MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Guyub Khas Keluarga –

Majlis gugurgunung di akhir bulan Juni lalu kembali menggelar rutinan. Waktu perhelatan seperti biasanya yakni malam minggu terakhir pada tanggal 29 Juni 2019 dengan tema “Masyarakat Lebah me-Madu”. Gintungan, Ungaran Kab. Semarang dipilih untuk menjadi lokasi perhelatan. Merupakan sebuah tempat yang baru pertama kali digunakan sebagai rutinitas Majlis gugurgunung. Tepatnya di pelataran kompleks Mushola Al Mazroah yang berdampingan dengan gedung Madrasah yang diampu oleh Mas Shobirin.

Segala persiapan mulai dari gelaran tikar, sound system, serta MMT sudah terpampang di tempat yang semestinya. Ruang transit, tempat parkir hingga kamar mandi pun tak luput dari perhatian masing-masing personal yang nggugurgunungi segala proses persiapan, termasuk dari tuan rumah sendiri yakni Mas Shobirin sekeluarga yang lilo serta legowo menyediakan tempat beserta kelengkapannya. Pembagian tugas baik yang berada di lokasi kegiatan, maupun di titik kumpul awal yakni kediaman Mas Agus alhamdulillah berjalan dengan baik. Memang hajatan ini hampir sama seperti biasa, semuanya berusaha untuk mengambil peran dalam hal membantu persiapan teknis maupun non teknis.

Tepat pukul 20.00, sementara Tim masih terbagi menjadi dua. Yakni di titik kumpul di kediaman Mas Agus serta di lokasi. Beberapa jamaah sudah mulai berdatangan satu demi satu. Mas Shobirin mengawali dengan sholawatan dan rebana oleh anak-anak asuhannya. Bahkan ditawarkan pula pada salah seorang jamaah yang bisa terbang-an untuk turut serta. Meskipun tanpa koordinasi, jamaah tersebut langsung bisa mengikuti irama alunan terbang yang menjadi pengiring sholawat.

Malam ini, selain dari warga gugurgunung sendiri, nampak sedulur-sedulur dari luar kota pun turut merapat di lereng gunung Ungaran ini. Seperti Semarang, Demak, Solo, Jepara, Slawi, Jogja, kendal, dll. Waktu kisaran pukul 20.45 Mas Kasno sebagai moderator membuka acara seperti biasa yakni diawali dengan doa wasilah oleh Mas Azam dan Mas Tyo dengan munajat maiyah. Suasana nan khusyuk sangat terasa, diiringi semilir hawa dingin lereng gunung Ungaran.

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
(Peradaban Robbun Ghafur)

Semua orang memiliki keinginan untuk tinggal dan hidup dalam sebuah negeri yang menentramkan, menyamankan, menggembirakan, makmur, indah, penuh kreatifitas, saling berlomba menyuguhkan kebaikan. Namun, karena keinginan tersebut terdengar terlalu utopis maka banyak yang tetap menyimpannya sebagai keinginan terpendam dengan label ngimpi di siang bolong. Terlalu berharap dan terlalu naif. Namun, bagaimana jika sebaliknya? Justru sesungguhnya yang dilabeli ngimpi di siang bolong ini adalah informasi primer yang ditanamkan di dalam dada masing-masing orang oleh Tuhan. Agar manusia hidup bahagia dan penuh syukur.

 

 

Rasa Terburu-buru dan Etos Hasil

Karakter dasar secara general manusia adalah rasa ingin segera terjadi. Ingin agar segera terlaksana, ingin segera menikmati hasil dan menjadi bagian dari kegembiraan. Yah, mungkin semacam hari Raya, dimana yang merayakan tidak selalu bersedia untuk berpuasa sebelumnya. Oleh sebab itu, penting bagi tiap manusia memahami karakter dasar ini. Sehingga punya kewaspadaan dan penjagaan diri agar tidak mudah terhasut sikap terburu-buru. Dalam istilah Jawa disebut “Nggege Mongso”. Segala sudah ada ketentuan waktunya dan itu dalam kuasa Allah SWT, oleh sebab itu manusia secara mendasar harus meletakkan ini sebagai sikap fundamental, bahwa terjadinya segala sesuatu bukan wilayah kerja manusia melainkan mutlak Hak Allah SWT.

Manusia hanya dalam posisi menjalankan dan berproses sejauh yang bisa dijangkau. Cara yang tampak pasif dan narimo ini sesungguhnya justru proses dinamis dan progresif. Tentunya ini mudah dipahami kenapa justru menjadi sikap yang dinamis dan progresif, sebab manusia diwajibkan berbuat baik maka harus berbuat sesuatu yang produktif. Sedangkan Tuhan Pencipta langit dan Bumi, maka kejadian yang ada di langit dan di bumi adalah Ciptaan Allah termasuk berarti segala gerak-gerik dan aktifitas apapun dilangit dan bumi. Sedangkan manusia ketika membikin sesuatu saja memiliki maksud dan tujuan, apakah mungkin Allah tak memiliki maksud dan tujuan terhadap CipatanNya? Allah pasti punya kehendak, jika manusia yakin bahwa ia ciptaan Allah maka kesadaran utamanya pada proses menyelaraskan kehendaknya dengan Kehendak Allah SWT. Allah sudah memiliki waktu yang mutlak di bawah KuasaNya. Sehingga wajar jika manusia dianjurkan untuk tidak terburu-buru, agar proses bisa berjalan lancar dan selaras sesuai kehendak Allah SWT. Kehendak pribadi manusia yang tidak selaras justru bisa menambah hambatan kehendak Allah SWT yang mau segera menurunkan karuniaNya.

Rasa khawatir dari manusia yang sering menyangka sikap terburu-buru merupakan upaya yang berguna demi memastikan hasil cepat teraih. Takut kehilangan dan cemas jika sesuatu yang diidam-idamkan itu tiba-tiba terlepas. Rasa khawatir, takut kehilangan, dan cemas itu sebagai tanda bahwa manusia masih lebih meyakini dirinya sendiri, lebih mempercayai pikiran dan imajinasi kesuksesannya sendiri daripada mempercayai kekuasaan dan Rancangan Tuhan Yang Maha Adil yang Maha Penyantun yang tak pernah berhenti memberikan karunia dengan penuh Kemurahan. Diam-diam manusia menjadi pembantah padahal tadinya dia kecil tersembunyi tak terhitung, hanya sekedar titik mani. Kemudian pada akhirnya diperkenankan Tuhan untuk menjadi manusia, lantas merasa menjadi pengatur dan pencipta segala hal sehingga malah mencemaskan kinerja Allah, mengkhawatirkan kehendak Allah, meragukan Keadilan Allah, dan merisaukan kebijakanNya seolah-olah Tuhan pelupa kepada semua rancangan dan ciptaanNya yang Agung sehingga butuh bantuan dari dirinya.

Generasi Maiyah telah mendapat pembekalan sikap untuk tidak terburu-buru ini sejak lama bahkan jauh sebelum Maiyah ada. Dalam salah satu tulisan pada kurang-lebih tahun 1983-an, Mbah Nun menyampaikan sbb:

“Dalam dimensi yang lebih mendalam kita juga bisa kehilangan ruhani sebagai bangsa. Kita menjadi rangka-rangka patung, robot-robot yang rakus uang dan segala materi. Yang terpenting dari semua: bahwa dengan mendominasikan etos hasil, sesungguhnya hasil yang kita capai juga tidak maksimal. Etos kerja justru yang menawarkan berbagai kemungkinan hasil. Kita jangan dulu memperdebatkan hal itu, tapi silahkan buktikan dalam suatu jangka waktu.”

