CATURANGGA

Catur

Di sini akan membahas permainan yang sudah sangat terkenal di dunia. Di Indonesia disebut “Catur”, ada juga yang menyebutnya “Sekak” . Dalam bahasa Inggris dinamai “Chess”.

Catur diciptakan pada era kawi yang sudah sangat lama menjadi permainan dan metode menebarkan nilai. Catur lengkapnya bernama ‘Caturangga’ artinya badan empat atau 4 badan. Penamaan itu punya dasar nilai filsafat yang sangat indah. Caturangga lantas dibawa ke Jambudwipa sebagai negara bagian Kawi dan misspell menjadi ‘Caturanj’ kemudian menyebar ke Persia menjadi ‘Satranj’ berlanjut penyebarannya ke Arab yang lebih terkesan pada kekhasan istilah SAKA MATI, yang di Persia berubah menjadi SHAH MAT, di Arab menjadi ‘Shah’. Penyebaran terus ke paradaban Andalusia dan menebar ke Eropa menjadi ‘Chess’. Setelah itu bisa dilihat perkembangan berikutnya.

THE CHESS PIECES ARE THE BLOCK ALPHABET WHICH SHAPES THOUGHTS; AND THESE THOUGHTS, ALTHOUGH MAKING A VISUAL DESIGN ON THE CHESSBOARD, EXPRESS THEIR BEAUTY ABSTRACTLY, LIKE A POEM. [MARCEL DUCHAMP, ADDRESS TO NEW YORK STATE CHESS ASSOCIATION, AUG. 30, 1952]

CHESS : 13c., from O.Fr. esches “chessmen,” plural of eschec “game of chess, chessboard; checkmate” from the key move of the game. Modern French still distinguishes échec “check, blow, rebuff, defeat,” from pl. échecs “chess.” The original word for “chess” is Skt. chaturanga “four members of an army” — elephants, horses, chariots, foot soldiers. This is preserved in Sp. ajedrez, from Arabic (al) shat-ranj, from Pers. chatrang, from the Skt. word.

CHECK : early 14c., “A call in chess noting one’s move has placed his opponent’s king in immediate peril,” from O.Fr. eschequier “a check at chess” (also “chess board, chess set”), from eschec, from V.L. *scaccus, from Arabic shah, from Pers. shah “king,” the principal piece in a chess game When the king is in check a player’s choices are limited. Meaning widened from chess to general sense of “adverse event” (c.1300), “sudden stoppage” (early 14c.), and by c.1700 to “a token used to check against loss or theft” (surviving in hat check) and “a check against forgery or alteration,” which gave the modern financial use of “bank check, money draft” (first recorded 1798 and often spelled cheque), probably influenced by exchequeur. Meaning “pattern of squares” (c.1400) is short for checker. Checking account is attested from 1923, Amer.Eng.

Peradaban Kawi Jawa menciptakan permainan ini sebenarnya adalah upaya pengajaran filsafat yang tidak hanya termodulasi dalam kurikulum tertulis namun pada alat peraga yang mutakhir. Para Resi dan Pujangga Jawa ingin menitipkan konsep sedulur papat kalimo pancer dalam permainan catur.

BARISAN CATUR

Barisan Catur

Catur terdiri dari 2 sap barisan, barisan awal adalah Pawana[1] atau pion sedangkan pada barisan belakang adalah buah-buah Catur yang memiliki spesialisasi kekuatan masing-masing. Pion sejak semula sudah berada di barisan kedua dari kotak terdekat dengan pemain, maka dia hanya akan menginjak 6 kotak lagi untuk berada pada tujuan akhir dari perjalanan Bidak. Bisa dikatakan tokoh utama dalam permainan Catur adalah budak yang didukung dengan kekuatan komponen yang saling bersinergi di belakangnya. Budak ini bukan bawahan yang dipahami secara normatif sekarang. Budak adalah perilaku bertanggung jawab, bekerja keras, rela berkorban, berani melangkah ke arah lebih baik, dan luhur budi pekerti. Sikap Budak yang rela berada di depan sebagai pagar betis sekaligus pasukan inti adalah sikap suci dan yang mensucikan.

BUAH CATUR

PION

PAWANA / Pujada / Bidak / Prajurit / Pawn / Pion.

Perjalanan setapak demi setapak yang harus sering berhadapan dengan banyak macam rintangan. Ini adalah representasi perjalanan suci manusia dalam menapaki pada demi pada. Pada adalah adalah langkah, atau tingkat. Tingkat spiritual ini mencapai puncaknya pada pada ke tujuh.

Pujada atau Pawana adalah buah Catur yang jumlahnya paling Banyak yakni delapan buah. Delapan Putih dan Delapan Hitam. Jumlah keseluruhan Pawana berarti enambelas. Jumlah 16 merupakan kelipatan 4. Bilangan empat menjadi penting di sini sebab ini permainan Catur (empat) atau Caturangga (Empat Badan). Namun kita tahan dulu sementara tentang bilangan empat ini. Sebelumnya ada baiknya untuk mengetahui nama asal buah Catur yang satu ini. Di Persia buah Catur yang ini dinamai Pujada, yang berarti orang-orang yang mengkhidmati langkah. Kemungkinan Pujada berasal dari kata Puja-da : Puja, adalah bentuk penghormatan dan “da” adalah gelar untuk pelaku hidup tertentu, misal; Dapunta : Da-pu-nta adalah orang yang berprofesi di dapur atau Mpu. Di tradisi Jawa kawi buah Catur ini dinamai Pawana. Pawana berarti Angin, atau dalam makna lain ialah ; yang mensucikan/ suci/ keramat/ kekudusan/ kekuatan membersihkan. Julukan ini terasa begitu berlebihan jika mengingat bahwa Pawana dalam kenyataannya hanyalah Budak-budak kecil dan tak berarti.

Namun adakah “tokoh” lain dalam permainan Catur yang mampu berfungsi seperti Pawana? Yakni bukan hanya budak atau prajurit yang diletakkan pada barisan depan, bukan hanya setiap langkahnya bisa dijegal siapapun, bukan cuma siap berkorban, bukan sekedar siap dikorbankan, namun juga dari buah Catur inilah satu-satunya yang mampu mereproduksi pasukan jika telah mencapai langkah puncak. Ketika seorang pemain Catur masih memiliki formasi yang lengkap maka Pawana hanya sebagai pemain figuran yang tidak dihitung, dianggap tidak penting dan bahkan tidak ada. Namun setelah satu demi satu anggota pasukan andalan dapat ditumbangkan oleh lawan, maka Pawana menjadi terasa sangat besar fungsi dan keberadaannya. Inilah mengapa Pawana disebut demikian, dia hanya sekedar angin yang ketika berada di sekeliling orang tak menghiraukan, tidak menghitung dan melihatnya. Namun ketika berbuahnya bunga karenanya, namun ketika tersejukkan hawa panas oleh semilirnya, semua orang bahagia. Inilah sifat dasar Pawana, senantiasa memberikan pelayanan tanpa pamrih dan rela tidak mendapat tempat terhormat di mata kasat. Demikian juga seorang Pawana yang mensucikan, suci, keramat, telah hilang “saka”-“saka” di dalam dirinya. Tidak ada yang berdiri di dalamnya melainkan hanya yang Maha Esa, Maha Tegak, Maha Tunggal.

