dan seterusnya.

Semoga kita masih terikat dalam thoriqot istiqomah, thoriqot gotong royong, serta kejujuran untuk kebahagiaan bersama.

 

Kebenaran

Ada 16 bit warna dalam komputer, dengan jumlah pewarnanya 65 ribuan. Tetapi kosakata yang kita mampu gapai tidak sampai sedemikian banyaknya. Contohnya Demokrat dan Nasdem sama-sama biru tapi berbeda. PKB dan PPP sama-sama hijau tapi berbeda hijaunya. Jangan sampai menyerahkan kedaulatan pengartian pada orang lain. Tidak ada kesalahan pengartian, hanya saja pemahaman semakin berkembang. Misal ada tiga orang berdebat, bukan kita cari siapa yang benar dari 3 orang tersebut namun semuanya mengandung kebenaran, maka cari konsep baru yang bisa menampung ketiganya.

Salah satu kegerahan kita ialah ketidaktahanan kita memasang kuda-kuda di tempat licin. Benar salah bukan pada “hal”nya tetapi pada bias dirinya. Maka banyak orang malah mencari mana yang benar dan mana yang salah. Kita bergerak pada kebenaran yang terus berkembang, bukan karena kebenaran yang berubah tetapi pemahaman dan sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang kita akan kebenaran lah yang berubah. Ketika berpijak pada benar dan salah, padahal kita sangat tahu bahwa apapun bisa dibenarkan, apapun bisa disalahkan.

 

Manusia Ruang

Presiden, gubernur, bupati dll. semua itu adalah perabot. Perabot akan menurut pada ruangan. Ruangnya lonjong maka perabot lonjong yang bisa masuk, begitupun ruangan kotak, serta ruangan luas dan sempit. Yang sesungguhnya mengatur adalah Manusia Ruang, bukan Manusia Perabot. Meskipun yang terlihat, yang memiliki pangkat adalah manusia perabot.

Semar itu bukan presiden, bukan ksatria, bukan pemimpin. Tetapi siapapun akan datang ke Semar jika punya masalah.

 

Spiritualitas

Ruh, nyawa termasuk dalam spiritualitas. Spiritualitas berarti adalah sesuatu yang tidak bisa kita maknai secara real dengan indra. Berarti segala pembicaraan pendengaran tentang spiritualitas, sama sekali tidak menyentuh makna spiritualitas yang sesungguhnya.

 

Kegiatan diskusi berisi pemaparan masing-masing cluster terus berjalan hingga kisaran pukul 23.00 WIB. Kemudian acara hari itu ditutup dengan makan malam dengan menu Nasi Rawon. Di samping ruang sekretariat, disediakan terapi alternatif dengan menggunakan media telur ayam kampung. Tak ketinggalan bagi kami untuk mencobanya. Dengan gerakan yang nampak sederhana di ujung jari kaki, mampu memunculkan rasa sakit bagi semua yang mencobanya. Meskipun setelah proses terapi selesai, tubuh menjadi lumayan segar untuk mengantar tidur.

Mas Padmo mencoba terapi alternatif dengan menggunakan media telur ayam

Minggu pagi kegiatan dimulai lagi dengan pembacaan putusan dari koordinator region yakni Mas Hari, Mas Fahmi dan Mas Rizky yang juga disahkan oleh Mas Sabrang sebagai koordinator seluruh simpul. Terdapat sembilan poin yang akan diedarkan untuk seluruh simpul, dimana ini menjadi salah satu langkah kecil untuk melangkah jauh ke depan. Memang mungkin terasa berat, namun begitu bahwa “Dapur memang tidak seindah makanan prasmanan”. Bahwa panggilan setiap orang berbeda-beda, tidak semua orang bisa diajak berpuasa, tidak semua orang mau menderita, dan tidak semua orang mau untuk diajak menempuh perjalanan panjang. Sampai nanti sampai mati.

Silatnas 2018 ditutup dengan doa bersama, sholawat, lalu berfoto bersama dan bersalam-salaman. Sekian reportase kali ini, meskipun banyak kekurangan dari segi bahan pembahasan pada saat berdiskusi namun semoga tetap bermanfaat.

 

Andhika

Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW

Malam minggu terakhir pada bulan November jatuh pada tanggal 24 November 2018. Rutinitas bagi Majlis Gugurgunung untuk nggelar kloso, duduk melingkar serta berdiskusi. Namun sedikit berbeda pada edisi bulan ini, yakni khusus untuk bermunajat serta bersholawat. Dimana bertepatan juga dengan bulan kelahiran Nabi besar junjungan kita, Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam.

Hampir pukul 21.00 WIB, kegiatan dimulai dengan do’a wasilah dan tembang Gugur gunung oleh Mas Ari, dilanjutkan dengan munajat Maiyah, serta bersholawat oleh Mas Tyo juga Mas Jion.

Pembacaan sholawat yang di pimpin oleh Mas Tyo

Tiada tema yang dikhususkan untuk dibahas pada malam itu, segala pembahasan mengalir dengan sendirinya. Dimaksudkan pula supaya dapat diakhiri lebih awal sebab keesokan paginya, Majlis Gugurgunung berencana untuk menghadiri kegiatan dari Majlis Alternatif, khususnya Kampus Sawah dengan kegiatan bertajuk Makan Bareng Kanjeng Nabi.

Sedikit yang menjadi pembahasan pada malam itu ialah tentang, tancep kayon. Dimana tancep kayon merupakan sebuah tradisi akhir tahun bagi Majlis Gugurgunung untuk berhenti, kemudian mengevaluasi apakah masih perlu dilanjutkan atau tidak. Memang Majlis Gugurgunung tidak dipaksakan untuk terus ada, sebab lebih baik tahu kapan untuk berhenti daripada kapan harus menambah. Diharapkan berhenti atau mengulangi kegiatan tersebut karena fitroh hajat kehidupan.

