Widyakartika

Brahmana Raditya memperkenalkan diri kepada masyarakat yang tinggal di sebuah negeri yang sangat subur namun dihuni keganasan dan kebuasan. Jaman ini memasuki milenium ketiga usia bumi. Yakni ketika Bumi mulai muncul sebuah ajaran yang mengoptimalisasi atau intensifikasi ilmu batin. Awal-awal ilmu Batin digunakan untuk tujuan yang mengharapkan superioritas, namun dalam perkembangannya olah batin ini digunakan untuk menembus khazanah langit yang berguna untuk meningkatkan kualitas manusia. Maka sejak pada milenium kelima Bumi, keadaan masyarakat Bumi telah mulai terlihat form arah peradabannya. Continue reading

PASAR DAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MODEL DESA

EKONOMI PASAR

Dari beberapa paparan di awal-awal tulisan, diharapkan terbangun sebuah bingkai konsep kawasan pemukiman (Desa) dalam struktur yang terinspirasi dengan Firdaus, Paradesa. Masyarakat ini tidak akan menjadi masyarakat yang solid jika ketahanan mental, edukasi, kemandirian, etos kerja, hingga visi tidak dibangun dari bagian terkecil dalam sebuah sosial kawasan yakni KELUARGA.

Peran orangtua untuk membangun semangat menjadi manusia bermartabat adalah hal yang ditanamkan secara general, kompak, dan turun-temurun. Orangtua, berposisi sebagai semacam miniatur Hasta Janma yang memberikan ruang selengkap-lengkapnya bagi kebutuhan jawaban dari rasa ingin tahu sang anak. Pada kawasan sosial lebih luas, yakni Padusunan kelompok sosial dengan usia lebih tua akan menjadi mentor dan pengasuh bagi seluruh generasi di dalam kawasan tersebut.

Kini kita akan membahas sebentar tentang sistem ekonomi yang dibangun antar kawasan, yakni antar Padusunan dalam naungan Kaluhurahan. Disini saya akan membaginya dalam beberapa termin.

  1. Syarat Pengadaan Pasar
  2. Tugas-tugas ‘panitia’ pasar
  3. Lokasi Pasar
  4. Prinsip Dasar Pasar
  5. Arti Dagang dan Pasar
  6. Barang yang dipasarkan

SYARAT PENGADAAN PASAR

Setap Kalurahan seyogyanya memiliki pasar sendiri untuk menggulirkan pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder masyarakatnya. Arus perguliran ini harus dibangun bersama seluruh masyarakat dalam sebuah kawasan. Berikut syarat yang diperlukan untuk mengadakan Pasar yakni : Begawan, Tuha Dagang, Pamong Dagang, Pangurun Rembag, Panyarik, dan yang paling penting lagi adalah Lokasi.

FUNGSI DAN TUGAS PANITIA PASAR

FUNGSI DAN TUGAS BEGAWAN

Begawan adalah Janma Kawi yang dinisbatkan oleh masyarakat sebagai orang suci. Begawan pula sesungguhnya yang sejak awal mula menginisiasi adanya Pasar. Yakni metode berkumpul dari sebanyak-banyak orang dan saling memberikan manfaat satu dengan lainnya. Begawan akan diletakkan sebagai pihak yang akan membuka perhelatan Pasar dengan beberapa nasehat dan petuah-petuah singkat untuk kemudian dilanjutkan pada proses Masar.

Setiap Pekan Ageng / Pasar Agung pada setiap Kliwon, Sang Begawan senantiasa mengingatkan untuk saling meningkatkan pengamatan diri (eling) dan selalu waspada pada tipu daya. Baik tipu daya dari luar diri, mapun tipu daya dari dalam diri. Kemudian Sang Begawan melanjutkan bertutur tentan makna kekayaan, kesejahteraan, dan konteks terkait lain yang relevan aktual dengan kondisi yang tengah terjadi.

FUNGSI TUGAS TUHA DAGANG

Adalah seseorang yang berposisi saling menghubungkan dan membantu penebaran, penaburan. Menebarkan atau mendistribusikan barang kepada yang berkesesuaian. Menaburkan ke masing-masing tempat secara merata. ‘Tuha Dagang’ atau juga ‘Tuwa’ atau ‘Tetua Dagang’ adalah orang yang dipilih oleh masyarakat yang percaya akan kehandalan dalam menjaga dan ketelitiaanya dalam memetakan. Maka Tuha Dagang ini bukan profesi namun sebuah tugas yang dibebankan kepadanya oleh sebuah kesepakatan bersama. Tuha Dagang bisa dari Dhukun, Dhukuh, atau Dhusun yang dituakan dan disepakati oleh lintas antar padusunan. Meski demikian ada pula Tuha Dagang yang memang ditunjuk dan dipilih dengan cara lain. Misalnya ditunjuk oleh Begawan, diutus oleh Adipati atau bahkan Ratu, ini hanya soal teknis pengambilan keputusan yang harus semakin ringkas disaat melibatkan kuantiti masyarakat lebih luas.

Tuha Dagang menjadi pihak penentu Kerto Aji (nilai) akan sebuah barang. Ia memiliki pengetahuan yang komperehansif tentang sejarah pengadaan barang tersebut sehingga bisa memutuskan kertoaji barang tersebut. Apakah barang tersebut di tanam, atau tumbuh alami, atau benda-benda yang dibuat. Jika dibuat dengan bahan apa, berapa lama pembuatannya, hingga berapa jauh jarak pembuatan barang tersebut dibawa hingga ke pasar, dlsb. Sehingga tidak terjadi seekor Kuda ditukar dengan seekor kambing atau seikat sayuran. Seekor Kudai sering ditukar dengan beberapa ekor Kerbau atau Sapi. Seperangkat Gebyok yang terbuat dari Kayu Jati dan berukir-ukir tidak akan ditukar dengan Sapu lidi atau Rempeyek. Gebyok akan di kertoaji sepadan dengan proses sejarah pengadaan barang tersebut, bisa dengan sekian kilo beras, atau sekian gulung tenun.

