MERDEKA MENJADI ABDILLAH
– Maqsud, Silah, Islah, Uzlah –

Suasana Sinau Bareng Majlis Gugurgunung malam itu terasa guyub dan menenangkan. Para dulur berkumpul dalam satu lingkar, membawa cerita, pengalaman, dan pemikiran masing-masing untuk kembali bersama menggelar tikar Sinau Bareng.  

Sinau bareng diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno.  

Tema yang diangkat kali ini adalah “Merdeka Menjadi Abdillah”, dengan tagline “Maqsud, Silah, Islah, Uzlah.” Beberapa dulur sebelumnya telah mengusulkan beberapa poin untuk menjadi bahan tema sinau bareng. Pada malam itu, mereka yang mengusulkan poin-poin tersebut diminta untuk menjabarkan pemikirannya masing-masing. Sementara Mas Agus mencatat poin-poin yang disampaikan, untuk kemudian dirangkai, dipertemukan, dan dicari arah serta persambungannya. 

Pembahasan diawali dengan persoalan perbudakan. Perbudakan tidak hanya dipahami sebagai kondisi ketika seseorang diperbudak oleh manusia lain, tetapi juga ketika manusia menyembah sesuatu yang bukan Tuhan. Sorotan kemudian diarahkan kepada kejahiliyahan, sebuah kondisi yang tidak hanya terjadi pada satu ruang atau satu zaman, tetapi bersifat universal dan dapat hadir dalam berbagai bentuk kotak-kotak kehidupan. 

Dari persoalan perbudakan tersebut, pembahasan bergerak menuju makna merdeka. Merdeka bukan berarti manusia bebas tanpa kendali. Merdeka justru berkaitan dengan kemampuan untuk terkendali, memahami potensi diri, dan berjalan sesuai porosnya. Kemerdekaan bukan keadaan tanpa batas, melainkan kemampuan untuk mengetahui arah dan menempatkan diri pada poros yang tepat. 

Muncul pula ungkapan “apik statis, elek progresif.” Sebuah keadaan yang tampak baik tetapi mandeg atau diam, sementara sesuatu yang dianggap buruk justru terus bergerak dan berkembang. Di antara keduanya terdapat persoalan keterpisahan. Manusia dapat terjebak pada kotak-kotak penilaian dan keterpisahan, sehingga kehilangan kemampuan untuk melihat persambungan yang lebih luas. 

Dalam konteks kehidupan bernegara, muncul pula pemikiran “ora usah mikir negoro”, yang kemudian disandingkan dengan strategi bernegara. Ada pula ungkapan self think beside no one think for you, yang menjadi bagian dari poin-poin pemikiran yang dilemparkan untuk dibaca dan dirangkai bersama dalam forum. 

Dari berbagai gagasan tersebut kemudian muncul gambaran tentang cahaya kecil yang bersatu. Cahaya-cahaya kecil yang berkumpul dapat menemukan arah kemerdekaan. Kemerdekaan tidak lahir dari satu cahaya yang merasa paling terang, melainkan dari cahaya-cahaya kecil yang bersedia bersatu dan menemukan arah bersama. 

Pembahasan kemudian sampai pada kata “seleh” ,sebuah kondisi hati yang selesai. Seleh bukan sekadar berhenti, tetapi keadaan ketika hati tidak lagi terus-menerus dipenuhi kegaduhan karena keinginan untuk menguasai segala sesuatu, dan lebih menyerahkan atas semua perjuangannya kepada Ridha Allah. 

Dari sini, poin dalam tagline mulai mendapatkan tempatnya masing-masing: maqsud, silah, islah, uzlah. 

Maqsud adalah tujuan. 

Silah adalah hubungan. 

Islah adalah perbaikan, sekaligus tandang. 

Dan uzlah adalah menjaga jarak, menjaga kejernihan. 

Keempatnya kemudian dibaca sebagai sebuah rangkaian dalam peta perjalanan menuju kemerdekaan menjadi Abdillah. Ada tujuan yang hendak dituju, ada hubungan yang perlu dijaga, ada perbaikan yang harus terus dilakukan melalui (tandang), dan ada jarak yang perlu dipelihara agar manusia tidak kehilangan koordinatnya. 

Pembahasan mengenai kata merdeka kemudian bergerak pada istilah mahardika“Ma” dimaknai sebagai menyifati/melakukan, dan: “Hardika” / “Ardika” adalah teguh, pendirian, berdaulat. Dengan demikian, merdeka bisa dimaknai sebagai Meneguhkan Kedaulatan. 

Namun kemerdekaan bukan sesuatu yang benar-benar selesai. Kemerdekaan bukan sebuah keadaan yang setelah dicapai kemudian tidak membutuhkan perjuangan lagi. Kemerdekaan adalah hadiah dari Allah atas apa yang dilakukan manusia: perjuangan. Indonesia sudah merdeka selama 8 (delapan puluh satu) tahun, hal ini harus diakui sebagai penghormatan atas perjuangan yang ditempuh oleh para Peneguh Kedaulatan, perjuangan yang diiringi dengan pengorbanan tidak kecil.  

Namun, yang kita warisi seharusnya bukan hanya kemerdekaan namun juga perjuangan. Orang yang mendapat kehidupan aman tenteram tanpa perjuangan bukanlah orang merdeka. Itu hanya orang yang hidup dalam satu kemakmuran, alias persemakmuran. Persemakmuran tidak membutuhkan perjuangan karena hanya pemberian. Kita yang hidup dengan mental persemakmuran meski di tanah yang merdeka akan menghasilkan cara hidup yang miskin perjuangan dan pengorbanan. Sedangkan mungkin bagi manusia yang hidup di tanah persemakmuran namun hidup dengan tetap menjunjung perjuangan dan sikap rela berkorban, justru bisa sedang meneguhkan kedaulatan dan layak mengunduh kemerdekaan pada dirinya.  

