Posted in reportase.

SULIT TAPI SOLID



Rutinitas kegiatan Majlis gugurgunung yang digelar pada 23 Februari 2019, bertempat di Art Cafe, Pringapus, Ungaran, Kab. Semarang. Dengan tema “Sulit Tapi Solid”.Kisaran pukul 20.45 WIB pembacaan doa wasilah oleh Mas Ari dilanjutkan Munajat Maiyah oleh Mas Tyo.Moderator malam ini ialah Mas Kasno, mengawalinya dengan perkenalan beberapa wajah baru khususnya beberapa jama’ah perempuan yang duduk berkumpul di sudut ruang. Notabene Majlis gugurgunung memang cukup jarang disambangi oleh jama’ah perempuan.Mas Kasno kemudian menceritakan kisah 3 (tiga) tahun yang lalu di tempat ini juga yakni Art Cafe. Dimana itulah pertama kalinya Mas Kasno merapat di Majlis gugurgunung.Dengan tema saat itu ialah ‘Maiyah Combat’, dan diskusi dimulai hanya bertiga. Mas Agus, Mas Tyo dan Mas Kasno. Masih jelas teringat bagi Mas Kasno dimana malam itu Mas Agus menceritakan tentang kisah Wiro. ‘Sulit’ menurut Mas Kasno bukan berarti tidak bisa, bahkan justru akan menemukan pintu kemudahan. Sesuai dengan salah satu ayat dari Al Insyiroh, dimana juga tertulis dalam desain poster malam ini.

Mas Agus menambahkan bahwa kegiatan ini memang sederhana namun dibanding 3 tahun yang lalu, masih jauh lebih mewah. Maiyah Combat menjadi tema bulan Februari 3 tahun yang lalu. Combat dapat diartikan tarung/tanding namun masih dengan memegang nilai Maiyah. Menghadapi fenomena kehidupan, salah satunya ada fenomena tanding. Tanding yang dimaksud bukan ditujukan pada person tetapi pada sekian rentang kesepakatan atau tidak sepakat. Semakin banyaknya ketidaksepakatan sejalan pula dengan semakin banyaknya pengalaman tanding. Begitu pun sebaliknya.

Nilai Maiyah yang ditawarkan Mbah Nun pada anak cucunya yakni memposisikan diri pada banyak hal yang belum bisa disepakati. Tetapi tidak perlu bertanding secara person meainkan secara nilai. Kesulitan mestinya bukan untuk dihindari. Sebab rumusan Sulit itu sebenarnya sederhana yakni ketika tidak sepakat pada sesuatu hal.

Sebuah akibat pasti ada sebab. Disebabkan karena ketidakwaspadaan atau memang pemberian Tuhan. Terdapat dua respon yang dapat muncul, yakni Bebal dan Kebal. Dampaknya memang sama-sama tahan terhadap sebuah akibat namun memiliki perbedaan dalam prosesnya. Bebal nampak tahan terhadap kondisi, namun Bebal ini muncul disebabkan karena akal/pikirannya tidak digunakan secara baik. Sedangkan Kebal ada proses sistem imun ditandai fenomena panas-dingin. Kondisi panas dingin yang harafiah pun menurut mas Agus merupakan tanda bahwa manusia akan menghadapi ujian yang lebih maka perlu diberikan daya tahan lebih. Dan proses peningkatan daya tahan tersebut ditengarai dengan fenomena panas-dingin atau demam. Maka orang Jawa sering bilang jika ada anak yang panas: “mundhak akale”, tampaknya akal yang lebih berkualitas yang membuat seseorang menjadi lebih kebal.

Mas Agus melanjutkan, bahwa manusia dilahirkan lebih dahulu dibandingkan dengan politik. Era saat ini, lumrah terjadi sekarang memilih A, kemudian berganti B. Solusi yang kerap kali diperlukan justru tidak ada. Manusia memang memerlukan politik tapi bukan pula dengan menggeser sisi kemanusiaan. Malam ini kita coba membidik hal yang solid itu seperti apa.Disini setiap orang membawa sisi yang tidak disepakati. Kita tidak bisa kemudian memaksa hal yang tidak disepakati itu terhapuskan. Pemahaman bersama akan lebih mantab ketika dapat lebih menjaga setiap hal yang berada pada ranah yang sama. Adanya sekumpulan perbedaan namun akan membangun sebuah keindahan, seperti keindahan taman.

