Suasana malam minggu di bulan Apit ini tampaknya memberi impak pada perjalanan beberapa jemaah untuk melingkar tepat waktu. Sepanjang jalan dari arah Semarang bawah terdapat banyak perhelatan penduduk dan bahkan beberapa titik digelar Pakeliran Wayang Kulit. Namun, meskin demikian, peserta tetap relatif hadir tepat waktu. Sebagaimana biasa, Sinau Bareng Gugurgunung di awali dengan lambaran tawashul. Malam itu keluarga gugurnunung disambangi oleh beberapa sedulur maiyah dari Ambarawa yang berniat ingin menggelar sinau bareng juga di area Ambarawa dan sekitar.

Setelah pembacaan Tawashshul dan indal qiyam serta doa, Jamaah kembali duduk dan mulai menyalakan kembali rokok dan menyeruput kopi yang telah terhidang. Mas Kasno mulai memimpin Sinau Bareng dengan membacakan mukadimah dan beberapa ulasan untuk memantik tanggapan dari peserta.
Sesungguhnya manusia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, yang bisa manusia lakukakan adalah menghadapi masalah. Dalam rangka menghadapi masalah, manusia akan dihimpun dengan manusia yang lain untuk saling bantu, untuk menyelesaikan masalah secara bersama. Manusia atau Wong yang dihimpun dalan satu kesamaan roso inilah yang kemudian menjadi WongSo/Wangsa.
Nabi Adam dan Cetak bitu Peradaban
Pasca peristiwa Kuldi, Nabi Adam diturunkan ke Bumi. Misi utamanya adalah sebagai Khalifah. Hadiah yang dahsyat bagi bumi karena pada fase tersebut bumi sedang chaos, khalifah sebelumnya dari bangsa Banujan telah sedemikian membuat pertumpahan darah sampai pada titik kegagalan yang benar-benar hancur. Bumi perlu ditata kembali oleh Khalifah yang berasal dari Surga, yaitu Nabi Adam.
Perjalanan awal Nabi Adam sejenak setelah diinjakkan ke bumi, adalah perjalanan catak biru peradaban. Ia hendak mencari sang istri yang terpisah, namun Allah memberikan Perintah kepadanya untuk memberi salam kepada bumi dan penghuninya, ini adalah cetak biru insan sebagai penebar salam dan rahmatan bagi alam. Mendahulukan Perintah Allah daripada kepentingan pribadi.
Kemudian ia menuruni bukit hingga ke lembah hingga sampai ke pesisir dan bibir laut, lautan yang luas itu ia arungi dengan anggapan bisa ia sebrangi dengan berenang sebagaimana ketika ia mengarungi samudera alam surgawi yang serba mudah dan menyantuni. Tapi, ternyata Nabi Adam salah kalkulasi karena laut di bumi lebih menguras tenaga hingga ia hampir kehabisan tenaga. Dengan lafadz La Haula Wala Quwwata ila billah, ia diperkenankan Allah sampai ke daratan sebrang. Ia merasa sangat letih, nafas terengah-engah, haus yang luar biasa. Nabi Adam yang belum lama menginjakkan kaki di bumi tak berani mengobati kerongkongannya sebelum Datang perintah Allah. Maka, nabi memilih menenangkan diri, mengatur nafas, sebab ia tak ingin mengulang kesalahan peristiwa Kuldi, dimana ia memasukkan sesuatu pada kerongkongannya atas dasar keinginan. Ini adalah blueprint sikap aji, yang melangkahkan kaki karena gema Tasbih yang ia dengar dari sanubari. Ini juga awal miskalkulasi hanya karena berfikir “biasanya bisa” sehingga hampir tenggelam kehabisan tenaga, namun sekaligus cetakan sikap untuk kembali berserah dan menyatakan bahwa Kekuatan adalah Milik Allah. Sikap yang kembali memosisikan sebagai hamba bukan penentu sikap diri secara gegabah hanya berdasar pengetahuan dan pengalaman. Sesampainya di daratan, Nabi Adam menahan diri namun juga mencegah kalut, cemas, takut, memimpin dirinya. Ia memilih menahan diri dan mengatur nafas untuk menundukkan rasa haus kering. Bahkan menahan diri untuk mereguk sungai yang berada di dekatnya. Bukan karena bodoh namun karena menghindari miskalkulasi lagi. Ia mengatur nafas, duduk tenang dan mendengarkan. Sikap beradab, menahan diri, berpasrah ini menegaskan posisinya sebagai hamba. Sikap Adab ini membuka gerbang langit dan membuka diri menerima Segala Petunjuk-Nya.
Sejenak kemudian, Allah segera memerintah Malaikat Jibril untuk pertama kalinya hadir menemui Nabi Adam dan menyampaikan untuk meminum air sungai yang telah disediakan Allah. Nabi Adam pun menurut, dan demi menjaga Adab, Nabi mendahulukan Bismillah baru kemudian meminumnya. itulah seteguk air yang kesegarannya luar biasa. Seolah bukan hanya kerongkongannya yang basah, namun juga hatinya, pikirannya, dan ketundukannya kepada Allah. Kesegaran ini menumbuhkan niat bahwa kelak, peradaban manusia tak boleh lepas dari kesabaran menahan diri/puasa, dan dari air. Seteguk air yang membentangkan bayangan peradaban insan. Nabi ingin mengabarkan kepada anak turunnya tentang peristiwa ini, kabar gembira tentang indahnya berpasrah, menakar diri, memohon ampun jika melakukan kesalahan dan penyelarasan kembali, bersabar, tak mudah menyerah, pantang putus asa, dan berpuasa agar Allah memberikan Rahmat-Nya secara langsung. kembali memperkuat keintiman jarak kepada Allah adalah tradisional Bani Adam.
Air tawar dan kesegaran yang menghidupkan itulah yang menginspirasi Nabi adam untuk merintis kegiatan Tandur, dengan men-direct Harmoni dari Syurga. Ringkasnya, Tanah dan Air akan menjadi Ejawantah Su Warga, melalui kegiatan Tandur dan Ternak yang rintisannya dimulai dari lingkup Keluwarga.
Seluruh hasil Pertanian dan Peternakan, diperuntukkan untuk Sajian Tama dan Maha Boga sebagai bentuk Syukuran bersama seluruh entitas penduduk bumi, baik Manusia, Jin, Denawa, Diyu, dan lainnya. Peradaban yang matang adalah peradaban yang seimbang. Harmony dan Survival. Khouf dan Roja’ dan seterusnya.
3 Mutiara Bumi
(7 Perangan diri merespon peristiwa universal)
7 Perangan diri :
1. Iman
2. Akal
3. Akhlak
4. Adab
5. Pikir
6. Nafsu
7. Jasad
3 Fase awal adalah fase dimana simulacra tidak mampu menembusnya. 3 Fase akhir adalah fase yang mulai rentan tertembus simulacra. Dan Adab adalah Fase transisi atau pintu masuk yang rentan tersusupi simulacra.
Peristiwa Global terkini, yang aktor utamanya adalah Palestina, Iran, Amerika, Israel.
Ada 3 Mutiara Bumi yang tampak dari peristiwa berdarah saat ini :
1. Mutiara Iman, oleh Palestina. Belum ada negara yang mempunyai mutiara iman paling menyala pada peradaban saat ini.
2. Mutiara Akal dan Akhlak, oleh Iran. Negara yang paling gagah berani menjaga nyala mutiara Akal dan Akhlak.
3. Mutiara Adab, oleh …. ?
Amerika dan Israel, terus menerus memainkan pesta pora yang mendistraksi pikir, yang berorientasi utama pada pemuasan Jasad dan Nafsu.
Perangan Adab ?
tergantung kepada siapa ia mau mendengarkan : Apakah akan mendengarkan Iman, Akal, Bu dan Akhlak. Atau malah mendengarkan Pikir, Jasad, dan Nafsu.
Hati Petani
Nusantara, yang menyebut dirinya sebagai Tanah Air. Segara Giri, Segara Gunung, dst ….
Bukan sekedar idiom, namun lebih kepada bangunan kesadaran spiritual yang kokoh dan tangguh untuk terus mempertemukan dua elemen penting sebagai manifestasi Tumbuh lewat lelaku Tandur, dalam hal apapun. Hati yang senantiasa menjaga kesetiaan nilai Harmoni dan Survival.
Tanah dan Air, bisa jadi adalah aktivator akan munculnya mutiara ke 3 yaitu Mutiara Adab, yang senantiasa mau mendengar Akhlak, Akal, dan Iman. Kemudian mau mendidik Pikir, Jasad, dan Nafsu.
Diskusi semakin mengalir dengan tambahan ulasan dan uraian berkaitan dengan tema.

Memang akan menjadi perjuangan yang tidak ada nilai oportunis dan kapitalis, karena transaksi tertinggi perjuangaanya mencapai level puncak …. yaitu Syuhada.
Sekitar pukul 00.30 Diskusi ditutup dengan bacaan Hamdalah dan semua peserta makan bersama. Diskusi non formal masih berlangsung hingga pukul 03.00 dan seluruh peserta undur diri setelah bersama-sama membersihkan ruangan.
-Redaksi Majlis Gugugrgunung-