Seperti halnya lapar dan haus, kita makan dan minum bukan karena kita ingin terus makan dan minum. Tetapi karena rahmat Allah, kita ditakdirkan memiliki fitroh untuk lapar dan haus. Majlis Gugurgunung senantiasa bertahan agar Majlisan ini semoga tetap dirahmati oleh Allah, dengan tetap memiliki alasan untuk makan karena lapar atau minum karena haus. Pada tahun ini, akan disudahi dengan laku Kasantikan yang sudah dimulai sejak bulan Januari lalu.

Sedikit hal yang bisa kita gali dari kasantikan. Hakikat dari pertemuan dengan setiap hal baik lembut ataupun kasar ialah kerinduan kita pada perjumpaan dengan Allah, bukan menjumpai diri kita sendiri yang mungkin memang sedikit ada cipratan dari Allah. Maka Allah pun berkata bahwa, kemanapun kita menghadap adalah wajah Allah.

Kecenderungan kita akan lebih mendekat pada hal-hal yang kita anggap sehat, gebyar, higienis, dlsb. Beberapa hal justru terkadang tidak kita pilih untuk berjumpa. Seperti pada hadist qudsi bahwa seolah-olah Allah mengeluh kelaparan, kehausan. Padahal terkadang hal tersebut justru akan mempertemukan dengan Allah.

Tetapi tidak patut kita paksakan pula mengejar untuk mengetahui wujud jasadnya Allah, cukup dengan merasakan keagungan, kebesaran serta ketinggian Allah ketika kita menjumpai kehidupan.

Tahun kasantikan berarti menuntut kita untuk mempercantik diri (santika), bukan hanya untuk wanita namun juga kepada pria. Santika, dipecah menjadi dua, pertama “sakti” dan yang kedua ialah “cantik”.

Clue yang tersedia bahwa sakti ialah orang yang tidak memiliki musuh. Sebab setiap hal yang kita jumpai adalah refleksi dari hal yang kita lakukan. Jika kita sedang mempercantik diri maka akan dipertemukan pula dengan kecantikan.

Contohlah bayi yang belum bisa melakukan apa-apa. Namun siapa sosok yang tidak memperlakukan bayi dengan cantik ?. Kecenderungan umum, tidak ada yang sampai marah kepada bayi yang menangis. Bahkan hingga tahu maksud dari si bayi, apakah lapar, haus, sakit dll.

Karena bayi disebut masih fitroh, berarti rumus untuk mencapai kasantikan ialah dengan tidak menjauhkan fitroh dari diri kita. Bahkan di dalam Islam pun setahun sekali diajarkan untuk kembali pada fitroh. Bahkan sebulan, seminggu, sehari sekalipun bisa. Setahun sekali dengan idul fitri, bulanan misalkan dengan maiyahan atau majlisan apapun yang dapat menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah. Mingguan misalkan jum’atan yang kontributif dan konstruktif bukan hanya mengunduh pahala saja sebab pahala yang diperoleh sangat besar. Dalam hari jum’at dimaksudkan untuk bertemu, berkumpul, mereview beberapa hal untuk ditata di hari sabtu dan dimulai lagi di hari ahad. Harian dengan sholat lima waktu. Senantiasa setiap waktu menegakkan level kemanusiaan senantiasa yang Allah harapkan, yakni sebagai abdi dan khalifah. Bukan malah memburu waktu. Jangan sampai tenggelam di kedangkalan, jangan sampai terjerembab di kerendahan. Yang lebih singkat jaraknya lagi ialah, setiap bernafas, berkedip, berdetaknya jantung kembali kepada fitroh. Setiap hal yang kita lakukan senantiasa menyampaikan atau melakukan kebaikan, insya allah setiap nafas yang kita hirup, tiap jantung berdetak turut menjaga fitroh kita sebagai manusia.

Kehangatan Majlis Gugurgunung

Bukan hanya menjadi cantik namun gemilang, juga berpendar yang harus tidak kita miliki. Karena semua itu harus kita abdikan kepada Allah, karena semua itu adalah miliknya.

Maksud dari kasantikan ialah mau untuk “dandan”. Tidak harus dandan menggunakan bedak dll, namun melihat kursi rusak lalu ingin memperbaiki itu juga merupakan dandan. Dandan itu tidak dipaksa harus ideal, ketika tidak mampu melakukan dengan perbuatan maka dengan perkataan. Tidak sanggup berkata, jika diam saja untuk tidak menambah masalah juga disebut dandan.

Sesi pertanyaan diawali dari Mas Tyo yang menpertanyakan tentang sensitivitas apakah fitroh atau pengaruh dari lingkungan? Dianalogikan sebagai tiap-tiap bagian dari pohon, dan masalah ialah api. Pasti daun akan memiliki sensitifitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ranting, dahan apalagi batang. Andaikan bagian-bagian dari pohon tersebut merupakan rangkaian dari masing-masing manusia yang sedang menjalankan fungsinya. Orang yang sensitif pasti memiliki kecenderungan yang berbeda dengan orang yang easy going. Salah satunya ialah mengurai sebuah hal yang rumit serta membutuhlam waktu yang lama, sensitif menjadi tidak produktif ketika disebut baperan. Padahal perasaan itu memang umum untuk selalu digunakan, namun istilah baperan seakan mengkotak-kotakkan yang seolah menuding kualitas mental seseorang. Semakin seorang sensitif maka dia akan semakin mampu menyentuh wilayah-wilayah titah. Tukang bangunan dan seniman, mungkin terlihat lebih berkelas seniman. Namun belum tentu seniman juga bisa menggarap pekerjaan-pekerjaan tukang, demikian juga sebaliknya. Sebab sensitifitas yang dimiliki masing-masing berbeda.