Maka perjuangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan. Manusia terus bergerak, terus memperbaiki, terus menjaga hubungan, sekaligus tetap menjaga jarak pada tempat yang diperlukan. Semua itu dilakukan agar manusia tidak berhenti pada peran atau kotak tertentu, tetapi tetap bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan. 

Dalam kehangatan Sinau Bareng malam ini, poin-poin yang awalnya berdiri sendiri kemudian mulai dicoba dipertemukan. Perbudakan, kejahiliyahan, kotak-kotak, kemerdekaan, kendali diri, potensi, poros, keterpisahan, cahaya kecil, seleh, maqsud, silah, islah, uzlah, hingga mahardika, menjadi bagian dari percakapan yang saling mencari persambungan. 

Salah satu pahala terbaik sebagai ummat Rasulullah adalah membebaskan atau merdekakan budak. Butuh kekayaan dan kesanggupan. Namun ada yang paling murah meski tetap memerlukan kesanggupan, yakni membebaskan diri sendiri dari majikan yang memperbudaknya. Majikannya bisa berupa popularitas, kekayaan, keunggulan, kekuatan, kekuasaan, brand, follower, kasta sosial, kasta pendidikan, kasta pengalaman, kesenangan duniawi. Semua itu bukan majikan, namun menjadi demikian dan tetap demikian jika seseorang meletakkan diri menghamba pada aspek-aspek tersebut. Jika tidak, semua aspek tadi bisa berubah dari majikan menjadi alat pengabdian. Maka bebaskanlah budak, adalah melepaskan diri dari cengkeraman majikan semu. Penyembah patung adalah menyembah sesuatu dan rela dikontrol hidupnya oleh sesuatu itu, padahal sesuatu itu ibarat patung, yang gerakan dan manfaatnya berasal dari imajinasi penyembahnya.  

Dan pada akhirnya, arah pembahasan kembali kepada satu tema besar malam itu: Merdeka menjadi Abdillah. Sebuah kemerdekaan yang tidak berhenti pada kebebasan diri, tetapi menuju kedaulatan yang menempatkan manusia sebagai hamba Allah. 

Sinau Bareng kemudian ditutup dengan bacaan hamdalah. Setelah forum selesai, jamaah melanjutkan dengan makan bersama. Usai makan, suasana kembali mencair melalui beberapa nomor lagu yang dinyanyikan bersama. Tidak ada latihan, tidak ada rencana khusus, semuanya berlangsung spontan dan mengalir begitu saja. Sebab gembira dan tulus tak perlu dirancang. 

Kemerdekaan bukan ketika manusia bebas melakukan apa saja, melainkan ketika ia berhasil membebaskan dirinya dari seluruh majikan semu, meneguhkan kedaulatannya, menjaga arah maqsudnya, menyambung dalam silah, terus bergerak dalam islah, menjaga kejernihan dalam uzlah, lalu menemukan kebebasan tertingginya, ialah menjadi Abdillah. 

Malam pun semakin larut. Jamaah kemudian beberes tempat sinau bareng, lantas satu per satu berpamitan dan pulang kembali ke rumah masing-masing dengan merdeka.

Adzan, Idzin, Udzun
– Menumbuhkan Tunas Iman –

Sinau Bareng Majlis Gugurgunung bulan ini mengangkat tema “Adzan, Idzin, Udzun”. Acara diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah tema. Setelah itu, Sinau Bareng bergulir dalam suasana yang hangat dan menggembirakan. Dari awal hingga tengah malam, pembahasan berkembang melalui berbagai sudut pandang, pengalaman, serta perenungan yang saling berkelindan. 

Adzan, Idzin, Udzun 

Adzan, Idzin, dan Udzun tidak dipandang sekadar sebagai urutan kata yang kebetulan memiliki kemiripan bunyi. Ketiganya coba dibaca sebagai sebuah rumus kesadaran melalui Fatah, Kasroh, dan Dhomah. Fatah dimaknai sebagai pembuka atau panggilan. Kasroh merupakan kesadaran untuk merendahkan diri di hadapan Allah guna mendapatkan idzin-Nya—bi idznillah. Sementara Dhomah merupakan penyatuan antara panggilan, perkenan-Nya, dan kesediaan memenuhi panggilan atas perkenan-Nya. 

Dari rumus tersebut, Adzan-Idzin-Udzun diarahkan untuk menumbuhkan tunas iman. Adzan menjadi lambaran hidup, sebab adzan merupakan suara pertama yang diperdengarkan kepada jabang bayi sesaat setelah dilahirkan. Ia menjadi suara pertama di bumi, sehingga suara apa pun yang kelak ditemui manusia akan merujuk pada suara pertama tersebut. Dengan demikian, adzan bukan sekadar suara panggilan, tetapi menjadi lambaran bagi perjalanan hidup manusia. 

Manusia juga memiliki tiga silah utama: silaturahmi kepada sesama, sholawat kepada Kanjeng Nabi, dan sholat kepada Allah. Ketiganya menjadi bagian dari hubungan yang perlu dijaga. Dalam hubungan horizontal maupun vertikal, diperlukan kesadaran tentang jarak. Jaga jarak bukan berarti menjauh, tetapi menjaga koordinat agar selalu presisi. Pada sektor horizontal, jaga jarak diperlukan untuk berjarak dari kemelekatan. Sementara pada sektor vertikal, justru diperlukan upaya untuk membangun kedekatan sedekat mungkin kepada Allah. 

Salah satu permasalahan umum yang sering tidak disadari adalah ketika pemimpin tidak mau mendengar anggota atau tim. Begitu pula seorang guru perlu mendengar murid. Bahkan guru perlu mempersilakan murid mencari referensi lain dan, dalam kondisi tertentu, sanggup mempersilakan murid menjadi guru. Sebab relasi guru-murid, pimpinan-anggota, dan berbagai hirarki kehidupan lainnya pada akhirnya adalah dalam rangka sama-sama menjadi abdinya Allah. 

