Posted in reportase.



Reportase: Ngkopeni Lan Ugo Ntegesi






MajlisGugurgunung:: Reportase 28 Mei 2016-bertempat di Gedung Taman Bermain Qomaru Fuady – Balongsari, Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Cangkruk Budidoyo di Majlis Gugurgunung dimulai pada pukul 23.00 karena sebelumnya ada pengajian khataman di masjid Balongsari, dan Majlis Gugur Gunung mendapatkan undangan untuk acara tersebut. Acara rutin bulanan Majlis Gugur Gunung kali ini pun sedikit berbeda dari pada bulan-bulan lalu, dikarenakan sebagian besar jama’ah yang terlalu lelah sehabis mengikuti kegiatan Ihtifal Maiyah yang diadakan di Menturo,Jombang (Rumah Cak Nun) dan baru sampai di Semarang pada sore harinya. Sehingga acara kali ini dibikin sedikit santai oleh Mas Agus, walau dengan demikian tidak mengurangi niat kami untuk berdiskusi seperti biasa.

Tidak seperti biasanya yang setiap kegiatan diskusi dimulai dengan munajat atau doa-doa, acara kali ini dimulai dengan obrolan ringan sambil ngopi yang berujung pada pembahasan tema ngkopeni lan ugo ntegesi melalui mukadimmah.

Ngokopi adalah langkah mencari tahu sesuatu, ilmu,, atau, pengetahuan hingga menemukan sebuah kesimpulan dasar akan sesatu yang dipelajari,  ngopeni adalah wawasan akan pentingnya sesuatu yang kita anggap berharga dan bernilai untuk di openi atau di eman (iman),  lalu negesi adalah penegasan dalam menentukan sikap, jangkauan pemikiran dan jalan demi ngeman apa yang dianggapnya berharga dan bernilai tersebut (taqwa).

Jika dilihat dari bentuk jasadiah antara kopi yang hitam, pahit, dan pekat bertemu dengan air panas dan gula yang putih dan manis sehingga tersuguh sebuah keterpaduan dua perbedaan yang bersedia melebur demi output yang menyenangkan bagi penikmatnya, namun kita bisa mempelajari sesuatu dari kopi yang dipadukan dengan rokok. Mas Agus memisalkan dalam kasus kesabaran, ngokopi yakni mengunduh ilmu dari yang kita saksikan tentang proses kejadian kesabaran itu sendiri. “Ngundhuh wohing pakarti” mengunduh buahnya perbuatan. Jika baik sebuah perbuatan yang meskipun dilakukan oleh oranglain namun tetap bisa ikut mencicipi rasa buahnya. Lalu ngopeni dengan memelihara kesabaran itu dari dalam diri kita. Berikutnya mengimplementasi dalam aplikasi hidup secara tegas atau negesi. Dari hal demikian saja kita sudah mendapat rahmat yang sangat besar karena mendapatkan sebuah tertambahinya kualitas persaksian karena diberikan pengalaman langsung mencicipi rasa hidup atas nama Allah AsShobar.

Masih dilanjutkan oleh Mas Agus bahwa neraka adalah bentuk kasih sayang Allah, bukan mutlak untuk menyiksa. Allah memberikan kesadaran untuk sebuah kesaksian bukan memberikan sebuah ketakutan.  Karena Allah hanya akan menanyakan “Aku ini Robbimu atau bukan?” dan tidak lebih.

Kesaksian membutuhkan kesadaran. Bersaksi biasanya hanya dilakukan jika kita sudah pernah melihat secara langsung. Lalu muncul sebuah pertanyaan, bagaimana kita bersaksi jika belum pernah melihat wujudnya. Jika dalam hukum maka posisi kita disini adalah sebagai saksi ahli, dimana dia tidak melihat kejadian secara langsung namun dia mengetahui segala konsep kejadian. Ahli satu akar kata dengan ahla yang berarti keluarga. Dimana kita berusaha untuk menjadi ahlul bait, atau keluarga ndalem. Oleh karena itu jasad kita dibedakan menjadi bermacam-macam. Misalkan warna mata, tinggi badan, warna rambut dll. Agar kita menemukan keluarga yang sejati dari dengan langkah menyibak dan mempelajari perbedaan, atau bisa diartikan bahwa perjalanan kita ini dimaksudkan seperti mencari keluarga yang sejati. Jasad merupakan sebuah proses persinggahan kita untuk mencari sebuah pengalaman. Sebelum jasad ialah arwah, lalu setelah jasad adalah arwah kembali. Dalam kondisi jasad, seperti kita yang sekarang ini, banyak dari kita lebih masyuk berkeluarga dengan harta, kekuasaan, dlsb, bukan berkeluarga dengan tabligh, siddiq, amanah, ataupun fathonah dimana itu yang sebenarnya menjadi karakter dari fitrah manusia itu sendiri.