Melihat benda-benda peninggalan leluhur meskipun hanya terbuat dari batu namun mampu untuk diukir. Sangat berbeda dengan era saat ini, proses pembangunan diambil jalan yang paling instan, praktis. Semakin banyak pihak yang kita singkirkan karena tidak kita anggap penting, maka kita akan menjadi peradaban yang tidak penting juga.

Menjadi bangsa yang sensitif lebih baik dibanding bangsa yang baperan dalam idiom populer. Contoh kasus baper dalam idiom populer ialah marah ketika calon pemimpinnya diolok-olok. Sedangkan jika membawa perasaan di dalam setiap lini kehidupan maka tidak masalah.

Kita coba memetakan idiom-idiom yang disampaikan dalam struktur komunikasi horizontal kepada manusia dan juga vertikal atau yang bersifat ketauhidan.

 

Leluhur

Kita hidup menggunakan warisan dari leluhur. Padahal 200 tahun lagi kita akan menjadi leluhur juga, lalu apakah yang akan kita wariskan?

Yang harus kita pahami ialah, seseorang yang kita sebut leluhur, ialah orang yang selama hidupnya menjalankan titah-titah keluhuran. Bukan hanya karena sudah meninggal maka disebut leluhur. Perlu dibedakan antara leluhur dengan lelembut, telanjang atau polos, pasrah atau kalah.

Indikasi disebut leluhur ialah bukan karena menyebut dirinya sendiri luhur namun rumusnya ialah karena pandai bersujud. Maka ketika bersujud, yang kita sebut ialah keluhurannya Allah. Peradaban yang dibangun oleh leluhur kita, dalam ranah yang sedang menghamparkan segala wilayah untuk menjadi tempat bersujud atau masjid. Hakikat dari sebuah masjid ialah, tempat untuk bersujud. Dimanapun kita mampu bersujud kepada Allah, maka hakikatnya kita mendirikan masjid disana. Dengan kesadaran penuh bahwa setiap ada keluhuran yang menempel pada diri kita, maka senantiasa kita sadar bahwa keluhuran tersebut berasal dari Allah.

Seperti halnya jika ada kasih sayang yang kita lakukan maka, Allah yang maha rahman rahim meridhoi kita, bukan karena kita memproduksinya.

Guliran diskusi edisi spesial ini tidak sampai larut. Sebab masih ada pembahasan lain serta pagi harinya ada agenda bagi Majlis Gugurgunung untuk ngombyongi kegiatan Majlis Alternatif di Jepara yang bertajuk Makan Bareng Kanjeng Nabi. Sekian reportase kali ini. Semoga bermanfaat.

 

Andhika Hendriyawan

NYUWUN JAWAH

Malam minggu terakhir pada bulan Oktober jatuh pada tanggal 27 Oktober 2018, juga menjadi malam perhelatan Majlis Gugurgunung untuk melingkar serta berdiskusi, bertempat di kediaman Mas Mundari, Ngempon, Ungaran, Kab. Semarang. Doa Wasilah oleh Mas Tyo serta Munajat Maiyah oleh Mas Jion mengawali lingkaran diskusi malam ini dengan tema yang dirembug ialah “Nyuwun Jawah”. Mbak Dewi yang baru kali pertama ikut melingkar ditunjuk sebagai moderator, sementara Mas Dian yang biasa memoderasi sedang dalam perjalanan menuju lokasi.

Mbak Dewi membacakan Mukadimah “Nyuwun Jawah”

Mbak Dewi yang notabene baru kali ini ikut melingkar di Majlis Gugurgunung mengawali dengan menceritakan pengalamannya bermaiyah. Dimana sudah beberapa kali ikut diskusi maiyahan di Suluk Surakartan serta Mocopat Syafaat (MS). Beberapa pengalamannya di MS yang paling teringat ialah betapa pentingnya menjalin silaturahim. Mbak Dewi dari Ungaran yang kerap menuju lokasi MS dengan waktu usai kisaran pukul 02.00 hingga 03.00 pagi dijalani dengan tidur di musholla, ataupun pom bensin. Setelah menjalin silaturahim dengan beberapa kawan disana, Mbak Dewi justru memperoleh bonus berupa makan, serta tempat untuk menginap. “Asalkan ada niat untuk kebaikan, seperti halnya mengaji, pasti ada jalan” begitu ungkapnya.

Tak lama berselang Mas Dian yang biasa menggawangi peran moderator pun tiba. Permintaan maaf dihaturkan pada dulur-dulur yang sudah hadir atas keterlambatannya. Langsung merespon tentang tema, dimana salah satu dhawuh pada beberapa waktu lalu ialah mengangkat tema dari kontent buku yang ditulis oleh Marja’ Maiyah yakni Syekh Muhammad Nursamad Kamba dengan judul buku “Kids Jaman Now”. Kemudian dari Tim Dapur Tema memilih salah satu sub bab untuk dikupas pada bulan Oktober ini. Sub Bab yang diangkat ialah tentang “Mengajarkan Kearifan dan Kebijaksanaan” yang kemudian dikemas dalam tema “Nyuwun Jawah” dimana mukadimmahnya telah dibacakan oleh Mbak Dewi.

