Posted in reportase.



Reportase: Berguru Dengan Markesot






berguru dengan Markesot

berguru dengan Markesot

Majlis_Gugurgunung Reportase 30 April 2016- Bertempat di Gedung Taman Bermain Qomaru Fuady – Balongsari, Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Cangkruk Budidoyo di majlis gugur gunung diawali dengan pembacaan doa yang ditujukan kepada Rasulullah SAW, sahabat, keluarga, pepunden wilayah balongsari serta seluruh muslimin muslimat yang dipimpin oleh Pak Tri Mulyono. Suasana khusyu’ terasa sekali selama pembacaan doa. Dilanjutkan dengan pembacaan munajat jama’ah maiyah yang kali ini dipimpin oleh Mas Tyo. Dengan lantunan indahnya mampu membawa jama’ah hanyut dalam suasana penuh cinta.

Diskusi dimulai pembacaan mukadimah dengan tema Berguru Dengan Markesot oleh Mas Dian yang berikutnya akan direspon lebih lanjut untuk diperdalam dan diperluas oleh jama’ah.

Setelah pembacaan mukadimah, lalu muncul sebuah respon dari Mas Nug yang memiliki sebuah anggapan bahwa; “markesot adalah diri kita yang hilang” juga oleh Mas Leo dari Yogyakarta yang menyempatkan hadir, ia mengeluarkan sebuah pernyatan responsive bahwa “ pada dasarnya kita sudah menerima semua file dari tuhan. Akan tetapi karena banyak sekali hijab dalam diri kita maka yang terjadi ialah lupa, bukan sebuah kekosongan memori”.

Mas Agus Wibowo langsung merespon dengan memberikan gambaran; “bahwa pengalaman lupa adalah perlu, paling enggak kita menjadi ingat bahwa ternyata kita pelupa dan kita juga menjadi terdorong untuk lebih mengingat setiap peringatan”.

ilmu Titen dan njumputi ilmu

Sebuah pengalaman pasti akan menambahkan tancapan ingatan dalam diri kita, itu karena peristiwa lupa mengandung kesan. Diri kita bukan di ranah tidak tahu, karena sejatinya Allah SWT sudah memberi kita banyak catatan dalam kehidupan, hanya saja kita sengaja diberikan lupa sebab salah satu perintahnya agar kita mampu mengingat. Semakin rapat kesadaran tentang apa saja yang kita lupakan dan apa saja sesungguhnya yang mampu kita ingat, kita menjadi pihak yang mungkin tak mampu mengingat semuanya namun kita menjadi punya file baru bahwa Tuhan memang Maha Pemurah yang tetap memberi dan membiarkan jika pemeberian tersebut diterima, digunakan dan dilupakan. Di sini menjadi kita ketahui mengapa Allah menyukai orang yang bersyukur karena syukur merupakan bentuk kesadaran telah menerima sesuatu.

Setiap lupa sesuatu akan ingat sesuatu dan ketika ingat itu menjadi jumputan ilmu, maka sedikit demi sedikit akan semakin banyak jumputan yang terkumpul. Di jawa dikenal istilah “ilmu titen” ilmu titen ini dikumpulkan dari mengingat dan mengkoleksi sesuatu dengan telaten dan sabar. Butuh rentang yang panjang dan perlu berkali-kali menjumpai kekeliruan. Kekeliruan itu bukan untuk dibuang, melainkan dititeni agar tidak perlu terjadi kekeliruan serupa di kemudian hari.

Ilmu titen ini sesunggunya lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena diperoleh dari riset terus menerus dan tak terbatas waktu. Dimulai benar-benar dari nol, dan menambah digit satu demi satu. Hanya saja masyarakat Jawa juga memahami bahwa ilmu sangat cair bukan benda padat apalagi kaku. Ilmu akan memiliki sayap-sayap kemungkinan sehingga berbahaya jika dicatat dalam Bahasa penuh kepastian. Orang Jawa lebih memilih menyampaikan dengan Bahasa sanepa, perumpamaan, pribahasa, purwakanthi, tembang, geguritan dlsb. Kandungan nilai yang serba berkemungkinan yang dijunjung. Bukan kandungan rumusan dan kepastian yang ditampilkan.

