ADZAN – IDZIN – UDZUN

Hidup ini sesungguhnya adalah semesta panggilan.
Langit mengumandangkan adzan melalui matahari, bulan, bintang, dst. Bumi mengumandangkan adzan melalui gunung, sungai, pepohonan, satwa, tanah, dst. Tubuh mengumandangkan adzan melalui sehat, sakit, dst. Hati mengumandangkan adzan melalui rindu, gelisah, syukur, sabar, penyesalan, dst.

Bahkan setiap kehidupan dan kematian adalah adzan yang menyeru manusia agar membaca ayat-ayat Allah di luar diri dan di dalam diri

Namun, tidak setiap adzan didengar. Banyak telinga menangkap suara, tetapi tidak menangkap makna. Banyak mata melihat tanda, tetapi tidak membaca hikmah. Sebab, diantara Adzan dan Udzun, terdapat satu poros yang sering luput dari perhatian, yaitu Idzin.
Idzin Allah (bi Idznillah) adalah gerbang perjalanan ilmu.
Tanpa izin-Nya, adzan hanya menjadi bunyi. Tanpa izin-Nya, ilmu hanya menjadi informasi. Tanpa izin-Nya, telinga hanya menjadi alat pendengar. Akan tetapi, ketika Allah berkehendak membuka pintu hati seorang hamba, maka setiap desir angin menjadi nasihat, setiap peristiwa menjadi pelajaran, setiap ayat menjadi cahaya, dan setiap langkah kehidupan menjadi madrasah.

Panggilan Allah dan kemampuan manusia untuk benar-benar mendengar, selalu ada rahasia Idzin-Nya.
Maka perjalanan ilmu bukanlah perjalanan mencari sebanyak-banyaknya pengetahuan. Perjalanan ilmu adalah perjalanan memantaskan diri agar Allah berkenan membuka pendengaran lahir dan batin. Ketika izin itu datang, telinga berubah menjadi udzunun wa’iyah—pendengaran yang menyimpan hikmah. Ilmu berubah menjadi amal. Amal berubah menjadi adab, akhlak, akal, dan Iman, yang akan mengantarkan manusia menuju kepada Rabb-nya.

Semoga majelis ini menjadi ikhtiar untuk semakin peka mendengar setiap adzan, memohon Idzin Allah agar hati dibukakan, dan dianugerahi udzun yang mampu menangkap hikmah di balik setiap ayat-Nya.

Karena pada akhirnya, ilmu bukanlah apa yang sekadar terdengar, melainkan apa yang Allah izinkan untuk hidup di dalam hati.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Numbuhke Minat lan Bakat

Setiap manusia dianugerahi potensi yang tersimpan di dalam dirinya. Namun tidak semua potensi langsung tampak dan berkembang. Ada yang masih berupa benih, ada yang sedang bertunas, dan ada yang menunggu saat yang tepat untuk bertumbuh.
Sering kali kita bertanya, “Apa bakat saya?” Padahal sebelum bakat dikenali, sering kali hadir terlebih dahulu sesuatu yang lebih halus, yaitu minat. Minat adalah ketertarikan yang menggerakkan perhatian, membangkitkan rasa ingin tahu, dan mendorong seseorang untuk terus belajar. Minat menjadi pintu yang membuka jalan menuju penemuan potensi diri.

Bakat dapat diibaratkan sebagai benih yang telah ditanam dalam diri setiap manusia. Sebagian benih tumbuh cepat, sebagian lain memerlukan waktu, pengalaman, dan ketekunan untuk menampakkan dirinya.

Minat menjadi air yang menyirami benih tersebut, sedangkan proses belajar, berlatih, dan berkarya menjadi cara merawat pertumbuhannya.

Dalam perjalanan hidup, minat dan bakat tidak cukup hanya dikenali. Keduanya perlu diarahkan, dipupuk, dan dihidupkan melalui laku yang berkesinambungan. Sebab potensi yang tidak dilatih akan tertidur, sedangkan minat yang tidak dirawat akan memudar.