Dengan demikian, Seorang Tuha Dagang memiliki tim konsultan yang bisa memberinya pertimbangan dan masukan untuk menentukan Kerto Aji sebuah barang. Ada konsultan di bidang pertanian dan peternakan, ada yang di bidang Pakriyan, ada konsultan di bidang sosiologi. Sebab penentuan Kerto Aji sebisa mungkin bulat (tidak sepenggal kesan) dan personal (disesuaikan dengan kerja keras di belakangnya), tidak boleh meletakkan Kerto Aji sebuah barang atau benda tanpa melihat kondisi di belakangnya, ini adalah upaya bersikap adil pada manusia.

LOKASI PASAR

TATA LETAK PASAR DAN PLANOLOGINYA

Untuk menentukan letak pasar, yang pertama kali dilakukan adalah menemukan terlebih dahulu pasar kliwonnya. Pasar Kliwon sebagai pusat yang kemudian bisa menjadi acuan penetuan letak 4 pasar yang lain. Penentuan pasar kliwon didasari sistem mata angin, yakni ditengah-tengah arah mata angin Timur, Utara, Barat, Selatan.

Utamanya, sebuah pasar harus berada pada tempat yang lapang dan datar dan mudah dijangkau. Pilihan ini sangat luwes sehingga patokan khusus hampir tidak ada karena benar-benar meletakkan pada kemudahan saling berkumpul dan bertukar pepegang /Bawaan.

PRINSIP DASAR PASAR

Jika untuk urusan mendasar yakni tentang Sandang, Pangan, dan Papan tidak mampu dijawab oleh keluarga kawasan sendiri, bagaimana hendak mengatakan merdeka? Sedangkan keluarga sendiri dalam satu kawasan saja tak bisa membantu, bagaimana bisa berharap bantuan tanpa pamrih dari luar keluarga? Maka, Pasar adalah upaya kerjasama yang meletakkan keutamaaan kesejahteraan bersama dengan cara tetap bermatabat dan melahirkan lipatan-lipatan manfaat.

Tentang wayah/ waktu dulu diatur dengan kolomongso, masyarakat umumnya sudah tau pathokan ini. Juga petuah tetua kampung yang menjadi hukum sektoral sebagai patokan yang lain. Pasar itu ada lima yakni : Pasar Legi, Pasar Paing, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon. Per lima itu yang paling besar pada pasar Kliwon dimana semua barang berkumpul jadi satu. Penentuan pasar utamanya menemukan koordinat pasa Kliwonnya dulu, titik kasihnya dulu. Baru penentuan arah pasar yang lain dengan patokan koordinat Kliwon. Sebagai pancer adalah Kliwon. Dalam tata kelola pasar, ada “Tuha Dagang” yang mengatur distribusi dan penyebaran barang. Juga mengelola untuk barang-barang yang belum tertukar agar bisa memperoleh penukaran di saat Kliwon. Pasar harus dipertahankan keramaiannya sebagai upaya saling bertemu dan bertukar informasi. Juga ada faktor penting terkait larangan menimbun “emas dan perak” menyimpan uang. Larangan penimbunan emas dan perak (alat tukar/uang kwartal) menjadikan kearifan terhadap keberadaan bahan baku sebagai simpanan pangan akan cepat bergulir. Pasar riil era industri sekarang ini sangat ditentukan oleh pasar valas dan pasar bursa. “pasar ilang kumandhange”. Tentang larangan penyimpanan emas perak, pemahamannya bukan wujud emas dan peraknya. Tapi orientasi menimbun Kapital. (visa berbagai bentuk, salah satunya uang)

Emas dan perak mulai dilihat sebagai aset kekayaan setelah bangsa kita menggunakan ‘mata’ dan persepsi kolonial yang menghausi emas. Di era Swarnadwipa, jaman yang sudah sangat lama, emas sudah kita kenal dan berhasil dikelola menjadi berbagai macam hal. Utamanya sebagai alat peribadatan dan simbol-simbol kemuliaan yang tidak dimiliki secara personal namun substansi (Keratuan, Kadipaten, dlsb). Koin-koin emas adalah simbol peribadatan yang masing banyak ditemukan hingga sekarang. Sehingga lebih kepada makna filosofis spiritual daripada alat transaksional. Kepeng Luang (tengah bolong), sebagai simbol hidup menuju ketiadaan. Dimana tengah yang bolong melambangkan “tan kiniro tan keno kinoyo ngopo”.

NGUNDUH KARUNIA

Karena pasar berkaitan dengan berbaur, menyebar, memanusiakan manusia dan menjunjung martabat bersama dalam spirit kerelaan dan bukan kepemikikan, maka Konsep Pasar adalah proses mengunduh karunia. Berkah akan semakin terkucur dengan terlibatnya banyak pihak yang beraneka latar belakang namun satu dalam hal kesantunan dan pijakan bebrayan. Semuanya berbahagia sejak berangkat dari rumah, saat saling bertemu, hingga saat kembali berpisah. Sebab utama mereka rela melakukan itu semua karena didorong oleh rasa ingin senantiasa menjadi bagian dari proses pengunduhan karunia tersebut. Pertimbangan utama dari pasar adalah berkah. Apa yang menyebabkan ini menjadi berkah, adalah :

  • Semua yan berkumpul saling mengamankan satu dengan yang lain, tidak mengganggu harta, darah, dan martabat oranglain.
  • Semua yang berkumpul membawa sesuatu dari tempatnya sebagai bawaan (pepegang) yang perlu dikurangi karena dianggap melimpah (Suda)
  • Semua yang berkumpul menjunjung kerelaan dan memprioritaskan kebahagiaan bersama dengan cara mengorbankan sedikit kebahagiaan pribadi.
  • Semua yang berkumpul mengakurasi sikap penuh rela
  • Semua yang berkumpul membangun interaksi bukan hanya seputar bawaan yang mereka bawa, namun juga tentang pengalaman hidup, tentang kebijakan dan kearifan
  • Yang mereka sunggi di atas kepala, dan yang mereka pikul di pundak mereka bukanlah barang dagangan untuk di transaksikan guna memperoleh alat tukar jual-beli berupa uang. Yang mereka junjung di atas kepala mereka adalah persaudaraan atas nama Tuhan. Dan yang mereka pikul di pundak adalah beban dunia yang merasa harus diletakkan dan dikurangi agar tidak menjadi beban akhiratnya.