Tulisan Mbah Nun ini jelas sangat futuristik, masih begitu relevan, mengandung kilatan anjuran dan kunci. Demi menjaga ruhani sebagai bangsa, manusia tidak disarankan untuk menenggelamkan diri pada hasil dan hasil, sementara hasil-hasil itu tidak berimbang dengan sejarah proses kerja yang ia tempuh. Orang yang berhasil mendapat fasilitas kemudahan nan melimpah sesungguhnya tidak lantas bisa dipastikan sebagai tanda keberhasilannya sebagai manusia. Justru bisa jadi yang berhasil adalah yang membangun fasilitas kemudahan berangkat dengan rasa syukur, presisi menggunakan akal dan memiliki ketangguhan mental sehingga mampu bertafakur mengkhidmati kesulitan dan kemudahan sebagai paket yang mendewasakan pengetahuan pengabdiannya kepada Tuhan.

 

Fasilitas Kemudahan Dari Tuhan dan KehendakNya

Pada dasarnya manusia hanya mau mengabdi kepada Tuhan, baik secara sadar maupun bawah sadar. Meskipun pikiran dan artikulasi kata tidak sempat tersemat namun kenangan Cinta Tuhan kepada dirinya seolah senantiasa tertambat. Orang ingin menjadi pemurah karena Tuhan Maha Pemurah. Orang ingin menjadi pemudah karena Tuhan Maha Memudahkan. Orang ingin bermanfaat bagi oranglain karena Tuhan Maha Penyantun. Inspirasi terbesar manusia adalah Tuhan sendiri. Jadi segala perbuatan baik manusia adalah manifestasi kerinduan hamba kepada Tuhan. Namun, manifestasi rindu kepada Tuhan ini bisa berkelok dan malah berputar arah pada saat kombinasi dalam diri mansuia berupa ‘kepasrahan’ dan ‘kepemilikan’ lebih didominasi kepemilikan.

Dari rasa kepemilikan munculah keinginan untuk berkuasa. Setelah berkuasa akan menimbulkan hasrat menguasai. Dengan kekuasaan dan hasrat menguasai menimbulkan sikap merendahkan, merasa superior. Dari sikap merendahkan dan perasaan superior itu muncul kecenderungan untuk mudah meremehkan dan mengabaikan, terdapat pohon kesombongan yang terus tumbuh dan beranting, meninggi dan membesar dari sikap abai dan tak acuh.

Dengan demikian betapa pentingnya menjaga kepasrahan diri. Salah satu metode kepasrahan adalah dengan menghitung kepemilikan dan fasilitas kemudahan dari Tuhan. Manusia bernalar pasti akan memahami kerapuhannya. Ia lebih banyak memiliki ketidaksanggupan daripada kesanggupan. Manusia memerlukan punggung kuda karena punggung dan kakinya tak cukup sanggup membawa beban berat dengan tangguh. Dan pernahkan manusia menciptakan kuda? Tuhan-lah yang menciptakan. Manusia kedinginan dan kelaparan, Allah memberikan binatang yang bisa diambil kulitnya sebagai pakaian dan menggunakan dagingnya untuk dimakan. Rapuh, ringkih, lapar, rentan, yang disangga manusia adalah Rahmat Allah. Karenanya Allah juga mengkaruniakan akal, pikiran, panca indera, dan perasaan sebagai jalan keluar bagi manusia untuk berjuang menemukan Rahmat Allah yang lain yang menjawab peristiwa kerapuhan, keringkihan, rasa lapar dan kerentanan hidupnya tersebut.

Kepasrahan diri akan membuat manusia menggunakan karunia fasilitas kemurahan Tuhan untuk mengabdi dan merias kehidupan dengan cinta yang terus meluap-luap kepadaNya. Kepada Tuhan Yang Maha Esa sesembahannya. Sedangkan hasrat kepemilikan akan membuat manusia menggunakan karunia fasiitas kemudahan Tuhan untuk ditundukkan, ditakhlukkan, sebagai sarana memenuhi kecintaan-kecintaannya sendiri. Yakni kepada hal yang ia puja dan ia sanjung sebagai sesembahan yang seolah memberinya kebahagiaan dunia akhirat.

Padahal fasilitas kemudahan dari Tuhan sesungguhnya sebagai tanda “kehadiranNya” secara mawujud. Allah menghadiahkan binatang-binatang dan tetumbuhan. Bukan sekadar Ia hendak hadir menjadi jawaban lapar dan dingin saja, namun juga hadir sebagai pelipur hati dengan keindahan visualnya. Keindahan yang Allah Ciptakan akan mengindahkan pandangan mata, mengindahkan bathin, dan mengindahkan pikiran manusia yang makin tak merelai kerusakan dan tak berselera terhadap penyimpangan.

Allah telah ‘hadir’ dengan segala kebaikan sehingga manusia yang berserah dan waspada akan menunaikan kebaikan sebagai pilihan sikap hidupnya. Sebagai suatu pengibaratan, Allah menciptakan pohon mangga, apakah Allah mengharapkan buah mangganya? Ataukah Allah mengharap perjuangan optimal sang pohon mangga sehingga Dia akan memeluk dengan belas-kasih kepada sang pohon mangga yang meskipun belum kunjung berbuah namun berjerih payah tumbuh dan meneduhi sekitarnya padahal sebelumnya ditumbuhkan pada tanah tandus. Dengan belas kasih sayang Allah, sangat mudah bagiNya mengkaruniakan bunga dan melebatkan buahnya. Bunga dan Buah itu bukan untuk Allah, namun untuk membahagiakan makhluknya yang berdedikasi menjaga cintanya kepada Tuhan melalui prosesnya dalam menjaga amanah.

Masyarakat Maiyah di-deder Mbah Nun untuk menerapkan sikap demikian dalam menjalani kehidupan. Melakukan segala pekerjaan sebagai ibadah. Ibadah Mahdhah dan Ibadah Muamalah. Dalam banyak kesempatan sering disampaikan kepada anak-cucu Maiyah untuk menyadari keringkihan kita di hadapan Tuhan namun berjiwa besar dan ksatria dalam menghadapi kehidupan dunia. Manusia tak boleh merasa mampu menjamin keselamatannya, karena keselamatan datang dari Tuhan, manusia itu ringkih sehingga butuh pertolonganNya secara terus menerus. Maka perlu pengabdian terus-menerus demi tegaknya keselamatan ini yang salah satu bentuknya adalah dengan menjamin kehadiran dan keberadaan dirinya tidak untuk menjadi ancaman bagi oranglain, tidak mengancam martabat oranglain, tak mengancam harta benda oranglain, dan tak mengancam darah oranglain.