Pada akhirnya, tujuan menumbuhkan minat dan bakat bukan sekadar mencapai keberhasilan pribadi. Lebih dari itu, keduanya diharapkan menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat, keberkahan, dan kontribusi bagi kehidupan bersama. Ketika minat menemukan bakat, bakat menemukan laku, dan laku melahirkan manfaat, di situlah tumbuh apa yang dapat disebut sebagai fadilah—buah kebaikan yang memberi makna bagi diri sendiri maupun sesama.

Tema “Menumbuhkan Minat dan Bakat” mengajak kita untuk mengenali diri, merawat potensi, serta membangun kesungguhan dalam bertumbuh. Sebagaimana benih yang disiram hujan dan dirawat dengan penuh kesabaran, setiap potensi yang ditumbuhkan dengan baik akan berkembang menjadi pohon kehidupan yang kokoh, berakar kuat, menjulang tinggi, dan menghasilkan buah yang bermanfaat.

Hujan/hudan petunjuk menyapa hati.
Minat menumbuhkan semangat.
Bakat menguatkan kemampuan.
Laku mematangkan perjalanan.
Dan fadilah menjadi buah kebermanfaatan

Di awal tahun baru Hijriah ini, kita semua berangkat lagi menuju kesempatan tumbuh dan semoga langkah kita menjadi pertumbuhan yang senantiasa dalam Ridho Alllah. Marilah kita berkumpul dan saling membahagiakan. Mungkin tahap paling awal yang harus tumbuh setiap tahun adalah menebarkan kebahagiaan bersama dalam naungan Rahmat.

Semoga tema ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki benih kebaikan yang layak ditumbuhkan, agar hidup tidak sekadar berjalan, tetapi juga bertumbuh, berbuah, dan memberi manfaat bagi semesta.

PADHEPOKAN WAKAFA – Himayah, Kifyah, Maiyah

Sinau Bareng Gugurgunung malam itu mengangkat tema “Padhepokan Wakafa”. Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB dengan pembacaan tawashshul yang dipimpin oleh Pak Tri. Setelah tawashshul selesai dilantunkan, forum dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno sebagai pengantar untuk memasuki tema pembahasan malam itu. 

 

Pada sesi gelar tikar tema, Mas Agus mengawali pembahasan dengan membedah beberapa fenomena yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah fenomena banjir informasi yang terjadi di era saat ini. Menurutnya, berbagai stimulasi yang hadir melalui media dan lingkungan sering kali memancing respon emosional seseorang. Oleh karena itu, informasi yang diterima perlu diimbangi dengan pendekatan yang lebih utuh melalui rumus 5W1H agar tidak terjebak pada kesimpulan yang tergesa-gesa. Juga sangat penting untuk merasakan getaran narasi, sebab sekarang yang asli dan palsu sudah semakin susah dibedakan. Dengan kita melatih kepekaan terhadap getaran narasi, kita sedang membangun sistem kewaspadaan dini.  

 

Pembahasan kemudian merambah pada aspek ekonomi yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari ekologi, ekosistem, perilaku, dan kultur masyarakat. Dalam konteks perilaku, nilai-nilai kenabian seperti sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah menjadi bagian penting yang perlu dihadirkan dalam kehidupan. Keseluruhan unsur tersebut pada akhirnya menjadi benih yang akan menentukan arah pertumbuhan suatu masyarakat. Selain itu, Mas Agus juga menyinggung persoalan identitas yang dibangun di atas kompetisi serta fenomena FOMO (fear of missing out) yang semakin banyak mempengaruhi cara pandang dan perilaku manusia saat ini. Takut ketinggalan, takut nggak beken, takut nggak dianggap sejajar pada level sosial, adalah ketakutan yang salah tempat. Ketakutan terbesar kita itu sesungguhnya ketika dicabut predikat abdillah dan khalifah. Karena dua hal itu identitas yang patut diperjuangkan bukan malah diabaikan diganti dengan label dan stempel sosial.  

 

Pembahasan berikutnya dilanjutkan oleh Pak Pawit, salah seorang praktisi pertanian yang hadir jauh dari Temanggung. Dalam uraiannya, beliau mengajak jamaah melihat kembali pentingnya pertanian yang thoyyib. Pertanian tidak hanya dipahami sebagai aktivitas budidaya tanaman semata, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pertanian yang baik adalah pertanian yang ramah lingkungan, menjaga keberlangsungan alam, sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dan penerus kehidupan. 