QS : 62 Al Jumuah ayat 9 – 11

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.

Pasar adalah bentuk kebudayaan yang mengusung semangat kebersamaan dengan konsep ‘Salam’ ‘Silaturahim’. Menebarkan salam melalui perilaku, bukan sebatas pada kata-kata. Esensi pasar = Ruang Silaturahmi dan membersamakan diri untuk mendapatkan karunia. Membeli kepada yang kita kenali. Mekanisme pasarnya seperti omah. Semua bisa berposisi tamu dan semua bisa berpososisi tuan rumah. Dengan kerendahan hatian bukan merendahkan.

Memperlalukan orang lain sebagai bagian dari kesatuan kesadaran diri. Dengan silaturahim seperti omah, Ombo lan Mahanani (OMAH). Tuan rumah menerima dengan kebahagiaan sebagai berkah dan mencawisi apa yang dia punya. Tanpa ada saling merendahkan.

” Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

SPIRIT PASAR

PASAR DAN BERKAH

Bangsa kita sesungguhnya sangat mengerti siapa orang yang pantas mengajarkan ilmu dan kebijakan, ini akan mereka dapatkan dan cari dari para Brahmana, Resi, Begawan, Pandhito, dlsb. Bukan kepada pedagang. Pedagang merupakan pihak yang tidak cukup memiliki kadar dan kompetensi untuk menyampaikan. Bahkan masih dianggap sebagai kasta yang cukup rendah, apalagi jika pedagang tersebut adalah orang asing atau manca, secara kasta bahkan dianggap lebih rendah lagi. Rendah disini terletak pada keberdayaannya yang lemah dalam hal keamanan, policy, regulasi, dlsb. Oleh sebab demikian maka bagi yang dianggap demikian justru perlu mendapat perlindungan, dijaga, dan dibantu agar lebih mudah urusannya. Yang lain, Pasar Purwa tidak meletakkan etos keuntungan sebagai spirit utama, namun menebar dan saling berbagi kasih sayang dengan cara saling memberi dan menerima. Spirit utama pasar ‘dipawangi’ oleh seorang Resi atau Begawan yang konsentrasi utamanya bukan mengajak untuk sibuk mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi, melainkan pengkondisian masyarakat untuk menggembirai dan sibuk dengan aktifitas apapun yang memberikan keuntungan-keuntungan ukhrowi. Saya sepakat dengan Pak Agus Sunyoto dalam bukunya ATLAS WALISONGO, setelah pembawa agama diperankan oleh para alim yang memenuhi standar kebegawanan atau dari kasta brahmana maka berbondong-bondong masyarakat menaruh hormat dan mengikutinya dengan tulus.

Pasar yang dibangun oleh para leluhur kita sejak era purwa, saya menganggapnya bahkan mirip Jum’atan pada saat ini. Setiap orang berkumpul dan menggapai keberkahan bersama, namun Jum’atan saat ini pun masih cenderung formal dan belum cukup efektif menyentuh kondisi interaksi yang menggairahkan. Peran pasar bukan sebagai transaksional, tapi ada muatan pertemuan dan pembelajaran.

JEJAK KONSEP PASAR PURWA

Di beberapa daerah, salah satunya di Jakarta masih lengkap istilah Pasar, dari Pasar Minggu, Pasar Senin, dan seterusnya sampai Pasar Sabtu. Dulu ia hanya pada hari itu tempatnya jadi Pasar. Tetapi detik ini tinggal nama. Karena setiap hari jadi pasar. Satu pekan = 7 hari. Pekan = peken = Pasar. Pasar Kawi yg 5 hari, muasalnya adalah pertemuan spiritual menyembah 5 dewa di 5 titik, yang dimulai oleh Jaka Sengkala dan Resi Raddi. Lalu terjadilah pasar. Misal pasar Legi, penyembahan Dewi Sri, di Timur kabuyutan, barang2 yg dipasarkan aslinya adalah bentuk/barang jamuan untuk para tamu yg datang beribadah dari selatan, barat, utara dan tengah desa, yg berkumpul di Timur. Orang2 yg ada di timur, sebagai Tuan rumah acara ibadah, menyediakan barang2/jejamuan kepada para tamu dari barang yg sifatnya Legi/manis/putih. Begitu seterusnya berlaku di arah desa yg lain. Semakin ramai, lalu orang2 yg hanya melihat duniawi, menjadikan momen ibadah itu hanya sebagai momen dagang.

Dulu di Mekkah juga begitu, istilah yg muncul dari Quran: Siqoyatul Hajj(memberi minum para jemaah haji, menjamu) adalah tugas peminpin Mekkah kepada para tamu yg hadir dari berbagai penjuru ke Mekkah. Ratusan domba, onta, dengan senang hati dijadikan jamuan untuk para tamu. Siqoyah, dari akar kata S.Q.Y, dekat dengan akar kata S.W.Q (yg dari akar ini muncul kata Suuq/pasar).

Abu Sufyan yg menjadi pemimpin politik, semakin kokoh karena didukung Abu jahal (ekonomi) dan Abu Lahab (juru kunci Ka’bah, ‘brahmana’-nya). Kombinasi Ka’bah (sebagai pancer berkumpulnya patung 360 dewa dari segala penjuru), dan mata air zamzam, menjadikan Mekkah sebagai pusat perdagangan kala itu. Religi menjadi alat utama penguasaan politik/ekonomi.

