Reportase 1: Keluarga Al Fatihah

Semesta Anggara Kasih

Selasa Kliwon, 13 Juni 2023. Sederetan bilangan Hari, Pasaran, dan Tanggal, ini mungkin nampak biasa saja. Tapi tentu tidak bagi kami anak cucu Maiyah yang teruntai pada simpul Majlis Gugurgunung – yang bersentral kegiatan di tlatah Ungaran. Kombinasi tanggal tiga belas dan hari Selasa Kliwon kali ini dipenuhi perasaan penuh luapan kegembiraan dan kasih sayang.

Sejak pagi cuaca pun cerah, gunung-gunung di sekitaran Ungaran yang tampak begitu anggun dan tampil jernih tanpa ditabiri awan. Hari tersebut juga burung prenjak sudah nggancer di dahan-dahan pohon Kelengkeng. Bagi masyarakat Jawa kicau burung prenjak dianggap sebagai tanda bahwa ia ikut menantikan kehadiran seseorang yang akan hadir pada hari tersebut. Udara pun sejuk dengan langit yang biru terang dan tampil cerah setelah tadi malam menurunkan hujan cukup basah.

Selasa Kliwon adalah Hari Anggara Kasih. Banyak dipahami oleh masyarakat Jawa sebagai hari perwujudan Kasih Sayang dengan nilai kerto aji dino menjadi sebelas, penjumlahan nilai Selasa dengan nilai kerto aji: tiga dan Kliwon dengan nilai kerto aji: delapan, jadilah sebelas. Sebelas adalah tetenger, maesan, tanda letak koordinat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dan tanda letak pengabdian hamba kepada Tuhan-Nya. Posisi kasih Sayang ini diserap energinya secara baik di tiap hari Selasa Kliwon.

Selain dari Selasa Kliwon sang Anggara kasih. Simbol kasih sayang ini masih diwakilkan lagi pada tanggal tersebut yakni tigabelas, dengan angka ‘satu’ dan ‘tiga’. Bila mengacu pada Al Fatihah (Induk/Ibu Al Qur’an) Ayat 1 adalah Bismillahirrohmaanirrohiim. Ayat 3 adalah Arrohmaanirrohiim. Ada Arrohmaan dan Arrohiim pada ayat 1 dan diulang di ayat 3. Oke, mari kita anyam persambungan tersebut. Dan kita runtut peristiwanya. Tentunya ini pola Tadabbur saya, dan tentunya lagi adalah Tadabbur kelas ndek ndekan, atau bisa juga ming nggathukke Otak dan Ati, atau Otak Ati Gathuk, dan sejenisnya, dst.

Hari itu adalah jadwal dimana Mbah Nun ngersakke menyambangi anak cucunya di Ungaran. Ini murni perwujudan kasih sayang Beliau kepada anak cucunya. Agenda yang memang lebih intens dilaksanakan selama kurun waktu 2 (dua) tahun belakangan ini, beliau menyambangi anak cucunya pada simpul-simpul Maiyah seluruh dunia. Perwujudan kasih sayang tersebut tentu kami sambut dengan sangat bahagia yang mengantarkan pada perayaan rasa syukur yang luar biasa. Perwujudan kasih sayang juga teranyam dengan sedekah Beliau berupa serial Tadabbur Harian Mbah Nun tentang Alfatihah.

Pagi merekah, merekah pula hati kami semua. Sejuk khas udara pagi pada musim kemarau. Keluarga gugurgunung saling berkabar tentang persiapan tugasnya masing-masing. Dari sektor Revolusi Kultural, Om Nardi selaku imam pertanian mengabarkan kalau melon sudah siap panen, bisa dipetik untuk suguhan Mbah Nun.

 

Pak Tri juga memanen Ikan Nilanya.

 

Mas Santoso dari sektor petani Palawija dan Ternak Unggas, menyedekahkan satu ekor Kalkun dan bernampan-nampan jajanan khas desa.

