Posted in reportase.


Bulan Desember senantiasa menjadi bulan penutup dalam satu tahun. Bertepatan dengan Tancep Kayon, yang digelar oleh Majlis Gugurgunung dimana menjadi penutup dalam kegiatan satu tahun. Tancep kayon menjadi momentum untuk mengevaluasi langkah serta memutuskan apakah pada tahun depan perlu dimulai lagi (bedol kayon) atau justru harus cukup berhenti sampai disini. Salah satu indikatornya ialah, dari segi kemanfaatan kehadiran Majlis Gugurgunung baik untuk dulur-dulur Gugurgunung sendiri, sedulur Maiyah lainnya serta masyarakat sekitar.

Pada 29 Desember 2018 kegiatan Tancep Kayon yang bersifat “sakral” tersebut digelar. Bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang. Semenjak siang harinya, aktivitas di Balai Desa Klepu sudah dimulai. Segala persiapan dikoordinir sangat apik oleh Mas Jion dan Mas Patmo yang didukung pula oleh beberapa sedulur yang lain. Mulai dari pengecekan sound system, penataan cahaya lampu, pemasangan backdrop, penempatan meja-meja untuk pameran produk dari dulur-dulur Gugurgunung hingga nggelar kloso, semua dilakukan dengan cara nggugur gunung. Lilo lan legowo menjadi bekal utama untuk melakukan segala persiapan.

Perjalanan menuju makam Pepundhen wilayah setempat. Makam Mbah Benowo dan Mbah Basyarudin.

Sore harinya, yang sudah menjadi tradisi sebelum digelar Tancep Kayon. Mas Agus mengajak beberapa sedulur untuk menziarahi makam Pepundhen wilayah setempat. Makam Mbah Benowo dan Mbah Basyarudin yang berlokasi tidak begitu jauh dari Balai Desa Klepu tersebut. Sesampai di makam, beberapa sedulur langsung berinisiatif untuk menyapu lokasi makam dengan sapu yang telah tersedia di pojokan makam. Sementara yang lain nampak menata tikar yang sedikit berantakan. Usai bersih-bersih makam, semua langsung duduk melingkar di sekitar makam sambil mempersiapkan diri. Mas Agus mengawali dengan membuka beberapa kalimat. Bahwa hal yang sudah kita tradisikan ini menjaga kita untuk senantiasa mengingatkan diri pada leluhur. Dimana leluhur bukan hanya diartikan orang yang sudah lama meninggal, namun seorang yang semasa hidupnya menjalankan titah keluhuran yang bisa kita adopsi untuk menjalankan kehidupan dimana kita pun juga merupakan calon leluhur. Sehingga bukan semata makam secara jasadiah saja namun lebih kita lihat kepada maqomnya.

Mas Tyo diminta untuk memimpin doa, yakni pembacaan Kloso Tancep Kayon yang kurang lebih berisi Sholawat, Al Fatihah untuk para leluhur, para Nabi hingga Nabi Muhammad SAW, untuk seluruh manusia, serta diri sendiri bahkan hingga anak turun kelak.

Kisaran satu jam prosesi ziarah pun selesai. Sebagian langsung menuju lokasi Balai Desa sementara yang lain menuju kediaman Mas Agus untuk mengambil jajanan serta teh dan kopi untuk disuguhkan pada saat kegiatan Tancep Kayon.

Pembacaan Kloso Tancep Kayon yang kurang lebih berisi Sholawat, Al Fatihah untuk para leluhur, para Nabi hingga Nabi Muhammad SAW, untuk seluruh manusia, serta diri sendiri bahkan hingga anak turun kelak yang dipimpin oleh Mas Tyo

Ba’da Maghrib satu persatu sedulur mulai berdatangan. Baik yang datang dari dekat maupun dari jauh semua memberi kebahagiaan tersendiri untuk menghapus rasa lelah selama persiapan semenjak siang.

Beberapa yang hadir seperti Mas Aniq yang datang dari Pati bersama putranya, kemudian Mas Yudi Rohmad yang bersama Mas Arif dari Malang yang turut membantu membawakan Nasi Tumpeng dari rumah Mas Agus, kemudian Wakijo lan sedulur yang hadir lengkap bersama alat musiknya, dan masih banyak lagi, tidak memungkinkan untuk ditulis satu persatu.