Benar bahwa seseorang tak mampu menjamin keselamatan dirinya apalagi orang lain, namun tiap-tiap manusia bisa berpihak pada kedamaian yang sanggup diperjuangkan sehingga menjamin kehadirannya tak muncul sebagai ancaman keselamatan. Hal ini sering dianjurkan oleh mbah Nun kepada anak-cucu Maiyah dalam banyak kesempatan Sinau bareng. Anjuran tentang ibadah Mahdhah dan Muamalah ini begitu deras seolah tadris agar terus dideres anak cucu Maiyah hingga menjadi ilmu dan pemahaman mendasar. Dalam satu tulisan Mbah Nun menyampaikan sbb:

“Maka, bagaimana jalan keluarnya sebab manusia tidak boleh hidup kecuali untuk ibadah? Jawabnya: semua pekerjaan di luar ibadah Mahdhoh direkrut menjadi ibadah. Jadi apapun saja diniati sebagai ibadah. Caranya? Caranya adalah semua laku diarahkan ke pekerjaan-pekerjaan yang kira-kira diterima Allah. Dan, agar supaya diterima Allah maka jangan sampai pekerjaan itu melanggar aturan Allah“

 

Keselamatan Peradaban

Pada sub bahasan ini maka mulai beranjak kepada bahasan masyarakat Robbun Ghofur. Mbah Nun sudah menyampaikan tentang  Tadris, Ta’lim, Tafhim, Ta’rif, Tarbiyatul Islam, Ta’dibul Islam, yang bagi masyarakat maiyah merupakan kunci penting untuk menata dan menapaki fase peradaban. Tidak untuk skala peradaban dengan terlibatnya masyarakat dunia yang luas. Sebab, istilah peradaban tampaknya paling pokok adalah: disangganya adab. Bisa skala luas masyarakat dunia, bisa cukup skala sedang kelas regional, atau sekadar skala mikro level personal, dlsb. Adab tetap adab meskipun hanya dijunjung oleh seorang saja, penjunjung adab akan tampil sebagai orang yang beradab dan memiliki peradaban dalam kesemestaan hidupnya.

Apa kira-kira adab yang dimaui oleh Allah pada diri seseorang? Atau jika seseorang ini berjumlah banyak maka apa kira-kira yang dimaui oleh Allah pada diri suatu kaum? kaum yang seperti apa yang dikehendaki oleh Allah? Mungkin beberapa ayat dalam Surah An-Nahl bisa ditadabburi. Pada ayat kedua disampaikan bahwa “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”.

Yang dikehendaki dari hamba-hamba Allah adalah yang bersedia memberi peringatan tentang ketauhidan, tentang ke-Esa-an Allah dan anjuran untuk bertaqwa kepadaNya. Namun, apakah memberi peringatan itu lantas bermodal ucapan dan dalil-dalil saja? Tampaknya tidak, justru lebih kepada perilaku-perilaku yang dilakukan. Perilaku kemanusiaan utuh yang tidak hanya sekadar bergerak dan bernafas namun juga menggunakan akal pikir yang terindikator bahwa hamba tersebut prigel melewati proses secara aktif menggunakan karunia kemanusiaan yang telah dipasang Tuhan terhadapnya. Berikut ada sembilan indikator berdasar uraian pada Surah An-Nahl:

  1. Yatafakkaruun :Yang berfikir. Berfikir tentang tanda Kekuasaan Allah melalui fenomena lahiriah. Sepertinya berfikir adalah suatu gerakan aktif dari diri manusia dalam hal mengamati kondisi sekitarnya yang tertangkap panca indera.
  2. Ya’qiluuna :Yang menggunakan akal. Menggunakan nalar tentang Kebesaran Allah melalui fenomena bathiniah seperti bagamana Allah menundukkan siang, malam, matahari, bulan, bintang. Akal digunakan untuk memahami hal-hal yang tidak tertangkap secara konkret oleh Panca Indera.
  3. Yadzdzakkaruuna, Tadzakkaruuna :Yang mengingat dan mengambil pelajaran, Mengambil pelajaran dari suatu fenomena dengan kondisi mengingat Allah. Mengambil pelajaran dari peristiwa apa saja hendaknya dilandasi mengingat Allah sebab dengan demikian pelajaran berguna tidak hanya berhenti sebagai ilmu namun juga sebagai kebijaksanan(hakiim).
  4. Tasykuruuna :Yang bersyukur, Tidak menuntut dan tahu berterimakasih kepada Tuhan atas segala karuniaNya. Bagaimana manusia menyangka punya hasil panen dari kebun dan ladangnya sedangkan Tuhan yang punya Kuasa Menciptakan. Tanahnya, matahari, air, udara, benih, hujan yang diturunkan dari langit, tangan dan kakinya, penglihatan, pendengarannya, pikirannya, hatinya, hingga bahkan rasa gembira yang ia miliki pun adalah ciptaan Gusti Allah SWT.
  5. Tahtaduun :Tertunjuki, menyadari akan keterbatasan sehingga sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dari Tuhan. Segala aliran dan pijakan, kerlipan, merupakan petunjuk demi petunjuk untuk memahami arah mendekat secara presisi kepada dumadi.
  6. Inna Allaaha Laghafuurun Rahiimun :Tak sanggup manusia menghitung Ampunan dan Kasih Sayang Allah. Kesadaran manusia bahwa banyak sekali melakukan kesalahan, besar, kecil, halus, kasar, lembut, keras, tampak ataupun tersembunyi, sehingga memerlukan ampunan terus menerus dari Allah yang Maha Pemberi ampunan lagi Maha Pengasih.
  7. Yasma’uuna :Yang pandai mendengar, menyimak, mengindahkan karunia pendengaran. Bahwasanya orang yang tidak cukup pandai mendengarkan biasanya lebih dominan hasaratnya untuk didengarkan. Orang yang kurang mampu mengindahkan perkataan baik akan membuka risiko pada dirinya sendiri untuk makin tuli dan bisu, sebab kemampuan pendengarannya hanya untuk mendengar suaranya sendiri dan perkataannya pun hanya dia sendiri yang memahami. Oleh sebab demikian, perlu membuka peluang untuk menjadi lebih beruntung dengan cara menambah kepandaian dalam hal mendengarkan nasehat Tuhan yang diejawantahkan dalam audio visual kehidupan.
  8. Yu’minuun :Yang menjaga keimanan. Yang senantiasa merawat dan menjaga (ngeman-eman)untaian cintanya kepada Tuhan.Ia punguti dan untai sebutir demi sebutir di sepanjang jalan yang ia lalui.
  9. Khayrun Lishshaabiriina :(kondisi yng diceritakan pada kata2 sebelumnya) lebih baik bersabar. Yang bisa bersikap penuh kesabaran dan tidak terburu-buru. Kesabaran sangat berkaitan dengan waktu. Jika manusia menemui satu kebaikan dan kebaikan itu ia terapkan dengan sungguh meski menemui segala macam kondisi gelap terang, maka sepanjang itulah ia mampu buktikan kesabaran.

Berkaca dari kategori kaum terpilih di atas ternyata dapat kita temui kekeliruan sistem peradaban jaman sekarang yang dikawal oleh manusia yang tidak seperti kategori di atas. Sehingga lahir pula sistem nilai dan tata aturan yang tidak bertitik tolak dari tanggung-jawab primer yakni memberi peringatan tentang ke-Esa-anTuhan. Manusia satu dengan yang lain tidak memiliki pengertian universal yang memusat. Cenderung masih terserak atau berkamar-kamar yang tiap-tiap kamar punya pengertian berbeda-beda. Sehingga peringatan yang dilontarkan hanya sebatas pemahaman kamar per kamar yang bisa saling bertolak belakang. Dengan ke-Esa-an Tuhan, maka manusia akan tertuntun pada satu rujukan yang terpusat. Konsep ini akan menghadirkan secara lebih konkret posisi sebagai hamba kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan bisa saja dengan mudah membuat manusia menjadi hamba yang mengEsakan dan menyembahNya tanpa berubah, seperti halnya manusia dari manapun mengEsakan cara menangis dan tertawa. Tapi dalam urusan penghambaan manusia terhadapNya, Gusti Allah mau manusia yang sudah diberiNya pendengaran, penglihatan, akal, pikiran, dan hati bisa memperoleh kesadaran sebagai hamba dengan peranti-peranti tersebut.