 

Memasuki sesi tanya jawab, berbagai tanggapan dan pertanyaan mulai mengalir dari jamaah. 

 

Mas Yusuf mengawali dengan pertanyaan mengenai bentuk pemberdayaan lingkungan yang dapat dilakukan, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Ia juga mempertanyakan seperti apa model budidaya yang tepat untuk dijalankan dalam konteks tersebut. 

Selanjutnya, Mas Dany mengajukan pertanyaan yang lebih teknis terkait kebutuhan lahan dan media tanam. Ia menanyakan bagaimana perhitungan kalkulasi yang perlu disiapkan apabila ingin memulai kegiatan budidaya secara lebih serius. 

 

Mas Satrio kemudian bertanya mengenai produk yang dapat digunakan untuk membantu memperbaiki unsur tanah, sekaligus menanyakan di mana produk tersebut dapat diperoleh. 

 

Semua pertanyaan berkaitan dengan pertanian ditanggapi oleh Pak Pawit.  

 

Mas Kasno selaku penata diskusi memberikan pandangan juga bahwa langkah awal yang paling memungkinkan adalah memulai dari rumah masing-masing. Menanam menggunakan polybag dipandang sebagai cara sederhana yang dapat dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu memiliki lahan yang luas. 

 

Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Mas Arif. Menurutnya, apabila kegiatan pertanian hendak diarahkan menjadi sebuah usaha atau skala bisnis, maka terlebih dahulu perlu ditentukan pasar yang ingin digarap, strategi yang akan digunakan, serta pola kesepakatan jual belinya. Selain itu, perlu ada pembagian peran yang jelas antara pihak yang fokus pada produksi dan pihak yang bergerak di bidang pemasaran. Namun demikian, sebelum melangkah terlalu jauh ke arah bisnis, Mas Arif mengajak jamaah untuk terlebih dahulu menumbuhkan mental menanam. Kebiasaan dan kesadaran untuk menanam dapat dimulai dari rumah masing-masing melalui media sederhana seperti polybag maupun pekarangan rumah yang dipandang memungkinkan.  

 

Menjelang akhir diskusi, Mas Agus kembali memberikan penegasan. Menurutnya, dalam menanam tidak perlu terlalu dibebani oleh target-target tertentu terhadap tanaman yang ditumbuhkan. Biarkan tanaman tumbuh secara natural sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Yang lebih penting adalah mempertebal kembali niat awal dalam setiap ikhtiar yang dilakukan. Sebab niat yang kuat akan menjadi pondasi bagi proses yang dijalani. 

 

Diskusi berlangsung hangat dan mengalir hingga larut malam. Berbagai pandangan yang muncul tidak hanya membahas persoalan teknis pertanian, tetapi juga menyentuh aspek kesadaran, perilaku, dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidupnya. 

 

Sinau Bareng malam itu diakhiri tepat pukul 01.30 WIB dengan bacaan hamdalah sebagai ungkapan syukur atas ilmu, perjumpaan, dan kebersamaan yang telah terjalin sepanjang forum berlangsung. Meskipun acara Sinau Bareng telah ditutup namun semuanya baru benar beranjak sekitar jam 03.00 pagi. Malam itu seolah malam perbincangan yang lesehan di bawah atap Padhepokan Wakafa yang meski serba sederhana, namun penuh rasa bahagia. 

Padhepokan Wakafa (Himayah, Kifyah, Maiyah)

Kita telah memasuki bulan Mei yang menjadi bulan Milad-nya Mbah Nun. Salah satu yang masih segar di sanubari kita adalah nasihat Mbah Nun yang dituangkan dalam lirik lagu: Wakafa. Disadari atau tidak, ini adalah pusaka yang seolah diwekaskan kepada anak cucunya yang kian menghadapi kekeruhan dan ketidak-menentuan zaman. Maka, Wakafa bukan hanya sekadar lagu. Ia adalah nasihat sepuh yang menjadi pusaka bagi warga Maiyah, dan mungkin juga bagi siapa saja yang sedang berusaha menjaga dirinya di tengah arus zaman yang semakin deras.

