OMAH (Ombo lan Mahanani)

Hawa sejuk mengiringi perjalanan dulur-dulur menuju rumah Mas Satria di wilayah Pringapus. Malam itu, rumah Mas Satria menjadi ruang untuk kembali melingkar, duduk bersama, dan melaksanakan Sinau Bareng. 

Mengangkat tema “OMAH – Ombo lan Mahanani”, dulur-dulur hadir dalam suasana hangat dan guyub, membawa niat untuk sinau bareng, belajar bersama melalui sebuah ruang persaudaraan. 

Tepat pukul 20.00, acara dimulai dengan melantunkan tawashshul, munajat, dan sholawat. Setelah itu, pembacaan mukadimah disampaikan oleh Mas Kasno sebagai pondasi dasar untuk menentukan arah Sinau Bareng malam itu. 

Dari sanalah pembahasan perlahan diarahkan kepada satu kata: omah. 

 

“Omah” adalah Hati 

Omah tidak hanya dipandang sebagai bangunan yang memiliki dinding, pintu, dan atap. Omah adalah hati. 

Jika hati adalah omah, lalu siapa yang menjadi tuan rumah? 

Dalam Sinau Bareng malam itu ditegaskan bahwa tuan rumah utama adalah Allah SWT, sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah penjaga pintunya. Konsep Shohibu Baity yang dikenalkan Mbah Nun kepada Maiyah.  

Maka ada sebuah belief system yang perlu disepakati oleh para penghuni rumah: jangan bergantung kepada sesuatu yang tidak abadi. Pegang kembali kesadaran tentang siapa tuan rumah dan siapa penjaga pintu. 

Pembahasan kemudian menyentuh konsep Priyo Utomo Jowo: 

  • wismo, 
  • turonggo, 
  • kukilo, 
  • curigo, 
  • wanito. 

Rumah tidak berhenti pada bangunan jasad. Ada bangunan lain yang lebih dahulu perlu dirintis, yaitu bangunan batin. Dalam konsep Priyo Utomo Jowo, landasan utamanya adalah bangunan batin tersebut. 

Rumah pertama kali adalah rumah Siti Hawa, di surga. Sebelum ada Sayidah Hawa, Nabi Adam tinggal di dalam surga yang terhampar. Rumah Nabi Adam adalah surga itu sendiri, sekaligus kesadaran bahwa surga bukanlah miliknya terus menyala. 

Ketika ada seorang wanita, harus ada dan bisa menjadi tempat untuk pulang. Harus ada ruang privasi, ada ruang rahim. Begitu pula Sayidah Hawa yang menjadi pasangan Nabi Adam: perempuan yang menjadi pasangan laki-laki. 

Laki-laki lebih bernaluri bergerak di wilayah Rahman yang terhampar, sedangkan perempuan lebih terlatih menekuni ketenangan dan keteduhan rumah yang menjadi tempat pulang pengalaman Rahman, sekaligus tempat lahir atau berangkatnya penjelajahan rahmat. Sebab, perempuan menampung alam rahim dalam dirinya. Dan alam rahim memiliki belief system yang tunggal dan privat. 

Dari sini, kesadaran yang harus dijaga adalah kesadaran adab. 

Lalu, Apa “Buah Khuldi” di Rumah Kita? 

Jika di surga ada pohon Khuldi yang tidak boleh didekati, maka muncul sebuah pertanyaan yang kemudian dilemparkan kepada para dulur: 

Kalau rumah adalah hati, apa “buah Khuldi” yang ada di dalam rumah kita sendiri dan tidak boleh kita dekati? 

Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai sebuah konsep. Satu per satu dulur mencoba melihat ke dalam “rumahnya” masing-masing. 

 

Mas Dany, Pak Tri, Mas Arif, dan Pak Edi secara garis besar sepakat menyebut rasa memiliki sebagai buah Khuldi tersebut

. Mas Yusup menyebut listrik sebagai buah Khuldi-nya. Sementara Mas Satria membawa jawaban dari khazanah Jawa: paku emas, yaitu mapag keakuan—menumpulkan keakuan. Sedangkan Mas Kasno menyebut bahwa apa yang dibawa pulang ke rumah harus di-filter dengan baik, agar hanya keberkahan yang berhak masuk ke dalam rumah.