Kemudian Mas Tyo juga memberi respon tentang surat Al Insyiroh dikatakan bahwa kesulitan dan kemudahan itu datang bersamaan. Dan juga dilihat dari unsur kata, sesudah dan bersamaan itu terdapat perbedaan. Maka yang biasanya terjadi ialah sukar mencerna ketika mengalami sesuatu, diartikan sebagai kesulitan ataukah justru kemudahan yang datang.

Mas Uci juga merespon tentang kesulitan. Bahwa sulit itu adalah part of. Kaya yang umum diartikan sebagai kemudahan pun juga sebenarnya adalah sebuah kesulitan. Menikah pun juga diartikannya Monumen penderitaan bersama. Dengan cinta maka makan sepiring berdua jadi indah dan derita seakan menjadi ongkos. Pun seperti tembakau yang dibakar, maka tiada derita tiada pula kenikmatan. Luka dan derita menurutnya ialah sebuah penawar. Bahkan patut kita cari, jangan-jangan senyum kita pun sebenarnya juga sebuah kesulitan.Selama ini kita terjebak dimensi standaritas. Naik mobil kerap disebut sebagai solid sedangkan jalan kaki disebut sebagai kesulitan. Kata “Setelah” merupakan bahasa proses. Setelahnya adalah sintesis yang menjadi dasar tesisnya.

Kemudian Mas Ari turut urun rembug dengan sebuah pertanyaan. Jika dikatakan bersamaan. Entah sulit ataupun mudah ini datangnya darimana?

Langsung dijawab oleh Mas Uci bahwa tidak ada kata datang dalam Al Insyiroh. Sebab manusia sudah menggendong kemudahan dan kesulitan sejak awal mula. Seperti dalam pewayangan digambarkan sebagai Gunungan. Dimana jika gambar muka yang menggambarkan gemah ripah loh jinawi digerakkan maka batara kala dibelakangnya pun turut bergerak.

Mas Agus menambahkan tentang Direct Facility, apa yang mudah tanpa sulit ialah bernafas. Sebab merupakan fasilitas yang langsung Allah berikan pada makhluk. Sedangkan sesuatu yang dikelola manusia pasti mengandung unsur kesulitan.Pengelolaan fasilitas Allah dilakukan agar justru tidak menjadi wilayah yang kita cemari. Pencemaran terjadi karena kita meremehkannya. Seakan kita punya hak untuk kesulitan dan kemudahan. Sungai yang sudah diberi bersih justru dikotori. Tanah yang subur justru diberi pupuk kimia.Disini kita perlu membidik kasus. Agar orientasi dan presisi tidak keliru. Sehingga kita mafhum pada ayat tersebut.Ketika masih di alam kandungan atau alam rohim. Disanalah kasih sayang yang masih intim. Dan secara jasadiah yang diamanati adalah wanita. Alam rohim dalam bentuk hijaiyah seperti huruf Wau. Yang diartikan bagai simbol ketertundukan atau patrap silo. Sebab digambarkan seperti ada kepala, tulang punggung dan tulang ekor. Maka untuk tetap berada dalam posisi fitroh, jangan sampai kehilangan makna Wau dalam kehidupan. Sebab dengan hijab yang ada pada diri kita membuat rangsangan untuk ngAlif. Alif senantiasa menuntun nafsu yang terbangun.

