MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– KOMUNITAS TADABBUR –

Malam yang semakin mesra dan hangat dilanjutkan oleh Pak As’ad. Berbicara tentang kerumunan, ekonomi masyarakat, potluck sudah dialami langsung oleh beliau. Seorang pengusaha yang juga memandegani Suluk Surakartan hingga tiap hari berkawan dengan kerumunan.Pak As’ad mengawali dengan ketertarikan beliau terhadap gagasan Pak Kiai Mahrun tentang pembikinan pondok tahfidz namun berbeda dengan umumnya. Dimana pondok tersebut terdapat sebuah kegiatan yang berujung ekonomi. Dalam pada itu bertepatan pula dengan lokasi ini yang dipilih dengan tema “Masyarakat Lebah me-Madu”.

Jika kita sedikit tarik mundur ke belakang. Dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, ketika sedang memerangi pasar yahudi sudah jarang kita melakoninya. Biasanya umat Islam ketika melakoni sesuatu pasti akan mencari pembenaran dari ayat Al Qur’an dan hadist. Tetapi ada satu hal yang terlupakan yakni mengevaluasi secara terus menerus langkah apa yang keliru.Nabi Muhammad memerangi pasar yahudi dengan sistem ekonomi serta teknologi yang lebih baik bukan sekedar mengangkat sentimen suku, ras dan agama. Sehingga dalam waktu singkat, pasar yahudi kukutan (gulung tikar). Perlu diketahui bahwa Kanjeng Nabi melakukan hal demikian sudah sangat terencana. Dimulai dari julukan yang disandang oleh beliau yakni Al Amin jauh sebelum beliau menerima wahyu. Nampaknya satu hal yang penting diajarkan ialah untuk menjadi manusia sepenuhnya bukan karena menerima wahyunya tetapi proses pertumbuhannya tidak terlalu jauh dari realitas sehari-hari. Berdagang misalnya, maka bukan hanya sekedar berdagang namun juga harus mengerti intinya berdagang yakni manajemen resiko.

Seseorang yang bisa mengelola sesuatu dengan perhitungan meminimalkan resiko sebenarnya sesuatu yang lumrah. Tetapi sering luput oleh kita dikarenakan pola pengenalan Al Qur’an kepada kita nampaknya tidak pernah masuk pada wilayah tadabbur.Menurut Pak As’ad yang diperintahkan kepada kita ialah afala tadabbarunal qur’an. Sedangkan tentang tafsir yang perlu kita pahami bahwa sebaik-baik penafsir ialah Allah itu sendiri.Pernah ketika berdikusi dengan Syekh Nursamad Kamba, bahwa ketika bertadabbur maka sudah tidak terikat tata bahasa asalkan outputnya kemanfaatan dan tidak pula dipaksakan kepada orang lain.Sederhana saja, ketika membicarakan khamr dan maysir. Pandangan kita khamr tidak jauh dari minuman keras, sedangkan maysir tidak jauh dari kartu. Jika pengertian judi ialah tentang mengundi nasib, maka bukankah kita dalam hidup hanya berkutat soal mengundi nasib saja? Papar Pak As’ad melempar wacana.Khamr, diartikan sesuatu yang membingungkan dan dalam Al Qur’an diperintahkan pada kita untuk menjauhinya.

Seperti dalam QS Al Ma’idah ayat 90 yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah :90)

Dan dipertegas lagi pada ayat berikutnya yang berbunyi, “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). ” (QS. Al-Ma’idah :91)

Sebuah permisalan, ketika kita berada di sebuah kota yang baru pertama kita datangi pasti kita akan kebingungan. Maka harus kita “jauhi” dengan mengambil jarak, mempelajari informasinya sehingga ketika kita memasuki kota tersebut sudah terdapat gambaran.Mengapa khamr dipasangkan dengan maysir?Sesuatu yang kita lakukan tanpa perhitungan, tanpa analogi maka sesungguhnya itu judi. Berarti itu berlaku kepada apapun. Dalam mencari ilmu, bekerja atau apapun harus ada perhitungannya dahulu meskipun tidak terlalu banyak perhitungan juga. Tetapi minimal harus ada gambaran dasar. Seakan sudah “setor” pada Allah bahwa kita sudah berpikir sehingga kita terhindarkan status dari khamr dan maysir.