Sejujurnya manusia takkan sudi menyembah selain Tuhan. Datang saja pada tukang apapun saja, bisa tukang cuci, tukang jahit, petani, montir, dlsb. Hadirlah dengan sopan-santun dan setelah selesai pekerjaannya bayar dua kali lipat tarif jasa yang ia sebutkan. Sesaat kemudian musnahkan hasil kerjanya dan pesanlah kembali dengan iming-iming akan dibayar dua kali lipat uang jasa lagi. Kalau tukang tersebut mau pastilah suasana bathinnya tidak lagi setulus dan sebahagia sebelumnya. Untuk yang kedua ini ada tekanan aneh di dadanya dimana bayaran puncak yang ia harapkan tak muncul, yakni wajah bahagia pelanggan dan senyum puas pengguna jasanya.

Pada pekerjaan yang kedua ini segera rusak lagi atau kotori hasil kerja tukang tersebut dan bayar dua kali lipat lagi. Lalu pesan lagi yang serupa. Kali ini mungkin orang itu tak akan sanggup. Ia merasa gagal dengan pekerjaannya atau diremehkan pekerjaan sepenuh hatinya itu, ia juga tak mau melayani satu orang saja yang menyia-nyiakan usahanya, tak menghormatinya meski punya uang yang mampu membayar dua kali lipat jasanya. Ia ingin waktu yang ia jalani mengandung manfaat luas dan bermartabat bagi sebanyak-banyak orang.

Pada tingkat peristiwa tertentu manusia akan lelah berpura-pura mengabdi kepada uang atau kepada apapun yang bukan Tuhan, dia akan menunjukkan diri sebagai manusia bermartabat, karena dia dan rasa kemanusiaannya tak bisa dinilai dengan harga buatan manusia, melainkan hanya Tuhan saja yang berhak berkuasa atas dirinya. Segala perilaku kebaikan yang ia lakukan pun dalam rangka mengabdi kepada Tuhan, yakni dengan cara ia bermanfaat bagi oranglain. Sehingga jika lantas proses pengabdiannya ini tak disyukuri dan direndahkan, ia tidak akan terima dengan mudah. Ada kesepakatan bawah sadar yang ‘ahad’ dalam nurani setiap manusia tentang pengabdian, yang pengabdiannya itu sebagai bentuk menghamba hanya kepada Yang Ahad.

Menyampaikan peringatan itu bukan tugas agamawan yang dipahami secara formal, namun adalah tugas hamba-hamba Allah yang terpilih atau dikehendaki. Rata-rata manusia masih enggan atau setengah hati untuk menghadirkan Tuhan sebagai puncak prioritas, puncak kebijakan, puncak inspirasi kasih-sayang, puncak atastujuan segala sepak terjangnya dalam menjalani kehidupan. Yang masih terjadi saat ini fikiran digunakan untuk hal-hal yang memusingkan. Akal dipakai untuk memanipulasi keburukan sehingga tampak sebagai keindahan. Tuhan dibiarkan kos di Masjid saja, segala perbuatan baik dan suci ada di area Tuhan, dan Tuhan ada di Masjid maka penipuan, penyelewangan, dan segala pemalsuan sah dilakukan asal tidak di Masjid, jadi ada wilayah Tuhan dan ada wilayah yang Tuhan tak berkepentingan. Tuhan diletakkan di lokasi statis dan minor, bukan di semesta yang penuh dinamika, bukan di dalam detak jantung, putaran darah dan nafasnya, yang kemanapun ia pergi selalu disertai olehNya.

Rasa syukur bukan lagi kepada kesehatan mata, pendengaran, hati, namun pada kenaikan pangkat, kenaikan gaji, bonus-bonus, diskon, paket hadiah gratis, dan segala macam hingar-bingar hasut kepemilikan yang melenakan. Manusia juga masih merepetisi permohonan untuk diberikan petunjuk namun tak benar-benar mau mendapat petunjuk, kecuali petunjuk itu memberi keuntungan secara cepat dan kasatperihal yang dia maui di dunia. Petunjuk untuk menemui artis idola mungkin lebih diminati daripada petunjuk untuk menemui Pencipta langit bumi. Untunglah Gusti Allah Maha Pengampun dan Maha Belas Kasih. Setiap proses hidup manusia selalu menjadi koma, tidak menjadi titik (kecuali yang berputus asa), atau sudah sampai ajal. Artinya masih akan ada kalimat selanjutnya yang diharapkan lebih baik dari hidup orang tersebut dan menegaskan makna hidupnya.

Masyarakat Maiyah mulai perlu menjajaki diri posisi sebagai anak cucu yang sedang menyeberang dengan obor penyuluh. Perjalanan ini penuh aral, tidak mudah, disalah-pahami, difitnah, diabaikan, namun tetap berproses. Justru semakin semarak berpuluh tahun dengan tetap gembira.Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal[1].

 

Kerumunan Lebah

Jamaah dan segenap generasi Maiyah bisa jadi merupakan kawanan lebah madu yang diperintah Gusti Allah untuk memaniskan gunung-gunung, memaniskan hutan-hutan, hingga memaniskan segala bangunan yang dibuat oleh manusia. Maka bathin masyarakat Maiyah disemangati khasiat obat sehingga kemana saja tinggal akan memberi kesenangan dan penyembuhan dengan corak dan warna yang beraneka. Mudah-mudahan masyarakat Maiyah, adalah yang dikehendaki Allah SWT untuk menjadi pembawa peringatan tentang keEsaanNya. Tidak mendua apalagi menandingkan Tuhan dengan segala sesuatu yang dibuat-buat sendiri dan disembah sendiri.

Semoga masyarakat Maiyah mendapat cahaya benderang di dadanya masing-masing sehingga bisa menjadi penyibak gelap di lingkungannya, memberikan kebahagiaan, tidak mengancam siapapun, senantiasa waspada, mahir bersyukur, terkaruniai petunjuk dari Allah, pandai bertafakur, tajam menggunakan nalar. Semoga masyarakat Maiyah adalah kawanan lebah madu yang segala perilakunya dipandu oleh Gusti Allah langsung di hatinya masing-masing. Sehingga segala karunia lahir maupun bathin tidak dianggap sebagai pencapaian yang ingin dipamerkan atau dipertandingkan, melainkan sebagai bentuk konkret Kasih Sayang Tuhan yang ingin menjadikan Masyarakat Maiyah saling melengkapi dan berlomba menyuguhkan kebaikan di saji tempayan kehidupan dengan banyak pencapaian, kepandaian, kecerdasan, kebenaran, keindahan yangempan papanyang bening dan menyegarkan. Hingga apabilakelak terwujudbaldatun thayyibatun wa rabbun ghafur semogalah keluarga Maiyahmenjadi salah bagian yang telah ikut merintisnya sejak sekarang, memperjuangkannya dengan gigih, dan anak-cucu Maiyah mendiami negeri tersebut bersama orang-orang yang dalam hati dan pikirannya selalu menyertakan Allah dan RasulNya secara damai dan aman. Aamiin.