Setiap fenomena dapat kita ambil sebagai sebuah pelajaran yang bermakna. Karena belajar dapat pada apa saja yang ada di alam. Karena alam satu akar kata dengan ilmu. Dan dalam proses pembelajaran pun harus dengan bersabar. Sedikit demi sedikit seperti halnya makan yang sesuap demi sesuap. Ketika ada udzun (telinga) maka harus diberi adzan agar selalu mengingat Tuhan di setiap waktu. Sholat dzuhur yang menjadikan manusia lebih luhur, namun harus ada ashar agar manusia juga menjadi lebih andhap asor, dan ini repetitif. Sedikit mengutip dari syair KiaiKanjeng, “..ojo ngucap bodo yo ben, golek ilmu kudu telaten..”. Dan yang dapat dipelajari apabila kita tidak mampu bersabar ialah bukan karena kita gagal, namun karena terdapat asma Allah yang tidak mampu kita untuk menampungnya. Karena kita hanya bersaksi, bukan menjadi.

Dengan demikian kita jadi lebih mengenal kesabaran dan meningkatkan kualitas diri kita dengan mengalami kegagalan. Akal mampu menjangkau ilmu dan dapat mengambil hikmah dari kegagalan tersebut. Misalnya dengan akal kita tahu untuk tidak memakai celana yang berlubang karena dapat mengakibatkan hal yang kurang baik, serta akal mampu menjangkau segala ruang sehingga kita tidak perlu mengalami kegagalan secara real. Lebih dari itu ialah hati yang dapat menampung yang tidak mampu ditampung oleh otak atau pikiran. Karena segala jenis fenomena dan ilmu yang tidak mampu kita olah dengan pikiran, dapat diletakkan di ruang tanpa batas yang bernama hati.

Manusia secara jasadiah dibuat sama antara satu dengan yang lain, namun memiliki perbedaan kemampuan didalamnya (jiwa dan rohani). Jika diibaratkan hardisk yang memiliki bentuk jasad serupa namun kapasitas memori di dalamnya berbeda. Jika mengibaratkan Rasulullah SAW bagai “hardisk” yang tidak terbatas, dan kita juga hardisk dengan kapasitas yang sangat kecil. Muncullah sebuah pertanyaan, “bagaimana meningkatkan dan atau mengejar kapasitas Rasulullah SAW?” Yang paling baik bukan meningkatkan karena kita tak mampu mengangkat diri kita sendiri, kita hanya terangkat jika diangkat. Oleh sebabnya bagaimana agar terangkat, kemungkinan terbaiknya adalah menjadi berguna. Yakni memfungsikan apa saja yang menjadi kapasitas kita untuk ikut mewarnai kehidupan dengan corak yang baik“.

Patrap Silo

Patrap adalah sikap. Sila adalah sisi, atau bilah, atau bagian, atau asas, atau moral. Untuk mengambil posisi dengan terlebih dahulu mengenali sisi terbaik, bilah terbaik, bagian atau asas atau moral terbaik, maka akan menuntun kepada Suwarna Sila. Yaitu warna terindah dan terbaik dalam corak moralitas yang diembannya dalam konteks kehidupan.

Maka kemudian, apakah warna terbaik itu? Ialah warna yang mengandung mutu akhlak sebagai makhluk yang satu konsep dengan Sang Khalik. Maka indikator suatu makhluk yang sejalan dengan konsep utama penciptanya terletak pada mutu akhlak. Dimana akhlak ini tidak bisa diukur dengan selera dan kecondongan diri melainkan proyeksi atas kehendak Allah sendiri. Dengan perjalanan manusia yang menemukan keberagaman nilai dan sudut pandang, sikap utama yang dianjurkan oleh Tuhan adalah menebarkan Salam. Manusia sebagai makhluk itu ‘taste’Nya Allah. Bukan malah sebaliknya ; menempatkan Allah dalam taste-nya manusia. Maka menebarkan Salam itu didasar rasa ngeman dan sayang kepada segala ciptaan Allah swt dan mempertahankan keindahan daya cipta Allah itu agar tetap berlanjut getaran-getaranNya. Dimana getaran-getaran tersebut senantiasa diperlukan oleh setiap penguak misteri cinta.

Mas Tyo melontarkan sebuah pertanyaan yang kembali pada tema. Yakni tentang Patrap Silo; “apakah silo memiliki sebuah kesamaan dengan sujud? Jika silo merupakan metode yang terbaik untuk belajar, mengapa dalam Sholat tidak ada silo?”

Pertanyaan Mas Tyo langsung direspon oleh Mas Agus, dijelaskan kembali bahwasanya; “silo yang diambil disini bukanlah dari segi lahiriahnya namun silo merupakan sebuah metode untuk menempatkan diri. Toh, jika diterapkan sebagai langkah lahiriah, baik silo maupun sujud keduanya akan sama-sama sulit. Dan bahkan pada Sholat pun, sujud bukan merupakan pungkasan/akhir. Yang menjadi akhir dari sholat adalah salam. Sehingga yang diajukan bukanlah silo atau sujudnya namun adalah salam. Dan salam yang ditebar bukan hanya sekedar dari ucapan saja. Mengelaborasi salam bukan dari salam yang formal, karena salam mengandung nilai yang aplikatif terhadap kehidupan. Sehingga tidak akan baik hasilnya apabila melakukan sujud dan silo tanpa menebar salam.

Bahkan dalam Sholat bukanlah takbiratul ihram yang terakhir, karena takbiratul ihram menyadarkan kita bahwa ada sesuatu yang lebih adhim (Agung), oleh karena itu kita harus rukuk. Begitu seterusnya bahkan hingga kita diharuskan untuk bersujud agar berkaca pada lemah (tanah). Itupun belum selesai sehingga harus diakhirkan pada salam. Karena salam sudah meliputi dari semua metode. Dengan salam dapat menjadikan kita sadar bahwa kita selalu diliputi kesalahan dan berpotensi mengancam, hanya Tuhanlah kebenaran sejati.

Eman-eman & Iman :

Dengan Allah swt

Ada beberapa hal mendasar di dalam hidup yang tidak bisa selalu kita paksa untuk dialami dahulu persentuhan inderawinya untuk kemudian diyakini. Sebab keyakinan itu merupakan perangkat hasil dari akal yang mampu menaifkan sekat-sekat ruang. Seperti halnya seseorang meyakini dirinya sendiri memiliki otak. Pastilah bukan karena dia melihat otaknya sendiri namun karena ia menggunakan akal untuk menemukan kesesuaian dirinya dengan apa yang ia lihat. Seseorang itu bisa menjadi yakin bahwa yang ia juga memiliki otak meskipun gambar atau fisik otak yang ia lihat bukan otanya sendiri.

Maka bagaimana menemukan kesesuaian apa yang ditemui dengan ranah penciptaan?

Allah swt memberikan bantuan kepada manusia  bahwa kemanapun engkau menghadapkan wajah di situl wajah Allah. Apakah kemudian kita bisa secara serampangan menganggap bahwa menghadap kepada batu misal juga otomatis menghadap Allah sehingga ketika kemudian menyembah batu maka sama dengan menyambah Allah? Bisa saja. Asal kita juga adil menyembah angin, daun, air, mega, kerikil, pasir, langit, bintang, bulan, matahari, dlsb yang berkesempatan bertatap muka dengan wajah pandang kita. Apakah kita sanggup? Jika tidak, maka kita bisa dituduh menyembah Tuhan dengan sebilah keperluan dan selera saja, nggak sungguh-sungguh. Karena pasti apa yang kita sediakan secara formal sebagai bentuk peribadatan formal hanya satu sisi dari ribuan sisi yang kita hadapi.

Maka agar tidak mempersulit diri, Allah mengenalkan dengan konsep Tunggal yang ketika kita menyembahNya kita akan dibebaskan untuk mengelola kehidupan dengan kadar kemampuan dan kemanusiaan yang kita punya. Bukan untuk menyembahnya namun untuk memperkuat kesaksian dan bacaan untuk diri kita. Bahwa ketika bacaan menjadi lebih baik, dan kesaksian kita makin kuat maka pegangan utama bahwa segala hal kita hadapi ini senantiasa dalam bimbingan dan naungan Tuhan maka kita tidak selalu mudah terseret pada merana, nestapa, gundah gulana, hingga putus asa.