Abu Jahal dkk menentang Muhammad terutama karena Ka’bah dan Zamzam. Siapa menguasai 2 ini, dialah penguasa Mekkah dan potensi ekonominya. Harta, tahta, dan budak wanita. Itu saja yg dilihat Abu Jahal (Stupid’s Father) dkk. Maka mereka ibaratnya mau menukar bulan dan matahari (seberapapun dirham dan dinar) demi Mekkah dan Zamzam tidak jatuh ke tangan Muhammad.

Kembali ke kondisi pasar yang menjadi tradisi kita sejak masa Purwa.

‘IRUP’ SEPENGGAL KISAH BARTER DI JEPARA

Di beberapa tahun silam, di beberapa daerah terpencil di Karimun Jawa, saat Angin Baratan …. Hampir seluruh aktifitas pelayaran dihentikan, kapal kapal besarpun pada saat cuaca seperti itu sudah terbiasa singgah berlindung di pulau pulau untuk lempar jangkar sampai angin baratan reda, ini bisa berlangsung hampir satu bulan …. Praktis aktifitas penduduk setempat untuk menjual dagangan dan membeli sembako (biasanya di Jepara) juga berhenti total. Masyarakat ttp butuh makan, awak awak kapal juga butuh untuk kelangsungan hidup, yang menarik, dari peristiwa angin baratan ini adalah, terjadinya pasar tiban. Masyarakat bermata pencaharian ikan, sayur, kelapa, buah, dll menuju ke tempat tempat kapal besar singgah atau nyandar sementara, biasanya awak kapal menyediakan minyak atau bahan bakar lain. Mereka melakukan barter pada pasar tiban tersebut. Istilahnya juga unik, …. “Irup, ben podo dene Urup, kanggo Urip” : Irup/ijol/tukar, ben podo iso Urup/nyala/kemebul pawone, ben podo dene iso Urip/memberlangsungkan kehidupan secara bersama-sama. Saat itu tahun 2006 an. Masih banyak saya jumpai di pulau pulau terpencil. Entah sekarang. Yang saya catat pada saat itu melibatkan masyarakat dari Suku Bajo (masyarakat yg hidup di atas air), suku Bugis yang hidup di hutan hutan, Jawa, Madura. Saya sepakat jika itu adalah berkah, terlihat sebagai silaturrahim tahunan, meskipun mungkin media sebagai bencana.

ARTI DAGANG DAN PASAR

DAGANGHanyuda Pepegang

Suda dalam Bahasa Kawi artinya tersedia melimpah, hanyuda artinya mengurangi. Saat ini dalam bahasa Jawa ‘Suda’ justru sering diartikan berkurang, atau menurun. Mungkin karena saling berkait sehingga terjadi pencampur-adukan makna.

Dagang artinya Nyuda pepegang : Mengurangi bawaan, sehingga orang yang datang membawa bawaan harus sebisa mungkin dikurangi tidak dibawa pulang lagi karena berhasil disebarkan. Ini juga yang memberangkatkan istilah oleh-oleh, sebab sebelum berangkat keluarga selalu berpesan : “bawalah oleh-oleh” bawalah perolehan, memperoleh saudara baru, ilmu baru, pengalaman baru, dan membawa perolehan barang yang bisa dinikmati atau dirasakan oleh anggota keluarga di rumah. ‘Nyuda pepegang’ dan ‘Oleh-oleh’bentuk pertukaran barang tanpa mata uang, alias barter.

Etos utama masyarakat adalah menjadi produsen entah produksi pangan, kerajinan, ketrampilan, atau apapun agar bisa berkontribusi dan berkesempatan ikut berbaur dengan nilai tukar produksi yang ia hasilkan. Produksi ini ada yang kadang melimpah dan lebih dari cukup untuk kebutuhan daerahnya sendiri. Kemelimpahan ini disebut sebagai ‘SUDA’.

PASAR

Produk yang melimpah baru bisa ditebarkan untuk berbagi kenikmatan kepada daerah lain. Istilah ‘MASAR’ berarti menyebar membaur, tempatnya bernama PASAR tempat berkumpul yang disepakati bersama untuk proses penyebaran dan pembauran. Apalagi tidak semua hal yang diperlukan dalam keberlangsungan komuniti bisa dipenuhi sendiri karena harus berhubungan dengan iklim dan topograsfi khusus. Seperti misalnya Beras yang tidak cocok di pesisir atau di gunung, namun Garam tidak bisa dihasilkan di gunung atau di darat karena umumnya harus di pesisir. Juga Gula Aren, pensuplai kolang-kaling dan gula, tidak seproduktif di daerah Gunung jika tumbuh di darat ataupun pesisir. Kelimpahan produk baru dibarterkan keluar sebagai ‘alat tukar’ dan berbagi kebahagiaan.

BARANG YANG DIPASARKAN

Karena ini adalah kegiatan yang mempermudah distribusi dan bergulirnya kebutuhan primer maupun non primer masyarakat setempat. Maka barang yang dipasarkan adalah hal-hal yang diproduksi, dipiara, dikembangkan, ditanam sendiri oleh masyarakatnya. Karena wilayah agraris maka produk utama yang dihasilkan adalah hasil bumi dari sektor pertanian. Maka dibuatlah inisiatif lumbung untuk menekan overstock di pasar. Sementara mulai dikembangkan sektor-sektor lain yang diproduksi. Dengan demikian tinggal mengkombinasi berbagai model produk selain pertanian, sehingga desa menjadi multi produk untuk mencukupi kebutuhan.

Apapun produk yang dihasilkan adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat didalam komunitinya dahulu. Maka masing-masing komuniti masyarakat harus tahu kebutuhannya terlebih dahulu. Ada beberapa daerah yang membutuhkan Kuda sebagai penunjang transportsi, ada yang tidak memerlukan.