 

Jawaban-jawaban dari para dulur tersebut mengajak untuk melihat kembali apa yang berada di dalam rumah, sekaligus apa yang perlu diwaspadai dan dijaga agar tidak kita dekati. Mas Agus kemudian merangkainya menjadi kurang lebih sebagai berikut: 

Pada dasarnya, alam surga adalah alam rida yang tidak menampung rasa memiliki. Sehingga benar bahwa rumah harus menjadi ruang pertama bagi seluruh anggota keluarga untuk tidak menjadikan rasa memiliki atau kuasa sebagai perilaku yang boleh tumbuh atau dimaklumi. 

Pohon Khuldi adalah pohon yang menawarkan buah keabadian. Ia membawa daya tarik dan pesona yang membuat pikiran, nafsu, dan jasad kita tergiur untuk menggigitnya. 

Jika istilah Khuldi berasal dari kata kholida yang berarti abadi, marilah kita periksa apa yang telah diam-diam kita nomor satukan di dalam rumah atau hati kita. Apakah ketenaran, kekuasaan, kekayaan, jabatan, atau pujian dan sanjungan?

Semua itu seperti listrik yang, jika diletakkan pada tempat yang tepat, bisa membawa manfaat. Siapa pun pernah kesetrum, tetapi mungkin jarang yang dengan sengaja memegangnya. 

Jika dipegang, tangan kita seolah terserap arus dan tidak mudah melepaskan diri, meskipun batin kita berteriak-teriak. Dunia tidak tahu kita berteriak. Dan ketika batin kita berteriak, Allah-lah yang mendengar dan mampu membebaskannya. 

Menggenggam sesuatu yang kita tempatkan sebagai nomor satu selain Allah karena menyangka akan hidup kekal atau dikenang selamanya di dunia adalah gigitan Khuldi. 

Jika demikian, apakah semua itu tidak boleh didekati? 

Aturan pertama: iya, tidak boleh didekati. Namun ada aturan berikutnya: jika terlanjur tergigit, jangan biarkan dirimu merasa tinggi karena gigitan itu. Memohonlah ampun, turunkan dirimu lebih rendah lagi di hadapan Allah, sehingga gigitan Khuldi tidak menjadi musibah, melainkan menjadi anugerah untuk menyempurnakan penghambaan dan melaksanakan kekhalifahan. 

 

Khuldi: Yang Dianggap Abadi 

Khuldi dikaitkan dengan khuld, yaitu keabadian. Namun justru di situlah letak persoalannya: sesuatu yang kita anggap abadi, padahal sejatinya bukanlah yang abadi. Hukum dunia bersifat dinamis dan berubah-ubah. Sedangkan hukum Allah bersifat statis, tetap, dan langgeng. Maka, selama kita masih berada di dunia, di dalam rumah dan di dalam hati kita akan selalu ada “Khuldi”. Ia akan selalu menjadi sesuatu yang perlu dikenali. Yang menawarkan keabadian adalah sesuatu yang mudah membuat kita lupa posisi sebagai hamba. 

Tugas kita bukan menganggap rumah telah bersih dari “Khuldi”, melainkan tidak mendekatinya. Karena bisa jadi, yang menjadi “buah Khuldi” bukan sesuatu yang jauh dan kita benci. Ia justru berada sangat dekat dengan kita, dan membuat kita terpana dan menyukainya. 

 

Behavior Surga dan Neraka 

Di titik ini, pembahasan kemudian mengarah pada dua macam behavior: surga dan neraka. Behavior surga adalah rida. Sedangkan behavior neraka adalah milik. 

Maka “milik” menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Ketika sesuatu yang sejatinya berbentuk fasilitas untuk sarana kita beribadah dianggap sebagai milik, ketika sesuatu yang seharusnya berada di luar diri mulai kita tempatkan sebagai bagian dari kepemilikan, di situlah “buah Khuldi” berada di dalam rumah. 

Kesadaran tentang “milik” bukan berarti meniadakan fungsi benda, jabatan, kekayaan, kekuasaan, atau berbagai fasilitas kehidupan. Yang perlu diperiksa adalah bagaimana semua itu ditempatkan di dalam rumah batin: apakah menjadi sarana, atau perlahan berubah menjadi sesuatu yang kita genggam sebagai milik dan kuasa. 