Suluk Surakartan kemarin mengambil tema satu banding sebelas berawal dari uraian Mbah Nun ketika halal bihalal di sebuah perguruan tinggi. Maksudnya ialah di dalam 12 bulan terdapat 1 bulan training yakni bulan puasa, dan seharusnya 11 bulan yang lain menjadi bentuk realitas dari puasa kita selama satu bulan. Kita tahu pada bulan puasa tidak memakan dan meminum sesuatu yang sebenarnya halal. Tetapi mengapa hal itu tidak diperbolehkan?Sesungguhnya dalam seseorang bekerja juga isinya hanya demikian. Yakni tidak mengeluarkan untuk sesuatu yang sebenarnya halal-halal saja namun tidak dilakukan sebab lebih menghitung prioritas.

Sedikit bercerita Pak As’ad ketika berada di dalam ruangan ketika Mocopat Syafa’at. Ada seseorang yang mengajukan pertanyaan tentang kunci sukses. Dengan canda beliau mengatakan bahwa tidak bisa menjawabnya.Namun tentang sukses itu sendiri kita pun rancu. Tergambar secara sederhana orang sukses adalah orang dengan mobil baru, uang banyak, tidak punya hutang, tagihan lancar, bahkan ingin membeli apapun bisa meskipun kredit.Padahal itu hanyalah daun, bunga dan buah tetapi sesungguhnya kita tidak pernah mencermati bahwa itu adalah hasil dari sebuah pertumbuhan. Jika kita membicarakan pertumbuhan maka kita semua adalah tanaman-tanaman tetapi tidak sama maka berbeda pula cara pengukuran kesuksesannya tinggal dikembalikan saja pada kesadaran dirimu.

Kembali pada manajemen resiko satu banding sebelas. Ketika itu pula ada fenomena MK, Solo-Jogja, juga anjloknya harga ayam hingga dibagikan secara gratis. Hampir berlaku di semua wilayah Islam Jawa bahwa sesuatu berjalan dengan gebyar lalu setelah itu anyep. Seperti berpuasa maka gebyarnya hanya di awal-awal ramadhan saja dengan munculnya banyak quote, kata mutiara, kajian hikmah, kultum dlsb dan di akhir ramadhan menangis dimana konon dahulu kanjeng nabi menangis ketika ditinggalkan bulan ramadhan.Sesungguhnya yang kita perlu renungkan ialah bahwa banyak dari sekian peristiwa tidak kita pelajari.

Fenomena harga ayam potong anjlok sudah pernah terjadi ketika era 70an. Bapak dari Pak As’ad ketika itu sudah memiliki peternakan dengan ribuan ayam sehingga sudah sangat familiar dengan perusahaan pokphan. Perbedaannya dengan kita saat ini mengapa menjadi sangat terasa ialah kita selalu kalah dalam beberapa medan karena kita tidak pernah melakukan beberapa evaluasi tadi. Sedangkan orang yahudi pun mereka belajar dan melakukan strategi jangka pendek, menengah dan panjang jauh sebelum Nabi berhijrah tentang apa yang ditanamkan oleh nabi di Yastrib.Segala sesuatu yang kita lakukan harus ada perhitungan. Ada rencana pendek, menengah dan panjang. Ini semua yang tidak pernah kita lakukan.

Coba kita tengok di Bali. Mengapa sedemikian terjaga juga dengan angka kriminalitas cenderung minim. Sebab mereka dikenalkan tentang dosa secara lebih nyata yang disebut dengan karma. Tetapi dalam pandangan cendekia agama hanya dikatakan bahwa ngapusi dosa, korupsi dosa, zina dosa. Sebenarnya apa ukuran dosa? Meter? Kubik? Bulan? Atau tahun?Sehingga dosa seakan seperti ilusi, maka orang melanggar pun dengan begitu mudahnya sebab tidak ada perhitungan yang jelas. Sementara tidak mungkin bahwa suatu ajaran yang datang dari Tuhan yang menguasai semua keilmuan tidak memberikan deskripsi yang jelas.