BARANG DAGANGAN

Barang Dagangan adalah barang yang dibawa dan diniatkan untuk dikurangi. Yang datang ke pasar sudah tahu barang apa yang akan dibawa sesuai dengan pasarannya. Contoh : Pasar Legi untuk hal-hal yang berwarna putih, seperti garam, beras, dan hal-hal yang bersifat menerangi.

PASAR LEGI : Sesuatu yang memiliki warna putih, atau manis, atau membenderang. Seperti minyak Jarak, ia tidak putih tapi membenderangi. Beras tidak manis namun memiliki warna putih, maka beras merah tidak dijual di pasaran Legi. Ada pula garam, ia tidak manis tapi memiliki warna putih. Madu juga diperdagangkan di pasaran ini, meski ia tidak berwarna putih namun memiliki rasa manis.

PASAR PAING : Menjual sesuatu yang pahit, atau sepet. Artinya sesuatu yang jika dikonsumsi akan memberikan rasa pahit ataupun benda-benda yang tidak untuk dimakan. Seperti misal, Tembikar, Gebyok, aneka mebel, Gedhek, Tikar, peralatan dapur dan alat rumah tangga.

PASAR PON : Pada pasaran ini yang dipasarkan adalah segala hal yang berkaitan dengan obat-obatan. Akar-akaran, daun-daun obat, para ahli pengobatan yang memberikan pengobatan cuma-cuma, Jamu, juga binatang ternak.

PASAR WAGE : Dipasarkan benda-benda dan peralatan yang berkaitan dengan peribadatan, Tosan aji, wewangian seperti bunga-bunga, daun pandan, Kemenyan.

PASAR KLIWON : Semua jenis yang dipasarkan dari Legi hingga Pon berkumpul menjadi satu. Ini adalah formasi pasar paling lengkap.

RAJA BRANA RAJA KAYA

Kita bisa masuk pada pemaknaan rajabrana dipandang sebagai “ujian nafsu” rajakaya menjadi kekayaan yang sesungguhnya. Yang dimaksud dengan RAJA adalah Kedaulatan, Brana / BHARANA adalah : Sarana. Kedaulatan Sarana. RAJA KAYA : Kedaulatan Semua orang, semuanya. Kaya kemudian yang menjadi kata : Kalayak.

Pasar jaman sekarang sama sekali tereduksi dibanding konsep pasar jaman dahulu. Kita sekarang sedang beramai-ramai meminjam ‘mata’ orang lain untuk melihat segala hal. Sekelumit uraian tentang pasar jaman dahulu yang saya tulis di atas, hanya sebagai rekomendasi untuk menggunakan ‘mata’ leluhur untuk memandang kehidupan. Sehingga menjadi alat pembanding dan bisa menjadi semangat penumbuhan gebyar pasar yang seiring dengan naluri dan jiwa kita sebagai manusia.

IDE PASAR TEMATIK

Pembangunan beberapa Desa yang saling berdekatan, masing-masing desa memiliki potensi yang berbeda beda, ada pasar tematik sesuai potensinya dan mendekatkan pasar itu dilokasi penghasil produk. Pembeli yang harus datang, bukan produk yang dibawa keluar. Keberadaan pasar tematik sekaligus bisa merancang laju produksi bahan yang akan dipasarkan. Misal : Panen kacang panjang tiap Pon, panen Ikan tiap Wage. Tidak harus desa yang berdekatan, tapi juga bisa dirancang dalam Padukuhan yang berdekatan.

Tidak harus Dukuh, tapi keluarga dan tetangga yg berdekatan. Cukup 5 keluarga nampaknya pasar barter bisa dimulai. Ini adalah upaya menampakkan desa yang di atas desa, PARADESA. Bukan semata karena kekayaan dan aset fisik pada kawasan tersebut, namun karena dihuni oleh keluarga-keluarga yang saling membenderangi satu dengan yang lain. Bukan para tengkulak dan bakul yang memenuhi pasar tapi antar warga sendiri yang langsung saling berinteraksi.

Contoh nyata yang bisa direvitalisasi ada di wilayah pegunungan. Bawang merah dari sana dibeli oleh tengkulak dan pengumpul sayur untuk dibawa turun ke pasar, warga Pegunungan perlu sabun, beras, harus turun ke pasar. Kenapa tidak dibikin Pasar Tematik dimana ke Pegunungan beli sayur dengan cara bawa beras? atau orang Pegunungan bawa sayur ke pasar kampung sebelah untuk mendapatkan beras. Ini juga bisa menghubungkan desa penghasil berasnya kepada daerah penghasil sayur. Jepara tidak menghasilkan Sayuran namun produktif dengan beras. Pedut tidak dapat menghasilkan padi namun produktif akan sayuran. Disinilah peran fasilitator, menjadi pembawa beras dan pembawa sayuran bergerak menghubungkan 2 area.

SYARAT KETENTUAN SOSIAL

Inti dari segala sistem adalah menyempurnakan akhlak dalam hal apapun. Ini sekaligus garis batas yang tegas untuk sebuah habitual, apakah perlu di lanjut atau justru penting untuk dihentikan. Ini hukum dasar untuk membuat syarat dan ketentuan, harus ada regulasi yang rapi agar tidak justru menjadi kontra produktif dalam sebuah kegiatan. Peran Begawan/ Orang Suci, Lurah, Sesepuh Desa, Kabuyutan, Dhukuh, Dhusun, Dhukun dan segenap kawula warga sangat penting. Semua bekerja dalam satu tubuh yang sama yakni Ngawula kepada Tuhan dengan fungsi dan peran masing-masing.

Hal ini akan terjadi jika pemahaman nilai dan aturan sudah ditanamkan sejak kecil pada level keluarga. Dan masing-masing keluarga satu suara dalam urusan akhlak, adab, atau paugeran hidup. Satu suara ini akibat petuah yang disuarakan secara periodik dan indah dari orang suci yang tak berpihak pada kepentingan pribadinya namun berpihak pada kepentingan Tuhan.