Mas Dian menghaturkan permintaan maaf pada dulur-dulur yang sudah hadir atas keterlambatannya, dan langsung merespon tentang tema

Mas Dian meminta pada beberapa dulur yang baru pertama kali melingkar untuk memperkenalkan diri. Pertama ialah Mas Anton yang juga merespon tema dimana masa iklim atau cuaca akhir-akhir ini belum bersahabat. Dimana hujan menurutnya ialah pitulungan (pertolongan) Allah untuk semesta. Kemudian ada Mas Febri yang biasanya ikut kegiatan sinau bareng dan baru pertama mengikuti maiyahan sehingga belum bisa ikut merespon tentang tema. Berikutnya ada Mas Surya yang merespon tema. Dimana hujan bisa dipandang sebagai hal yang ditakuti namun bisa juga dianggap sebagai hal yang ditunggu-tunggu.

Kemudian tiba giliran Mas Agus menyampaikan beberapa hal. Seperti yang sudah biasa berjalan dalam lingkaran diskusi Majlis Gugurgunung dimana pembahasan tidak terkotakkan dalam sebuah tema sebab setiap guliran yang ada akan memunculkan gelembung-gelembung topik pembahasan yang semakin luas.

Pemaparan Mas Agus terkait tema malam ini

Nyuwun Jawah meletakkan kita menjadi tanah kerontang yang rumput pun tidak mau tumbuh apalagi pohon yang besar, yang tidak mampu menyuburkan benih namun justru bisa mematikan benih. Dengan kondisi kerontang menjadikan kita merasa ada sesuatu yang kurang basah serta mudah terbakar. Kita mencoba mengamati setiap fenomena yang kerap hadir di sekitar. Dimana seorang dengan orang yang lain sering mudah terbakar atau justru saling membakar. Terminologi ini sebenarnya sudah lazim, sebab ada masa setiap manusia untuk basah serta kering. Permasalahannya, ketika berada dalam kondisi kering akankah kita “umuk” atau bisa “sumeleh”. Ketika sumeleh akan memformat diri untuk memindai setiap kekurangan dalam diri. Kurang basah atau kurang “uluran tangan” dari langit untuk menyentuh kekeringan yang terjadi agar kembali basah dan bersahabat dengan beberapa hal. Mungkin belum akan bersahabat dengan pihak yang kurang menyenangi hujan, basah, becek dll namun kerinduan akan kekeringan ialah hujan.

Sehingga kehadiran tulisan Syekh Kamba dan Mbah Nun, yang tiap hari dihadirkan baiknya diposisikan sebagai uluran tangan dari langit agar kita tidak mudah terbakar. Sehingga dalam kondisi basah, memunculkan kondisi bagi kita untuk ditebari benih serta menumbuhkan tetumbuhan.

Andaikan ada perumpamaan tentang hujan, setiap ada uluran tangan dari langit bahwasanya tiap ilmu akan ditampakkan dalam wujud nabi, auliya’, wali, ulama dll, dalam pada itu merupakan mekanisme untuk menampakkan setiap ulurannya pada kita. Hujan berfungsi merangsang benih dalam diri kita untuk tumbuh. Dimana setiap orang masing-masing sudah memilikinya, dimana benih itu muncul dari pohon (wit) yang bernama rah, dalam bahasa jawa wit ing rah (awit-awiting urip) dimana berkembang menjadi kata fitrah.

Fitrah kita letakkan sebagai benih utama kita sebagai manusia, dimana harus kita tumbuhkan agar senantiasa menggapai cahaya. Tak baik pula kita paksakan fitrah untuk kita tumbuhkan sendiri sementara kita adalah tanah yang kering kerontang apalagi yang tidak mau menerima uluran tangan dari langit. Baiknya kita terima setiap uluran dari langit agar senantiasa terus tumbuh mengejar cahaya, menggapai langit namun terus bersyukur tumbuh di bumi.

Kita semua sangat berpotensi sebagai kafir, kufur, ingkar. Namun dalam Al Qur’an juga kafir bisa diartikan sebagai petani. Kita coba ambil kafir sebagai petani, dimana petani selalu menutupi setiap benih menggunakan tanah. Seperti halnya kita yang terbuat dari tanah, yang akan berpotensi untuk mengubur benih tadi dengan segala ambisi, plan, schedule, cita-cita dll yang dapat membuat benih fitrah tadi terhambat pertumbuhannya. Kita sangka apa yang kita miliki adalah kebenaran, sementara tiap hal tersebut kita letakkan pada hal-hal yang bersifat jasadiah. Tetapi jika kita memilih segala sesuatu yang bersifat plan, rencana, gagasan, cita-cita tidak kita naikkan posisinya menjadi ambisi, obsesi maka tiap langkah yang kita ambil akan lebih proporsional sebab langkah akan terukur untuk membuka pintu yang menghadirkan jawah atau hujan. Hujan, udan, hudan ialah hidayah, petunjuk yang siapa saja sudah dibukakan maka tak ada siapapun yang dapat menutupnya demikian pula sebaliknya. Berarti kita harus berperan aktif agar senantiasa menerima uluran langit.

Carilah apapun hal yang tidak merusak fitrah kita, juga abaikan setiap hal yang kita rasa menjauhkan atau menutupi fitrah kita. Jangan sampai terjebak dengan fenomena jasadiahnya baik dari segi popularitas, harta dll dimana hal tersebut merupakan hal yang harus kita waspadai. Justru sering kita temukan kehakikian hidup pada manusia-manusia yang tulus hidupnya seperti petani, nelayan yang terbiasa mampu mengakrabi segala macam jenis penderitaan hidup. Penggunaan nur’aini (mata cahaya) bukan sekedar mata jasad, membuat kita mampu melihat cahaya yang tersembunyi bukan sekedar melihat dari mata jasadiah saja.

