MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Menyambut Robbun Ghofur –

Kembali ke tema, Mas Agus yang baru saja menyulut rokok kemudian diminta oleh Mas Kasno untuk mengenalkan sedikit tentang Majlis gugurgunung dan juga memberikan pantikan-pantikan tema untuk didiskusikan dalam sinau bareng kali ini.Mas Agus sangat bersyukur bahwa keinginan bersama untuk berkegiatan Sinau Bareng malam ini bisa digelar di Gintungan. Malam ini menjadi sangat indah, sebab dihadiri oleh banyak pihak. Bukan hanya Mas Sabrang tetapi juga Mas Aniq, Pak As’ad, Mas Kafi, juga semua tamu-tamu pada malam hari ini bisa jadi juga merupakan tamu istimewa. Memang dalam lingkaran Majlis gugurgunung biasanya hanya sedikit namun malam hari ini cukup banyak pula yang turut melingkar.Terima kasih turut dihaturkan oleh Mas Agus kepada pihak-pihak Gintungan yang sudah repot untuk “menggelar tikar”, hal ini merupakan tanda bahwa sebuah keluarga tidak mungkin untuk tidak merepotkan satu sama lain, yang penting tidak membebani.

Sebuah penyampaian dari Pak Kiai Mahrun di depan merupakan sebuah pantikan yang sangat baik bahwa kita harus ibroh kepada ciptaan Allah yang bernama lebah. Dimana rumah lebah tidak pernah merusak yang lainnya bahkan di dahan yang kecil, di gunung-gunung, pepohonan, rumah-rumah.Menurut Mas Agus pribadi bahwa ini merupakan tanda yang diberikan oleh Allah pada kita semua. Manusia bisa bersociety seperti lebah atau semut, sebab An Naml dan An Nahl diberikan ruang khusus di Al qur’an.Mukadimmah malam hari ini diberi judul Masyarakat Lebah Me-Madu, berawal dari tulisan Tahaduts bin Ni’mah yang awalnya diberi judul peradaban robbun ghofur. Jika mau menjadi tatanan sosial masyarakat jangan hanya mengejar thoyib. Jangan pula hanya mengejar gemah ripah loh jinawi tetapi juga pengampunan dari Allah. Hal inilah yang biasa dikesampingkan. Pandangan umum tentang thoyib biasanya otomatis robbun ghofur. Padahal belum tentu ketika banyak gedung-gedung indah, segalanya menjadi mudah ialah robbun ghofur.

Sebab peradaban masa lampau di era Fir’aun persoalannya bukan hanya pada infrastruktur tetapi dia menuhankan dirinya. Hal ini lah yang menjadi persoalan berat. Maka di Gambang Syafaat diberikan ruang khusus untuk mendiskusikan tentang haman. Haman ini juga merupakan kawannya Fir’aun. Sehingga menjadi tengara bahwa mestinya manusia tidak hanya mengejar bangunan yang seolah itu sekedar rumah singgah, tetapi juga menganggap bahwa di dalamnya terdapat generasi kita yang harus kita isi dengan kemakmuran yang disengkuyung bersama-sama. Ada yang berposisi sebagai pekerja, ratu, prajurit dlsb.

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Rahasia Tuhan dibalik Sinau Bareng –

Pak Carik malam ini turut membersamai pula, dan oleh Mas Kasno seketika diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu. Pak Carik menceritakan bahwa baru pertama kali di Gintungan diadakan majlisan dengan kemasan seperti ini. “Biasanya ya ngaji pake peci, sarung, gak ada yang gondrong-gondrong” demikian salah satu respon beliau terkait sinau bareng di maiyah. Pak Carik dulunya merupakan murid dari Pak Kiai Mahrun. Di Mushola yang sama pula, meskipun bentuknya kali ini sudah lebih modern. Pak Carik juga sedikit penasaran tentang alasan pemilihan tempat ini. Menurutnya banyak tempat yang lebih bagus, “apakah akan ada rahasia yang terbuka?” Demikian sambil tertawa. Namun beliau juga penuh harap bahwa apapun yang akan terkuak atau terjadi setelah ini senantiasa mendapat barokah dari Allah SWT. Sedikit bercerita bahwa semenjak dahulu Pak Kiai Mahrun selalu berharap mushola ini menjadi sebuah tempat yang bermanfaat dengan berbagai kegiatan. Mungkin kegiatan ini menjadi salah satu bentuk doa yang dahulu terucap itu.

Putra Pak Kiai Mahrun yakni Ust. Shobirin juga sedang merintis sebuah pondok pesantren berbasis tahfidzul qur’an. Namun dengan konsep yang sedikit berbeda. Sebab diajarkan pula skill yang mampu mendukung tingkat kreatifitas santri untuk diterapkan kelak usai menjadi hafidz qur’an dan hidup di tengah-tengah jaman yang semakin sulit ini. Harapan-harapan yang tentu di-amin-i oleh semua yang hadir.Kemudian ada pula Mas Kafi yang diminta untuk turut merespon. Terpantik dari pertanyaan Pak Carik tentang rahasia apakah yang akan terkuak juga menimbulkan rasa penasaran bagi pribadi Mas Kafi.

