DOLANAN ING NJABA

Pertemuan rutin Majlis gugurgunung pada bulan Juni jatuh pada tanggal 30 Juni 2018, bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran, Kab. Semarang. Bertemakan “Dolanan ing njaba” diskusi dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, dengan masih suasana padhang bulan (terang bulan) memancar di langit yang gelap.

Untuk mengawali acara, dimulailah pembacaan doa tawasul oleh Mas Ari, dan dilanjutkan Munajat Maiyah dipimpin oleh Mas Jion.

Moderator malam ini ialah Mas Dian, menanggapi sedikit tentang tema, dalam dolanan jadilah orang yang paham arti dolanan. Dalam sepakbola dicontohkannya, bahwa itu sesungguhnya hanyalah permainan namun dijadikan sebagai kompetisi. Kiper liverpool yang membuat blunder pada saat final liga champion pasti akan dikenang sebagai pemain yang buruk penyebab kekalahan hingga generasi anak turun, dimana sebenarnya itu hanyalah bermain.

Kemudian oleh Mas Dian, Mas Kasno selaku tim tema diminta untuk memberikan preambule terkait tema, serta pembacaan mukadimah. Namun, sebelum itu Mas Kasno meminta pada sedulur-sedulur untuk menghadiahkan Al Fatihah untuk pencipta tembang dolanan “Padhang Bulan” yakni R.C. Hardjasoebrata.

Sedikit cerita dari pengalaman Mas Kasno tentang lagu ini, yakni lagu ini pernah dibawakannya dalam lomba sewaktu SMP kelas 3 dan mendapat juara ketiga. Kebetulan juga malam ini dihadiri oleh teman Mas Kasno sewaktu SMP yakni Mas Hendra. Seorang kawan yang hampir tidak pernah mengobrol sewaktu SMP dulu justru dipertemukan di cangkrukan malam hari ini.

Kemudian, sesi perkenalan untuk beberapa sedulur yang baru pertama kali melingkar yakni Mas Hendra dan Mas Edi. Hadir juga malam ini, Mas Hermanto, yang sudah cukup lama tidak ikut melingkar. Alhamdulillah, kabar gembira juga dibawakan oleh Mas Hermanto bahwa istrinya mengandung 7 bulan.

 

Bermain keluar kotak (out of box)

Kemudian, Mas Ari juga diminta menanggapi tentang tema, bahwa “dolanan” diartikan seperti piala dunia sekarang, dimana perlu persiapan bertahun-tahun untuk melakukan pertandingan yang hanya 2 kali 45 menit itu. Dan kata yang kedua adalah “neng njobo” diartikannya seperti out of box, jadi dalam hal-hal tertentu kita berani keluar dari kotak untuk melakukan sebuah permainan di mana arahnya adalah untuk mentadaburi misalnya seperti yang diungkapkan oleh Mas Kasno. Dalam mentadaburi ini, tafsir-tafsir yang lama bukan berarti kita tinggalkan tapi sedikit memulai mencoba untuk mengetahui tafsir yang baru tentang Al Qur’an. Begitu juga dengan perilaku kita sehari-hari terhadap jiwa semisal Mas Ari secara pribadi terus terang kalau di lingkungan kampung itu lebih tertutup karena memang sudah menjadi satu anggapan negatif di masyarakat dimana Mas Ari dianggap sesat karena sering membakar menyan dirumahnya dan dibiarkannya tanpa meluruskan apapun. Dolanan ini seharusnya difungsikan untuk mencari teman.

 

Permainan Suka dan Duka

Berikutnya Pak Hasan yang berkeseharian sebagai guru turut menanggapi tema, lagu yang sudah dinyanyikan bersama-sama tadi dicoba dipetakan dengan keterbatasan yang ada pada diri kita. Pak Hasan mempertanyakan tentang latar belakang apa pengarang lagu itu sampai memunculkan sebuah ide lagu dolanan seperti itu. Pada suasana kebatinan yang seperti apa? dan apa maksud yang diharapkan dari pengarang dengan adanya lagu itu? Sebab itu menjadi bekal sebuah pemetaan kita. Karena Pak Hasan yakin seorang pengarang atau penggagas itu memunculkan sebuah ide tersebut atas dasar suatu maksud dan tujuan tertentu. Harus kita ketahui sisi suasana kebatinan munculnya lagu yang perlu kita gali dan dalami. Kemudian setelah kita dalami latar belakangnya baru kita lihat realita setelah lagu tersebut ada, sebab efek lagu bagi anak-anak tentang pemahaman lagu untuk anak-anak di suasana riang, suasana ceria dan kemudian diikat dengan sebuah tali yang disebut dolanan bareng-bareng.

Pertanyaan dalam benak Pak Hasan, mengapa lagu itu dikaitkan dengan Padang Bulan jadi seolah-olah pengarang lagu itu punya maksud dolan neng njobo tapi dikaitkannya dengan malam justru tidak ada dikaitakannya dengan siang sebagai waktu bermain seperti sekarang pada umumnya. Pada anak-anak versi dulu dengan sekarang sudah jauh beda kalau zaman dulu, nenek moyang kita suka melek pada malam hari. Namun generasi sekarang jarang ada yang seneng melek. Kemudian, Bagaimana jadinya antara dolanan Neng Wayah awan dengan dolanan ing Wayah bengi, itu apakah sama?

Lanjut Pak Hasan, Allah berfirman “wa-annahu huwa adhaka wa-abkaa” bahwa Allah menciptakan manusia dengan paket yang indah yakni dengan senyum juga dengan sedih, mungkin Tuhan pun juga tidak ingin hambanya itu stres atau depresi.

 

Pengembaraan Diri

Dilanjutkan oleh Mas Dian, bahwa Islam masuk kesini pun kebanyakan juga dengan metode dolanan. Wayang, gamelan, serta permainan-permainan tradisional yang dianggap sederhana dan remeh namun justru menjadi siasat yang paling ampuh.

Kemudian Mas Hendra juga diminta untuk merespon terkait tema. Dimana dolanan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak yang didalamnya tanpa batasan-batasan suku, agama, warna kulit dll namun bertujuan untuk bersenang-senang. Sehingga dolanan ning njobo ini, menghindarkan diri dari pengkotak-kotakan yang kini kerap terjadi, dikatakan juga untuk pencarian jatidiri sebab anak-anak keluar dari zona nyamannya dia di rumah untuk bebas berekspresi serta mengajarkan pula tentang pengembaraan. Ditekankan pada malam hari sebab dalam kegelapan itu kita jangan takut dan khawatir. Dalam masyarakat Jawa meyakini beberapa malam yang dianggap spesial meskipun setiap malam itu baik. Dalam lagu ini diajarkan pula bahwa malam ialah waktu yang baik untuk bermain, karena dianggap dapat bersinergi dengan alam, rembulan dll yang mestinya lebih luas daripada sekotak handphone yang kini digunakan pada era digital.

Mas Jion pun malam hari ini diminta turut merespon tentang tema, dimana malam hari ini meskipun tidak dalam jumlah yang besar namun terasa dalam kebahagiaan yang berlimpah karena kita semua disini mau berkumpul untuk keluar dari rumah. Itu pun juga disebut sebagai dolan, dan pulang membawa sesuatu dalam rangka membawa diri diluar rumah.

 

Waspada

Tema dolanan ing njaba, mengingatkan Mas Jion pada sebuah kidung Asmarandana, “ojo turu sore kaki”. Ada kesamaan didalamnya yakni suasana malam hari, dan dengan bersabar dan tawakal semoga mendapat limpahan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian tiba Mas Agus yang merespon tema. Mas Agus merasa sangat senang bahwa tema malam hari ini menjadi kaya akan sudut pandang, serta masing-masing pendapat yang saling berkaitan satu sama lain dan sulam menyulam. Berangkat dengan gelas kosong sehingga lebih mudah terisi pada malam hari ini.