Di sanalah kesadaran adab kembali diperlukan. Bukan untuk menganggap diri telah terbebas dari Khuldi, tetapi untuk mengenali daya tariknya, menjaga jarak darinya, dan ketika terlanjur menggigitnya, kembali merendahkan diri di hadapan Allah. 

 

Pulang Membawa Bekal Kesadaran 

Sekitar pukul 01.00, Sinau Bareng ditutup dengan membaca hamdallah bersama-sama. Setelah itu, dulur-dulur tidak langsung beranjak. Makan bersama dan berbincang menjadi bagian dari menu lezat malam itu. 

Hingga tepat pukul 02.00, dulur-dulur mulai kembali melanjutkan perjalanan menuju “omah” masing-masing. Namun perjalanan menuju rumah belum benar-benar berakhir. Setiap dulur pulang membawa bekal kesadaran: bahwa tuan rumah yang sebenarnya di dalam rumah kita, di dalam hati kita adalah Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW adalah penjaga pintu rumah tersebut. Dan di dalam setiap omah, termasuk di dalam hati sendiri, akan selalu ada “buah Khuldi” yang perlu dikenali, namun bukan untuk didekati. Sebab mungkin, rumah bukan hanya tempat kita pulang. Rumah adalah tempat kita kembali memeriksa: siapa yang menjadi tuan rumah, apa yang kita anggap sebagai milik, dan apa yang harus kita jaga agar tidak kita dekati. 

Omah – Ombo lan Mahanani

Rumah adalah lambang paling gamblang sebagai tempat kembali. Maka bagaimana membangun suasana tempat kembali yang baik, benar, dan indah.  

Dengan rumah, seseorang akan mendapat ketenangan, ketenteraman, dan mengerti keluasan dan support masing-masing.  

Omah diharapkan ombo lan mahanani, luas dan serba ada. Bukan semata ditengarai oleh rumah yang luas dan ketersediaan fasilitas yang lengkap. Sebab rumah luas pun bisa tetap terasa sempit dan fasilitas tetap terasa hambar. Maka, rumah memerlukan keluasan hati dan kerelaaan. Iklim rumah ditentukan oleh penempatan yang tepat, siapa yang nomor satu di dalam rumah. 

MERDEKA MENJADI ABDILLAH  – Maqsud, Silah,  Islah,  Uzlah 

Suasana Sinau Bareng Majlis Gugurgunung malam itu terasa guyub dan menenangkan. Para dulur berkumpul dalam satu lingkar, membawa cerita, pengalaman, dan pemikiran masing-masing untuk kembali bersama menggelar tikar Sinau Bareng.  

Sinau bareng diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno.  

Tema yang diangkat kali ini adalah “Merdeka Menjadi Abdillah”, dengan tagline “Maqsud, Silah, Islah, Uzlah.” Beberapa dulur sebelumnya telah mengusulkan beberapa poin untuk menjadi bahan tema sinau bareng. Pada malam itu, mereka yang mengusulkan poin-poin tersebut diminta untuk menjabarkan pemikirannya masing-masing. Sementara Mas Agus mencatat poin-poin yang disampaikan, untuk kemudian dirangkai, dipertemukan, dan dicari arah serta persambungannya. 

Pembahasan diawali dengan persoalan perbudakan. Perbudakan tidak hanya dipahami sebagai kondisi ketika seseorang diperbudak oleh manusia lain, tetapi juga ketika manusia menyembah sesuatu yang bukan Tuhan. Sorotan kemudian diarahkan kepada kejahiliyahan, sebuah kondisi yang tidak hanya terjadi pada satu ruang atau satu zaman, tetapi bersifat universal dan dapat hadir dalam berbagai bentuk kotak-kotak kehidupan.  

Dari persoalan perbudakan tersebut, pembahasan bergerak menuju makna merdeka. Merdeka bukan berarti manusia bebas tanpa kendali. Merdeka justru berkaitan dengan kemampuan untuk terkendali, memahami potensi diri, dan berjalan sesuai porosnya. Kemerdekaan bukan keadaan tanpa batas, melainkan kemampuan untuk mengetahui arah dan menempatkan diri pada poros yang tepat. 

Muncul pula ungkapan “apik statis, elek progresif.” Sebuah keadaan yang tampak baik tetapi mandeg atau diam, sementara sesuatu yang dianggap buruk justru terus bergerak dan berkembang. Di antara keduanya terdapat persoalan keterpisahan. Manusia dapat terjebak pada kotak-kotak penilaian dan keterpisahan, sehingga kehilangan kemampuan untuk melihat persambungan yang lebih luas. 

