Posted in reportase.



Reportase: Maskumambang Mijil (Jabang Bayi Lahir)






Majlisgugurgunung:: Malam ini tgl 30 Juli 2016 merupakan acara rutin Maiyah Majlis Gugurgunung. Diawali dengan perkenalan untuk mempererat paseduluran di Majlis Gugurgunung ini, karena beberapa jamaah yang sebagian besar merupakan jamaah yang baru pertama kali datang untuk melingkar. Setelah perkenalan usai dilanjut dengan pembacaan wasilah oleh Mas Son dan seperti biasa sebelum memulai diskusi Mas Jion memimpin pembacaan munajat.

Setelah pembacaan munajat, Mas Dian sebagai moderator Gugurgunung mulai membacakan mukadimmah yang memberikan gambaran tentang irisan tema kali ini yaitu Maskumambang Mijil. Usai pembacaan mukadimmah, Mas Agus memberikan sedikit tambahan untuk lebih memperluas diskusi kali ini. Karena ini masih dalam suasana syawal walaupun sudah hampir usai, Mas Agus mengatakan bahwa pada bulan ini Allah memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk memperluas ataupun mempersempit. Memperluas diri apabila kita berani untuk membuka diri dan begitu pula sebaliknya akan mempersempit apabila kita menutup diri. Pada hari kemenangan, yang perlu kita jajaki adalah menemukan langkah kongkrit didalam menjalani kehidupan berikutnya. Apabila disambungkan dengan tema kali ini yaitu Maskumambang Mijil, sangat berhubungan dengan kelahiran. Dimana pada manusia yang baru lahir merupakan insan yang masih fitrah, yakni manusia yang didalam setiap fungsinya masih sesuai dengan kehendak Allah. dan apabila kita mengamati posisi diri kita dari lahir hingga posisi usia sekarang, apakah diri kita ini masih segaris dengan kehendak Allah ataukah sudah memiliki jalur yang berbeda track? Ketika berbelok apakah sebabnya? Hal ini dapat dianalisis dengan menggunakan analisis akademik atau jurnalistik yakni 5W 1H (what, where, who, why, when, dan How). Apakah kita masih berada pada jalurNya? Dimana (where) perjalanan yang keluar jalur dan dimana jalur yang masih terjaga? Faktor apakah (what) yang menggeser jalur tersebut? Siapa (who) yang paling mempengaruhi perjalanan? Kenapa (why) bisa mempengaruhi? Kapan (when) pengaruh itu berhasil? Dan bagaimana (How) pengaruh itu bisa lebih memikat? Jika kita jujur ada kemungkinan jawaban yang lebih baik adalah justru diri kita ini memiliki jalur yang sudah berbelok dari track Allah, karena dari hal demikian diri kita akan berusaha untuk memiliki sebuah keharusan mencari segala cara untuk lebih dekat dengan Allah. Sering kita mendengar istilah “yen watuk iso ditambani, yen watak ra bakal iso mari”. Ini ungkapan yang yang perlu direvisi, sebab watak manusia itu tidak absolut maka pasti bisa berubah, kita tahu bahwa yang absolut hanyalah Allah SWT. Meskipun Allah memiliki kehendak-kehendak absolut pada diri makhlukNya. Namun watak manusia itu pada dasarnya penuh probabilitas sehingga dengan demikian sangat mungkin untuk dirubah kepada keadaan fitrah.

Sesrawungan

Setelah menambahkan, langsung Mas Agus memberi kesempatan kepada para jamaah untuk memberikan respon ataupun pertanyaan. Dan respon pertama dilontarkan oleh Mas Syarif yang baru kali ini merapat di Gugurgunung. Mas Syarif menjelaskan bahwa dirinya ini merupakan salah satu tipe orang yang tidak akan bergerak jika tidak ada teman untuk bergerak, apakah ini merupakan sebuah kesalahan?