Maka ada nafsu yang membumbung atau Amarah. Marah ialah salah satu bentuk kita terpimpin pada sesuatu yang membumbung. Manusia Jawa ada kalimat bombong, sedangkan dalam bahasa Indonesia ada bumbung atau membumbung. Membumbung bersifat seperti api. Api yang terlalu besar akan kurang memberi manfaat dalam kehidupan.Kemudian ada api yang lebih kecil tapi mudah mobat-mabit (tidak tenang) yakni Lauwamah. Sedangkan api yg lebih tenang yakni Mutmainah. Api yang biasa digunakan untuk memasak. Sebab mutmainnah akan mengkonfirmasi waktu untuk lebih bersifat sobar/sabar hingga yang didapati kemungkinan ialah kesulitan yang tidak ngAlif dan bertujuan mendidik agar lebih baik Wau nya.

Nun dan Ro

Pada tengahnya dapat kita isi Alif ataupun Wau. Nantinya akan menjadi Nar atau Nur. Nur seperti cahaya mentari ataupun lampu yang memang sering terabaikan dan terjadi secara repetitif. Jika Amarah dan Lauwamah dapat dikelola dalam kondisi yang tenang. Maka jalan yang kita titi insya allahmardhiyah, diridhoi. Demikianlah perlunya mengakomodir Wau dalam hidup.Di dalam rohman maka akan menemukan rohim dan di dalam rohim akan menemukan bekal menghadapi rohman. Hal tersebut tidak sulit dipahami namun sulit dijalankan.

Masih tentang sulit dan mudah, kira-kira sebanyak apakah hal yang dahulu sulit namun sekarang mudah. Serta sebanyak apa hal yang dulu mudah namun sekarang justru sulit.

Lingga Yoni

Lingga dan Yoni, dari segi fungsi saling melengkapi. Lumpang seperti fungsi pada perempuan yang berfungsi mewadahi, misalkan cabai, bawang dll. Yoni berfungsi sebagai alat pengolahnya dan kedua-duanya berkolaborasi. Sementara di dunia laki-laki dan perempuan itu hanyalah ilusi. Dalam surat 33 ayat 33 dikatakan bahwa Allah akan membersihkan sebersihnya asalkan tidak menggunakan cara berhiasnya orang jahiliyah. Perumpamaan tersebut dibangun agar kita lebih bertakwa. Ilusi jangan dianggap sebagai sebuah kepastian. Maka ayat-ayat alquran diduga tidak ada yang feminim dan maskulin, sebab diberikan untuk manusia. Bukan kepada lelaki ataupun perempuan.

Kita dituntut untuk menjadi masyarakat real. Bukan hanya saat sinau bareng, tetapi kadang ada beberapa hambatan normal. Ada stereotip yang kerapkali berbeda. Yang disuguhkan bukan mendoktrin pawon, tetapi suguhkanlah produk dalam bentuk sandang, pangan, papan dll. Tahun ini memang adalah tahun yang sulit, tetapi bagaimana bisa menjadi solid dengan kesulitan tersebut.

Di tengah diskusi sempat pula membahas salah satu produk dari Mas Angling. Dengan menggunakan limbah kaca dari kakaknya diubahnya menjadi karya seni dengan menjadi sebuah lukisan yang meningkatkan harga jual dibanding limbah kaca. Sudah ada beberapa pesanan yang masuk, meskipun belum ditetapkannya harga standar penjualan.Dilanjutkan oleh Mas Kasno yang mempresentasikan tentang tikar berbahan debog pisang kering, eceng gondok kering dan jerami. Tabel-tabel penjadwalan progres tercantum lengkap dimana tabel-tabel tersebut dapat diadopsi pula oleh beberapa kegiatan perekonomian sedulur-sedulur lainnya.

Mas Kasno menutup kegiatan kisaran pukul 01.03 pagi. Dengan sedikit cuplikan kalimat penutup seperti berikut. Kesulitan combat dalam berfighting melekat dari awal. Dari tahapan ke tahapan senantiasa membersamai lahirnya kita. Realitas-realitas yang kita alami di dunia adalah kesulitan untuk menemukan kemudahan. Ditutup dengan makan bersama, namun beberapa diskusi ringan masih berjalan hingga menjelang shubuh. Sekian reportase kali ini, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

Facebooktwittertumblr