SENGKUD

Tahun 2019 menjadi sedikit berbeda untuk rutinitas Majlis gugurgunung. Dimana biasanya muncul sebuah tema untuk didiskusikan secara mendalam, namun tahun ini Majlis gugurgunung bersama-sama untuk berusaha menghasilkan sebuah produk nyata. Sesuatu produk yang bisa lebih dirasakan kemanfaatannya, baik untuk yang melingkar di dalam majlisan dan semoga dirasakan pula oleh masyarakat. Baik dalam bentuk satu produk bersama ataupun produk dari masing-masing sedulur yang nantinya akan diperkenalkan nama dan jenis produknya, disampaikan beberapa kendala yang dialami serta dirembug beberapa alternatif solusi pemecahan.

 

Tanggal 26 Januari 2019, malam minggu terakhir di kediaman Mas Mundari salah seorang sesepuh di Majlis gugurgunung menjadi waktu dan tempat digelarnya rutinitas kegiatan. Dengan tema Sengkud yang berarti cekat-ceket ditandangi atau dalam bahasa indonesia yakni dilakukan segera mungkin. Sengkud, secara tersurat berarti srempeng, cekat-ceket, disegerakan. Secara tersirat yakni sesungguhnya kita sedang akan membangun pondasi peradaban, diantaranya :

 

Adab Bebrayan

Adab Sinau Bareng

 

Sengkud merupakan perilaku yang terlatih terus menerus dalam kurun waktu yang panjang hingga terbiasa, lalu terbentuklah kebiasaan yg cekat-ceket, srempeng, dsb. Prosesnya membutuhkan teknologi mutakhir yang bernama kesabaran. Lambaran utamanya adalah Rasa Kamanungsan, karena aset utama Manusia adalah Rasa Kamanungsan. Sengkud sendiri masih sejalan dengan program dari Maiyah cluster subregion (Paradesa Ken Sengkud) yang menjadi hasil saat Silatnas 2018 lalu di Surabaya.

Kisaran pukul 21.00 WIB dimulai seperti biasa yakni pembukaan, lalu pembacaan do’a wasilah serta munajat Maiyah. Kloso utami menjadi bahasan awal yang menarik untuk dirembug. Dimana ini akan menjadi salah satu produk yang akan coba dijalankan oleh Majlis gugurgunung. Sebuah matras yang terbuat dari beberapa bahan kering seperti pelepah batang pisang, eceng gondok serta jerami.

pembacaan do’a wasilah serta munajat Maiyah

Mas Anjar mempresentasikan produk berupa wi-fi RTRW

Pemaparan berikutnya yakni dari Mas Anjar dkk yang menggeluti sebuah produk berupa wi-fi RTRW. Yakni menyalurkan sinyal wi-fi ke wilayah pedesaan untuk mempermudah masyarakat desa dalam mengakses internet. Tak bisa dipungkiri bahwa internet sekarang menjadi sarana komunikasi yang tenar dipakai oleh masyarakat luas. Sebab memang penggunaan komunikasi internal alias tanpa alat bantu eksternal sekarang sangat sulit untuk dilakukan. Alih-alih memburu kemudahan namun dalam pada itu dibersamai pula dengan kesulitan. Namun tetap program wi-fi RTRW ini mendapat apresiasi yang baik bahkan sedulur-sedulur gugurgunung sendiri turut menantikan produk tersebut dapat dipraktekkan sebab malam itu belum dapat dilaksanakan.

Lanjut pada pemaparan berikutnya dari Pak Zamroni, keluarga Majlis gugurgunung yang berdomisili di  Kendal, meski tinggal di Kendal namun keberadaan Pak Zamroni tak pernah terasa jauh sebab dekat di hati. Beliau pun merupakan salah satu sesepuh di majlis gugurgunung. Beliau menyampaikan bahwa ada seorang pakar teknologi yang telah membuat penemuan alat yang mengubah bahan baku plastik menjadi bahan bakar terendah yakni solar. Pakar teknologi tersebut juga sudah memiliki kedekatan secara personal dengan Majlis gugurgunung, namun malam ini sedang berhalangan hadir. Sebuah alat yang sangat memberi gambaran kemanfaatan yang luar biasa, namun juga beberapa kendala terkait regulasi yang turut serta.

Selain alat tersebut ada pula sebuah alat untuk membuat balok-balok es dengan biaya yang lebih rendah sebab menggunakan teknologi sederhana. Alat tersebut juga besar kemungkinan untuk bermanfaat pada masyarakat wilayah pesisir utamanya nelayan yang membutuhkan es balok untuk proses pengolahan ikan. Senada dengan ungkapan Mas Agus dimana sedulur-sedulur Maiyah di Brebes yang mampu mengubah sampah-sampah plastik menjadi biji plastik baru. Hal ini menjadi harapan yang besar dalam pemberdayaan masyarakat serta perbaikan kondisi lingkungan.