Mas Agus menanggapi bahwa dia tidak bisa menyalahkan, yang paling baik adalah mencari kebenaran didalamnya bahwa ada kemungkinan untuk beberapa faktor Mas Syarif ini menahan diri untuk ekspresif karena khawatir mengganggu harmoni. Padahal sesungguhnya sangat terbuka dan membuka diri kepada lingkungan. Posisi fitrah diperkenalkan di dunia ini dalam sebuah lingkup lingkaran yang dhohir. Dimana memiliki persyaratan salah satunya ialah sesrawungan atau berkumpul. Dan itu sebenarnya sudah dilakukan. Karena apabila tidak dilakukan, tidak mungkin Mas Syarif akan datang merapat disini. Dalam hal ini pun kita sudah diberikan perangkat untuk bisa sesrawungan, bahkan kepada orang-orang down syndrome sekalipun. Akan selalu ada cara diri kita untuk berusaha membersamakan diri dengan orang lain. Karena pada dasarnya ada tema untuk membangun kehidupan yang tersemat di dalam inti dari silaturahim sendiri yakni tidak mengancam orang lain, menggangu martabat, hartanya dan darahnya. Mas Jion juga menambahkan bahwa kita dalam posisi tersebut harus tetap menjunjung tinggi adanya tata krama, dan yang penting setiap hal yang kita lakukan merupakan sebuah kejujuran yang kita tampilkan.

Suasana Cangkruk Budidoyo Majlis Gugur Gunung 30 Juni 2016

Suasana Cangkruk Budidoyo Majlis Gugur Gunung 30 Juli 2016

Respon kedua muncul dari Mas Munawir yang juga baru pertama kali datang merapat di cangkrukan gugurgunung. Tentang ada dan tidak ada yang tercantum didalam mukadimmah, apabila dihubungkan dengan iman. Dimana selama ini yang dilakukan oleh Mas Munawir saat ibadah merasa ada sesuatu hal yang kurang lengkap, dan sering bertanya kepada sendiri sebenarnya iman itu apa. Kembali ditanggapi oleh Mas Agus, bahwasanya kita harus lebih besar hati agar mendapatkan cahaya. Karena pada dasarnya manusia sudah diberi akal, hati, pikiran, panca indra untuk menganalisis asal usul tentang diri kita. Karena ada banyak hal yang berkaitan dengan asal-usul diri sendiri. Cukup merasa sadar saja bahwa indra telah diciptakan oleh sesuatu dan sudah ada yang mengatur.

Iman

Kemanapun engkau menghadap disitulah Wajah Allah, namun apakah setiap orang akan langsung bisa menyaksikan wajah Allah dengan apa yang ia lihat? Misalkan dengan adanya angin yang tidak terlihat akan tetapi mampu untuk kita rasakan, ini kembali mengingatkan kepada Allah swt. Karena pada dasarnya segala sesuatu di muka bumi ini adalah bacaan untuk menuntun kita bersaksi kepada Allah dan RasulNya. Ada 20 Sifat dan ada 99 Asma Allah yang diwajahkan Allah berupa aneka ragam Wujud yang tak satupun terlepas dari Sifat dan AsmaNya tersebut. Adakah perjumpaan wajah kepada Allah yang bisa kita saksikan dari yang kita hadapi? Adakah engkau pernah merasa rindu dan bercengkrama dalam rasa sayang saat memandang foto kekasihmu? Jika tidak maka kita bisa mencoba mempelajari dari dalam diri sendiri terlebih dahulu.

Malaikat

Malaikat memiliki sifat yang setia, kualitasnya teruji dan juga statis. Layaknya jantung yang tidak perlu kita perintahk tapi tetap bergerak secara rutin dan simultan dengan kualitas kerja prima bahkan di saat kita tidur. Selain itu kita perlu ketahui juga bahwa ada pula yang sudah diprogram oleh Allah untuk berhenti pada waktunya berhenti. Misalkan gigi, yang memiliki pertumbuhan lalu berhenti pada ukuran tertentu. Coba saja kita bayangkan apabila gigi terus tumbuh tanpa memiliki waktu untuk berhenti. Wajah Allah hadir bersama kerja para MalaikatNya.