Keluarga rohani tidak sama dengan keluarga jasadiah. Kalimat itu hanyalah sebagai sebuah bacaan untuk kita agar menemukan keluarga rohani ataupun cahaya. Misalkan Nabi Nuh memiliki seorang anak keturunannya. Namun dikatakan bahwa anak itu bukanlah sebagai keluarga rohaninya. Oleh karena itu dapat kita pahami akan betapa pentingnya sebuah akhlaq. Bahkan kata “jawa” itu bukanlah sebagai kata benda, akan tetapi kata sifat. Maka jika kita menemukan orang yang berasal dari luar pulau Jawa, namun dia mampu untuk andhap asor, unggah ungguh. Tepo sliro bisa dikatakan njawani. Yakni memiliki rohani layaknya orang Jawa.

Keluarga Yahudi dan Nashoro

Ahla kitaba, dimana Mas Yud mentafsirkan itu sebagai Yahudi dan Nashrani. Namun sebagai upaya bertadabbur alangkah lebih baik jika kita mencari juga kualitas Yahudi dan Nashrani dalam keseharian diri kita sekuat apa, juga kita tidak perlu tergesa-gesa untuk mengatakan bahwa diri kita adalah Islam. Karena ketika kita terlalu cepat mengatakan bahwa kita Islam, hanya karena telah melakukan perbuatan-perbuatan yang identik dan indikatif sebagai bentuk formal peribadatan Islam. Dalam keseharian, ada warna lain yang lebih mencolok yakni prilaku. Jika prilaku yang kita torehkan. Maka warna apa yang akan kita gunakan itu? Apakah warna Yahudi, Nashrani, atau Islam?

Kita harus menekankan terlebih dahulu Iman dan Taqwa kita, agar mendapat pengampunan. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa kita juga merupakan salah satu dari ahla kitaba itu sendiri. Yakni orang yang telah ditemani karunia peringatan namun sibuk dan terbuai dengan target-target duniawi yang penuh ambisi.

Yahudi, memiliki ciri gumunan (terbuai kekaguman) akan kehebatan, kesaktian, kekuasaan dll jika dilihat dari Nabi yang menemani mereka, misalkan Nabi Yakub sangat mengagumkan visi dan kesabarannya, Nabi Yusuf mengagumkan dengan perjalanan yang penuh derita menjadi orang yang memiliki kuasa, Nabi Daud yang mengalahkan raksasa Jalut, Nabi Sulaiman yang diperhamba jin dan manusia serta aneka satwa, Nabi Musa yang menggulingkan tirani Fir’aun dll. Dimana kaum Yahudi itu tidak menjadikan para utusan itu sebagai suluh yang memberi ketauladanan sikap pengabdian. Malah ditelikung untuk diambil alih citra kekuasaan dan kehebatannya agar menjadi sumber kekaguman oranglain. Bukan meniru marek-nya (mendekatnya) para Nabi marang Gusti Allah. Apakah yang seperti itu hanya sikap suatu etnis tertentu di dunia? Atau bahkan kita pun terbawa cara yang sama?

Sedangkan Nashrani memiliki salah satu ciri yakni kagetan (latah) terhadap bentuk penuh pengorbanan dan keajaiban. Dimana mereka menyangka bahwa puncak kebenaran adalah sebuah perilaku penuh pengorbanan. Seperti fenomena seseorang diangkat menjadi pemimpin setelah menjalani masa tahanan demi membela idelogi. Tolok ukur pengorbanan selalu menjadi landasan utama menonjolkan identitasnya. Begitu pula dengan keajaiban yang menjadi cara utama untuk membayar kepercayaannya. Maka banyak tuntutan yang menyebabkan ia menjadi gemar menciptakan fasilitas untuk memudahkan urusan orang. Sesungguhnya ini merupakan sikap yang baik namun menjadi berakibat buruk jika tanpa introspeksi dan bersikap hanya dengan kesadaran asumsi.

Seseorang yang menilai dirinya sendiri paling mengerti dan ahli pada soal pengorbanan akan terhembus pengertian bawah sadar bahwa oranglain yang bukan dirinya tak mengerti arti pengorbanan dan perlu diajarkan apa itu pengorbanan. Juga seseorang yang menilai dirinya berjasa menciptakan keajaiban-keajaiban bisa menyangka dirinya dewa yang menyantuni para manusia jelata. Padahal yang dianggap lebih rendah tak lantas lebih rendah. Apakah sikap seperti ini hanya dimiliki oleh segolongan umat atau pemeluk agama tertentu? Ataukah kita pun diam-diam menjadi keluarga sikap dan prilaku yang serupa? Memang kemajuan hasil pemikiran sangat mengandung manfaat tapi jika target utama di alam bawah sadarnya adalah menjadi tuhan yang mampu memberi keajaiban-keajaiban dalam kehidupan, ia lupa cara ngopeni ilmu dari Tuhan dan aplikasinya dalam hidup.