Merespon Mas Surya, tentang ketakutan dan pertolongan. Pastinya kita boleh takut, tentunya kita membutuhkan pertolongan. Tetapi mungkin perlu kita tegaskan piranti utama untuk menghadirkan pertolongan tersebut ialah dengan merasa apa yang kita sangka baik belum tentu baik untuk kita begitupun sebaliknya. Lumrah ketika muncul akan ketakutan sebab hujan mungkin membuat baju kita basah, mengeluh ketika genting bocor, susah ketika akan berangkat beraktivitas dll. Namun jangan sampai dengan ketakutan tersebut mengurangi kadar cinta kita akan fenomena kehadirannya, bukan malah terjebak dalam situasi dimana kita menghentikan ketakutan tersebut hanya untuk mengeluhkan kehadirannya dengan segala permasalahannya.

Kemudian Mbak Dewi yang meminta penjelasan lebih lanjut tentang hujan yang bisa memberikan dampak buruk seperti banjir (musibah) lalu bagaimana kita menyikapinya. Direspon oleh Mas Agus bahwa kita harus memiliki metode tentang sebab-akibat. Jika ada suatu musibah, baiknya kita telaah terlebih dahulu. Musibah tersebut merupakan sebab ataukah akibat. Jika hal tersebut tergolong akibat, berarti ada penyebab sebelum terjadinya. Ukuran celaka dan tidak celaka jangan diletakkan pada tolok ukur kita sebagai makhluk. Jika kita menganggap banjir sebagai sebuah azab, berarti kita juga memilih menyalahkan hujan sebagai penyebabnya. Berarti kita menyalahi risalah nabi, dimana jin dan manusia secara mayoritas dibuat untuk mengabdi bukan supaya ingkar. Bilamana kita hidup di tengah manusia ingkar berarti kita harus siap terinjak dan bersiap untuk tidak memiliki tempat untuk menjalankan kehendak Allah saat menjalankan kehidupan. Jadi setiap kejadian yang sudah ditentukan oleh Allah harus kita pahami dengan baik.

Bangunan-bangunan didirikan tanpa menghiraukan aliran sungai sehingga tidak memberikan tempat untuk sungai mengalir secara semestinya. Disebabkan kita yang merasa sangat sok tahu, maka ketika air tidak memiliki tempat hingga meluap, air menjadi yang disalahkan. Segala petunjuk dari langit harus kita tata terlebih dahulu kemampuan dari diri kita. Diberi banyak ya diterima tapi bukan berarti harus rakus. Ketika kita percaya Allah pasti memiliki cara untuk mengamankan dan menata segala sesuatu dengan baik, selesai masalah. Tidak perlu kita yang mengatur ini harus begini dan itu harus begitu.

Banjir yang dianggap sebagai sebuah azab di era Nabi Nuh, justru sekarang masih direkonstruksi. Ketika makhluk dunia memiliki “syahwat” yang besar terhadap dunia, dimana penguasaan manusia masih mengalahkan kekuasaan Yang Maha, maka disitulah dia harus ‘mandi junub’ untuk ‘menyiram api’ yang terbumbung meskipun tidak tampak bahkan yang ditampakkan justru bangunan yang baik, penuh ketertataan tetapi kemanusiaan lah yang terbakar disana. Maka simbolis penyiraman perlu dilakukan hingga sebasah-basahnya.

Jangan kita sangka banjir besar hanya terjadi di masa lalu. Sebab hal tersebut bukanlah dongeng, legenda yang bisa terjadi lagi kapanpun. Jaman yang kita jalani sekarang ini ialah jaman jahiliyah menuju cahaya agar mendapat cinta dari Allah. Rumus menjadi pintar ialah bagaimana cara menambahkan cinta, tanpa perlu sekolah, diklat, workshop. Segala cara Allah ialah caranya untuk menampakkan diri kepada kita melalui kebijaksanaan, kearifan, ilmu dlsb yang kita temui sehari-hari.

Menurut pemahaman Mas Agus dibuatlah fase 7 (tujuh) Nabi inti. Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi dan Rasul ini disebut inti untuk mempermudah membaca visual peringatan Allah melalui pada Nabi dan RasulNya. Seperti halya gambar visual maka harus ada keyframe. Yang disebutkan di atas tadi dianggap sebagai keyframe dari awal hingga akhir jaman agar kehidupan manusia tetap terbingkai sesuai dengan kehendak Allah sedangkan Nabi yang lain menjadi inbetweener. Seperti halnya animasi yang memerlukan keyframe untuk gerak utama serta inbetweener yang diletakkan diantara gerak utama. Jadi bukan sedang berbicara siapa Nabi yang penting dan tidak penting, sebab semuanya penting.

Nabi Ibrahim dipilih karena merupakan prototype manusia modern saat ini yang memiliki kapasitas intelektualitas. Kemampuan analis yang luar biasa, keberanian, serta memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang mirip manusia pada umumnya. Perintah penyembelihan putra tercintanya melatih kedewasaan dimana kedewasaan seseorang selalu dirasa menjadi milik pribadi tersebut. Kerelaan bahwa intelektualitas harus menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah bukan justru menjadi penghalang.