 

Bermain di alam Dhahir

Dolanan ing njaba, dalam bahasa krama yakni “dolanan wonten njawi” yang setelah dibahasa Indoensiakan bisa berarti “Dolanan di Jawa”. Mengapa Jawa? Sebab sejak jaman dahulu kita sudah menjadi bangsa yang dikenal bahkan sampai Yunani. Oleh Yunani kita disebut sebagai Zabaje, Saba, Zabadio, Taopo, dll. Namun pihak luar dengan gigih mendoktrin generasi muda Jawa untuk meyakini bahwa kita adalah bangsa yang muda, atau diistilahkan lahir wingi sore dan tidak berkaitan dalam perguliran peradaban hingga saat ini.

Sebelum dolanan ning njaba (bermain di luar) berarti kita pernah dolanan ning njero (bermain di dalam). Dimana? Yakni ketika di alam rahim atau kandungan. Namun saat bermain di dalam itu pasti beres sebab belum ada jarak dengan kondisi kedirian kita sebagai manusia. Di sana kita masih yakin bahwa kita adalah abdi gusti Allah. Sehingga tidak mungkin sampai membikin ormas, parpol di dalam perut ibu. Bermain di dalam ini bertujuan untuk mengenali asma, serta sifat-sifat Allah yang menjadi bekal ketika besok dilahirkan.

Uniknya, ketika bermain di dalam ini kita seperti sedang merekonstruksi kehidupan nabi Adam di alam firdaus, lalu di goda dengan keasikan-keasikan dunia, digoda dengan hawane ndyuno (hawa dunia). Hawa ini juga bisa diartikan sebagai hembusan keindahan di luar. Ketika ibu sudah merasa tidak nyaman dengan kandungannya yang makin besar, bayi seakan ingin keluar seolah tidak jadi. Peristiwa tersebut sebagai simbol terjadi keragu-raguan di dalamnya. Apakah ingin terus di alam rahim atau ingin segera lahir. Kejadian itu seakan-akan mengulang peristiwa ketika Nabi Adam AS merasa ragu-ragu ketika dibujuk oleh Siti Hawa.

Adegan berikutnya ialah lahir, dhahir, metu, mijil, keluar. Mana yang lebih baik keluar atau tetap di alam rahim? Karena kodrat kita keluar dari alam rahim maka dikatakan Mas Agus yang terbaik adalah keluar ke alam dhahir. Konsep bermain, ada dalam firman Allah yakni kehidupan di dunia itu hanya sendau gurau belaka. Meskipun ketika ditagih hutang serius juga, kelakar Mas Agus sambil tertawa.

Bermain di dunia berarti harus ada konsekuensi keduniaan, selain kiper yang diceritakan oleh Mas Dian, hal serupa pernah terjadi dulu di piala dunia Brazil yang bernama Barbosa yang disalahkan ketika Brazil kalah dalam final. Mengapa tidak ada piala akhirat? Padahal lebih asik jika ada, sebab piala akhirat tidak perlu ada istilah-istilah top scorer, underdog, prestige dll yang menghambat kita untuk mendapatkan kegembiraan dalam dolanan. Dimana seolah pengkotak-kotakan itu sedang intens menjalari sisi kehidupan.

Misalkan dunia ardla ini adalah sebuah rumah besar. Di dalamnya terdapat pelajar yang harus menemukan cara untuk bebrayan yang paling asik dan indah sebatas yang bisa dicapai oleh tiap-tiap siswanya. Ada yang menggunakan metode untuk mencapai kebahagiaan harus dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada yang menggunakan metode aturan atau syariat, ada yang menggunakan metode kesenian, ada yang menggunakan metode kebudayaan, tetapi kebanyakan masing-masing pelajar ini belum benar-benar siap untuk bermain di luar. Sehingga ketika keluar maka langsung pasang kuda-kuda untuk memastikan bahwa lawannya berada dalam barisan yang sama atau tidak. Kawan atau lawan. Sehingga para pelajar itu tidak segera bermain melainkan saling menaruh curiga. Tiba-tiba seorang ibu yang mengawasi anak-anak bermain berkata dari beranda rumah. Ia berkata kepada anak-anak tentang : “anggapan yang menurutnya benar harus digenggam di dalam diri dan harus ditunjukkan dengan cara yang paling baik dan utama dengan tiap-tiap cara yang dibawa masing-masing cara untuk bebrayan dolanan bersama. Tidak ada gunanya memiliki ilmu pengetahuan tapi tidak memiliki pengetahuan untuk mekanisme kerjasama. Tidak ada gunanya memahami syariah tapi tidak mengerti tata cara untuk bersambung dan bertaut. Tidak ada gunanya mengerti seni tapi tidak mengetahui indahnya jalinan dan aneka warna yang terhampar. Tidak berguna pula mengerti kebudayaan tapi tidak menunjukkan budaya yang paling mendasar dalam kehidupan yakni sikap budi luhur dan andhap asor. Ketika semua merasa baik dan benar, jangan adu kebenaran tapi ujilah kebenaranmu dengan menunjukkan kebaikan. Yakni dengan cara tidak menyakiti, mencederai yang lainnya. Bermainlah dengan menunjukkan kebaikan pada hal apa yang kamu yakini. Cara menunjukkannya juga bukan dengan omongan tapi dengan berlomba dalam perilaku utama bukan berkompetisi dan adu mulut”. Jika kita kembalikan pada kehidupan kita sehari-hari, maka sangat senang ketika mengatakan diri kita yang paling benar dan indah, tapi belum karuan baik dalam hal bebrayan.

Sejenak kita kembalikan pada awal mula berdirinya Majlis Gugurgunung. Ketika Al Qur’an diturunkan di muka bumi, tidak ada satupun yang berani untuk menerimanya termasuk gunung-gunung, langit dll, dan hanya manusia yang berani. Ada lagi kalimat yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu gelap dan bodoh. Gelap dan bodoh ini adalah landasan utama kita ber-gugurgunung, istilah yang sudah jarang digunakan disini yakni jama’ah assiltu (anus). Maka diam-diam jika kita rela menjadi dubur maka kita pun sanggup untuk menjadi muka, tangan, kaki dll. Kembali pada gelap dan bodoh itu, patut dicurigai bahwa jangan-jangan firman Allah turun kepada kita ketika kita merasa diri kita ini gelap dan bodoh.

 

Tembang Dolanan Padhang Mbulan

Dalam hal lagu dolanan di atas, gelap dan bodoh itu terepresentasi cukup indah, berikut diuraikan oleh Mas Agus.

“Yo prokonco dolanan ing njaba”, ayo teman-teman kita bermain yang pantas (njobo/njowo). Jawa disini bukan sebagai kata benda namun sebagai kata sifat atau karakter sehingga orang yang tidak bersuku Jawa pun, jika mampu menunjukkan sikap diri dalam sifat-sifat kebaikan maka sering disebut njowo, njawani. Bermain yang pantas sebab memahami tata cara yang utama.