Dengan demikian kita harus prigel Iso Mulat (Aware) dan Iso Seleh (Humble) mempertebal kembali Iman dan Taqwa kita, agar memperoleh pengampunan dan dihapuskan kesalahan. Bercermin pada sosok Kanjeng Nabi Muhammad SAW, beliau tidak mengambil peran sebagai Nabi dan Rasul yang dominan menampakkan kekuatan, kehebatan, pengorbanan, pada ukuran panca indera. Maka ini menjadi clue bahwa umat beliau adalah umat yang lebih matang dan berakal lebih bermutu, tidak lagi memerlukan pesona jasadiah untuk tunduk.

Beliau sangat susah jika diminta mengeluarkan mu’jizatnya, kesaktiannya, kehebatannya dll.  Kita tahu bahwa Nabi disesuaikan dengan kapasitas umatnya. Nabi yang seperti itu telah diperankan oleh Nabi Isa dan Nabi-nabi lain di atas beliau. Sedangkan Rasul Muhammad saw menggunakan metode mengakurasi keyakinan, tidak hanya melalui ketakjuban pandangan mata, namun dengan menjumpai ketakjuban lebih hakiki yang ditemukan dengan menggunakan akal yang berujung pada sebuah kesadaran itu tadi. Pada umumnya, orang pasti akan mudah tunduk pada seorang raja yang menampilkan kekuasaan, kekayaan dll. Akan tetapi untuk tunduk dengan orang yang non-raja yang biasa-biasa atau sederhana baik dari segi harta, penampilan, dll akan memerlukan kualitas kesadaran yang jernih untuk melakukannya.

Tulisan dan Sosial Media

Kitaba dapat diartikan tulisan, dan yang sudah ditulis adalah kitabun. Setiap hari Allah memerintahkan kita untuk menulis sebagai kontribusi torehan aksara hidup. Misal jika kita diperintah untuk menulis 10 hal, dan kita baru menulis 3 hal. 7 hal yang belum kita tulis itu dimungkinkan karena ada jalur lain yang melalaikan atau ada godaan yang berhasil mengabaikan. Padahal jika saja 10 hal itu berhasil tertoreh pada kehidupan dunia, bukan tidak mungkin merupakan alasan utama Allah memberikan ridhloNya.

Demikian akan terasa berat untuk diteruskan jika kita melanjutkannya tak dilambari rasa Iman dan Taqwa.  Jumlah 10 itu tadi bukanlah intinya, tapi keteguhan kita untuk menulis itu tadi yang dapat kita mayorkan sebagai sebuah metode pembelajaran.

Sistem seperti itu bisa secara baik ditangkap dan direalisasikan dalam bentuk ternetra dengan tekhnologi. Maka lahirlah sosial media yang sedianya untuk saling berbagi dan mengenal satu dengan yang lain untuk memperoleh predikat tercintai. Facebook misal, ia dengan cukup baik membangun kecenderungan manusia yang statusnya menuliskan makna, menjadi menuliskan pula hal hal yang tanpa makna. Memamerkan diri dan mengupayakan untuk paling disukai dengan cara yang tanpa kendali. Sebagai hasil teknologi ia memerankan fungsi menganjurkan orang untuk mengenal satu dengan yang lain. Namun juga sekaligus alat survey sampai kapan orang memiliki kemampuan dan ketangguhan untuk memerankan diri dalam kebaikan, tanpa kepentingan dan manipulasi? Silakan lihat sendiri. Sebagai ‘alat perang-sang’ , facebook cukup efektif dengan banyak menyerap kecenderungan pada hal-hal apa saja orang-orang di muka bumi menjadi terangsang. Dengan data yang dibuat sendiri oleh para usernya maka akan tampak golongan-golongan, yang bisa dikelola kecenderungan-kecenderungannya untuk dipecah belah dan adu domba dengan golongan yang lain hanya dengan sedikit rangsangan isu. Tentu ssaja pecah belah dan beradu kebenaran itu akan menyita waktu dan berdurasi panjang, sehingga tidak sempat memikirkan hal-hal lain yang lebih produktif. Dengan demikian akan terus bergantung kepada produsen tanpa merasa dijajah.

Kemampuan bangsa-bangsa di dalam menangkap dan memperoleh bacaan-bacaan dari kitab mampu diunduh dan diterjemahkan, melahirkannya menjadi sistem yang terkonfirmasi panca indera. Hanya jika hasil penterjemahan dari kitab yang menjadi teknologi itu untuk mengkelabui dan memampatkan perkembangan natural oranglain, ia bukan lahir sebagai teknologi yang berada pada jalur iman dan taqwa.

Cangkruk budidoyo kali ini ditutup pada pukul 02.30 WIB, dikarenakan pertimbangan beberapa faktor yakni sebagian peserta diskusi yang sudah kelelahan karena terus beraktifitas semenjak hari jumat pagi. Namun demikian diskusi ini alhamdulillah tetap berjalan lancar dan khidmat seperti biasa.

Redaksi majlis gugurgunung

Facebooktwittertumblr