Posted in reportase.



Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW






Malam minggu terakhir pada bulan November jatuh pada tanggal 24 November 2018. Rutinitas bagi Majlis Gugurgunung untuk nggelar kloso, duduk melingkar serta berdiskusi. Namun sedikit berbeda pada edisi bulan ini, yakni khusus untuk bermunajat serta bersholawat. Dimana bertepatan juga dengan bulan kelahiran Nabi besar junjungan kita, Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam.

Hampir pukul 21.00 WIB, kegiatan dimulai dengan do’a wasilah dan tembang Gugur gunung oleh Mas Ari, dilanjutkan dengan munajat Maiyah, serta bersholawat oleh Mas Tyo juga Mas Jion.

Pembacaan sholawat yang di pimpin oleh Mas Tyo

Tiada tema yang dikhususkan untuk dibahas pada malam itu, segala pembahasan mengalir dengan sendirinya. Dimaksudkan pula supaya dapat diakhiri lebih awal sebab keesokan paginya, Majlis Gugurgunung berencana untuk menghadiri kegiatan dari Majlis Alternatif, khususnya Kampus Sawah dengan kegiatan bertajuk Makan Bareng Kanjeng Nabi.

Sedikit yang menjadi pembahasan pada malam itu ialah tentang, tancep kayon. Dimana tancep kayon merupakan sebuah tradisi akhir tahun bagi Majlis Gugurgunung untuk berhenti, kemudian mengevaluasi apakah masih perlu dilanjutkan atau tidak. Memang Majlis Gugurgunung tidak dipaksakan untuk terus ada, sebab lebih baik tahu kapan untuk berhenti daripada kapan harus menambah. Diharapkan berhenti atau mengulangi kegiatan tersebut karena fitroh hajat kehidupan.

Seperti halnya lapar dan haus, kita makan dan minum bukan karena kita ingin terus makan dan minum. Tetapi karena rahmat Allah, kita ditakdirkan memiliki fitroh untuk lapar dan haus. Majlis Gugurgunung senantiasa bertahan agar Majlisan ini semoga tetap dirahmati oleh Allah, dengan tetap memiliki alasan untuk makan karena lapar atau minum karena haus. Pada tahun ini, akan disudahi dengan laku Kasantikan yang sudah dimulai sejak bulan Januari lalu.

Sedikit hal yang bisa kita gali dari kasantikan. Hakikat dari pertemuan dengan setiap hal baik lembut ataupun kasar ialah kerinduan kita pada perjumpaan dengan Allah, bukan menjumpai diri kita sendiri yang mungkin memang sedikit ada cipratan dari Allah. Maka Allah pun berkata bahwa, kemanapun kita menghadap adalah wajah Allah.

Kecenderungan kita akan lebih mendekat pada hal-hal yang kita anggap sehat, gebyar, higienis, dlsb. Beberapa hal justru terkadang tidak kita pilih untuk berjumpa. Seperti pada hadist qudsi bahwa seolah-olah Allah mengeluh kelaparan, kehausan. Padahal terkadang hal tersebut justru akan mempertemukan dengan Allah.

Tetapi tidak patut kita paksakan pula mengejar untuk mengetahui wujud jasadnya Allah, cukup dengan merasakan keagungan, kebesaran serta ketinggian Allah ketika kita menjumpai kehidupan.

Tahun kasantikan berarti menuntut kita untuk mempercantik diri (santika), bukan hanya untuk wanita namun juga kepada pria. Santika, dipecah menjadi dua, pertama “sakti” dan yang kedua ialah “cantik”.

Clue yang tersedia bahwa sakti ialah orang yang tidak memiliki musuh. Sebab setiap hal yang kita jumpai adalah refleksi dari hal yang kita lakukan. Jika kita sedang mempercantik diri maka akan dipertemukan pula dengan kecantikan.

Contohlah bayi yang belum bisa melakukan apa-apa. Namun siapa sosok yang tidak memperlakukan bayi dengan cantik ?. Kecenderungan umum, tidak ada yang sampai marah kepada bayi yang menangis. Bahkan hingga tahu maksud dari si bayi, apakah lapar, haus, sakit dll.

Karena bayi disebut masih fitroh, berarti rumus untuk mencapai kasantikan ialah dengan tidak menjauhkan fitroh dari diri kita. Bahkan di dalam Islam pun setahun sekali diajarkan untuk kembali pada fitroh. Bahkan sebulan, seminggu, sehari sekalipun bisa. Setahun sekali dengan idul fitri, bulanan misalkan dengan maiyahan atau majlisan apapun yang dapat menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah. Mingguan misalkan jum’atan yang kontributif dan konstruktif bukan hanya mengunduh pahala saja sebab pahala yang diperoleh sangat besar. Dalam hari jum’at dimaksudkan untuk bertemu, berkumpul, mereview beberapa hal untuk ditata di hari sabtu dan dimulai lagi di hari ahad. Harian dengan sholat lima waktu. Senantiasa setiap waktu menegakkan level kemanusiaan senantiasa yang Allah harapkan, yakni sebagai abdi dan khalifah. Bukan malah memburu waktu. Jangan sampai tenggelam di kedangkalan, jangan sampai terjerembab di kerendahan. Yang lebih singkat jaraknya lagi ialah, setiap bernafas, berkedip, berdetaknya jantung kembali kepada fitroh. Setiap hal yang kita lakukan senantiasa menyampaikan atau melakukan kebaikan, insya allah setiap nafas yang kita hirup, tiap jantung berdetak turut menjaga fitroh kita sebagai manusia.

