Posted in Artikel, Kembang Gunung.



OLEH-OLEH ‘KURMA’ WARGA MAIYAH






OLEH-OLEH ‘KURMA’ WARGA MAIYAH

OLEH-OLEH ‘KURMA’ WARGA MAIYAH

Tulisan ini adalah catatan kesan dari karunia perjalanan. Semoga sebagaimana seperti yang saya harapkan, catatan ini menjadi oleh-oleh bagi keluarga Maiyah. Jikapun oleh-oleh ini menggembirakan dan bisa dinikmati tentulah saya merasa senang dan bahagia. Jikapun tidak, tentunya saya tidak boleh nestapa apalagi memaksa. Berikut catatan saya bagi dalam 2 sub judul. Sub judul yang pertama adalah catatan perjalanan ketika berada di Madinah dan catatan kedua ketika berada di Mekkah.

Ngalah Membuka Berkah

Sejak awal keberangkatan umroh, saya berusaha untuk selalu perbanyak sholawat dan memberi pelayanan kepada siapapun saja para jamaah yang membutuhkan, termasuk hal-hal kecil misalnya membantu memasang safety belt di pesawat, membantu tour leader membagi makanan di dalam bus, memberi obat-obatan yang membutuhkan, dsb.

Ketika tiba di Madinah waktu Shubuh, Alhamdulillah atas ijin Allah ketika shalat Dhuha bisa masuk Raudhah tanpa harus berebut karena jalur sekat tiba-tiba dibuka dari belakang dan dipersilahkan masuk. Justru yang sudah antri di depan, disuruh menunggu. Padahal diinfokan oleh muthowwifnya yang sepi itu jam 23:30 sampe 00:30.

Awalnya berniat malam hari dan siang itu hanya antri di makam Rasulullah SAW. Namun saya mencoba muter masjid lagi masuk melalui Babus Salam, dan alhamdulillaah setelah antri sebentar, disuruh masuk. Intinya kita tidak boleh ngoyo, ambisius, dan harus sesuai target, mengalir saja.

Di hari kedua (Rabu), sudah berniat dengan teman untuk ke Raudhah sekitar jam 23:30 (tengah malam), dengan asumsi situasi agak sepi. Namun ketika habis shalat Maghrib, tiba-tiba sudah masuk di jalur antrian ke Raudhah.

Saya berdiri, menunggu sampe Shalat Isya, sementara teman saya duduk meski agak berhimpitan. Sambil berdiri, saya perbanyak shalawat dan pasca shalat Isya’ langsung masuk ke area Raudhah dengan durasi lebih lama dari hari sebelumnya.

Di hari ketiga (Kamis), siang harinya city tour ke Masjid Qiblatain, Kebun Kurma, dan Jabal Uhud. Di Masjid Qiblatain sempat ketemu Ustadz Wijayanto yang baru datang membawa jamaahnya. Di dalam rombongan ada seseorang dari Sidoarjo yang selalu jadi bahan lelucon karena perawakannya kecil dan lucu. Bahkan di Masjid Qiblatain, beliau hampir ketinggalan karena salah arah ke bus. Ia pun lari sekencang-kencangnya menuju bus.  Usianya kisaran 55-60 th. Sungguh pemandangan yang tidak membuat saya ingin tertawa namun justru menggores kesan bahwa di usia beliau yang sepuh itu masih mempersembahkan kegembiraan bagi sekitarnya meski dirinya dalam posisi tidak sedang digembirakan. Namun saya yakin, kegembiraan oranglain menjadi kegembiraannya dan kesedihan oranglain menjadi kesedihannya pula.

Di kebun kurma, saya belikan beliau Kurma Rathab (kurma muda) karena sepertinya beliau tidak sangu sebab di saat yang lainnya belanja, beliau hanya menunggu di luar. Belakangan saya ketahui, beliau diberangkatkan umroh temannya. Saya beli 3 pack kurma Rathab seharga 50 real, tapi tiba-tiba penjualnya memberi saya uang 5 real sambil bilang halal. Alhamdulillah dapat diskon 5 real. Lalu saya berikan ke beliau 1 pack.