Seperti orang berhaji. Orang musyrik dilarang pergi haji, sementara tidak boleh menuding orang lain musyrik. Lalu bagaimana untuk melakukan pelarangan? Sementara berhaji merupakan sesuatu yang bersifat material, jelas visa nya, pintu masuknya, naik pesawatnya dll. Lalu bentuk pelarangannya berstandar sesuatu yang tidak boleh menyalahkan orang lain. Maka apakah sebenarnya musyrik itu?

Di dalam QS Ar Ruum terdapat sesuatu penggambaran yang bisa kita cermati. Musyrik atau menyekutukan Tuhan menurut Pak As’ad ialah seseorang yang meninggalkan partnership dan merasa mampu melakukan segala sesuatunya sendiri. Padahal apa yang diciptakan Tuhan pasti dualitas dan berpasangan. Begitu juga kita di Maiyah. Jika mengatakan di dalam Maiyah itu cair maka juga harus percaya bahwa di dalam Maiyah ada sesuatu yang padat. Berarti ada yang musyawarah dan ada yang tidak musyawarah, ada yang hirarkis ada pula yang tidak.

Mencermati surat An Nahl, jelas bahwa satu-satunya hewan yang diberi wahyu ialah lebah. Dan jelas dikatakan bahwa lebah membuat sarang di bukit-bukit dan di pohon-pohon. Di rumah Pak As’ad terdapat tawon jenis lanceng. Tawon lanceng memiliki manajemen yang luar biasa yakni memisahkan kotoran, lilin dan madu.

Kembali pada pondok tahfidz yang akan dibentuk maka menjadi tambahan “tanggung jawab” bagi Mas Agus untuk menginisiasi. Sebab di Maiyah sudah sepakat untuk bertadabbur. Padahal kunci berkembang dalam hal perekonomian atau apapun maka tidak ada jalan lain selain tadabbur. Lepaskan segala standarisasi yang telah ditanamkan pada kita dan bikin standarisasi sendiri. Kita mengenal orang Jawa dulu, kita mengenal Nabi Muhammad. Hampir setiap benda diberi nama untuk apa? Yakni standarisasi. Hampir di setiap negara industri pasti memiliki standarisasi sendiri. Ada standarisasi teknologi dll untuk berdaulat pada sesuatu yang diyakini.Pahami Al Qur’an dengan tadabbur realitas kehidupan sehari-hari. Ketika kita yakin pada dualitas yang diciptakan Tuhan maka tidak mungkin Tuhan hanya membicarakan langit di sana.Kembali pada An Nahl, jika kita perhatikan lebah seperti profil orang-orang yang melakukan industrialisasi sendiri secara personal. Mereka mengolah putik bunga di dalam dirinya sendiri dan keluar menjadi madu. Hubungannya dengan kerumunan ialah, kerumunan yang paling baik ialah kerumunan lebah. Masyarakat lebah tidak pernah ngomong saja tetapi terus berproduksi.

Masyarakat lebah juga merupakan masyarakat yang sangat hirarkis, menjalankan langsung perintah yang bersifat top down. Jika kita mencoba melihat China sebagai raksasa yang luar biasa, maka dapat pula kita lihat penanaman kepatuhan yang luar biasa dari pemimpinnya untuk rakyatnya. Pemimpinnya mengatur semua lini kehidupan sampai hal terkecil sekalipun. Contoh kecil ketika membeli barang yang sangat murah pun bisa diantar sampai depan rumah tanpa ongkos kirim. Disana tidak ada kekayaan pribadi tanpa adanya acuan kemanfaatan bersama.Demikan halnya dengan Iran. Negara yang sudah diembargo bertahun-tahun lamanya namun masih bisa tetap eksis. Setiap jajaran masyarakat tahu diri. Jika dia adalah karyawan maka hanya menjalankan perintah tanpa banyak bertanya. Entah disuruh menanam apa, membersihkan apa namun jelas kemanfaatannya. Hal ini yang dilakoni Kiai-Kiai sepuh jaman dulu.Metode demikian sangat cocok untuk dikembangkan di pondok, asalkan visi Kiai nya jelas. Bagai negara “China kecil” atau “Iran kecil” menurut Pak As’ad.