Kepentingan Tuhan adalah segal hal yang seharusnya terjadi dan terkuak, bukan tertutupi apalagi terkubur. Yang harusnya terkuat adalah rasa kasih sayang, kebersamaan, saling menolong, saling merengkuh, saling bersusun, saling rukun, dalam keluhuran budi dan keagungan jiwa. Kenapa orang suci yang di dengar? Karena manusia leluhur kita adalah manusia spiritual yang hakekatnya hanya mau menyembah dan tunduk kepada Tuhan, bukan kepada kekayaan, jabatan, bukan pula kepada seseorang, melainkan kepada pihak yang nyata membawa kadar Tuhan di dalam dirinya. Makin dominan kadar tersebut, makin beasr pula penghormatan kepada yang bersangkutan.

–o0o–

Majlis gugurgunung.

TIM PETAN (Perdikan Pranatan)

Terlibat sebagai kontributor dalam tulisan ; Afif Junaedi, Arif Wibowo, Dhidit, Fatma Effendi, Kasno Kirana, Norman Aks, Yudi Rohmad.

सुदा sudo adj. Menyediakan berlimpah-limpah

सुदा sudo adj. banyak sekali

सुदा sudo adj. Memberi banyak

सूद sUda m. baik

भरण bharaNa adj. Memelihara

भरण bharaNa n. Upah

भरण bharaNa n. Tindakan membawa membawa

भरण bharaNa n. bergizi

भरण bharaNa n. mendukung

भरण bharaNa n. rezeki

भरण bharaNa n. mempekerjakan

भरण bharaNa n. Mendukung

कय kaya . setiap orang

काय kAya adj. Berhubungan atau dikhususkan untuk dewa Ka

काय kAya m. orang banyak

काय kAya m. modal

काय kAya m. Ada obyek yang harus dicapai

काय kAya m. koleksi

काय kAya m. rumah

काय kAya m. himpunan

 

‘Hasta Janma’ – lanjutan tulisan sebelumnya.

mandala-03

JANMA MITRA :

Adalah manusia yang memiliki kegembiraan dalam hal mengumpulkan dan menggandengkan satu dengan yang lain. Janma Mitra ini seolah-olah menugaskan dirinya untuk senantiasa membangun dan membuat metode meminimalisir dan mengangantisipasi potensi konflik, membangun harmonisasi, membuat kegiatan seni pertunjukan, merintis kebudayaan-kebudayaan yang konstruktif dan tepat sasaran. Janma Mitra lebih lintas batas, ia bisa hadir dimanapun tidak terbatas pada Padusunan atau Kalurahan tertentu. Ia termasuk jenis manusia yang menganggap desanya adalah seluas muka bumi. Oleh sebab itu selalu ada kerinduan dalam dirinya untuk mengenal, mengetahui, dan belajar hal-hal baru dan menakjubkan dari segala ruang-ruang. Meski demikian, seorang janma mitra tidak akan tiba-tiba mutlak sebagai pengelana yang melanglang buana. Yang seperti ini justru sering ditempuh oleh para janma Kawi/Pandhita.

Janma Mitra banyak lahir bentuk-bentuk menarik dan indah untuk menginspirasi masyarakat untuk saling terjalin. Ia mirip arsitek sosial budaya. Kreatifitasnya tinggi namun susah dipegang karena memiliki jiwa merdeka. Ia tidak mudah berpihak kepada manusia yang personal, namun sangat berpihak kepada kemanusiaan yang universal. Banyak dari Janma Mitra ini yang kemudian ditunjuk masyarakat padusunan untuk menjadi Dhukun / Dhukuh / Dhusun. Padanya masyarakat berharap akan ditata dan diatur dengan cara yang asyik dan menggairahkan melalui cetusan seni dan kebudayaan yang diripta (dibuat, digubah, dicipta) oleh Dhusun mereka.

JAMA BARUNA :

Baruna adalah laut, Janma ini memang memiliki spesifikasi kelautan namun tidak hanya itu. Kaitan dengan Baruna adalah angkasa. Janma Baruna selain mengakarabi laut juga memahami peta angkasa, perbintangan. Ia menjadi pihak yang merasa bisa berkontribusi kepada sosialnya dengan cara menjelalah laut dan memperdalam pengetahuan navigasi. Kemampuan yang dimiliki dan dikembangkan oleh janma baruna antaranya : Pengetahuan tentang perkapalan, Pengetahuan Navigasi, Perbintangan, Pengetahuan tentang seluk beluk/ anatomi laut, arah angin dan pengendaliannya, hingga pemetaan dan pengenalan nusa dan dwipa seberang dengan ciri dan perikehidupannya. Maka, jika ada pelaut pertama di muka bumi sangat dimungkinkan mereka berasal dari Bangsa kita. Mereka adalah leluhur kita yang melakukan pelayaran bukan untuk tujuan penaklukan dan menyerap kekayaan materi daerah yang ia kunjungi, namun untuk penjelajahan pengetahuan dan menyerap kekayaan ilmu yang mereka jumpai.

Dalam hal-hal tertentu, Janma Baruna ditugaskan oleh Keratuan untuk membawa serta warga janma yang lain untuk menyemarakkan nusa-nusa yang kosong ataupun untuk memberi warna bagi dwipa-dwipa yang dihuni oleh sosial masyarakat yang masih polos. Ini tugas yang tidak ringan, jika Anda ingin mengetahui salah satu hasil spreading _dengan data ini anda boleh tidak percaya, bahkan sangat boleh menolaknya_ rombongan ini untuk wilayah Timur lihatlah: warga Kepulauan di Samudra Pasifik (Polynesia ; Hawaii, Tahiti, Rorotongga, Wanuatu, dlsb), Bontok, Mogmog, Jepun Ainu, dan masih banyak lagi. Untuk wilayah Barat ; India (Jambudwipa), Iona(Yunani), Hawana, Kaba, Yatsattra (Yatsrib -> Madinah), Kenya, Mesir (Mizradesa), Maladewa, Madhaga Sekar /Magadha Sekar (Madagaskar), Ambarupa(Eropa) dan masih banyak lagi. Untuk wilayah Utara Ada Siberia, Eskimo, Alaska, Asia Tengah, dan ada beberapa lagi [perlu kajian khusus]. Untuk wilayah Selatan, sebuah pemukiman yang masih belum terkonfirmasi keberadaannya secara modern, namun disinyalir ada sebuah kawasan yang eksis yang luas, lengkap dengan sosial masyarakatnya yang maju dan tersembunyi, wallahu a’lam.