BETENGPala / Dwarapala / Benteng / Rook/

Pala adalah penjaga, dua penjaga sering disebut Dwarapala. Pala tidak sekedar berfungsi sebagai pertahanan serangan, dia bukan sekedar bangunan yang diciptakan untuk mendapatkan gempuran demi gempuran tanpa mampu melakukan gerakan balasan. Keras dalam karakter Pala adalah keteguhannya memegang prinsip. dia sendiri memiliki kemampuan untuk menyingkirkan ancaman.

Dalam permainan Catur, penjaga ini kemudian juga disebut sebagai Benteng atau Rook. Hampir sama fungsinya bahwa benteng pada dasarnya bersifat melindungi dan pertahanan diri. Perbedaanya terletak pada karakter statis dan dinamisnya. Berbicara Pala seakan memberikan nuansa kemakhlukan sehingga terasa lebih dinamis, sedangkan Benteng bernuansa kebendaan yang bersifat diam atau statis.

Terlepas dari dua paham tersebut, paling tidak langkah Pala tidak mendapatkan modifikasi. Langkahnya lurus ke depan, ke belakang, dan tidak bisa berjalan diagonal. Kotak hitam dan putih bisa diterabas sekaligus. Sebagai penjaga memang harus berpendirian tegas tidak berkompromi secara kebudayaan, hanya berkompromi kepada tanggung-jawab terhadap ancaman yang mengganggu kenyamanan wilayahnya. Nama Rook sendiri kemungkinan berasal dari Bahasa Hindi “ रुख “ (rukh) yang artinya pendirian.

KUDAKhroda / Koda / Kuda / Khursa / Horse / Knight

Kuda adalah lambang beringas, kemarahan, kelincahan, dan bersifat mendobrak. Demikian juga yang terjadi pada langkah kuda dia melangkah empat kotak dan tidak lurus. Langkahnya mendobrak dan tentunya dobrakan dibutuhkan keberanian, kelincahan, bahkan keberingasan. Pilihan untuk mengawali sebuah dobrakan memang bermacam jenisnya. Ada yang bertumpu pada hawa nafsu yang sekedar ingin merusak tatanan atau bertumpu pada kesadaran bahwa jika tidak berani membuat dobrakan maka langkahnya menjadi normative dan tidak ada kreatifitas.

APILApil / Gajah / Bishop / Uskup / Pi l/ Elephant / Peluncur

Dalam menemukan kebenaran sejati, manusia bisa menempuhnya dengan jalan diagonal putih namun juga sekaligus jalan diagonal hitam. Ini memasuki wilayah hakekat yang tidak sederhana. Bahwa memilih jalan putih pasti kesepakatannya adalah pre konsepsi dan parameter kebudayaan. Misal Agamawan yang dalam struktur social masyarakat berjalan pada garis yang putih, dalam sudut lain ada seorang pemabuk yang dianggap berada pada jalur hitam. Namun Hitam dan Putih pada wilayah kebaikan dan kesabaran merupakan hal utuh yang tidak bisa ditawar dan dikaburkan hanya dengan warna.

Berjalan pada hal yang putih bisa menjadi jalan hitam baginya karena mampu memproduksi sikap lupa diri, bangga hati, dan cenderung merasa lebih bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan yang melalui jalan hitam bisa justru menemukan cahaya karena bergelut dengan cacian, hinaan, dan sikap perendahan lainnya. Jika segala hinaan dan cacian itu dilebur dalam kesabarannya maka sangat mungkin cahaya kebaikan terletak pada dirinya daripada agamawan. Jadi hitam dan putih adalah lambang kepribadian kita yang terkadang sangat suci dan terkadang sangat durhaka. Namun begitu juga ketika menghadapi sebuah persoalan di kancah pergaula kemanusiaan, wilayah putih adalah wilayah yang diletakkan sangat rahasia di dalam diri kita, sedangkan untuk manusia pakaian hitam maupun putih bisa menodai wilayah rahasia itu jika tidak ingat tugas utama yakni menjaga Saka dan memperjalankan pengabdian.

Dalam Kitab Ramayana ada satu menyebut demikian “milu māti kěděkan apil” artinya iku mati tertindih Gajah. Apil dalam bahasa Jawa Kawi adalah Gajah selain juga Hasti, Liman, dll. Apil kemudian digunakan oleh Bangsa Persia menjadi “Pil” dan Bangsa Arab “Fiil”.

STERSter / Perdana Menteri

Ratu bertugas memindai gerakan musuh, dia bergerak sangat fleksibel. Di antara buah Catur lain, Ratu-lah yang paling leluasa dalam langkah-langkahnya. Namun yang harus diingat dari Ratu ialah bahwa sepadan dengan kekuatannya maka sebesar itu juga kelemahannya. Jika Ratu salah bergerak dan terlalu lupa diri dalam melanglah tanpa mempertimbangkan posisi dan strategi seluruh pasukannya maka kejadian fatal akan dituai. Dengan hilangnya kekuatan Ratu maka sama dengan lemahnya pertahanan dan daya serang seluruh pasukan.

Dalam diri manusia,Ratu adalah kehendak yang jika tidak berhati-hati menggunakannya akan menjadi petaka bagi dirinya dan seluruh pasukannya. Maka kehendak harus memiliki satu hal yang hrus dijaga, yakni memastikan perjalanan penghambaan mencapai pada yang tertinggi, juga senantiasa menjaga keamanan Saka yang menjadi simbol tersambungnya Kebeningan dan Kekeruhan. Kekeruhan adalah dunia dan kebeningan adalah tempat asal sebelum dunia dan sesudah dunia. Jika tanpa kekeruhan maka Pujada atau para pejalan kaki tak teruji mampu menapaki setahap demi setahap tingkat pensucian dirinya.

SAKA / CAGAK / SEKAK

SAKASaka / Syekh / Shah / Raja / King / Malik?

Saka artinya tiang, seperti dalam buah Catur. Dalam rumah tradisional Jawa Saka adalah bangunan utama yang berfungsi sebagai penahan atap, bagian ini merupakan bagian terpenting maka disebut Saka Guru[2].

Raja atau King dalam permainan Catur dulunya disebut Saka karena dialah penyangga bangunan dan indikasi kekuatan dalam barisan, jika Saka salah menenmpatkan posisinya maka seluruh pasukan dan barisan pertahanannya dinyatakan runtuh. Saka atau Tiang berbentuk lurus tegak seperti huruf Alif dalam Hijaiyah. Fungsi Saka adalah mencitrakan dirinya dengan Sifat Tauhid Allah. Saka daam permainan Catur hamper tidak memiliki peran tapi sekaligus posisinya paling menentukan, kekuatan Saka justru karena dia sangat tidak berkekuatan bahkan oleh kekuatan Pion. Dalam perkembangan selanjutnya Saka diartikan menjadi Raja karena dia dianggap sebagai buah Catur yang paling berkuasa. Namun bisa ditilik kembali bahwa kapasitas Saka yang hanya berjalan selangkah-selangkah lebih banyak membahayakan bukan hanya untuk dirinya sendiri namun otomatis bagi seluruh jajaran pasukannya.

Dalam ungkapan masyarakat Jawa dikenal istilah Saka Guru, artinya Tiang yang paling inti yang bukan sekedar menjadi ornament dalam bangunan namun juga penyangga utama atap sebuah bangunan. Di sini ditemukan korelasi dengan “Memayu Hayuning Bawana”. Tugas Saka bukan sekedar menunjukkan kekuatan dan kegagahannya dengan berdiri tegak di tengah bangunan. Namun justru kepada sejauh mana kekuatan dan kegagahannya ditimpai sejumlah tata rangkai atap sebuah bangunan.