Uraian Pak As’ad ini kemudian disambung dengan tanggapan oleh Mas Sabrang. Menurut Mas Sabrang, meskipun negara China bisa menjadi salah satu protipe berkomunitas, namun ada hal yang boleh jadi menjadi PR bersama yakni tidak seperti China maupun seperti Iran melainkan seperti lebah yang seolah meletakkan kepemimpan dalam standar hirarki abdi dan Tuhan. Selengkapnya nantikan bagian berikutnya.

 

 

Andhika Hendryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– MANUSIA –

Kemudian Mas Aniq diminta untuk urun roso tentang tema malam hari ini. Menurut Mas Aniq, mengelaborasi tentang lebah juga merupakan hal yang tidak mudah. Namun dicoba untuk sedikit menguruni cuplikan-cuplikan.Melihat lebah ada satu kata yang terwakili yakni kerumunan yang membawa manfaat. Berkumpul, membuat rumah lalu menghasilkan madu yang bermanfaat. Sebagai salah satu miniatur ciptaan Allah dapat menjadi ibroh untuk manusia. Ketika manusia berkerumun apakah membawa manfaat atau tidak. Ketika menjadi kerumunan, komunitas, atau publik kita sebut apakah akan menjadi publik yang bermanfaat atau tidak. Maka kerumunan manusia di dalam Al Qur’an disebut An Nas. Di dalam Al Qur’an pula juga terdapat manusia yang bermacam-macam. Ada yang disebut Al Anam, Al Basyar, Al Waro, Al Bariyah, dan Al Insan. Bentuk jamak untuk mewakili semuanya disebut An Nas. Menurut pandangan Mas Aniq, Al Anam merupakan manusia yang dilihat dari segi biologis. Misalkan manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan. Membutuhkan asupan raga seperti makan, minum, tidur dll.

 

Al Basyar merupakan manusia yang dilihat dari sosiologis atau bebrayan. Al Basyar bisa diartikan menumbuhkan kegembiraan, kebahagiaan. Maka kanjeng nabi disebut khoirul basyar. Nabi Muhammad merupakan sebaik-baik manusia yang menumbuhkan kebahagiaan, kegembiraan dan bebrayan yang baik. Seperti ketika di pondok ketika seorang santri memberikan sesuatu maka disebut gisyaroh, atau aweh bebungah (membagikan sesuatu untuk kegembiraan orang lain).

 

Al Waro. Manusia yang dilihat dari sisi psikologis. Apakah seseorang mampu memotivasi, menumbuhkan jiwanya atau tidak.

 

Al Bariyah, manusia yang dipandang dari segi intelektualitas. Dalam An Nahl terdapat beberapa pokok pemikiran misalkan tadzakkarun. Alladzikri ialah orang-orang yang dititipi “dokumen-dokumen keilahian”, mereka mampu menangkap realitas, atau apapun tajalli Allah masuk ke dalam frekuensi dirinya. Ada yang namanya gelombang pemahaman. Maka di Al Qur’an tertulis, jika ingin bertanya maka bertanyalah pada Alladzikri. Fas’alu alladzikri in kuntum la ta’lamun. File rohani yang paling penting ialah yang berhubungan dengan Allah, maka waladzikrullahiakbar.

Apapun yang berhubungan dengan realitas maka puncaknya adalah Allah. Dalam sangkan paraning dumadi, maka dumadinya adalah Allah. Allah sendiri pun realitas meskipun tak bisa dilihat, dibayangkan dll. Tan keno kinoyo sopo, tan keno kinoyo ngopo. Maka dalam Al Ikhlas, qul huallahu ahad. Hu sebagai simbol yang tidak tampak dan tidak terdefinisikan. Karena jika terdefinisikan maka akan menjadi terbatas. Maka jangan terpaku pada sebuah definisi. Tetapi untuk mempermudah maka disebut ahad dan shomad. Dia yang tunggal dan mengisi ruang, yang mampu memasuki ruang-ruang kejiwaan dalam diri manusia. Berasal dari kata wallahu, atau zat yang menghenyakkan (semacam terkejut).

 

Al Insan. Manusia yang dipandang dari segi spiritualitas. Terdapat daya spiritualitas untuk menuju sangkan paraning dumadi.