Berhala bisa berwujud popularitas, kecantikan, harta dll. Dengan cara yang intelektual harusnya menjadikan kita mampu memenggal kepala-kepala berhala tersebut. Bahkan memenggal sesuatu yang seolah kita sangat cintai. Keyframe berikutnya ialah Nabi Ismail yang mengerti bahwa Allah lebih dekat dari urat leher maka merelakan urat lehernya sendiri. Sebab urat leher merupakan syarat paling berat karena berkaitan dengan hidup untuk mendekat kepada Allah. Disimbolkan kambing sebab merupakan makhluk yang mau diatur. Namun merelakan urat leher sungguh membuat seseorang memiliki kapasitas sebagai ‘bocah angon’ yang mampu mengatur bukan hanya dirinya namun juga kepada pihak diluar dirinya. Jikapun belum sebesar mengatur kahanan minimal mengatur diri kita sendiri. Sedangkan seseorang yang memiliki keengganan menjalankan kehidupan untuk mendekat kepada Allah, alih-alih justru mempertahankan potensi kambing di dalam dirinya yang siap dikandang, dan diikat oleh tata aturan yang belum tentu membawa aturan dari Tuhan. Nabi Ismail mencontohkan keberaniannya mempersembahkan urat leher kepada Allah SWT, maka serta merta potensi kambing dalam dirinya keluar dan disembelih sata itu. Sekian tahapan hidup yang memiliki tujuan mendekat kepadaNya berguna untuk memunculkan sisi-sisi kemanusiaan dan menyingkirkan sisi-sisi ringkih dan takut kepada hasut sistem kekuasaan dunia. Setiap tetesan dari langit baiknya kita respon dengan rasa syukur yang besar agar mampu menumbuhkan dan menyuburkan apapun.

Allah ialah Cahaya Diatas Cahaya. Berarti meletakkan wajah Allah dengan penuh cahaya. LIGHT. Love, senantiasa mengedepankan rasa cinta. Semakin mencintai sesuatu yang kita benci maka kualitas cinta kita akan meningkat karena tidak ada tuntutan didalamnya. Cinta sudah bekerja dengan caranya sendiri untuk menyambut cinta. Inspiration, memposisikan diri seolah berada dalam wilayah yang memberikan inspirasi seperti halnya matahari. Tanpa berencana memberikan inspirasi namun banyak yang terinspirasi olehnya. Greatness, Allah maha agung (adzim) berarti kita harus merukuk, bukan menjadi tegak. Karena bukan kita yang memiliki keagungan, kita merukuk agar muncul bukan dengan keagungan kita namun keagungan Allah. Highness, a’la. Memposisikan diri dalam posisi bersujud. Bercermin dengan tanah yang rela diinjak namun tetap menumbuhkan. Ketinggian pun hanya milik Allah bukan milik kita. Dimana kita mampu ber”sujud” disitulah kita mendirikan “masjid”. Totality, ukuran totalitas yang kaffah bukan dimata manusia. Bukan total sebagai raja, khalifah namun total sebagai abdi. Bukan mengabdi kepada sistem manusia namun sistem kita hamparkan lebih luas agar lebih menebarkan cahaya seperti Allah yang menebarkan cahaya di semua makhluk.

Suasana makan bersama

Diskusi masih terus berjalan, hingga waktu menunjukkan kisaran pukul 00.30 WIB. Menu khas gunung senantiasa menjadi penutup kegiatan bermajlis di Gugurgunung. Namun sebelum itu doa penutup dipanjatkan oleh Mas Tyo. Lingkaran-lingkaran diskusi kecil masih berlanjut hingga pukul 02.00 pagi. Hingga masing-masing berpamitan untuk kembali menjalani tugas dan peran yang berbeda namun senantiasa berharap mendapat uluran dari langit yang sama. Sekian reportase kali ini semoga bermanfaat.

 

Andhika Hendriyawan

PASEBAN MUHARRAM

Majlis Gugurgunung pada akhir bulan September ini kembali menggelar rutinan Maiyahan pasca melebur pada edisi bulan Agustus lalu di Gambang Syafa’at. Kegiatan ini dihelat pada tanggal 29 September 2018, bertempat di kediaman Mas Mundari yakni di Ngempon, Ungaran, Kab. Semarang.

“Paseban Muharram” menjadi tema yang dipilih pada diskusi malam hari ini. Berkesesuaian pula dengan bulan ini, yakni bulan Muharram atau Suro di kalender Jawa.

Pembacaan do’a wasilah, Wirid Gugurgunung, tembang Gugurgunung, dan Munajat Maiyah.

Semua yang hadir telah duduk melingkar, hingga dimulailah kegiatan malam itu pada pukul 21.00 WIB. Diawali dengan pembacaan do’a wasilah oleh mas Ari, juga dengan Wirid Gugurgunung dan memimpin tembang Gugurgunung anggitan mbah Narto Sabdo. Lanjut dengan Pembacaan Munajat Maiyah oleh mas Jion.

Diskusi dimulai dengan pembacaan Mukadimmah oleh mas Kasno selaku moderator yang juga dibersamai oleh mas Dian untuk memandu jalannya diskusi. Semua yang hadir menyimak pembacaan mukadimmah dengan seksama. Beberapa yang hadir yakni sedulur dari Majlis Alternatif Jepara, juga sedulur dari Semarang, serta Master Zain Zamatera bersama dua kerabat dari Pagarnusa Salatiga. Namun Master Zain pada kesempatan kali ini menyampaikan permintaan maaf yang sebesarnya karena beberapa hal, baik karena beliau yang meminta maaf atas kedatangannya yang terlambat, lalu meminta do’a untuk Zamatera yang akan mendapatkan surat pengesahan dari Kementerian Kesehatan sebagai Badan Terapist resmi di Indonesia, serta beliau mohon izin untuk pulang lebih awal sebab secara mendadak harus mengejar jadwal pesawat di Surabaya untuk menghadiri kegiatan di Batam esok pagi, dimana sesungguhnya berat pula bagi beliau yang sebenarnya rindu untuk melingkar bersama Majlis Gugurgunung.

