Posted in reportase.



Reportase: Hasta Janma






Malisgugurgunung:: Malam minggu keempat di bulan November 2016, bertempat di taman bermain Qomaru Fuadi, Balongsari, Pringapus Kab.Semarang, Majlis Gugurgunung mengadakan Cangkruk Budidoyo yang rutin diadakan pada setiap malam minggu terakhir dalam setiap bulan. Bertemakan Hasta Janma, Mas Dian selaku moderator membuka acara malam ini pada pukul 21.42 WIB. Diawali dengan dipimpin doa wasilah oleh Mas Norman lalu Munajat Maiyah dan Mars Gugurgunung oleh Mas Jion.

Cangkruk Budidoyo malam ini dimulai agak larut dari biasanya karena menunggu kedatangan Mas Dian selaku Moderator dari Boyolali. Namun keterlambatan ini memberikan sedikit oleh-oleh cerita untuk sedulur-sedulur dari pengalaman Mas Dian dalam perjalanan menuju taman bermain Qomaru Fuadi ini. Pada saat hujan terus mengguyur menemani perjalanan, sementara sepeda motor harus terus melaju, terasa dingin yang sulit untuk tak dirasakan. Namun, Mas Dian teringat akan sebuah metode yang akhirnya bisa membantu mengurangi rasa dingin ini, yakni dengan mengatur pernafasan yang di”download” nya dari Mahesa Jenar  dalam sebuah buku silat Nogo Sosro Sabuk Inten karangan S.H Mintardja. Pembawaan cerita dengan geliatnya yang khas memecah tawa jama’ah yang hadir hingga suasana segar kembali untuk bersiap masuk kedalam diskusi.

Mas Agus memberikan pantikan kalimat bahwa ummat Islam di Indonesia sangat merindukan kondisi yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur. Dimana berharap dikaruniai sebuah negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi dll. Namun yang perlu diamati adalah mengetahui mana yang lebih penting?, mendapat Baldatun Thoyyibatun-nya saja atau dikaruniai Robbun Ghofurnya. Karena ketika banyak yang memilih kondisi Thoyyib maka lebih susah menjangkau Robbun Ghofurnya sebab keterlenaannya lebih mendominasi. Namun ketika tercapai pada karunia Robbun Ghofur pasti akan mendapatkan Baldatun Thoyyibatun-nya.

MGG Nov 2016

MGG Nov 2016

Ditambahkan oleh Pak Yai Arifin bahwa impian untuk menjadi negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur sulit ketika terlena kepada nuansa yang Thoyyib atau situasi yang enak dan nyaman saja hingga lupa Tafakkur untuk menggapai hidayah dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Orang-orang yang mencari kebaikan dapat menemukan petunjuk dengan melihat salah satu produk Allah SWT yakni Al-Quranul Karim.

Penganut Islam di Timur merupakan penganut lama, sedangkan Barat merupakan penganut yang baru. Dan yang lama ini akan lebih rentan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi daripada penganut baru. Hal ini dapat disebabkan penganut lama telah terkecoh oleh keadaan dan merasa perlu beradaptasi dengan melalukan penyesuaian-penyesuaian yang relevan dengan keadaaan. Sedangkan yang baru justru punya alasan untuk tidak selalu perlu melakukan penyesuaian dengan keadaan karena yang menjadi prioritas justru hidupnya berkesesuaian atau tidak dengan ajaran yang baru dianutnya tersebut. Yang lama menjadi terlena padahal yang baru ingin berguru kepada yang lama. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sebuah komponen penting berupa hidayah yang berkaitan erat dengan Robbun Ghofur. Sebuah hidayah tentu hanya dari Allah SWT, dan tidak ada manusia  yang mampu membuka atau menutup hidayah tersebut. Perlu kita cermati setiap hidayah yang telah diberikan setiap hari oleh Allah SWT. Sebanyak 17 kali kita meminta, apakah hanya 17 kali saja mendapat hidayah atau bahkan lebih dari itu karena Allah Maha Pemberi. Namun karena kurangnya kesadaran dan rasa syukur kita menyebabkan hidayah-hidayah tersebut kurang atau bahkan tidak terasa sama sekali. Sekecil apapun bentuk hidayah itu misalkan seperti saat masuk ke kamar mandi dan kita menyalakan lampunya, itupun sebuah hidayah dari Allah SWT yang diberikan untuk kita. Dengan menyadari hal-hal sekecil itu hingga sangat terasa bahwa kita sedang dituntun dan berhasil maka kita berhak untuk bersyukur.