Malam ini seperti karunia yang benar karena para sesepuh gugurgunung dari berbagai daerah turut berkenan membersamai majlis, selain Pak Zam dari Kendal, hadir pula Mas Bayu dari Yogyakarta. Mas Bayu yang juga diminta oleh Mas Kasno yang malam ini menjadi moderator bersama Mas Chafid. Beliau mengungkapkan beberapa hal tentang adab. Dimana setiap wilayah pasti memiliki adabnya masing-masing, dan adab untuk belajar yakni nglesot, tidak merasa bisa juga tidak merasa memiliki agar ilmu dapat tertuang dengan baik. Adab untuk bebrayan, ra seneng diapusi ojo ngapusi, ra seneng dilarani ojo ngelarani (tidak senang dibohongi ya jangan membohongi, tidak senang disakiti ya jangan menyakiti). Setiap usaha apapun dilambari dengan adab yang baik agar tercipta sambungan persaudaraan yang baik pula.

Mas Agus menambahkan bahwa semua perlu pembelajaran tentang adab yang baik, sebab dampaknya adalah pada sebuah peradaban yang baik pula. Hal tersebut yang menjadi bagian dari landasan yang akan kita bawa menuju periode berikutnya.

Mas Agus merespon yang sedang bergulir dalam diskusi malam ini

 

Koperasi

Mas Agus tertarik pada prinsip koperasi. Bukan semata pada angka-angka keuntungan yang diperoleh namun lebih kepada pembelajaran tentang gotong royong di dalamnya. Ditambahkan pula oleh Mas Bayu tentang koperasi, dapat dibagi menjadi produsen, konsumen dan perintis agar dapat dilaksanakan bersama. Semua hal didasarkan pada kekeluargaan, dimana rentan goyah sebab banyak ujian di dalamnya yang senantiasa membutuhkan kehati-hatian dalam proses perjalanannya. Lanjut Mas Bayu tentang konsep Baitul Mal yang mungkin nantinya dapat dijalankan. Segala pengelolaan sekian persen pemasukan serta pengeluaran, dikelola disana. Bukan sekedar bertujuan untuk menumpuk harta yang tampah WAH. Jangan sampai tergoda “WAH” sebab hanya akan menjadi “uWUH”.

Kemudian Mas Mundari yang memiliki angan tentang peternakan unggas yang dipresentasikan secara jelas, runtut, gamblang dan apik. Kami semua berharap bahwa gagasan tersebut akan segera terlaksana paling tidak pada bulan ke-lima tahun ini.

Masih tersambung dengan peternakan, Mas Kasno meminta pada Mas Dhika yang malam itu diminta oleh Mas Kasno menceritakan progres serta kendala dalam perjalanan Setyaki Farm, sebuah peternakan ayam kampung dengan pakan organik. Kendala besar masih pada kandang ayam yang beberapa waktu lalu didatangi banjir sehingga merendam telur-telur yang sedang dierami. Langkah antisipasi yang kurang, ditambah banjir kiriman serta curah hujan yang memang tinggi saat itu. Meskipun hanya dalam hitungan jam namun membuat beberapa butir telur gagal untuk menetas dan harus menunggu periode bertelur berikutnya. Sehingga dari segi jumlah kurang begitu meningkat secara signifikan. Namun satu langkah antisipasi sudah dilaksanakan yakni memindahkan kandang pengeraman diletakkan di tanah yang lebih tinggi. Selain itu terkendala pula masalah teamwork yang disampaikan pula oleh Mas Dhika.

Mas Agus kembali menyampaikan terkait beberapa usaha yang dijalankan. Yakni setiap proses yang tidak berhasil bukannya tidak menghasilkan. Namun ada hasil pembelajaran yang didapatkan dalam proses kegagalan tersebut. Orang yang berhasil adalah orang yang mampu menyerap sebanyak-banyak ilmu ke dalam dirinya sehingga ia menjadi makin terhindar pada kesulitan. Kegagalan, kesulitan, dan sejenisnya sesungguhnya merupakan makanan ruhani yang saripatinya menjadikan penyantapnya mendapatkan sel-sel kemudahan yang baru.

Manusia sebagai khalifah fil ardh dan ahsani takwim

Aset utama manusia adalah rasa kemanusiaan (rasa kamanungsan). Dalam hal apapun di bumi ini, rasa kamanungsan yang lebih tinggi dibanding lainnya akan memberikan peluang bagi akhlak untuk mendapatkan tempat lebih baik untuk menampilkan dirinya. Pada peristiwa hukum, rasa kemanusiaanakan meletakkan supremasi hukum dibawah supremasi keadilan, keadilan posisinya lebih tinggi dari hukum.

Pada peristiwa tanding, rasa kamanungsan akan menyadarkan hidup adalah sendau gurau belaka. Tanding masih di bawah nalar tenggang rasa dan tepo sariro, derajat kemenangan diri masih dibawah derajat kemenangan sosial. Pada peristiwa perdagangan, rasa kamanungsan akan menyadarkan bahwa keuntungan masih di bawah nilai kejujuran. Kejujuran lebih tinggi levelnya dibanding keuntungan. Sehingga keuntungan materi yang merugikan kejujuran adalah kerugian besar.