Adzan sebagai Lambaran Hidup 

Adzan kemudian dibaca lebih dalam melalui setiap bagiannya. Allahu Akbar menjadi takbir sebagai pembuka tabir. Setiap yang mengaku akbar tidak akan mampu bertanding kepada Allah. Semua dimulai dengan pengakuan bahwa Allah-lah Yang Maha Besar. 

Asyhadu anla ilaha illallah menjadi syahadat tauhid, sebuah pernyataan kesaksian yang meneguhkan bahwa apa pun yang dialami dan ditemui dalam kehidupan pada akhirnya merupakan perjumpaan dengan penghambaan kepada Allah. Tidak mudah menghamba kepada sesuatu yang sekadar tampak besar atau mengaku besar. 

Kemudian Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah menjadi syahadat Rasul, sebuah kesaksian bahwa kehidupan yang dilalui merupakan bagian dari proses perbaikan akhlak. Manusia menjadi perpanjangan misi Rasulullah dengan menjaga sikap dan perbuatan melalui keteladanan kepada beliau. 

Hayya ‘alash sholat merupakan ajakan untuk berbuat dan terlibat secara aktif dalam hubungan kepada Allah. Melalui sholat, manusia berharap mendapatkan petunjuk, pertolongan, dan kucuran dari langit yang tidak mampu dibuat oleh makhluk. Karena itu, mengingat bahwa sumber daya dan kekuatan hanya berasal dari Allah menjadi penting agar manusia tidak menjadi sombong karena merasa piawai. 

Sementara Hayya ‘alal falaah merupakan ajakan untuk berbuat dan terlibat secara aktif meraih kemenangan, kegemilangan, dan kesuksesan bersama Allah. Kemenangan bukan kemenangan personal, terlebih kemenangan yang diperoleh dengan menjegal atau mengalahkan orang lain. Dalam pengabdian, kemenangan hanya milik Allah. Karena itu, kekufuran adalah urusan Allah. Hanya Allah yang berhak mengalahkan, sementara manusia diajak merasakan kemenangan melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah. Maka kembali diperlukan kesadaran La haula wala quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adhim. 

Adzan kemudian kembali pada Allahu Akbar. Semua dibuka dengan takbir dan ditutup pula dengan takbir. Segala awal dan akhir, segala sesuatu, berada di bawah naungan Allah Yang Maha Besar. Kemudian ditutup dengan La ilaha illallah, sebuah kepulangan manusia kepada Allah dengan membawa kualitas masing-masing dalam memaknai bahwa tiada Tuhan selain Allah. 

Jaga Jarak dan Hirarki Kehidupan 

Pembahasan tentang jaga jarak kemudian ditarik pada relasi manusia dalam kehidupan. Guru dan murid, pimpinan dan anggota, merupakan hirarki hidup yang membuat seseorang merasa mendapatkan peran dan posisi sebagai hasil dari kesepakatan horizontal. Namun peran tersebut tidak serta-merta membawa imbal balik berupa pertumbuhan mutu kemanusiaan dan iman. Bahkan acapkali justru dapat memandulkannya. 

Karena itu, peran apa pun dapat ditempuh selama manusia tidak terjebak di dalam peran tersebut. Sebab peran utama manusia bukan mengabdi kepada manusia lain, sistem, atau sesuatu yang hanya seolah-olah patut dilabuhi lahir dan batin. Peran utama manusia adalah Abdillah, mengabdi kepada Allah. 

Mengabdi kepada selain Allah bukan berarti manusia tidak bekerja, dilarang masuk dalam sistem, atau menjadi anti-birokrasi. Tidak demikian. Tindakan horizontal tetap ditempuh secara wajar. Yang perlu dijaga adalah tempat pengharapan. Segala tindakan horizontal boleh dilakukan, tetapi pengharapan tetap hanya kepada Allah. 

Dengan hanya berharap kepada Allah, manusia tidak mudah pongah dan tidak pula mudah patah. Sebab mengabdi kepada sesuatu yang rapuh akan membuat penyembahnya menjadi semakin rapuh. 

Dari Kepepet Menuju Ayem 

Pembahasan kemudian memasuki pengalaman usaha ternak. Semua berawal dari sebuah dhawuh guru, Mbah Nun: 

“Teruslah lakukan pekerjaan yang engkau sukai hingga kau menjadi ahli.” 

Wasiat tersebut didengar oleh banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mendengarkannya hingga masuk pada perkembangan hidup. Salah satu yang mendengarkan hingga menjadi bagian dari perjalanan hidup adalah Mas Santoso, yang pada satu fase dituntut memiliki sikap untuk menghadapi tuntutan kehidupan. Dhawuh tersebut kemudian menjadi modal pertama. 

Perjalanan itu bergerak dari rasa kepepet, kemudian muncul pilihan. Dari sekian banyak pilihan yang dicoba, dipilihlah pilihan yang paling menghadirkan rasa ayem. Setelah hati ayem, justru muncul cabang-cabang kreativitas dan gagasan. Dari sana kemudian tumbuh tangkai-tangkai kegiatan usaha yang terus berkembang. 

Kepepet menjadi alat timbang untuk membaca sebuah keadaan: apakah kondisi yang sedang dialami merupakan karunia atau musibah. Ketika iman menang, kondisi kepepet dapat dipahami sebagai karunia. Dari sana muncul asa atau harapan. Bersamaan dengan itu, muncul sikap untuk memilih. 

Dari berbagai pilihan yang dicoba, ternyata hanya satu yang menghadirkan rasa hati yang tenang, adem, dan ayem. Pilihan yang kemudian diminati adalah sektor pemeliharaan unggas. 

Ayem dan Tumbuhnya Kreativitas 

Ayem sendiri merupakan kondisi yang memilih ekosistem Ridhwan, sebuah ekosistem yang tidak mudah ditinggali oleh iri, dengki, putus asa, hasut, dan berbagai penyakit hati lainnya. Sebaliknya, apabila ekosistem hati memilih atmosfir Malik, maka akan lebih mudah disinggahi rasa kuasa, bersaing, bertanding, bergesekan, bahkan hingga bertarung. 