“Padhang bulan, padhange kaya rina”, Syarat utamanya harus ada malam. Gelap, yang segala hal menjadi tampak pendek, sempit, dan dangkal. Dalam malam juga ada rembulan yang bisa juga disebut condro. Siang ada matahari, suryo. Maka ada istilah pasuryan dan panyondro. Pasuryan terletak di muka sebagai karakter eksternal, sedangkan panyondro terletak di dalam hati, sebagai karakter internal. Berarti cara bermain yang njowo itu ialah, bermain yang menggunakan hati. Maka berhati-hati pula dalam bermain, bergembira bersama dalam bermain. Padhange kaya rina, (terangnya bagai siang) ialah ketika menggunakan hati yang baik maka gelap akan tersibak. Hati yang baik tanpa penyakit seolah adalah manusia paripurna, pergaulan dan cara bergaulnya penuh cahaya. Manusia yang sudah purna berkumpul. Disana tidak akan melihat kesalahan orang lain saja namun juga membaca kesalahan orang lain untuk melihat kesalahan diri sendiri. Apa yang terlihat diluar itu sebenarnya adalah pasuryan diri kita sendiri. Manusia purna ini diibaratkan dalam purna-ma (purnanya manusia). Purnama hanya sebulan sekali, namun konsep ini bisa kita pakai dengan meletakkan malam sebagai konsep pemahaman yang lebih luas. Malam, menyebabkan jarak pandang pendek, serta daya kita memetakan sesuatu menjadi tidak luas, bisa jadi hal ini dikarenakan kita tidak menpercayai adanya rembulan dalam hati masing-masing yang bisa menjadi cara menyaksikan keluasan dan kedalaman secara benderang bagaikan ketika siang. Jadi ketika Allah memerintahkan untuk mengingat(dzikir) berarti kita tahu rule of game nya adalah bahwa kita ini pelupa. Apa yang kita pahami dalam alam rahim seperti apa pun kita sudah lupa, bahkan berkedip dalam sehari pun kita lupa jumlahnya. Maka dianjurkan pada kita untuk memahami asal-usul atau sangkan paran. Jangan sampai sangkan paraning dumadi ini terselimuti oleh kegelapan.

“Rembulane sing ngawe-awe”, dapat kita sambungkan pada utusan Allah yakni nabi dan rasul. Kita kenal istilah wahyu, ndaru dll semua itu adalah cahaya. Wahyu berasal dari kata WAHananing (Kendaraan atau sarana) HYU (hayu atau indah). Kendaraan untuk memperindah yakni dengan cahaya. Maka nabi dan rasul pun dibersamai dengan wahyu atau cahaya. Nabi besar kita Muhammad Rasulullahu ‘Alaihi wassalam mendapat julukan shobi’in yang jangan-jangan bertautan dari kata shoba, yang secar pengucapan mirip dengan Saba (nama lain peradaban Jawa lama). Mengapa disebut demikian? karena, Nabi dianggap meninggalkan ajaran lama yang populer di jazirah Arab dan sekitarnya untuk menuju ajaran baru dengan sarana pewahyuan. Dengan kehadiran Nabi Muhammad, Allah sedang mengirimkan cahya terang benderan bagi ummat yang gulita dan sang cahaya tersebut dengan penuh kelembutan mengundang (ngawe-awe) untuk bersama berkerumun dalam cahaya.

“Ngelingake ojo podho turu sore”, bahwa sang utusan dengan penuh kasih sayang senantiasa mengingatkan kita untuk tidak terhanyut kegelapan, tertipu kesempitan, terjebak kedangkalan, sehingga mudah putus asa bagai orang yang belum waktunya tidur namun sudah tidur terlalu dini. Utusan ini harus ditarik sejak awal mula peradaban hingga penghujung peradaban.

Nabi pertama yang diakui oleh hampir semua manusia ialah Nabi Adam, masa dimana belum ada Jawa, China, Arab dll. Namun apakah sama Islam yang dibawa oleh Nabi Adam dengan Islam yang sekarang? Untuk sampai disana, maka harus memperluas jarak pandang kita. Agar kita tidak terjebak dalam pemikiran kekinian jaman now, tapi coba merefleksi kejadian pada masa Nabi Adam. Pada jaman tersebut “PR” nya masih sedikit, yakni hanya tentang keakuan. Semisal kisah tentang Qabil dan Habil membawa peristiwa tentang kepemilikan, kedirian, keakuan. Sekarang sangat sulit untuk tidak merasa memiliki, terutama tentang hidup. Namun Nabi Ismail telah memberi pelajaran pula untuk menyerahkan hidup hanya untuk Allah. Mudah mengatakan Nabi Ibrahim adalah penyabar, bertawakal namun pasti sangat berat jika kita bayangkan bahwa peristiwa perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismalil dijalani oleh seorang bapak kepada anak yang sangat disayanginya. Sementara Nabi Ibrahim adalah seorang yang cerdas, pemikir yang logis, researcher, bukan orang yang terjangkit halusinasi. Peristiwa cinta dan kepemilikan mengalami pendewasaan, dan bentuk cinta yang solid ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam peristiwa yang diabadikan sebagai hari Idhul Adha.

Peristiwa demi peristiwa Kerasulan adalah khazanah yang memperluas area kesadaran dan pemahaman kita. Ini laksana luasan cahaya yang membuat kita lebuh mudah mendapatkan petunjuk dan pandangan hidup. Maka sangat pantas jika kita harus bersuka cita dan bergembira atas karunia nan luas ini demi menghadapi kondisi yang gelap gulita ini. Jaman sekarang hijab sudah 7 lapis, maka penting untuk mengenali pencahayaan untuk menyibak kegelapan tersebut.

Di jaman setelah Nabi Muhammad, tidak bisa kita mengklaim pribadi-pribadi Muslimin, Mukminin, Mukhlisin, Muttaqin, dlsb hanya ada pada era setelah karasulan rasulullah Muhammad. Namun hal ini sudah ada sejak jaman sebelum Nabi Muhammad bahkan sejak era ummat Nabi Adam. Allah memberikan ilmu, kepada siapapun yang sanggup membeningkan dirinya. Sebab semua ilmu Allah adalah ilmu yang bening.

Baiknya kita coba luaskan pemahaman dolanan ning njaba ini agar menyibakkan kegelapan, serta cahaya yang kita dapatkan mampu kita implementasikan dalam kehidupan bebrayan. Sehingga dalam bersendau gurau kita tidak saling menyakiti satu sama lain.

 

Bergerak dan dinamika universal

Mas Mundari yang alhamdulillah dapat melingkar malam ini juga turut menambahkan bahwa pada malam bulan purnama setiap manusia haruslah bergerak atau mengeluarkan keringat seperti yang digambarkan dalam poster yakni anak-anak bermain diluar rumah dibawah purnama. Seperti halnya setiap bulan purnama, hewan-hewan menjadi lebih aktif bahkan lebih galak. Entah itu hewan peliharaan ataupun hewan liar.

Kemudian dilanjutkan Mas Rizal, yang menceritakan tentang sedulur sikep yang juga menjadi skripsinya. Satu hal yang menjadi tujuan sedulur sikep ialah “mbenekke ati mbecikke ucap” (memperbaiki hati, memperbaiki ucapan). Disana keselarasan alam sangat dibangun, pernah suatu ketika ada yang di wilayahnya merusak alam. Balasan dari alam ialah banjir, hingga mengalami gagal panen 7 (tujuh) kali. Namun mereka tidak marah, atau kecewa namun justru bersyukur karena hanya sawah yang terimbas, bukan ke manusianya yang karam. Sebab bagi masyarakat Sikep ada lagi yang lebih menderita daripada mereka yakni supir-supir truk yang terjebak banjir. Satu langkah untuk meminta maaf kepada alam ditempuh dengan membagikan makanan berupa nasi sekitar 700 (tujuh ratus) bungkus kepada supir-supir truk yang kelaparan sebab terjebak banjir. Mereka menganggap agama mereka adalah agama Adam, satu sama lain sedulur tidak boleh saling menyakiti.

Juga ada Mas Ihda yang diperjalankan lagi kesini dan menemukan arti dalam kehidupan alam rahim, sebab alhamdulillah istrinya juga sedang hamil. Berasal dari surga, melalui alam rahim kita dikeluarkan ke dunia. Bahkan pernah mendengar sebuah kalimat bahwa kita 99% pasti ke surga karena kita berasal dari sana, 1%nya tinggal mau atau tidak saja.

