Reportase Songolasan Majlis Gugurgunung 19 Maret 2016

Facebooktwittertumblr
songolasan maret 2016

songolasan maret 2016

majlisgugurgunung::Tidak seperti biasanya, songolasan yang menjadi agenda rutin majlis gugurgunung guna membahas beberapa hal yang terkait dengan tema yang akan diangkat di majlis gugur gunung serta membangun silaturahmi dengan keluarga jama’ah dengan menggunakan rumah salah satu jama’ah untuk cangkruk budidoyo yang dimana selalu berpindah setiap bulannya. Tapi tidak seperti bulan ini dimana songolasan dikunjungi oleh FGD2 Kadipiro, jogja guna membangun tali silaturahmi dan bertukar pikiran guna memperoleh kebenaran bersama yang dimana agar kembali diolah oleh masing-masing jama’ah agar menjadi kebenaran yang sejati. Songolasan bulan ini diadakan di Gedung taman bermain Qomaru Fuady – Balongsari. Cangkruk budi doyo di majelis gugur gunung ini diawali dengan pembacaan surat Al Fatihah yang dipimpin Mas Patmo, dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat yang dipimpin oleh Mas Arif. Suasana begitu kusyu saat pembacaan surat Al Fatihah dan Sholawat, jama’ah juga terlihat begitu menikmati kekhusyukan malam itu. Setelah surat Al Fatihah dan Sholawat selesai dibacakan, diskusi dimulai dengan pembahasan tentang katuranggan/Aturing Angga : Perkataan badan, perkataan perbuatan. Apa yang akan kita sampaikan dalam kehidupan. Jika Rasulullah adalah Al-QUr’an, maka kita bagian apa dari Al Qur’an itu, sebagai ayat? Sebagai harokat? Atau sebagai tanda yang lain untuk menegaskan keberadaan ayat yang lain. Sampaikanlan meskipun satu ayat adalah engkau menyampaikan atas apa yang engkau yakini sebagai kebaikan dan kebenaran sebagai pilihan langkah dan sikapmu menuju. Katuranggan ini pembawaan seseorang, masing punya pembawaannya sendiri-sendiri. Untuk membawakan diri diperlukan peranti-peranti hidup yang baik jika kita kenali. Peranti hidup ini ada yang berupa materi, kerja, dan fungsi. Yang berupa materi antara lain tubuh dengan segala anatominya. Kemudian yang secara kerja, adalah proses beredarnya darah, terpompanya paru-paru, berdetaknya jantung dlsb, peranti fungsi adalah output dari kolaborasi dari peranti materi dan peranti kerja dengan tambahan akal dan nurani, Sehingga yang menjadi produk sosial adalah fungsi. Peranti ini secara apik juga dikenalkan pada permainan catur yang semua bernama caturangga. Secara ringkas penjelasannya sbb:

caturanggan, dimana katuranggan disini dibagi menjadi dua kata, yakni catur dan angga.

Catur dalam istilah jawa berarti 4, dan angga adalah substansi dari catur tersebut. Dalam diri kita terdapat 4 substansi angga, yaitu:

  1. Malaikat Jibril -> ide, gagasan, kecerdasan -> Subhanallah, ketika ditiupkan substansi Malaikat Jibril
  2. Malaikat Mikail -> keseimbangan -> Alhamdulillah, ketika ditiupkan substansi Malaikat Mikail
  3. Malaikat Israfil -> gairah, gelora, krentek -> Lailahailallah, ketika ditiupkan substansi Malaikat Israfil
  4. Malaikat Izrail -> Kematian -> Allahuakbar, ketika ditiupkan substansi Malaikat Izrail

Catur atau 4 dalam masyarakat jawa juga dipakai sebagai metode bermasyarakat yang baik. Dimana 4 ini diambil dari 4 penjuru mata angin yang diturunkan menjadi pasaran. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Dimana pasar legi yang dijual adalah sesatu yang bernilai putih seperti garam, gula, dan lain sebagainya yang mengandung nilai putih. Ada juga pahing yang menjual sesuatu yang bernilai pahit seperti kursi, blabag, dst. Kliwon menjadi pusat atau pancer tempat berkumpulnya seluruh pasar. Dimana di pasar kliwon ini seluruh barang beraneka ragam dari seluruh penjuru pasar dipertemukan menjadi satu. Di pasar ini menggunakan sistem barter dan ada pengatur distribusi dan keberlangsungan prosesi pasar yang disebut sebagai Tuha Dagang. Sang resi menganjurkan agar kegiatan kita semua ini berguna untuk menambah keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan hingga menimbulkan keberkahan yang menaungi kita semua. Setelah itu amasar (menebar, menyebar, menyebarkan) dimulai.