Usai sepatah dua patah kalimat disampaikan oleh Master Zain, tiba waktunya untuk mas Yoga membawakan sebuah lagu untuk menghibur sedulur yang hadir. Sebuah puisi karya Chairil Anwar berjudul “Sia-Sia” yang diaransemenkan menjadi sebuah lagu mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Kemudian mas Dian selaku moderator kembali membuka sesi diskusi. Mas Ajik menjadi yang pertama ditunjuk olehnya untuk memantik bahasan diskusi yang dapat dikembangkan lebih luas dan dalam.

Mas Ajik menjadi yang pertama ditunjuk oleh moderator untuk memantik bahasan diskusi

Tentang kata pada tema ini, yakni Paseban dimana diartikan sebagai pertemuan. Setiap hari kita mengalami proses pertemuan-pertemuan. Baik dengan alam, yakni bertemu dengan pagi ataupun malam. Juga pertemuan dengan manusia-manusia lain. Sedari bangun tidur hingga menuju kembali tidur, sebenarnya sangat banyak pertemuan yang terjadi. Namun itu semua juga tergantung pada kesadaran kita. Apakah diri kita ini menyadarinya atau tidak. Ketika dihadapkan pada sebuah pertemuan, banyak kemungkinan pada pikiran kita yang terseret ke belakang yakni masa lalu seperti sedang ada masalah hutang dlsb. Atau bahkan pikiran melompat ke depan dimana hal itu masih belum jelas, seperti besok makan apa? dlsb.

Kemudian pak Zam juga melanjutkan pembahasan. Terkait mukadimmah, muncul sebuah pertanyaan. Tercantum dalam mukadimmah bahwa, terkait pula tema ini dengan terjadinya salah musim. Manusia berperan penting dalam pengrusakan alam hingga berujung musim yang sering tidak jelas. Namun, ketika alam nanti semakin rusak hingga ujung kerusakan apakah justru akan menemukan keasliannya?

Salah seorang sedulur dari Jepara, yakni mas Anang. Juga memiliki sebuah pertanyaan untuk memantik diskusi. Bahwa alam yang baik sudah dirusak oleh manusia, sehingga alam seakan memberontak ataupun marah. Namun bagaimana cara agar alam dapat kembali sesrawungan dengan kita manusia?

Hampir senada, mas Ari juga memiliki pertanyaan. Terjadinya salah mongso dikaitkan dengan manusia sekarang yang juga sudah salah mongso. Atau salah buruan / salah yang dimakan. Manusia sekarang justru lebih memburu dunia. Namun bagaimana agar tidak terjadi “salah makan” seperti ini?

Mas Jion merespon tentang soal pranata mangsa. Dimana bumi akan menurut dengan segala cara manusia mengkhalifahinya. Sebuah kata luhur yakni Memayu Hayuning Bawana, mungkin bisa menjadi salah satu alternatif cara untuk kita sesrawungan dengan alam kembali.

Mas Agus turut merespon dari beberapa pantikan diatas. Paseban, seba diartikan sebagai sowan, mangkat, bertemu. Paseban Muharram berangkat dari bekal yang kita himpun dari setahun yang telah jalani sebelumnya. Dalam sekian rentang waktu dari lahir, senantiasa dalam rangka seba. Namun bagaimanakah seba yang baik yang perlu kita telaah lebih dalam.

Muharram, berasal dari kata Haruma, yakni tercegah. Setiap memasuki bulan Muharram harus memiliki paugeran tentang hal apakah yang perlu untuk dilanjutkan, dan apakah yang tidak perlu untuk dilanjutkan pada tahun berikutnya. Selain itu juga perlu dipilah tentang hal apakah yang perlu untuk mulai diberlakukan dan tidak lagi diberlakukan. Meskipun diluar diri kita masih ada yang masih memberlakukannya. Sebagai contoh ialah, penggunaan pupuk kimia pada tanaman baik sayuran maupun buah-buahan. Meskipun kita sedikit sesak merasakannya, sedangkan hal tersebut terus berlanjut secara kontinue. Tetapi kesadaran yang harus dimiliki ialah bumi sudah bersusah untuk menghasilkannya. Baiknya, kita memformat diri menjadi pihak yang tidak terlibat oleh sistem nafsu. Sebab ada sistem yang dibangun oleh akal. Sistem tersebut dapat dipakai hingga level kenegaraan. Ada dua negara yang disebut oleh Mbah Nun yakni China dan Iran, dimana negara tersebut sangat memikirkan rakyatnya hingga level terkecil. Meskipun hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, apakah kita menolak Indonesia? Tentu tidak, biarkan saja hal tersebut berlanjut. Sebab manusia terkadang perlu pembuktian.

Ada beberapa hal yang terkadang bisa tertangkap oleh Akal, ada yang terserap oleh pikiran, ada pula yang harus dibaca melalui kejadian. Contoh simulasinya, ialah ketika negara memiliki regulasi khusus tentang pupuk dan biji-bijian. Ketika hanya mampu dikonsumsi dan dimainkan oleh pihak besar dan hanya menguntungkan salah satu pihak saja, dan pihak tersebut bukanlah petani.

Apakah perlu kita melakukan kudeta? Jelas tidak. Sebab itu bukanlah pilihan yang baik. Solusi yang paling berkemungkinan baik ialah memberikannya contoh, seperti yang dilakukan oleh sedulur Majlis Alternatif di Jepara dan Petani Muda di Jogja yang menggunakan pupuk organik.

Andai, selama tujuh tahun ke depan akan terjadi kesengsaraan. Bagaimana kita menghadapinya? Apakah akan kita mengkonversikannya menjadi kekebalan ataukah justru kebebalan?