Ba’da Isya acara sudah siap untuk dimulai. Dari ruang depan nampak meja-meja panjang di sebelah kanan dan kiri sebelum pintu masuk. Yang diatasnya tersuguhkan kopi, teh yang masih mengepul hangat serta air minum TirtaRO, berdampingan pula dengan jajanan-jajanan pasar yang tertata cantik di atas nampan. Tak lupa di meja sebelah kiri, terpampang pula kalender 2019 dari Majlis Gugurgunung dengan kotak kardus berlubang kecil dan bertuliskan “Harga Kalender Sukarela”, serta warna-warni brosur yang merupakan produk-produk dari sedulur Majlis Gugurgunung sendiri. Seperti 10 eksemplar Buku Desa Purwa dari Mas Agus, stiker Warung Penyet Kirana dari Mas Kasno, Zamatera Terapi Tulang belakang oleh Mas Zain, Buku Wijaya Kusuma oleh Mas Yudi Rohmad, SemIT jasa pembuatan web oleh Mas Anjar, dan tak mau ketinggalan Setyaki Farm peternakan ayam kampung organik dari Mas Dian dan Dhika, dan masih satu lagi yakni Beras Organik dari sedulur Kampus Sawah Jepara yang masih dalam perjalanan.

Dari ruang depan nampak meja-meja panjang di sebelah kanan dan kiri sebelum pintu masuk yang menyambut hangat dulur-dulur yang datang

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Mas Jion selaku moderator membuka acara pada malam hari ini dengan agenda pertama ialah pembacaan Kloso Tancep Kayon yang dipimpin oleh Mas Ari. Dilanjutkan dengan pembacaan Munajat Maiyah oleh Mas Tyo. Semua nampak khidmat mengikuti jalannya acara.

Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimmah malam hari ini oleh Mas Arif yang jauh-jauh datang dari Ponorogo.

Usai pembacaan mukadimmah, Mas Jion meminta pembacaan 3x Al Fatihah khusus untuk Bapak dari Mas Bayu Jogja yang sedang sakit, Mas Kasno beserta Istri yang sedang menunggu waktu kelahiran anaknya, serta Mas Dian di Nusa Tenggara Timur yang malam hari ini kesemuanya tidak bisa hadir sebab memenuhi peran dan tugasnya di wilayah masing-masing.

Nomor pertama dari Wakijo lan sedulur direquest oleh Mas Arif yakni “Mencari Kehadiran” yang merupakan lagu single terbarunya. Sementara untuk album baru direncanakan untuk diproduksi.

“Mencari Kehadiran” menjadi nomor pertama yang dibawakan oleh Wakijo lan sedulur

Kemudian Mas Agus diminta oleh Mas Jion untuk melontarkan beberapa prolog untuk mengawali diskusi. Bahwa kita semua disini hadir berkumpul dalam rangka menggembirai rasa berkeluarga, terima kasih dihaturkan secara khusus dari Mas Agus kepada Wakijo yang bersedia untuk menambah gebyar pada malam hari ini. Juga Mas Aniq yang jauh-jauh datang dari Pati dengan mengajak putranya, pada Mas Budi (panggilan dari Mas Agus) yang baru saja pulang dari Salatiga langsung dijemput oleh Mas Didit, serta dulur-dulur Jepara yang hadir dalam jumlah 3 mobil.

Prolog dari Mas Agus untuk mengawali diskusi malam ini

Tancep Kayon, sesungguhnya bisa diperistiwai menjadi sedih, namun juga peristiwa yang menggembirakan. Mengapa bisa diperistiwai secara sedih, sebab landasan utama menjalani Tancep Kayon sebenarnya bukan dalam rangka merayakan apapun, tetapi justru mengevaluasi diri, apakah kegiatan Majlis Gugurgunung selama setahun akan dilanjutkan atau tidak. Menilik pada apa yang sudah mampu diimplementasikan atau minimal ada atau tidak pertumbuhan. Apakah dengan adanya Majlis Gugurgunung mampu mempererat persaudaraan, atau malah justru terjadi perselisihan, baper-baperan, dll. Apakah kita mampu menikmati persaudaraan atau justru mencederai persaudaraan.

Jika yang pertama yang terjadi maka Majlis Gugurgunung akan “Bedol Kayon”. Namun jika yang terjadi adalah yang kedua, maka edisi ini adalah yang terakhir dan tidak akan ada lagi untuk setahun ke depan.