Ibarat Saka adalah Kepala atau pimpinan sebuah Bangsa, maka kegagahannya bukan pada menterengnya dia dengan berbagai macam citra tapi bagaimana mampu memayungu segala struktur dan elemen masyarakatnya sehingga tetap eyup dan edhum (teduh dan ternaungi). Sebab Saka yang tidak merasa bertanggung-jawab terhadap beban atapnya maka dia hanya sebagai tiang yang hanya sekedar ingin mendirikan “alif” untuk dirinya sendiri. Dengan demikian maka dia adalah Saka yang Mati. Kembali ke permainan Catur, ketika Saka sudah tidak berdaya maka sebutan untuknya adalah “Saka Mati”. Penyebutan ini makin lama makin berubah seiring dengan perkembangan permainan Catur di berbagai Bangsa. Di Arab menjadi “Shah Mat” dan di Eropa menjadi “Checkmate”.

Namun di dalam permainan Catur simbolisasi itu tidak dalam rangka tatanan dalam sistem kebudayaan manusia seperti Kerajaan ataupun Negara. Simbolisasi dalam Catur adalah visualisasi citra dalam diri sendiri dan dialektikanya dalam jagad gedhe. Meskipun nantinya bisa disambungkan dengan sangat masuk akal dalam sistem kemanusiaan di dunia.

Jika diteliti lebih mendalam maka konsep “empat” yang diisyaratkan dalam Catur itu akan mempertemukan kedalaman hati orang Jawa dan uniknya gaung bersambut dengan kejernihan dalam Islam. Kemudian apakah Saka di dalam diri kita? Apa itu pion? Kuda? Ratu? Gajah? Dimanakah letak mereka dalam diri kita? Mungkinkan berbagai karakter-karakter itu berada langsung dan bersamaan dalam diri manusia? Nanti dalam bab khusus akan kita urai bersama.

HITAM PUTIH

HITAM PUTIH

Seperti halnya konsep dasar Blangkon. Hitam dan Putih atau gelap terang dalam papan Catur dibuat berjumlah sama antara hitam dan putihnya, maksudnya adalah keseimbangan. Tidak hanya tentang keseimbangan, jumlah delapan kali delapan merupakan enampuluh empat. Matriksnya adalah angak 6 dan 4. Dalam Bahasa Jawa Kawi 6 adalah Yam, sedangkan 4 adalah Catur. Tidak sampai di situ karena inilah sebenarnya esensi dari Catur. Dalam ajaran leluhur yang kini telah berada pada alam pitara, Yam disimbolkan dengan bentuk lingkaran berwarna putih. Dalam tingkatan Cakra[3], maka enam adalah bentuk mata ke-tiga yang berada di antara dua alis agak ke atas.

Para Cendekia jaman dahulu memainkan Catur di keramaian lalu-lalang manusia. Sang Cendekia ini kemudian menawarkan diri kepada orang-orang yang lewat untuk bisa mengalahkannya, sementara dia siap melawan hanya dengan beberapa langkah, dan ketika sang cendekia ini melakukan langkah yang melebihi dari kesepakatan yang dijanjikan maka penantangnya dinyatakan menang. Bagi yang menang Sang Cendekia akan memberikan hadiah berupa sekapur sirih sebagai tanda penghormatan. Jika Sang Cendekia yang menang pada permainan ke sekian dia menutup untuk membuka lagi permainan esok hari sambil mengatakan :

“kini papan catur telah ditutup, permainan baru saja selesai, hitam dan putih sudah tidak ada, mereka sudah melebur menyatu dalam satu kotak, permainan sesungguhnya baru dibuka, dan silahkan kisanak semua memainkan langkah-langkah yang baik dan menjaga agar Saka tidak mati serta menyelesaikan pawanan pada langkah terakhir jika mampu, jikapun tidak mampu gerak menuju ke sana sudah merupakan tanda bahwa kisanak sangat bersungguh-sungguh menjalani laku”.

Dalam pengembangan lain, Yam adalah penyingkatan dari kata Yama. Yama adalah Dewa yang mengetuai para pitara, pitara adalah bahasa untuk menyebut kehidupan alam Ruh. YYama juga berarti pengekangan diri atau pengendalian diri, perpanjangannya adalah Yamabrata. Maka di dalam jumlah yang 64 itu diinformasikan tentang satu entitas yang “bekerja” di dalam wilayah Ruh, para Yama ini berjumlah empat. Siapakah mereka? Dan apa tugas-tugasnya? Sebelum ke sana ada satu lagi hal perlu diketahui bahwa ketika Yam dan Catur dijumlahkan maka hasilnya adalah 10 atau Dasa, Dasa juga memiliki makna budak, hamba, atau abdi. Sehingga jika hendak diterjemahkan bebas angka sepuluh adalah penggambaran sederhana tentang Ada dan ketiadaan.

Penggambaran sederhana berupa kotak-kotak berwarna hitam dan putih dalam permukaan papan Catur juga memaparkan perjalanan 7 tingkat, nantinya ini akan berkait juga dengan konsep Islam yang juga memiliki perhatian khusus dengan angka 7. Mengapa jumlah tingkat hanya 7 sementara dalam papan Catur ada delapan baris? Sesungguhnya permainan Catur adalah permainan perjalanan jiwa manusia yang terepresentasikan dalam buah bidak Catur, jumlah mereka delapan di barisan warna Putih dan delapan buah di barisan warna hitam.

Ketika Papan Catur ditangkupkan maka akan bertemu masing-masing warna hitam putih berpasangan. Seperti mengisyaratkan bahwa ini hanya permainan, tidak ada kemenangan hitam ataupun kemenangan Putih, semuanya kosong, nisbi, dan yang ada hanya Yang Maha Ada. Permaian sebenarnya baru saja dimulai dengan melihat sejauh mana strategi segala kekuatan menghantarkan Pawana kepada tingkat tertinggi. Sudah seberapa bereskah pilah-pilah fungsi dalam diri, apakah sudah didominasi Pawana/Pujada yang mengkhidmati langkah demi langkah guna menuju kesucian? Ataukah justru lebih banyak Ratu di dalam diri kita? Bahkan atu justru lebih banyak Saka kita tegakkan tanpa sengaja sehingga berkali-kali harus kena “Skakmat” atau Saka mati.

SAKA MATI

SHEIK :

“head of an Arab family,” also “head of a Muslim religious order,” 1570s, from Arabic shaykh “chief,” lit. “old man,” from base of SHAKHA “to grow old.” Popularized by “The Sheik,” novel in Arabian setting by E.M. Hull (1919), and movie version “The Sheikh,” 1921, starring Rudolph Valentino, which gave it a 1920s sense of “strong, romantic lover.”

CHECKMATE :

mid-14c., from O.Fr. eschec mat, from Arabic shah mat “the king died” which according to Barnhart is a misinterpretation of Persian mat “be astonished” as mata “to die,” mat “he is dead.” Hence Persian shah mat, the ultimate source of the word, would be literally “the king is left helpless, the king is stumped.” As a verb, from late 14c. Related: Checkmated.

CHECK :

late 14c., in chess; All the other senses seem to have developed from this one: “To arrest, stop,” late 14c.; “to hold in restraint” (1620s); “to hold up or control” (an assertion, a person, etc.) by comparison with some authority or record, 1690s (as a player in chess limits his opponent’s ability to move when he places his opponent’s king in check). Hence, to check off (1839); to check up (1889); to check in or out (in a hotel, of a library book, etc.).

