‘Hasta Janma’ – lanjutan tulisan sebelumnya.

Facebooktwittertumblr

mandala-03

JANMA MITRA :

Adalah manusia yang memiliki kegembiraan dalam hal mengumpulkan dan menggandengkan satu dengan yang lain. Janma Mitra ini seolah-olah menugaskan dirinya untuk senantiasa membangun dan membuat metode meminimalisir dan mengangantisipasi potensi konflik, membangun harmonisasi, membuat kegiatan seni pertunjukan, merintis kebudayaan-kebudayaan yang konstruktif dan tepat sasaran. Janma Mitra lebih lintas batas, ia bisa hadir dimanapun tidak terbatas pada Padusunan atau Kalurahan tertentu. Ia termasuk jenis manusia yang menganggap desanya adalah seluas muka bumi. Oleh sebab itu selalu ada kerinduan dalam dirinya untuk mengenal, mengetahui, dan belajar hal-hal baru dan menakjubkan dari segala ruang-ruang. Meski demikian, seorang janma mitra tidak akan tiba-tiba mutlak sebagai pengelana yang melanglang buana. Yang seperti ini justru sering ditempuh oleh para janma Kawi/Pandhita.

Janma Mitra banyak lahir bentuk-bentuk menarik dan indah untuk menginspirasi masyarakat untuk saling terjalin. Ia mirip arsitek sosial budaya. Kreatifitasnya tinggi namun susah dipegang karena memiliki jiwa merdeka. Ia tidak mudah berpihak kepada manusia yang personal, namun sangat berpihak kepada kemanusiaan yang universal. Banyak dari Janma Mitra ini yang kemudian ditunjuk masyarakat padusunan untuk menjadi Dhukun / Dhukuh / Dhusun. Padanya masyarakat berharap akan ditata dan diatur dengan cara yang asyik dan menggairahkan melalui cetusan seni dan kebudayaan yang diripta (dibuat, digubah, dicipta) oleh Dhusun mereka.

JAMA BARUNA :

Baruna adalah laut, Janma ini memang memiliki spesifikasi kelautan namun tidak hanya itu. Kaitan dengan Baruna adalah angkasa. Janma Baruna selain mengakarabi laut juga memahami peta angkasa, perbintangan. Ia menjadi pihak yang merasa bisa berkontribusi kepada sosialnya dengan cara menjelalah laut dan memperdalam pengetahuan navigasi. Kemampuan yang dimiliki dan dikembangkan oleh janma baruna antaranya : Pengetahuan tentang perkapalan, Pengetahuan Navigasi, Perbintangan, Pengetahuan tentang seluk beluk/ anatomi laut, arah angin dan pengendaliannya, hingga pemetaan dan pengenalan nusa dan dwipa seberang dengan ciri dan perikehidupannya. Maka, jika ada pelaut pertama di muka bumi sangat dimungkinkan mereka berasal dari Bangsa kita. Mereka adalah leluhur kita yang melakukan pelayaran bukan untuk tujuan penaklukan dan menyerap kekayaan materi daerah yang ia kunjungi, namun untuk penjelajahan pengetahuan dan menyerap kekayaan ilmu yang mereka jumpai.

Dalam hal-hal tertentu, Janma Baruna ditugaskan oleh Keratuan untuk membawa serta warga janma yang lain untuk menyemarakkan nusa-nusa yang kosong ataupun untuk memberi warna bagi dwipa-dwipa yang dihuni oleh sosial masyarakat yang masih polos. Ini tugas yang tidak ringan, jika Anda ingin mengetahui salah satu hasil spreading _dengan data ini anda boleh tidak percaya, bahkan sangat boleh menolaknya_ rombongan ini untuk wilayah Timur lihatlah: warga Kepulauan di Samudra Pasifik (Polynesia ; Hawaii, Tahiti, Rorotongga, Wanuatu, dlsb), Bontok, Mogmog, Jepun Ainu, dan masih banyak lagi. Untuk wilayah Barat ; India (Jambudwipa), Iona(Yunani), Hawana, Kaba, Yatsattra (Yatsrib -> Madinah), Kenya, Mesir (Mizradesa), Maladewa, Madhaga Sekar /Magadha Sekar (Madagaskar), Ambarupa(Eropa) dan masih banyak lagi. Untuk wilayah Utara Ada Siberia, Eskimo, Alaska, Asia Tengah, dan ada beberapa lagi [perlu kajian khusus]. Untuk wilayah Selatan, sebuah pemukiman yang masih belum terkonfirmasi keberadaannya secara modern, namun disinyalir ada sebuah kawasan yang eksis yang luas, lengkap dengan sosial masyarakatnya yang maju dan tersembunyi, wallahu a’lam.

Catatan :

Bangsa Kawi membangun konsentrasi tetular untuk membangun kesejahteraan bersama dengan beberapa model disesuaikan kondisi topografi, kapasitas masyarakatnya, kecenderungan dan sudut pandang masing-masing.

Di wilayah ke Timur, konsentrasi diletakkan pada harmonisasi kepada alam. Cara berburu yang bermartabat, menjaga keseimbangan jagat, kerukunan hidup kepada segala elemen dan entitas, sistem kemasyarakatan ruhani. Ke wilayah Timur, dikonsentrasikan ke wilayah teknis pragmatis, seperti bercocok-tanam, arsitektural, hingga ke literasi sebagai sarana memperkaya kebutuhan aset kemanusiaannya.