Siang harinya balik ke hotel dan Shalat Dhuhur di Masjid Nabawi. Saya janjian lagi dengan teman untuk ke Raudhah tengah malam. Pasca shalat Dhuhur lalu balik ke hotel untuk makan siang dan istirahat.

Sejam menjelang Ashar, saya bersama teman balik ke masjid untuk menunaikan shalat Ashar. Dan mendapat tempat-tempat sekat menjelang Raudhah. Pasca shalat, tiba-tiba sekat yang dekat saya yang dibuka sehingga saya langsung berdiri mengikuti arus dan tanpa saya sadari, ketika melihat ke bawah ternyata karpetnya sudah HIJAU yang berarti sudah masuk area Raudhah yang menjadi rebutan setiap orang 24 jam penuh.

Saya lalu duduk dekat salah satu tiang karena pasca Ashar tidak ada sholat sunnah. Sebagian diminta segera keluar oleh Asykar (tentara) ada di samping saya. Dan saya hanya pasrah, bahwa jika disuruh keluar, saya akan keluar. Sebab banyak yang sudah disuruh keluar tapi tidak mau.

Saya berdoa dan terus berdoa, sekali lagi menyebut nama istri, anak2, dan ibu serta yang lainnya untuk bisa ke sini. Air mata terus bercucuran tak terbendung.

Teriakan Asykar yang berdiri di samping saya terus menggema untuk menyuruh keluar orang-orang. Saya tidak melihat situasi di sekitar karena saya hanya menunduk sambil memejamkan mata untuk berdoa.

Saya merasa pasti sebentar lagi disuruh keluar. Ternyata makin lama, himbauan Asykar makin sepi dan hening lalu saya melihat situasi sekitar, ternyata…. Masya Allah, area saya sudah ditutup sekat yang artinya area tersebut steril sampai Maghrib dan asykar sudah tidak berteriak-teriak lagi. Mereka menunggu di pintu keluar dan pintu sepanjang sekat. Jadi yang sudah di dalam dipersilahkan untuk menunggu sampai shalat Maghrib atau boleh keluar. Tetapi yang di luar tidak boleh masuk. Sebagian setelah berdoa lalu keluar, karena mungkin kalau menunggu Maghrib masih lama, sekitaran 2,5 jam. Tapi waktu sepanjang itu saya manfaatkan untuk berdoa dan baca Al-Quran. Dan para pelayan masjid memberi minum, kurma, roti, dan Al-Quran bagi yang mau baca. Karena area tersebut steril, tidak ada Al-Quran dan tempat minum. Semua diambilkan. Subhanallah, benar-benar seperti tamu. Kalo di luar Raudhah, ambil sendiri untuk Al-Quran dan air minum yang ada di setiap tiang masjid.

Saya lalu buka Al-Quran sak tepak’e dan langsung ketemu surat Al-Hadid, setelah selesai baca, saya gak percaya kalo sampe Maghrib. Tapi kok memang semua sudah tenang dan dibiarkan. Asykar pun tidak ada di area Raudhah. Padahal 2x sebelumnya ke Raudhah, itu paling lama cuma 5-10 menit sudah disuruh keluar. Akhirnya saya lanjutkan baca Al-Quran surat berikutnya yaitu Al-Mujadilah. Kemudian saya istirahat minum dan makan roti yang disuguhkan tadi. Untuk minum yang habis, gelasnya bisa dituangi air zam-zam lagi, jika para pelayan tadi lewat di dekat kita.

Di sebelah saya adalah orang dari Mesir, alumni Al-Azhar. Mereka berdua menatap saya waktu baca Quran tadi. Pas baca Al Mujadilah, salah satunya bertanya ke teman saya, apakah saya ini orang Indonesia? Dijawab iya oleh temen abi. Mereka tidak bisa bahasa selain Arab jadinya jawabnya ya singkat-singkat saja.

Mereka tidak menyangka kalau saya orang Indonesia bisa baca Al-Quran dengan tartil. Selesai baca Al-Mujadilah, saya ditanya apakah alumni Al-Azhar? Karena mereka melihat kopyah yang saya pakai seperti kopyah Al-Azhar. Lalu saya jawab kalau ini kopyah khas maiyah di Indonesia. Mereka tersenyum. Terus saya ditanya apakah bisa bahasa Arab. Saya bilang tidak bisa. Mereka heran, gak bisa bahasa Arab tapi bisa baca Qur’an dan fasih. Mereka geleng-geleng kepala, hehehe…

Untuk menghindari kesan ujub, saya lanjutkan membaca Al-Quran dengan pelan dan langsung kebuka surat Al-Mukminun dan dilanjut surat Al-Hasyr.