Saka berbentuk tegak, ini semacam wewaler bahwa karena posisi Saka yang tegak maka posisinya menjadi sangat riskan, dia bisa menjadi cerminan dari Yang Maha Tegak, ataupun bisa menjadi “pembanding” dari Yang Maha Tegak. Jika menjadi pembanding sesungguhnya Saka tidak akan pernah kuat menyangga dan pasti akan tumbang. Saka akan menjadi Saka Guru jika dia berformasi empat secara proporsional dan sebanding.

 

[1] Pawana berarti Angin, atau dalam makna lain ialah ; yang mensucikan/ suci/ keramat/ kekudusan/ kekuatan membersihkan.
[2] Saka guru, merupakan struktur utama pada bangunan rumah adat Jawa yang lebih dikenal dengan Rumah Joglo. Saka guru adalah sebutan untuk tiang atau pilar yang berjumlah 4 buah. Tiang ini terbuat dari jenis kayu dengan besaran yang berbeda-beda menurut pada beban yang menumpang di atasnya. Saka guru berfungsi menahan beban di atasnya yaitu balok tumpang sari dan brunjung, molo, usuk, reng, dan genteng. Saka guru berfungsi sebagai konstruksi pusat dari bangunan Joglo karena letaknya di tengah bangunan tersebut
[3] Chakra Six: Light, Archetypal identity, oriented to self-reflection. This chakra is known as the brow chakra or third eye center. It is related to the act of seeing, both physically and intuitively. As such it opens our psychic faculties and our understanding of archetypal levels. When healthy it allows us to see clearly, in effect, letting us "see the big picture."
  Meaning: Austerity.   Location: Between Eyebrows.   Beyond Element: Beyond.   Attributes: Transcending Senses, Experiencing God-In-Self or Atman.   Desire: Becoming Non-Acquisitive, a neutral observer.   Activity: Mercy, Honesty and Forgiveness.   Symbol: White Circle, 2 Luminous Petals in which all the Elements are combined.   Mantra: Repetition of the powerful Bijan Mantra-Om. Elevates the speaker form everyday reality, through concentration, to the meditative state. Each Petal has a Sanskrit letter (Ham and Ksham).   Deities: Each Chakra has a Manifestation of the Shiva and Shakti Deities. Ardhanarlshvara - Half-Male, Half-Female, Shiva-Shakti, No longer Separate. Hakini Shakti - Imparts Awareness of Non-Duality.

 

Tatanan Desa Turun Temurun II

Masih melanjutkan pijakan dalam mendampingi pertumbuhan di tingkat keluarga dan antar keluarga. Bab yang kemarin sudah dibahas tentang pendampingan kepada anak usia tunggal, Konsep Tunggal. Kini berlanjut ke Konsep Kawelasan.

Konsep KAWELASAN

Yakni untuk fase usia 11 – 19 tahun. Di usia ini anak sudah menemukan keluarga yang lebih besar. Yakni pertemuannya dengan kombinasi keluarga lain dalam tingkat Dusun (atau Dukuh atau Dukun). Semua keluarga yang ada pada Dusun itu akan membantu anak tumbuh dengan memberikan paugeran dan melatih anak untuk mengerti tentang belas kasih. Anak tidak lagi terus menyangka bahwa ia adalah pusat semesta, ia adalah bagian dari yang lain yang orang lain juga punya keinginan yang sama dalam hal mendapatkan sesuatu yang terindah dan terbaik. Di sini anak-anak biasanya dilatih tepo sariro dan kepeduliannya dengan diberikan kambing, kerbau, atau sapi untuk digembalakan. Agar anak menemukan ilmu Angon langsung dengan pengalaman dan tanggung-jawabnya secara akurat dan empiris.

Konsep KUR-KURAN (pengukuran)

Yakni fase pertumbuhan manusia di usia 21 – 29 tahun. Pada usia ini seseorang telah beranjak makin dewasa, ia harus mendapati pengalaman dalam hal mawas diri, memetakan posisi, mengukur situasi dan pilihan sikap. Di usia ini keluarga yang ia temui bisa lebih luas lagi, sebab ia mulai diijinkan menjelajah pengalaman dengan melakukan perjalanan ke kawasan lain. Ia perlu pandai membawa diri, menjaga sikap secara terukur. Pada usia ini ada fase yang disebut fase ‘kemlawe’ yang berarti tandang, tandhing (mengerjakan, menghadapi). Usia kemlawe terletak di usia Selawe atau 25 tahun. Masyarakat memahami bahwa usia kur-kuran adalah usia seseorang merasa hebat, merasa pandai, paling ahli, brangasan, merasa tak tertandingi. Ada yang merasa hebat dalam hal fisik, ada pula yang merasa hebat dalam hal pemikiran, dan ada pula yang merasa hebat dalam hal peribadatan. Di usia 25 tahun ini, seseorang akan mengalami fase keterbalikan dari rumus ukuran yang sempat ia anggap benar. Ia akan disadarkan bahwa ukuran-ukuran dan persepsinya dalam melihat hidup harus melibatkan Tuhan sebagai perancang utama kehidupan langit dan bumi dan segala semesta alam.

Usia 21 – 24
Belajar mengukur, analisis, observasi, inspeksi, optimisme, search, research, masa depan, masa lalu, menakar kemampuan, memandang dinamika keadaan, menelisik tujuan.
Ekses minus : over kalkulatif, percaya ukurannya sebagai standar kebenaran, ambisius, menabrak norma / ukuran umum / paugeran.

Usia 25 (SELAWE)
Sinau kemlawe, tandang, menep
Ekses minus : leyeh-leyeh, lenggang (tinggal glanggang colong playu). Acuh tak acuh, cuek, tak bertanggung jawab.

Usia 26 – 29
Mengukur dengan lebih cermat ; Mengalikan/memberkalikan kesungguhan. Membagi skala prioritas/ menata. Menambahkan kesadaran/introspeksi. Mengurangi ambisi-ambisi melampaui batas.
Ekses minus : pesimistis, paranoid, over dramatic calculative, takut kepada hitungan sendiri

Konsep LUH-LUHAN (Luluh, Peluruhan)

Yakni fase manusia pada rentang usia 31 – 39 tahun. Pada usia ini seseorang sudah dianggap bagian inti yang produktif bagi pertahanan hidup sebuah Kawasan. Ia bisa menyumbangkan tenaga, pemikiran, dan harta, atau salah satu dari ketiganya untuk melebur menjadi bagian dari hajat bersama dalam sosial kawasan. Di usia ini banyak yang sudah melanjutkan menjadi Bopo atau Biyung, menjadi Yayah atau Wibi. Pelajarannya adalah meluruhkan keinginan dan kepemilikan pribadi untuk pihak lain dengan segenap kasih sayang. Pada fase ini maka, mereka sudah memiliki kulowargo atau keluarga sendiri. Bagi keluarga yang lebih sepuh akan memberikan banyak support kepada pasangan keluarga muda yang masih belum banyak pengalaman dalam menghadapi & menyelesaikan beberapa persolaan. Demikian maka fase ini akan kembali kepada fase tentang Keluarga di awal. Keluarga sebagai turunan Dusun, Dusun sebagai turunan Luhurah.