Dari rasa ayem itulah kemudian kreativitas dapat tumbuh. Inspirasi dan gagasan yang muncul dari kondisi ayem masih membawa unsur pamomongan: jiwa merawat, mengayomi, memelihara, dan menjaga. Kreativitas yang lahir dari sana kemudian memunculkan gagasan-gagasan berikutnya, baik berupa ilmu maupun pekerjaan. 

Hal ini kemudian dikaitkan dengan pertanian dan peternakan. Pengalaman dalam kondisi sempit maupun longgar perlu diidentifikasi sebagai karunia atau musibah. Karunia melahirkan asa, sedangkan musibah dapat melahirkan putus asa. Keduanya kemudian melahirkan pilihan. Dan dalam menentukan pilihan, rasa ayem dapat dijadikan indikator atau ordinat. 

Pertanian atau peternakan yang baik bukan sekadar bagaimana melakukan rekayasa agar tanaman atau hewan cepat besar, cepat tumbuh, dan cepat dipanen. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dan peternak dapat sama-sama tumbuh dan berkembang bersama tanaman dan hewan yang dipeliharanya. 

Di situlah titik koordinat ayem. Ketika titik tersebut ditemukan, kreativitas berkembang dan kebermanfaatan dapat meluas. Dari sana terjadi siklus perputaran rahmat. 

Ayem secara vertikal membawa manusia menuju ridho, sehingga Allah SWT juga ridho terhadapnya. Dalam kondisi tersebut, paparan penyakit hati—iri, dengki, hasut, ria, takabur, sombong, dan seterusnya—diharapkan Allah SWT berkenan meluruhkannya dari hati. Sebab sesungguhnya manusia sendiri tidak mampu meluruhkan rasa-rasa tersebut hanya dengan kekuatannya sendiri. 

Pada akhirnya, Adzan menjadi lambaran hidup. Ia menjadi suara pertama yang mengiringi manusia ketika hadir di bumi, sekaligus panggilan untuk terus menjaga hubungan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama. Idzin menjadi kesadaran untuk merendahkan diri dan menunggu perkenan-Nya. Sedangkan Udzun menjadi penyatuan antara panggilan, perkenan, dan kesediaan untuk memenuhi panggilan tersebut. 

Sinau Bareng kemudian terus bergulir melewati tengah malam. Setelah seluruh pembahasan mengalir dan berbagai pengalaman saling dipertemukan, forum ditutup dengan bacaan hamdallah sebagai tengara bahwa Sinau Bareng malam itu telah selesai. 

 

Redaksi Majlis Gugurgunung

PADHEPOKAN WAKAFA
– Himayah, Kifyah, Maiyah –

Sinau Bareng Gugurgunung malam itu mengangkat tema “Padhepokan Wakafa”. Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB dengan pembacaan tawashshul yang dipimpin oleh Pak Tri. Setelah tawashshul selesai dilantunkan, forum dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno sebagai pengantar untuk memasuki tema pembahasan malam itu. 

Pada sesi gelar tikar tema, Mas Agus mengawali pembahasan dengan membedah beberapa fenomena yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah fenomena banjir informasi yang terjadi di era saat ini. Menurutnya, berbagai stimulasi yang hadir melalui media dan lingkungan sering kali memancing respon emosional seseorang. Oleh karena itu, informasi yang diterima perlu diimbangi dengan pendekatan yang lebih utuh melalui rumus 5W1H agar tidak terjebak pada kesimpulan yang tergesa-gesa. Juga sangat penting untuk merasakan getaran narasi, sebab sekarang yang asli dan palsu sudah semakin susah dibedakan. Dengan kita melatih kepekaan terhadap getaran narasi, kita sedang membangun sistem kewaspadaan dini.  

Pembahasan kemudian merambah pada aspek ekonomi yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari ekologi, ekosistem, perilaku, dan kultur masyarakat. Dalam konteks perilaku, nilai-nilai kenabian seperti sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah menjadi bagian penting yang perlu dihadirkan dalam kehidupan. Keseluruhan unsur tersebut pada akhirnya menjadi benih yang akan menentukan arah pertumbuhan suatu masyarakat. Selain itu, Mas Agus juga menyinggung persoalan identitas yang dibangun di atas kompetisi serta fenomena FOMO (fear of missing out) yang semakin banyak mempengaruhi cara pandang dan perilaku manusia saat ini. Takut ketinggalan, takut nggak beken, takut nggak dianggap sejajar pada level sosial, adalah ketakutan yang salah tempat. Ketakutan terbesar kita itu sesungguhnya ketika dicabut predikat abdillah dan khalifah. Karena dua hal itu identitas yang patut diperjuangkan bukan malah diabaikan diganti dengan label dan stempel sosial.  

 

Pembahasan berikutnya dilanjutkan oleh Pak Pawit, salah seorang praktisi pertanian yang hadir jauh dari Temanggung. Dalam uraiannya, beliau mengajak jamaah melihat kembali pentingnya pertanian yang thoyyib. Pertanian tidak hanya dipahami sebagai aktivitas budidaya tanaman semata, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pertanian yang baik adalah pertanian yang ramah lingkungan, menjaga keberlangsungan alam, sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dan penerus kehidupan. 

Memasuki sesi tanya jawab, berbagai tanggapan dan pertanyaan mulai mengalir dari jamaah. 

 

Mas Yusuf mengawali dengan pertanyaan mengenai bentuk pemberdayaan lingkungan yang dapat dilakukan, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Ia juga mempertanyakan seperti apa model budidaya yang tepat untuk dijalankan dalam konteks tersebut. 