Dalam peristiwa penghambaan, rasa kamanungsan akan mengkhalifahi bumi bukan menyembahnya. Mengkhalifahi bumi adalah menghormati dan menjaga kecantikan luar dalam bumi. Sedangkan minimnya rasa kamanungsan akan meletakkan bumi sebagai budak rendah yang bebas dieksploitasi dan dikuras potensinya sampai sakit-sakitan. Akibat makin tipisnya aset kemanusiaan berupa rasa kamanungsan, niscaya akan meningkatkan kualitas keserakahan, kerakusan, keterlenaan, kebuasan, keliaran dan lain sebagainya.

Dalam peristiwa apapun di bumi, jika rasa kamanungsan terus terjaga, terolah dan terasah secara makin cemerlang pada kehidupan manusia, maka orang-orang akan berhati-hati dan teliti dalam menjaga keadilan, tenggang rasa, kesadaran nalar, kejujuran dan keteguhan pengabdian. Tiap-tiap individu akan berhenti melakukan hal-hal yang tak perlu berlaku pada dirinya dan memberlakukan hal-hal yang utama sebagai metode menata perilaku ter-utama dalam kehidupannya.

Semoga dalam berdiskusi malam ini mampu memunculkan titik-titik untuk menuju pada tahap-tahap berikutnya dengan setiap bulan senantiasa ada progres yang dapat diceritakan, ataupun kendala yang akan dibagikan. Sekian reportase kali ini, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

Sengkud

SENGKUD

Di tahun 2019 ini majlis Gugurgunung melangkah dengan pola “ancang-ancang”, dimana sedikit menarik mundur langkah ke belakang untuk melompat pada jangka yang ingin digapai. Jangka yang ingin digapai itu adalah menyatakan atau memperagakan secara riil hidup dalam semangat gotong-royong atau gugur-gunung sebagai pondasi bebrayan dan mbangun adab.

Di awal bulan di tahun 2019 ini majlis Gugurgunung mengangkat tema Sengkud, yang secara bahasa artinya adalah segera, srempeng, sregep, cekat-ceket, cekatan.

Memang hanya satu kata, tapi jika dilakukan maka tak cukup satu dua buku untuk mencatat langkah Sengkud.

Mari merapatkan lingkaran, menyeduh rindu dan mengemas kepulan irama dalam anyaman tikar pandan gugur-gunung.

LAKU KASANTIKAN

Bulan Desember senantiasa menjadi bulan penutup dalam satu tahun. Bertepatan dengan Tancep Kayon, yang digelar oleh Majlis Gugurgunung dimana menjadi penutup dalam kegiatan satu tahun. Tancep kayon menjadi momentum untuk mengevaluasi langkah serta memutuskan apakah pada tahun depan perlu dimulai lagi (bedol kayon) atau justru harus cukup berhenti sampai disini. Salah satu indikatornya ialah, dari segi kemanfaatan kehadiran Majlis Gugurgunung baik untuk dulur-dulur Gugurgunung sendiri, sedulur Maiyah lainnya serta masyarakat sekitar.

Pada 29 Desember 2018 kegiatan Tancep Kayon yang bersifat “sakral” tersebut digelar. Bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang. Semenjak siang harinya, aktivitas di Balai Desa Klepu sudah dimulai. Segala persiapan dikoordinir sangat apik oleh Mas Jion dan Mas Patmo yang didukung pula oleh beberapa sedulur yang lain. Mulai dari pengecekan sound system, penataan cahaya lampu, pemasangan backdrop, penempatan meja-meja untuk pameran produk dari dulur-dulur Gugurgunung hingga nggelar kloso, semua dilakukan dengan cara nggugur gunung. Lilo lan legowo menjadi bekal utama untuk melakukan segala persiapan.Continue reading

Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2018
“Laku Kasantikan”

Laku perjalanan setahun selama 2018 Majlis gugurgunung dengan niat langkah memperkaya kecantikan. Laku Kasantikan.

Sedikit remind, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, sejak awal tahun 2018, Majlis gugurgununung bersama sama merumuskan tema besar sebagai “kurikulum” sinau bareng yaitu “Laku Kasantikan”.

Kasantikan, Santika, masih seakar kata dengan Santi, Saint, Santoso, Susanto, Santa, Sinter, dan sebagainya, yang mengandung arti membawa sifat rohani yang tenang, suci.

Peradaban manusia umumnya merindukan keindahan rohani yang bersifat universal. Keindahan yang merupakan miliknya Allah yang dititipkan di bawah alam sadar agar senantiasa merindukan keindahan universal tersebut. Keindahan yang pada titik tertentu, hanya dapat diungkapkan dengan bahasa universal pula, bahasa yang justru tidak bisa diaksarakan, yaitu tangis, sedih, bungah, haru, dan sebagainya.

Beberapa hal di atas tersebut menjadi pijakan bagi keluarga Gugurgunung untuk mengangkat sub sub tema pada tiap bulannya untuk disinauni bareng-bareng, diantaranya,

– Malikinnas Ilahinnas

– Sinau Mulat

– Sambung Rohso

– Manajemen Bhinneka Tunggal Ika

– Dolanan ing Njaba

– Mencari Dewan Sepuh

– Paseban Muharram

– Nyuwun Jawah

– Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW

 

Sebuah rangkaian laku keluwarga gugurgunung selama satu tahun, dengan  kesadaran utama yang ingin dibangun adalah “Eling lan Wadpodo” bahwa kemurnian, kesucian hanya milik Allah. Sehingga diri kita yang tidak murni ini, mau terus mengakurasi laku lampah menuju kemurnian.

Sudah masuk Bulan Desember. Sebagaimana tradisi Majlis gugurgunung, pada akhir tahun ini akan dilaksanakan “Tancep Kayon”. Sebuah kesadaran tentang kapan sebaiknya berhenti, dan kapan atau bagaimana sebaiknya untuk memulai kembali.

Perhelatan sederhana, biasa saja, tidak ada hiburan, tapi berusaha meletakkan sebagai peristiwa silaturahmi nan istimewa, luar biasa, saling menghibur dan terhibur demi mengenal kecantikan bebrayan secara lahir dan bathin.

Semoga kebahagiaan senampan nasi menjadi penuh makna dan merambah hamparan nikmat tak terhingga karena disantap bersama dalam perasaan sukacita dan gemah ripah bungah sumringah serta ternaungi berkahNya. Aamiin

Sumonggo bagi sedulur semua, selamat datang dan ijinkan kami bergandengan hati kepada Anda semua.

Silatnas Maiyah 2018

Hari jum’at pada tanggal 7 Desember 2018 Masehi seakan menjadi kegembiraan tersendiri bagi seluruh penggiat simpul Maiyah. Perhelatan tahunan yang sudah empat kali dilaksanakan ini menjadi ajang untuk bersilaturahmi, bertukar pikiran dalam sebuah diskusi, serta menetapkan beberapa hal untuk menjadi bahan eksperimentasi selama minimal setahun ke depan.

Kegiatan bertajuk Silaturahim Nasional 2018 (silatnas 2018) digelar selama 3 hari 2 malam. Dimana dibuka pada hari jumat sore, dan ditutup pada Minggu siang dengan tagline kali ini ialah Blueprint Peradaban Masa Depan”. Simpul Maiyah Bangbang Wetan beserta beberapa simpul sekitar kali ini yang menyediakan diri untuk menjadi tuan rumah hingga dipilihlah sebuah tempat di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

Semua simpul mendapatkan undangan untuk perwakilan dua orang. Begitupun Majlis Gugurgunung yang kali ini diwakili oleh Mas Patmo dan Dhika. Meskipun berangkat dari Ungaran, Kab. Semarang namun baru pada jum’at malam, kami berdua dapat berangkat menuju Surabaya dengan Bus Malam “Sugeng Rahayu”.

Perjalanan yang cukup panjang, yakni hampir sembilan jam dan hanya berhenti sekali di daerah Ngawi untuk makan malam. Pukul 05.30 WIB pagi, kami sampai di terminal Purabaya. Dikarenakan tidak adanya angkutan umum yang langsung menuju ke lokasi, maka menurut panitia kami lebih baik menggunakan Taxi online. Tepat di pinggir jalan, depan gapura bertuliskan Terminal Purabaya kami menunggu kedatangan Taxi online yang sudah kami pesan menggunakan aplikasi. Tak berselang lama, kami pun segera meluncur ke lokasi dengan jarak tempuh kurang lebih 10 Km.

Sabtu pagi kisaran pukul 07.00 WIB, tibalah kami di lokasi Asrama Haji Sukolilo Surabaya dimana disana sudah nampak beberapa wajah yang sangat familiar bagi kami. Memang waktu itu ialah waktu untuk sarapan pagi. Sebab acara baru akan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB pagi. Tidak menunggu lama, segera kami berdua mengisi daftar kehadiran dan mengambil beberapa peralatan tulis menulis serta suvenir seperti kalender 2019, buletin maiyah, serta stiker yang kesemuanya terbungkus rapi di dalam map berwarna putih yang disediakan oleh panitia. Usai mengisi daftar kehadiran, kami segera diantar oleh salah seorang panitia untuk menuju ke kamar dan meletakkan barang-barang pribadi kami terlebih dahulu.

Pendekar Gugurgunung (Mas Padmo & Andhika) di lokasi Silatnas Maiyah 2018

Kamar nomor 218, bersama dengan beberapa simpul maiyah lain seperti Maneges Qudroh, serta Waro’ Kaprawiran. Sambutan hangat di kamar tersebut semakin terasa, sebab memang beberapa disana sudah memiliki kedekatan baik secara personal maupun secara simpul.

Tak menunggu lama, segera kami bersama-sama turun untuk menuju ruang makan. Berbagai hidangan sudah tersedia di meja, dengan nasi hangat lengkap bersama sayur pecel dan lauk-pauknya. Di meja makan, kami bertemu dengan sedulur dari Jepara seperti Mas Kafi dan Mas Haris yang sudah tiba sejak semalam. Obrolan ringan saling terlontar meskipun kami sedang menyantap sarapan pagi itu.

Hampir pukul 08.00 WIB pagi, panggilan suara speaker dari dalam Aula G mulai terdengar. Segera kami kembali memasuki kamar untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti silatnas ini dengan konsep diskusi selama seharian penuh.