Dengan bersyukur akan membawa kita berjumpa pada posisi Maghfiroh. Dengan melihat titah yang diberikan untuk menjalani kehidupan, apakah perilaku kita ini mendapatkan petunjuk atau tidak. Misalkan si A yang mendapatkan petunjuk tentang kesehatan yang diberikan adalah gratis dan setiap hari. Sedangkan jika tidak mendapatkannya setiap hari, pasti yang terjadi adalah sakit. Banyak manusia yang berbondong-bondong datang ketika ada pengobatan gratis yang diberikan oleh manusia tanpa disadari bahwa Allah SWT telah memberikan kesehatan yang gratis setiap hari. Namun bagaimana penyikapan kita pada hal tersebut? Apakah sudah benar? Dengan menegakkan jalan yang benar maka akan menegakkan martabat yang juga menegakkan shirotol mustaqim. Hingga, baik untuk kita memaknai tentang kebangkitan bahwasannya tidak ada kebangkitan tanpa adanya hidayah/petunjuk.

Ketika kita melihat suku Aborigin atau Indian yang menjadi minoritas di wilayahnya sendiri karena dikalahkan oleh pendatang baru. Mereka tidak memiliki posisi atau kedudukan yang penting di wilayahnya sendiri. Dari sebuah sudut pandang tentang Aborigin atau Indian, mungkin mereka dirasa telah memiliki segalanya hingga tidak perlu untuk mengejar keduniawian. Karena mereka sudah menjalin hubungan yang baik kepada Tuhan dan terhadap alam. Tetapi posisi damai dan tentram tersebut tidak cukup kuat berkelit dari perampasan dan kelicikan. Orang-orang Indian yang disebut sebagai Native American tiba-tiba terlihat seperti menumpang di tanahnya sendiri. Begitupun Aborigin, sebagai penduduk original Australia hanya ikut merasa bangga dengan perkembangan dan kemajuan di tanahnya namun bukan lagi menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Hal ini bisa juga terjadi kepada kita, dimana kita bisa terasa diberikan kemakmuran, diberikan keleluasaan baik untuk beribadah, bekerja, punya tabungan, asuransi, dana pensiun, jaminan biaya pendidikan anak, dll. Namun kita tidak memiliki kuasa yang bisa membuat ataupun menentukan sebuah kebijakan sebab kita hanyalah follower/pengikut saja. Dengan adanya Hasta Janma ini dapat dijadikan sebuah metode untuk mengenali hidayah serta memberikan alasan untuk menegakkan kedaulatan.

Mas Dian memberikan pendapat bahwa Hasta Janma yang terdiri dari 8 kategori manusia ini merupakan sebuah teamwork yang memiliki tujuan sama serta memerlukan pembelajaran antara yang satu dengan yang lainnya.