 

Mas Koko dan Pak Satriyo, sektor bidang usaha jajanan, menampilkan Lumpia dan Sosis.

 

Tak ketinggalan pula Ibuk-Ibuk yang dibantu Mbak-Mbak, menyajikan salah satu makanan khas Ungaran yaitu Gendar Pecel dan kudapan khas lainnya.

 

Semua kudapan terkoordinir di Art Cafe, sebuah Warung Makan kepunyaan Ibunda Mas Agus Wibowo. Yang memang dipersiapkan secara patut untuk menyambut kedatangan Mbah Nun, sekaligus sebagai tempat transit. Om Didit dan Mas Dhika siaga pada kesiapan armada. Mas Ganjar pada dokumentasi. Dan yang lain pada persiapan lokasi acara.

Dari sektor kesenian, Gus Arul turut ambil bagian dengan seperangkat sound system, lengkap dengan group rebananya yang tergabung dalam MMA (Majlis Majazi Al-Hasan).

Juga para perangkat keamanan mulai dari Linmas dan Babinkamtibmas turut sigap dan siaga menjaga acara dari pra sampai acara selesai. Para Ulama dan Umaro, serta para Sepuh, pinisepuh dari tingkat Desa sampai Kecamatan turut nyengkuyung, mangestoni, dan Tut wuri atas apa yang menjadi hajat Kulawarga gugurgunung tersebut. Ejawantah atau perwujudan kasih sayang yang mengantarkan pada raya syukur, kemudian beranak-pinak kasihsayang-kasihsayang lainnya atas seluruh kelengkapan unsur-unsur, begitu tampak manfaat dan tanggung jawab dari masing-masing unsur tersebut. (Ini yang belakangan kami pahami sebagai definisi Keluarga). Kulawarga kecil gugurgunung yang membangun bebrayan ageng (besar) kepada Kulawarga lainnya, secara alamiah membentuk Kulawarga besar, dan sepakat untuk terus berupaya menjadi Kulawarga Akbar.

Hiruk-pikuk kesibukan pagi itu dan pencurahan perhatian dari setiap person di dalam keluarga gugurgunung dan disengkuyung pula oleh pihak-pihak lain merupakan lembaran kegembiraan awal yang seolah menjadi kelasa atau tikar untuk mewadahi kebahagiaan-kebahagiaan berikutnya. Tentunya memang demikian yang diharapkan, bahwa semua anak-cucu Maiyah Ungaran sedang membuncah perasaan bungah karena hendak ditiliki oleh Mbah Nun, betapa tak terkira rasa bahagia kami. Majlis gugurgunung otomatis menjadi panitia dan shohibul hajah kegiatan ini. Pembagian tugas telah dilakukan dan semua yang dimandati telah memulai bukan hanya sejak pagi itu, namun ada yang telah memulai sejak seminggu sebelumnya. Namun pagi itu suasana tampil secara apik, rampak dan serempak bahu-membahu njunjung keceriaan bersama, kami benar-benar sedang “nduwe gawe”. Semakin siang semakin bertambah pihak yang hadir dan mendaulat diri untuk ikut bantu-bantu. Semakin sore semakin banyak lagi yang berduyun-duyun hadir, bukan hanya dari internal keluarga gugurgunung namun telah dihadiri pula oleh sanak-kadang Maiyah dari simpul lain. Ada yang hadir untuk membantu kesiapan di ruang transit, ada pula yang membantu ke lokasi acara untuk ikut terlibat membantu proses persiapan lokasi.