Wilayah Kelurahan

Wilayah ini adalah kawasan yang tergabung dari beberapa Padusunan. Sebuah Kelurahan dipimpin oleh seorang Luhurah yang bertugas merentangkan dan menjulurkan kehidupan, meluhurkan kehidupan. Luhurah adalah sosok yang dianggap pantas memimpin di atas para Dhusun karena kehandalan, kelebihannya dan kematangannya dalam memimpin. Luhur = Tinggi, Mulia. Rah = Rah : Hidup/ Kehidupan/ Putaran kehidupan/ Darah. Luhur Rah = Kehidupan yang mulia / kehidupan yang luhur.

Luhurah kini disingkat menjadi Lurah. Inilah kondisi struktur sosial yang representatif dengan kondisi Paradesa. Maka kawasan di bawah kepemimpinan Lurah ini lebih ditengarai sebagai Desa. Dinamikanya lebih kompleks, namun bisa membina hubungan saling memudahkan dan meringankan satu dengan yang lain. Disini pula lahir tradisi kebersamaan Gotong Royok-Boyong (Gotong Royong) atau Gugur gunung sebagai kegiatan kebersamaan masyarakat yang hidup bareng dalam keluarga besar yang menjunjung keluhuran di wilayah Kelurahan.

Lurah akan saling bersambung dan berjalinan dengan Kelurahan yang lain untuk membangun kawasan terintegrasi secara lebih luas. Kawasan berikutnya ialah Kademangan yang dipimpin oleh seorang Demang. Kademangan akan saling bertaut dan bergabung dengan Kademangan lain dengan kawasan yang disebut sebagai Kadipaten dengan pemimpin yang ditunjuk dengan sebutan Adipati. Kadipaten terintegrasi dengan Kadipaten yang lain dalam kawasan yang disebut sebagai Keratuan dengan pemimpin yang disebut sebagai Ratu atau Sang Noto atau Prabu. Keratuan sering disingkat menjadi Kraton. Maka untuk mendapati kawasan Keratuan yang sayuk rukun, toto titi tentrem kerto raharjo bermula dari kondisi paling mendasar sebagai komponen termungilnya yakni Keluarga yang dipimpin dengan baik untuk mengawal generasi seiring umur dengan pendidikan yang baik. Kemudian masing-masing keluarga diatur di bawah kepemimpinan Dusun yang baik, dan seterusnya. Maka pembinaan pada level keluarga inilah yang sangat fundamental mempengaruhi pengukuhan kedaulatan sebuah kawasan yang berbudi-pekerti luhur.

TIM GUGURGUNUNG

05 JULI 2017.

Tatanan Desa Turun Temurun

keluarga

Pada pembahasan sebelumnya kita bahas tentang Desa yang beratutan dengan Paradise dan Firdaus. Kini kita mulai untuk memahami kondisi Desa yang sejak awal jaman dibangun hingga untuk diterapkan pada akhir jaman. Perubahan Desa secara fisik pasti terjadi, namun konsep utama desa atau kawasan sebisa mungkin tetap dipertahankan sebagai bagian dari memperjuangkan Sunatullah. Kenapa demikian? Sebab kawasan yang dihuni oleh manusia seyogyanya tidak terlepas apalagi melepaskan diri dari urusan langit.

Sejak mula, desa dibangun dengan konsep pertautan antara langit dan bumi. Sebab konsep kehakikian penciptaan dengan unsur Sukma, Jiwa, dan Jasad telah secara baik dipahami oleh leluhur kita yang memiliki pengetahuan bulat tentang sebuah kediaman atau kawasan yang sempurna bernama Surga. Kembali saya ingatkan untuk jangan terjebak menganggap bahwa kehidupan awal manusia itu primitif, dungu, kagetan, gumunan dan tak tahu apapun kecuali memenuhi urusan perut. Itu salah parah karena sama saja menuduh Nabi Adam AS sebagai yang pertama adalah sosok yang demikian. Justru dari sekian rentang peradaban, jika ada yang paling dungu, kagetan, gumunan, adalah peradaban kita saat ini.

Pengetahuan leluhur yang adiluhung memberangkatkan peradaban dengan keindahan, kebaikan, kebenaran, sebagai konsep dasar ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan segala hal pasti dengan unsur itu ; Baik, Benar, Indah. Unsur ini adalah unsur spiritual. Tidak membosankan dan senantiasa menebar menyalurkan inspirasi. Oleh sebab itu Sandang dirancang dengan konsep spiritual. Papan dibangun dengan konsep spiritual. Pangan dikembangkan dengan mengacu pada tatanan dan paugeran spiritual. Sehingga para leluhur kita seakan tidak mau menyia-nyiakan sejengkal tanahpun tanpa ada Tuhan padanya. Tak ingin mengabaikan peristiwa apapun tanpa ada andil Tuhan di dalamnya. Tak ingin membuang hal sepele apapun tanpa meminta ijin dan mempertimbangkan jauh ke depan sebagai tanggung-jawab perilakunya kepada Tuhan. Leluhur kita disebut luhur bukan karena sudah menjadi ruh-ruh gentayangan. Disebut luhur karena telah meruhani menjadi satu dengan spirit keluhuran akibat dari perilakunya di dunia yang senantiasa menjaga keluhuran.

Konsep Keluhuran inilah yang hendak terus diwariskan kepada anak turun hingga pada jaman kita saat ini. Ada istilah “Wong kang ngalah luhur wekasane” / Orang yang mengalah akan membekaskan keluhuran, “Budi luhur lembah manah andhap asor” / Budi yang luhur, dan rendah hati, “Wong luhur iku awit premono ing Kang Moho Luhur” / Orang luhur itu akibat dari ketelitiannya pada Yang Maha Luhur. Untuk menyusun skema keluhuran ini, dibuatlah beberapa lapis kepemimpinan untuk kemudian saling berpilin berjalinan pada kelompok sosial lebih besar.

Keluarga (Kulowargo)

Inilah pola paling fundamental yang akan memberangkatkan warganya melakukan perjalanan menemukan keluarga-keluarga berikutnya dalam ikatan dan pengalaman lebih luas dan terintegrasi. Oleh sebab itu, sejak bermula dari sini peraturan utama yang ditanamkan adalah kejujuran sebagai representasi sikap luhur. Setelah kejujuran, setiap keluarga akan menanamkan kegembiraan saling berbagi sebagai bekal kehidupannya yang kelak makin harus mengerti bahwa untuk dimengerti dan diperhartikan oleh Tuhan, maka harus mengerti dan memberi perhatian kepada makhluk ciptaanNya.

Konsep Tunggal, adalah pendampingan keluarga kepada anak usia dengan nomina angka Tunggal 1 – 9 tahun. Konsep yang diberikan adalah memahami anak bahwa karena usianya tunggal maka anak perlu diakomodir semestanya yang merasa menjadi ‘pusat semesta’, menjadi pihak yang harus mendapat predikat terbaik, memperoleh hadiah dan pujian terbaik, mendapat perhatian utama, dan mendapat pengakuan dari lingkungannya. Inilah yang perlu dipahami orangtua kepada anaknya pada fase usia tunggal. Selain itu, orangtua perlu membuat pagar-pagar (paugeran) agar dengan karakternya yang seperti itu, anak tetap bisa belajar tentang berbagi. Konsep ini akan terus berangkat ke fase usia berikutnya, yakni usia las-lasan usia belas kasih (kawelasan). Pada ‘pemerintahan’ keluarga. Bapak, atau BOPO, adalah sebagai ‘kepala negaranya’. Disebut Bopo karena Ubo lan Upo, Ubo itu ubet, obah, bergerak untuk memenuhi fasilitas keluarga. Upo adalah adalah Nasi, simbol pangan, Upo juga merupakan Upoyo, dimana Nasi yang didapatkan harus dengan usaha dan upaya yang baik, benar, serta indah, agar menjadi hidangan yang memberikan vibrasi dan kadar cahaya berkah yang besar bagi keluarganya.