Sedikit merefresh sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut. Mas Yoga seorang performer dari Majlis gugurgunung membawakan sebuah lagu. Lagu dari Baraswara yang berjudul Pancarona dipilih untuk dibawakan.Hanya sejarak lima jengkal dari Mas Sabrang, Mas Yoga nampak sangat canggung. Namun di ruang pemakluman ini baik, benar memang bukan hal utama sebab keindahan lebih diapresiasi oleh dulur-dulur yang merasa bungah dan terhibur.

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Anteng Meneng Manfaat –

Usai pembacaan doa wasilah dan munajat, Mas Kasno memperkenalkan sekilas tentang Majlis gugurgunung kepada jamaah. Sebab cukup banyak jamaah yang baru hadir pada malam ini. Dilanjut pula dengan pembacaan mukadimmah, yang dipersilahkan oleh Mas Kasno kepada mas Satrio. Mukadimmah tersebut merupakan bentuk tadabbur oleh Mas Agus terhadap surat An Nahl. Mukadimmah ini nantinya dapat dikaji bersama lebih meluas sebab konteks majlisan ini adalah sinau bareng, dimana semua bisa memberikan kontribusi berupa respon untuk tema malam hari ini. Menariknya tema malam ini juga akan sedikit diulas oleh Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh. Sebuah kebahagiaan yang lama dirindukan bagi kami yang menanti kehadiran beliau secara jasadiah di sini. Ada pula Pak As’ad dari Suluk Surakartan Solo, Mas Aniq dari Ponpes RKSS Semarang yang juga seorang penggiat di simpul Gambang Syafaat, kemudian Mas Kafi sekeluarga bersama sedulur-sedulur Majlis Alternatif Jepara, juga Pak Kiai Mahrun dan Ust. Shobirin.

Pak Kiai Mahrun kemudian diminta untuk sedikit menyampaikan tentang gelaran acara pada malam hari ini. Pak Kiai Mahrun menyampaikan bahwa sekitar 40 hari yang lalu beberapa sedulur dari Majlis gugurgunung mengadakan acara disini, namun bertepatan dengan meninggalnya orang tua dari Pak Mahrun sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan anaknya yakni Ust. Shobirin baru pulang dari Lampung tadi pagi dan baru menyampaikan tentang kegiatan malam hari ini. Beliau merasa bahagia, bangga, bersyukur serta mengucapkan selamat datang kepada semua yang hadir. Beliau meminta maaf bahwa tempat yang disediakan hanya ala kadarnya saja. Kemudian beliau merasa senang dengan majlisan “pengajian” seperti ini meskipun tidak ada yang sarungan, pecian namun yang terpenting ialah niat dan hatinya.

Sedikit merespon tentang tema, penuh harap agar kita semua bisa mencontoh dengan makhluk yang bernama lebah. Madunya yang memiliki banyak manfaat, kekompakan yang luar biasa juga mendiami sebuah tempat tanpa merusak lingkungan tetapi juga memiliki kewaspadaan yang tinggi dimana dapat menyengat atau ngentup apabila diganggu. Anteng, meneng, lan manfaat.

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Guyub Khas Keluarga –

Majlis gugurgunung di akhir bulan Juni lalu kembali menggelar rutinan. Waktu perhelatan seperti biasanya yakni malam minggu terakhir pada tanggal 29 Juni 2019 dengan tema “Masyarakat Lebah me-Madu”. Gintungan, Ungaran Kab. Semarang dipilih untuk menjadi lokasi perhelatan. Merupakan sebuah tempat yang baru pertama kali digunakan sebagai rutinitas Majlis gugurgunung. Tepatnya di pelataran kompleks Mushola Al Mazroah yang berdampingan dengan gedung Madrasah yang diampu oleh Mas Shobirin.

Segala persiapan mulai dari gelaran tikar, sound system, serta MMT sudah terpampang di tempat yang semestinya. Ruang transit, tempat parkir hingga kamar mandi pun tak luput dari perhatian masing-masing personal yang nggugurgunungi segala proses persiapan, termasuk dari tuan rumah sendiri yakni Mas Shobirin sekeluarga yang lilo serta legowo menyediakan tempat beserta kelengkapannya. Pembagian tugas baik yang berada di lokasi kegiatan, maupun di titik kumpul awal yakni kediaman Mas Agus alhamdulillah berjalan dengan baik. Memang hajatan ini hampir sama seperti biasa, semuanya berusaha untuk mengambil peran dalam hal membantu persiapan teknis maupun non teknis.

Tepat pukul 20.00, sementara Tim masih terbagi menjadi dua. Yakni di titik kumpul di kediaman Mas Agus serta di lokasi. Beberapa jamaah sudah mulai berdatangan satu demi satu. Mas Shobirin mengawali dengan sholawatan dan rebana oleh anak-anak asuhannya. Bahkan ditawarkan pula pada salah seorang jamaah yang bisa terbang-an untuk turut serta. Meskipun tanpa koordinasi, jamaah tersebut langsung bisa mengikuti irama alunan terbang yang menjadi pengiring sholawat.