___Bersambung ke reportase 02

 

 

 

Reportase oleh: Kasno MGG
Dokumentasi: Koko Nugroho

Keluarga Al Fatihah

Bulan lalu 27 Mei 2023 bertepatan dengan yaumul milad Mbah Nun yang ke 70, Majlis Gugurgunung melaksanakan Bedhol Kayon. Telah merumuskan beberapa hal pokok yang akan ditempuh untuk kegiatan keluwarga gugurgunung paling tidak sampai akhir tahun. Sebagian besar melanjutkan kegiatan yang ada. Sambil menganyam kegiatan kegiatan tersebut dengan dhawuh dhawuh terkini dari Marja’ Maiyah.
Juni 2023 ini merupakan “Buka-an” awal kegiatan Majlis Gugurgunung. Terinspirasi dari serial “Tadabur Al Fatihah” dari Mbah Nun, maka Majlis Gugurgunung terbangun rasa percaya diri untuk berupaya membangun kesadaran untuk mensinkronkan kegiatan keluwarga Gugurgunung ke depan dengan nilai nilai Tadabur Al Fatihah tersebut. Untuk menengarainya, sekaligus sebagai pembaharuan niyat, maka “Bukaan” kegiatan ini kami tetengeri dengan mengangkat tema Keluarga Al Fatihah.
Demikian :
Setiap orang dilahirkan dalam sebuah bangunan keluarga, ada yang lahir dari keluarga sehat dan tenteram dan ada pula yang lahir dari keluarga yang sedih dan berpolemik. Namun tetap saja seseorang lahir dengan latar belakang keluarga. Dengan demikian, sesungguhnya keluarga manusia bukan terbatas pada relasi bumi, justru keluarga utama manusia adalah sanak kadang dan handai taulan surgawi.
Pendapat tersebut hanya bisa diterima oleh orang yang percaya pada ajaran agama Samawi, yang meyakini bahwa manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT di-keluarga-kan dengan penghuni langit. Yang pada periode berikutnya ada momentum merantau dan melaksanakan tugas di sebuah tempat kerja yang bernama bumi. Di tempat kerja dan tempat rantau ini beliau bekerja dan beranak-turun. Namun ke mana perantau akan kembali mudik, adalah ke tempat paling asal. Keluarga induk sebagai muasal ia dilahirkan.

Keluarga sebagai pembuka
Alfatihah merupakan tujuh ayat yang juga sering disebut sebagai tujuh yang berulang dan juga dikenal sebagai induk Al-Quran. Maka, jika keluarga merupakan peristiwa yang terus berulang pada setiap jaman, dan dari keluarga pula peradaban dibuka, betapa pentingnya setiap keluarga melakukan sinkronisasi dengan Al Fatihah. Sehingga semakin terbuka kemungkinan peradaban baru muncul dengan pendaran cahaya yang terang benderang sebab setiap keluarga meletakkan Alfatihah sebagai poin-poin nilai yang terus menerus diterapkan.

Keluarga dan bersama
Seorang anak yang lahir dari keluarga berpolemik, dia akan menduga bahwa keluarga yang ia punya adalah keluarga terbaik, ayah terbaik, ibu terbaik, keluarga terbaik. Bahkan ada seorang anak di Filipina yang betapa takutnya kalau ibunya pulang, karena ia akan disiksa, namun sekaligus betapa ia rindu pada ibunya saat ibunya sedang bekerja. Anak ini bisa saja melarikan diri namun sebagai anak ia sangat rindu kehadiran seorang ibu. Ini mungkin kasus yang langka namun contoh keluarga berpolemik sepertinya akan banyak pula dimana-mana dengan kasus yang berbeda-beda. Ada peran ibu yang bermasalah, ada peran ayah yang terganggu, ada kondisi lingkungan yang toxic, ada pergaulan yang rentan penyelewengan. Sehingga ada anak yang memberontak, ada anak yang menderita, ada generasi yang tidak percaya keluarga, ada pemahaman bahwa jika di dunia perlu membangun ikatan, makan ikatan yang baik adalah yang tidak menyakiti namun menyenangkan, bersenang-senang, berhura-hura, bertabur kebahagiaan dengan merdeka.