Konsep Kawelasan, yakni untuk fase usia 11 – 19 tahun. Di usian ini anak sudah menemukan keluarga yang lebih besar. Demikan dahulu, ke depan kita lanjutkan pembahasan tentang Konsep Kawelasan dan ke atasnya.

TIM GUGURGUNUNG

04 Juli 2017

PERCAKAPAN JABANG BAYI KEPADA DIRI

Pemantik :

Naskah Teater Singkat / Monolog

PERCAKAPAN JABANG BAYI KEPADA DIRI

Ada sedikit cerita tentang percakapan antara manusia dari lahir hingga tua dengan Jabang bayinya. Ketika seorang manusia tersebut terlahirkan di dunia dan menjadi bayi maka dia berkata kepada Janinnya. Dialog Jabang Merah kepada Jabang Bayi.

Jabang Merah : “Bersyukurlah kita yang telah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan, walaupun belum banyak yang bisa kita perbuat, kita sadar bahwa masih sulit untuk mengucap syahadat namun hati sungguh telah bersaksi”

Lalu seiring berjalannya waktu si bayi telah menjadi seorang anak. Dan si anak tadi berbicara dengan si Janin. Dialog Jabang Jingga kepada Jabang Bayi :

Jabang Jingga : “aku sudah diberi kenikmatan bahwa aku dapat berbicara, berjalan bukan hanya sekedar membuka dan memejamkan mata”

Jabang bayi : “ baguslah, tapi semoga tingkah laku dan ucapanmu tetap berkesesuaian dengan kesaksianmu”

Lalu ketika mulai beranjak remaja berkata lagi kepada si Janin, ia mulai bisa berpolah tingkah dengan pilihannya. Mulai bisa berfikir dan menganalisis persoalan, hingga mengenal cinta kepada lawan kelamin. Dialog Jabang Kuning kepada Jabang Bayi :

Jabang Kuning : “aku telah bisa merasakan yang namanya cinta, lengkap sudah hidupku”

Jabang Bayi : “Kita ini sudah diberi stempel untuk menjadi abdi Gusti Allah, semoga hatimu masih sejalan dengan itu”

Jabang Kuning : “Tenanglah, kita ini sedang hidup didunia, tak perlulah sebentar-sebentar berbicara demikian”

Jabang Bayi : “Tapi kita perlu sebentar-sebentar mengingat demikian”

Jabang Kuning : “Kenapa?”

Jabang Bayi : “Karena sesuatu yang kemudian menjadi lama hanya dimulai dengan awal yang sebentar. Kita lupa secara berangsur-angsur dan lama karena pernah ada satu hal singkat yang kita biarkan tumbuh dan melenakan. Bisa tentang kepandaian, bisa tentang ketenaran, bisa tentang cinta kepada fatamorgana dunia”

Jabang Kuning : “Tidak ada yang salah dengan dunia, kita semua belajar darinya karena kita masih menjadi penghuni dunia, itulah laku”

Jabang Bayi : “Namun, tetaplah Laku dalam kebeningan. Laku Wening. Kuning”

Lalu ketika si remaja merasakan kekecewaan cinta di dunia si Janin lalu berkata kepada dirinya sendiri. Dialog Jabang Ijem kepada Jabang Bayi :

Jabang Ijem : “Apa yang kurang dari diriku? Kasing sayang, perhatian, cinta, fisik yang sempurna, kepandaian, harta kekayaan, ketenaran? Semua sudah ada pada diriku, apa yang ia cari sehingga bisa dengan sangat bodoh dan keji mencampakkan aku?”

Jabang Bayi : “Itulah sedikit cara untuk mengingat kembali, bahwa setiap persoalan itu tidak akan selalu sesuai dengan apa yang diharapkan”

Jabang Ijem : “Aku tidak berharap banyak, aku hanya ingin bersamanya”

Jabang Bayi : “Tapi dia tidak ingin bersamamu”

Jabang Ijem : “Kenapa?”

Jabang Bayi : “Karena, kamu masih menyangka bahwa keinginan dan imajinasi keindahanmu adalah terbaik dan diam-diam menuntut kepada orang lain untuk melayanimu, sedangkan kamu terus dilayani, kamu tak mengenal kekecewaan dan pengorbanan”

Jabang Ijem : “Tidak! aku tidak pernah menuntut apapun, aku akan memberi apapun untuknya”

Jabang Bayi : “Apakah kau sanggup memberinya kebebasan memilih yang ia cintai meski ia bukan dirimu?”

Jabang Ijem : “Tidak, itu yang aku tidak sanggup”

Jabang Bayi : “Sesungguhnya banyak yang kamu tidak akan sanggup kepada hal-hal yang membuatmu rugi atau kecewa karena sesungguhnya kamu masih remaja yang hanya sanggup berbuat sesuatu ketika berimbas pada keuntunganmu. Entah menjadi makin kelihatan baik hati atau makin kelihatan sempurna. Kamu perlu belajar menenangkan diri. Idi ing Jenjem : Bersungguh-sungguh dan tenang”

Jabang Ijem : “hmmh”

Ketika si remaja beranjak dewasa lalu memiliki sebuah keberhasilan karir, lalu sombong kepada si Janin yang terlalu banyak menasehatinya. Dialog Jabang Milangit kepada Jabang Bayi :

Jabang Milangit : “Wahai.. kini lihatlah aku. Sebagai orang yang sukses merintis dan meniti karier. Aku punya kekayaan, punya pengagum, punya anak dan istri yang mengagumiku pula, punya yayasan untuk para terlantar. Itu karena aku adalah teladan kehidupan, bisa bangkit dari keterpurukan, dan tidak cengeng sedikit-sedikit sambat sama Tuhan”

Jabang Bayi : “Dirimu kurang adanya, karena kurangnya kehadiran Gusti Allah dalam setiap pilihan hidup dan langkah kebijakanmu, yang ada hanya dirimu memuliakan dirimu sendiri”

Jabang Milangit : “Kamu pendengki”

Jabang Bayi : “Hanya pendengki yang memahami petuah sebagai kedengkian”

Jabang Milangit : “Kamu iri dan berusaha tetap menang”

Jabang Bayi : “Hanya yang takut kehilangan baju yang menuduh orang telanjang sebagai calon maling. Pada yang butuh pengagum sebanyak-banyaknya yang pintar menuduh ‘iri’ kepada yang tidak ikut mengagumi, padahal kau sendiri yang iri”

Jabang Milangit : “haaahhh…!!!!”

Kemudian Manusia beranjak lagi ke tahap berikutnya. Menjadi Tua dan menemui banyak peristiwa yang menyadarkannya bahwa keagungan dan keluhuran tidak terletak semata pada keagungan dan keluhuran dirinya di mata orang. Namun bagaimana oranglain merasa damai dan tenang dengan kehadirannya. Si Manusia mulai melihat segala hal dengan kacamata ketuhanan. Kemudian ia berkata kepada si Janin. Dialog Jabang Wulung kepada Jabang Bayi :

Jabang Wulung : “Kehidupan memberikan pelajaran dan pengajaran, ternyata intinya kita mesti menebarkan Salam seluas-luasnya”

Jabang Bayi : “Kehidupan akan menjadi makin indah dan luas dengan makin banyaknya pemikiran dan perilaku seperti itu”

Jabang Wulung : “Kenapa tidak banyak yang mau melakukannya?”