 

Tulisan mas Agus Wibowo dalam rangka tahadduts binni’mah
yang diambil sebagai mukadimah tema MGG Juni 2019
Ungaran, 11 Juni 2019

 


[1] QS An-Nahl ayat 41. Ayat yang senada ada pada QS An-Nahl ayat 110 : Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

MENGARIFI JEBAKAN

Majlis Gugurgunung | “Mengarifi Jebakan” | Sabtu, 25 Mei 2019 jam 21.00WIB | Aula Madrasah Dinniyah Baburrohman, Jl. Watu lembu, RT. 05 RW. 05 Lemah abang, Bergas, Ungaran, Kab. Semarang. | #MGGMei

TRESNO WONG TUWO

LETAK PINTU KASIH SAYANG

Malam minggu terakhir pada 27 April 2019 menjadi malam rutinitas untuk Majlis gugurgunung menggelar maiyahan. Bertempat di Aula Madrasah Dinniyah Baburrohman, Jl. Watu lembu, RT. 05, RW. 05 Lemah abang, Bergas, Ungaran, Kab. Semarang. Merupakan tempat yang baru malam itu dipergunakan oleh Majlis gugurgunung untuk melingkar. Meskipun beberapa warga dan pengurus setempat telah memiliki kedekatan paseduluran. Tempat yang baru dan lengkap dengan sambutan hangat dari tuan rumah menjadi momen paseduluran yang nikmat tuk dirasa.

Jam menunjukkan hampir pukul 20.30 WIB, Mas Jion atur salam pambuko serta tak lupa menyampaikan terima kasih pada warga serta pengurus setempat seperti Mas Fajar dan Mas Mif. Semoga usai malam ini dapat membangun kebersamaan untuk menambah eratnya paseduluran.Berikutnya pembacaan doa wasilah oleh Mas Ari dilanjutkan Munajat Maiyah oleh Mas Tyo dan Pak Tri membaca doa.Moderator malam ini yakni Mas Kasno yang akan dibantu oleh Mas Chafid dan Mas Angling.

Mas Kasno membacakan puisi yang berjudul “Rindu Cahaya dan Rembulan”

Tema “Tresno Wong Tuwo” menjadi topik untuk dirembug. Dalam prolognya, Mas Kasno merasa kurang pintar untuk mendefinisikan. Jika semakin didefinisikan maka akan semakin tahu cara mencinta. Salah satunya pada orangtua, dengan banyaknya kalimat cinta yang tak bisa ditulis untuk menjadi kata. Namun dicoba oleh Mas Kasno ditulis menjadi puisi yang ditulisnya kala ia jauh dari orangtua. Sebuah puisi tentang kerinduan mendalam berjudul “Rindu Cahaya dan Rembulan”.

Usai pembacaan puisi oleh Mas Kasno, teringat pula ia dengan tulisan “Tetes” dari Simbah yang diminta untuk dibacakan oleh Mas Chafid.

Mas Chafid membacakan “Tetes” dari Simbah

Sebelum rembugan lebih lanjut, Mas Mif selaku perwakilan tuan rumah diminta untuk menyampaikan sesuatu. Diceritakannya awal mula diputuskan untuk menempati Aula Madrasah Diniyyah Baburrohman ini. Dimana Mas Patmo menceritakan bahwa tempat yang biasa (kediaman Mas Mun) sedang tidak bisa digunakan dikarenakan berbenturan dengan jadwal kegiatan Mas Mun yang tidak mungkin ditinggal. Beberapa alternatif dicari oleh Mas Patmo dan Mas Angling. Alih-alih mencari tempat justru disarankan untuk menempati Aula ini. Fenomena apik saat disampaikan pula oleh Mas Mif bahwa disini tidak ada yang namanya tuan rumah, pun tidak ada yang menjadi tamu. Sebab kesemuanya ialah seduluran.

Mas Agus menambahkan pantikan untuk diskusi dengan tema “Tresno Wong Tuwo”

Kemudian Mas Agus diminta untuk menambahkan pantikan untuk diskusi dengan tema “Tresno Wong Tuwo” ini. Bahwasanya tua disini bisa diterjemahkan secara perilaku bukan hanya sifat jasadiahnya saja. Dulur-dulur Lemah abang mencontohkan perilaku yang tua. Rela berkorban, tidak seperti anak-anak yang warna atau jiwa pengorbanannya belum kentara. Hal ini bisa menjadi uraian tema sehingga kita paham tentang proses untuk menua.

Orang lahir kesemuanya untuk menua. Di Jawa, tuwo berarti nutu howo (menempa /menumbuk hawa nafsu). Meski berusia muda dan masih brangasan tapi sudah ditutu. Seakan dihancurkan namun justru memunculkan kemanfaatan yang lebih luas. Sama halnya dengan gabah, setelah ditutu hingga menjadi beras dan dimasak menjadi nasi maka akan menjadi makanan yang bisa terdistribusi ke berbagai pihak. Disini diam-diam kita membidik informasi manakah yang bisa dijadikan pegangan. Dimana tidak harus tua secara umur tapi mengetahui bagaimana untuk menjadi “tua”. Kita merasa masih kekanakan namun kita rindu untuk menjadi figur tua. Dengan menjadi tua, sesungguhnya makin membuat kita semakin mengenali letak pintu kasih sayang.

 

LETAK ORANGTUA

Diskusi malam ini akan menjadi lebih hidup bila kita disini masing-masing saling menyumbang. Bersama mengisi kegembiraan dengan level yang sama. Tema ini merupakan tema kita bersama, sehingga menjadi kembulan dan santapan bersama.

Mbak Dewi tak ketinggalan dibidik moderator untuk merespon. Mbak Dewi seorang perantau, yang tidak tiap hari merasakan kebersamaan dengan orangtua. Tema malam hari ini membuatnya berat untuk berbicara. Namun bagaimanapun kondisi kita hingga menjadi seperti ini tidak terlepas dari peran orangtua. Orangtua selalu ada untuk kita. Apapun yang kita lakukan tidak membuat orangtua sakit hati. Namun sebagai anak pasti ada momen menjengkelkan bagi orangtua. Namun sebenarnya yang dirasakan hanyalah cinta, cinta dan cinta. Mbak Wulan juga berkisah yang hampir sama. Meskipun ia mengaku seorang “anak mami” yang tak bisa jauh dari ibunda namun ternyata justru keberadaan orangtua semakin tambah terasa dekat saat jauh secara ruang seperti sekarang. Sebenarnya orangtua memang memberi perhatian tanpa henti yang lebih dari siapapun, apa lagi ketika kita sakit. Dimana memang Mbak Wulan saat itu mengaku baru saja sembuh dari sakit.

Mas Kasno sebagai seorang yang berpengalaman pula dalam dunia perantauan memberi tambahan pantikan. Menurutnya bahwa cinta secara naluriah ialah hidangan oleh Allah SWT yang ditanamkan pada masing-masing hati atau jiwa manusia. Jadi ketika bersentuhan dengan momentum-momentum tertentu maka akan muncul kerinduan secara naluriah. Sehingga jarak takkan menjadi halangan sebab masing-masing akan mendekat secara getaran atau frekuensi.Kemudian ada Mas Ari yang menanggapi tentang Tresno Wong Tuwo ini. Didalamnya terdapat 2 (dua) hal yakni ada anak dan juga orangtua. Sebagai seorang anak, asalkan menurut saja dengan orangtua maka akan membuat orangtua bahagia. Itulah yang disebut kesanggupan menjalankan.Salah seorang sesepuh Majlis gugurgunung dalam hal usia yakni Pak Zam sependapat bilamana cinta hadir ketika kita merindu. Semakin rindu dirasa makin pula kita melihat apa itu cinta. Menurutnya, tidak ada kerinduan maka tidak ada yang namanya cinta.