Ketika berkumpul dari kesemuanya maka jadilah An Nas yakni perkumpulan dari individu-individu. Setiap kerumunan bisa berdampak positif ataupun negatif. Bisa bermanfaat ataupun sebaliknya. Apakah perkumpulan tersebut berjenis kehambaan waro, insan, bariyah atau anam atau tidak menjadi penting untuk diidentifikasi. Gejala seperti ini sudah berlangsung sejak jaman Nabi Adam. Di jaman nabi Musa terdapat tiga lawan. Fir’aun, Haman dan Qarun. Nabi Musa juga memiliki partner yakni Nabi Harun dan Nabi Khidlir. Nabi Harun merupakan Nabi yang lihai berdiplomasi. Nabi Khidlir melawan Qarun dengan konsep gotong-royongnya. Ketika rakyat menggunakan konsep ekonomi gotong-royong maka Qarun akan lenyap sendiri dengan hartanya. Inilah pentingnya menjadi kerumunan yang baik. Kerumunan lebah yang menghasilkan madu. Madu yang diperas dari rumah atau sarangnya. Menurut Mas Aniq maka akan menjadi wal Asr atau sebuah perasan. Maka jika manusia menjadi sari maka menjadi manusia yang baik, dan rugi jika hanya menjadi manusia ampas.

Maka belajarlah menjadi kerumunan Nas yang berdampak positif. Bahkan dalam surat An Nas, untuk menangani manusia harus menggunakan tiga potensi Allah. Robbun, Malik dan Illah. Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut berkahnya bumi kecuali ada orang yang dhalim. Jika ada kedhaliman yang terstruktur dan kesalehan yang tidak terstruktur maka kalahlah kesalehan. Jika sel-sel kesalehan tidak dirangkai secara struktur maka akan kalah dengan kedzaliman yang terstruktur.

 

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– POTLUCK – SWABOGA –

Sebuah “puasa” yang cukup panjang untuk menghadirkan mas Sabrang. Meskipun dalam setiap rutinan Mas Sabrang berusaha dihadirkan dalam bentuk nilai namun pada malam hari ini akhirnya berbuka juga. Bukan sekedar berpuasa namun rutinan kali ini juga bagai hari raya sebab menghadirkan beberapa tokoh. Tibalah giliran Mas Sabrang untuk diminta memberikan respon tentang Tema malam hari ini. Mas Sabrang pernah memberikan sebuah kata pengantar pada salah satu pustaka gugurgunung yang ditulis oleh Mas Agus. Ialah tentang potluck. Banyak istilah lain seperti halnya kenduren.

Potluck merupakan konsep turunan dari berkumpul-kumpul, pesta dlsb namun ada peraturan khusus dimana bukan hanya satu orang yang menyediakan makanan untuk semua orang namun justru masing-masing orang datang membawa makanan lalu diletakkan diatas meja dan boleh dimakan bersama semuanya. Merupakan konsep yang sangat indah sebab semua memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan mencicipi apa yang dipersembahkan oleh orang lain. Serta tidak ada kewajiban untuk menghabiskan, tidak ada pula kewajiban untuk menyenangi salah satu suguhan saja. Sebuah pengalaman dari Mas Sabrang ketika berada di luar Indonesia, saat ber-potluck hanya menyuguhkan nasi goreng. Dikarenakan mereka jarang memakan nasi, maka justru laris dihabiskan oleh semua yang datang. Bukan karena enaknya tetapi justru karena uniknya. Potluck bukan masalah baik, buruk tetapi lebih kepada keikhlasan dalam memberi. Jika memang sesuatu yang diberikan dirasa kurang baik namun masih bisa dinikmati keihklasan dalam pemberiannya. Jangan takut ada yang suka dan tidak suka, sebab Tuhan pun ada yang menyukai ada pula yang tidak menyukai atau tidak mempercayai. Nabi Muhammad pun ada yang tidak suka dan tidak mempercayainya.

