Posted in Kembang Gunung.



MAIYAH MENCAHAYA menjadi NUUR bukan NAAR






Majlisgugurgunung:: Sebab setiap-tiap kita ini memanggul senjata api yang merasuk dalam diri sebagai nafas. Dan setiap hembusan nafas-nafas itu menegaskan hidup. Dan merasa hidup itu menegaskan identitas keberadaan diri. Maka ‘diri’ bisa menyemangati hidupnya dengan nafas yang menggelora dan memburu.
Setiap kali tanpa sadar aku dan kamu dengan MEMBARA mengumandangkan pekik-pekik yang MENGANDUNG API untuk MEMBAKAR semangat, seperti :KOBARKAN!!! Gelora, BUMBUNGKAN!!! cita-cita Api semacam inspirasi bawah sadar yang paling ideal untuk menggambarkan kebangkitan. Airku dan airmu MENDIDIH, Tanahku dan tanahmu TERBAKAR, Anginku dan anginmu MEMBURU.

Kita menjadi mudah meledak dan terberai meski dikira memendarkan cahaya yang menoreh polesan indah di langit dan memukau dilihat dari bumi, singkat dan sementara. Seperti kembang api. Berkembang sebentar lalu padam. Tak bisa dipetik meski sekuntum. Bahkan untuk luapan air kita sebut ia banjir. Untuk pusaran angin, ia kita sebut badai puting beliung. Untuk gemeretak tanah ia kita sebut gempa atau tanah longsor. Namun untuk api, selain kita sebut kebakaran masih kita beri julukan SI JAGO merah.
Mungkin perlu mulai dipertimbangkan untuk meminjam Cahaya sebagai inspirasi sehingga Airmu tak mendidih namun berkilau. Tanahmu tak terbakar tapi mengkristal. Anginmu tak memburu tapi menerpa. Maka CAHAYAKAN semangatmu. PENDARKAN gelora. TERANGI cita-cita.
Engkau tak lagi perlu meledak-ledak namun berpendaran begitupun diriku, engkau tak perlu mengalahkan namun membersamakan, bersama pula denganku. Engkau tak perlu menakutkan tapi mempesonakan, sehingga aku terpesona dan tentram bersamamu. Engkau tak perlu membumbung tinggi, tampak gagah, terlihat seperti jagoan merah, tapi kau rangkul gelap yang dingin dan sendiri yang selama ini diusir-usir oleh api.
Hadirlah dengan suluh kepada gelapmu. Ia yang paling setia mempersilahkan tempatnya untukmu dan selalu menantikan hadirnya pancaranmu.
Sebab, Air perlu mendidih ia tetap perlu api tapi bukan terus menerus, dan puncaknya bukan untuk memamerkan panas namun untuk mematangkan dan menghadirkan hidangan. Tanahmu pun perlu terbakar namun bukan terus menerus melainkan hanya sekedar proses untuk menyusun ikatan-ikatan di dalam dirimu menjadi fungsi yang lebih konkret dan tegas. Anginmu perlu memburu, bukan untuk meniup api agar makin meninggi namun untuk menemukan lubang-lubang api yang tersembunyi yang merasa berkuasa untuk dihembus pada kerelaan mengabdi dan memberkahkan. Maka itulah guna api, itu semua pesona keindahan yang perlu dikelola saja di dalam dirimu sendiri bukan kepada yang di luar dirimu.
Dan demi Gusti Allah SWT, sejak Bopo Nabi Adam AS dan Kanjeng Rasul Muhammad SAW pun bukan berkobar-kobar membakar dan membumbungi menjilat langit menggagahi bumi. Bukan. Mereka semua MENCAHAYAI. Cahaya itulah yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam.
Ungaran, 6 September 2016 | 4 Dzulhijjah 1437 H
Majlis gugurgunung
Facebooktwittertumblr