Jika mengingat Malaikat, lebih mudah apabila kita mengingat sifat dan pembawaan dari Malaikat, syukur-syukur ada pengetahuan tentang tugas-tugas yang dititahkan kepadanya. Ada beberapa yang bisa kita kupas sedikit tentang tugas Malaikat tersebut. Misalkan pada saat kita sedang memiliki masalah dan tak memiliki solusi lalu tiba-tiba muncul sebuah ide atau gagasan untuk menyelesaikan masalah, jika kita ingat baik-baik sebanarnya siapakah yang menyampaikan sebuah pesan tersebut kepada kita. Bisa jadi ini adalah kerja departemen perwahyuan yang dikomandani oleh Malaikat Jibril.

Ada pula Malaikat yang memiliki tugas yang mengatur rizky, mengatur iklim dan siang malam, perjumpaan untuk mempertemukan kita dalam pergaulan dengan orang-orang yang memiliki frekuensi (kesenangan, pekerjaan, hobi dll) yang sama dengan diri kita. Setiap diri manusia punya iklim personya, punya siang malamnya masing-masing dan punya kecenderungan warna yang masing-masing pula. Sehingga ketika metabolisme dan anatomi tubuh bekerja dengan seimbang dan baik, bisa jadi itu merupakan hasil kerja departemen Tata Kelola yang dikomandani oleh Malaikat Mikail.

Lalu siapa Malaikat yang menyalurkan gelora, memberikan semangat kepada diri kita dengan tiupan sangkakalanya selain Malaikat Isrofil. Kita tahu akan sangat mudah mengangkat tangan namun akan sangat susah mengangkat gairah. Lalu sejak kapan gairah itu bisa mendorong kita untuk bangkit dan kembali bersemangat untuk berjuang? Maka ketika gairah, semangat, krentek, dlsb itu menyeruak bisa jadi adalah hasil kerja departemen Kebangkitan yang dikomandani oleh Malaikat Isrofil.

Dan ketika kita mengingat sebuah perkembangan dari bayi, menjadi anak lalu menjadi remaja yang memerlukan wadag di setiap perpindahannya, ialah Malaikat Izroil yang menyusun wadag baru memindahkan kita ke dalam wadag baru tersebut. Dalam ilmu kedokteran ini mungkin yang diterjemahkan sebagai proses pergantian sel dimana sel tubuh manusia akan perkembangan dan perubahan hingga berubah 100 % per sepuluh tahunan. Dan disaat kita sadar bahwa setiap Malaikat ini terus bekerja tanpa henti, kembali kita mengingat siapa yang memberikan perintah kepada mereka, mengapa mereka mau mengabdi pada urusan kita?. Ingat, Malaikat sangat setia dan tunduk kepada Allah swt dan begitu tunduknya sampai mau menundukkan diri kepada manusia atas perintah Allah. Jadi bukan manusianya yang menjadi faktor tunduknya para Malaikat melainkan perintahnya Gusti Allah.

Nabi dan Rasul

Ketika hal ini belum mengkonstruksi kesadaran dan menangkapnya, maka masih ada cara Allah ‘mewajahkan’ diriNya untuk bisa disyahadati manusia. Yakni kepada diri pada Nabi dan Rasul Allah. Yang hadir dengan bentuk dan rupa manusia, yang berbicara dan berkehidupan sesuai dengan manusia, namun memiliki prilaku dan berkebudayaan manusia. Maka beriman kepada Nabi dan Rasul menjadi hal yang dianjurkan agar kita mampu menjumpai wajah Allah yang paling memenuhi syarat jasad kemanusiaan. Andaikanpun pada sementara pihak kemudian tidak lagi berkesempatan berjumpa kepada para Nabi dan Rasul secara dhohir maka masih ada kitab-kitab yang kita temui. Untuk mempelajarinya diperlukan pikiran yang jujur dan hati yang bersih untuk bisa menemukan langkah-langkah untuk diri kita membangun kecintaan kepada Allah dan membersamakan diri kepada kanjeng Nabi Muhammad.