 

 

 

 

Selanjutnya, Mas Dany mengajukan pertanyaan yang lebih teknis terkait kebutuhan lahan dan media tanam. Ia menanyakan bagaimana perhitungan kalkulasi yang perlu disiapkan apabila ingin memulai kegiatan budidaya secara lebih serius. 

 

Mas Satrio kemudian bertanya mengenai produk yang dapat digunakan untuk membantu memperbaiki unsur tanah, sekaligus menanyakan di mana produk tersebut dapat diperoleh. 

 

 

 

 

 

Semua pertanyaan berkaitan dengan pertanian ditanggapi oleh Pak Pawit.  

 

Mas Kasno selaku penata diskusi memberikan pandangan juga bahwa langkah awal yang paling memungkinkan adalah memulai dari rumah masing-masing. Menanam menggunakan polybag dipandang sebagai cara sederhana yang dapat dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu memiliki lahan yang luas. 

 

Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Mas Arif. Menurutnya, apabila kegiatan pertanian hendak diarahkan menjadi sebuah usaha atau skala bisnis, maka terlebih dahulu perlu ditentukan pasar yang ingin digarap, strategi yang akan digunakan, serta pola kesepakatan jual belinya. Selain itu, perlu ada pembagian peran yang jelas antara pihak yang fokus pada produksi dan pihak yang bergerak di bidang pemasaran. Namun demikian, sebelum melangkah terlalu jauh ke arah bisnis, Mas Arif mengajak jamaah untuk terlebih dahulu menumbuhkan mental menanam. Kebiasaan dan kesadaran untuk menanam dapat dimulai dari rumah masing-masing melalui media sederhana seperti polybag maupun pekarangan rumah yang dipandang memungkinkan.  

 

Menjelang akhir diskusi, Mas Agus kembali memberikan penegasan. Menurutnya, dalam menanam tidak perlu terlalu dibebani oleh target-target tertentu terhadap tanaman yang ditumbuhkan. Biarkan tanaman tumbuh secara natural sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Yang lebih penting adalah mempertebal kembali niat awal dalam setiap ikhtiar yang dilakukan. Sebab niat yang kuat akan menjadi pondasi bagi proses yang dijalani. 

 

Diskusi berlangsung hangat dan mengalir hingga larut malam. Berbagai pandangan yang muncul tidak hanya membahas persoalan teknis pertanian, tetapi juga menyentuh aspek kesadaran, perilaku, dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidupnya. 

 

Sinau Bareng malam itu diakhiri tepat pukul 01.30 WIB dengan bacaan hamdalah sebagai ungkapan syukur atas ilmu, perjumpaan, dan kebersamaan yang telah terjalin sepanjang forum berlangsung. Meskipun acara Sinau Bareng telah ditutup namun semuanya baru benar beranjak sekitar jam 03.00 pagi. Malam itu seolah malam perbincangan yang lesehan di bawah atap Padhepokan Wakafa yang meski serba sederhana, namun penuh rasa bahagia. 

 

Redaksi Majlis Gugurgunung

Sejarah Tandur lan Wangsa
– Harmoni & Survival

Suasana malam minggu di bulan Apit ini tampaknya memberi impak pada perjalanan beberapa jemaah untuk melingkar tepat waktu. Sepanjang jalan dari arah Semarang bawah terdapat banyak perhelatan penduduk dan bahkan beberapa titik digelar Pakeliran Wayang Kulit. Namun, meskin demikian, peserta tetap relatif hadir tepat waktu. Sebagaimana biasa, Sinau Bareng Gugurgunung di awali dengan lambaran tawashul. Malam itu keluarga gugurnunung disambangi oleh beberapa sedulur maiyah dari Ambarawa yang berniat ingin menggelar sinau bareng juga di area Ambarawa dan sekitar. 

Setelah pembacaan Tawashshul dan indal qiyam serta doa, Jamaah kembali duduk dan mulai menyalakan kembali rokok dan menyeruput kopi yang telah terhidang. Mas Kasno mulai memimpin Sinau Bareng dengan membacakan mukadimah dan beberapa ulasan untuk memantik tanggapan dari peserta. 

 

Sesungguhnya manusia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, yang bisa manusia lakukakan adalah  menghadapi masalah. Dalam rangka menghadapi masalah, manusia akan dihimpun dengan manusia yang lain untuk saling bantu, untuk menyelesaikan masalah secara bersama. Manusia atau Wong yang dihimpun dalan satu kesamaan roso inilah yang kemudian menjadi WongSo/Wangsa. 

  

 

Nabi Adam dan Cetak bitu Peradaban 

Pasca peristiwa Kuldi, Nabi Adam diturunkan ke Bumi. Misi utamanya adalah sebagai Khalifah. Hadiah yang dahsyat bagi bumi karena pada fase tersebut bumi sedang chaos, khalifah sebelumnya dari bangsa Banujan telah sedemikian membuat pertumpahan darah sampai pada titik kegagalan yang benar-benar hancur. Bumi perlu ditata kembali oleh Khalifah yang berasal dari Surga, yaitu Nabi Adam. 

  

Perjalanan awal Nabi Adam sejenak setelah diinjakkan ke bumi, adalah perjalanan catak biru peradaban. Ia hendak mencari sang istri yang terpisah, namun Allah memberikan Perintah kepadanya untuk memberi salam kepada bumi dan penghuninya, ini adalah cetak biru insan sebagai penebar salam dan rahmatan bagi alam. Mendahulukan Perintah Allah daripada kepentingan pribadi. 