Hampir tidak ada hal yang universal disukai oleh semua orang. Namun justru ada beberapa hal yang hampir tidak disukai secara universal. Seperti sakit, hampir setiap agama, golongan dll tidak menyukai apapun deskripsi dari sakit. Namun ada pula yang “menyukai” kesakitan karena dia memiliki konsep yang lebih besar dari kesakitan. Misalkan kesakitan dikeroki, bagaimana jika yang mengeroki adalah orang yang kita sayang. Maka akan ada pemaknaan yang berbeda dan konsep yang lebih besar dari semua tersebut. Sebab kesemua itu hanyalah sementara saja. Yang abadi bukanlah “ngeroki”nya tetapi yang abadi adalah cintanya. Potluck bukan urusan prestasi. Suguhan yang habis lebih cepat bukan berarti menjadi ranking satu, sebaliknya suguhan yang tidak termakan maka bukan pula menjadi prestasi yang buruk. Sebab yang membuat kadang kita tidak sadar ialah membuat tolok ukur dalam kehidupan kita sendiri. Sehingga menderita pun juga dalam tolok ukurnya sendiri. Tidak ada lomba motor tetapi membanding-bandingkan merk motor. Tidak dalam lomba hape tetapi iri ketika merk hape teman lebih bergengsi.

 

Potluck dipilih oleh Mas Sabrang sebab ada irisan yang besar dengan maiyah. Di maiyah memiliki konsep sinau bareng. Masing-masing membawa pengetahuannya, kerendahan hatinya namun semua tidak harus diterima dan diakui. Karena terkadang kita lupa ada garis tengah antara percaya dan tidak percaya yakni garis belum tahu. Sehingga akan susah mengakui dan mempercayai. Fenomena “belum tahu” dapat kita rekam terlebih dahulu untuk kita alami di ke depannya. Sebab segala sesuatu yang belum pernah kita alami, maka kita belum benar-benar tahu. Maka di dalam Islam menggunakan istilah bersaksi bukan hanya mempercayai, dan salah satu syarat kesaksian adalah dengan sebuah pengalaman. Seperti halnya saksi di pengadilan, maka ia harus benar-benar tahu bukan hanya sekedar “dengar-dengar”. Apakah pengalaman itu lewat indera seperti mata, telinga atau bahkan lewat jiwa dan seterusnya itu merupakan pertanyaan berikutnya. Namun yang terpenting ialah mengalaminya.

 

Mas Sabrang, seorang yang sudah sangat berpengalaman manggung di depan orang banyak. Pernah pula memiliki kegelisahan tentang baik buruk, benar salah pada awal-awal manggung. Bahkan kadang sebuah kesalahan dapat dianggap sebagai kesengajaan artistik, sehingga bukan salah tetapi merupakan sebuah percobaan dalam musik. Apapun argumentasinya asalkan yang tersampaikan ialah keindahan dan keikhlasannya. Sehingga marilah kita mulai kegiatan berkumpul ini dari banyak dimensi baik dimensi pemikiran, dimensi ilmu, dimensi keikhlasan juga dimensi kemauan mendengar dan menghargai siapapun yang menyampaikan apapun di atas panggung yang terpenting outputnya ialah kemesraan, kebahagiaan dalam kebersamaan yang panjang.

 

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– 8 (Delapan) Tawaran Gaji dari Tuhan –

Menilik sebuah kasus lumrah yang ada di sekitar kita. Terdapat gaji yang didapat dari profesi, oleh Mas Agus dianggap sebagai gaji aminah. Apakah kita pernah berpikir jika Allah memberikan dua tugas tersebut berarti mestinya ada dua gaji yang kita terima. Selain gaji profesi juga ada gaji peran untuk fungsi kita di dunia yang diletakkan Allah pada fitroh diri kita.Ada delapan gaji peran yang bisa kita ambil, sekaligus untuk memindai peran apakah yang sesungguhnya kita ambil di dunia. Di Jawa dulu ada delapan pilar dimana jika pilar ini lengkap di masyarakat maka akan menjadi masyarakat yang teguh dan saling mengisi satu sama lain.