Tema Kasantikan telah dipilih pasca Tancep kayon tahun lalu (2017). Sedikit mengulas tentang Kasantikan, yang berasal dari kata dasar santika. Yang kemudian memecah menjadi dua kata yakni cantik dan sakti. Kecantikan ada yang natural ada pula yang buatan (ditambal, menutupi wajah aslinya). Masing-masing dari kita pernah mengalami masa paling cantik, proses itu terjadi ketika fitroh kita masih besar yakni era saat kita baru dilahirkan sehingga semua orang serasa ingin mendekat serta bersentuhan langsung dengan kita.

Seiring dengan perkembangan waktu, fitroh sebenarnya masih ada tetapi semakin lama semakin tertutup seiring dengan peningkatan akal kita. Akal yang sebenarnya diformat sebagai sarana untuk mendekat kepada Tuhan justru malah menjadi warana (hijab atau pembatas) yang menyelimuti fitrah.

Kecantikan baiknya bukan hanya sekedar fisik namun juga cantik yang bisa membawa kebaikan, mengisnpirasi terhadap sekitarnya dimana hanya akan terjadi ketika akalnya dalam kondisi yang baik pula. Bayi, meskipun fitrahnya besar namun karena akalnya yang belum teruji maka belum bisa disebut bermanfaat bagi yang lain, meski demikian keberadannya menyalurkan rasa cinta.

Akal atau aqil baligh terjadi ketika sudah menginjak dewasa harus tetap dengan tidak kehilangan ageman atau gegeman. Sebab hal tersebut akan menghindarkan penguasaan akal terhadap diri kita yang justru membuat kita seakan mampu menguasai dunia seperti merasa terbaik, terpandai, terkaya, tercantik dll.

Dalam sekian proses perjalanan pasti suatu saat akan bertemu dengan fenomena terpeleset, tergelincir, jatuh, dll. Seperti halnya perjalanan akal menuju aqil baligh yang justru membuatnya menjadi semakin mahir dan matang dalam pengendalian.

Kemudian Mas Jion mempersilahkan kepada beberapa narasumber seperti Mas Yudi Rohmad dan Mas Kafi untuk duduk di depan bergabung dengan narasumber lainnya.

Mas Aniq merespon tema malam ini

Kemudian Mas Aniq dipersilahkan untuk menambahkan pula tentang kasantikan. Santika diartikannya ketentraman dalam berpikir. Cara menentramkan pikiran, yang kemudian menjadi tolok ukur bersama apakah diri kita ini seorang manusia atau tidak. Dengan konsep berpikir yang agak realistis bahwa agama merupakan konsep penyekatan terhadap realitas Tuhan. Kata fa’alam menunjukkan bahwa kita harus kembali sakiniyah. Untuk kembali menuju pada lailahailallah harus dicari sungguh-sungguh. Fa’alam juga merupakan proses untuk mencari kehadiran yang ilmiah. Ilmiah bukan hanya kesepakatan dari kampus atau instansi pendidikan saat ini. Ilmiah ialah mengetahui sesuatu dengan apa adanya. Misalkan keilmiahan pohon. Maka berasal dari akarnya, akarnya berasal dari biji yang memecah bukan dikarenakan konflik namun karena kerahmatan.

Mas Aniq mencoba untuk mengkaji tentang teori big bang yakni ledakan besar. Mengapa disebut big bang atau ledakan yang mana ledakan biasanya berakhir pada ketidak beraturan. Didalam Al Qur’an tidak disebut sebagai ledakan namun semacam pembelahan. Disebutkan dalam Al Qur’an dimana langit dan bumi dulu merupakan satu kesatuan yang lalu dipecah.

Konsep rahmaniyah ini yang perlu kita tegakkan. Allah tidak pernah menyediakan untuk manusia tentang segala hal yang bersifat konflik. Perlu kita pahami tentang setiap hal dari Allah bukan atas dasar konflik namun atas dasar cinta.

Esensi Tuhan secara dzat tentu tidak mampu kita jangkau dalam pikiran. Dari esensi kita mengenal substansi yang kemudian diturunkan lagi menjadi eksistensi. Berikutnya menjadi fungsi.

Dalam keilmiahan pohon mampu kita lihat eksistensi bijinya yang kemudian menjadi akar hingga berbuah. Bahkan dalam Jawa disebut buah=woh, awoh. Betapa leluhur mampu memahami konsep sedemikian ilmiah untuk mengenali esensi dari Tuhan dalam konsep rohmaniyah.