 

Hari ini manusia hidup bukan lagi di tengah terik padang pasir, melainkan di tengah banjir stimulasi, hiruk pikuk informasi, tekanan ekonomi, perlombaan identitas, dan rasa takut tertinggal. Mata manusia dipenuhi tampilan, telinga dipenuhi kebisingan, sementara batin perlahan kehilangan ruang untuk mendengar dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah lelah, mudah cemas, mudah goyah, meski tampak baik-baik saja di permukaan. Belum lagi peta geopolitik dunia yang kian memanas dan menambah ketidakpastian hidup manusia modern.

Di tengah suasana itulah, lirik Wakafa Billahi… terasa hadir sebagai jangkar di tengah hempasan gelombang kenyataan. Ia tidak mengajak manusia meninggalkan dunia, tidak pula melarang orang bekerja, mencari penghidupan, membangun keluarga, atau menata masa depan. Namun ia mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar: jangan sampai seluruh sandaran hati berpindah kepada dunia, hingga manusia lupa kepada sumber ketenangan yang sejati.

 

“Cukuplah Allah…”

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh lapisan terdalam dari kegelisahan manusia. Sebab sering kali yang membuat hidup terasa berat bukan semata-mata karena kurangnya harta atau kesempatan, melainkan karena batin kehilangan tempat bersandar. Manusia modern mampu terhubung dengan banyak orang, tetapi asing terhadap dirinya sendiri. Mampu mengakses banyak informasi, tetapi kehilangan arah. Mampu menampilkan banyak hal, tetapi sulit merasa cukup.

Karena itulah, Wakafa dapat dibaca sebagai ajakan untuk memulangkan kembali pusat ketergantungan manusia. Bahwa kita tetap perlu berikhtiar, tetap bekerja, tetap hadir di tengah kehidupan, namun tidak menyerahkan seluruh makna hidup kepada apa yang fana dan berubah-ubah. Mungkin di situlah letak Himayah dan Kifayah yang tersembunyi di dalam lirik ini: bukan menjauhkan manusia dari zaman, melainkan menjaga manusia agar tidak tenggelam oleh zaman.

 

Di edisi bulan Mei ini, kita akan mencoba berembug bersama. Bukan sekadar membahas Wakafa sebagai lirik atau konsep batin, melainkan mencoba mendiskusikan langkah-langkah apa saja yang dapat diambil dalam waktu dekat, dengan tetap menjadikan Wakafa sebagai landasan, genggaman, sekaligus perisai dalam menjalani kehidupan.

 

Marilah bergabung, kehadiran Anda bisa jadi bagian dari keutuhan Himayah dan Kifayah yang dikaruniakan Allah untuk kita semua. Aamiin.

 

-Majlis Gugurgunung-

Sejarah Tandur lan Wangsa – Harmoni & Survival

Suasana malam minggu di bulan Apit ini tampaknya memberi impak pada perjalanan beberapa jemaah untuk melingkar tepat waktu. Sepanjang jalan dari arah Semarang bawah terdapat banyak perhelatan penduduk dan bahkan beberapa titik digelar Pakeliran Wayang Kulit. Namun, meskin demikian, peserta tetap relatif hadir tepat waktu. Sebagaimana biasa, Sinau Bareng Gugurgunung di awali dengan lambaran tawashul. Malam itu keluarga gugurnunung disambangi oleh beberapa sedulur maiyah dari Ambarawa yang berniat ingin menggelar sinau bareng juga di area Ambarawa dan sekitar. 

 

Setelah pembacaan Tawashshul dan indal qiyam serta doa, Jamaah kembali duduk dan mulai menyalakan kembali rokok dan menyeruput kopi yang telah terhidang. Mas Kasno mulai memimpin Sinau Bareng dengan membacakan mukadimah dan beberapa ulasan untuk memantik tanggapan dari peserta. 

 

Sesungguhnya manusia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, yang bisa manusia lakukakan adalah  menghadapi masalah. Dalam rangka menghadapi masalah, manusia akan dihimpun dengan manusia yang lain untuk saling bantu, untuk menyelesaikan masalah secara bersama. Manusia atau Wong yang dihimpun dalan satu kesamaan roso inilah yang kemudian menjadi WongSo/Wangsa. 