Sang resi disini selalu membawa catur berupa papan 8 kotak memanjang dan melebar berwarna hitam putih. dimana disini melambangkan setiap langkah kehidupan ada hitam ada putih, ada manis ada pahit, dst. Pelaku dalam permainan ini adalah yang berjajar di depan. Dimana dia memiliki 7 langkah yang setelah 7 langkah tersebut mampu dilalui dengan aman dan selamat, dia boleh memilih menjadi apapun kecuali menjadi saka atau ratu. Belum ada yang mampu mengalahkan sang resi dalam permainan catur, karena dia menguasai seluruh cara dan langkah dalam catur ini. setelah permainan selesai sang resi menutup bidak catur, dan menganjurkan kepada lawannya untuk menjalankan ‘bidak catur’ kehidupannya dengan berhati-hati dan waspada..

Dilanjutkan dengan pemaparan Mas Agus tentang pembagian usia dalam 10 tahunan. Dimana dalam usia 0-10 tahun seseorang diajarkan tentang kedirian. Usia dimana bahwa hanya dirinya yang menjadi pusat perhatian. Memasuki usia 11-20 tahun yaitu usia las-lasan. Di usia ini mulai mengalami rasa welas. rasa akan adanya orang lain di sekitarnya, bukan hanya dirinya. Masuk diusia 21-30 tahun adalah usia kur-kuran atau usia mengukur. Di usia kur-kuran ini ada yang menjadi pusat yang harus di tawafi. Yaitu usia 25 tahun (selawe), disini bertemunya pikiran dan cinta, dan ini jika menemukan ukuran yang sesuai maka akan menjadikan hasil olahan yang dapat tambah mendekatkan kepada sang pencipta. Masuk di usia 31-49 yaitu usia luluh. Disitu kita dihadapkan pada kejadian yang membuat kita luluh dan menambah kehati-hatian untuk masuk di usia 50 (seket), usia ngiket. Mengikatkan diri kepada pencipta agar lebih berfungsi dalam kehidupan. Kemudian memasuki usia 60 (sewidak) yaitu usia ngidak atau menginjak. Apa yang diinjak? Yang diinjak adalah dunia yang pernah dikejar, dijunjung-junjung, dipundi, dicangking, diletakkan, kemudian pada usia ini dunia diinjak untuk melesat naik mendekat Sang Pencipta.

Dengan pemaparan di atas kemudian dibuka sesi tanya-jawab guna melebarkan pembahasan. Pertanyaan pertama diajukan oleh Mas Leo; “Apakah urutan usia ini pasti beruntut di setiap orang? Apa ada kemungkinan jika usia 18 namun sudah masuk di tahap usia 25, begitu pula sebaliknya?”

Pertanyaan Mas Leo langsung direspon oleh Mas Agus, “bahwa sebenarnya dalam alam bawah sadar semua sudah terekam. Bisa jadi yang berusia 18 tahun sudah memiliki pemahaman seperti usia 25. Sangat terbuka kemungkinan seseorang mencapai kedewasaan mencapai usianya. Namun dia tidak mampu melampai urutan-urutan peristiwa yang diberikan secara bertahap. Seperti halnya jika mengendarai kendaraan untuk menuju suatu kota, pengendara pemula dan pengendara yang berpengalaman akan memiliki sikap yang berbeda ketika menghadapi persoalan di tengah perjalanan yang mereka hadapi. Pengendara yang berpengalaman tidak lantas melampaui urutan rute perjalanan dengan tiba-tiba bisa berada di koordinat tujuan dengan tiba-tiba.

Pertanyaan kedua diajukan oleh Mas Prio; “apakah hasta tadi bisa dipindai?”

Pertanyaan Mas Prio langsung di respon oleh Mas Agus; “ Bisa, dalam melangkah kita harus pandai dalam menentukan titik langkah. Namun, kejelekan dari tahu akan hastanya biasanya  malah mengkotakkan diri. Padahal belum pasti, dan sesungguhnya 8 hasta tersebut seluruhnya ada dalam diri manusia. Maka dari itu semua harus dipelajari, karena sadar atau tidak sadar kita dalam perjalanan hidup selalu dihadapkan kepada 8 hasta ini.”

Cangkruk budidoyo masyarakat maiyah ungaran terus berlanjut dengan cukup padat dengan bertambahnya dinamika pertanyaan yang muncul dengan apik dan menginspirasi. Hingga waktu menunjukkan pukul 04.00 dan cangkruk budi doyo masyarakat maiyah Ungaran di majelis gugur gunung ditutup dengan pembacaan Al Fatihah.

ARF

21 Maret 2016

Facebooktwittertumblr
Posted in reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , .