Alhamdulilah, akhir tahun 2019 Majlis Gugur Gunung telah Tancep Kayon. Deretan List tentang tema besar Laku Kasantikan telah terbundeli. Guyub dan Rukun adalah salah dua diantaranya, sekaligus menjadi syarat dan tengara bahwa Majlis Gugur Gunung layak untuk Bedhol Kayon, kemudian segera membuka gelaran tema sinau bareng pada rentang 2020.
Bismillahirrohmaanirrohiim.
SALAM, merupakan tema pertama yang diangkat untuk mengawali gelaran sinau bareng Majlis Gugur Gunung pada 2020 ini. Sekaligus sebagai bangunan adab untuk mengawali sesuatu, menyampaikan salam kepada segala apa atau siapa, kepada yang telah maupun yang akan bersentuhan ataupun singgah dalam Keluwarga Gugurgunung.
Untuk mengantarkan Tema ini dalam gelaran sinau bareng, sedikitnya telah disusun 10 pertanyaan yang berkaitan dengan “Salam”, antara lain :
- Apakah arti salam?
- Apakah kehidupan alam bisa menjadi contoh salam?
- Apa yang menjadi kelebihan mekanisme salam?
- Apa yang menjadi ancaman atau pelemahannya?
- Apakah salam bisa diwujudkan jd perilaku baku?
- Apakah ada hirarki dalam mekanisme salam?
- Jika ada apa contoh atau modelnya?
- Kapankah dan dimana salam diberlakukan?
- Kepada siapa salam disampaikan?
- Bagaimana jika salam tidak bersambut?
Apakah arti Salam ?
Salam merupakan salah satu akar kata dari 3 akar kata “Islam”. Atau,
secara lughawi atau etimologis, kata “Islam” berasal dari tiga akar kata, yaitu:
a. Aslama, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT.
b. Salam, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup. Dengan berpegang teguh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka jiwa atau ruh menjadi damai (tentram).
c. Salamah, yakni menempuh jalan yang selamat. Mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT agar mencpai keselamatan di dunia dan di akhirat serta terbebas dari kesengsaraan/bencana abadi (di dunia dan akhirat). Melaksanakan kewajiban dan kebajikan serta menghindari segala yang dilarang oleh Allah SWT adalah jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Berdasarkan akar kata “Islam” tersebut, maka siapa saja yang meyakini dan mengamalkan aslama, salam, dan salamah sapat disebut beragama Islam. Atas dasar kata itu pula, maka semua Nabi membawa prinsip ajaran yang sama, yakni Islam (sekalipun mungkin namanya bukan Islam, karena antara lain perbedaan bahasa para Nabi, tapi esensinya sama yaitu Islam).
Adapun yang berpendapat bahwa makna dari Islam yaitu :
a. Al Islam Al Wajh (Menundukkan Wajah)
Islam menghendaki umatnya untuk menundukkan wajah dan dirinya kepada Allah swt. Ketundukkan itu harus dibuktikan dalam amalan berupa kebaikan yang sesuai dengan aqidah yang lurus.
b. Al Istislam (Berserah Diri)
Islam merupakan sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt dalam menghamba dan menjalankan perintah-Nya. Seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit patuh atas petunjuk-Nya.
“Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran : 83)
c. As Salam (Keselamatan)
Islam juga bermakna selamat dan sejahtera. Keselamatan adalah ciri mereka memeluk Islam, yang berarti bahwa mereka diselamatkan dari jalan yang gelap gulita ke jalan yang penuh cahaya kebenaran.
“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am : 54)
d. As Salamah (suci bersih)
Islam adalah agama yang suci dan bersih. Begitu pula yang dikehendaki dari umat Islam, yaitu suci dan bersih baik secara fisik maupun ruhaniyah.
“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, “ (QS. As Syu’ara : 89)
e. As Silmi (perdamaian)
Islam selalu tampil menebarkan cahaya bagi perdamaian seluruh umat manusia. Dengan datangnya Islam menjadikan hati menjadi tenang dan tentram.
Selanjutnya, kusampaikan salam jabat eratku bagi kesemua wahai, untuk melingkar dan bareng bareng sinau, mendiskusikan tentang 9 (sembilan) pertanyaan lainnya. Semoga implentasi Salam pada kehidupan menuju pada peningkatan yang menjulang dan mendalam justru dengan merunduk memahami arti kerendahan dan kedangkalan.




Masih dalam rangka netepi dhawuh Mbah Nun, yang setiap simpul diharapkan mengadakan workshop dalam rentang Agustus – Oktober, masih dalam rangka merespon berbagai fenomena dan informasi informasi yang beruntun dan berkelindan, dan juga masih dalam rangka terus melakukan pengembaraan diri. Oktober 2019 ini merupakan workshop ke tiga dari tiga workshop yang direncanakan. Dua workshop sebelumnya Majlis gugurgunung menggelar tema “LARAS” di bulan Agustus, dan tema “PADHANG PRANATAN” di bulan September.
Tema kali ini diangkat dalam rangka merespon banyak hal. Merespon tentang dhawuh Mbah Nun yang setiap simpul diharapkan membuat workshop dalam rentang Agustus – Oktober. Merespon tentang persambungan dan perkembangan tema Majlis gugurgunung yang semenjak mengangkat tema “Masyarakat Lebah Me-madu” pada bulan-bulan berikutnya seolah tidak terputus dan berkesinambungan sebagai seolah bahasan berseri. Setelah pada bulan kemarin MGG mengupas tema “Laras” yang di dalam bahasannya mencoba mengingat kembali amanat utama kita di dalam hidup dan gol utama dalam hidup dengan merunut jauh zaman per zaman, peradaban demi peradaban sejak sebelum era risalah kanjeng Nabi Muhammad SAW hingga terus di ujung mula peradaban Nabi Adam AS.

Dorman
Berikutnya adalah peradaban ke dua, yakni peradaban Nabi Nuh AS, pada fase ini kemajuan teknologi di segala bidang sudah banyak dicapai. Era ini sangat maju dan canggih. Sehingga masyarakat ketika itu banyak yang menyangka mereka telah berada pada puncak peradaban sempurna, penuh keberkahan dan kebahagiaan. Layak ketika datang utusan kepada mereka, dianggaplah utusan ini sebagai pihak yang membawa kekisruhan dan dilabeli tidak tahu adat. Namun demikian pekerjaan dan membangun strategi penggembosandari pihak penganut Asfala safilin tidak tinggal diam dengan perjuangan para utusan Allah ini. Pihak yang berada pada jalur merah ini menciptkaanu upaya yang dibangun dengan cara yang lembut dan menjebak. Bagaimana strategi yang dibuat? Mudah-mudahan bisa kita jadikan bahan pasinaon bareng pada malam minggu terakhir ini.