Malam ini, selain dari warga gugurgunung sendiri, nampak sedulur-sedulur dari luar kota pun turut merapat di lereng gunung Ungaran ini. Seperti Semarang, Demak, Solo, Jepara, Slawi, Jogja, kendal, dll. Waktu kisaran pukul 20.45 Mas Kasno sebagai moderator membuka acara seperti biasa yakni diawali dengan doa wasilah oleh Mas Azam dan Mas Tyo dengan munajat maiyah. Suasana nan khusyuk sangat terasa, diiringi semilir hawa dingin lereng gunung Ungaran.

 

Andhika Hedryawan

TRESNO WONG TUWO

LETAK PINTU KASIH SAYANG

Malam minggu terakhir pada 27 April 2019 menjadi malam rutinitas untuk Majlis gugurgunung menggelar maiyahan. Bertempat di Aula Madrasah Dinniyah Baburrohman, Jl. Watu lembu, RT. 05, RW. 05 Lemah abang, Bergas, Ungaran, Kab. Semarang. Merupakan tempat yang baru malam itu dipergunakan oleh Majlis gugurgunung untuk melingkar. Meskipun beberapa warga dan pengurus setempat telah memiliki kedekatan paseduluran. Tempat yang baru dan lengkap dengan sambutan hangat dari tuan rumah menjadi momen paseduluran yang nikmat tuk dirasa.

Jam menunjukkan hampir pukul 20.30 WIB, Mas Jion atur salam pambuko serta tak lupa menyampaikan terima kasih pada warga serta pengurus setempat seperti Mas Fajar dan Mas Mif. Semoga usai malam ini dapat membangun kebersamaan untuk menambah eratnya paseduluran.Berikutnya pembacaan doa wasilah oleh Mas Ari dilanjutkan Munajat Maiyah oleh Mas Tyo dan Pak Tri membaca doa.Moderator malam ini yakni Mas Kasno yang akan dibantu oleh Mas Chafid dan Mas Angling.

Mas Kasno membacakan puisi yang berjudul “Rindu Cahaya dan Rembulan”

Tema “Tresno Wong Tuwo” menjadi topik untuk dirembug. Dalam prolognya, Mas Kasno merasa kurang pintar untuk mendefinisikan. Jika semakin didefinisikan maka akan semakin tahu cara mencinta. Salah satunya pada orangtua, dengan banyaknya kalimat cinta yang tak bisa ditulis untuk menjadi kata. Namun dicoba oleh Mas Kasno ditulis menjadi puisi yang ditulisnya kala ia jauh dari orangtua. Sebuah puisi tentang kerinduan mendalam berjudul “Rindu Cahaya dan Rembulan”.

Usai pembacaan puisi oleh Mas Kasno, teringat pula ia dengan tulisan “Tetes” dari Simbah yang diminta untuk dibacakan oleh Mas Chafid.

Mas Chafid membacakan “Tetes” dari Simbah

Sebelum rembugan lebih lanjut, Mas Mif selaku perwakilan tuan rumah diminta untuk menyampaikan sesuatu. Diceritakannya awal mula diputuskan untuk menempati Aula Madrasah Diniyyah Baburrohman ini. Dimana Mas Patmo menceritakan bahwa tempat yang biasa (kediaman Mas Mun) sedang tidak bisa digunakan dikarenakan berbenturan dengan jadwal kegiatan Mas Mun yang tidak mungkin ditinggal. Beberapa alternatif dicari oleh Mas Patmo dan Mas Angling. Alih-alih mencari tempat justru disarankan untuk menempati Aula ini. Fenomena apik saat disampaikan pula oleh Mas Mif bahwa disini tidak ada yang namanya tuan rumah, pun tidak ada yang menjadi tamu. Sebab kesemuanya ialah seduluran.

Mas Agus menambahkan pantikan untuk diskusi dengan tema “Tresno Wong Tuwo”

Kemudian Mas Agus diminta untuk menambahkan pantikan untuk diskusi dengan tema “Tresno Wong Tuwo” ini. Bahwasanya tua disini bisa diterjemahkan secara perilaku bukan hanya sifat jasadiahnya saja. Dulur-dulur Lemah abang mencontohkan perilaku yang tua. Rela berkorban, tidak seperti anak-anak yang warna atau jiwa pengorbanannya belum kentara. Hal ini bisa menjadi uraian tema sehingga kita paham tentang proses untuk menua.