Dalam konteks kehidupan bernegara, muncul pula pemikiran “ora usah mikir negoro”, yang kemudian disandingkan dengan strategi bernegara. Ada pula ungkapan self think beside no one think for you, yang menjadi bagian dari poin-poin pemikiran yang dilemparkan untuk dibaca dan dirangkai bersama dalam forum. 

Dari berbagai gagasan tersebut kemudian muncul gambaran tentang cahaya kecil yang bersatu. Cahaya-cahaya kecil yang berkumpul dapat menemukan arah kemerdekaan. Kemerdekaan tidak lahir dari satu cahaya yang merasa paling terang, melainkan dari cahaya-cahaya kecil yang bersedia bersatu dan menemukan arah bersama. 

Pembahasan kemudian sampai pada kata “seleh” ,sebuah kondisi hati yang selesai. Seleh bukan sekadar berhenti, tetapi keadaan ketika hati tidak lagi terus-menerus dipenuhi kegaduhan karena keinginan untuk menguasai segala sesuatu, dan lebih menyerahkan atas semua perjuangannya kepada Ridha Allah. 

Dari sini, poin dalam tagline mulai mendapatkan tempatnya masing-masing: maqsud, silah, islah, uzlah. 

Maqsud adalah tujuan. 

Silah adalah hubungan. 

Islah adalah perbaikan, sekaligus tandang. 

Dan uzlah adalah menjaga jarak, menjaga kejernihan. 

Keempatnya kemudian dibaca sebagai sebuah rangkaian dalam peta perjalanan menuju kemerdekaan menjadi Abdillah. Ada tujuan yang hendak dituju, ada hubungan yang perlu dijaga, ada perbaikan yang harus terus dilakukan melalui (tandang), dan ada jarak yang perlu dipelihara agar manusia tidak kehilangan koordinatnya. 

Pembahasan mengenai kata merdeka kemudian bergerak pada istilah mahardika. “Ma” dimaknai sebagai menyifati/melakukan, dan: “Hardika” / “Ardika” adalah teguh, pendirian, berdaulat. Dengan demikian, merdeka bisa dimaknai sebagai Meneguhkan Kedaulatan. 

Namun kemerdekaan bukan sesuatu yang benar-benar selesai. Kemerdekaan bukan sebuah keadaan yang setelah dicapai kemudian tidak membutuhkan perjuangan lagi. Kemerdekaan adalah hadiah dari Allah atas apa yang dilakukan manusia: perjuangan. Indonesia sudah merdeka selama 8 (delapan puluh satu) tahun, hal ini harus diakui sebagai penghormatan atas perjuangan yang ditempuh oleh para Peneguh Kedaulatan, perjuangan yang diiringi dengan pengorbanan tidak kecil.  

Namun, yang kita warisi seharusnya bukan hanya kemerdekaan namun juga perjuangan. Orang yang mendapat kehidupan aman tenteram tanpa perjuangan bukanlah orang merdeka. Itu hanya orang yang hidup dalam satu kemakmuran, alias persemakmuran. Persemakmuran tidak membutuhkan perjuangan karena hanya pemberian. Kita yang hidup dengan mental persemakmuran meski di tanah yang merdeka akan menghasilkan cara hidup yang miskin perjuangan dan pengorbanan. Sedangkan mungkin bagi manusia yang hidup di tanah persemakmuran namun hidup dengan tetap menjunjung perjuangan dan sikap rela berkorban, justru bisa sedang meneguhkan kedaulatan dan layak mengunduh kemerdekaan pada dirinya.  

Maka perjuangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan. Manusia terus bergerak, terus memperbaiki, terus menjaga hubungan, sekaligus tetap menjaga jarak pada tempat yang diperlukan. Semua itu dilakukan agar manusia tidak berhenti pada peran atau kotak tertentu, tetapi tetap bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan. 

Dalam kehangatan Sinau Bareng malam ini, poin-poin yang awalnya berdiri sendiri kemudian mulai dicoba dipertemukan. Perbudakan, kejahiliyahan, kotak-kotak, kemerdekaan, kendali diri, potensi, poros, keterpisahan, cahaya kecil, seleh, maqsud, silah, islah, uzlah, hingga mahardika, menjadi bagian dari percakapan yang saling mencari persambungan. 

