Posted in Kembang Gunung.



KEBIJAKAN WONG NGACENGAN DAN INDAHNYA MENJADI PURIK






Majlis gugurgunung

Saat pembuat kebijakan dipuncaki oleh manusia dengan semesta berpikir linier maka hal yang lahir sebagai hasil kebijakannya pun pasti linier. Untuk mencegah turunnya akhlak manusia di wilayah seksualitas, caranya dengan mengaburkan image yang identik dengan dorongan birahi. Mereka tidak sampai berfikir bahwa cara seperti itu berkemungkinan membuat orang justru penasaran, atau membuat orang yang tadinya tidak teragitasi belahan dada menjadi menoleh bahwa ternyata itu perlu diperhatikan. Dua jenis efek sampingnya : akan mencari solusi atas nama rasa penasaran atau mencoba lebih telaten memperhatikan sesuatu yang sempat dia abaikan itu.
Ini belum soal umur, kalau yang penasaran umuran bocah maka bisa dibayangkan referensi visual yang bisa dia temukan sebagai hasil dari jawaban rasa penasarannya. Dan juga, bisa dibayangkan betapa sejak dini ia mulai pula memberi perhatian khusus pada area dada wanita.

Maka, pengambil kebijakan akan mendapat pasukan linier seperti dirinya yang jika nanti berposisi mengambil kebijakan akan melahirkan cara yang kurang lebih sama sebagai hasil perjalanan pengalaman lahir dan bathinnya. Ini belum soal visual di kemasan rokok, atau poster-poster di rumah sakit. Sebuah citra yang hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang tukang hasut dan membenarkan segala cara. Semuanya dianggap baik dan benar demi menyampaikan kebaikan dan kebenaran, meski masih menurut versi pribadi. Semua boleh ditipu, boleh diancam, boleh ditakuti, karena menganggap semuanya dungu dan jongkok akalnya.
Ketika jiwa kepengasuhan sudah tak ada lagi pada kebijakan demi kebijakan. Ibarat anak, telah kehilangan orangtua. Ibarat istri kehilangan jiwa perlindungan suami. Maka, maklum dan wajar jika menjadi purik. Indahnya purik adalah kondisi sikap yang dilandasi dengan hati. Ia ungkapan protes tanpa kata, ungkapan manja tanpa gelendhot kolokan, pernyataan keras tanpa senjata. Demi mengingatkan kebijakan dengan kepengasuhan seperti halnya warna utama perhatian keluarga.
Seperti halnya rumah orangtua yang tak menawarkan hiasan dan pernik harta benda, namun tetap membawa anak rindu untuk selalu berada disana. Karena kepengasuhan ternyata hal yang sangat mahal jauh melebihi gemerlap citra mata semata. Benda menjadi tampak murahan dan remeh ketika berupaya tanding dengan Asah, Asih, dan Asuh.
Facebooktwittertumblr