Keluarga bukan hanya sekedar kumpulan apalagi gerombolan, keluarga memiliki ikatan yang lebih erat. Ada adab sebagai orang tua, ada adab sebagai anak. Keluarga adalah majelis ta’lim pertama bagi anak, juga akan terus tumbuh menjadi majelis tadris, majelis tafhim, majelis takrif, hingga majelis takhlis. Anak akan memiliki fase pertumbuhan pula, makna pergaulan dan keluarga yang ia pahami juga semakin luas tanpa mengesampingkan asal-usul. Rasa utama keluarga adalah ma’a (bersama), anggota keluarga saling mengambil peran berbeda-beda, namun rukuk dan sujud pada kiblat yang sama.
Bisakah kita serap kandungan Alfatihah sebagai landasan utama membangun keluarga? Bisakah keluarga melakukan sinkronisasi dengan Alfatihah? Bisakah keluarga dengan spirit Alfatihah menjadi pembuka yang baik dalam melahirkan generasi minim polemik kepada Allah SWT dan tajam dalam memandang dan sanggup mengkhalifahi kehidupan dunia yang berpolemik dan problematik.

Bedhol kayon 2023

Bedhol Kayon Majlis Gugurgunung 2023

Bedhol kayon 2023Remind,

Tancep Kayon Sewindu Gugurgunung telah dilaksanakan Desember 2022 kemarin, ditetengeri sebagai “Windhu Sakinah”. Lalu Januari sampai dengan April 2023 Majlis Gugurgunung sepakat memilih “Ngenthung”. Ringkasnya, Majlis Gugurgunung tetap rutin gugurgunungan namun tidak formal. Memilih menggeliat pada kegiatan Literasi, Seni, Perkebunan, dan Peternakan.

 

Bedhol Kayon

27 Mei 2023 Majlis Gugurgunung menjadwalkan akan melaksanakan “Bedhol Kayon”. Sebagai tengara akan dimulainya kurikulum baru gugurgunungan tahun 2023. Menganyam pola kegiatan gugurgunung dengan dhawuh dhawuh Marja’, sesuai dengan potensi yang dimiliki.

 

Wiji Padasan

Bedhol Kayon akan digelar di rumahnya Pak Edi, salah satu keluwarga gugurgunung yang berdomisili di Desa Bergas, kaki Gunung Ungaran. Ngundhuh gugurgunungan sekaligus dalam rangka merayakan syukuran walimatul khitan putranya. Yang oleh keluwarga gugurgunung sekaligus akan dilakukan upacara simbolik *Wiji Padasan*. Ringkasnya, sang putra yang masuk pada fase Dasa yang pertama/masuk pada Akil Baliq, akan dibimbing untuk melakukan prosesi Wudhu/sesuci dengan air Padasan, kemudian dibacakan do’a bersama.

 

Gugurgunung juga telah masuk pada Dasa yang pertama dan perjalanan menuju windu yang ke dua. Akan melaksakan prosesi yang sama, yaitu berwudhu, tajdidunniat, lalu Bedhol Kayon.

 

Dan Alhamdulillah, sebagaimana telah menjadi niat sejak awal tahun, 27 Mei 2023 dipilih sebagai momentum Bedhol Kayon karena bertepatan dengan yuswa Dasa ke tujuh yakni Yaumul Milad Mbah Nun yang ke 70.

 

Maka kami, anak cucu Maiyah Majlis Gugurgunung, turut Mangayu Bahagyo dengan menggelar acara :

– Tawashshulan dan Do’a bersama dalam rangka Yaumul Milad Mbah Nun yang ke 70

– Walimatul Khitan putra Pak Edi

– Bedhol Kayon Majlis Gugurgunung

Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2022
Windhu Sakinah

Sungguh, Subhanallah Alhamdulilah Laailaahaa illAllah Allahu Akbar. Laa haula wala kuwwalata illa billahil aliyyil adziim.

 

Tancep Kayon, merupakan kesadaran  penting kulawarga gugurgunung, yang dihelat pada tiap akhir tahun, sebagai upaya menegaskan hal hal yang terkait selama rentang waktu 1 tahun Sinau Bareng. Dan Desember 2022 ini merupakan Tancep Kayon yang ke 8. Artinya, Majlis Gugurgunung sudah berkegiatan selama 8 tahun/Se Windhu. Perhelatan Tancep Kayon yang ke 8 ini akan digelar pada 24 Desember 2022 di Joglo Wisata Gunung Munggut, Pringsari – Ungaran. Dengan mengangkat tema WINDHU SAKINAH

 

Perjalanan sewindhu gugurgunungan telah mengendarai tema tema besar/Kurikulum pada tiap tahunnya. Diantaranya adalah :

  1. Sandal Peradaban.
  2. Kembul Malaikatan.
  3. Serat Pamomongan.
  4. Laku Kasantikan 1.

 

Yang belakangan ini, 4 tema pada 4 tahun pertama ini didominasi oleh kegiatan kegiatan berupa pengkayaan di wilayah intelektualitas, kontekstual, konseptual, dan sebagainya. Yang kemudian kami tengarai sebagai perjalanan “BUDI”.

Kemudian 4 tahun berikutnya adalah :

  1. Laku Kasantikan 2.
  2. Sinau Gugur.
  3. Nuwuh Makmur
  4. Windhu Sakinah.

 

4 tema pada 4 tahun ke dua ini didominasi oleh peristiwa dimana tema kontekstual dan konseptual yang kian merealitas menjadi perilaku. Optimalisasi peran skill atau keahlian keahlian khusus. Yang kemudian kami tengarai sebagai peran “DAYA”.

 

Dan taut antara BUDI dan DAYA adalah Padhu, Menyatu-padu. Sehingga tepat di tengah windhu kami diperjalankan untuk memadu dengan perhelatan seserius Tancep Kayon, pada bulun Juni tahun 2019 dengan tajuk “Masyarakat Lebah Memadu”

 

Majlis Gugurgunung juga senantiasa menyelaraskan langkah dengan dhawuh dhawuh Marja’ Maiyah. Tentunya semampu dan sesanggup sesuai dengan potensi yang dimiliki. Zira’ah, Shoum, Shodaqoh dan Revolusi Kultural dengan pertanian dari hulu hingga hilir sebagai pilihan laku. Serta kian solid pada ranah pemahaman bahwa Sinau Bareng adalah salah bentuk Ikhtiar Maiyah.

 

SeWINDHU perjalanan yang sarat akan peristiwa peristiwa menggembirakan (kakawin), dan juga dilengkapi oleh peristiwa peristiwa menyedihkan (reridhu). Menjadikan sebuah perjalanan yang kian utuh, yang Mulat.

 

Semakin mengakurasi kesaksian bahwa kesemuanya itu kita terima sebagai bentuk Cinta Kasih (mawaddah) dan Rahmat (warahmah) dari Allah. Sebagai bekal utama untuk perjalanan yang semoga senantiasa berada pada lintasan proses menuju ketenanangan dan ketentraman lahir sampai ke batin (sakinah).

 

Sehingga sewindu Tancep Kayon sebagai perpaduan BUDI lan DOYO, Kultural, berbudaya. Budi yang berdaya guna, dan Daya yang berbudi luhur, demikian harapan yang ingin digapai oleh pasinaon demi pasinaon selama ini.

MAJLIS GUGUR GUNUNG YANG SELALU BIKIN MERENUNG

Tanggal 24 Desember 2014 adalah seingat kami pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Balongsari. Sebuah tempat bernama Art Café sebagai arena Sinau Bareng yang dipandu oleh Mas Agus Wibowo. Lokasi ini merupakan kafetaria yang menyajikan makanan secara prasmanan sekaligus tempat tinggal keluarga Mas Agus bersama orang tua beliau. Kami berlima (saya, Cak Jufri, Cak Khoirul, Cak Taufiq dan anaknya, Wafir) disambut dengan sumringah oleh Mas Agus yang tampak dari raut wajahnya selalu tersenyum. Wajah Mas Agus yang selalu sumeh, membuat saya merasa nyaman apalagi beliau menyambut kami berlima dengan antusias. Tidak ada rasa capek yang terpancar, semua tamu dilayani dengan sepenuh hati. Tiga kali kami berkunjung dengan nuansa yang sama. Dan yang terakhir bahkan diajak Maiyahan ke Boja sebelum merapat dini hari menuju kediaman baru Mas Agus di Bodean.