Jika pemahaman yang demikian itu penting dalam kehidupan akan sangat baik jika di ‘eman’ (disayang, dirawat, diperhatikan terus menerus).

Dengan Malaikat

Setelah keyakinan kepada Tuhan maka kita dituntun untuk meyakini para petugas Ghaib yang menjalankan tugasnya dengan teguh dan tanpa lelah. Pernahkah kita didatangi jantung lantas berkata, “mbok aku ini dikasih libur, sehariii saja setiap setelah sebulan bekerja” atau nafas mengatakan hal yang sama, kemudian kelopak mata yang juga minta istirahat sejam dua jam dari pekerjaannya menutupi mata. Dlsb. Jika tidak? Mereka bekerja untuk siapa? Kepada siapa? Dan jika mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan tanpa lelah maka mutu pekerjaannya siapa?

Itu baru dalam hal-hal fisik. Bagaimana dengan ide, gagasan, inspirasi, hingga ilham yang juga tak menuntut royalti atas usulannya. Tak meminta istirahat justru sering datang pada saat kita pada kekeruhan, dan sepi gagasan.

Juga belum tentang gairah, krenteg, gelora, gegap gempita, antusias, semangat, kecenderungan, hasrat, dlsb. Jenis kimiawi apa yang mau memposisikan diri secara berkala justru pada saat manusia sendiri sedang lunglai. Jika kemudian manusia menjadi kembali bangkit, dia pun tak diingat apalagi disyukuri. Manusia menyangka itu produknya sendiri dan bebas menggunakan untuk kepentingannya sendiri. Manusia sering merasa mampu memproduksi secara berkala gairah tanpa henti dan tanpa mengenal lunglai. Padahal, jelas dia tidak. Maka mahkluk apa sesungguhnya yang menyutikkan gairah itu?

Maka jika setiap fenomena eksternal dan internal itu menjalankan fungsinya dengan teguh tanpa mengenal lelah dan tak berkurang kualitas pekerjaannya. Bukankah itu bisa jadi output kerja dari divisi-divisi dan departemen-departemen Malaikat. Yang berarti tidak hanya bekerja pada urusan-urusan langit namun juga bekerja di bumi, di ranah jasad yang manusia termasuk di dalamnya. Apabila ini dianggap benar dan Jika memang bisa menjadi tumbuhan keyakinan kita kepada Malaikat Allah swt. Alangkah penting untuk dirawat, disayang-sayang, di eman-eman. Sebagai cara menambah rasa iman kita kepada struktur keadilan dan kasih sayang Allah kepada seru sekalian alam. Sebab keyakinan ini bisa berkembang kepada bidang-bidang keilmuan lahiriah yang lain. Misalnya ilmu pengobatan, pendidikan, olah raga hingga olah rasa, keadilan sosial, hukum, tata Negara, sistem kemanusiaan, gaya hidup, dan banyak cabang-cabang lain yang bisa kemudian lahir dan maslahat bagi kehidupan.

Dengan Langit dan Bumi

Sebab keberadaan Malaikat terselubung hijab jasadiah, maka kehadiran para Malaikat baru bisa mudah diterima ketika sudah menjadi produk jasadiah. Oleh sebab itu diperlukan petugas yang menuntun manusia untuk mampu mengenali lebih jauh tentang sangkan paraning dumadi. Yang bertugas sebagai penata kehidupan (sang Noto), yang hadir secara jasad dan berinteraksi dengan cara-cara yang sama dengan manusia. Mereka itulah diutus para Nabi dan Rasul Allah. Dimana mereka memberikan waktunya untuk menemani manusia agar ‘bertemu dan berjumpa Tuhan’ secara lahir, dan mampu bercengkrama dan bermesraan dengan Tuhan dalam irama bathin yang intim. Maka perlu sekali manusia meluangkan waktu untuk terus menerus mempelajari kisah para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Kisah itu akan didapati bukan sekedar kisah dongeng akan tetapi sebuah rumusan dan anjuran hidup beserta cara mengelola dan menata diri kita sendiri. Kisah-kisah itu mampu menjadi pendamping dan wasiat yang baik.