Catatan :

Bangsa Kawi membangun konsentrasi tetular untuk membangun kesejahteraan bersama dengan beberapa model disesuaikan kondisi topografi, kapasitas masyarakatnya, kecenderungan dan sudut pandang masing-masing.

Di wilayah ke Timur, konsentrasi diletakkan pada harmonisasi kepada alam. Cara berburu yang bermartabat, menjaga keseimbangan jagat, kerukunan hidup kepada segala elemen dan entitas, sistem kemasyarakatan ruhani. Ke wilayah Timur, dikonsentrasikan ke wilayah teknis pragmatis, seperti bercocok-tanam, arsitektural, hingga ke literasi sebagai sarana memperkaya kebutuhan aset kemanusiaannya.

Maka di bilahan Barat cenderung dibangun sistem masyarakat jasadi. Oleh sebab itu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang mengembangkan diri sebagai sebuah kerajaan dengan mengurusi secara struktural ketahanan pangan, pendidikan, arsitektural, hingga seni dan budaya.

Antara masyarakat ruhani dan masyarakat jasadi kurun waktu mengalami perkembangannya sendiri-sendiri. Yang nampak secara lahir pencapaian dan perkembangannya adalah masyarakat jasadi yang di wilayah Barat. Sedangkan perkembangan masyarakat ruhani, secara lahir nampak tak mengalami dinamika, statis dan bahkan dianggap di kemudian hari sebagai masyarakat primitif atau terbelakang. Kelak ini harus bertemu, dan menemukan keseimbangan peradaban wajah dan aurat peradaban, antara tampak dan tersembunyi, antara yang bisa dikuakkan dan yang perlu dijaga. Antara Pikiran dan hati. Antara lahir dan bathin.

JANMA UNDHAGI :

Janma ini adalah orang yang merasa bisa total berkontribusi dalam hal teknologi. Baik teknologi sederhana berupa kerajinan dan alat-alat rumah tangga yang sederhana hingga kepada teknologi yang mutakhir dan rumit. Janma Undhagi yang berperan dalam hal peralatan, kerajinan, kriya, permekanikan. Untuk mengukur salah satu legenda teknologi bangsa kawi yang didukung oleh Janma Undhagi ialah Wimana yang kini sering disebut sebagai piring terbang yang misterius. Maka janma Undhagi berisi manusia dengan karakter reseracher, observer, tekhnokrasi, mekanikal, hingga pengeksplorasi sebanyak-banyak unsur materi.

Dalam tataran Kadusunan Janma Undhagi mengkreatifi kebutuhan sehari-hari dengan alat-alat yang mempermudah, seperti gerabah, anyaman bambu, penerangan, juga peralatan dengan pengetahuan metalurgi seperti pisau, cangkul, sabit, mata luku. Kebutuhan sandang seperti tenun, pengolahan kulit binatang yang disamak, kulit atau serat pepohonan yang dijadikan bahan sandang.

Dalam tataran Kalurahan, menambah kreatifitasnya pada teknologi penyimpanan bahan pangan, teknologi pengairan.

Dalam tataran Kademangan, menambah dengan teknologi transportasi, perhiasan sebagai sesandhingan ritual peribadatan, kepeng (mata uang sebagai peranti peribadatan), pengolahan logam untuk kebutuhan pemerintahan maupun masyarakat umum, seperti bokor, tempayan, wajan wajan, yang pada tingkat padusunan dan kalurahan lebih senang menggunakan tanah.

Dalam tataran Kadipaten dan Keratuan, teknologi lebih dikonsentrasikan pada hal-hal yang lebih rumit, penggabungan pengetahuan fisik maupun metafisik yang diejawantahkan dalam teknologi materi. [Ulasan ini panjang dan lebar].

Janma Undhagi membuat pembagian tugas kreatifitas ini dalam 4 kategori :

Undhagi Bumi, Undhagi Kuwaya, Undhagi Agni, Undhagi Barata. Ini adalah pembidangan yang terkait dengan konsentrasi bahan baku.

JANMA KAWI/ PANDHITA :

Terakhir adalah Janwa Kawi atau Janma Pandhita, ini adalah jenis manusia yang memiliki cakrawala ruhani yang tajam dan bening. Janma Kawi memiliki visi masa depan dan masa lalu. Bisa berkomunikasi lintas dimensi antar makhluk di wilayah pertala. Juga dianggap bisa berkomunikasi kepada langit sebagai jalur petuah untuk diimplementasi di Bumi. Kelak cara ini banyak peniru dan tidak bisa dibedakan mana yang asli dan mana yang pura-pura.

Janma Kawi memiliki keistimewaan dalam keruhanian. Ia yang kemudian menjadi Beghawan, Resi, dan banyak sebutan lain yang intinya meletakkan Janma Kawi sebagai seseorang yang terbukti handal dalam hal penempaan hati dan kecenderungan hidupnya yang lebih senang menekuni laku keprihatinan. Pandhita berasal dari istilah Pandhe dan Hito, ‘Pandhe’ artinya = Tukang menempa, dan ‘Hito’ artinya Hati, jadi Janma Kawi juga disebut sebagai Janma Pandhito karena kekuatan bathinnya yang sanggup menempa hati agar tetap bersih dan berkesesuaian dengan kehendak Tuhan. Laku prihatin adalah menyedikitkan kehendak diri agar dikucuri ilham pemikiran, kata-kata, perilaku, dan perjalanan jiwa raga pada sebuah kehendak Agung yakni kehendak Tuhan sendiri.