Ibnu Araby mengupas tuntas bagaimana sejatinya mengenal Tuhan. Dalam sebuah hadist qudsy Tuhan mengatakan bahwa dirinya ialah gudang yang tersembunyi/samar-samar, maka aku perlu dikenali. Dengan cara mengenali ciptaan-ciptaanNya, tajaliNya, atau ejawantahNya. Sedangkan jika secara dzat memikirkan keberadaan Allah maka akan semakin keliru.

Beruntunglah kita dipertemukan dengan ulama-ulama yang mampu memahami realitas-realitas. Seorang yang alim menekuni tanaman maka dia akan menjadi ahli tanaman (alim tanaman) dlsb. Seorang alim ulama ialah seorang yang mampu memanifestasikan dirinya dalam melakukan kegiatan secara tekun, istiqomah dan mendalami realitas-realitas Tuhan. Segala hal yang ditemui sehari-hari di cek kembali pada Al Qur’an, sehingga bukan hanya Al Qur’an dan dalil saja. Pasangkan apa yang kita temui sehari-hari dengan Al Qur’an sebab Allah SWT tidak akan merubah nikmat atau rahmat yang diberikan kepada manusia.

Suatu hadist mengatakan bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau merubahnya. Pengertian umum ialah, jika kita tidak mau untuk berusaha atau bekerja maka nasib kita tidak akan berubah. Namun dalam beberapa tafsir dikatakan demikian, bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah merubah suatu rahmat yang telah diberikan pada manusia, sehingga mereka sendiri yang mengubahnya. Semua yang terhampar ialah rahmat, sehingga dirusak oleh manusia itu sendiri dan berkemungkinan dari rahmat menjadi laknat. Sebab Allah SWT menciptakan sesuatu senantiasa dengan cinta. Kehadiran.

Ketentraman berpikir didapat melalui hadroh rohmaniyah, atau hadroh ilahiyyah. Cinta ada karena kehadiran. Leluhur, alam selalu kita sebut-sebut saat berwasilah. Sebab ke semuanya mengandung hadroh. Hadroh (kehadiran) melahirkan hadloroh (peradaban). Seperti Mas Yud yang menekuni wijaya kusuma, Mas Kaffi menekuni beras organik. Dengan demikian kita bisa merasakan kehadiran wijaya kusuma dan beras organik tersebut. Bahkan sebuah tradisi di dalam pesantren yakni sebelum membaca sebuah kitab atau buku maka kirimlah Al Fatihah terlebih dahulu, agar kehadiran ilmu yang kita dapatkan barokah, penulisnya pun barokah. Al Fatihah ini memegang peranan penting dalam proses ketentraman hati atau santika atau kasantikan.

Di dalam Al Qur’an disebutkan paling tidak ada dua penyakit yang tidak bisa dihindari. Al Baqarah pada pembuka disebutkan “..roy…” yakni mamang atau ragu-ragu. Di akhir surat ada Annas disebutkan waswas. Maka bisa kita coba dengan hadroh rohmaniyah untuk senantiasa menghindarkan diri dari keragu-raguan serta perasaan was-was.

Kemantapan Mas Aniq dalam bidang ilmunya diimbangi dengan lantunan musik dari Wakijo lan sedulur. Satu nomor tersebut yakni “Keseimbangan”.

Mas Kafi menceritakan kisah serta pengalamannya menekuni sawah (beras organik)

Mas Kafi kemudian mendapat giliran untuk menghadirkan Kampus Sawah, dengan kisah serta pengalamannya menekuni sawah (beras organik). Diawali dengan Mas Kafi yang masih jelas mengingat kesan pertama bertemu dengan Om Budi. Ketika itu Om Budi membawakan Cerpen tentang sawah yang mendapat serangan tikus. Pembawaan yang apik sangat membantu Mas Kafi dalam mengingat alur, serta pesan yang disampaikan dalam cerpen tersebut.

Mas Kafi menyampaikan bahwa sampel produk yang dibawa ini merupakan sampel dari sebuah peradaban. Dimana setiap peradaban pasti membutuhkan pangan sebagai peran utamanya. Sedangkan tentang Kampus Sawah sendiri tidak diceritakan panjang lebar oleh Mas Kafi. Bukannya tidak ingin berbagi namun justru mengajak sedulur-sedulur untuk hadir di dalam Kampus Sawah. Amati, rasakan serta kenali sendiri tentang Kampus Sawah tersebut.