Maka di bilahan Barat cenderung dibangun sistem masyarakat jasadi. Oleh sebab itu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang mengembangkan diri sebagai sebuah kerajaan dengan mengurusi secara struktural ketahanan pangan, pendidikan, arsitektural, hingga seni dan budaya.

Antara masyarakat ruhani dan masyarakat jasadi kurun waktu mengalami perkembangannya sendiri-sendiri. Yang nampak secara lahir pencapaian dan perkembangannya adalah masyarakat jasadi yang di wilayah Barat. Sedangkan perkembangan masyarakat ruhani, secara lahir nampak tak mengalami dinamika, statis dan bahkan dianggap di kemudian hari sebagai masyarakat primitif atau terbelakang. Kelak ini harus bertemu, dan menemukan keseimbangan peradaban wajah dan aurat peradaban, antara tampak dan tersembunyi, antara yang bisa dikuakkan dan yang perlu dijaga. Antara Pikiran dan hati. Antara lahir dan bathin.

JANMA UNDHAGI :

Janma ini adalah orang yang merasa bisa total berkontribusi dalam hal teknologi. Baik teknologi sederhana berupa kerajinan dan alat-alat rumah tangga yang sederhana hingga kepada teknologi yang mutakhir dan rumit. Janma Undhagi yang berperan dalam hal peralatan, kerajinan, kriya, permekanikan. Untuk mengukur salah satu legenda teknologi bangsa kawi yang didukung oleh Janma Undhagi ialah Wimana yang kini sering disebut sebagai piring terbang yang misterius. Maka janma Undhagi berisi manusia dengan karakter reseracher, observer, tekhnokrasi, mekanikal, hingga pengeksplorasi sebanyak-banyak unsur materi.

Dalam tataran Kadusunan Janma Undhagi mengkreatifi kebutuhan sehari-hari dengan alat-alat yang mempermudah, seperti gerabah, anyaman bambu, penerangan, juga peralatan dengan pengetahuan metalurgi seperti pisau, cangkul, sabit, mata luku. Kebutuhan sandang seperti tenun, pengolahan kulit binatang yang disamak, kulit atau serat pepohonan yang dijadikan bahan sandang.

Dalam tataran Kalurahan, menambah kreatifitasnya pada teknologi penyimpanan bahan pangan, teknologi pengairan.

Dalam tataran Kademangan, menambah dengan teknologi transportasi, perhiasan sebagai sesandhingan ritual peribadatan, kepeng (mata uang sebagai peranti peribadatan), pengolahan logam untuk kebutuhan pemerintahan maupun masyarakat umum, seperti bokor, tempayan, wajan wajan, yang pada tingkat padusunan dan kalurahan lebih senang menggunakan tanah.

Dalam tataran Kadipaten dan Keratuan, teknologi lebih dikonsentrasikan pada hal-hal yang lebih rumit, penggabungan pengetahuan fisik maupun metafisik yang diejawantahkan dalam teknologi materi. [Ulasan ini panjang dan lebar].

Janma Undhagi membuat pembagian tugas kreatifitas ini dalam 4 kategori :

Undhagi Bumi, Undhagi Kuwaya, Undhagi Agni, Undhagi Barata. Ini adalah pembidangan yang terkait dengan konsentrasi bahan baku.

JANMA KAWI/ PANDHITA :

Terakhir adalah Janwa Kawi atau Janma Pandhita, ini adalah jenis manusia yang memiliki cakrawala ruhani yang tajam dan bening. Janma Kawi memiliki visi masa depan dan masa lalu. Bisa berkomunikasi lintas dimensi antar makhluk di wilayah pertala. Juga dianggap bisa berkomunikasi kepada langit sebagai jalur petuah untuk diimplementasi di Bumi. Kelak cara ini banyak peniru dan tidak bisa dibedakan mana yang asli dan mana yang pura-pura.

Janma Kawi memiliki keistimewaan dalam keruhanian. Ia yang kemudian menjadi Beghawan, Resi, dan banyak sebutan lain yang intinya meletakkan Janma Kawi sebagai seseorang yang terbukti handal dalam hal penempaan hati dan kecenderungan hidupnya yang lebih senang menekuni laku keprihatinan. Pandhita berasal dari istilah Pandhe dan Hito, ‘Pandhe’ artinya = Tukang menempa, dan ‘Hito’ artinya Hati, jadi Janma Kawi juga disebut sebagai Janma Pandhito karena kekuatan bathinnya yang sanggup menempa hati agar tetap bersih dan berkesesuaian dengan kehendak Tuhan. Laku prihatin adalah menyedikitkan kehendak diri agar dikucuri ilham pemikiran, kata-kata, perilaku, dan perjalanan jiwa raga pada sebuah kehendak Agung yakni kehendak Tuhan sendiri.

-o0o-

Demikian setoran hari ini melanjutkan uraian tentang Hasta Janma. Untuk terminologi ‘Jajah Desa Melangkori’ mudah-mudahan bisa tersaji pada seri tulisan berikutnya.

TIM GUGURGUNUNG

07 JULI 2017

Facebooktwittertumblr
Posted in Pranatan and tagged , , , , , , , , , , , , .