Orang lahir kesemuanya untuk menua. Di Jawa, tuwo berarti nutu howo (menempa /menumbuk hawa nafsu). Meski berusia muda dan masih brangasan tapi sudah ditutu. Seakan dihancurkan namun justru memunculkan kemanfaatan yang lebih luas. Sama halnya dengan gabah, setelah ditutu hingga menjadi beras dan dimasak menjadi nasi maka akan menjadi makanan yang bisa terdistribusi ke berbagai pihak. Disini diam-diam kita membidik informasi manakah yang bisa dijadikan pegangan. Dimana tidak harus tua secara umur tapi mengetahui bagaimana untuk menjadi “tua”. Kita merasa masih kekanakan namun kita rindu untuk menjadi figur tua. Dengan menjadi tua, sesungguhnya makin membuat kita semakin mengenali letak pintu kasih sayang.

LETAK ORANGTUA

Diskusi malam ini akan menjadi lebih hidup bila kita disini masing-masing saling menyumbang. Bersama mengisi kegembiraan dengan level yang sama. Tema ini merupakan tema kita bersama, sehingga menjadi kembulan dan santapan bersama.

Mbak Dewi tak ketinggalan dibidik moderator untuk merespon. Mbak Dewi seorang perantau, yang tidak tiap hari merasakan kebersamaan dengan orangtua. Tema malam hari ini membuatnya berat untuk berbicara. Namun bagaimanapun kondisi kita hingga menjadi seperti ini tidak terlepas dari peran orangtua. Orangtua selalu ada untuk kita. Apapun yang kita lakukan tidak membuat orangtua sakit hati. Namun sebagai anak pasti ada momen menjengkelkan bagi orangtua. Namun sebenarnya yang dirasakan hanyalah cinta, cinta dan cinta. Mbak Wulan juga berkisah yang hampir sama. Meskipun ia mengaku seorang “anak mami” yang tak bisa jauh dari ibunda namun ternyata justru keberadaan orangtua semakin tambah terasa dekat saat jauh secara ruang seperti sekarang. Sebenarnya orangtua memang memberi perhatian tanpa henti yang lebih dari siapapun, apa lagi ketika kita sakit. Dimana memang Mbak Wulan saat itu mengaku baru saja sembuh dari sakit.

Mas Kasno sebagai seorang yang berpengalaman pula dalam dunia perantauan memberi tambahan pantikan. Menurutnya bahwa cinta secara naluriah ialah hidangan oleh Allah SWT yang ditanamkan pada masing-masing hati atau jiwa manusia. Jadi ketika bersentuhan dengan momentum-momentum tertentu maka akan muncul kerinduan secara naluriah. Sehingga jarak takkan menjadi halangan sebab masing-masing akan mendekat secara getaran atau frekuensi.Kemudian ada Mas Ari yang menanggapi tentang Tresno Wong Tuwo ini. Didalamnya terdapat 2 (dua) hal yakni ada anak dan juga orangtua. Sebagai seorang anak, asalkan menurut saja dengan orangtua maka akan membuat orangtua bahagia. Itulah yang disebut kesanggupan menjalankan.Salah seorang sesepuh Majlis gugurgunung dalam hal usia yakni Pak Zam sependapat bilamana cinta hadir ketika kita merindu. Semakin rindu dirasa makin pula kita melihat apa itu cinta. Menurutnya, tidak ada kerinduan maka tidak ada yang namanya cinta.

Mas Amri yang syukur bisa hadir malam ini menceritakan sebuah fenomena pengalamannya. Pernah dilihatnya seorang anak kecil membawa tas besar di pinggir jalan. Didekatilah anak tersebut. Disapa dan diajak bercerita. Bahwa si anak tersebut ternyata sedang ada konflik di rumah dan ingin pergi namun membawa lukisan favoritnya yakni lukisan rukun Islam.Mas Angling berikutnya meminta Mas Mif menambahkan sudut pandangnya tentang cinta. Cinta sejak tadi dibahas bekisar seputar kerinduan dan jarak. Cinta biasanya kepada istri dan orangtua. Sementara Mas Mif dengan sang istri hanya beda RT saja. Sedangkan pada orangtua terkadang sebagai anak ingin kita bekerja hingga kaya lalu memberinya pada orangtua. Namun ternyata setelah anak mapan maka orangtua hanya butuh bahagia, bukan melulu tentang harta.

Dari beberapa responden memberi sudut pandang bahwa letak orangtua itu berada dalam kerinduan, dan cinta orangtua terletak pada cinta itu sendiri. Segala hal yang menghubungkan pada cinta maka akan menghubungkan pada orangtua dan segala hal yang berhubungan dengan orangtua akan menghubungkan dengan cinta. Yang menjaga, mengasihi, mendidik, menumbuhkan, berkorban, kepada buah hatinya.

 

ORANGTUA JASAD, JIWA, RUHANI

Mas Agus memberikan tambahan tentang pilahan bahasan dari tresno wong tuwo. Orangtua dibagi menjadi tiga. Yakni:

  1. Jasad. Wujud : yakni kedua orangtua kita
  2. Jiwa : yakni yang menanamkan nilai atau gagasan, pemikiran, ideologi.
  3. Ruhani : yakni yang memanggil untuk mencahaya

Mengacu pada unsur yang ada dalam diri kita juga terdapat akantiga hal tersebut. Body, andMind, Soul. Hal ini akan mempengaruhi segala sepak terjang yang gagasan utamanya mempertimbangkan 3 hal tersebut.