Masih bersambung dengan tanam menanam. Mas Yudi Rohmad, seorang alim pada Wijaya Kusuma, diminta oleh Mas Jion selaku moderator untuk membagikan beberapa informasi pula. Mas Yud kemudian memaparkan tentang metode penyampaian. Penyampaian sesuatu membutuhkan media. Selayaknya kita menyuguhkan teh atau kopi, maka bukan hanya teh dan kopi yang kita suguhkan. Gelas ataupun cangkir menjadi media penyampaian teh dan kopi untuk kita suguhkan. Dari sekian banyak nilai Maiyah yang kita peroleh, bagaimana caranya membagi namun dengan wadah yang mengasyikkan. Di sekian forum Wijaya Kusuma, meskipun beragam agama hadir di dalamnya namun bagaimana kita sampaikan pesan agar tidak bersinggungan namun justru bahagia bersama. Seperti halnya seorang gitaris dengan enam senarnya. Bukan semakin hebat maka senarnya menjadi semakin banyak, namun bagaimana tetap dengan enam senar namun mampu menciptakan irama yang tidak terbatas. Senar tersebut sama dengan rejeki, begitu pula ilmu.

Mas Yud memaparkan tentang metode penyampaian

Tentang tanaman, Mas Yud memiliki angan. Imajinasinya yang mempertanyakan bagaimana jika Kanjeng Nabi hidup di Jawa. Di tanah Arab yang sangat jarang hidup tumbuhan pun bisa dimaknai dengan sangat hebatnya.

Salah satunya ketika dihubungkan membaca Al Qur’an dengan mengamalkannya. Kanjeng Nabi memberi empat jenis analogi. Pertama utrujah, kedua tamroh, ketiga roihanah, keempat hanzholah. Buah pertama dan kedua termasuk golongan mukmin, buah ketiga keempat termasuk golongan munafik.

Buah pertama, ialah buah yang baunya enak rasanya pun nikmat disimbolkan pada orang yang membaca serta mengamalkan Al Qur’an. Bau disini disimbolkan ilmu, rasa disimbolkan kelakuan, amal dan perbuatan.

Buah kedua, tidak berbau tapi rasanya enak seperti kurma. Tidak pandai membaca Al Qur’an tapi ngelakoni nilai-nilai di dalamnya. Biasanya pembawaan orangnya menyenangkan, serta kehadirannya senantiasa menjadi penyeimbang. Meskipun bukan dengan dalil namun ucap dan lakunya jelas-jelas Qur’ani.

Buah ketiga, yakni buah yang baunya enak namun rasanya tidak enak atau hambar. Yakni yang membaca Al Qur’an tapi tidak ngelakoni. Tampilan sangat Qur’ani namun kelakuannya tidak mencerminkan nilai-nilai di dalamnya.

Buah keempat, buah yang bau dan rasanya tidak enak.

Dari empat buah tersebut dimaknai dengan sangat dalam. Sementara di Jawa terdapat ragam buah yang lebih melimpah. Mungkin bukan hanya dimaknai dari bau dan rasa, bisa juga dari rupanya yang kurang menyenangkan. Buah yang nampak segar dan merah seperti lombok, jauh berbeda dengan salak yang pohonnya berduri, kulit buah bersisik juga warnanya yang kurang menarik. Secara sepintas bisa jadi lombok yang dianggap sebagai buah yang enak dan manis, nyatanya justru Salak yang enak dan manis.

Ketika hampir tiba giliran Om Budi memberi pemaparan. Mas Wakijo direquest untuk menembangkan “Tuhan Maha Baik”, sebab lagu ini ditulis oleh Om Budi. Lirik yang liar namun sarat makna. Seperti lagu yang dulu pernah ditulis yakni “Api Yang Bertasbih”.

Om Budi memaparkan tentang perputaran rahmat

Om Budi, sosok pria penuh pengalaman hidup, penulis piawai yang berambut gondrong dengan sedikit warnanya yang putih namun disebutnya bleaching bak artis kekinian, dan bukan uban jelasnya sambil tertawa. Sosok yang senantiasa hadir dengan kisah dan cerita yang selalu tak jemu untuk disimak.

Pada malam hari ini Kampus Sawah membawa dua kantong plastik beras organik untuk sample produk. Satu diantaranya dibeli oleh Om Budi. Ketika pulang nanti akan dikatakannya pada istrinya, bahwa ini bukan beras namun “Peradaban”. Tapi ini lebih bekisar tentang pelayanan yang ditukar dengan kelebihan uang seseorang. Inilah yang biasa disebut perputaran rahmat.