Salah satu pahala terbaik sebagai ummat Rasulullah adalah membebaskan atau merdekakan budak. Butuh kekayaan dan kesanggupan. Namun ada yang paling murah meski tetap memerlukan kesanggupan, yakni membebaskan diri sendiri dari majikan yang memperbudaknya. Majikannya bisa berupa popularitas, kekayaan, keunggulan, kekuatan, kekuasaan, brand, follower, kasta sosial, kasta pendidikan, kasta pengalaman, kesenangan duniawi. Semua itu bukan majikan, namun menjadi demikian dan tetap demikian jika seseorang meletakkan diri menghamba pada aspek-aspek tersebut. Jika tidak, semua aspek tadi bisa berubah dari majikan menjadi alat pengabdian. Maka bebaskanlah budak, adalah melepaskan diri dari cengkeraman majikan semu. Penyembah patung adalah menyembah sesuatu dan rela dikontrol hidupnya oleh sesuatu itu, padahal sesuatu itu ibarat patung, yang gerakan dan manfaatnya berasal dari imajinasi penyembahnya.  

Dan pada akhirnya, arah pembahasan kembali kepada satu tema besar malam itu: Merdeka menjadi Abdillah. Sebuah kemerdekaan yang tidak berhenti pada kebebasan diri, tetapi menuju kedaulatan yang menempatkan manusia sebagai hamba Allah. 

Sinau Bareng kemudian ditutup dengan bacaan hamdalah. Setelah forum selesai, jamaah melanjutkan dengan makan bersama. Usai makan, suasana kembali mencair melalui beberapa nomor lagu yang dinyanyikan bersama. Tidak ada latihan, tidak ada rencana khusus, semuanya berlangsung spontan dan mengalir begitu saja. Sebab gembira dan tulus tak perlu dirancang. 

Kemerdekaan bukan ketika manusia bebas melakukan apa saja, melainkan ketika ia berhasil membebaskan dirinya dari seluruh majikan semu, meneguhkan kedaulatannya, menjaga arah maqsudnya, menyambung dalam silah, terus bergerak dalam islah, menjaga kejernihan dalam uzlah, lalu menemukan kebebasan tertingginya, ialah menjadi Abdillah. 

Malam pun semakin larut. Jamaah kemudian beberes tempat sinau bareng, lantas satu per satu berpamitan dan pulang kembali ke rumah masing-masing dengan merdeka. 

Merdeka Menjadi Abdillah

Bulan Agustus bagi kita bangsa Indonesia selalu mengajak kita berbicara tentang kemerdekaan. Tentang tanah air, bangsa, sejarah, perjuangan, dan tentang mereka yang dahulu mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, agar hari ini kita dapat menyebut negeri ini sebagai tanah air merdeka.

Tetapi barangkali, setiap kali kita memperingati kemerdekaan, ada satu pertanyaan yang perlu kita bawa sedikit lebih dalam. Setelah manusia merdeka dari penjajahan, apakah ia sungguh telah merdeka? Tentu saja kita merdeka sebagai hasil perjuangan para pahlawan. Tapi bisakah seseorang dapat hidup di negeri yang merdeka, tetapi masih diperbudak oleh banyak aspek. Bisa jadi kita hanya menjadi peserta hingar-bingar tapi tidak melanjutkan aspek penting dalam meraih kemerdekaan yakni: perjuangan. Tidak selalu dengan angkat senjata tapi tak memihak pada sikap yang tidak mulia, bahkan terus berupaya melahirkan sikap lebih terpuji.

Sinau Bareng di bulan Agustus dan juga bulan Rabiul Awwal ini, kita tidak hendak sekadar membicarakan kemerdekaan sebagai sebuah peristiwa sejarah. Namun mencoba meraih kemerdekaan itu. Kita akan membawa bekal teladan dari satu sosok, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yang seluruh hidupnya mengajarkan kepada kita cara meneguhkan Pusat, menempatkan manusia, bangsa dan dunia. Beliau hadir membawa rahmat bagi seluruh alam.

Beliau membaca masyarakatnya, menyaksikan jahiliyyah, melihat penindasan, monopoli, kesombongan, ketimpangan, dan perbudakan manusia atas manusia. Lalu ia tidak berhenti pada membaca. Ia mengishlah kehidupan. Di sini kita akan mencoba melihat kembali makna nasionalisme Muhammad dalam tulisan Mbah Nun, yakni kecintaan kepada tanah air yang tidak berhenti pada kebanggaan terhadap identitas, tetapi bergerak menuju keselamatan manusia.