 

ORANGTUA JASAD

Andai ada lowongan pekerjaan untuk menjadi orangtua. Dengan gaji perbulan yang belum pasti jam kerjanya 24 jam sehari tanpa istirahat, memberi kasih banyak hal dan mengorbankan dirinya dalam banyak hal. Maka siapa yang sanggup menerima pekerjaan seperti itu? Itulah kedua orangtua kita. Mereka melakukan itu agar kita hidup bahagia, terlindungi, mendapat kasih sayang, perhatian, disenangkan hatinya, dibiayai pendidikannya, diobatkan saat sakit, dibiarkan kenyang meski mungkin mereka lapar, dibiarkan bergembira meskipun mungkin mereka penuh luka. Mereka tersenyum saat anaknya tersenyum, lupa semua lelah dan jerih payah. Maka berusahalah untuk menjadi anak yang memberi kebahagiaan dengan banyak bakti penuh senyum dan jangan menambah luka dengan perbuatan yang menambah tangis.

Mengawal anak kecil sampai dewasa bukanlah pekerjaan mudah. Sementaraorangtua mengambil pekerjaan tidka mudah itu kita. Secara pekerjaan seharusnya bukan pekerjaan yang menarik. Terutama pekerjaan sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui. Mengapa orangtuakita mau melakukan itu untuk kita? Karena pekerjaan tersebut dilandasi atas dasar keterdorongan bukan ketertarikan. Jika kita tertarik pada suatu profesi maka kita harus mendapat menuntut balasan yang setimpal. Berbeda dengan terdorong. Seorang ibu yang menyusui bayinya meskipun badan letih dan mengantuk tetap mau melakukan karena dilandasi dorongan sikap welas asih yang begitu besar kepada anaknya.

 

KISAH NABI YAQUB DAN NABI YUSUF

Dalam hidup sekarang secara mayor pasti ada ruang-ruang tertentu dimana orang melakukan sesuatu didasari pada ketertarikan bukan keterdorongan. Maka banyaknya yang didapat ialah kecewa. Hingga menyebabkan terdistruksinya cinta dan akhirnya menua. Hal ini harus ditengarai pada bentuk perjuangan dan pengorbanan. Menilik kisah Nabi Yaqub as dengan banyaknya putra yang dimilikinya. Pertama saat Nabi Yusuf kecil dibawa kakaknya untuk berburu padahal sebenarnya akan dibuang ke dalam sebuah sumur. Didramatisasi dengan baju yang robek dan darah kelinci yang seakan diserang binatang buas. Semua anak kompak mengatakan hal yang sama. Namun si anak-anak lupa menghitung bahwa ayahanda mereka bukan sekedar seorang bapak yang mungkin mudah dikelabui dengan informasi yang seolah meyakinkan. Sebagai bapak yang juga seorang nabi Yaqub pastinya memiliki nubuwah yang informasinya lebih hakiki. Maka nabi Yaqub tidak langsung percaya begitu saja bahwa hal buruk tersebut menimpa anaknya.Jasad hanya memiliki fungsi mereplika beberapa hal yang diciptakan oleh Allah. Mata akan menjumpai fenomena warna, bentuk, dll agar mendapat ilmu/pandangan(kaweruhan). Di titik tertentu kaweruhan akan masuk ke ruhani maka jasad tidak kuat menampung. Seperti halnya ketika Nabi Musa as ‘bertapa’ di Gunung Tursina. Ketika Nabi Musa as ingin berjumpa dengan Tuhan. Maka jasad tidak kuat menerimanya, gunung meluruh dan nabi Musa pingsan.

Sama halnya dengan fenomena Nabi Yaqub as. Nabi Yusuf dipantaunya dengan visi kaweruhan (pandangan) bukan sekedar paningal (penglihatan). Maka jasad tidak kuat menerimanya. Maka netra jasad nabi Yaqubtak cukup sanggup menampung, yang terjadi ialah kebutaan sementara.Nabi Yusuf as sudah diberitahu bahwa akan menjadi seorang Nabi. Dimana kemudian hari Nabi Yusuf digoda dengan Zulaichah. Saat itu level Nabi Yusuf hanyalah abdi dalem istana. Tapi rayuannya Zulaichah sangat maut. Hingga Zulaichah “golek kencono” (badan tak berbusana). Yusuf mulai tidak tahan. Akhirnya malaikat Jibril diutus untuk melarang Nabi Yusuf as. Dari dicabut kenabiannya hingga dijadikan musuh Allah SWT tak menggoyahkan Nabi Yusuf yang kala itu hampir terjerumus. Lalu muncullah sepintas sosok Nabi Yaqub as. Seakan luruh, runtuh semua. Kemudian ia siap dengan segala risiko apapun di dunia. Berbalik arah dan lari meninggalkan Zulaichah yang sempat menggapai bagian belakangnya hingga sobek. Nabi Yusuf benar-benar tak bisa menahan kerinduan kepada ayahanda yang dicintainya, sehingga saat itu cinta apapun apalagi hanya dari seorang perempuan menjadi sangat kecil dan tak lagi menarik hati apalagi mendorongnya untuk menggapai. Namun sebenarnya itulah yang menjadi titik tolak. Nabi Yusuf as sebagai seorang abdi dalem pun dipenjarakan sekian kurun dan kemudian hari dibebaskan berkat kemampuannya dalam hal ta’wil dan diangkat menjadi sosok yang berperan untuk Negeri Mesir. Mulai penasihat hingga menjadi kepala logistik. Dengan menjadi kepala logistik akhirnya dapat mempertemukannya dengan saudara-saudara dan juga sang ayahanda. Monentum pertemuan itu yang akhirnya membuat Nabi Yaqub as kembali bisa melihat.