Kitab, Hari Akhir dan puncak ketentuan

Ketika akal, pikiran, dan hati telah berfungsi untuk menemukan perjumpaan kepada Allah, pada berikutnya adalah kemungkinan beriman kepada Allah dengan meniti koordinat individu. Menemukan ‘wajah’ Allah yang dititipkan pada diri untuk menjadi alat baca bagi yang lain. Percaya kepada hari akhir seperti halnya mempertimbangkan resiko yang diterima atas perilaku yang kita lakukan. Jika kamu melakukan suatu perbuatan dan tercegah karena bertafakur atas resiko yang akan datang, maka engkau beriman kepada hari akhir dan dengan demikian kamu menemukan hari kebangkitan untuk dirimu sendiri. Pada jaman sekarang ini masih sangat memungkinkan diri kita untuk menemukan petunjuk-petunjuk dari kitab-kitab dan pengalaman hidup untuk menemukan jalan menuju hari kiamat (qiyam) kelak. Dalam waktu satu hari saja minimal kita sudah mengucapkan ihdinash shirathalmustaqim sebanyak tujuh belas kali. Dimana kita tegas meminta hidayah untuk mendirikan jalan yang benar, jalan yang menegakkan. Maka paling tidak dalam sehari semalam kita sesungguhnya sangat berkemungkinan tumbang dan terpuruk berkali-kali dan mendapatkan pertolongan petunjuk dari Allah swt untuk tergugah dan bangkit menunaikan kemanfaatan. Hari akhir dalam satu hari bisa berjumlah lebih dari satu. Hari akhirnya tidur adalah bangun, hari akhirnya bangun adalah beranjak, Hari akhirnya berangkat menuju suatu tempat adalah sampai pada tempat itu, dst. Nah dalam kondisi-kondisi itu kita dalam suasana diberikan petunjuk dalam-dalam  yang menegakkan atau tidak terletak pada iman pada hari akhir.

Yang terakhir, untuk menuju hari akhir tersebut dengan tetap berada di dalam koridornya atau tetap didalam jalur yang benar. Perlu usaha yang tegen dalam menjaga posisi Makhluk dan Khalik dengan alat sambung bernama Akhlak. Disini kita boleh merencanakan dan mencita-citakan versi hari akhir yang terbaik menurut cara pandang diri kita, akan tetapi tetap Allah yang menentukan. Dengan demikian kita serahkan puncak dan ketentuan pada mekanismeNya, insya Allah itu sekaligus implementasi beriman pada Qadha dan Qadar Allah swt.

Fitrah dan konsep penciptaan produk

Pertanyaan berikutnya muncul dari Mas Son. Tentang tema yakni Maskumambang dan Mijil merupakan dua tembang Macapat dimana masih ada Sembilan tembang lainnya. Apakah ke Sembilan ini disumbangkan oleh masing-masing dari Sembilan wali (walisongo) yang ada di pulau Jawa ini. Langsung direspon oleh Mas Agus bahwa belum diketahui apakah ke Sembilan tembang lainnya itu disumbangkan oleh ke Sembilan wali, akan tetapi kita sebaiknya tetap membuka cakrawala untuk menemukan sejarah yang valid. Namun yang jelas, bahwa semua tembang ini digunakan sebagai sarana dakwah oleh para wali.

Dari Maskumambang sendiri terdapat dua kata didalamnya yakni Mas (emas) dan Kumambang (terapung). Bahwa didalamnya terdapat makna untuk menyadarkan bahwa janin tersebut bukan sekedar lemah atau tanah namun emas yang berharga dan harus dijaga. Hanya iblis lah yang mengatakan kita manusia ini hanyalah lemah atau tanah. Padahal sebenarnya diri kita ialah khalifah di dunia ini. Namun selain manusia disetting untuk menjadi seorang khalifah juga diseting diri kita ini sebagai seorang abdi, selain ahsanni takwim juga bisa sebagai asfalasafilin. Ketika ada sebuah kritik (dari iblis) kepada sebuah produk baru ciptaan Allah, tugas kita berikutnya kita sebagai produk itu ialah apakah kita ini menyetujui dan membenarkan kritik itu atau tidak menyetujui dan membuktikan bahwa kritik tersebut tidak keliru.