Mas Leo memiliki beberapa pertanyaan, pertama, misalkan dengan menggunakan kesadaran manusia jaman sekarang. Ketika negara sudah diberikan kemakmuran, mengapa harus protes? Dan direspon oleh Mas Agus bahwa manusia sebaiknya tidak mencari kemakmuran saja tapi juga manfaat. Jika hanya tentang kemakmuran saja, apa beda kita seorang manusia dengan kambing yang aman ada di dalam kandang, serta makmur karena selalu diberi makan. Akan tetapi kita juga harus siap memberi manfaat, jika kambing ya harus siap dan berani untuk disembelih juga. Oleh karena itu kita harus memiliki iman yang kuat. Tradisi kita bukanlah tradisi “modern” atau kandang kambing dalam analogi diatas. Bukan pula menggunakan alat-alat modern yang canggih untuk menjadi berani. Cukup dengan bambu yang ujungnya dibuat runcing saja sudah mampu mengobarkan semangat keberanian bangsa ini.  Karena kita memiliki akal dan pikiran yang mampu kita jadikan alat untuk berproses. Jika kita melihat Nabi Ismail AS yang jika dilihat dari usia masih belia namun sudah menjadi Tabligh. Ketika diberikan pilihan mau jadi kambing atau penggembala kambing, beliau memilih menjadi Penggembala daripada menjadi kambing dengan cara menurut kepada perintah Sang Pencipta Kambing. Bahkan hingga tahap Taqorrub, yang siap untuk menyembelih lehernya hanya untuk Allah SWT. Hal ini ketika sudut pandang pihak “modern” menjadi susah dijalankan, karena penuh ketidak-enakan maka lebih memilih cara-cara cepat saji dan mudah untuk menjalani hidup. Pilihan ini laiknya memilih rela menjadi binatang ternak daripada pemimpin yang Angon. Lebih memilih untuk menjadi Asfala Safillin. Pun tidak perlu bagi kita mengubahnya menjadi Ahsani takwim sebab itu persoalan hidayah. Minimal kita tahu untuk bahwa kita sangat berpotensi tak berdaulat sehingga penting berproses menjadi Ahsani Takwim hingga siapa tahu cara kita mempertahankan tradisi kebaikan menjadi inspirasi bagi yang lainnya.

Pertanyaan kedua dari Mas Leo, tentang teknis Hasta Janma yang secara mekanistik mampu menjaga martabat kehidupan. Direspon oleh Mas Agus bahwa Martabatun ibarat tingkatan/trap/tangga, yang jika tidak ada yang menjaganya maka tidak ada pengalaman untuk beranjak. 8 kategori Hasta Janma ini berada di karunia Rahim bukan di dunia Rahman dan merupakan bentuk simplifikasi dan bukan sebuah profesi melainkan bentuk pengabdian yang minimal ada di dalam keluarga Maiyah. 8 kategori Hasta Janma ialah:

  1. Janma Tani, dimana dia bertanggung jawab terhadap ketahanan pangan yang primer dalam kehidupan. Janma ini dapat memiliki rasa sakit berupa gagal panen dll. Hasta Janma ini yang sedang dicoba oleh Pak Zam (salah satu jamaah) dengan menggarap pertanian. Pak Zam tidak memiliki Janma Tani, namun ketika ingin mencoba pertanian maka ini bisa dianggap sebagai sebuah hidayah dari Allah SWT dan jangan sampai disepelekan.
  2. Janma Ujam Dudukan, yang bertanggung jawab terhadap pengobatan dan rasa sakit yang mungkin diterimanya adalah ketika membantu kesembuhan orang dan tidak mendapat upah berupa rupiah / harta karena sadar bahwa kesembuhan datang dari Allah SWT.
  3. Janma Undhagi, yang memiliki tanggung jawab di dalam peralatan dan perlengkapan. Rasa sakit yang mungkin dialaminya adalah ketika peralatan yang dibuat sebaik-baiknya namun diselewengkan fungsinya oleh orang lain yang memakainya.
  4. Janma Prajurit, masih sangat sedikit dalam keluarga Maiyah, namun setiap orang bisa menerapkannya minimal dengan mengamankan martabat dan jasad orang lain. Karena Pra berarti sebelum dan Jurit berarti perang maka dapat diartikan sebagai sosok yang siap untuk menuju peperangan. Yakni orang yang memiliki wirarasa (jiwa ksatria). Rasa sakit yang mungkin dimilikinya adalah luka-luka di tubuh. Wira rasa ini dapat dilihat contoh pada sayyidina Ali yang tidak kehilangan jiwa keprajuritannya ketika perang saat pedang telah dihunuskan pada musuh, namun justru segera menarik kembali pedangnya ketika musuh meludahinya. Hal ini beliau lakukan dengan alasan bahwa keprajuritannya bukan untuk mengabdi kepada nafsunya namun harus tetap mengabdi kepada Allah SWT.
  5. Janma Panyarik, sudah sangat banyak jumlahnya dan mentradisi di Maiyah. Dimana Janma ini bertanggung jawab terhadap segala bentuk literasi, rekam jejak dll. Namun ketika terkadang yang ditulis bukan sesuai nafsu atau keinginannya sendiri merupakan salah satu rasa sakit yang dialaminya. Karena jika menulis nafsunya dan bukan dalam posisi yang bening maka yang membaca pun akan membaca dan bahkan melaksanakan nafsu si penulis tersebut.
  6. Janma Mitra, bertanggung jawab dalam membentuk harmonisasi satu dengan lainnya dengan mengatasi gesekan yang sangat mungkin terjadi. Janma ini pandai bersiasat dan paham pemetaan hati manusia. Janma Mitra mendapatkan perimbangan ujian dengan rasa sakit dengan menjadi pihak yang dilupakan, tidak dihitung, atau bahkan difitnah oleh orang-orang yang telah dibantu untuk tetap rukun.
  7. Janma Baruna, sangat paham terhadap ilmu perbintangan, pelayaran, cuaca atau ilmu falaq. Rasa sakit yang biasa diterimanya adalah jauh dari “dunia”, seperti yang terjadi pada kehidupan pelaut yang jauh dari daratan. Dimana daratn sebagai tempat ia tinggal, tempat keluarga dan handai taulannya tinggal. Tempat untuk meletakkan hartanya, dlsb.
  8. Janma Kawi, merupakan seseorang yang sangat mampu dalam hal mengolah rasa. Janma ini biasanya baik untuk dijadikan sebagai seorang pemimpin bagi semua Janma karena memiliki kematangan jiwa yang lebih karena terlatih dalam tempaan hati.