Selesai baca Quran, waktu masih panjang. Bagi yang gak betah, bisa keluar, tapi saya eman-eman keluar kecuali kalo gantian sebab pintu masuk sudah ditutup.

Saya pakai untuk berdo’a dan baca sholawat. Menjelang maghrib, semua sudah persiapan untuk shalat. Yang adzan lokasinya juga di Raudhah, tepatnya di sebuah panggung depan mihrab.

Selesai shalat Maghrib sebenarnya bisa sampai isya, tapi pintu sudah dibuka. Saya gak enak, mosok sudah diberi kesempatan mulai Ashar kok masih terus saja. Kasihan yang menunggu di area luar raudhah sejak Ashar tadi. Saya sama teman lalu inisiatif keluar untuk memberi kesempatan yang lain dan berpamitan ke asykar penjaga pintu. Saya bilang ana min indunisi lalu dijawab: hayyakallah.

Saya pun keluar masjid dengan perasaan lega.Itu sepenggal kisah di Madinah.⁠⁠⁠⁠

——————————-

Menghimpun Berkah Di Kota Mekkah

Tepat jam 14:30, bus bergerak dari Hotel Hyatt International Madinah menuju Mekkah membawa jamaah yang sudah berpakaian ihram untuk umroh pertama. Diperkirakan perjalanan memakan waktu selama 6 jam. Sekitar 3 jam setelah bus berjalan, bus berhenti 30 menit untuk memberi kesempatan sopir istirahat.

Sepanjang jalan yang saya temui hanyalah hamparan pasir atau deretan gunung batu. Jarang ada pemukiman kecuali di beberapa titik tertentu saja. Benar-benar tanah tak bersahabat untuk bercocok tanam dan bertempat tinggal.

Tak lama kemudian setelah berhenti di rest area tadi, bus masuk ke Masjid Bir Ali, untuk memberi kesempatan para jamaah ambil miqot.

Jarum jam menunjuk pukul 21:30, bus mulai masuk kota Mekkah. Namun saya belum merasakan apa-apa, sekilas kemudian kelihatan Tower Fairmont, hotel tertinggi yang berada tepat di depan Masjidil Haram yang menandakan bahwa di bawah hotel itulah ka’bah berada. Hotel yang di puncaknya memiliki jam raksasa ini sebagai patokan penduduk kota Mekkah atau penduduk asing yang baru masuk kota Mekkah bahwa di bawahnyalah lokasi Masjidil Haram berada.

Spontan ketika melihat ujung menara yang berupa bulan sabit namun menghadap ke atas itu, saya membatin: kok seperti tanduk setan ???. Saya mencoba menepis bisikan-bisikan itu meskipun akal membenarkan. Saya tidak mau ada perdebatan dalam batin, biarlah itu menjadi urusan Allah saja. Saya mencoba merasakan atmosfer Mekkah. Kota yang lebih bising karena raungan klakson dan lebih ugal-ugalan dibanding Madinah yang cenderung tenang dan senyap karena jarang terdengar suara klakson.

Perlahan bus masuk ke pelataran Hotel Anjum, yang berjarak 100 meter dari pelataran Masjidil Haram. Setelah menaruh koper di kamar yang disediakan, saya dan beberapa teman langsung menuju resto untuk makan malam. Tepat jam 23:30, umroh pertama di mulai dengan thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran lalu sholat sunnah di belakang maqam Ibrahim, minum zam-zam, dilanjut Sa’i dari Safa ke Marwah sebanyak 7x dan diakhiri tahallul. Untuk menyempurnakan tahallul, saya dan beberapa teman pergi ke barber shop yang banyak tersebar di lobby hotel sekitar masjid untuk mencukur habis rambut di kepala dengan biaya rata-rata 10 riyal karena dalam hadits Bukhari Muslim, mencukur habis (gundul) itu 3x lebih utama daripada hanya merapikan.