  

Kemudian ia menuruni bukit hingga ke lembah hingga sampai ke pesisir dan bibir laut, lautan yang luas itu ia arungi dengan anggapan bisa ia sebrangi dengan berenang sebagaimana ketika ia mengarungi samudera alam surgawi yang serba mudah dan menyantuni. Tapi, ternyata Nabi Adam salah kalkulasi karena laut di bumi lebih menguras tenaga hingga ia hampir kehabisan tenaga. Dengan lafadz La Haula Wala Quwwata ila billah, ia diperkenankan Allah sampai ke daratan sebrang. Ia merasa sangat letih, nafas terengah-engah, haus yang luar biasa. Nabi Adam yang belum lama menginjakkan kaki di bumi tak berani mengobati kerongkongannya sebelum Datang perintah Allah. Maka, nabi memilih menenangkan diri, mengatur nafas, sebab ia tak ingin mengulang kesalahan peristiwa Kuldi, dimana ia memasukkan sesuatu pada kerongkongannya atas dasar keinginan. Ini adalah blueprint sikap aji, yang melangkahkan kaki karena gema Tasbih yang ia dengar dari sanubari. Ini juga awal miskalkulasi hanya karena berfikir “biasanya bisa” sehingga hampir tenggelam kehabisan tenaga, namun sekaligus cetakan sikap untuk kembali berserah dan menyatakan bahwa Kekuatan adalah Milik Allah. Sikap yang kembali memosisikan sebagai hamba bukan penentu sikap diri secara gegabah hanya berdasar pengetahuan dan pengalaman. Sesampainya di daratan, Nabi Adam menahan diri namun juga mencegah kalut, cemas, takut, memimpin dirinya. Ia memilih menahan diri dan mengatur nafas untuk menundukkan rasa haus kering. Bahkan menahan diri untuk mereguk sungai yang berada di dekatnya. Bukan karena bodoh namun karena menghindari miskalkulasi lagi. Ia mengatur nafas, duduk tenang dan mendengarkan. Sikap beradab, menahan diri, berpasrah ini menegaskan posisinya sebagai hamba. Sikap Adab ini membuka gerbang langit dan membuka diri menerima Segala Petunjuk-Nya. 

  

Sejenak kemudian, Allah segera memerintah Malaikat Jibril untuk pertama kalinya hadir menemui Nabi Adam dan menyampaikan untuk meminum air sungai yang telah disediakan Allah. Nabi Adam pun menurut, dan demi menjaga Adab, Nabi mendahulukan Bismillah baru kemudian meminumnya. itulah seteguk air yang kesegarannya luar biasa. Seolah bukan hanya kerongkongannya yang basah, namun juga hatinya, pikirannya, dan ketundukannya kepada Allah. Kesegaran ini menumbuhkan niat bahwa kelak, peradaban manusia tak boleh lepas dari kesabaran menahan diri/puasa, dan dari air. Seteguk air yang membentangkan bayangan peradaban insan. Nabi ingin mengabarkan kepada anak turunnya tentang peristiwa ini, kabar gembira tentang indahnya berpasrah, menakar diri, memohon ampun jika melakukan kesalahan dan penyelarasan kembali, bersabar, tak mudah menyerah, pantang putus asa, dan berpuasa agar Allah memberikan Rahmat-Nya secara langsung. kembali memperkuat keintiman jarak kepada Allah adalah tradisional Bani Adam. 

  

Air tawar dan kesegaran yang menghidupkan itulah yang menginspirasi Nabi adam untuk merintis kegiatan Tandur, dengan men-direct Harmoni dari Syurga. Ringkasnya, Tanah dan Air akan menjadi Ejawantah Su Warga, melalui kegiatan Tandur dan Ternak yang  rintisannya dimulai dari lingkup Keluwarga. 

  

Seluruh hasil Pertanian dan Peternakan, diperuntukkan untuk Sajian Tama dan Maha Boga sebagai bentuk Syukuran bersama seluruh entitas penduduk bumi, baik Manusia, Jin, Denawa, Diyu, dan lainnya. Peradaban yang matang adalah peradaban yang seimbang. Harmony dan Survival. Khouf dan Roja’ dan seterusnya. 

  

3 Mutiara Bumi 

(7 Perangan diri merespon peristiwa universal) 

  

7 Perangan diri : 

1.⁠ ⁠Iman 

2.⁠ ⁠Akal 

3.⁠ ⁠Akhlak 

  4.⁠ ⁠Adab 

  5.⁠ ⁠Pikir  

6.⁠ ⁠Nafsu 

  7.⁠ ⁠Jasad 

3 Fase awal adalah fase dimana simulacra tidak mampu menembusnya. 3 Fase akhir adalah fase yang mulai rentan tertembus simulacra. Dan Adab adalah Fase transisi atau pintu masuk yang rentan tersusupi simulacra. 

  

Peristiwa Global terkini, yang aktor utamanya adalah Palestina, Iran, Amerika, Israel. 

  

Ada 3 Mutiara Bumi yang tampak dari peristiwa berdarah saat ini : 

1.⁠ ⁠Mutiara Iman, oleh Palestina. Belum ada negara yang mempunyai mutiara iman paling menyala pada peradaban saat ini. 

2.⁠ ⁠Mutiara Akal dan Akhlak, oleh Iran. Negara yang paling gagah  berani menjaga nyala mutiara Akal dan Akhlak. 

3.⁠ ⁠Mutiara Adab, oleh …. ? 

 

Amerika dan Israel, terus menerus memainkan pesta pora yang mendistraksi pikir, yang berorientasi utama pada pemuasan  Jasad dan Nafsu. 

  

Perangan Adab ? 

tergantung kepada siapa ia mau mendengarkan : Apakah akan mendengarkan Iman, Akal, Bu dan Akhlak. Atau malah mendengarkan Pikir, Jasad, dan Nafsu. 

  

Hati Petani 

Nusantara, yang menyebut dirinya sebagai Tanah Air.  Segara Giri, Segara Gunung, dst …. 

Bukan sekedar idiom, namun lebih kepada bangunan kesadaran spiritual yang kokoh dan tangguh untuk terus mempertemukan dua elemen penting sebagai manifestasi Tumbuh lewat lelaku Tandur, dalam hal apapun. Hati yang senantiasa menjaga  kesetiaan nilai Harmoni dan Survival. 