Dengan Lahir dan Bathin

Lantas bagaimana jika seseorang masih memerlukan kehadiran utusan yang datang secara lahiriah sedangkan dirinya telah berada di jaman yang bukan sejaman dengan nabi atau rasul? Untuk itulah manusia diwarisi Kitab yang akan mempertahankan kehadiran para utusan meskipun tidak pada jaman yang sama. Kitab ini merupakan cermin dari apa yang dilakukan dan disampaikan oleh para utusan. Maka ketika mempelajari kitab, maka secara otomatis sedang memperhatikan risalah Allah yang dibawa oleh para utusanNya. Yang perlu digarisbawahi bahwa : Perhatian semacam ini terjadi hanya kepada manusia yang berbaik sangka dan ingin membangun kemesraan kepada Nabi guna mendekat kepada Allah SWT. Bukan terjadi hanya karena faktor sejaman atau tidak sejaman.

Kegunaan lain dari kitab adalah menjadi jembatan yang menghubungkan kembali lalu lintas komunikasi lahir dan bathin. Maka seseorang tak melulu terjangkit aliran pemikiran ataupun aliran kebathinan. Namun mengelaborasi keduanya menjadi sarana mengingat dan mencegah diri dari perbuatan yang tidak seimbang.

Dengan Masa Depan

Kondisi lahir bathin yang seimbang akan membangkitkan seseorang meraba peta ruang dan waktu lebih jembar dan makin memperhitungkan secara cermat bahwa setiap perubahan gerak lahir maupun bathin akan menjadi semacam sinyal yang menyusun adegan di depannya. Tapi perhitungan disini bukan perhitungan numerik, tapi sekedar perhitungan sinergik. Sinergi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap kegiatan hari ini pasti berhubungan dari masa lalu, dan adegan masa depan berhubungan dengan masa kini. Namun hubungan itu belum tentu sinergik.

Dengan kesadaran bahwa Tuhan senantiasa memberikan ruang kesempatan bagi manusia untuk bangkit secara terus-menerus maka bangunan sinergi lebih berkemungkinan terjadi. Sebab orientasi manusia lebih ke bangunan kewaspadaan akan keterpurukan dan usaha kebangkitannya. Manusia dalam posisi berjalan ke masa depan, bukan dalam perhitungan bilahan waktu namun pada masa kebangkitan demi kebangkitan. Dengan demikian tidak memungkinkan secara waktu untuk meratapi keterpurukan terlalu lama karena tema utamanya adalah kebangkitan. Qiyam.

Dengan Kehendak dan ketentuan

Maka memungkasi tema-tema hidup yang perlu sekali di eman-eman untuk mempertebal iman adalah meletakkan kehendak dan ketentuan bukan milik makhluk melainkan milik Tuhan. Makhluk tetap dalam kesungguhan berjalan dengan rencana-rencana, namun goal utama adalah Rancangan Gusti Allah. Manusia bisa mencetak batu-bata, batu-bata untuk membangun kerajaan dan kita menjadi rajanya.

Tapi batu bata yang telah dibuat tak lantas untuk itu dalam ketentuan Allah. Bisa jadi dibiarkan untuk tetap menjadi batu-bata, hingga terkumpul batu-bata yang cukup untuk dijadikanNya kerajaan yang sesuai dengan rancangan Alah swt. Dimana kerajaan itu menampung ‘para punggawa dan para raja’ yang diRajai sendiri oleh Allah Malikinnas Ilahinnas.

Ke enam hal di atas menjadi pijakan-pijakan belakang layar diri manusia, sedangkan untuk tampilan di depan layar pada panggung kehidupan. Maka rukun Iman mulai terejawantahkan sebagai rukun Islam. Bahwa seseorang akan memilih mempertimbangkan keselamatan menyeluruh dalam kehidupan. Keselamatan kesaksian hingga keselamatan langkah. Bahwa setiap langkah merupakan kesaksian dan setiap kesaksian merupakan ungkapan salam.