 

ILMU DAN HIMAH

Dari kisah tersebut, maka proses cinta jangan sampai memutus kaweruh. Kita harus punya pengetahuan agar nalar kita tidak mudah ditundukkan oleh gelora cinta yang tidak hakiki. Jika terjadi maka kita hanya akan menjadi budak kesenangan. Dengan mempertaruhkan sesuatu yang sangat mulia. Pertaruhan tidak akan terjadi jika kita memakai kawruh. Ilmu, alim. Ada fadhilah yang dimiliki setiap orang. Maka Allah SWT akan memberi label ulama kepada seseorang ketika fadilah pada diri orang tersebut menjadi ilmu, dan ilmu tersebut bermanfaat untuk orang lain. Jika ilmu hanya bermanfaat untuk diri sendiri, sama dengan menunggangi fadilah dengan kepentingan tanpa kawruh. Kawruh yang ditangkap hanya ‘alimul, sedangkan kelanjutan pengetahuan adalah kebijaksanaan. jadi selain ‘alimul itu juga harus hakiim. Jaman jahiliyah sudah banyak ahli. Artinya secara pengetahuan, orang-orang sudah berpengetahuan. Tapi tidak menghikmahi atau membijaksanai ilmu untuk kepentingan bersama. Ilmu hanya digunakan untuk diri sendiri.

Nabi Muhammad SAW ditolak bukan karena nilai agama dan kandungannya. Yang ditolak ialah segala kerugiannya secara materi. Wanita jaman dulu bisa dijual. Jika Islam diterima maka akan mengorbankan banyak hal yang sudah menjadi zona nyaman. Abu Jahal pun juga bersaksi bahwa Muhammad merupakan seorang baik nan jujur. Namun tidak mau memelukIslam karena dia tak lagi bisa bebas berdagang dan berbisnis apa saja, omset dan pundi dinar dirhamnya terancam bangkrut jika ia memeluk Islam. Sebuah harga yang terlalu besar menurut pandangan abu jahal.

Sedangkan kita sekarang punya syahadat yang sama dengan syahadatnya para Sahabat Nabi, namun dalam hal perilaku malah mirip abu jahal yang jelas-jelas menolak Islam. Misalnya kita dianjurkan untuk saling menolong danmencintai, malah saling menuding, membenci, menebar kebencian, dan mencederai. Kita dianjurkan untuk mengasihi anak yatim, malah mengasihi harta benda dan takut sekali kehilangannya. Kita dianjurkan untuk menebarkan salam dan membawa kabar gembira, tapi malah menebarkan promo dan kabar produk-produk dagangan terbaru. Beberapa hal di atas itu masih wajar dan bahkan normal dalam kondisi jaman seperti sekarang. Namun sangat perlu berhati-hati agar sikap yang kita awali dengan menentukan prioritas, tidak menempatkan kita menjadi salah prioritas, dan alih-alih menjadi hipokrit. Ini yang perlu sekali diwaspadai. Menjadi hipokrit, munafik sebenarnya lebih berbahaya. Karena musuh bukan namun ternyata juga bukan teman. Ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi seperti itu.

 

ORANGTUA JIWA

Orangtua bukan secara jasadnya namun kepada pengetahuan, ide, gagasan. Pernah ada cerita tentang chef handal yang hendak ditarik ke Eropa. Suatu ketika ia ingin pulang kampung menjumpai orangtuanya di desa yang cukup terpencil. Ketika lewat rumahnya banyak yang ternyata hidupnya belum beres. Terutama masalah makannya yang kurang baik. Chef yang ahli menghitung segala hal tentang nutrisi, bahan hingga estetikanya ini menjadi tergerus hatinya. Titik tolaknya ketika melihat ada orangtua yang makan sepertinya sangat nikmat sekali. Padahal yang dimakan ialah tinjanya sendiri. Akhirnya dirumah chef tersebut menangis dan bercerita kepada ibunya untuk tidak jadi berangkat ke Eropa dan justru ingin memasak untuk warga kampungnya sendiri. Langkah besar untuk berjiwa indah dengan adegan ketidak-indahan.