Getaran-getaran belum saya rasakan sejak awal umroh, namun ketika thawaf melintas di hijr ismail, getaran itu mulai muncul. Air mata mulai mengalir, campur aduk antara terharu bisa hadir di situ dan marah melihat ka’bah dikangkangi hotel-hotel berbintang. Pasca thawaf setelah shalat sunnah, saya berdiri dan ambil jarak dengan rombongan. Saya mendongak ke atas melihat hotel-hotel berbintang yang mengelilingi Masjidil Haram. Sambil menangis, saya berucap: “Ya Allah, saya tidak rela kalau rumahMu ini dikangkangi hotel-hotel berbintang ini. Saya tidak rela Ya Allah!!!” Karena saya melihat ka’bah seperti tidak ada harganya sebab di sekelilingnya telah menjulang berbagai hotel yang tingginya puluhan kali lipat dari tinggi ka’bah atau Masjidil Haram.

Keesokan harinya, pasca Shalat Dhuhur, saya mencoba thawaf sunnah sendirian, dan setiap berada di Hijr Ismail selalu menangis dan menangis. Setiap berhimpitan dengan seseorang selalu saya dahulukan apalagi kalau berpapasan dengan kursi roda. Setelah putaran ke-7, saya mencoba berjalan agak serong dan tiba-tiba sudah berada di pinggir ka’bah. Sambil kedua tangan menyentuh kiswah, saya berdoa lagi, mendoakan keluarga, ibu, saudara, teman-teman, dan siapa saja yang saya ingat. Doa yang diiringi tangis selalu terjadi setiap berada di area ka’bah.

Saya lalu berjalan merapat menuju pintu Hijr Ismail, dan Alhamdulillah tepat di depan pintu, ada ruang kosong. Seketika saya masuki dan saya sholat sunnah 2 rakaat meski kondisi uyel-uyelan karena tidak ada jarak yang signifikan untuk rukuk apalagi sujud. Pasca shalat, saya berdoa lagi di bawah talang mas. Lalu saya merapat lagi menuju Hajar Aswad. Namun saya teringat, jika saya memaksa, pasti akan ada yang teraniaya. Saya hanya ingin menyentuh saja, alhamdullilah dikabulkan tanpa harus menyakiti orang lain.

Ketika banyak orang antri ambil air zam-zam, dan waktu giliran saya, saya inisiatif mengambilkan air untuk orang-orang yang antri di belakang saya. Sama persis yang saya lakukan untuk ambilkan plastik pembungkus sandal di Masjid Nabawi. Oh iya, hampir lupa. Bahwa muthowwif rombongan saya ini merupakan jamaah maiyah. Namanya Ustadz Syamsudin, asli Madiun alumni ponpes Langitan, mukim di Mekkah. Jadi Jamaah Maiyah di Saudi ada yang ada di Jeddah, Madinah, maupun Mekkah. Beliau menemani kami mulai dari kedatangan di bandara Jeddah sampai mengantar pulang kembali ke bandara Jeddah sebelum bertolak ke tanah air.

Hari kedua saya gunakan untuk menyerap rasa di area Masjidil Haram. Pasca shalat Ashar, saya bersama teman naik ke lantai 3, mengamati pergerakan orang thawaf yang makin lama makin ramai.

Hari ketiga, ada umroh kedua dengan ambil miqot di Masjid Ji’ronah. Satu-satunya tempat miqot yang dipakai nabi ambil miqot sebanyak 2x. Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW umroh hanya 4x. Namun sebelum ambil miqot, diajak jalan-jalan dulu lewat di depan Jabal Nur, tempat Gua Hira’ berada. Ke Arafah, Jabal Rahmah, Mina, dan Mudzalifah. Setelah ambil miqot, rombongan kembali menuju hotel untuk makan siang. Lalu bergerak bersama menuju Masjidil Haram. Sebelum melakukan thawaf, diawali sholat Dzuhur dulu dan beberapa teman menunjuk saya untuk jadi imam. Kali ini saya tidak bisa menolak. Umroh kedua pun dilaksanakan dengan lancar.