Ketika kita mampu untuk menjaga dua hal ini yakni Maskumambang (Rahim) dan Mijil (Rahman) maka sangat memungkinkan untuk menemukan makna-makna hidup yang dilukiskan dalam Mocopat. Dari tembang ke tembang berikutnya semuanya pitutur agar kita senantiasa ingat dan tidak terlena untuk menjaga makna dari fitrah itu sendiri. Karena di dalam posisi kita sekarang terdapat adanya akal yang matang yang sekaligus juga mematangkan nafsu yang membungkus fitrah diri. Oleh karena itu akan ada zakat fitrah yang zakat fitrah ini sendiri merupakan simbol untuk menjaga posisi kita untuk berikatan dengan manusia lainnya dalam hal rasa sayang. Maka spirit zakat fitarh bisa diejawantahkan di bulan dan hari-hari yang lain. Sama halnya ketika kita masih bayi dahulu, apabila kita mengompol, menangis, dll maka tidak akan lantas mendapat amarah dari sekitar. Karena rasa sayang yang dimiliki oleh sekitar lebih besar daripada ketidaknyamanan yang mereka tanggung.

Semakin malam, cangkrukan ini semakin menarik setelah Mas Vino menyumbangkan suaranya dengan iringan gitar akustiknya, ia persembahkan lagu Letto yang berjudul “Lubang di hati” sebelum jamaah memulai sesi kedua.

Persembahkan Lagu Letto Yang Berjudul “Lubang Di Hati” Oleh Mas Vino

Persembahkan Lagu Letto Yang Berjudul “Lubang Di Hati” Oleh Mas Vino

Mengawali sesi dua, muncul sebuah pertanyaan tentang pengumbaran aurat yang dilakukan oleh kebanyakan manusia pada jaman sekarang. Dan ditanggapi oleh Mas Agus bahwa apa yang ada tidak harus ditemukan dalam hidup, karena hidup ini kontinyu. Artinya kita tahu bahwa keadilan itu ada namun belum berjumpa keadilan hanya simbol-simbol dan jubah-jubah keadilan yang penuh muslihat. Kita tidak di dalam posisi menuntut kepalsuan itu, namun memulai untuk bersikap murni. Yang sama- sama murni nanti pasti akan dihimpun dan berkeluarga agar tidak sendirian dan tanpa pewaris. Pada orang-orang jaman dahulu sebelum turunnya Nabi Muhammad justru mempunyai sisi moral dan akhlak yang lebih baik, padahal belum ada Nabi dan Rasul pamungkas, yakni kanjeng Nabi Muhammad yang membawa ajaran yang sempurna.

Ada ilustrasi asumtif yang menarik, Jaman Purwa atau Jaman awal, atau Jaman permulaan adalah jaman yang dihuni oleh manusia-manusia yang berasal dari sebuah ardho yang sudah mengalami jaman akhir, sebuah ardho lain yang dikiamatkan. Mereka yang menghuni pada awal-awal jaman di bumi yang ini benar-benar dalam orientasi ruhani yang dorongan utamanya adalah Memayu Hayuning Bawana sebagai bentuk menunaikan hutang akhlak yang tidak berhasil ia pahami apalagi ia sempurnakan pada ardho sebelumnya. Mereka pernah mengalami kualitas moral yang rendah sehingga sangat terdorong untuk membangkitkan moral yang luhur, mereka pernah mengalami carut marut kekufuran sehingga bergiat untuk menjalani hidup penuh ketengangan dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Mereka pernah mendewa-dewakan materi dan menyembah kepentingan pribadi sehingga menjadi pihak yang alergi menjalani kehidupan yang mengutamakan urusan duniawi dan memperebutkan urusan materi yang sangat tidak berarti. Jadilah peradaban Purwa menjadi peradaban penuh kegemilangan dan kucuran nikmat.

Manusia yang tidak mampu menemukan kesadaran di dunia akan dibantu kesadarannya di alam berikutnya, melalui tahap peleburan dan lalu difitrahkan kembali. Ketika telah dipresisikan kembali maka akan dapat mengingat setiap kerusakan yang pernah dilakukannya.