Buku tulis dan pena bertuliskan silatnas maiyah tak lupa kami bawa menuju Aula G dimana aula tersebut menjadi ruangan yang dipergunakan untuk berdiskusi dengan serangkaian bahasan. Mas Hari, seorang koordinator dari region timur, yang juga menjadi salah seorang moderator membagi tempat duduk berdasarkan region-region. Majlis Gugurgunung kali ini berdampingan dengan Maneges Qudroh, serta Kidung Syafa’at.

Pembahasan pagi itu dimulai dengan salah satunya pelaporan beberapa kegiatan simpul Maiyah seperti workshop region, terapi alternatif, juga digital media. Kemudian dilanjutkan pada pemaparan raport tiap-tiap simpul yang dibacakan oleh Mas Rizky (koordinator region tengah) dan Mas Fahmi (koordinator region barat). Hasil evaluasi di dalam raport kurang lebih berisi tentang publikasi (poster, mukadimmah, reportase, live tweet) dan arsip (foto, audio, dan video) yang telah dilaporkan dari masing-masing simpul pada koordinator setiap bulannya selama setahun 2018 (kecuali bulan Desember).

Baik tema, poster, mukadimmah, pertemuan, hingga reportase, foto dan live tweet selama simpul mengadakan diskusi menjadi sorotan utama dari koordinator.

Meskipun ada dua poin lagi yakni audio dan video, namun masih belum menjadi sorotan utama oleh koordinator. Sebab tidak semua simpul memiliki resource atau sumber daya entah itu dari petugasnya ataupun perlengkapannya yang kurang memadai.

Dua poin tersebut memang nampak terlihat masih berwarna merah (belum terpenuhi) bagi hampir semua simpul tak terkecuali bagi Majlis Gugurgunung. Hanya sebagian simpul besar saja seperti Kenduri Cinta (Jakarta), Bangbang Wetan (Surabaya) yang sudah berwarna hijau (sudah terpenuhi) semuanya serta beberapa simpul lain seperti Suluk Surakartan (Solo).

Pemaparan terkait raport berjalan hingga hampir tengah hari, meskipun sekitar pukul 10.00 WIB pagi diselingi coffee break.

Sedikit yang spesial pada silatnas kali ini ialah, diadakan di ruang ber-AC dengan meja dan kursi yang ditata melingkar dengan puasa merokok minimal hingga istirahat pada waktu makan. Memang terasa sedikit berat jika berdiskusi, ditemani kopi tanpa dapat menghisap rokok seperti kebiasaan umumnya di Maiyah. Namun hal ini mengingatkan tentang berpuasa merokok juga memberikan sedikit pembersihan yang baik untuk kesehatan, begitu kata panitia sambil disambut tawa dan senyum agak kecut dari sebagian peserta silatnas kali ini.

Suasana silatnas Maiyah 2018

Menjelang waktu istirahat makan siang pembahasan dilanjutkan pada penugasan dari koordinator simpul kepada masing-masing simpul untuk mengisi form yang berisi tentang; dari sekian nilai maiyah, apa langkah konkrit yang bisa diterapkan untuk setahun ke depan (bidang ekonomi, sosial, politik). Masing-masing simpul sambil memikirkannya dipersilahkan untuk istirahat makan siang, dan diberikan waktu untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.

Usai jeda waktu istirahat, seluruh peserta silatnas kembali diminta untuk merapat di Aula. Dengan agenda pembahasan kali itu ialah, pemaparan hasil rembugan dari masing-masing simpul tentang tugas yang diberikan sebelum waktu makan siang tadi.

Dari Majlis Gugurgunung sendiri menuliskan kurang lebih seperti berikut :

Ekonomi ; Mengembangkan sistem kerjasama antar keluarga maiyah dengan landasan dasar seperti yang disampaikan Mbah Nun ; bahwa laba ekonomi jangan sampai menyingkirkan laba kemanusiaan.

5 hal yang dipakai adalah prinsip rukun Islam.

  1. Komitmen
  2. Menegakkan waktu agar tetap tegak kemanusiaan
  3. Memahami proporsi dan pengendalian diri
  4. Membina hubungan sosial secara lebih tertata
  5. Mengaji dan terus mengkaji kehidupan

Andhika mengutarakan beberapa usulan dari Majlis Gugurgunung

Dalam hal di atas sekaligus urusan sosial sudah terengkuh sebagai bagian tak terpisahkan. Dan menjalankan di atas adalah politik menyempurnakan akhlak. Bahwa sesungguhnya daya tarik utama pihak lain terdorong untuk bergabung dan rela menjadi bagian untuk bahu-membahu adalah ketertarikan mereka kepada kemuliaan akhlak.

Meskipun sekian banyak masukan dari seluruh simpul, masih perlu dirembug oleh koordinator region untuk menarik garis besarnya dan dibuat dalam beberapa poin.