Kembali Mas Agus menambahkan tentang bergerak pada malam purnama. Hal ini berarti tentang motorik, namun selain itu juga psikisnya disentuh. Selain pergerakan fisikal namun juga tentang pergerakan perasaan. Seperti metode permainan di malam bulan pernama, anak-anak yang memiliki memori indah dalam kebersamaan dengan bermain bersama diharapkan akan merasa rindu untuk merasakan kebersamaan terus menerus, jika kerinduan ini dilatih sejak kecil maka akan terbawa terus sampai dewasa.

Syukur alhamdulillah dari Mas Agus atas kehamilan istri dari beberapa sedulur disini, Mas Hermanto, Mas Ihda, Mas Kasno, Mas Hajir, juga Mas Yud. Mas Agus membayangkan bahwa bayi-bayi yang baru lahir sesungguhnya membawa rembulannya masing-masing, namun tak jarang kita justru menjadi awan mendung yang menghalangi cahaya mereka. Kita memaksa anak untuk jadi pohon bayam padahal seharusnya menjadi pohon jati begitupun sebaliknya.

Diskusi dijeda dengan menu khas gunung yakni nasi jagung yang dinikmati bersama-sama sebagai kebiasaan dari Majlis Gugurgunung. Diskusi ditutup sekitar pukul 01.30 WIB. Masing-masing kembali dengan membawa apa yang didapatkannya, dengan harapan meningkatkan kadar cahaya rembulan yang ada di dalam hati masing-masing untuk diaplikasikan sebagai kemanfaatan dalam kehidupan bermasyarakat, sesuai dengan peran dan dolanannya masing-masing. Sekian reportase kali ini semoga bermanfaat.

 

Dhika Hendryawan

MANAJEMEN BHINNEKA TUNGGAL IKA 3

Kemudian Master Zein, pada malam hari ini juga diminta untuk membagikan pengalaman beliau untuk bisa dipelajari bersama. Dimana sebutan Master untuk dirinya yang tertulis di poster merupakan sebuah tamparan untuk beliau. Seperti pada saat beliau merapat di Maiyah Kenduri Cinta, bahwa disana juga sudah dikenal dengan sebutan Master. Sedikit kisah beliau dipanggil dengan sebutan Master. Dahulu beliau adalah seorang penjual kacamata di sebuah optik milik beliau. Namun setelah mengetahui bahwa kacamata diproduksi bukan untuk membantu seseorang menyelesaikan masalah mata namun agar seseorang selalu tergantung pada produsen kacamata. Kemudian beliau berhenti, hingga tiba saatnya menjadi linglung tentang apa yang ingin dikerjakan. Namun guru beliau menganjurkan untuk tetap menekuni di bidang kesehatan, sebab di bidang itulah tetap memberikan manfaat untuk manusia. Akhirnya beliau mempelajari ilmu refleksi, akupunktur, herbalogi. Kemudian menemukan ilmu yang sangat beliau senang yakni ilmu tentang tulang belakang. Akhirnya beliau memutuskan untuk menekuni ilmu tentang tulang belakang, namun era 2005 belum ada universitas yang memberikan fakultas tersebut. Beliau menemukannya di Jerman namun terkendala biaya yang mencapai milyaran rupiah, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mempelajarinya sendiri. Dimana akhirnya beliau menemukan buku berjudul yumeiho. Tiba pada 2006 hingga 2008 beliau belum menemukan guru yang bisa mengajarkannya. Master Zen mengunjungi penerbit di Jogja. Dari Jogja diberitahu untuk pergi ke Ambarawa, namun orang yang dijumpainya tidak memahami ilmu tersebut karena hanya menghantarkan naskah ke penerbit. Hingga disarankan untuk menemui salah seorang di Surabaya. Sesampai disana bertemu seorang penerjemah buku tersebut dimana buku tersebut sudah dipraktekkannya pada beberapa pasien dan hasilnya luar biasa. Namun orang tersebut ternyata juga hanya menerjemahkannya saja. Hingga disarankan untuk menemui seseorang di Bogor. Sama halnya dengan beberapa orang yang ditemui sebelumnya, namun orang tersebut memberi tahu bahwa dulu ada seminar dari luar yang mengajarkan ilmu tersebut di salah satu RS di Bogor. Kemudian Master Zen menuju ke Rumah sakit tersebut. Disana beliau bertemu dengan seorang dokter gigi yang mengikuti pelatihan tentang ilmu tulang belakang tersebut. Disana Master Zen mengatakan bisa mengobati pasien sakit gigi dan migrain dalam waktu 3 detik. Master Zen diminta untuk mempraktekan pada 7 pasien disana dan semua mengatakan langsung sembuh. Tak disangka justru para dokter disana ingin belajar kepada beliau hingga dipanggilah beliau dengan sebutan Master. Demikian sedikit kisah beliau dalam mencari ilmu, hingga mendapatkan sebutan Master.

Lanjut Master Zen tentang tulang belakang, yang disambungkan dengan kebhinekaan. Bahwa di dalam yang lembut ada yang keras, dan di dalam yang keras ada yang lembut dimana itu saling sinergi dan saling menjaga. Sejumlah 33 ruas, yang masing-masing memiliki sistem sendiri dan hal itu mengendalikan seluruh organ dan sendi tulang tubuh manusia yang berjumlah 360. Ilmu yang paling tinggi ialah ilmu nol. Seperti halnya 360 yakni kembali ke nol. Oleh karena itu dari Master Zen sendiri dan diteruskan pada murid-muridnya untuk ditegaskan bahwa kesembuhan bukan dari Zamatera, tetapi karena Allah sudah memberikan kesembuhan melalui cara apapun.

Di dalam Zamatera terdapat 17 gerakan. Disana ada angka 1 dan 7 yang berarti hanya satu yang kita tuju yaitu ahaddun. Bahkan setiap gerakan Zamatera terinspirasi dari gerakan sholat. Jika orang sehat solat secara berurutan ialah berdiri dahulu, lalu rukuk, sujud dst. Namun karena pasien Zamatera adalah orang yang sakit maka gerakan solat tadi diposisikan secara horizontal. Berdiri maka diganti dengan telentang. Kemudian angkat kedua kaki, menyerupai orang ruku. Kemudian menekuk kedua lutut menyerupai orang bersujud.

Kisah beliau menemukan gerakan mengobati sakit gigi dan migrain dalam 3 detik. Master Zen memiliki kebiasaan sholawatan setiap malam jumat. Suatu ketika, ada pasien yang datang pada malam jumat. Dengan sopan ditolak oleh beliau, namun pasien tersebut tetap menunggu. Hingga sepulang sholawatan yakni kisaran jam 12 malam, pasien tersebut masih menunggu Master Zen. Ditanya oleh Master Zen, tentang penyakitnya. Pasien tersebut mengatakan sudah sakit gigi selama 3bulan. Masih hangat di ingatan beliau saat tadi beliau sholawatan, beliau bermimpi berada di sebuah bioskop dan dipertontonkan gerakan mengobati orang sakit gigi dan migrain. Langsung dipraktekkan oleh Master Zen gerakan yang di ingatannya tersebut. Usai diterapi ternyata sembuh, namun pasien tersebut justru marah-marah. Jika pengobatannya hanya secepat itu mengapa tidak ditangani sebelum pergi tadi hingga tidak menunggu selama ini. Namun tanpa diketahui oleh pasien tersebut bahwa gerakan tersebut baru saja didapatkan beliau dari mimpinya di sela sholawatannya tadi. Terkait angka 17 tadi, Master Zen juga menyampaikan pemaknaan beliau tentang innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dikatakan beliau rojiun disini diartikan dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Maka dari diri yang terbagi ini nantinya dapat menjadi kembali dalam keadaan utuh.