 

Saya sendiri berjumpa fisik beliau pertama kali di Majelis Mocopat Syafa’at tahun 2012, diawali dari komunikasi via Blackberry. Saya dan teman-teman berjalan kaki dari Malioboro menuju Kasihan-Tamantirto dengan diiringi hujan lebat selepas melewati Jalan Bugisan. Kami akhirnya beristirahat dulu sekaligus numpang berteduh di miniatur Masjid Raya Baiturahman Aceh dekat Perempatan Madukismo. Mas Agus di Mocopat Syafaat menyambut kami dengan penuh ceria tanpa ada rasa lelah sama sekali. Pertemuan awal yang begitu mempesona.

 

Dan orang yang berjasa merekatkan kami dengan Mas Agus adalah Mas Yudi Rohmad yang terkenal dengan karya monumentalnya: Qur’anic Explorer. Seorang pegiat Maiyah dari Bojonegoro yang tinggal di Rembang namun kemudian menetap di Malang menemani pegiat Maiyah Relegi dan sekarang juga sebagai Pegiat di Rumah Maiyah Al-Manhal Malang.

 

Kembali ke Mas Agus. Satu hal yang menjadi ciri khas beliau adalah tutur katanya yang mendalam, padat, dan penuh dengan renungan. Sebelas dua belas dengan Mas Yudi Rohmad, dua orang yang menjadi guru saya meski jarang berjumpa fisik. Ketika kami berangkat sebenarnya kebingungan mau bawa oleh-oleh apa, akhirnya kami bawakan buah-buahan. Hal itu sempat menjadi bahasan bahwa oleh-oleh itu tidak harus berbentuk buah tangan yang mudah lenyap, namun boleh juga buah pikiran yang bisa awet dan langgeng. Di sini kami seperti merasa kena upper cut dan langsung KO, hehehe… Bahasan sederhana ini terngiang sampai hari ini. Memang benar, bahwa buah pikiran akan lebih menghunjam dan mengabadi karena bisa kita wariskan kepada orang-orang di sekitar kita.

Teringat waktu itu ada Mas Dhani Muhammad, Mas Bayu Jogja, Mas Nug (Penyair Gambang Syafaat), Mas Padmo dan kakaknya, Mas Ary serta beberapa nama lain yang juga ikut melingkar. Terkadang serius mendengar bahasan Mas Dhani tentang dunia arsitektur yang hitungan-hitungannya penuh dengan makna, dan sesekali tersenyum lebar mendengar celotehan Mas Nug dan Mas Ary. Saya sendiri berpikir keras, kira-kira buah pikiran apa yang harus saya tuangkan kepada teman-teman yang jauh lebih senior dan berpengalaman di hadapan saya ini. Pikiran saya ruwet dan semrawut bercampur minder karena di hadapan orang-orang yang telah matang jiwa dan ilmunya. Saya lebih senang mendengarkan petuah-petuah mereka untuk sangu hidup saya dan teman-teman di sekitar saya.