Diskusi terus bergulir hingga waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Di sela coffee break, koordinator region menyatakan bahwa berencana untuk membagi masing-masing simpul Maiyah yang memiliki kedekatan secara geografis, akan digabung untuk membentuk sub-sub region (Cluster). Dengan beberapa tujuan antara lain, mempermudah jalur komunikasi dari koordinator simpul untuk diteruskan informasinya pada simpul masing-masing, selain itu juga dirasa lebih efektif dan efisien bagi koordinator seluruh simpul maiyah yakni Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh (Mas Sabrang / Noe) untuk mengunjungi ke sub-sub regionnya, bukan ke seluruh simpul.

Kemudian masing-masing sub tadi diminta untuk berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil untuk membahas beberapa hal yang akan dilakukan bersama selama satu tahun ke depan yang terbagi tiap empat bulanan sekali.

Terdapat 7 simpul lain dalam cluster yang sama dengan Majlis Gugurgunung. Yakni Gambang Syafa’at Semarang, Kalijagan Demak, Semak Kudus, Majlis Alternatif Jepara, Kidung Syafa’at Salatiga, Tembang Pepadhang Kendal, beserta Majlis Gugurgunung Ungaran. Cluster ini dikoordinatori oleh Mas Yunan dari Gambang Syafa’at. Selain itu ketujuh simpul ini diberi usulan nama oleh Mas Agus Wibowo yakni, “PARADESA KEN SENGKUD”. Paradesa adalah wilayah yang di dalamnya berisi kemakmuran, ketentraman, kepatutan, kemurahan, dan kedamaian yang teramat sangat. Ken : seyogyanya, dipinta, dianjurkan, disuruh. Sengkud : Segera, Srempeng, Sregep, cekat-ceket, cekatan. Maka arti “PARADESA KEN SENGKUD” adalah : Bahwa upaya menuju satu wilayah yang bernaungkan kemakmuran, ketentraman, kepatutan, kemurahan, dan kedamaian di dalamnya seyogyanya segera dilaksanakan dengan srempeng dan cekatan.

Cluster “PARADESA KEN SENGKUD”

Usai makan sore yakni kisaran ba’da maghrib, sekian cluster diminta memaparkan rencana kegiatannya. Dan Mas Kafi dipilih untuk memaparkan, mewakili cluster ini.

Mas Sabrang selaku koordinator simpul Maiyah, memberikan beberapa uraian terkait kegiatan-kegiatan simpul. Bahwasannya kita disini semua berkumpul dengan rasa bungah atau bahagia sudah mengandung kemanfaatan. Namun selain manfaat juga diperlukan untuk tumbuh lebih lebar, lebih dalam dst. Maka tidak perlu kita membuat parameter-parameter tentang kemanfaatan.

Masih banyak guliran pertanyaan terkait mengapa Maiyah tidak dijadikan partai atau ormas apalagi timses, memang yang dicoba oleh Mbah Nun ialah hipotesis yang berbeda. Hipotesis yang saat ini diterapkan tidak menjawab persoalan, maka disini Mbah Nun memiliki hipotesis baru untuk menjawab persoalan.

Ada konsep yang berbeda antara “hukum Tuhan” dengan hukum manusia. Dalam hukum manusia, diciptakan oleh manusia, semuanya harus mentaatinya kemudian ada penegak hukumnya disana, kita mematuhinya tanpa ada kesempatan untuk tidak patuh. Tidak bisa tiba-tiba seorang pencuri tidak kita masukkan penjara. Di Maiyah tidak bisa dilakukan, maka mencoba hukum yang lain yakni “hukum Tuhan”. Ketika berhadapan dengan hukum, maka sebagian manusia akan menyerahkan sebagian kebebasannya untuk patuh terhadap hukum tersebut. Maka kita bersyahadat, menyerahkan sedikit kebebasan pada yang namanya kepercayaan. Perbedaan yang signifikan dengan ialah orang-orang menyatakan diri untuk memasuki “hukum Tuhan” sedangkan hukum manusia memaksa orang-orang untuk memasukinya.

Di Maiyah tidak ada peraturan, tidak ada kewajiban, tidak ada pengawasnya pula. Tetapi maukah kita memasuki sebuah kebudayaan untuk hipotesis yang baru? Mungkin efeknya tidak akan serapi Undang-undang, tetapi hipotesisnya lebih mendalam untuk digunakan pada manusia. Yang lebih didorong di Maiyah ialah, kemauan seorang manusia untuk memasuki sistem di dalam dirinya sendiri. Maka metodenya ialah dengan mencontoh, learning by modelling bukan semata dengan aturan belaka. Kita pernah mendengar Jannatul Maiyah, Kebun Maiyah. Yang sedang kita bangun untuk dicontoh ialah cuacanya. Hal ini lebih cocok dengan nilai-nilai tanpa meninggalkan pokok utamanya yakni kebersamaan.

Perang singkat membutuhkan taktik, peralatan, dll. Namun untuk menuju perang panjang, kita membutuhkan sesuatu yang disebut “nilai”. Dimana setiap simpul memiliki interpretasinya sendiri-sendiri. Dapat kita contoh palang merah ketika sedang dalam berperang, harusnya menolong siapapun yang terluka dan membutuhkan bantuan meskipun itu adalah musuh. Terlihat tidak masuk akal, namun ada nilai yang terus menjadi pegangannya yakni nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada peperangan itu sendiri.