Bangsa harus kita cintai, kemerdekaan harus disyukuri, tetapi tidak boleh jadi pembatas bagi rahmat Allah. Sehingga kemerdekaan boleh dirayakan, tetapi jangan sampai kemerdekaan itu justru melahirkan bentuk-bentuk kelaliman yang baru. Maka dari sana kita akan masuk ke sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sangat dalam:
Ilaahii anta maqṣuudii, wa ridhoka matluubii, a’tini mahabbataka wa ma’rifataka.
Ya Allah, Engkaulah tujuanku, dan ridha-Mu lah yang kucari. Karuniakan kepada hamba Cinta-Mu dan mengenal-Mu.

Maka di bulan kemerdekaan dan bulan Maulud ini, mari kita duduk bersama, sinau bareng. Membuka kembali ruang di dalam diri, membaca kehidupan, membaca perjalanan manusia, membaca perjuangan Kanjeng Nabi, lalu bertanya dengan jujur kepada diri masing-masing. Jangan-jangan kemerdekaan yang selama ini kita rayakan di luar, belum rampung kita perjuangkan kemerdekaannya di dalam? Mari mencari kembali jalan menuju kemerdekaan yang paling hakiki yakni merdeka menjadi Abdillah.

Adzan, Idzin, Udzun – Menumbuhkan Tunas Iman

Sinau Bareng Majlis Gugurgunung bulan ini mengangkat tema “Adzan, Idzin, Udzun”. Acara diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah tema. Setelah itu, Sinau Bareng bergulir dalam suasana yang hangat dan menggembirakan. Dari awal hingga tengah malam, pembahasan berkembang melalui berbagai sudut pandang, pengalaman, serta perenungan yang saling berkelindan. 

Adzan, Idzin, Udzun 

Adzan, Idzin, dan Udzun tidak dipandang sekadar sebagai urutan kata yang kebetulan memiliki kemiripan bunyi. Ketiganya coba dibaca sebagai sebuah rumus kesadaran melalui Fatah, Kasroh, dan Dhomah. Fatah dimaknai sebagai pembuka atau panggilan. Kasroh merupakan kesadaran untuk merendahkan diri di hadapan Allah guna mendapatkan idzin-Nya—bi idznillah. Sementara Dhomah merupakan penyatuan antara panggilan, perkenan-Nya, dan kesediaan memenuhi panggilan atas perkenan-Nya. 

Dari rumus tersebut, Adzan-Idzin-Udzun diarahkan untuk menumbuhkan tunas iman. Adzan menjadi lambaran hidup, sebab adzan merupakan suara pertama yang diperdengarkan kepada jabang bayi sesaat setelah dilahirkan. Ia menjadi suara pertama di bumi, sehingga suara apa pun yang kelak ditemui manusia akan merujuk pada suara pertama tersebut. Dengan demikian, adzan bukan sekadar suara panggilan, tetapi menjadi lambaran bagi perjalanan hidup manusia. 

Manusia juga memiliki tiga silah utama: silaturahmi kepada sesama, sholawat kepada Kanjeng Nabi, dan sholat kepada Allah. Ketiganya menjadi bagian dari hubungan yang perlu dijaga. Dalam hubungan horizontal maupun vertikal, diperlukan kesadaran tentang jarak. Jaga jarak bukan berarti menjauh, tetapi menjaga koordinat agar selalu presisi. Pada sektor hori

zontal, jaga jarak diperlukan untuk berjarak dari kemelekatan. Sementara pada sektor vertikal, justru diperlukan upaya untuk membangun kedekatan sedekat mungkin kepada Allah. 

Salah satu permasalahan umum yang sering tidak disadari adalah ketika pemimpin tidak mau mendengar anggota atau tim. Begitu pula seorang guru perlu mendengar murid. Bahkan guru perlu mempersilakan murid mencari referensi lain dan, dalam kondisi tertentu, sanggup mempersilakan murid menjadi guru. Sebab relasi guru-murid, pimpinan-anggota, dan berbagai hirarki kehidupan lainnya pada akhirnya adalah dalam rangka sama-sama menjadi abdinya Allah. 