Mas Agus kemudian memberikan sedikit tambahan informasi bahwa, dari pengalaman Master Zein didapatkan informasi yang sangat indah andaikan setiap manusia memposisikan diri seperti Master Zen berarti sama saja dengan Allah sendiri yang memberikan terapi pada setiap orang. Ada yang dengan persentuhan langsung ada pula yang tidak langsung disentuh. Yang langsung disentuh ialah tatkala si sakit mendapat sentuhan dari pihak yang meng-nol-kan dirinya, yang berkualitas pengabdian seperti halnya Mas Zein, bukan kualitas kedaulatan profesi. Sehingga meskipun seolah-olah tangan Mas Zaen yang bergerak, sesungguhnya Allah yang menggerakkan tanganNya melalui tangan Mas Zein. Jika kita mengelaborasi pengetahuan tersebut secara luas bahwa ternyata bukankah Allah juga mengobati, memberi makan, minum, berarti diri kita ini tidak pernah disia-siakanNya bahkan tanpa disadari setiap hari diberikan pengobatan gratis oleh Allah. Sebab antara sehat dan sakit lebih banyak kesempatan untuk sehat sementara sangat bisa untuk Allah memberikan kita sakit, tetapi justru kesehatan yang lebih banyak dilimpahkan untuk diri kita. Berarti Allah memberi pengobatan gratis secara terus menerus.

Sesi pertanyaan dari Mas Kiki perwakilan Karang taruna tentang seringnya berdebat masalah agama dengan temannya. Satu menggunakan pengetahuan umum, lainnya menggunakan pengetahuan agama. Direspon oleh Gus Aniq bahwa, inilah yang sering terjadi di masyarakat kita. Kerap kali mendikotomikan antara agama dan umum dimana hal tersebut sebenarnya adalah satu dan saling melengkapi. Seperti halnya orang berdagang, hal tersebut juga menggunakan pengetahuan umum juga termasuk dalam salah satu ibadah. Tidak perlu mendebatkan kebenaran, masih teringat pesan dari guru kita yakni Bapak Maiyah Muhammad Ainun Nadjib tentang kebenaran. Bahwasanya kebenaran itu letaknya di dapur, bukan yang disuguhkan di warung. Umum juga agama, agama juga adalah umum, semua itu adalah ibadah sebab kita semua adalah abdun.

Keterbatasan ruang dan waktu kali ini bukan berarti menjadi halangan untuk pertemuan di ruang dan waktu yang lain. Tema besar tahun ini di Majlis gugurgunung ialah Kasantikan, dengan sub tema malam hari ini ialah Manajemen Bhineka Tunggal Ika, meruwat dan merawat keanekaan. Dari segala perbedaan dapat kita harmoniskan dengan bahasa universal. Majlis dipungkasi dengan ditutup dengan pembacaan doa oleh Mas Aniq tepat pukul 12 malam. Sekian reportase kali ini, semoga apa yang tersampaikan di lokasi, apa yang tertuliskan disini dapat kita ambil manfaatnya untuk kita perankan sesuai peran yang sangat beragam asalkan kita memiliki satu tujuan yang sama.

 

 

Andhika Hendryawan

MANAJEMEN BHINNEKA TUNGGAL IKA 2

PADA DASARNYA MANUSIA ITU LEMBUT

Tibalah kemudian Gus Aniq untuk membagikan paparan ilmu yang juga masih terkait dengan tema malam hari ini. Sedulur yang hadir diminta oleh Gs Aniq untuk membaca Al Fatihah bersama-sama agar pembelajaran hari ini diberikan berkah oleh Allah SWT. Amin.

Gus Aniq mencoba untuk mentadabur, memaknai melalui tema dan gambar. Dimana dari 33 ruas tulang belakang masih dibagi menjadi lima bagian. Ada yang berada di bagian atas hingga ke bawah sampai tulang ekor. Ada wilayah kebumen, ada pula wilayah langitan. Maka ada kecenderungan untuk hablum minan nas, ada pula kecenderungan hablum minallah.

Pada prinsipnya, ide atau gagasan penciptaan semesta didasari atas Allah mencintai pribadiNya sendiri, mencintai Dzat Nya sendiri. Kemudian menciptakan pantulan-pantulan yang disebut dengan cahaya-cahaya. Dijelaskan pula dalam sebuah hadist qudsyi, “Kuntu kanzan makhfiyyan, fa`aradtu an u’rafa, fakhalaqtul khalqa likay u’raf.” Aku adalah Allah, aku seperti gudang yang tidak tampak, maka aku menghendaki untuk dikenali melalui ciptaan Allah itu sendiri berupa jagad semesta seperti yang sudah kita kenali. Manusia termasuk makhluk ciptaan yang paling akhir. Manusia diciptakan hanya tinggal menempati saja. Telah tersedia air, tanah, langit dll. Maka penciptaan manusia terbuat dari tanah karena tanah sudah diciptakan terlebih dahulu. Maka tadi dijelaskan sulallah, sulalati mintin. Sulal itu berarti perasan dari tanah yang sangat lembut. Maka pada dasarnya manusia itu lembut, sebab diciptakan melalui unsur yang lembut. Kelembutan ini didasari sifat Allah yang patut dipuji yaitu Hamdu. Dimana kemudian hamdu memendar menjadi Amru. Innamâ amruhu idzâ arôda syai`an ay yaqûla lahu kun fayakûn.

Amr itu ialah esensi yang kemudian menjadi substansi, lalu menjadi Al-Kholqu. Menjadi ciptaan yang belum berbentuk fisik. Ibarat aplikasi ialah aplikasi yang sudah siap untuk diinstal. Allah yang bersifat esensi (hamdun) kemudian melahirkan al-amru.

Al-amru merupakan substansi dari suatu hal yang dinamakan getaran. Ini adalah isyarat Allah memberikan getaran suara atau bunyi, dan tidak semua orang yang dilepaskan oleh Allah bisa mendengarkan semua suara itu. Seperti halnya Nabi Muhammad yang hanya sendiri mendengarkan getaran tersebut dalam Gua Hira. Jika bunyi itu dilepas untuk diperlihatkan maka akan menggoncangkan kesemuanya.

Menurut Gus Aniq, dalam khasanah Jawa bunyi kun fayakun seperti bunyi gong. Suara gong itu cukup untuk mewakili suara setiap elemen semesta. Getaran yang memendar menjadi gelombang disebut Al-Kholqu. Al-kholqu memendar lagi menjadi Al Malik dimana itu sudah menjadi fungsi. Kemudian menjadi al-hakam dimana itu sudah menjadi materi. Manusia dititipi ke semua ini. Seperti lima bagian tulang punggung, hal ini juga dibagi lima mulai dari hamdun, amru, kholqun, malik dan hakam atau hukum. Manusia juga termasuk ciptaan Allah yang paling rumit. Ada unsur tin, ada unsur turob, ada unsur sholshol, hamâ`in masnûn, dimana dalam unsur fisika disebut C, H, O, N. Ada unsur tanah, air, udara dan api.

Hal ini menjadi pondasi dasar kita untuk menaknai manusia, sebab jaman sekarang sedang krisis manusia memanusiakan manusia. Pembacaan alam semesta diawali dari pembacaan manusia ke manusia. Iqro` bismi robbikal ladzi kholaq, bacalah atas nama tuhanmu yang menciptakan. Apa yang dibaca, ciptaan apa yang dibaca? Namun kemudian diberikan objeknya dalam sebuah pemahaman utuh. Kholaqol insâna, bacalah atas nama Tuhan yang menciptakan manusia. Manusia dibaca dari mananya?, yakni min ‘alaqin. Dari sesuatu yakni zigot. Alaqin diartikan yakni menggantung. Seperti halnya zigot yang nampak menempel di dinding rahim namun sebenarnya menggantung. Alaqoh, ialah darah yang menggumpal atau zigot.