Monolog : Perbendaharaan yang tersembunyi

monolog

monolog

Dalam kesempatan ini juga ada persembahan sebuah monolog yang dibawakan oleh mas Nug, dengan judul “Kasmaran Selfie” adalah perjalan seorang yang disebut kiai dan dimuliakan oleh masyarakat namun ketika berkesempatan dia ajak berjalan menyusuri lorong bersama Selfi, hingga akhirnya menempati sebuah ruang penuh cermin. Dimana setiap sisi adalah relfeksi dirinya. Maka kiai tersebut kemudian merasa malu bahwa ternyata cermin yang memantulkan dirinya memiliki baju yang berbeda-beda dan semuanya punya tujuan yang berbeda-beda pula, mereka kemudian berkata “aku adalah perbendaharaan tersembunyi dan aku ingin dikenal”. Ketika kembali ke alam biasa, Si kiai menemukan bahwa dirinya adalah hanya manusia biasa yang mendapat karunia mengenal warna-warna. Bahwa setiap warna bukan lantas adalah dirinya namun dirinya bukan pihak yang bisa beranjak tanpa mengenal warna-warna. Monolog dibawakan dengan sangat apik meskipun bisa dikatakan tanpa persiapan dan tanpa dugaan untuk didaulat (ditanggap) tampil di gugurgunung.

Aktor – Cast – Casting – Kasta – Kaasto

Jika yang terbaik adalah meletakkan diri kita tidak menjadi sumber ancaman dengan seakan sedang berjalan dengan kaki bersimpuh dan menjadi paling rendah di antara manusia lain. Maka apakah pasti yang terjadi adalah imbal balik salam? atau justru sikap meremehkan keberadaan dan menyepelekan potensi si penebar salam?

Perlu diketahui bahwa keragaman manusia entah pada perbedaan warna, kelas, ataupun kapasitas memerlukan satu kunci sikap yakni Salam. Maka niat utama dalam membangun hubungan sosial adalah Salam. Namun, niat ini perlu kemasan-kemasan untuk ditebarkan. Salam dalam dinamika hidup perlu terurai dan tersampaikan secara bijaksana.

Kebijaksanaan itu berkaitan dengan kesadaran (tanggap) atas peran, kepada auiden yang dihadapi. Untuk mengetahui jenis-jenis audien, perlu sekali membangun peta diri dan untuk membantu pemetaan diri, bisa mempelajari dari apa saja. Bisa dari warna, dari padat lunak benda, hingga mungkin pada tahap gerak dalam Sholat.

Seni dan tirakat salam

Dalam tahapan gerak Sholat, ada gerakan yang gagah berdiri dan seakan beraksentuasi sangat percaca diri menampakkan wajah, “inni wajjahtu..” hingga kemudian akan berhadapan dengan kalimat berikutnya dimana “wajhiya lilladzi fathoroos samaawati wal ardh” Bagaimana mungkin wajah makhluk tidak akan tertunduk ketika berhadapan dengan keagungan wajah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

Ini bisa saja perumpaman tentang kenyataan hidup, bahwa sebagian besar orang akan berkecenderungan memulai segala sesuatu dengan dilingkupi rasa gagah dan ingin dikenal. Pada sebagiannya ada yang kemudian menjumpai persaksian keagungan Allah sehingga mulai memasuki tahap rukuk. Namun ada pula yang masih bersikap dalam nuansa keterkenalan dan pencitraan. Kepada yang seperti ini tentunya salam yang bisa dipahami adalah salam yang bukan level rukuk apalagi sujud. Jika bersikeras mengabarkan salam dengan kadar rukuk atau sujud, bisa jadi akan menjumpai kekecewaan, sebab yang dikabari belum mampu menghormati lantunan sujud seperti itu. Maka meskipun baik maksudnya, terkadang justru jatuh fales atau sumbang jika tidak berada dalam irama yang tepat.

Kebijakan itu seperti tangga nada, tidak ada nada yang benar-benar fales dan sumbang, namun bisa menjadi seperti itu akibat salah tempat dan tidak tanggap peran.