 

Thoriqot maiyah

Ada salah seorang peserta silatnas yang menganalisis bahwa mungkin ada kemunduran yang sedang terjadi di Maiyah tiap tahunnya. Namun direspon oleh Mas Sabrang bahwa Mbah Nun ketika memulai di Padhang mBulan juga jangan kita lupakan pasang surutnya. Awal-awal hanya 10-15 orang hingga pernah mencapai 25.000 orang ketika diadakan di lapangan. Lalu dipindah dalam rumah, menjadi sedikit lagi 10an orang. Mbah Nun pernah mengatakan, bukan tentang jumlah yang banyak atau sedikit, tetapi istiqomah atau tidak dalam melakukannya. Thoriqot Maiyah adalah thoriqot istiqomah. Keistiqomahan yang bisa kita contoh dari beliau Mbah Nun ialah, keistiqomahannya dalam melakoni Padhang mBulan. Dari dulu jaman belum ada media digital hingga sekarang merebak luas. Kelakar Mbah Nun yang diceritakan Mas Sabrang, bahwa youtube diciptakan untuk Mbah Nun. Sebab sudah berbagai macam cara ditempuh untuk talak dari media massa dan pertelevisian Indonesia, malah ada youtube dengan segala macam “sop buntutnya”. Namun dengan demikian aroma Maiyah semakin tersebar dimana-mana. Banyak jama’ah yang datang bermaiyah namun sekedar untuk mencari tokohnya. Padahal mana yang lebih penting, antara tokohnya ataukah nilai-nilai yang dibawanya? Tetapi tidak apa, sebab setiap orang ada prosesnya dan tidak boleh kita halangi. Kemauan untuk belajar harus kita jaga bahkan harus kita galakkan.

 

Pergerakan Maiyah

Banyak pula diluar sana yang mempertanyakan, mengapa maiyah tidak membikin pergerakan atau movement? Mau dibawa kemanakah ini Maiyah, orang sudah berkumpul sebanyak ini, lalu apa yang akan dilakukan? Direspon oleh Mas Sabrang bahwa hingga empat kali dilakukan silatnas ini dalam rangka perlunya menjaga soliditas. Kita berusaha berbentuk cair, tapi perlu juga menjaga soliditas. Jangan sampai Maiyah gampang di catut oleh calon bupati, bahkan calon presiden sekalipun. Sebab demikian dengan mudahnya orang yang tidak tahu seluk-beluk Maiyah, namun menunggangi Maiyah untuk kepentingan pribadi ataupun golongannya sendiri. Seperti kedua kontestan untuk 2019, salah satunya sudah datang ke kadipiro. Dan hampir dapat dipastikan kontestan satunya juga akan merapat ke kadipiro.

Mungkin bagi kita hal tersebut tidak begitu penting. Namun sangat berbahaya ketika kita tidak membangun pagar-pagarnya terlebih dahulu. Kita tidak mungkin tidak mengambil posisi, dan kita tidak mungkin mengambil posisi di kontestan 1 atau kontestan 2. Jika kita tidak mengambil posisi, maka kita akan diseret-seret terus. Maka kita perlu mengambil satu posisi yang jelas dan seragam. Posisi akurat bagi Maiyah yang bisa kita ambil dalam skala nasional ialah, “jika ada dua tetangga kita sedang ribut mungkinkah kita tidak mendamaikan?”.

 

Dokumentasi simpul

Bagi Mas Sabrang, dengan sekian data yang dikumpulkan oleh ketiga koordinator region bukan semata iseng atau kesenangan. Mbah Nun pernah memiliki penyesalan terbesar yakni tidak pernah mendokumentasikan hidupnya. 52 buku yang tertulis, tidak termasuk puisi-puisinya yang hilang, sekian ribu kali kegiatan dengan Kiai Kanjeng masih belum menggambarkan dokumentasi lengkap perjalanan Mbah Nun. Sangat disayangkan meskipun hal tersebut bukan untuk semakin meninggikan Mbah Nun namun itu akan menjadi torehan sejarah. Termasuk sekian banyaknya kegiatan simpul Maiyah, amat sangat disayangkan ketika tidak didokumentasikan. Sebab hal tersebut bisa menginspirasi anak cucu. Sekalipun gagal, tetap bisa dicontoh yang bisa dipelajari oleh anak turun tentang arti perjuangan. Kiranya perlu kita berlatih mendokumentasikan setiap catatan simpul minimal selama satu tahun. “Dokumentasi ini bukan kewajiban kita, namun hak anak cucu”.

Bebas jika kita memilih menjadi seperti sunan atau wali yang bersembunyi di dalam keramaian, namun merupakan hak anak cucu untuk mengetahui bahwa Indonesia tidak kehilangan orang-orang yang mau untuk berbuat.

Selama setahun, Mas Sabrang menahan diri untuk banyak tidak melakukan sesuatu, sebab proses yang dijalani ialah bersama berlatih menulis. Jika kita ingin melangkah maka paling tidak kita bisa mendokumentasikannya. Alih-alih dibuat raport untuk tiap simpul, namun bukan dibilang prestasi juga, sebab hasilnya tidak dipergunakan untuk apa-apa kecuali untuk kita sendiri.