  

Tanah dan Air, bisa jadi adalah aktivator akan munculnya mutiara ke 3 yaitu Mutiara Adab, yang senantiasa mau mendengar Akhlak, Akal, dan Iman. Kemudian mau mendidik Pikir, Jasad, dan Nafsu. 

  

Diskusi semakin mengalir dengan tambahan ulasan dan uraian berkaitan dengan tema. 

Memang akan menjadi perjuangan yang tidak ada nilai oportunis dan kapitalis, karena transaksi tertinggi perjuangaanya mencapai level puncak …. yaitu Syuhada. 

  

Sekitar pukul 00.30 Diskusi ditutup dengan bacaan Hamdalah dan semua peserta makan bersama. Diskusi non formal masih berlangsung hingga pukul 03.00 dan seluruh peserta undur diri setelah bersama-sama membersihkan ruangan. 

 

 

-Redaksi Majlis Gugugrgunung- 

SASI TEMBANG WULAN TEMBUNG – Fitrah Makna & Tugu Kata

Sejuk menyelimuti malam. Hening yang seolah memuat banyak makna, penuh oleh kemungkinan-kemungkinan yang belum terucap. Tepat pada malam Minggu, 28 Maret 2026, Rutinan Sinau Bareng Majlis Gugurgunung kembali digelar. Bertempat di Griya Surya Pringsari No.49, Pringapus, Kabupaten Semarang—ruang sederhana yang malam itu menjadi tempat berlabuhnya rasa dan makna.  

Mengangkat Tema “Sasi Tembang Wulan Tembung” dengan tagline: “Fitrah Makna, Tugu Kata.” Sebuah tema yang berkaitan dengan bulan syawal yang banyak bertaburan kata-kata dan doa yang indah. Maka, malam itu adalah bagian dari pengkhidmatan bulan kembali ke fitrah dengan jembatan menelusur fenomena bahasa. Bagaimana bahasa itu bermula dan untuk apa bahasa itu diadakan. Penelusuran ini tidak sekadar untuk dipahami, tetapi untuk didekati perlahan… dirasakan… dan mungkin, diingat kembali. 

Sejarah Khalifatullah dan Tahap Bahasa 

Sinau bareng malam ini seolah mengajak setiap yang hadir untuk mundur sejenak—bukan ke masa lalu, tetapi ke dalam diri namun dihantarkan dengan penjabaran tahapan penciptaan Nabi Adam AS dari fase terlembut hingga paling kasap, dari yang paling murni hingga yang paling wujud. Ada satu titik dalam keberadaan manusia, di mana memahami tidak membutuhkan kata. Tidak ada tafsir, tidak ada penjelasan. Hanya ada kehadiran yang utuh… dan pemahaman yang langsung. Namun perjalanan manusia tidak berhenti di kejernihan itu.  

Lapisan demi lapisan mulai menyelimuti: akal, akhlak, adab… hingga pikir dan nafsu. Bukan sebagai penghalang semata, tetapi sebagai medan ujian—tempat manusia belajar membedakan, merasakan, dan memilih arah. Di situlah bahasa mulai berubah. Dari yang langsung menjadi berlapis. Dari yang jernih menjadi penuh gema. Syawal hadir sebagai pengingat: bahwa kejernihan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk disadari kembali. Maka sinau bareng malam itu bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk membuka kemungkinan—bahwa mungkin, kita hanya perlu belajar mendengar kembali.  

 

Tujuh Perangan 

Diskusi kemudian menelusuri tujuh lapisan dalam diri manusia—sebuah perjalanan dari yang paling jernih hingga yang paling tampak.  

Manusia sejatinya adalah makhluk yang diciptakan dengan bahasa sebelum kata-kata. Bahasa itu bukan bunyi—melainkan respon kesadaran terhadap kehendak Ilahi. Respon ini dimulai yang paling peka dan bening. Lalu selapis demi selapis menuju ke respon yang paling lamban. Maka perespon yang paling peka ini dititahkan sebagai penasihat utama untuk lapisan-lapisan berikutnya. Semakin bertambah unsur wujud, semakin ada rentang jarak. Namun Allah mengaruniakan pendengaran agar jarak tak mengurangi kedekatan. 

Pertama, konsep “Bahasa Rahmah”. Ini menarik karena tidak memakai bahasa sebagai alat komunikasi, tapi sebagai kehadiran makna itu sendiri. Manusia di fase ini bukan memahami lewat logika, tapi lewat penyatuan—makna langsung “hinggap” ke kesadaran tanpa proses. Ini kayak kondisi pra-dualitas: belum ada subjek-objek, belum ada jarak antara yang memahami dan yang dipahami. 

Kedua, “Bahasa Rahiim” kelanjutan yang rapi dan konsisten dari fondasi sebelumnya, tapi benar-benar “menumbuhkan” lapisan baru dari yang sudah ada. Di sini berkembang relasi bertingkat berkesinambungan: Iman → Akal  

Jadi akal di sini bukan sumber kebenaran, tapi penerjemah dari kesaksian iman. Dan “Bahasa Rahiim” kalau sebelumnya “Rahmah” itu murni tanpa medium, sekarang mulai ada “kelembutan yang sudah bertirai”. Artinya: 

  • sudah ada jarak,  
  • tapi jaraknya masih penuh kasih, belum terdistorsi. 

Berikut gambaran lengkap dan ringkasan bahasan malam itu. 

Dalam dirimu, ada tujuh perangan—tujuh lapis penerjemah wahyu kehidupan.  

 

1.⁠ ⁠IMAN — Bahasa Rohmah (Tanpa Jarak) Ini adalah fase pra-kata. Belum ada tafsir, belum ada logika—hanya langsung paham. Di sini berlaku hukum: “Aku berkehendak, maka engkau mengerti.” Ini sejalan dengan isyarat Al-Qur’an: bahwa manusia diajari asmaa kullaha (nama-nama, makna terdalam realitas).  