Di lain kisah Mbah Nun pernah bercerita. Semasa kecilnya angon wedus (menggembala kambing). Beliau takjub dengan kambing ketika meminum air sungai di siang yang panas. Melihat hal demikian dirasanya indah sekali. Mengajarkan tentang rasa syukur, harmoni dll. Itulah pelajaran hidup. Dari itu Mbah Nun menyampaikan bahwa tidak berani hidup neko-neko. Seperti yang bisa dilihat sekarang, Mbah Nun hingga usianya yang sepuh tak neko-neko. Bisa jadi fenomena adegan tadi adalah pemantik suatu langkah besar Mbah Nun untuk memilih berjiwa indah dengan dipicu adegan yang indah.

Mas Agus mendengar kisah tersebut semasa masih di Kadipiro. Dimana memang Mas Agus cukup lama berada disana. Awal mulanya Mas Agus hanya mengenal Mbah Nun dari tulisan-tulisan beliau. Dengan agak sombong Mas Agus masih menjaga jarak dan beranggapan Jangan-jangan nanti kecewa ketika terlalu cinta. Karena memang sebelumnya Mas Agus sudah mencintai tulisan-tulisan Mbah Nun. Jika sekedar tulisan yang baik mudah untuk dibuat, namun perilakunya belum tentu baik pula. Namun setelah lebih mengenal keseharian Mbah Nun, ternyata yang tertulis hanyalah sedikit dari yang dilakukan. Jika tulisan Mbah Nun itu baik maka yang dilakukan Mbah Nun berlipat-lipat jauh lebih baik lagi. Barulah demikian Mas Agus merasa bahwa inilah wong tuwoku.

Pernah pula Mas Agus diminta untuk menemani salah seorang sesepuh lain. Tetapi bagi Mas Agus tidak masuk dalam kategori orangtua. Mbah Nun mengajarkan otentisitas dan kedaulatan diri. Maka penolakan tidak apa-apa, asalkan alasan harus kuat dan bukan hanya sekedar tidak mau saja.Memahami hidup dengan berdaulat pada hal yang menjadi proses kita dalam menjalani kehidupan. Apakah pengetahuannya juga terimplementasi dalam diri kita sehingga menjadi produk perilaku atau hanya sekedar jasadiahnya saja sehingga menjadi tiru-tiru.

 

ORANGTUA RUHANI

Untuk ruhani ini tidak diwedar secara direct oleh Mas Agus meskipun dari beberapa penyampaian Mas Agus sebelumnya sudah terdeliverisecara tidak langsung.

Kemudian Pak Narto salah seorang Pengurus Madrasah juga diminta untuk merespon mengenai tema. Banyak hal yang diulasnya tentang cinta. Salah satunya bahwa cinta orangtua ke anak sakklopo (sebutir kelapa), cinta anak ke orangtuasak upo(sebutir nasi). Selain itu juga, umum diketahui istilah anak durhaka. Namun apakah ada orangtua durhaka?

Mas Shohib menambahkan respon agar kita memahami membedakan mana cinta dan syahwat.Mas Azzam, salah seorang dulur yang sudah lama ingin ikut melingkar di Majlis gugurgunung juga diminta untuk menambahkan respon di majlis yang akhirnya berhasil ia bersamai di malam itu. Al Jannatu Tahta Aqdamil Ummahat ialah Surga di telapak kaki ibu. Menurut Mas Azzam ada 2 (dua) hal sakral di kehidupan yaitu saat ijab kabul dan membasuh telapak kaki orangtua. Kita bukan apa-apa tanpa mereka. Kita bukan menjadi kita kalau bukan perantara orangtua. Jika diminta menggambarkan tentang prosesi mencuci kaki ibu, ibarat menangis hingga tidak bersuara. Mencuci kaki dengan membaca syahadat, istighfar, sholawat, al fatihah lalu membasuh muka. Rasanya seperti rontok badan. Jika orang dalam kondisi nol.Mas Satrio, baru ikut melingkar pula malam ini. Iatermasuk baru di Ungaran, yakni kisaran tigatahun. Terkait tema, Mas Satrio mengungkap bahwa ketika sudah menjadi orangtua maka akan merasakan cintanya orangtua pada anak. Terutama ketika anak sedang sakit.

Kemudian Mas Ihda juga menambahkan, ketika Hamka mau meninggal. Dengan menjalani awal hidup yang penuh ketegangan. Dan ketika menjelang akhir hidupnya, ia menulis perumpamaan tua dan muda. Jika tua yang di depan bakal diam tak bergerak, sebab penuh ketakutan. Jika di depan yang muda, akan berjalan terus dan akhirnya menabrak karena penuh harapan. Solusi ketiga yakni yang tua ikut membersamai yang muda.