Kerja keras kalah dengan kerja pintar, kerja pintar masih kalah dengan kerja keras dan pintar, namun ini masih kalah lagi dengan kerja keras, kerja pintar tapi efisien, baiknya bekerja keras, pintar dengan efisien namun masih bisa dikalahkan pula dengan yang memiliki inovasi. Namun Maiyah ini terbalik, ini adalah inovasi tetapi belum berlatih bekerja keras, pintar juga efisien.

Menurut Mas Sabrang, tentang dokumentasi simpul baiknya tidak diserahkan pada generasi tua, alangkah baiknya jika generasi yang muda, yang setiap hari twitteran, setiap saat bermain instagram. Tidak harus langsung melangkah besar, langkah kecil-kecil tidak masalah seperti setahun kedepan kita pergunakan untuk belajar dokumentasi. Setahun berikutnya nanti apalagi dan seterusnya.

Semoga kita masih terikat dalam thoriqot istiqomah, thoriqot gotong royong, serta kejujuran untuk kebahagiaan bersama.

 

Kebenaran

Ada 16 bit warna dalam komputer, dengan jumlah pewarnanya 65 ribuan. Tetapi kosakata yang kita mampu gapai tidak sampai sedemikian banyaknya. Contohnya Demokrat dan Nasdem sama-sama biru tapi berbeda. PKB dan PPP sama-sama hijau tapi berbeda hijaunya. Jangan sampai menyerahkan kedaulatan pengartian pada orang lain. Tidak ada kesalahan pengartian, hanya saja pemahaman semakin berkembang. Misal ada tiga orang berdebat, bukan kita cari siapa yang benar dari 3 orang tersebut namun semuanya mengandung kebenaran, maka cari konsep baru yang bisa menampung ketiganya.

Salah satu kegerahan kita ialah ketidaktahanan kita memasang kuda-kuda di tempat licin. Benar salah bukan pada “hal”nya tetapi pada bias dirinya. Maka banyak orang malah mencari mana yang benar dan mana yang salah. Kita bergerak pada kebenaran yang terus berkembang, bukan karena kebenaran yang berubah tetapi pemahaman dan sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang kita akan kebenaran lah yang berubah. Ketika berpijak pada benar dan salah, padahal kita sangat tahu bahwa apapun bisa dibenarkan, apapun bisa disalahkan.

 

Manusia Ruang

Presiden, gubernur, bupati dll. semua itu adalah perabot. Perabot akan menurut pada ruangan. Ruangnya lonjong maka perabot lonjong yang bisa masuk, begitupun ruangan kotak, serta ruangan luas dan sempit. Yang sesungguhnya mengatur adalah Manusia Ruang, bukan Manusia Perabot. Meskipun yang terlihat, yang memiliki pangkat adalah manusia perabot.

Semar itu bukan presiden, bukan ksatria, bukan pemimpin. Tetapi siapapun akan datang ke Semar jika punya masalah.

 

Spiritualitas

Ruh, nyawa termasuk dalam spiritualitas. Spiritualitas berarti adalah sesuatu yang tidak bisa kita maknai secara real dengan indra. Berarti segala pembicaraan pendengaran tentang spiritualitas, sama sekali tidak menyentuh makna spiritualitas yang sesungguhnya.

 

Kegiatan diskusi berisi pemaparan masing-masing cluster terus berjalan hingga kisaran pukul 23.00 WIB. Kemudian acara hari itu ditutup dengan makan malam dengan menu Nasi Rawon. Di samping ruang sekretariat, disediakan terapi alternatif dengan menggunakan media telur ayam kampung. Tak ketinggalan bagi kami untuk mencobanya. Dengan gerakan yang nampak sederhana di ujung jari kaki, mampu memunculkan rasa sakit bagi semua yang mencobanya. Meskipun setelah proses terapi selesai, tubuh menjadi lumayan segar untuk mengantar tidur.

Mas Padmo mencoba terapi alternatif dengan menggunakan media telur ayam

Minggu pagi kegiatan dimulai lagi dengan pembacaan putusan dari koordinator region yakni Mas Hari, Mas Fahmi dan Mas Rizky yang juga disahkan oleh Mas Sabrang sebagai koordinator seluruh simpul. Terdapat sembilan poin yang akan diedarkan untuk seluruh simpul, dimana ini menjadi salah satu langkah kecil untuk melangkah jauh ke depan. Memang mungkin terasa berat, namun begitu bahwa “Dapur memang tidak seindah makanan prasmanan”. Bahwa panggilan setiap orang berbeda-beda, tidak semua orang bisa diajak berpuasa, tidak semua orang mau menderita, dan tidak semua orang mau untuk diajak menempuh perjalanan panjang. Sampai nanti sampai mati.

Silatnas 2018 ditutup dengan doa bersama, sholawat, lalu berfoto bersama dan bersalam-salaman. Sekian reportase kali ini, meskipun banyak kekurangan dari segi bahan pembahasan pada saat berdiskusi namun semoga tetap bermanfaat.

 

Andhika