Jabang Bayi : “Karena perlu proses panjang untuk mencerna hikmah, dan setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam mencernanya. Ada yang cepat ada yang lambat pula”

Jabang Wulung : “Apa yang menyebabkan? Kenapa ada yang cepat ada pula yang lambat ?”

Jabang Bayi : “Karena setiap orang berbeda dalam melihat waktu. Ada yang melihat waktu sebagai sangat singkat sehingga hanya akan memilih hal-hal yang baik dan bermanfaat. Ada pula yang melihat waktu sebagai sangat lama maka ia akan merasa memiliki waktu untuk mengumpulkan, menimbun, hal-hal yang sia-sia”

Jabang Wulung : “Contohnya?”

Jabang Bayi : “Ia tidak menikmatinya di kemudian hari bahkan bisa menyesalinya, jika demikian itulah sia-sia”

Jabang Wulung : “hmmh” berkernyit

Kemudian senja kala tiba dan si manusia ini ketika sudah beranjak tua yang fisiknya sudah tidak sekuat dulu berkata kepada si Janin. Dialog Jabang Wungu kepada Jabang Bayi :

Jabang Wungu : “aku sudah lemah, tidak berdaya, dan ternyata benarlah ucapanmu selama ini”

Jabang Bayi : “Ucapanku adalah ucapanmu yang perlu kau temukan kebenarannya selama ini”

-o0o-

Sebagai Naskah persembahan yang disiapkan untuk Pakde Fuad di acara Fuadussab’ah 8 JULI 2017. Keluarga gugurgunung mengucapkan sugeng ambal warso yang ke – 70, terimakasih kami ucapkan kepada panjenengan yang telah menjadi guru yang menemani dan mengajarkan kepada kami hikmah Kitab, juga suri tauladan perilaku utama penjenengan. Semoga diperkenankan oleh Allah SWT kepada Panjenengan umur yang panjang dan maslahat untuk menjadi berkah ilmu bagi kami semua.

Desa – Paradesa – Paradise

Bodean – Ungaran, 7 Syawal 1438 H – 01 Juli 2017

Sebagai awal rangkaian tulisan tentang desa, maka ‘Desa’ adalah tema yang sangat tepat menurut saya untuk dikupas dan diurai. Namun sebelumnya saya mohon maaf jika atas keterbatasan pengetahuan, tema tentang desa yang saya ingin ajukan ini merujuk pada konsep Desa dalam khazanah leluhur Jawa. Selain Jawa, saya hendak menggunakan operator uraian dengan terminologi Islam sebagai bahan lain yang sama-sama akrab bagi semesta pemikiran saya. Ini bisa jadi akan tidak memuaskan bagi sedulur-sedulur yang bukan Jawa namun mudah-mudahan tidak sama sekali sia-sia sebab khazanah leluhur ini dalam hemat saya membawa nilai universalitas yang relevan bagi manusia manapun dan dari suku bangsa apapun di belahan bumi ini.

Apalagi dalam tema per tema ini diam-diam saya juga ingin menyampaikan bahwa para pendahulu kita adalah sekaligus pendahulu bangsa-bangsa di seluruh dunia. Pendapat ini bukan tanpa alasan. Ada 3 alasan untuk menengarai hal ini. Yang pertama pendekatan linguistik (Bahasa), kedua bukti arkeologis, dan ketiga kualitas manusia atau genekologi.

Pendekatan Linguistik (Rekaman Peradaban)

Pendekatan Linguistik atau penelusuran sejarah melalui fenomena Bahasa sebagai alat rekam peradaban. Perlu diketahui bahwasanya Bangsa kita menyebut diri sebagai Bangsa Kawi dengan Bahasa Kawi sebagai alat komunikasinya. Bahasa Kawi disebut demikian karena Bangsa ini merupakan Bangsa Kawitan (awal). Bangsa wiwitan (yang memulai peradaban), dimana Wiwitan ini kemudian juga menjadi Wetan, nama arah tempat mula matahari terbit yakni Timur. Jika Anda pernah mendengar istilah ‘Peradaban dimulai dari timur’ maka di sinilah Timur itu. Negeri Kawitan, Bangsa avant garde (wiwitan), dengan manusia-manusia Kawi sebagai penghuninya.

Apakah manusia Kawi itu? Kawi dalam Bahasa Kawi maupun Bahasa Sangsekerta memiliki banyak arti, antara lain : Pujangga, Penyair, Syair, Penembang, Cerdas, Cerdik, Pandai, Bijaksana, Matahari, Intelektual, yang diberi karunia, yang memiliki pengetahuan, tercahayai dan lain sebagainya yang pada intinya membawa ciri keunggulan, keindahan, dan kelebihan. Dengan arti yang sebegitu agung, tentunya tidak akan sembarang bangsa berani menamakan diri sebagai bangsa kawi jika hanya sebagai bangsa peniru apalagi pengekor. Justru Bahasa Kawi yang ketika itu hanya bisa dipahami dan digunakan oleh orang-orang Kawi menjadi kontributor besar untuk Bahasa Sangsekerta. Sebab, Bahasa Kawi ini kemudian digodok, dimasak, siap saji dengan yang kemudian lahir sebagai Bahasa Sanskrit/Sansekerta/Sangsekerta. Padahal Bahasa Sangsekerta itu sendiri menurut pada ahli sejarah sudah merupakan Bahasa paling tua yang usianya hampir seusia bahasa itu sendiri. Penjelasan ini memberi bahan konsiderasi, jangan terus beranggapan bahwa bahasa Sansekerta adalah bahasanya orang India dan kita terpengaruh olehnya. Buatlah kemungkinan lain tentang asal-usul yang kemungkinan justru sebaliknya, kitalah yang menginfluensi dan menginspirasi bahasa, tata nilai, dan lain sebagainya kepada bangsa-bangsa lain. Sedikit intermeso, boleh percaya boleh tidak : jika ingin mengetahui berapa banyak bangsa di seluruh muka bumi ini terpengaruh dari peradaban kita, lihatlah apakah bangsa itu mengenal permainan catur, jika iya maka pengaruh leluhur kita telah sampai disana. Kembali ke pendekatan linguistik.

Pendekatan ini menggunakan pendekatan melalui bahasa, yang menimbulkan getaran rohani. Contoh gemericik air yang membawa suasana tentram. Ini soundscape (kita hidup di wilayah / skup suara). Suara yang terjaga dan terus senantiasa memberikan makna. Suara disini dapat di kategorikan suara yang terjasad dan tidak. Dimana suara jasad mampu diterima melalui frekuensi yang mampu diterima oleh jasad (telinga). Namun ada suara yang langsung menembus masuk di wilayah non jasad. Yang dimana peradaban tua mampu memadukan 2 jenis suara ini menjadi sebuah bahasa. Bahasa masyarakat Purwa, masyarakat pembuka, masyarakat peradaba awal. Peradaban tua.

