Kembul Malaikatan

Facebooktwittertumblr

 

kembul Malaikatan

Kembul Malaikatan

Sudah kembali memasuki bulan Desember dengan demikian usia perjalanan Majlis gugurgunung telah hampir 2 tahun. Seperti sebelumnya, setiap bulan Desember adalah bulan dimana majlis lebih menggunakannya sebagai refleksi dan rekreasi dengan istilah “Tancep Kayon”.

Dalam pagelaran wayang kulit, tancep kayon merupakan penanda dipungkasinya pagelaran. Demikian halnya yang diterapkan di gugurgunung. Setiap satu tahun adalah sebuah pagelaran, gelaran kisah yang kita semua memerankan sebagai salah satu tokohnya. Istilah Tancep kayon bisa juga diartikan : “Menancapkan Hidup” / “Menegaskan koordinat hidup” / “Meneguhkan jalan yang menegakkan”. Sehingga, sebelum memasuki lahir kembali atau tidak di bulan Januari, perlu ada proses evaluasi dan menengok sejenak ke belakang terhadap apa yang mungkin kita lupakan atau bahkan abaikan karena terlalu asyik melangkahkan kaki ke depan. Sementara sesungguhnya yang kita abaiakan atau kita lupakan itu justru seharusnya yang harus diingat. Untuk tetap mengingat niat, sejarah, cita-cita, proyeksi langkah, dlsb. Apakah kita masih menjadi bagian dari cita-cita murni masa silam atau ternyata telah terputus tanpa sadar? karena langkah yang sedang dilakukan berangsur telah beralih menjadi langkah untuk memperjalankan kepentingan pribadi nan keruh, yang mana kekeruhan ini berhasil menterlenakan cita-cita mula yang murni. Untuk tetap tidak lupa pada sejarah, pada cita-cita perjalanan, pada bagian mana yang tetap harus bertahan dan pada bagian mana yang bisa terus terbarukan.

Jalur utama perjalanan adalah sesuatu yang tidak bisa dan tidak boleh berubah. Jalur ini statis dan dalam menitinya penuh dengan dinamika. Dinamika titian itupun sekejab berubah menjadi statis karena telah bergabung menjadi hiasan perjalanan yang tak bisa diubah. Tema Tancep Kayon Gugurgunung bulan ini adalah “Kembul Malaikatan” didalamnya adalah kumpulan mutiara-mutiara tema dari keluarga gugurgunung. Ada “Mulat Milad, Mulud Mulat” yang hendak menyampaikan kewaspadaan diri yang hendaknya selalu siap terlahir kembali dengan membekali diri dengan cahaya yang lebih benderang. Ada “Ambengan, urapan lan quluban” merupakan tema yang diusulkan untuk memberi tekanan pentingnya membangun keterikatan yang lebih meleburkan diri dalam kasih sayang dimana qolb atau hati masing-masing menjaga ketersambungan yang erat dan intim. Ada pula yang mengusulkan tema “Kembang Gunung” yang sekaligus menyesuaikan dengan diluncurkannya oleh-oleh akhir tahun berupa sebuah buku yang berjudul sama. Banyak lagi tema-tema lain yang bermunculan dengan kilau yang murni dan indah. Semuanya seakan butiran-butiran cahaya yang siap hidang dan sayang jika ditinggalkan. Oleh sebab itu, semua tema diikat menjadi satu sebagai aneka warna hidangan yang tersaji bersama dalam satu penampang kebersamaan, jadilah “KEMBUL MALAIKATAN”. Yakni melingkar dan menyantap hidangan yang tidak sekedar menjumput makanan jasad namun menyerap segala cahaya yang terhidang.

Kebersamaan yang guyup rukun adalah cahaya, keramahan dan sikap saling menerima dan menghormati adalah cahaya, melepaskan diri dari ambisi adalah cahaya, berembug dan bertafakur adalah cahaya, bersyukur pada segala bentuk karunia adalah cahaya, menemukan kegemilangan dalam kesederhanaan adalah cahaya.

Banyak lagi cahaya-cahaya yang sesuap demi sesuap bisa terus kita tambah agar makin dipengaruhilah segala unsur di dalam diri kita dengan untaian dan saripati cahaya. Silakan hadir bagi yang ingin membersamakan dengan kami keluarga gugurgunung yang bersiap untuk mengakhiri maupun lahir kembali pada edisi terakhir 2016 ini. Kami ingin bersholawat bersama panjenengan, ingin menyuguhkan pagelaran Wayang Garingan “Ki Wangker Bayu”. Bikin ambengan sebagai tanda syukur untuk kita santap dan nikmati bersama.

Kami ingin menguntai cahaya yang panjenengan bawa agar kita menjadi buah-buah di kebun yang serba-serbi isinya. Kami sangat gembira sejak sekarang dan menyambut siapa saja untuk hadir. Bukan kesempurnaan yang ingin kami tunjukkan namun usaha tulus dalam usaha memberikan sambutan terbaik meskipun tetap akan terselip cela dan tak sempurna. Monggo Katuran Pinarak.

Facebooktwittertumblr
Posted in Mukadimah and tagged , , , , , , , , , , , , , , .