Oleh karena itu penting sekali kesadaran untuk membaca manusia. Tidak mungkin membaca semua ciptaanNya Allah tanpa membaca manusia. Maka tidak bisa kita remehkan anjuran untuk membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil sejumlah 33 kali. Dimana agaknya manusia secara fisik dipengaruhi oleh tulang punggung, bayangkan saja manusia tanpa tulang punggung. Tetapi punggung itu sendiri memiliki sifat lentur atau tidak kaku. Maka menjadi manusia itu lentur, bisa ditegakkan bisa membungkuk dlsb.

Manusia sudah sedemikian rupa diatur oleh Allah, kalau tidak memiliki dasar demikian maka kacau menjadi manusia. Dimana kita tidak mengingat bahwa diri kita terbentuk dari unsur air, api, tanah, udara. Apinya juga berbeda yang digunakan untuk menciptakan iblis.

Kholaqol insana min alaq. Mengapa disebut insan? Bukan kholaqonnas? Bukan kholaqol ins? Tetapi justru insanun. Didasarkan pada kitab mu’jizatul qur`an, bahwa “insan” diartikan sebagai “harmoni”, atau “kumpulan dari beberapa hal” atau bisa juga disebut keanekaan.

Oleh karena itu bersyukurlah kita diciptakan sebagai manusia, dimana rasa syukur itu diwujudkan dengan memiliki kesadaran untuk membaca manusia. Laulaka laulaka ma kholaqtul aflak. Kalau bukan karenamu (Muhammad) aku tidak akan menciptakan sesuatu. Jadi selain Allah mencintai DzatNya, kita juga berasal dari Muhammad itu sendiri yakni Nur Muhammad yang memendar. Secara bahasa ialah Ahmad, Ahmad, Ahmad, Ahmad…. dst hingga sampai Muhammad. Muhammad ini sebagai punjernya yang mewakili antara kebumen dan langitan. Dalam bahasa langit, Muhammad dinamakan Ahmad. Seperti halnya semua nabi pun juga memiliki gelar ahmad. Namun sebagai penutup dan pelengkap ke semuanya yakni Muhammad itu sendiri. Sebagai pelengkap yang dimiliki oleh Muhammad ialah Al-Akhlaq, atau Al-Kholqu tadi yang digunakan untuk menyempurnakan. Ada fungsi ada juga materi yang jika dinaikkan menjadi hamdun. Masing-masing manusia ialah materi, namun yang disampaikan oleh Muhammad ialah apa fungsi dari materi tersebut. Ternyata manusia harus memahami substansi hingga nanti sampai pada esensi.

Maka dari itu Al-Quran sebagai penutup, dimana keseharian Gus Aniq dirumah sering membolak balik Al-Quran hingga bertemu dengan lafadz dho’. Dimana lafadz dho’ ini diakhiri pada surah Al-Insyiroh. Alladzi anqodho zhohrok, yang memberatkan punggung. Dimana dho’ ini terakhir membahas tentang punggung yang sangat membebani. Namun bagaimana agar tidak menjadi beban? Dalam ayat berikutnya diterangkan warofa’na laka dzikrok, harus eling/dzikir. Kemudian dilanjutkan fainna ma’al ‘usri yusro. Dimana bersama dengan kesulitan ada kemudahan, bukan setelah kesulitan ada kemudahan. Ma’a itu adalah bersama, atau gandeng terus menerus. Oleh karena itu jika ada masalah yang sangat berat maka dinaikkan ke langitan yakni dalam proses dzikrok tadi maka akan menjadi ringan.

MANAJEMEN BHINNEKA TUNGGAL IKA

Pertemuan rutin Majlis Gugurgunung edisi bulan Mei jatuh pada tanggal 26 Mei 2018. Bertempat di Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi’in Bodean Pringapus, Kabupaten Semarang. Alhamdulillah dirawuhi juga oleh Gus Aniq yakni pengasuh Ponpes RKSS serta Master Zein Zamatera. Selain itu turut hadir pula perwakilan dari aparat desa yakni kepala RW setempat.

Kegiatan dimulai pada pukul 21.00 WIB, dengan moderator pada malam hari ini yakni Mas Kasno. Diawali dengan do’a wasilah serta wirid oleh Mas Tyo, dilanjutkan dengan Munajat Maiyah oleh Mas Jion.

Mas Kasno selain sebagai moderator juga merupakan perwakilan dari Tim Tema yang juga turut memberikan preambule tentang tema serta pembacaan mukadimah. Telah disediakan pula 33 lembar print out mukadimah yang dapat disimak pula oleh sedulur-sedulur yang hadir.

Mas Kasno memberikan preambule tentang tema serta pembacaan mukadimah

Tema pada malam hari ini ialah “Manajemen Bhineka Tunggal Ika – meruwat dan merawat keanekaan”. Poster dengan gambar tulang belakang manusia itu, dimaknai oleh Mas Kasno erat kaitannya dengan manajemen keanekaan. Selain itu tema ini juga saran dari Bapak Maiyah Muhammad Ainun Nadjib, untuk mengimplementasikan tema Manajemen Bhineka Tunggal Ika.

Bhineka Tunggal Ika sejak SD setahu Mas Kasno ialah walaupun berbeda-beda tetap satu jua. Dihubungkan oleh Mas Kasno, bahwa tulang belakang merupakan salah satu yang terbentuk pada saat awal tercipta manusia. Kemudian Mas Kasno melanjutkan dengan membacakan Mukadimah.

Kemudian Dusun Bodean juga memberi sambutan, serta menyampaikan maaf dari Kepala Desa yang sebenarnya juga diundang malam hari ini namun tidak bisa untuk hadir. Menanggapi soal tema, Pak RW menghubungkannya dengan masyarakat sekitar serta di Indonesia yang dianggapnya tidak memiliki permasalahan terhadap toleransi terutama keagamaan. Selain itu juga menegaskan berulang kali bahwa kegiatan ini harus diakhiri pada pukul 12 malam, yang menurut beliau di bulan yang suci ini agar ibadah tidak terganggu bagi yang menjalankan. Usai memberikan paparan, beliau segera mohon izin, minta maaf dan berpamitan untuk meninggalkan kegiatan dikarenakan ada kegiatan lagi di lain tempat.

 

BHINNEKA DIRI SEBAGAI CONTOH MANUNGGAL IKA

Mas Agus juga sedikit memberikan paparan untuk memperdalam diskusi malam hari ini, bahwa malam hari ini bukan hanya peristiwa bermajlis namun juga bersambung terhadap pihak yang lebih luas. Ditengarai dengan hadirnya Pak RW. Terima kasih serta apresiasi juga disampaikan kepada Karang Taruna setempat yang turut membantu dalam perhelatan malam hari ini terutama perihal perijinan.

Mas Agus sedikit me-remind bahwa disini merupakan maiyahan khusus sehingga paling larut ialah jam 12 malam, namun dengan harapan tidak mengurangi satu hal apapun juga harus disyukuri dan dibahagiai. Sebelum tema malam hari ini, memang sempat ada gagasan untuk menggarap tema tentang ruwat. Tidak banyak pijakannya, bahwa ruwat itu dihubungkan dengan berpuasa di bulan ramadhan. Bulan ini menurut Mas Agus ialah proses ruwat yang evolusioner bukan revolusioner, namun apabila direntang dalam sebuah laku kehidupan maka ruwat termasuk proses yang revolusioner. Sebab dahulu proses ruwat dengan menggunakan Sastrojendro Hayuningrat Pangruwating Diyu. Manusia diberi karunia oleh Allah dengan berbagai macam simbol. Sendi tulang manusia seluruhnya berjumlah 360 ditadaburi sebagaimana derajad dalam sebuah lingkaran, seperti halnya tawaf juga dalam sebuah lingkaran. Proses belajar kali ini disambungkan antara langit dan bumi, agar tidak terlalu langitan serta masih menggunakan pijakan bumi. Bahwa di dalam tubuh kita itu kita memiliki amtsal alat untuk dzikir, untuk kembali mengingat / eling.