Adzan: Allahu Akbar → penegasan asal 

Bahasa: Rahmah 

Udzunun: Allahu Akbar → resonansi murni  

Talbis: belum mampu menembus Ini  

Fatwa Iman menjadi penasehat akal. 

 

2.⁠ ⁠AKAL — Bahasa Rohim (Mulai Terjemah)  

Akal mulai bekerja, tapi masih tunduk penuh pada Iman. Ia seperti bayi yang menerima dunia tanpa curiga. Di sini manusia mulai bersaksi.  

Adzan: Ashhadu an la ilaha illallah 

Bahasa: Rahiim 

Udzunun: mengafirmasi kesaksian  

Talbis: mulai muncul → memfitnah (membelokkan makna)  

Kurikulum: Sidiq & Tabligh  

Artinya: benar dalam memahami, benar dalam menyampaikan. 

Fatwa Akal menjadi penasihat Akhlak 

 

3.⁠ ⁠AKHLAK — Bahasa Rohman (Peneguhan Cahaya)  

Akhlak adalah manifestasi dari yang sudah dipahami. Bukan lagi sekadar tahu, tapi menjadi. Di sini manusia mulai menyadari keterhubungannya dengan Nur Muhammad—sebuah konsep penting dalam Tasawuf.  

Adzan: Wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah 

Bahasa: Rahman 

Udzunun: menghidupkan keteladanan  

Talbis: memusuhi (menolak kebenaran yang sudah jelas)  

Kurikulum: Amanah & Fathonah 

Fatwa Akhlak menjadi penasihat Adab 

 

4.⁠ ⁠ADAB — Bahasa Batin (Ambang Ujian)  

Di sinilah game dimulai. Adab bukan hanya sopan—ia adalah kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam realitas.  

Mulai ada: Relasi kompleks Interaksi beragam makhluk. Aktivasi kesadaran halus (kamu menyebut pineal—simbol pusat persepsi batin).  

Adzan: Hayya ‘alash sholah 

Bahasa: Irham (Bahasa bermuatan perintah menebarkan Rahmat) 

Udzunun: La haula wala quwwata illa billah 

Talbis: masuk lewat waswasu, bisikan yang tersembunyi. Menunggangi jalur bahasa Irham.  

Mulai berlaku hukum: Sirotunnubuwwah vs Sirotuttalbis  

Dan pertanyaan kunci: Telingamu (udzunun waiyah) lebih setia ke panggilan mana? 

Fatwa Adab dari nasihat akhlak menjadi penasihat kepada Pikir. ‘Fatwa’ Adab dari bisikan waswasu menjadi pengeruh pikiran. 

 

 5.⁠ ⁠PIKIR — Bahasa Tanya (Friksi Kesadaran)  

Pikir adalah ruang antara yakin dan ragu. Mulai mengakomodir suara yang tidak hakiki, termasuk suara dirinya yang lebih rendah. Di sini manusia mulai: bertanya membandingkan bahkan membantah. 

Bahasa: Jalur Ilham 

Adzan: Hayya ‘alal falah  

Udzunun: tetap kembali ke la haula wala quwwata  

Talbis: masuk lewat pujian, Ini halus sekali, sebab pujian bisa membuat manusia lupa arah. 

 

6.⁠ ⁠NAFSU — Bahasa Penasaran (Tarikan Dunia)  

Di sini kisah Nabi Adam menjadi cermin. Peristiwa khuldi bukan sekadar pelanggaran, tapi: simbol dari rasa ingin tahu yang tidak dijaga oleh adab. 

Bahasa: Jalur Bathin 

Adzan: Allahu Akbar  

Udzunun: mengingat kembali kebesaran Allah  

Talbis: masuk lewat sanjungan  

Bedanya: Pujian (pikir) → mengganggu arah Sanjungan (nafsu) → mengikat hati  

 

7.⁠ ⁠JASAD — Bahasa Residu (Jejak Perwujudan)  

Jasad adalah hasil akhir dari seluruh proses batin. Ia membawa residu keputusan-keputusan sebelumnya. 

Bahasa: Jalur Amtsal, Perumpamaan, Hamparan Ciptaan. 

Adzan: Laa ilaha illallah  

Udzunun: Penegasan Tauhid  

Talbis: pemujaan (mengultuskan selain Allah).  

Ini titik paling rawan: ketika simbol dianggap sumber. 

 

Di tengah semua itu, ada satu kunci: Udzunun Wa’iyyah — bejana dengar dalam diri manusia. Ia yang menentukan: apakah kita lebih mendengar panggilan fitrah, atau justru terjebak dalam agresi gema talbis. Ketika Udzunun Wa’iyyah selaras dengan jalur sirothunnubuwwah, Insya Allah manusia berpotensi kembali pada posisi terbaiknya: ahsanu taqwim. 

Diskusi mengalir dengan begitu hangat dan khidmat meskipun hanya dihadiri beberapa orang saja. Dulur-dulur yang hadir mencoba mengaitkan tujuh lapisan ini dengan pengalaman pribadi, dimana kadang kita merasa “tahu”, tapi tidak benar-benar “mendengar”. Bahwa mungkin yang perlu dijaga bukan hanya apa yang dipikirkan, tetapi bagaimana cara mendengar. Karena dari situlah, arah langkah seringkali ditentukan.  

Bahwa di balik riuhnya kata-kata, masih ada bahasa yang lebih jernih, yang tidak selalu terdengar, tetapi selalu ada. Dan mungkin, perjalanan ini bukan tentang mencari yang baru, melainkan mengingat kembali suatu hal yang sejatinya kita sudah diberitahu. 

Sinau bareng menuju puncaknya di pukul 01.30 WIB. Suasana yang terasa lebih hening dan lebih dalam. Do’a dipanjatkan sebagai ucapan syukur atas terselenggaranya perjumpaan lahir dan batin, bergandengan bersama mengingat dan mendengar tentang apa yang sejatinya patut untuk didengar dan diingat. 

 

-Majlis Gugurgunung-