Namun kesalahan yang ia lakukan sebelumnya tidak bisa diulang untuk diperbaiki pada dunia yang ia rusak, ia bisa mengambil pengalaman ilmu dan hikmah dari kesalahannya tersebut. Kemudian pengalaman itu ia bisa pergunakan untuk memperbaiki kualitas hidup berikutnya pada kesempatan yang diperkenankan Allah swt. Ketika ia kembali menjadi pihak yang diperjalankan kembali hidup di bumi, pilihan utamanya adalah mengabdi dan menjadi khalifah yang baik. Mencegah destruksi dan kooperatif dalam proses konstruksi peradaban. Tidak menjadi lagi menjadi bagian dari sebuah kehancuran atau part of destruction. Namun khalifah yang sesungguhnya, yakni: part of development.

Penghuni peradaban purwa ini memiliki cara-cara yang lebih presisi dalam menjalani hidup, memiliki cara pandang yang tajam dan pertimbangan yang komperehensif. Dan hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi karena peradaban yang mereka tata di kemudian akan menjadi sebuah prototipe untuk diteruskan oleh zaman berikutnya.

Setiap arwah yang turun untuk mendampingi setiap zaman tidak selalu diisi oleh arwah yang memiliki pengalaman pahit sebuah kehancuran. Ada yang masih belum sematang itu sehingga akan lahir dan arwah baru yang lebih mengutamakan kesenangan dan sematan jasad daripada kematangan ruhani. Dengan demikian peradaban akan selalu terdistorsi menjadi peradaban dengan kualitas lebih rendah. Hingga akhirnya akan muncul sebuah kegelapan atau jahiliyah, sehingga butuh Rasul untuk memberikan sebuah cahaya didalamnya. Oleh karena itu pada masa sekarang ini, kita sudah sulit untuk melakukan teleport, telepati, telekinesis, dll. Bahkan membutuhkan alat-alat eksternal untuk mencukupinya. Itulah ejawantah dari peradaban diri internal menjadi teknologi eksternal. Dan langkah yang terbaik untuk ditempuh sekarang ini salah satunya ialah berusaha memurnikan fitrah agar tidak menjadi bagian dari penghancuran dan kehancuran. Menjaga kesaksian dan bercita-cita dalam sebuah ruang kehendak yang menjadi Kehendak Allah sendiri.

Sebagai intermeso :Ilmu fisika pada masa sekarang ini menjadi sebuah senjata atau alat untuk mengakurasi sebuah kesaksian. Penemuan dan statement dalam ilmu fisika banyak sekali yang sinkron dengan ajaran agama. Maka dengan iman yang baik, ilmu fisika merupakan salah satu cara yang bertanggungjawab secara lahir dan bathin dalam menegaskan kesaksian.

Namun ketika dunia ini menjadi sebuah tempat yang sangat ideal untuk mendapati kesempurnaan. Maka jangan heran jika cita-cita dan kehendak ideal yang ingin kita jumpai dalam kehidupan tidak hadir secara ideal. Banyak penyelewengan, pemutarbalikan, dan pangkasan-pangkasan yang penuh muslihat. Jika semuanya ideal; Pemerintahannya ideal, petaninya ideal, pertahanan dan keamanannya ideal, kreatifitas dan teknologinya ideal, ulamanya ideal, pemangku keadilannya ideal, pelaku ekonominya ideal, dlsb. Maka tidak ada majlis tidak ideal seperti majlis gugurgunung ini. Kita cukup masuk ke wilayah kontributif dalam hidup yang kompatibel dengan abiliti yang kita punya. Maka idealnya adalah kita belajar menemukan hikmah paling ideal dengan karunia kahanan yang tidak ideal ini. Salah satu hikmahnya adalah tidak pasif dan stag, namun justru dinamis terus mencari kualitas ruhani dengan beberapa alat asah yang menajamkan langkah pengabdian.

Sebuah cita-cita setinggi langit akan menjadikan tinggi dan besar. Padahal yang Maha Tinggi dan besar hanyalah Allah semata. Kita tidak akan mampu untuk menyapu setiap jalan misalkan dari pecahan kaca/beling, ketika yang kita mampu lakukan hanyalah memakai sandal saja maka akan dirasa cukup untuk menjalani kehidupan yang seperti ini.