-o0o-

Demikian setoran hari ini melanjutkan uraian tentang Hasta Janma. Untuk terminologi ‘Jajah Desa Melangkori’ mudah-mudahan bisa tersaji pada seri tulisan berikutnya.

TIM GUGURGUNUNG

07 JULI 2017

HASTA JANMA / 8 JENIS MANUSIA & JAJAH DESO MILANG KORI

aborigeny-indonezii-8-18

Untuk membangun ketahanan sosio kultural pada semua lapisan desa baik yang luas maupun yang tidak. Masyarakat menggunakan “OS” : hasta janma, yakni “Operating System” yang berisi 8 pilar ketahanan sosial budaya masyarakat. Tidak setiap padusunan ada 8 jenis manusia ini maka perlu interaksi antar dusun untuk bisa menemukan 8 pilar ini pada tingkat Kalurahan. 8 pilar ini juga penjaga martabat kemanusian dan martabat kehidupan. Dengan manusia bermartabat maka akan tergelar kehidupan yang bermartabat dan dengan manusia yang tidak bermartabat maka kehidupan pun tidak memiliki martabat yang baik.

Hasta janma juga bisa disebut sebagai : 8 jenis manusia penjaga martabat kehidupan. Ketika hajat kehidupan manusia masih dibangun dengan kesadaran martabat, 8 jenis manusia ini akan selalu dicari untuk menjadi pilar-pilar pertahanan nilai masyarakat. Delapan pilar tersebut adalah :

JANMA TANI :

Seseorang yang menugasi dirinya untuk berkontribusi di wilayah pertanian, bercocok tanam, peternakan, perikanan, pengelolaan air dan tanah. Janma tani akan memiliki ketajaman dalam hal ilmu titen berkaitan dengan musim yang baik dan yang kurang baik pada jenis tanduran. Dia akan menjadi bahan rujukan dalam hal-hal berkaitan dengan pertanian, perikanan, peternakan, dan kaitannya.

Hal-hal yang dikonsultasikan adalah seputar pranata mangsa (tatanan musim), dalam urusan Tani antaranya : kapan mulai tanam, benih apa yang baik untuk ditanam, penanggulangan penyakit tanaman, ikan-ikan dan binatang ternak. Hingga masa panen. Semuanya dengan adab dan perhitungan yang tidak dalam skala orientasi sempit keuntungan materi namun dalam skala orientasi laba kemanusiaan. Yakni memenuhi sisi yang utuh, laba secara materi tidak kehilangan laba kemanusiaan. Panen secara materi juga sekaligus panen kasih sayang, panen rasa syukur, panen kegembiraan lahir dan bathin.

JANMA UJAM DHUDUKAN :

Seseorang yang menugasi dirinya untuk berkontribusi di wilayah kesehatan dan pengobatan. Ia merasa mendapatkan karunia ilmu dari tuhan dalam bidang tersebut dan ingin dipergunakan kepada seluas-luas makhluk Tuhan pada batas yang bisa ia jangkau. Seorang Janma Ujam Dudukan akan memiliki kepiawaian dalam meracik tanaman, dedaunan, akar-akaran yang bisa berguna untuk menjaga agar tubuh bisa bekerja secara optimal. Upaya menyembuhkan untuk tubuh yang sedang ditimpa sakit. Dan mempertahankan agar metabolisme dan sistem kerja tubuh tetap baik dan berusia panjang. Janma Dudukan pada intinya membantu memerbaiki kondisi manusia yang sakit untuk bisa kembali sehat. Ada 3 jenis sakit yang sering menimpa manusia, 2 diantaranya bisa diupayakan penyembuhannya dan 1 yang tidak bisa. Yang pertama sakit yang bersifat medis, jenis ini bisa diupayakan penyembuhannya. Yang kedua : Sakit yang bersifat non-medis, seperti teluh, tenun, santet, dlsb. Inipun masih bisa diupayakan penyembuhannya. Yang ketiga sakit akibat karma : yang ketiga ini harus dijalani oleh yang bersangkutan karena sakitnya itu berfungsi membersihkan dirinya dari resiko penyakit hati yang merusak bukan hanya jiwa, raga namun juga ruhaninya.

JANMA PRAJURIT :

Adalah seseorang yang memiliki karakter WIRARASA yang dominan, pada karakter tersebut ia ingin mengkontribusikan kepada masyarakat. Wirarasa adalah rasa keperwiraan, ketangguhan, keperkasaan, kepiawaian dalam olah kanuragan dan pertandingan mengadu kekuatan di medan laga. Seorang janma prajurit seakan-akan menjadi pihak yang paling siap memasuki ‘Jurit’ (peperangan) karena kesiapan dan kapabilitasnya dalam hal tersebut. Di tengah masyarakat, sebab dahulu pada tingkat petani saja memiliki wirarasa, maka untuk janma prajurit keunggulannya adalah kemampuan keperwiraannya yang di atas rata-rata. Ia bisa menjangkau pengetahuan kesaktian, pandai mengatur strategi dan siasat, bisa mengayomi dan sehingga layak ditunjuk sebagai pihak yang bukan hanya mahir dalam dunia keparajuritan namun memiliki sikap pamomongan yan lembah manah andhap asor.

JANMA PANYARIK :

Janma ini adalah janma yang kuat dalam hal literasi, kepustakaan. Panyarik atau pangniarik ini kemudian tersisa sebagai istilah ‘carik’ pada jaman sekarang. Setiap desa memiliki Janma panyarik yang diambil dari seseorang diantara padusunan dalam kawasannya. Bersambung…

Masih ada 5 Janma yang lain yang belum diurai dalam tulisan ini. Sebagai cicilan hari ini, 3 janma dahulu. Besok disambung tentang Janma Panyarik dan ke 4 Janma yang lain dan kaitannya dengan Jajah Deso Milang kori.

TIM GUGURGUNUNG

06 JULI 2017