 

Adzan sebagai Lambaran Hidup 

Adzan kemudian dibaca lebih dalam melalui setiap bagiannya. Allahu Akbar menjadi takbir sebagai pembuka tabir. Setiap yang mengaku akbar tidak akan mampu bertanding kepada Allah. Semua dimulai dengan pengakuan bahwa Allah-lah Yang Maha Besar. 

Asyhadu anla ilaha illallah menjadi syahadat tauhid, sebuah pernyataan kesaksian yang meneguhkan bahwa apa pun yang dialami dan ditemui dalam kehidupan pada akhirnya merupakan perjumpaan dengan penghambaan kepada Allah. Tidak mudah menghamba kepada sesuatu yang sekadar tampak besar atau mengaku besar. 

Kemudian Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah menjadi syahadat Rasul, sebuah kesaksian bahwa kehidupan yang dilalui merupakan bagian dari proses perbaikan akhlak. Manusia menjadi perpanjangan misi Rasulullah dengan menjaga sikap dan perbuatan melalui keteladanan kepada beliau. 

Hayya ‘alash sholat merupakan ajakan untuk berbuat dan terlibat secara aktif dalam hubungan kepada Allah. Melalui sholat, manusia berharap mendapatkan petunjuk, pertolongan, dan kucuran dari langit yang tidak mampu dibuat oleh makhluk. Karena itu, mengingat bahwa sumber daya dan kekuatan hanya berasal dari Allah menjadi penting agar manusia tidak menjadi sombong karena merasa piawai. 

Sementara Hayya ‘alal falaah merupakan ajakan untuk berbuat dan terlibat secara aktif meraih kemenangan, kegemilangan, dan kesuksesan bersama Allah. Kemenangan bukan kemenangan personal, terlebih kemenangan yang diperoleh dengan menjegal atau mengalahkan orang lain. Dalam pengabdian, kemenangan hanya milik Allah. Karena itu, kekufuran adalah urusan Allah. Hanya Allah yang berhak mengalahkan, sementara manusia diajak merasakan kemenangan melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah. Maka kembali diperlukan kesadaran La haula wala quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adhim. 

Adzan kemudian kembali pada Allahu Akbar. Semua dibuka dengan takbir dan ditutup pula dengan takbir. Segala awal dan akhir, segala sesuatu, berada di bawah naungan Allah Yang Maha Besar. Kemudian ditutup dengan La ilaha illallah, sebuah kepulangan manusia kepada Allah dengan membawa kualitas masing-masing dalam memaknai bahwa tiada Tuhan selain Allah. 

 

Jaga Jarak dan Hirarki Kehidupan 

Pembahasan tentang jaga jarak kemudian ditarik pada relasi manusia dalam kehidupan. Guru dan murid, pimpinan dan anggota, merupakan hirarki hidup yang membuat seseorang merasa mendapatkan peran dan posisi sebagai hasil dari kesepakatan horizontal. Namun peran tersebut tidak serta-merta membawa imbal balik berupa pertumbuhan mutu kemanusiaan dan iman. Bahkan acapkali justru dapat memandulkannya. 

Karena itu, peran apa pun dapat ditempuh selama manusia tidak terjebak di dalam peran tersebut. Sebab peran utama manusia bukan mengabdi kepada manusia lain, sistem, atau sesuatu yang hanya seolah-olah patut dilabuhi lahir dan batin. Peran utama manusia adalah Abdillah, mengabdi kepada Allah. 

Mengabdi kepada selain Allah bukan berarti manusia tidak bekerja, dilarang masuk dalam sistem, atau menjadi anti-birokrasi. Tidak demikian. Tindakan horizontal tetap ditempuh secara wajar. Yang perlu dijaga adalah tempat pengharapan. Segala tindakan horizontal boleh dilakukan, tetapi pengharapan tetap hanya kepada Allah. 

Dengan hanya berharap kepada Allah, manusia tidak mudah pongah dan tidak pula mudah patah. Sebab mengabdi kepada sesuatu yang rapuh akan membuat penyembahnya menjadi semakin rapuh. 

 

Dari Kepepet Menuju Ayem 

Pembahasan kemudian memasuki pengalaman usaha ternak. Semua berawal dari sebuah dhawuh guru, Mbah Nun: 

“Teruslah lakukan pekerjaan yang engkau sukai hingga kau menjadi ahli.” 