 

Pertama, tipikal Janma tani yakni jika orang lain di sekitar kita merasa ayem tentrem, aman sandang pangan maka kita akan berperan membantu di wilayah tersebut. Entah membuat lahan pertanian, peternakan dlsb. Inilah janma tani, dimana berperan untuk mendapati orang lain di luar dirinya aman di wilayah pangan.Kedua, janma undhagi. Janma tentang teknologi, kreatifitas. Maka pihak seperti ini mendapat gaji oleh Allah ialah ketika ia mendapati pihak-pihak selain dirinya menjadi kreatif, lebih mudah menjalankan tugasnya dlsb. Maka dia mempermudah orang lain dengan teknologi dan pemikiran yang dia kreasikan.Ketiga janma ujam dudhukan. Ialah janma yang berkonsentrasi di wilayah pengobatan dan kesehatan sehingga manusia di wilayah ini akan memperoleh gaji dengan mendapati orang lain selain dirinya menjadi sehat wal afiat, segar bugar untuk menjalankan aktifitasnya.Keempat janma baruna. Janma ini bisa masuk dalam ilmu falaq, ilmu perbintangan, ilmu astronomi, navigasi kelautan dlsb. Maka dia akan memiliki kebahagiaan ketika orang lain selain dirinya mendapatkan petunjuk-petunjuk.Kelima janma prajurit. Indikatornya ialah ketika ada orang lain yang kehidupannya aman, selamat, tidak terancam lahir batinnya. Sehingga tidak ada rong-rongan dari pihak luar. Maka dia akan menugasi dirinya dengan cara mengamankan lingkungan sekitarnya meskipun bukan keharusan baginya menjadi aparat sebab ini soal jiwa yang diperankan sesuai fitrohnya.Keenam janma mitra. Janma yang sangat senang ketika masyarakat yang dia temui menjadi masyarakat yang rukun, harmonis, saling berhubungan dan bekerja sama satu dengan yang lain. Sehingga dia akan melakukan upaya untuk merukunkan masyarakat.Ketujuh janma panyarik, Janma yang memiliki karakter dalam minat menemukan masyarakat yang makin berwawasan, mengalami perluasan cakrawala dan khazanah keilmuan.Kedelapan janma kawi, janma yang memperoleh gaji ketika masyarakat yang dia temui menjadi berwawasan menyeluruh yakni masyarakat yang mengetahui sangkan paraning dumadi. Sangkan adalah dari, paran itu saat dimana kita berperan, dan dumadi ialah awal mula kejadian. Pihak yang menggeluti di wilayah rohani.

Jika kita ingin mengambil salah satu dari delapan gaji tersebut atau bahkan bisa mengambil lebih dari satu maka bisa kita bayangkan masyarakat yang saling bantu membantu dengan takaran utama yakni keridhoan Allah. Hal ini yang terkadang tidak jumbuh dengan isu profesi dimana misalkan ketika ada orang sakit justru senang sebab penjualan obat menjadi lancar sehingga meskipun ia berada di wilayah ujam dudhukan namun tidak menjalankan perannya, atau senang membuat isu rucah di masyarakat demi mengegolkan sebuah proyek tertentu sehingga meskipun ia berada di janma prajurit sebagai aparat namun tidak pula menjalankan perannya, dlsb.

Maka tidak selalu sama peran ke-aminah-an dengan peran ke-abdullah-an. Misalkan seorang programmer mestinya berada di wilayah janma undhagi, namun ketika programmer diisi oleh janma tani maka akan membuat program yang mengedukasi, atau janma mitra maka akan membuat program yang menyenangkan, menghibur atau janma prajurit maka dia justru akan membuat security system. Sehingga tidak selalu sama, sebab jiwa yang ada di dalam tidak selalu persis dengan apa yang kita perankan di dunia. Maka mari mulai kita pindai, manakah gaji dari Allah yang menarik untuk kita ambil. Jika sudah menemukan, maka tekuni dengan sungguh-sungguh sehingga profesi tersebut akan menjadi piranti yang berwarna untuk pengabdian kita kepada tuhan.

Dalam mukadimmah juga sudah tercantum bahwa Allah tidak akan berhenti mengutus malaikatnya ke dunia untuk menemani hambanya yang mau memperingatkan bahwa Allah maha esa dan meningkatkan ketakwaan agar manusia tidak tergesa-gesa menentukan hari akhir. Jika ada hari awal kita memulai sesuatu sampai purna maka akan menjadi hari akhir. Tetapi tidak bisa kita putuskan kapan hari akhirnya. Hari akhir sesungguhnya selalu berada di dalam kekuasaan Allah. Sehingga tidak bisa kita mengatur waktu, kita hanya bisa mengisi waktu. Sehingga hanya Allah yang bisa mengatur waktu. Kita hanya mengoptimalkan waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.Jika Allah akan mengirim malaikat kepada hambanya, maka kategori seperti apakah yang akan dikirimkan malaikat ini. Di dalam An Nahl sudah disebutkan beberapa ayatnya.