Di rumah, Om Budi memiliki toko. Notabene toko tersebut berada di dalam perumahan yang cenderung sepi, apalagi ketika portal perumahan ditutup. Hanya anak-anak kecil yang kerap membeli permen juga dengan sangu segudang pertanyaan nyelenehnya. Seperti “Pak Budi kok bisa tua?”, dijawabnya bukan tua tapi evolutif yang mana justru menambah jumlah pertanyaan bagi si anak. Jumlah keuntungan yang tidak begitu besar dengan menjuali si anak dua permen seharga limaratusan. Bila sekejap dipandang memang tidak sebanding dengan prosesnya, seperti cara membangunkan ketika Om Budi ketiduran, segudang pertanyaan nyeleneh ataupun pertanyaan tentang harga-harga produk yang dijual oleh Om Budi. Namun inilah pelayanan dalam perputaran rahmat tadi. Dimana tidak mungkin kita mengecewakan pelanggan yang “membutuhkan” permen meskipun sekedar limaratusan. Memuaskan pelanggan lebih penting baginya daripada sekedar keuntungan materiil. Juga orang yang bannya bocor dijalan, ini tidak disebutnya musibah. Namun penyalur rejeki pada orang tambal ban.

Om Budi sangat setuju pada Mas Agus yang menyebut kasantikan ialah cantik dan sakti yang mempersyaratkan fitrah di dalamnya. Fitrah terbesar dibawa oleh bayi atau anak kecil. Dimana kita serasa ingin mendekati tanpa merasa terancam.

Pernah dikatakan bahwa kita mendekat dengan Tuhan berjalan maka dia akan berlari mendekati kita. Tuhan pun mengatakan bahwa lebih dekat dibanding urat nadi kita sendiri. Namun mengapa Tuhan seakan menyuruh kita untuk mendekat dengan berjalan atau berlari.

Tuhan itu dekat, namun kita sendiri yang kerap menjauhinya. Maka yang kita lakukan mestinya bukan mendekat namun mempertahankan kedekatan. Orang yang paling beruntung ialah orang yang beriman. Penjual beras yang tidak laku tidak akan pernah merasa rugi sepanjang percaya ketidak lakuannya karena Allah SWT. Orang yang beruntung bukan yang mendapat hadiah besar, namun cukup menjadi orang yang beriman. Miskin beriman ya beruntung, kaya beriman ya beruntung.

Setelah pemaparan dari beberapa pihak telah lengkap, berikutnya para hadirin dipersilakan untuk ikut berkontribusi dengan respon, sanggahan, pertanyaan dan lain-lain pada sesi tanya-jawab. Sesi ini berlangsung penuh dengan kegembiraan dan menambah tajam cakrawala ilmu yang tadi sudah dipaparkan.

Antusiasme dulur-dulur yang hadir dalammerespon tema malam ini

Lewat tengah malam, kisaran pukul 00.30 WIB. Hampir tiba waktu penutup pada malam Tancep Kayon ini. Namun sebelum ditutup, acara berikutnya ialah makan bersama.

Berlembar-lembar daun pisang sudah tertata memanjang dan sedikit ditumpuk pada masing-masing ujungnya. Nasi mulai dibagi rata memanjang mengikuti kontur daun pisang. Sayuran kluban beserta sambalnya pun tertata diatas butiran-butiran nasi. Lauk pauk seperti tahu, tempe dan suwiran dari ayam ingkung pun ikut tersebar pula.

Sebelum mulai makan, semua sedulur yang hadir diminta berdiri melingkar di sekitar nasi kluban yang sudah tersuguhkan. Iringan lagu Shohibu Baiti terlantun, diikuti dengan do’a dari Mas Aniq.

Kemudian usai do’a langsung semuanya kembali duduk. Makan bareng (Ambengan) ini menjadi penutup kegiatan Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2018 meskipun usai acara masih berlanjut kisaran hampir dua jam untuk obrolan ringan dalam lingkaran-lingkaran kecil. Semua kembali ke kediaman masing-masing dengan segala terima kasih kami haturkan pada yang hadir maupun yang tidak hadir, semoga semua kembali dengan menggendong kemanfaatan untuk diterapkan di tempat asalnya. Sekian reportase Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2018 ini, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

Facebooktwittertumblr