  

 

Nabi Adam dan Cetak bitu Peradaban 

Pasca peristiwa Kuldi, Nabi Adam diturunkan ke Bumi. Misi utamanya adalah sebagai Khalifah. Hadiah yang dahsyat bagi bumi karena pada fase tersebut bumi sedang chaos, khalifah sebelumnya dari bangsa Banujan telah sedemikian membuat pertumpahan darah sampai pada titik kegagalan yang benar-benar hancur. Bumi perlu ditata kembali oleh Khalifah yang berasal dari Surga, yaitu Nabi Adam. 

  

Perjalanan awal Nabi Adam sejenak setelah diinjakkan ke bumi, adalah perjalanan catak biru peradaban. Ia hendak mencari sang istri yang terpisah, namun Allah memberikan Perintah kepadanya untuk memberi salam kepada bumi dan penghuninya, ini adalah cetak biru insan sebagai penebar salam dan rahmatan bagi alam. Mendahulukan Perintah Allah daripada kepentingan pribadi. 

  

Kemudian ia menuruni bukit hingga ke lembah hingga sampai ke pesisir dan bibir laut, lautan yang luas itu ia arungi dengan anggapan bisa ia sebrangi dengan berenang sebagaimana ketika ia mengarungi samudera alam surgawi yang serba mudah dan menyantuni. Tapi, ternyata Nabi Adam salah kalkulasi karena laut di bumi lebih menguras tenaga hingga ia hampir kehabisan tenaga. Dengan lafadz La Haula Wala Quwwata ila billah, ia diperkenankan Allah sampai ke daratan sebrang. Ia merasa sangat letih, nafas terengah-engah, haus yang luar biasa. Nabi Adam yang belum lama menginjakkan kaki di bumi tak berani mengobati kerongkongannya sebelum Datang perintah Allah. Maka, nabi memilih menenangkan diri, mengatur nafas, sebab ia tak ingin mengulang kesalahan peristiwa Kuldi, dimana ia memasukkan sesuatu pada kerongkongannya atas dasar keinginan. Ini adalah blueprint sikap aji, yang melangkahkan kaki karena gema Tasbih yang ia dengar dari sanubari. Ini juga awal miskalkulasi hanya karena berfikir “biasanya bisa” sehingga hampir tenggelam kehabisan tenaga, namun sekaligus cetakan sikap untuk kembali berserah dan menyatakan bahwa Kekuatan adalah Milik Allah. Sikap yang kembali memosisikan sebagai hamba bukan penentu sikap diri secara gegabah hanya berdasar pengetahuan dan pengalaman. Sesampainya di daratan, Nabi Adam menahan diri namun juga mencegah kalut, cemas, takut, memimpin dirinya. Ia memilih menahan diri dan mengatur nafas untuk menundukkan rasa haus kering. Bahkan menahan diri untuk mereguk sungai yang berada di dekatnya. Bukan karena bodoh namun karena menghindari miskalkulasi lagi. Ia mengatur nafas, duduk tenang dan mendengarkan. Sikap beradab, menahan diri, berpasrah ini menegaskan posisinya sebagai hamba. Sikap Adab ini membuka gerbang langit dan membuka diri menerima Segala Petunjuk-Nya. 

  

Sejenak kemudian, Allah segera memerintah Malaikat Jibril untuk pertama kalinya hadir menemui Nabi Adam dan menyampaikan untuk meminum air sungai yang telah disediakan Allah. Nabi Adam pun menurut, dan demi menjaga Adab, Nabi mendahulukan Bismillah baru kemudian meminumnya. itulah seteguk air yang kesegarannya luar biasa. Seolah bukan hanya kerongkongannya yang basah, namun juga hatinya, pikirannya, dan ketundukannya kepada Allah. Kesegaran ini menumbuhkan niat bahwa kelak, peradaban manusia tak boleh lepas dari kesabaran menahan diri/puasa, dan dari air. Seteguk air yang membentangkan bayangan peradaban insan. Nabi ingin mengabarkan kepada anak turunnya tentang peristiwa ini, kabar gembira tentang indahnya berpasrah, menakar diri, memohon ampun jika melakukan kesalahan dan penyelarasan kembali, bersabar, tak mudah menyerah, pantang putus asa, dan berpuasa agar Allah memberikan Rahmat-Nya secara langsung. kembali memperkuat keintiman jarak kepada Allah adalah tradisional Bani Adam. 