Down Sydrome dan Professor

Masih berlanjut dengan pertanyaan dari jamaah, kali ini Mas Dhika yang mengajukan sebuah pertanyaan. Yakni tentang penjelasan Mas Agus di awal untuk Mas Syarif, bahwa orang-orang down syndrome, juga memiliki sebuah metode yang mereka lakukan untuk membersamakan diri dengan yang lain, atau silaturahmi. Bagaimanakah mereka melakukannya? sementara pada sekarang ini orang-orang seperti mereka lebih banyak untuk dipinggirkan. Ditanggapi oleh Mas Agus dan Mas Son. Pertama dari Mas Agus ialah, bahwa di dalam petuah orang Jawa terdapat kalimat, Nepaake Sariro (menempatkan rasa) yang akhirnya menjadi kata Tepo Sliro. Yang notabennya merupakan sebuah ciri yang melekat di dalam orang Jawa. Di dalam film Rayya, terdapat tokoh yang memang ada di dalam dunia nyata, yakni Pak Slamet si penunggu Tugu Jogja yang dirasa oleh orang-orang di sekitar tidak memiliki kelengkapan (ora jangkep). Atau bisa dikatakan gila. Padahal Pak Slamet merupakan orang yang sangat sopan, penuh keramahan dan kasih sayang dengan memberikan senyuman yang ikhlas kepada siapapun orang yang melintas, ia meramahtamahi dan menyapa orang-orang itu. Inilah salah satu yang dimaksud membersamakan diri mereka terhadap lingkungan sekitar. Karena senyuman adalah sebuah harta yang ia miliki, maka ia sebarkan kepada siapapun saja dengan tulus. Bahwa apakah caranya itu terverifikasi oleh kelaziman atau tidak yang pasti Pak Slamet punya cara untuk menjalani hidup. Dia itu terlihat sendiri, dan berbeda, namun kita seharusnya mampu untuk menyadari bahwa dunia ini sangat penuh dengan perbedaan dan menjadikan setiap perbedaan itu adalah sebuah bacaan untuk menuntun diri kita untuk menjadi lebih baik.

Tanggapan kedua muncul dari Mas Son tentang pertanyaan dari Mas Dhika tadi. Bahwa dia menemukan bacaan dimana inti dari keseharian hidup kita ialah diharuskan untuk bersyukur. Dan salah satu dari bentuk syukur itu diwujudkan di dalam sholat minimal lima waktu di dalam keseharian. Dengan basic dari Mas Son sendiri merupakan seorang yang memperdalam bidang ilmu kedokteran, mengetahui; bahwa sel darah merah di dalam tubuh kita ini hingga saat ini masih belum mampu diproduksi oleh para pakar kesehatan di dunia. Dan sel darah merah ini merupakan salah satu dari banyak sel di dalam tubuh. Dengan jumlahnya yang sangat banyak pula. Di dalam setiap milliliter darah, terdapat sekitar lima juta sel darah merah. Sementara didalam tubuh kita terdapat lima liter darah, sehingga terdapat sekitar dua puluh lima miliar sel darah merah yang hanya memiliki masa hidup sekitar seratus dua puluh hari. Dan jika dibagi setiap harinya, maka kita mendapat sekitar dua ratus sepuluh juta sel darah merah baru jika kita hargai per sel satu rupiah pun, maka kita tidak akan mampu untuk membayarnya yang itu merupakan salah satu pemberian rejeki dari Allah untuk kita. Selain itu terdapat pula sel genetika yang memiliki kekhasannya di setiap masing-masing sel. Tubuh manusia normal memiliki empat puluh enam sel. Orang down syndrome memiliki hanya empat puluh lima sel, itulah yang menjadikan perbedaan. Namun orang-orang yang memiliki empat puluh lima sel ini, justru yang diselamatlkan dari syariat dunia. Mereka tidak akan bisa dihukum jika tidak menunaikan syariah agama.