Kehangatan Majlis Gugurgunung

Bukan hanya menjadi cantik namun gemilang, juga berpendar yang harus tidak kita miliki. Karena semua itu harus kita abdikan kepada Allah, karena semua itu adalah miliknya.

Maksud dari kasantikan ialah mau untuk “dandan”. Tidak harus dandan menggunakan bedak dll, namun melihat kursi rusak lalu ingin memperbaiki itu juga merupakan dandan. Dandan itu tidak dipaksa harus ideal, ketika tidak mampu melakukan dengan perbuatan maka dengan perkataan. Tidak sanggup berkata, jika diam saja untuk tidak menambah masalah juga disebut dandan.

Sesi pertanyaan diawali dari Mas Tyo yang menpertanyakan tentang sensitivitas apakah fitroh atau pengaruh dari lingkungan? Dianalogikan sebagai tiap-tiap bagian dari pohon, dan masalah ialah api. Pasti daun akan memiliki sensitifitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ranting, dahan apalagi batang. Andaikan bagian-bagian dari pohon tersebut merupakan rangkaian dari masing-masing manusia yang sedang menjalankan fungsinya. Orang yang sensitif pasti memiliki kecenderungan yang berbeda dengan orang yang easy going. Salah satunya ialah mengurai sebuah hal yang rumit serta membutuhlam waktu yang lama, sensitif menjadi tidak produktif ketika disebut baperan. Padahal perasaan itu memang umum untuk selalu digunakan, namun istilah baperan seakan mengkotak-kotakkan yang seolah menuding kualitas mental seseorang. Semakin seorang sensitif maka dia akan semakin mampu menyentuh wilayah-wilayah titah. Tukang bangunan dan seniman, mungkin terlihat lebih berkelas seniman. Namun belum tentu seniman juga bisa menggarap pekerjaan-pekerjaan tukang, demikian juga sebaliknya. Sebab sensitifitas yang dimiliki masing-masing berbeda.

Melihat benda-benda peninggalan leluhur meskipun hanya terbuat dari batu namun mampu untuk diukir. Sangat berbeda dengan era saat ini, proses pembangunan diambil jalan yang paling instan, praktis. Semakin banyak pihak yang kita singkirkan karena tidak kita anggap penting, maka kita akan menjadi peradaban yang tidak penting juga.

Menjadi bangsa yang sensitif lebih baik dibanding bangsa yang baperan dalam idiom populer. Contoh kasus baper dalam idiom populer ialah marah ketika calon pemimpinnya diolok-olok. Sedangkan jika membawa perasaan di dalam setiap lini kehidupan maka tidak masalah.

Kita coba memetakan idiom-idiom yang disampaikan dalam struktur komunikasi horizontal kepada manusia dan juga vertikal atau yang bersifat ketauhidan.

 

Leluhur

Kita hidup menggunakan warisan dari leluhur. Padahal 200 tahun lagi kita akan menjadi leluhur juga, lalu apakah yang akan kita wariskan?

Yang harus kita pahami ialah, seseorang yang kita sebut leluhur, ialah orang yang selama hidupnya menjalankan titah-titah keluhuran. Bukan hanya karena sudah meninggal maka disebut leluhur. Perlu dibedakan antara leluhur dengan lelembut, telanjang atau polos, pasrah atau kalah.

Indikasi disebut leluhur ialah bukan karena menyebut dirinya sendiri luhur namun rumusnya ialah karena pandai bersujud. Maka ketika bersujud, yang kita sebut ialah keluhurannya Allah. Peradaban yang dibangun oleh leluhur kita, dalam ranah yang sedang menghamparkan segala wilayah untuk menjadi tempat bersujud atau masjid. Hakikat dari sebuah masjid ialah, tempat untuk bersujud. Dimanapun kita mampu bersujud kepada Allah, maka hakikatnya kita mendirikan masjid disana. Dengan kesadaran penuh bahwa setiap ada keluhuran yang menempel pada diri kita, maka senantiasa kita sadar bahwa keluhuran tersebut berasal dari Allah.

Seperti halnya jika ada kasih sayang yang kita lakukan maka, Allah yang maha rahman rahim meridhoi kita, bukan karena kita memproduksinya.

Guliran diskusi edisi spesial ini tidak sampai larut. Sebab masih ada pembahasan lain serta pagi harinya ada agenda bagi Majlis Gugurgunung untuk ngombyongi kegiatan Majlis Alternatif di Jepara yang bertajuk Makan Bareng Kanjeng Nabi. Sekian reportase kali ini. Semoga bermanfaat.

 

Andhika Hendriyawan

Facebooktwittertumblr