Mas Amri yang syukur bisa hadir malam ini menceritakan sebuah fenomena pengalamannya. Pernah dilihatnya seorang anak kecil membawa tas besar di pinggir jalan. Didekatilah anak tersebut. Disapa dan diajak bercerita. Bahwa si anak tersebut ternyata sedang ada konflik di rumah dan ingin pergi namun membawa lukisan favoritnya yakni lukisan rukun Islam.Mas Angling berikutnya meminta Mas Mif menambahkan sudut pandangnya tentang cinta. Cinta sejak tadi dibahas bekisar seputar kerinduan dan jarak. Cinta biasanya kepada istri dan orangtua. Sementara Mas Mif dengan sang istri hanya beda RT saja. Sedangkan pada orangtua terkadang sebagai anak ingin kita bekerja hingga kaya lalu memberinya pada orangtua. Namun ternyata setelah anak mapan maka orangtua hanya butuh bahagia, bukan melulu tentang harta.

Dari beberapa responden memberi sudut pandang bahwa letak orangtua itu berada dalam kerinduan, dan cinta orangtua terletak pada cinta itu sendiri. Segala hal yang menghubungkan pada cinta maka akan menghubungkan pada orangtua dan segala hal yang berhubungan dengan orangtua akan menghubungkan dengan cinta. Yang menjaga, mengasihi, mendidik, menumbuhkan, berkorban, kepada buah hatinya.

 

ORANGTUA JASAD, JIWA, RUHANI

Mas Agus memberikan tambahan tentang pilahan bahasan dari tresno wong tuwo. Orangtua dibagi menjadi tiga. Yakni:

  1. Jasad. Wujud : yakni kedua orangtua kita
  2. Jiwa : yakni yang menanamkan nilai atau gagasan, pemikiran, ideologi.
  3. Ruhani : yakni yang memanggil untuk mencahaya

Mengacu pada unsur yang ada dalam diri kita juga terdapat akantiga hal tersebut. Body, andMind, Soul. Hal ini akan mempengaruhi segala sepak terjang yang gagasan utamanya mempertimbangkan 3 hal tersebut.

 

ORANGTUA JASAD

Andai ada lowongan pekerjaan untuk menjadi orangtua. Dengan gaji perbulan yang belum pasti jam kerjanya 24 jam sehari tanpa istirahat, memberi kasih banyak hal dan mengorbankan dirinya dalam banyak hal. Maka siapa yang sanggup menerima pekerjaan seperti itu? Itulah kedua orangtua kita. Mereka melakukan itu agar kita hidup bahagia, terlindungi, mendapat kasih sayang, perhatian, disenangkan hatinya, dibiayai pendidikannya, diobatkan saat sakit, dibiarkan kenyang meski mungkin mereka lapar, dibiarkan bergembira meskipun mungkin mereka penuh luka. Mereka tersenyum saat anaknya tersenyum, lupa semua lelah dan jerih payah. Maka berusahalah untuk menjadi anak yang memberi kebahagiaan dengan banyak bakti penuh senyum dan jangan menambah luka dengan perbuatan yang menambah tangis.

Mengawal anak kecil sampai dewasa bukanlah pekerjaan mudah. Sementaraorangtua mengambil pekerjaan tidka mudah itu kita. Secara pekerjaan seharusnya bukan pekerjaan yang menarik. Terutama pekerjaan sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui. Mengapa orangtuakita mau melakukan itu untuk kita? Karena pekerjaan tersebut dilandasi atas dasar keterdorongan bukan ketertarikan. Jika kita tertarik pada suatu profesi maka kita harus mendapat menuntut balasan yang setimpal. Berbeda dengan terdorong. Seorang ibu yang menyusui bayinya meskipun badan letih dan mengantuk tetap mau melakukan karena dilandasi dorongan sikap welas asih yang begitu besar kepada anaknya.

 

KISAH NABI YAQUB DAN NABI YUSUF

Dalam hidup sekarang secara mayor pasti ada ruang-ruang tertentu dimana orang melakukan sesuatu didasari pada ketertarikan bukan keterdorongan. Maka banyaknya yang didapat ialah kecewa. Hingga menyebabkan terdistruksinya cinta dan akhirnya menua. Hal ini harus ditengarai pada bentuk perjuangan dan pengorbanan. Menilik kisah Nabi Yaqub as dengan banyaknya putra yang dimilikinya. Pertama saat Nabi Yusuf kecil dibawa kakaknya untuk berburu padahal sebenarnya akan dibuang ke dalam sebuah sumur. Didramatisasi dengan baju yang robek dan darah kelinci yang seakan diserang binatang buas. Semua anak kompak mengatakan hal yang sama. Namun si anak-anak lupa menghitung bahwa ayahanda mereka bukan sekedar seorang bapak yang mungkin mudah dikelabui dengan informasi yang seolah meyakinkan. Sebagai bapak yang juga seorang nabi Yaqub pastinya memiliki nubuwah yang informasinya lebih hakiki. Maka nabi Yaqub tidak langsung percaya begitu saja bahwa hal buruk tersebut menimpa anaknya.Jasad hanya memiliki fungsi mereplika beberapa hal yang diciptakan oleh Allah. Mata akan menjumpai fenomena warna, bentuk, dll agar mendapat ilmu/pandangan(kaweruhan). Di titik tertentu kaweruhan akan masuk ke ruhani maka jasad tidak kuat menampung. Seperti halnya ketika Nabi Musa as ‘bertapa’ di Gunung Tursina. Ketika Nabi Musa as ingin berjumpa dengan Tuhan. Maka jasad tidak kuat menerimanya, gunung meluruh dan nabi Musa pingsan.

Sama halnya dengan fenomena Nabi Yaqub as. Nabi Yusuf dipantaunya dengan visi kaweruhan (pandangan) bukan sekedar paningal (penglihatan). Maka jasad tidak kuat menerimanya. Maka netra jasad nabi Yaqubtak cukup sanggup menampung, yang terjadi ialah kebutaan sementara.Nabi Yusuf as sudah diberitahu bahwa akan menjadi seorang Nabi. Dimana kemudian hari Nabi Yusuf digoda dengan Zulaichah. Saat itu level Nabi Yusuf hanyalah abdi dalem istana. Tapi rayuannya Zulaichah sangat maut. Hingga Zulaichah “golek kencono” (badan tak berbusana). Yusuf mulai tidak tahan. Akhirnya malaikat Jibril diutus untuk melarang Nabi Yusuf as. Dari dicabut kenabiannya hingga dijadikan musuh Allah SWT tak menggoyahkan Nabi Yusuf yang kala itu hampir terjerumus. Lalu muncullah sepintas sosok Nabi Yaqub as. Seakan luruh, runtuh semua. Kemudian ia siap dengan segala risiko apapun di dunia. Berbalik arah dan lari meninggalkan Zulaichah yang sempat menggapai bagian belakangnya hingga sobek. Nabi Yusuf benar-benar tak bisa menahan kerinduan kepada ayahanda yang dicintainya, sehingga saat itu cinta apapun apalagi hanya dari seorang perempuan menjadi sangat kecil dan tak lagi menarik hati apalagi mendorongnya untuk menggapai. Namun sebenarnya itulah yang menjadi titik tolak. Nabi Yusuf as sebagai seorang abdi dalem pun dipenjarakan sekian kurun dan kemudian hari dibebaskan berkat kemampuannya dalam hal ta’wil dan diangkat menjadi sosok yang berperan untuk Negeri Mesir. Mulai penasihat hingga menjadi kepala logistik. Dengan menjadi kepala logistik akhirnya dapat mempertemukannya dengan saudara-saudara dan juga sang ayahanda. Monentum pertemuan itu yang akhirnya membuat Nabi Yaqub as kembali bisa melihat.