Jika kita melihat dari gambar pada poster, yakni tulang belakang diimajinasikan sebagai alif dalam hijaiyah, namun ketika membungkuk seperti huruf wawu. Jaman dahulu saat mengaji menggunakan metode A I U. Alif fathah a, Alif kasroh I, Alif dhomah U, A-I-U, begitu seterusnya. Hal tersebut sebenarnya tidak sesederhana itu, bukan hanya tentang vokal tetapi juga tentang urutan. Mulai mengenal A, terus I, hingga menjadi U. Dari larah menjadi lirih supaya bisa luruh.

Bukan hanya menanggalkan, tapi juga meninggalkan untuk kemudian manunggal. Hal tersebut ialah proses yang dijumpai manusia sehari-hari. Kadang manusia menjadi alif, juga terkadang menjadi wawu. Terkadang harus tegak, terkadang juga harus merunduk. Ketika tegak, maka tidak boleh tegak untuk dihadapan kepada manusia lain, baiknya ialah Wawu, yakni sikap lembah manah andhap asor. Baru kemudian untuk diri kita sendiri yakni hal yang berkaitan dengan tekad, keperkasaan, kegagahan, dalam menjaga Tauhid maka diawali dengan Alif. Ketika sudah diawali dengan niat yang Alif maka nanti bekerja dengan cara wawu, bukan ngelarAh namun ngelurUh.

Berkaitan dengan pengelolaan tulang belulang ada yang lembut menopang yang keras dan sebaliknya yang keras menopang yang lembut. Ketika kita kembali kepada Allah maka bukan dengan keperkasaan dan kegagahan, sebab nanti akan bertanding dengan keperkasaanNya Allah yang Maha Perkasa. Begitu pula jika kembali pada Allah dengan kegagahan maka akan bertanding, sebab kembali kepada yang memiliki kegagahan itu sendiri. Begitu pula dengan yang lembut, misalkan rahman rahim, itupun harus bertanding karena pengasih dan penyayang hanya milik Allah itu sendiri. Oleh karena itu coba kita menarik pada peristiwa Azazil yakni malaikat yang pernah menjadi imamnya para malaikat dimana pada waktu kemudian, dia diburuk rupakan oleh Allah karena dianggap memiliki kesombongan hingga kemudian diturunkan menjadi iblis. Memiliki kesombongan akan dianggap mencederai Allah, sebab sifat sombong hanya Allah yang boleh memiliki. Namun iblis memakainya sehingga dia dilaknat oleh Allah. Sekarang coba kita bayangkan jika itu adalah sebuah proses kedewasaan, dimana imam para malaikat yang hanya memakai satu jubah saja langsung diturunkan menjadi iblis. Tetapi kita seorang manusia yang mungkin belum memiliki fase kedewasaan, maka kita memakai jubah Allah sejumlah 99 itu tidak masalah. Rahman, Rahim, Qahar, Jabar, dll disangka itu adalah milik kita, namun bagaimana caranya dari 99 itu kita mampu untuk menemukan sebuah titik tunggal untuk tidak mencapai titik yang ke-100 yakni kesombongan, dengan demikian berarti kita mengingkari Allah. Sebisa mungkin hal apapun yang membuat kita sombong, harus kita cegah terlebih dahulu. Maka bagaimana kita bisa “bermain” di 99 itu tanpa harus dilaknat oleh Allah, yakni dengan mengenalinya. Sebab di dunia ini kita memang diharuskan untuk belajar. Tidak akan kita mengenal asin apabila Allah tidak menciptakan garam, tidak pula kita mengenal pedas jika Allah tidak menciptakan lombok dan sebagainya. Kita dikenalkan dengan bentuk-bentuk jasadiah itu bukan untuk menegaskan ke-aku-an. Lombok, garam dlsb itu mengabdi kepada Allah dengan istiqoamah mengantarkan rasa yang dititahkan Allah kepada mereka. Jika rasa asin atau pedas ini lewat manusia, bias jadi manusia malah ngaku sebagai yan punya rasa tersebut. Manusia dilahirkan dengan akal maka merasa mampu untuk mengklaimnya. Kita merasa sudah mengasihi dan menyayangi seseorang namun merasa tidak mendapatkan kasih sayang balik, sehingga rasa cinta itu mendai terluka lalu menjadi benci. Itu tanda bahw akita berarti kita tidak sabar. Lanjut dikatakan, “sabar itu ada batasnya” padahal Sabar itu milik Allah (Ash Shobr) itu tidak ada batasnya. Kita sebagai manusia merasa segala halnya selalu ada batasnya karena memang manusia dilahirkan dengan batasan-batasan. Tujuan diberikan batasan ialah agar manusia tidak “mblarah” dan terus-terusan liar, rakus dlsb.

Dalam khasanah Jawa ada satu istilah homofon tentang lapar, yakni luwih (lapar atau kekurangan) dan luwih (berlebihan). Juga ada istilah Ngelih (memindah) dan ngelih (lapar). Pada saat makan, seseorang bisa menjadi rakus karena menuruti rasa lapar sehingga yang berada di meja makan dipindah ke dalam perut. Cara demikian adalah cara Ngelih (lapar/memindah). Ada pula yang berposisi terkendali, yakni pada saat makan meskipun memang lapar namun hanya mengambil seperlunya saja. Cara yang demikian ini adalah cara Luwih(lapar/ lebih). Pelakunya menjadi linuwih (memiliki kelebihan). Dengan cara luwih maka makan digunakan hanya untuk mengganjal tulang punggung. Agar makanan tidak berhenti tertahan di weteng (perut), kalau hanya untuk urusan tertimbun di perut disindir dengan istilah ‘meteng’ (menuju gelap/orang hamil) meskipun sedang tidak hamil. Lain halnya dengan “madhang“. Madhang kata dasarnya adalah padhang (terang), meteng kata dasarnya ialah peteng (gelap).

Semua hal di atas ialah simbol, yang baiknya kita elaborasi menjadi sebuah bentuk peringatan agar kita mampu belajar dalam fenomena yang kita jumpai sehari-hari. Seperti pesan yang selalu disampaikan Mas Agus saat bulan Ramadhan, “selamat memasuki ujian untuk tidak mencret di saat lebaran”. Sebab hal itu merupakan indikator bahwa ketika terjadi mencret maka bersamaan itu pula ada fenomena balas dendam pada puasanya. Berbeda ceritanya apabila ada proses pengendalian maka tidak akan menggiring kita pada fenomena tersebut. Luwih (lapar) berbeda dengan kaliren (kelaparan). Lapar itu baik, menyiksa diri hingga kelaparan itu tidak baik.

Fenomena tulang punggung yang ada pada diri manusia memerankan diri sebagai pemersatu segala jenis dan macam tulang belulang manusia. Juga segala macam lembut dan teguh dalam diri manusia. Pemersatu kebhinnekaan. Bisa kemudian kita kembangkan, bagaimana jika sesungguhnya di dalam hidup ini, masing-masing manusia adalah komponen sebagaimana halnya daging tulang dalam tubuh. Sehingga wajar jika manusia ada yang berperangai keras, lugas, tegas, ada pula yang berperangai lembut, puitis, penuh isyarat, dan senang bersembunyi.

Akan berbenturan ketika kita dititahi sifat Qahar (Memaksa) dengan sifat Rahman Rahim (Welas Asih), satu sisi lembah manah, sisi lain harus tegak. Namun ketika kita menyadari bahwa itu berasal dari Allah maka kita juga harus mengetahui titik harmoni agar tidak timpang sebelah. Maka dari itu agar kita tidak terhanyut dalam sebuah sifat yang lembut saja hingga seakan mendewakan kelembutan itu untuk diakui diri kita di hadapan manusia, bukannya mendewasakan diri untuk menjadikan kelembutan itu menjadi sebuah proses pengabdian.