Kembali Mas Agus melanjutkan bahwa, Maskumambang ialah proses bagi diri kita dijaga dari sebuah ingatan tentang enam hal di dalam rukun iman. Dan proses mijil ini adalah proses pelupaan tentang enam hal ini. Jika di dalam ilmu kedokteran, diketahui bahwa yang pertama diciptakan ialah otak, dan yang terakhir diciptakan ialah kelamin. Semacam isyarat bahwa kita adalah arwah yang bukan laki-laki atau perempuan yang sedang menjunjung kelelakian atau kebetinaan, namun arwah yang menghamba pada Tuhan dengan salah satunya kelak menjalani kehidupan dunia dengan sebuah identitas laki-laki atau perempuan. Hal ini mungkin dapat kita ambil pelajaran bahwa, pertama kali yang harus dibereskan ialah otak yakni akal. Orang-orang down syndrome pun sama dengan orang setara professor. Mungkin professor yang mengajarkan tentang black hole atau rumus relativitas, namun orang down syndrome mengajarkan tentang hidup tanpa pretensi dan berterimakasih dengan karunia hidup yang ia dapatkan. Kedua macam orang ini sama-sama memegang peranan penting di dalam kehidupan. Dan dibutuhkan posisi netral supaya dapat menembus jasad yang membungkus ini. Bahkan ketika fungsi anatomi tubuh dengan hati sinkron maka bukan mustahil jika kita mampu untuk mendengar atau melihat suara dan bentuk-bentuk non jasad. Dunia ini boleh “nyata” namun tetap harus kita telaah secara nurani agar diri kita tidak terjebak di dalam kata-kata. Karena kedalaman tidak akan menenggelamkan, namun kedangkalan lah yang menenggelamkan.

Berterima kasih

Dalam menjalani kehidupan, kita kerap kali menerima hasil dari air, api, tanah, angin. Namun yang sering dilakukan oleh orang-orang sekarang bukanlah berterima kasih apalagi mengucap salam, bahkan lebih sering secara spontan mencetuskan umpatan-umpatan ketika mendapat beberapa kondisi yang tak berkesusaian dengan selera diri. Artinya kita satu-satunya yang mengaku dan mampu mengumandangkan kata-kata berbudaya namun terbiasa tidak berbudaya dalam ruang sesrawungan yang mesra kepada alam. Empat elemen itulah yang menjadi objek untuk disalahkan ketika terjadi bencana misalkan banjir, kebakaran, gempa bumi, ataupun angin ribut.

Sebuah pesan dari Mas Agus yang cukup menyalurkan power di dalam cangkrukan malam ini ialah, kita sebagai perwakilan dari mayoritas alangkah lebih baik untuk meminta maaf kepada beberapa elemen tersebut. Karena meski beberapa elemen tersebut selalu kita perlakukan buruk, mereka tetap berusaha memberikan sesuai dengan titah yang diamanatkan kepada mereka. Apalagi jika kita perlakukan baik dan kita srawungi penuh kemesraan. Tanah tetap akan menumbuhkan tumbuhan yang mampu kita nikmati sekarang, air tetap menjadi faktor penting di dalam sebuah kehidupan dll. Sebuah ketenangan mungkin akan terbentuk ketika kita membangun komunikasi dengan mereka-mereka yang memegang titah dari Allah yang dicontohkan oleh Mas Agus minimal dari empat elemen tersebut karena sering kita temui di dalam keseharian. Mungkin akan kita rasakan beberapa pengalaman jika kita mencobanya untuk beberapa waktu dekat ini. Jika kita mampu berpikir bahwa baik lapar ataupun kenyang merupakan rahmat dari Allah , dengan tetap diimbangi dengan usaha serta diselimuti jiwa-jiwa yang menghamba bukan dengan tuntutan, maka kita akan mampu untuk membersamakan diri bersama dengan tugas yang dititahkan kepada multi entitas yang bersama menemani dan membantu tugas-tugas kita.

Ketika dirasa cukup, tepat jam 01.46 Mas Agus menghentikan malam diskusi kali ini. Walaupun beberapa jamaah ada yang masih tinggal untuk bercengkerama santai sambil diiringi tawa canda demi membangun adanya sebuah kemesraan di dalam diri masing-masing jamaah.

Redaksi Majlis gugurgunung

Andhika

Rif’an

Facebooktwittertumblr