Kupasan Bawang dan kulit hijab

Leo dan Anis mengajukan pertanyaan tentang hijap tujuh lapis. Dan bagaimana mengenali itu untuk bisa diurai sedikit demi sedikit. Entah benar atau salah, pun jikapun hal hijab hendak disampaikan oleh makhluk yang masih terhijab belum tentu mengandung tingkat presisi yang baik bahkan malah distorsi. Maka untuk lebih aman hal tentang hijab jangan buru-buru dianggap sebagai kebenaran.

Hijab pertama adalah hal keberadaan diri, eksistensialisme, dunia pencitraan dan kepemilikan yang begitu menggebu. Hingga keinginan-keinginan itu menjadi ambisi, obsesi, dan bercabang mentalnya menjadi posesif.

Hijab kedua adalah kemanusiaan atau welas asih, perasaan ini sudah disadari sebagai milik diri sehingga ketika ada yang berbeda, dianggap menentang. Yang mencoba mengingatkan dituding tak tahu diri dan tak mengenal sopan santun. Maka hijab ini justru menjebak seseorang yang berpotensi welas asih justru hanyut dalam gelombang imajinasi kebaikannya sendiri sehingga secara mental malah menjelam menjadi manusia yang bengis, keji, dan tajam ucapannya.

Hijab ketiga adalah kepandaian, kecemerlangan berfikir, intelektualitas. Pada posisi ini, manusia digenapkan akalnya untuk mampu menyampaikan kebaikan dan kebenaran. Namun tugas bahwah sadar ini sering diterjemahkan menjadi sikap yang merasa baik dan benar atas kepandaian dan penguasaan bidang yang ditekuni. Diam-diam seseorang punya bidang kekuasaan dan diam-diam ia menjadi pengabdi kepandaian. Semakin bertambah pengalaman dan kepandaiannya semakin muncul kepala berhala baru yang disembahnya. Maka sikap terbaik adalah segera mengkolaborasinya dengan cinta. Agar kepala-kepala berhala dengan gagah bisa ditebas.

Hijab ke empat adalah cinta. Cinta di sini terletak pada level pengorbanan seseorang untuk mampu memberikan sesaji terbaik atau mempersembahkan penyajian yang terbaik kepada yang dicintainya. Pengorbanan itu sebagai bukti kecintaan dan agar yang dicintai menjadi makin dekat bukan hanya dekat namun juga akrab, karib. Allah sudah kasih clue bahwa Ia lebih dekat dari apapun dan siapapun, bahkan lebih dekat dari urat lehermu sendiri. Kita juga tahu bahwa untuk mematikan makhluk hidup salah satu syaratnya adalah memutus urat leher. Maka, jika si makhluk memiliki kesanggupan merelakan urat lehernya, maka kedekatan yang ia dapatkan adalah level dekat yang sedekat-dekatnya hingga seakan tidak ada lagi penghalang. Sikap ini ditempuh oleh Nabi Ismail AS. Untuk manusia wenteh seperti kita, cukup merelakan sesuatu yang dianggap sebagai sumber penghidupan saja sudah cukup baik. Artinya, jika ada sebuah peristiwa bahwa kita digoda untuk rela melepas atau tidak, mungkin akan lebih bermuatan ilmu dan hikmah jika direlakan. Dan, jika digodheli justru bisa berefek menjerambabkan level pengabdian kita lebih kepada makhluk bukan kepada Khalik. Sebab sumber penghidupan yang utama adalah Gusti Allah sendiri.

Maka, ketika sekulit demi sekulit hijab ini dikupas akan ketemu dengan kulit berikutnya hingga habis. Akan disaksikan betapa kecil diri ini. Kulit adalah ngaku alit, mengakui kecil dan ringkih. Tak berdaya bahkan ternyata tak ada. [Hijab ke lima, enam, dst. Tidak cukup untuk dituliskan.]

Diskusi terus berlanjut dengan begitu khidmatnya hingga waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB dimana Cangkruk budi doyo masyarakat maiyah Ungaran di majlis gugur gunung ditutup dengan ucapan hamdalah bersama-sama.

Redaksi Majlis gugurgunung

Facebooktwittertumblr