Halal dan haram sendiri juga harus memiliki catatan. Sesuatu yang haram bisa menjadi halal dengan satu catatan. Seperti halnya dalam kehidupan kita juga harus memiliki catatan tersebut. Misalkan dalam suatu fenomena kita harus marah akan sesuatu namun dengan catatan tertentu rasa marah itu mampu kita kelola untuk diubah menjadi mengambil hikmah dari fenomena tersebut. Apakah catatan itu? Yakni catatan ini harus positif dan tersambung kepada Allah dengan harapan untuk mendewasakan kita. Agar di setiap titik kita mampu melihat wajah Allah. Meskipun ketika wajah Allah ditampakkan di bumi sebenarnya banyak ketidaksepakatan muncul dari diri kita. Coba kita tilik pada sebuah Hadist Qudsy, “Aku lapar tidak engkau beri makan, Aku haus tidak engkau beri minum, Aku sakit tidak kau jenguk”. Akal manusia akan menjawabnya dengan mengatakan “bisakah Allah lapar, haus dan sakit?”. Dijawab lagi oleh Allah bahwa lapar yang dirasakan itu diwakilkan pada orang-orang yang terpinggirkan, rasa sakit diwakilkan pada orang-orang yang tidak memiliki biaya berobat, demikian pula rasa hausnya juga diwakilkan pada orang yang tidak memiliki air untuk minum. Untuk dekat dengan Allah maka kita harus berjuang, berkorban, harus kita dekati orang-orang tersebut meski sebagian besar kita merasa enggan melakukannya. Mendekat kepada Allah sudah naluriah kita, namun di dalam hidup memang banyak tantangan dan perjuangan serta harus memiliki sikap untuk mengalahkan diri sendiri hingga mampu mencenderungi untuk membantu orang lain. Disini kita sama-sama belajar dengan mengakomodir kebenaran terus-menerus untuk memprioritaskan kebenaran. Demikian beberapa pemaparan dari mas Agus yang setelah itu ia memberikan kepada Mas Aniq untuk membagi kawruh dan paparan-paparannya kepada para wadyobolo gugurgunung.

THERAPY ZAMATERA DAN UNTUK MASYARAKAT

Malam itu, tepatnya tanggal 14 Mei 2018 diadakan sebuah kegiatan sosial berupa pengobatan massal di Madrasah Hidayatul Mubtadi’in di dusun Bodean, Ungaran Kab. Semarang. Semenjak ba’da Maghrib, di sebuah sudut ruangan telah diramaikan oleh masyarakat Bodean. Pria, wanita mulai dari dewasa hingga usia lanjut yang menunggu digelarnya acara, bahkan anak-anak yang turut meramaikan dengan bermain-main di pelataran gedung madrasah ini.

Kegiatan ini merupakan persembahan Karangtaruna Dusun Bodean sebagai upaya berbakti kepada lingkungan menjelang Bulan Ramadhan. Persiapan yang sudah cukup matang dari para pemuda Karangtaruna Bodean yang diketuai oleh Mas Rifki ini disambut baik oleh masyarakat dan Zamatera sehingga kegiatan ini dapat berjalan. Terapi ini diadakan secara gratis untuk masyarakat atas kerelaan Master Zaen beserta kedua murid beliau yakni Mas Arif dan Mas Oki. Tidak hanya mereka bertiga yang hadir dari Salatiga utuk ikut menemani kegiatan ini, ialah istri Master Zaen, Bu Zaeni yang juga dengan gembira ikut membersamai acara ini. Zamatera ialah singkatan dari Zaeni Manipulation Therapeutic atau biasa disebut Rumah Terapi Zamatera yang berpusat di Salatiga.

Pencetus Zamatera yakni Master Zaen langsung yang merelakan hadir memberikan terapi tanpa memungut biaya sedikitpun yang biasanya bekisar antara Rp. 500.000,- per orang untuk sekitar 15 menit terapi. Tarif tersebut adalah tarif minimal yang ditetapkan oleh Asosiasi Zamatera Internasional kepada Master Zain. Sedangkan untuk terapi yang dilakukan oleh murid-murid Master Zaen sekali terapi minimal Rp. 250.000,- . Proses yang dilalui Master Zaen sehingga mendapat predikat master sudah dimulai sejak puluhan tahun silam hingga kemudian munculah satu teknik yang dirumuskan sendiri oleh Mas Zaen berdasar pengalaman, pengamatan, dan ilham yang beliau terima. Zamatera berdiri secara resmi pada tahun 2016 dan saat ini sudah dianggotai oleh warga lintas negara. Selain Indonesia, juga praktisi Zamatera yang ada di Qatar, Turki, Malaysia, yang menggunakan teknik temuan Master Zaen ini.

 

Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, usai dibuka oleh pembawa acara dari remaja dan dilanjutkan dengan sambutan oleh pengurus warga setempat. Kemudian tiba giliran Master Zaen yang sedikit memberikan teori-teori tentang kesehatan tubuh, imunisasi, vaksinasi, dimana menurut beliau hendaknya tidak seketika sakit langsung ke dokter atau langsung membeli obat. Sebab sistem kekebalan tubuh mampu merespon berbagai macam penyakit, selain menghemat biaya juga tidak baik ketika tubuh dikondisikan selalu bergantung dengan obat. Sekitar 30 menit dengan sangat apik beliau mempresentasikan beberapa teori tentang kesehatan yang juga disambut baik oleh masyarakat, dimana ditandai dengan adanya komunikasi dua belah pihak. Tanya jawab dan berdiskusi interaktif menjadi akhir pemaparan Mas Zaen untuk kemudian memasuki sesi berikutnya yakni pemberian terapi.

Pada sesi ini Mas Zaen memberikan waktu kepada dua muridnya yang juga sudah mumpuni untuk menangani beberapa masalah kesehatan ringan sementara Mas Zaen hanya menangani beberapa kasus yang dinilai cukup berat saja. Meskipun diluar ruangan sambil ngobrol santai, beralas tikar beliau bersedia pula untuk menangani beberapa kasus yang ringan seperti kepala tengeng dan migrain.

Antusias masyarakat cukup tinggi, hingga jumlah pasien yang pada awalnya dibatasi sepuluh orang menjadi lebih dari dua puluh orang. Sedikit testimoni diambil videonya untuk dapat dipresentasikan di malam minggu terakhir, juga di gedung yang sama dalam kegiatan pertemuan rutin maiyahan Majlis gugurgunung yang insyaallah nanti juga akan dihadiri oleh Master Zaen.

Kegiatan terapi terus berlanjut hingga pukul 23.00 WIB. Keringat mulai bercucuran di muka murid Master Zaen yang nampaknya mulai kelelahan. Hingga pasien terakhir yakni seorang wanita yang mengalami masalah gangguan haid, nyeri perut serta kaki yang panjang sebelah mungkin sekitar 1-2cm. Untuk kali ini Master Zein sendiri yang turun tangan. Beberapa penonton juga turut melihat aksi beliau, hingga memang nampak efek pada kaki yang tadinya nampak panjang sebelah menjadi sama panjang. Selain Mas Zaen memberikan terapi di lokasi, juga memfollow up beberapa pasien yang sekiranya perlu diikuti perkembangannya supaya terapi lebih berjalan maksimal.

Dirasa cukup, pasien pun telah selesai ditangani semua, lalu diakhiri dengan foto bersama. Master Zaen harus segera berpamitan pulang untuk beristirahat sebab esok pagi beliau harus terbang memenuhi undangan di Kuala Lumpur, Malaysia. Meskipun dengan jadwal yang sangat padat namun masih menyediakan waktunya pada malam itu. Alangkah indahnya jalinan yang tersulam malam itu. Semua pihak saling bersinergi dengan serasi dan indah. Sekian reportase kali ini, semoga bermanfaat.

 

 

AH-MGG