Di hari ke-4, sewaktu menunggu shalat Isya di pelataran Ka’bah, saya diajak ngobrol seseorang di sebelah saya. Namanya Fadl Dassouki, seorang Dokter Spesialis Mata dari Lebanon. Beliau mempunyai 3 anak. 2 laki-laki, satunya seperti beliau sebagai dokter spesialis mata. Dan satunya perempuan lulusan S3 dari universitas di Kanada. Beliau sendiri menempuh pendidikan di Kanada dan tinggal di sana selama 10 tahun. Sudah 4x ini beliau umroh dengan penerbangan selama 2 jam dari Lebanon. Setelah sholat isya’, beliau marah ke orang di depan saya karena sandalnya ditaruh di belakangnya yang seharusnya ditaruh di depannya sehingga saya kesulitan untuk ambil titik sujud. Sampai-sampai orang di samping kiri saya ikut memarahi orang di depan saya itu. Saya agak bingung memposisikan diri maka hanya tersenyum saja. Sebelum berpisah, saya dipeluk dan dido’akan umrohnya maqbul dan bisa ke sini lagi bersama keluarga.

Karena masih lama berada di Mekkah, saya inisiatif untuk ajak umroh lagi teman-teman dan sebagian besar setuju. Akhirnya di hari kelima, saya bersama teman-teman naik Toyota Hiace berisi 12 orang, dan satunya naik mobil Hyundai berisi 8 orang ambil miqot menuju Masjid Hudaibiyah, sekitar 22 km dari Kota Mekkah. Perjalanan ditempuh hanya 30 menit, melewati peternakan unta dan tempat pembuatan kiswah. Sesampai di Masjidil Haram, umroh pun dilakukan mandiri tanpa muthowwif dan saya diminta memimpin do’a sewaktu thawaf maupun sa’i. Namun saya minta bergantian dengan teman saya. Sebelum pergi ambil miqot tadi, tanpa sengaja ketemu Mas Reiza, aktivis Kenduri Cinta pas mau masuk lift dari resto. Beliau di kamar 268, saya di 501. Angka di depan menunjukkan posisi lantai. Setelah ngobrol sejenak, beliau memberi info kalau sore nanti Kang Thobib mau ke Mekkah dari Jeddah. Pas saya di kamar, beliau menelepon ke telepon kamar minta nomer saya. Namun sore hari posisi saya menjelang Maghrib sampai setelah Isya’ berada di masjid. Dan HP saya tidak bisa dihubungi ketika berada di luar hotel karena hanya mengandalkan wifi gratis. Sepulang dari masjid, ada miscal dari Mas Reiza sekitar ba’da Maghrib. Dan ada WA masuk dari Kang Thobib. Lalu saya WA balik, ternyata Mas Reiza yang ke Jeddah dan sedang bersama Mas Thobib, namun sudah beranjak mau Mekkah lagi. Waktu itu saya baru pulang dari masjid sekitar pukul 22:00. Setelah bersay hello dengan Kang Thobib via WA saya pun undur diri bersamaan dengan Mas Reiza yang sedang perjalanan balik ke Mekkah.

Di hari ke-6, ba’da shalat Shubuh, saya janjian dengan tetangga yang sedang belajar di Mesir. Kebetulan ada acara di Saudi. Alhamdullilah dipertemukan di pintu 74 Masjidil Haram. Ngobrol sekitar 30 menit soal perkembangan desa dan beliau nitip baju untuk keponakannya. Hari ini adalah hari terakhir sebelum siang hari beranjak  ke Jeddah dan Thawaf Wada’ akan dilakukan setelah sarapan. Sepanjang thawaf wada’, air mata saya mengalir deras tak terbendung. Selama thawaf saya menatap ka’bah dan berdo’a sendiri dan sesekali mengikuti do’a bersama dari muthowwif. Setelah thawaf, rombongan terpecah. Ada yang langsung shalat, ada yang entah ke mana. Ternyata belakangan saya ketahui, kalau sebagian di antara mereka berbelanja di belakang Grand Zam-Zam karena masih ada waktu 3-4 jam sebelum bergerak menuju Jeddah.

Saya sendiri mencoba masuk ke area Hijr Ismail, dan seperti sebelumnya tiba-tiba pas di pintu Hijr Ismail pintu ada celah sekitar 60 cm sehingga saya leluasa untuk masuk. Di tengah-tengah Hijr Ismail, tiba-tiba saya dipanggil asykar yang berjaga di dinding ka’bah. Sambil berkata: antum, lalu menunjuk saya untuk maju dan diberi tempat di sampingnya. Saya gak percaya, sampai saya bilang untuk membenarkan: ana? sambil menaruh telapak tangan kanan di dada kiri. Dia mengangguk, sehingga saya beranjak ke depan di dinding ka’bah. Saya diberi ruang kira-kira seluas sajadah untuk sholat. Saya lalu sholat 2 rakaat sambil menangis antara terharu dan bersyukur karena bisa sholat di situ tanpa kena desakan jamaah lainnya sebab saya dijaga dua asykar di samping kanan dan kiri saya. Sementara di belakang saya, mereka sholat sambil berhimpitan. Pas sujud, kepala tidak terantuk kaki jamaah lain itu sudah bagus. Kalau kepala dilangkahi itu sudah biasa. Pasca shalat, saya berdo’a lalu shalat lagi dan berdo’a lagi. Sebelum beranjat, saya jabat tangan dengan asykar yang memanggil saya tadi sambil bilang: syukron akhi. Saya pun keluar dari Hijr Ismail dengan lega.

Saya lalu menyeberang dari arus orang-orang yang thawaf, alhamdullilah tidak pernah tabrakan, seperti ada celah yang selalu bisa saya lewati. Begitu juga ketika saya kepingin merapat ke ka’bah, seperti ada celah sehingga tidak pernah tabrakan dengan arus orang thawaf yang terus berputar.

Di pinggiran pelataran Ka’bah sebelum tangga menuju King Fadh, saya menatap ka’bah lama sekali, seakan tidak ingin berpisah. Tak terasa air mata mengalir lagi. Saya berjalan mundur sambil memandang ka’bah. Dan di ujung tangga menuju lantai 2 untuk keluar masjid, saya mulai menaiki tangga sambil sesekali menoleh ke Ka’bah. Saya jalan pelan-pelan sekali. Dan di ujung tangga, sekali lagi saya tatap Ka’bah untuk terakhir kalinya. Entah halusinasi atau apa, saya melihat seolah ka’bah berputar sejenak dan langsung berhenti seketika. Saat itu juga, saya langsung beranjak pergi dan tidak menoleh lagi ke Ka’bah. Entah apa yang dimaksud dalam pandangan itu, namun kemudian hati saya serasa mendapatkan sebuah jawaban yang melegakan. Mungkin berkaitan dengan ketidakrelaan saya di awal hari saat memandang Mekkah dikangkangi hotel-hotel berbintang. Putaran pada pandangan saya itu seakan mengutarakan kepada saya untuk tidak perlu risau. Sebab bangunan yang meninggi, setinggi apapun bukan tandingan bangunan yang meluas dan merunduk. Saya keluar melalui pintu 73 dengan perasaan lega dan setelah sampai di pelataran Masjidil Haram, saya menoleh ke Masjidil Haram sambil sesekali berjalan mundur. Setelah berpamitan, saya segera menuju hotel yang tidak terasa kurang 1 jam lagi waktunya untuk beranjak menuju Jeddah. Saya prepare sebentar untuk bersihkan badan lalu telepon ke kamar Mas Reiza namun tidak diangkat, mungkin lagi di masjid. Akhirnya saya WA untuk pamitan sekaligus WA ke Kang Thobib. Dan balasan dari mereka baru saya baca di Bandara Changi Singapore 9 jam kemudian karena HP saya hanya mengandalkan wifi gratis, hehehe…

Itulah beberapa kisah yang saya ingat ketika berada di Makkah. Semoga baik catatan dari Madinah maupun Mekkah ini menjadi manfaat.

Penulis :Salah satu Keluarga Maiyah gugurgunung yang tinggal di Pasuruan. Ia bersama-sama saudara-saudara Maiyah Pasuruan sering melingkar dan merekatkan hubungan antar keluarga dan handai taulan dengan tali Maiyah yang bernama Sultan Penanggungan, sebuah nama kehormatan untuk sebuah lingkar kecil Maiyah yang diberikan Mbah Nun saat berada di Pasuruan.

 

Facebooktwittertumblr