Ada sembilan catatan menurut Mas Agus. Tafakkarun yakni pihak yang senang memikirkan kekuasaan Allah melalui fenomena-fenomena jasadiah yang dia temui.Ta’qilun yakni orang yangsenantiasa mengetahui kebenaran lain yang tidak harus ditengarai dengan tanda-tanda jasadiah. Seperti burung yang terbang, kenapa? Padahal banyak unggas yang punya sayap juga namun tidak bisa terbang. Tetapi akal ini harus terakomodir untuk mengendalikan nafsu. Jangan malah terbalik menjadi mengakomodir nafsu dan mengendalikan akal sebab justru akan menjadi ngakali.Tadzdzakkarun Dimana kita harus mengambil pelajaran dari sesuatu dengan syarat yakni harus ingat. Sebaik-baik mengingat ialah mengingat Allah. Senantiasa kita harus kaitkan ingat menjadi fenomena terjaga bukan sekedar fenomena lumrah yang kita pahami sebagai layaknya manusia.Tasykurun Ialah orang-orang yang bersyukur. Dengan kita diberi penglihatan, pendengaran, hati dlsb untuk memudahkan hidup kita.

Hal inilah yang ditangkap oleh Mas Agus untuk menjadi indikator-indikator ketika kita memang ingin menjadi pihak yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan kiriman-kiriman malaikat dimana malaikat tersebut membantu kita untuk memiliki keberanian untuk menyampaikan keahadan Allah dan ketakwaan. Sadar atau tidak sesungguhnya kita hanya ingin mengabdi kepada Allah.Harapannya adalah ketika beranjak kesana kita akan berjalin sebagai masyarakat yang saling bermanfaat satu dengan yang lain dengan tetap menjunjung sisi keadilan.

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Tatanan Sosial = tatanan diri yang membesarkan tubuhnya –

Tatanan sosial seperti ini tidak hanya ditengarai dengan adanya kelompok-kelompok sosial yang menegaskan diri di wilayah tersebut. Tetapi yang utama yakni masing-masing pihak mengerti bahwa kita hidup di dunia ada dua tugas yang perlu kita jalankan yaitu sebagai abdillah dan sebagai khalifah.Disini Mas Agus mencoba mentadabburi dengan peristiwa kelahiran rasulullah. Dilahirkan dari seorang ayah bernama SayidAbdullah, ibu bernama Siti Aminah dan terlahir bernama Ahmad dan periode berikutnya bernama Muhammad. Sebelum menjadi nabi, rasulullah sudah mendapat julukan Al-Amin.

Orang tua kita boleh bernama lain. Tetapi ketika rasulullah hadir berfungsi untuk menyempurnakan akhlak, maka kita harus berusaha menyempurnakan akhlak kita dengan terpuji. Ketika berhubungan secara sosial yang berfungsi menampung seperti ibu. Maka perilaku utamanya ialah aminah. Dalam bersosial kita harus jujur, memegang teguh pendirian, dan menjaga amanah yang diberikan pada kita secara konsisten dan konsekuen. Maka dengan perilaku kita demikian semoga mendapat label yang dapat dipercaya, minimal sebagai miniatur Al Amin. Kemudian urusan kita yang vertikal yakni ketauhidan kepada Allah, kita harus menggunakan pola abdullah. Menjalankan fungsi kita secara sungguh-sungguh baik sebagai prajurit, pekerja ataupun ratu bertanggung jawab kepada Allah secara pengabdian. Jika tatanan sosial dibangun dengan kecenderungan saling amanah maka akan tercipta tatanan sosial tidak menyuburkan ruang khiyanah. Setiap pihak akan mendapati dirinya hidup dalam tubuhnya sendiri namun lebih besar bernama masyarakat.

 

 

Andhika Hedryawan