Jika terjadi kerusakan secara masif, yang itu dapat menjadi pembelajaran empiris namun sebenarnya tidak perlu terjadi jika disentuh oleh akal dan pikiran. Qiyamah, juga memiliki arti kebangkitan. Ada yang dibangkitkan berarti ada pula yang ditumbangkan. Tinggal pihak mana yang akan kita pilih, pihak yang akan dibangkitkan ataupun pihak yang akan ditumbangkan.

Dari beberapa uraian tersebut, jangan pula menganggap diri kita bukan sebagai faktor dalam perusakan-perusakan. Namun tergantung perusakan mana yang kita pilih. Petani mencangkul pun juga terlihat merusak tanah, namun menghasilkan nilai fungsi yang lebih besar.

Harapan seorang petani sebagian besar ialah, hasil panen bagus, melimpah, dan laku mahal. Namun ketika hal tersebut tidak terjadi, apakah mereka akan berhenti berdo’a? Tidak, sebab dalam pada itu sangat berkemungkinan do’a-do’a tersebut dikumpulkan dan menunggu momentum untuk memanen setiap do’a dan usaha yang sudah dijalaninya. Inilah sikap berserah, Namun tentu saja, momentum tersebut tidak akan tercapai apabila kita pasif, sebab tidak mungkin bisa hanya dengan leyeh-leyeh bisa mengunduh hasil.

Kemudian bahasan diskusi berlanjut pada gambar awan yang terpampang di poster. Bersama kita mentadaburi, bahwa semua adalah pertanda bagi orang yang berpikir. Hal tersebut ialah fenomena yang menjadi trigger akan tema Paseban Muharram kali ini.

Awan tersebut nampak terlihat jelas di puncak gunung Ungaran. Nampak beberapa awan yang hampir sama terlihat di beberapa gunung sekitaran Jawa Tengah, bahkan juga di Gunung Gede Jawa Barat serta Gunung Agung Bali. Pranata mangsa yang kerap kali berubah-ubah, bahkan terbolak balik pada sekian lama ini mungkin akan terdapat perbaikan untuk ke depannya. Sedikit hal yang mendasari ialah ada beberapa pihak yang sudah mau dandan atau memperbaiki diri, serta lingkungan. Dari lahan tandus telah mulai muncul kecambah. Meskipun hanya sebagai bidak dalam permainan catur, namun merupakan salah satu pihak yang memiliki peran utama dalam permainan tersebut sebab memiliki potensi akan harapan yang besar. Ketika satu bidak telah sampai di ujung perjalanan, ia mampu untuk memilih akan menjadi apakah dia. Bebas memilih, asal tidak menjadi “Ratu”.

Titah ataupun ilmu akan sesuatu yang dahulu mungkin pernah dimiliki leluhur tentu masih akan terjaga. Baik titah maupun ilmu semua berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dimana pasti akan bernaluri kembali kepadaNya. Tubuh manusia mungkin boleh mati, hancur dan terurai. Namun titah maupun ilmu yang dimilikinya tentu akan kembali kepada Sang Maha Pemilik Ilmu dan masih berkemungkinan untuk ditransfer kembali kepada kita entah dengan bentuk mekanisme apapun.

Kisaran waktu pukul 23.30 WIB, mas Khafid diminta untuk membacakan puisi karyanya, dengan diiringi petikan gitar oleh mas Yoga.

Lirik penuh arti serta pembawaan yang mantap pun mendapat apresiasi dari sedulur-sedulur yang hadir.

Usai disela musikalisasi puisi, mas Dian turut mengajukan sebuah pertanyaan yang masih terkait dengan diskusi malam ini. Dimana dalam waktu dekat-dekat ini banyak terjadi bencana alam. Seperti gempa di Lombok serta tsunami yang menerpa saudara kita di Palu dan Donggala. Apakah hal ini juga merupakan sebuah bentuk proses perbaikan alam seperti yang dimaksud tadi? Namun direspon oleh mas Agus bahwa tidak perlu mengkaitkan hal-hal tersebut, sebab prioritas utamanya ialah menjaga kemanusiaan. Tidak mampu untuk memberikan bantuan secara fisik, namun lakukan apa yang bisa kita lakukan bahkan dalam bentuk do’a sekalipun.

Mas Rizal dari Semarang juga menggendong pertanyaan yang masih berkaitan dengan Muharram atau Suro. Jaman dahulu tidak ada yang menikah pada bulan suro, namun era saat ini justru banyak yang melakukannya. Direspon pula oleh mas Agus bahwa, alasan leluhur untuk tidak menikah di bulan Suro ialah bulan ini merupakan bulan berkabung Rasulullah. Dimana cucu kesayangan Rasulullah mengalami fenonena yang menyedihkan yakni dibunuh, dan dipenggal kepalanya. Para leluhur mencoba untuk mendekat dengan Rasul termasuk memahami apa yang membuat rasul bersedih, sehingga agaknya kurang pas di bulan berkabung ini justru digunakan menjadi fenomena untuk berpesta atau berbahagia.

Do’a penutup menjadi pertanda bahwa usai sudah diskusi malam hari ini. Namun cangkrukan masih belum usai, sebab menu khas gunung yang selalu dirindukan senantiasa menjadi penutup dalam tiap acara majlisan Gugurgunung. Lingkaran-lingkaran kecil masih terbentuk, dengan bahasan ringan menjadi suguhan untuk saling ditukar satu sama lain untuk menambah sekelumit informasi tentang kemanusiaan, sebab sebaik-baiknya “menjadi” ialah Menjadi Manusia.

Sekian reportase edisi September 2018 dengan Tema “Paseban Muharram”, semoga bermanfaat.

Andhika Hendriyawan