  

Air tawar dan kesegaran yang menghidupkan itulah yang menginspirasi Nabi adam untuk merintis kegiatan Tandur, dengan men-direct Harmoni dari Syurga. Ringkasnya, Tanah dan Air akan menjadi Ejawantah Su Warga, melalui kegiatan Tandur dan Ternak yang  rintisannya dimulai dari lingkup Keluwarga. 

  

Seluruh hasil Pertanian dan Peternakan, diperuntukkan untuk Sajian Tama dan Maha Boga sebagai bentuk Syukuran bersama seluruh entitas penduduk bumi, baik Manusia, Jin, Denawa, Diyu, dan lainnya. Peradaban yang matang adalah peradaban yang seimbang. Harmony dan Survival. Khouf dan Roja’ dan seterusnya. 

  

3 Mutiara Bumi 

(7 Perangan diri merespon peristiwa universal) 

  

7 Perangan diri : 

1.⁠ ⁠Iman 

2.⁠ ⁠Akal 

3.⁠ ⁠Akhlak 

  4.⁠ ⁠Adab 

  5.⁠ ⁠Pikir  

6.⁠ ⁠Nafsu 

  7.⁠ ⁠Jasad 

3 Fase awal adalah fase dimana simulacra tidak mampu menembusnya. 3 Fase akhir adalah fase yang mulai rentan tertembus simulacra. Dan Adab adalah Fase transisi atau pintu masuk yang rentan tersusupi simulacra. 

  

Peristiwa Global terkini, yang aktor utamanya adalah Palestina, Iran, Amerika, Israel. 

  

Ada 3 Mutiara Bumi yang tampak dari peristiwa berdarah saat ini : 

1.⁠ ⁠Mutiara Iman, oleh Palestina. Belum ada negara yang mempunyai mutiara iman paling menyala pada peradaban saat ini. 

2.⁠ ⁠Mutiara Akal dan Akhlak, oleh Iran. Negara yang paling gagah  berani menjaga nyala mutiara Akal dan Akhlak. 

3.⁠ ⁠Mutiara Adab, oleh …. ? 

 

Amerika dan Israel, terus menerus memainkan pesta pora yang mendistraksi pikir, yang berorientasi utama pada pemuasan  Jasad dan Nafsu. 

  

Perangan Adab ? 

tergantung kepada siapa ia mau mendengarkan : Apakah akan mendengarkan Iman, Akal, Bu dan Akhlak. Atau malah mendengarkan Pikir, Jasad, dan Nafsu. 

  

Hati Petani 

Nusantara, yang menyebut dirinya sebagai Tanah Air.  Segara Giri, Segara Gunung, dst …. 

Bukan sekedar idiom, namun lebih kepada bangunan kesadaran spiritual yang kokoh dan tangguh untuk terus mempertemukan dua elemen penting sebagai manifestasi Tumbuh lewat lelaku Tandur, dalam hal apapun. Hati yang senantiasa menjaga  kesetiaan nilai Harmoni dan Survival. 

  

Tanah dan Air, bisa jadi adalah aktivator akan munculnya mutiara ke 3 yaitu Mutiara Adab, yang senantiasa mau mendengar Akhlak, Akal, dan Iman. Kemudian mau mendidik Pikir, Jasad, dan Nafsu. 

  

Diskusi semakin mengalir dengan tambahan ulasan dan uraian berkaitan dengan tema. 

 

Memang akan menjadi perjuangan yang tidak ada nilai oportunis dan kapitalis, karena transaksi tertinggi perjuangaanya mencapai level puncak …. yaitu Syuhada. 

  

Sekitar pukul 00.30 Diskusi ditutup dengan bacaan Hamdalah dan semua peserta makan bersama. Diskusi non formal masih berlangsung hingga pukul 03.00 dan seluruh peserta undur diri setelah bersama-sama membersihkan ruangan. 

 

 

-Redaksi Majlis Gugugrgunung-