 

ILMU DAN HIMAH

Dari kisah tersebut, maka proses cinta jangan sampai memutus kaweruh. Kita harus punya pengetahuan agar nalar kita tidak mudah ditundukkan oleh gelora cinta yang tidak hakiki. Jika terjadi maka kita hanya akan menjadi budak kesenangan. Dengan mempertaruhkan sesuatu yang sangat mulia. Pertaruhan tidak akan terjadi jika kita memakai kawruh. Ilmu, alim. Ada fadhilah yang dimiliki setiap orang. Maka Allah SWT akan memberi label ulama kepada seseorang ketika fadilah pada diri orang tersebut menjadi ilmu, dan ilmu tersebut bermanfaat untuk orang lain. Jika ilmu hanya bermanfaat untuk diri sendiri, sama dengan menunggangi fadilah dengan kepentingan tanpa kawruh. Kawruh yang ditangkap hanya ‘alimul, sedangkan kelanjutan pengetahuan adalah kebijaksanaan. jadi selain ‘alimul itu juga harus hakiim. Jaman jahiliyah sudah banyak ahli. Artinya secara pengetahuan, orang-orang sudah berpengetahuan. Tapi tidak menghikmahi atau membijaksanai ilmu untuk kepentingan bersama. Ilmu hanya digunakan untuk diri sendiri.

Nabi Muhammad SAW ditolak bukan karena nilai agama dan kandungannya. Yang ditolak ialah segala kerugiannya secara materi. Wanita jaman dulu bisa dijual. Jika Islam diterima maka akan mengorbankan banyak hal yang sudah menjadi zona nyaman. Abu Jahal pun juga bersaksi bahwa Muhammad merupakan seorang baik nan jujur. Namun tidak mau memelukIslam karena dia tak lagi bisa bebas berdagang dan berbisnis apa saja, omset dan pundi dinar dirhamnya terancam bangkrut jika ia memeluk Islam. Sebuah harga yang terlalu besar menurut pandangan abu jahal.

Sedangkan kita sekarang punya syahadat yang sama dengan syahadatnya para Sahabat Nabi, namun dalam hal perilaku malah mirip abu jahal yang jelas-jelas menolak Islam. Misalnya kita dianjurkan untuk saling menolong danmencintai, malah saling menuding, membenci, menebar kebencian, dan mencederai. Kita dianjurkan untuk mengasihi anak yatim, malah mengasihi harta benda dan takut sekali kehilangannya. Kita dianjurkan untuk menebarkan salam dan membawa kabar gembira, tapi malah menebarkan promo dan kabar produk-produk dagangan terbaru. Beberapa hal di atas itu masih wajar dan bahkan normal dalam kondisi jaman seperti sekarang. Namun sangat perlu berhati-hati agar sikap yang kita awali dengan menentukan prioritas, tidak menempatkan kita menjadi salah prioritas, dan alih-alih menjadi hipokrit. Ini yang perlu sekali diwaspadai. Menjadi hipokrit, munafik sebenarnya lebih berbahaya. Karena musuh bukan namun ternyata juga bukan teman. Ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi seperti itu.

 

ORANGTUA JIWA

Orangtua bukan secara jasadnya namun kepada pengetahuan, ide, gagasan. Pernah ada cerita tentang chef handal yang hendak ditarik ke Eropa. Suatu ketika ia ingin pulang kampung menjumpai orangtuanya di desa yang cukup terpencil. Ketika lewat rumahnya banyak yang ternyata hidupnya belum beres. Terutama masalah makannya yang kurang baik. Chef yang ahli menghitung segala hal tentang nutrisi, bahan hingga estetikanya ini menjadi tergerus hatinya. Titik tolaknya ketika melihat ada orangtua yang makan sepertinya sangat nikmat sekali. Padahal yang dimakan ialah tinjanya sendiri. Akhirnya dirumah chef tersebut menangis dan bercerita kepada ibunya untuk tidak jadi berangkat ke Eropa dan justru ingin memasak untuk warga kampungnya sendiri. Langkah besar untuk berjiwa indah dengan adegan ketidak-indahan.

Di lain kisah Mbah Nun pernah bercerita. Semasa kecilnya angon wedus (menggembala kambing). Beliau takjub dengan kambing ketika meminum air sungai di siang yang panas. Melihat hal demikian dirasanya indah sekali. Mengajarkan tentang rasa syukur, harmoni dll. Itulah pelajaran hidup. Dari itu Mbah Nun menyampaikan bahwa tidak berani hidup neko-neko. Seperti yang bisa dilihat sekarang, Mbah Nun hingga usianya yang sepuh tak neko-neko. Bisa jadi fenomena adegan tadi adalah pemantik suatu langkah besar Mbah Nun untuk memilih berjiwa indah dengan dipicu adegan yang indah.

Mas Agus mendengar kisah tersebut semasa masih di Kadipiro. Dimana memang Mas Agus cukup lama berada disana. Awal mulanya Mas Agus hanya mengenal Mbah Nun dari tulisan-tulisan beliau. Dengan agak sombong Mas Agus masih menjaga jarak dan beranggapan Jangan-jangan nanti kecewa ketika terlalu cinta. Karena memang sebelumnya Mas Agus sudah mencintai tulisan-tulisan Mbah Nun. Jika sekedar tulisan yang baik mudah untuk dibuat, namun perilakunya belum tentu baik pula. Namun setelah lebih mengenal keseharian Mbah Nun, ternyata yang tertulis hanyalah sedikit dari yang dilakukan. Jika tulisan Mbah Nun itu baik maka yang dilakukan Mbah Nun berlipat-lipat jauh lebih baik lagi. Barulah demikian Mas Agus merasa bahwa inilah wong tuwoku.

Pernah pula Mas Agus diminta untuk menemani salah seorang sesepuh lain. Tetapi bagi Mas Agus tidak masuk dalam kategori orangtua. Mbah Nun mengajarkan otentisitas dan kedaulatan diri. Maka penolakan tidak apa-apa, asalkan alasan harus kuat dan bukan hanya sekedar tidak mau saja.Memahami hidup dengan berdaulat pada hal yang menjadi proses kita dalam menjalani kehidupan. Apakah pengetahuannya juga terimplementasi dalam diri kita sehingga menjadi produk perilaku atau hanya sekedar jasadiahnya saja sehingga menjadi tiru-tiru.

 

ORANGTUA RUHANI

Untuk ruhani ini tidak diwedar secara direct oleh Mas Agus meskipun dari beberapa penyampaian Mas Agus sebelumnya sudah terdeliverisecara tidak langsung.

Kemudian Pak Narto salah seorang Pengurus Madrasah juga diminta untuk merespon mengenai tema. Banyak hal yang diulasnya tentang cinta. Salah satunya bahwa cinta orangtua ke anak sakklopo (sebutir kelapa), cinta anak ke orangtuasak upo(sebutir nasi). Selain itu juga, umum diketahui istilah anak durhaka. Namun apakah ada orangtua durhaka?

Mas Shohib menambahkan respon agar kita memahami membedakan mana cinta dan syahwat.Mas Azzam, salah seorang dulur yang sudah lama ingin ikut melingkar di Majlis gugurgunung juga diminta untuk menambahkan respon di majlis yang akhirnya berhasil ia bersamai di malam itu. Al Jannatu Tahta Aqdamil Ummahat ialah Surga di telapak kaki ibu. Menurut Mas Azzam ada 2 (dua) hal sakral di kehidupan yaitu saat ijab kabul dan membasuh telapak kaki orangtua. Kita bukan apa-apa tanpa mereka. Kita bukan menjadi kita kalau bukan perantara orangtua. Jika diminta menggambarkan tentang prosesi mencuci kaki ibu, ibarat menangis hingga tidak bersuara. Mencuci kaki dengan membaca syahadat, istighfar, sholawat, al fatihah lalu membasuh muka. Rasanya seperti rontok badan. Jika orang dalam kondisi nol.Mas Satrio, baru ikut melingkar pula malam ini. Iatermasuk baru di Ungaran, yakni kisaran tigatahun. Terkait tema, Mas Satrio mengungkap bahwa ketika sudah menjadi orangtua maka akan merasakan cintanya orangtua pada anak. Terutama ketika anak sedang sakit.

Kemudian Mas Ihda juga menambahkan, ketika Hamka mau meninggal. Dengan menjalani awal hidup yang penuh ketegangan. Dan ketika menjelang akhir hidupnya, ia menulis perumpamaan tua dan muda. Jika tua yang di depan bakal diam tak bergerak, sebab penuh ketakutan. Jika di depan yang muda, akan berjalan terus dan akhirnya menabrak karena penuh harapan. Solusi ketiga yakni yang tua ikut membersamai yang muda.

Mas Agus merespon Pak Narto. Apakah ada orangtua yang durhaka (duroko atau durhoko)? Tentang orangtua yang durhaka alias bertindak jauh diluar kategori orangtua bisa dicari banyak contoh kasusnya di media. Bahwa kata Duro disematkan pada orang yang mengabaikanperan dan merusak. Menurut Mas Agus bisa jadi ada orangtua yang durhaka, jika melihat adanya orangtua yan mengabaikan perannya dan merusak masa depan anak. Bahwa orangtua semacam ini kelak akan dihukum karena tindakannya atau malah bebas hukum di hadapan TuhanWallahua’lam.Tapi dalam kacamata hukum manusia tindakan orangtua menelantarkan anaknya tidak dibenarkan. Berkaitan hukum Tuhan adalah begini ; jika dihukum karena sengaja bertindak merusak dan mengabaikan, dan tidak dihukum karena digolongkan sebagai gangguan jiwa yang mengalami ketidakpresisian dalam berperan sebagai orangtua yang diakibatkan oleh kapasitas pengetahuannya yang sangat rendah. Sebab tidak semua orangtua menampung kebijaksanaan, ada yang benar-benar punya anak dengan dilatarbelakangi pandangan dan cita-cita berkeluarga yang baik sehingga siap bersikap bijaksana, ada yang memiliki anak karena suatu imbas yang belum siap disangga sehingga tak punya persiapan kebijaksanaan, ada orangtua yang hanya sekedar lebih tua usianya namun tidak secara mental, tampaknya yang terakhir tidak banyak di negara Indonesia, namun mungkin bisa menjadi angka yang cukup besar di beberapa negara lain yang menerapkan ciri egaliter dalam hirarki pergaulan sosialnya.

Bagai cahaya. Seperti matahari kita nikmati cahayanya namun kita abaikan keberadaannya. Sesuatu yang sangat bermanfaat dan biasanya tidak dihitung ucapan terima kasihnya. Inilah cinta yang tua. Cinta yang tidak lagi menuntut.Sebodoh-bodohnya orangtua (dengan ukuran pendidikan akademis) pasti masih jauh memiliki pengalaman hidup dibanding anaknya. Maka orangtua lebih mengerti cara menyayangi dan mencintai kepada anaknya dan anak masih dalam tataran belajar menyayangi dan mencintai dari orangtuanya. Maka layak disebut cinta orangtua sepanjang jalan. Ya, sebab mereka mengiring dari lahir sampai mengawal seluruh perjalanan kita dengan cinta yang tanpa henti.

Kuroba (kurban). Sebagai bentuk akrab dan ucapan cinta pada Allah SWT. Nabi Ismail dengan pengorbanannya mencontohkan secara real bahwa Allah lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Hal ini merujuk pada Mas Azzam. Di satu sisi sebagai anak memang meletakkan hormat pada orangtua, karena disitulah letak ridho. Seorang ibu toh nyowo(bertaruh nyawa) berkorban untuk melahirkan kita di dunia. Pengorbanan setingkat nyawa. Seperti pengorbanannya Nabi Ismail, maka betapa dekatnya Allah kepada ibunda kita. Merujuk ke pertanyaan Mas Sohib, untuk membedakan cinta dan syahwat adalah pada tingkat pengorbanan dan pamrihnya.

Tentang kisah Maling Kundang. Bagaimana jika kisah Malin Kundang hanyalah perumpamaan. Yang menjadi batu, bukanlah tubuhnya tapi hatinya yang sekeras batu. Ketika hati sekeras batu dia akan lebih keras dan menjadi semakin keras.Andai orangtua memakai metode ing ngarsa sung tulodho, sehingga dapat menumbuhkan pikiran-pikiran. Lalu ing madya mangun karso, yakni membangun kehendak hingga sudah bisa berjalan sendiri. Maka tinggal tut wuri handayani yang mengikuti dari belakang namun memiliki kedigdayaan. Seperti tanah yang menumbuhkan rela diinjak namun tetap konsisten menumbuhkan dan membuahkan. Seperti udara bisa dihirup tanpa memilih siapa yang akan menghirupnya. Menyelusup dan menyapa kembang salak yang tersembunyi untuk membuah. Seperti air yang selalu akrab dengan kekeruhan padahal ia adalah lahir sebagai kejernihan.

Hampir memasuki jam 00.00 WIB. Seperti biasanya, majlisan ditutup terlebih dahulu meskipun kemudian berlanjut dengan lingkaran-lingkaran diskusi kecil. Mas Kasno menutup malam hari ini dengan meminta mas Sohib memimpin do’a. Sebagai moderator tak seperti biasa kali ini ia tidak mampu untuk menyimpulkan. Menurut Mas Kasno sebab semua yang hadir mungkin punya kesimpulan yang berbeda-beda yang tak ingin dirusak dengan kesimpulan yang dibuatnya. Sebagai ganti kesimpulan Mas Kasno menyampaikan kalimat penutup, “biarlah semua materi malam ini menjadi material untuk membangun tresno pada siapa saja, terutama orangtua kita. Dengan harapan gusti Allah ridho dan cinta pada kita”.

Sekian reportase edisi bulan April 2019, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

TRESNO WONG TUO

Majelis Masyarakat Maiyah: MAJLIS GUGURGUNUNG

27 April 2019 – 20.00 WIB

” TRESNO WONG TUO”

Aula Madrasah Dinniyah BABURROHMAN – Situs Watu Lembu – Lemahbang RT. 05 RW. 05 Karangjati, Bergas – Kab. Semarang.