Mas Agus merespon Pak Narto. Apakah ada orangtua yang durhaka (duroko atau durhoko)? Tentang orangtua yang durhaka alias bertindak jauh diluar kategori orangtua bisa dicari banyak contoh kasusnya di media. Bahwa kata Duro disematkan pada orang yang mengabaikanperan dan merusak. Menurut Mas Agus bisa jadi ada orangtua yang durhaka, jika melihat adanya orangtua yan mengabaikan perannya dan merusak masa depan anak. Bahwa orangtua semacam ini kelak akan dihukum karena tindakannya atau malah bebas hukum di hadapan TuhanWallahua’lam.Tapi dalam kacamata hukum manusia tindakan orangtua menelantarkan anaknya tidak dibenarkan. Berkaitan hukum Tuhan adalah begini ; jika dihukum karena sengaja bertindak merusak dan mengabaikan, dan tidak dihukum karena digolongkan sebagai gangguan jiwa yang mengalami ketidakpresisian dalam berperan sebagai orangtua yang diakibatkan oleh kapasitas pengetahuannya yang sangat rendah. Sebab tidak semua orangtua menampung kebijaksanaan, ada yang benar-benar punya anak dengan dilatarbelakangi pandangan dan cita-cita berkeluarga yang baik sehingga siap bersikap bijaksana, ada yang memiliki anak karena suatu imbas yang belum siap disangga sehingga tak punya persiapan kebijaksanaan, ada orangtua yang hanya sekedar lebih tua usianya namun tidak secara mental, tampaknya yang terakhir tidak banyak di negara Indonesia, namun mungkin bisa menjadi angka yang cukup besar di beberapa negara lain yang menerapkan ciri egaliter dalam hirarki pergaulan sosialnya.

Bagai cahaya. Seperti matahari kita nikmati cahayanya namun kita abaikan keberadaannya. Sesuatu yang sangat bermanfaat dan biasanya tidak dihitung ucapan terima kasihnya. Inilah cinta yang tua. Cinta yang tidak lagi menuntut.Sebodoh-bodohnya orangtua (dengan ukuran pendidikan akademis) pasti masih jauh memiliki pengalaman hidup dibanding anaknya. Maka orangtua lebih mengerti cara menyayangi dan mencintai kepada anaknya dan anak masih dalam tataran belajar menyayangi dan mencintai dari orangtuanya. Maka layak disebut cinta orangtua sepanjang jalan. Ya, sebab mereka mengiring dari lahir sampai mengawal seluruh perjalanan kita dengan cinta yang tanpa henti.

Kuroba (kurban). Sebagai bentuk akrab dan ucapan cinta pada Allah SWT. Nabi Ismail dengan pengorbanannya mencontohkan secara real bahwa Allah lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Hal ini merujuk pada Mas Azzam. Di satu sisi sebagai anak memang meletakkan hormat pada orangtua, karena disitulah letak ridho. Seorang ibu toh nyowo(bertaruh nyawa) berkorban untuk melahirkan kita di dunia. Pengorbanan setingkat nyawa. Seperti pengorbanannya Nabi Ismail, maka betapa dekatnya Allah kepada ibunda kita. Merujuk ke pertanyaan Mas Sohib, untuk membedakan cinta dan syahwat adalah pada tingkat pengorbanan dan pamrihnya.

Tentang kisah Maling Kundang. Bagaimana jika kisah Malin Kundang hanyalah perumpamaan. Yang menjadi batu, bukanlah tubuhnya tapi hatinya yang sekeras batu. Ketika hati sekeras batu dia akan lebih keras dan menjadi semakin keras.Andai orangtua memakai metode ing ngarsa sung tulodho, sehingga dapat menumbuhkan pikiran-pikiran. Lalu ing madya mangun karso, yakni membangun kehendak hingga sudah bisa berjalan sendiri. Maka tinggal tut wuri handayani yang mengikuti dari belakang namun memiliki kedigdayaan. Seperti tanah yang menumbuhkan rela diinjak namun tetap konsisten menumbuhkan dan membuahkan. Seperti udara bisa dihirup tanpa memilih siapa yang akan menghirupnya. Menyelusup dan menyapa kembang salak yang tersembunyi untuk membuah. Seperti air yang selalu akrab dengan kekeruhan padahal ia adalah lahir sebagai kejernihan.

Hampir memasuki jam 00.00 WIB. Seperti biasanya, majlisan ditutup terlebih dahulu meskipun kemudian berlanjut dengan lingkaran-lingkaran diskusi kecil. Mas Kasno menutup malam hari ini dengan meminta mas Sohib memimpin do’a. Sebagai moderator tak seperti biasa kali ini ia tidak mampu untuk menyimpulkan. Menurut Mas Kasno sebab semua yang hadir mungkin punya kesimpulan yang berbeda-beda yang tak ingin dirusak dengan kesimpulan yang dibuatnya. Sebagai ganti kesimpulan Mas Kasno menyampaikan kalimat penutup, “biarlah semua materi malam ini menjadi material untuk membangun tresno pada siapa saja, terutama orangtua kita. Dengan harapan gusti Allah ridho dan cinta pada kita”.

Sekian reportase edisi bulan April 2019, semoga bermanfaat.

 

Andhika H