Wasiat tersebut didengar oleh banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mendengarkannya hingga masuk pada perkembangan hidup. Salah satu yang mendengarkan hingga menjadi bagian dari perjalanan hidup adalah Mas Santoso, yang pada satu fase dituntut memiliki sikap untuk menghadapi tuntutan kehidupan. Dhawuh tersebut kemudian menjadi modal pertama. 

Perjalanan itu bergerak dari rasa kepepet, kemudian muncul pilihan. Dari sekian banyak pilihan yang dicoba, dipilihlah pilihan yang paling menghadirkan rasa ayem. Setelah hati ayem, justru muncul cabang-cabang kreativitas dan gagasan. Dari sana kemudian tumbuh tangkai-tangkai kegiatan usaha yang terus berkembang. 

Kepepet menjadi alat timbang untuk membaca sebuah keadaan: apakah kondisi yang sedang dialami merupakan karunia atau musibah. Ketika iman menang, kondisi kepepet dapat dipahami sebagai karunia. Dari sana muncul asa atau harapan. Bersamaan dengan itu, muncul sikap untuk memilih. 

Dari berbagai pilihan yang dicoba, ternyata hanya satu yang menghadirkan rasa hati yang tenang, adem, dan ayem. Pilihan yang kemudian diminati adalah sektor pemeliharaan unggas. 

 

Ayem dan Tumbuhnya Kreativitas 

Ayem sendiri merupakan kondisi yang memilih ekosistem Ridhwan, sebuah ekosistem yang tidak mudah ditinggali oleh iri, dengki, putus asa, hasut, dan berbagai penyakit hati lainnya. Sebaliknya, apabila ekosistem hati memilih atmosfir Malik, maka akan lebih mudah disinggahi rasa kuasa, bersaing, bertanding, bergesekan, bahkan hingga bertarung. 

Dari rasa ayem itulah kemudian kreativitas dapat tumbuh. Inspirasi dan gagasan yang muncul dari kondisi ayem masih membawa unsur pamomongan: jiwa merawat, mengayomi, memelihara, dan menjaga. Kreativitas yang lahir dari sana kemudian memunculkan gagasan-gagasan berikutnya, baik berupa ilmu maupun pekerjaan. 

Hal ini kemudian dikaitkan dengan pertanian dan peternakan. Pengalaman dalam kondisi sempit maupun longgar perlu diidentifikasi sebagai karunia atau musibah. Karunia melahirkan asa, sedangkan musibah dapat melahirkan putus asa. Keduanya kemudian melahirkan pilihan. Dan dalam menentukan pilihan, rasa ayem dapat dijadikan indikator atau ordinat. 

Pertanian atau peternakan yang baik bukan sekadar bagaimana melakukan rekayasa agar tanaman atau hewan cepat besar, cepat tumbuh, dan cepat dipanen. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dan peternak dapat sama-sama tumbuh dan berkembang bersama tanaman dan hewan yang dipeliharanya. 

Di situlah titik koordinat ayem. Ketika titik tersebut ditemukan, kreativitas berkembang dan kebermanfaatan dapat meluas. Dari sana terjadi siklus perputaran rahmat. 

Ayem secara vertikal membawa manusia menuju ridho, sehingga Allah SWT juga ridho terhadapnya. Dalam kondisi tersebut, paparan penyakit hati—iri, dengki, hasut, ria, takabur, sombong, dan seterusnya—diharapkan Allah SWT berkenan meluruhkannya dari hati. Sebab sesungguhnya manusia sendiri tidak mampu meluruhkan rasa-rasa tersebut hanya dengan kekuatannya sendiri. 

Pada akhirnya, Adzan menjadi lambaran hidup. Ia menjadi suara pertama yang mengiringi manusia ketika hadir di bumi, sekaligus panggilan untuk terus menjaga hubungan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama. Idzin menjadi kesadaran untuk merendahkan diri dan menunggu perkenan-Nya. Sedangkan Udzun menjadi penyatuan antara panggilan, perkenan, dan kesediaan untuk memenuhi panggilan tersebut. 

Sinau Bareng kemudian terus bergulir melewati tengah malam. Setelah seluruh pembahasan mengalir dan berbagai pengalaman saling dipertemukan, forum ditutup dengan bacaan hamdallah sebagai tengara bahwa Sinau Bareng malam itu telah selesai.