 

Sejak mentari belum terbit, kami mengobrol, berdiskusi, bertanya sekaligus menjawab pertanyaan tanpa henti sampai menjelang Ashar. Tiba-tiba saya punya buah pikiran yang harus saya tuangkan, yaitu soal lima potensi manusia. Saya mengawali dengan analogi mainan layang-layang yang mempunyai lima titik yaitu bagian atas, bawah, kanan, kiri, dan titik persimpangan di tengah. Di mana lima potensi itu adalah ruh, rasa, akal, hati, nafsu. Pergerakannya seperti layang-layang, jika ada ketidakseimbangan, jalannya akan sempoyongan. Mas Nug yang tadinya senang guyon, menanggapi dengan serius. Pertemuan awal itu sangat bermakna bagi kami. Mendapat ilmu baru dari teman-teman yang hadir serta paparan Mas Agus yang penuh arti yang tidak serta merta hanya bisa didengarkan saja, melainkan harus dipahami betul dengan merenung apa sebenarnya yang dimaksud dari kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Mas Agus.

 

Ada persamaan antara Majlis Gugur Gunung (MGG) dan Maiyah Sulthon Penanggungan (SP). Pertama, acara rutin maiyahan, sama-sama dilakukan di hari Sabtu pekan terakhir di setiap bulan. Kita tahu bahwa hari Sabtu adalah hari yang dinanti oleh siapapun saja untuk berakhir pekan, menikmati weekend bersama keluarga atau bermain bersama-temannya setelah sibuk sepekan bekerja atau bersekolah. Namun kami di sini baik MGG maupun SP menawarkan menu malam minggu yang lain, sinau bareng, ngudo roso, saling bercengkerama serta berdiskusi atas tema yang telah disepakati dalam acara maiyahan.

 

Kedua, yang hadir di maiyahan baik di MGG maupun SP sama-sama tidak banyak, namun saya melihat sangat intens dan serius. Istiqomah menjadi kunci utama gelaran maiyah dari kedua simpul ini. Berapapun yang hadir, maiyahan tetap disajikan. Teringat ulama Ibnu Malik, yang harus menawar-nawarkan kepada orang yang lewat untuk diajar oleh beliau karena ketika menunggu orang untuk belajar tak kunjung ada yang datang. Namun sekali punya murid, sangat berkualitas, sebutlah misalnya Imam Syafi’i yang juga kelak sebagai imam madzab sebagaimana beliau.

 

Bulan Desember 2022 ini adalah sewindu usia Gugur Gunung. Ibarat bocah delapan tahun sudah bisa berlari gesit. Capaian-capaian terutama di bidang pertanian telah menjadi karya nyata. Selanjutnya buah pikiran Mas Agus selama proses pelaksanaan kegiatan MGG sejak awal menjelma menjadi beberapa buku telah hadir di hadapan kita. Dan yang terbaru dan tertebal yang pernah saya lihat dari karya Mas Agus adalah Buku “Pasinaon Sadulit Satatal Serat Laku Gugur Gunung.

 

Mas Agus ini ibarat pusaka dalam MGG, sebagaimana Simbah yang menjadi pusaka di Maiyah. Beruntunglah teman-teman yang sering berjumpa fisik dengan beliau karena bisa menimba ilmu secara langsung. Dan kami yang berdomisili di Pasuruan, meskipun jauh secara fisik namun terasa dekat di hati. Jarak ratusan kilometer antara Pasuruan ke Ungaran tak menghalangi kedekatan kami. Bahkan Mas Agus bersama teman-teman MGG seperti Mas Kasno, Pak Zamroni, dll juga pernah ke tempat kami satu mobil sebelum malam harinya menuju Padhang mBulan. Mungkin inilah yang disebut saudara tak mesti sedarah. Tak ada hubungan biologis namun kedekatannya sangat intim.

 

Semoga MGG selalu istiqomah menyajikan maiyahan dengan tema-tema yang selalu menggelitik untuk direnungkan. Tema yang selalu membuat puyeng pembacanya, hehehe… namun ketika dibedah dan diurai mengandung mutiara ilmu yang begitu berharga. Dan semoga MGG diberi keberkahan atas jerih payahnya selama ini menemani siapa saja untuk saling berbagi dan mengisi dalam setiap acara maiyahan.

 

Pasuruan, 15 Desember 2022

Masyhudi Luthfi_Penggiat Sulthon Penanggungan Pasuruan