Sebagai peradaban tua yang akan mengawal peradaban berikutnya maka ada syarat yang harus dijunjung yakni menjadi inspiration & prototype. Jadi peradaban tua itu tidak main-main, dia harus menjadi inspirasi untuk peradaban setelahnya dan menjadi prototipe bagi peradaban setelahnya. Untuk membawa itu dia harus menjadi cahaya (LIGHT) yang terdiri dari Love (membawa cinta keindahan, rasa kasih sayang, dll), Inspiration (menginspirasi, mendorong seseorang untuk tumbuh), Greatness (membawa keagungan), Highness (membawa keluhuran), Top (totally, kafah, kavi, puncak) yang dimana kesemua itu berujung atau tersambung ke istilah yang disebut “Kawi”. Our ancestors are a light society. Para leluhur kita adalah masyarakat cahaya.

Makna kawi itu sendiri salah satunya adalah inlightned yang artinya tercahayai. Karena tercahayai maka dia adalah makhluk cahaya/manusia cahaya. Manusia-manusia yang menjadi inspirator dan prototipe peradaban berikutnya adalah yang mencahaya. Jadi kesadaran utama peradaban leluhur kita adalah cahaya, adalah makhluk ruhani yang sedang diperjalankan dengan sangat sementara sebagai makhluk dengan jasad. Untuk itulah maka setiap kebijakan dilandaskan pada pertimbangan ruhani. Cara berpakaian, cara mengatur alam, cara mengemban sesrawungan, cara memperlakukan kejadian baik dan tidak baik, cara bikin rumah, cara mengelola kebutuhan pangan, semua. Bahkan cara bersenang-senang pun tetap dibatasi dengan adab spiritualitas. Semuanya dengan berpihak pada cara pandang ruhani. Termasuk bagaimana membangun kawasan pemukiman atau desa. Dimana ‘desa’ bisa untuk wilayah luas maupun wilayah kecil. Apapun yang berarti kawasan disebut sebagai ‘desa’.

Untuk bukti arkeologis, dan kualitas manusia atau genekologi diperlukan bahasan khusus dalam tulisan terpisah.

Tiga Pilar Utama Desa

– Spiritual

– Pemikiran/Jiwa/Ideologi/Pranatan – Memayu hayuning bawono

– Sandang, Pangan, Papan

Disini kesadaran yang perlu kita bangun adalah teknologi pemikiran, semuanya harus mengacu kepada spiritual. Desa akan dipimpin oleh seseorang yang mumpuni dalam mengawal masyarakat di bidang spiritualitas, yang disebut : Sesepuh, Kamituwo, Pinisepuh, Kabuyutan. Selain itu, juga akan didampingi oleh pemimpin yang mengawal di bidang teknis, ideologis, yang disebut Lurah untuk mengatur secara formal struktural. Pemimpin ini menjalankan dan menjadikan nasehat kabuyutan sebagai acuan kebijakan. Yang ketiga, pemimpin yang mengatur urusan sandang, pangan, papan, pada wilayah sektoral. Pemimpi ini disebut Dukun/Dukuh/Dusun.Ia bertugas mendampingi Lurah yang tidak selalu bisa di lapangan mendampingi masyarakat secara langsung. Kini istilah Dukun/Dukuh/Dusun sudah terdistorsi makna dan penggunaannya. Inti dari struktur pranatan ini adalah : menjelitakan alam semesta yang telah cantik, memayu hayuning bawana.

Tiga Jalinan/Ukhuwah Desa

– Tuhan – Manusia – Alam

Manusia berada di tengah-tengah dari pendekatan ini, dengan harapan hubungan persentuhan dan perkenalan antar manusia dengan alam ini akan mengacu kepada Tuhan. Makanya di peradaban kita mengenal istilah Begawan dan Prabu. Begawan dan Prabu adalah manusia terpilih yang dianggap representatif terhadap kehendak Tuhan (kalimat, pitutur solah bowo, perilaku) itu selalu terjaga dalam adab spiritual yang suci. Karena dia terjaga, dia menjadi yang dianggap suci. Karena dianggap suci, kesucian itu bukan milik makhluk. Kesucian itu sendiri hanya milik Tuhan bukan milik makhluk. Untuk menghormati kesucian orang tersebut, orang tersebut disebut sebagai Begawan/baghwan atau juga disebut prabhu. Begawan lebih ke uluhiyah nuansanya, sedangkan Prabu lebih ke wilayah rububiyah. Jadi ada Ilah dan ada Robb. Begawan akan mendampingi masyarakat dengan Candi dan Mandira (peribadatan). Prabu mendampingi masyarakat dengan Kotapraja, Singgasana (pemerintahan).

7 Manunggal

Jalinan Tuhan-Manusia-Alam ini menuju untuk menjadi Janma atau insan. Manusia berdiri tanpa Tuhan dan alam bernama jalma (belum lahir). Ketika kita sudah menjalin Tuhan dan alam, yang berlaku di dalam prilakunnya, ini menjadi janma/lahir menjadi insan. Dimana insan ini harus meracik dirinya dari mengelola ego hingga pengabdian. Sangkan paraning dumadi.

Konsep bermula dari ‘ada’ hingga ‘mengabdi’ (7 trap) bisa juga dijumpai pada beberapa sumber. Dalam sudut pandang Islam ada, pada Hindhu pun ada. Ada juga konsep cakra ( I am, I feel, I think, I love, I speak, I see, I understand), Juga bertaut kepada konsep cahaya yang tadinya utuh, tunggal, satu, putih, memecah menjadi 7 : (Mirah, jingga, kuning, hijem, milangit, wulung, wungu). Ketika mampu menjalinkan menjadi satu kembali warna-warna cahaya yang berbeda-beda itu, maka dia akan kembali menjadi utuh (Futuh, Fatih, Fatah, Fatihah, Al Fath). Desa yang utuh adalah desa di atas desa, yakni desa yang bukan hanya subur dan kaya namun juga dihuni oleh masyarakat yang mendapat Pangapuro dari Tuhan karena senantiasa menebarkan kedamaian, kemanfaatan, dan penataan yang tidak menyimpang dari kehendak Tuhan. Inilah Paradesa : Desa di atas Desa yakni desa yang dihuni oleh manusia cahaya, saling mencahayakan, saling memancarkan keindahan, kesejukan, senang berbagi, mirip seperti yang Anda lakukan di grup ‘Kangen Desa – Rindu Kampung‘, masing-masing ingin mengabarkan keindahan dan berbagi ketentraman meskipun baru melalui foto, ini adalah kabar baik sebagai indikator bahwa Anda merupakan pewaris manusia-manusia cahaya yang selalu ingin menyuguhkan keindahan, mempersembahkan kesejukan, mengabarkan ketentraman, menebarkan suasana damai dan penuh berkah. Jika hal seperti itu bisa ditampilkan dalam hidup bermasyarakat niscaya Anda akan merasakan tinggal di Paradesa, dimana ‘Paradesa’ inilah yang dikemudian digunakan oleh bahasa Inggris menjadi paradise yang diartikan : Surga. Bahkan Paradesa ini pun terekam dalam Kitab Suci Al Qur’an[1] dan juga Hadist Nabi dengan sebutan : Firdaus. Firdaus pula yang menjadi acuan Nabi Adam dalam mengkhalifahi kehidupan di dunia. Maka konsep Paradesa merupakan konsep Bumi pada awal peradaban dan resmi bersambung kepada konsep kemasyarakatan Langit sebelum manusia diturunkan ke muka Bumi.

[1] Surah At –Tahrim 66 : 11 Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.
Surah Al Mu’minuun 23 : 8 - 11 Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.
Surah Al Kahfi 18 : 107 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

TIM GUGURGUNUNG