Pernah Mas Agus mengimpikan tentang 8 Hasta Janma ini dengan membawa obor pergi ke sebuah desa yang jauh dan dengan tiga pesan yakni, berangkatlah dengan manfaat, srawung dengan manfaat, pulanglah membawa manfaat.

Dan tiga hal yang harus dimiliki oleh 8 Hasta Janma ini adalah:

  1. Harus memiliki tradisi untuk mempertahankan rohani, karena martabat berkaitan langsung dengan rohani. Semakin hidup seseorang dipengaruhi kebijakan rohani maka akan semakin mampu menjaga martabat. Demikian pula sebaliknya.
  2. Memiliki Imam yang sama. Sebab Imam inilah yang dipilih sebagai pihak yang mumpuni dan mampu mengajak mereka bersama menundukkan kepala-kepala kebenaran di pikiran masing-masing untuk tunduk merunduk sujud menghadap Baitullah.
  3. Sanggup Pidhito / sanggup untuk menempa diri dengan rasa sakit. Pidhoto adalah kesadaran seseorang yang ketika ia menjalani hidup di dunia, maka sesungguhnya adalah tengah menjalani laku pidhito, yakni pengalaman keterjegalan, terinjak, terpeleset, terjungkal, dlsb. Itu semua untuk memberikan percepatan kedewasaan.

Dalam suatu benih terdapat batang, tangkai, daun dll namun tidak terlihat karena harus ditanam terlebih dahulu. Misalkan biji kedelai, dimana memiliki masa lalu yaitu rasa kedelai, dan masa sekarangnya ialah membawa masa silamnya, dan masa depannya adalah bertanggung jawab terhadap masa lalu. Orientasi tentang hasil itu tidak perlu, yang perlu adalah orientasi tentang proses karena hasil itu sudah pasti diberi oleh Allah SWT.

Manages Qudroh, sedulur maiyah dari Magelang hadir jam 01.06 WIB usai ngombyongi acara Bapak Maiyah Muhammad Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng di Boyolali. Hadir dengan niatan untuk mempererat tali silaturahmi yang juga berbekal berbagai macam pertanyaan dan pernyataan. Dengan saling bertukar pengalaman dan cerita hingga tak terasa sudah hampir adzan Shubuh. Acara Majlis dipungkasi dengan membaca doa yang dipimpin oleh Mas Eko dari Maneges Qudroh. Pada akhirnya satu per satu jamaah berpamitan untuk pulang ke kediaman masing-masing, meskipun ada beberapa Jamaah yang tinggal untuk beristirahat dan menunggu datangnya pagi.

Facebooktwittertumblr