Nisfu Sya’ban dan Jimat Tolak Balak

Posted in reportase.



Pada Sabtu pekan terakhir di bulan Maret tepatnya 27 Maret 2021. Merupakan Sinau Bareng yang  pertama kali diadakan kembali pada malam hari di Tahun 2021 oleh Majlis gugurgunung. Persoalan pandemi yang belum kunjung usai membuat kegiatan Sinau Bareng sebelumnya diadakan pada pagi hingga siang hari, lantas dilanjutkan dengan menggarap lahan. Meskipun isu pandemi masih ada, namun proses adaptasi terhadap situasi saat ini telah jauh lebih kondusif dan tidak segenting pada awal-awal berita ini mencuat. Apalagi memang sudah terlalu lama kerinduan pada helatan Sinau Bareng malam hari sudah sangat tinggi. Hal baik lainnya adalah untuk kawasan regional Kabupaten, pada bulan Maret sudah diperbolehkan mengadakan acara dan terpenting selalu mematuhi protokol kesehatan.

Bismillahirrohmanirrohim…

Keluarga gugurgunung menyambut dengan sukacita dan memantapkan diri untuk bertempat di komplek makam Syech Basyaruddin – Eyang Benowo Gunung Munggut Pringsari, Kab. Semarang untuk melaksanakan rutinan Sinau Bareng. Tema workshop malam ini adalah “Nisfu Syaban dan Jimat Tolak Balak”. Alhamdulillah  pada malam hari ini dihadiri juga oleh  Pak  Zam beserta putrinya Dek May, begitu juga dihadiri Mas Dany yang pada satu hari sebelumnya telah tiba dulu di Semarang dan satu lagi Mbak Kety teman dari Mbak Cahya yang pada malam itu mendapat kesempatan melingkar, maka diperkenankan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan Tawasul oleh Pak Tri juga  Dzikir, Munajat, Sholawat serta Pangkur Kerinduan dari Mas Agus.

Mas Kasno sebagai moderator memulai acara pada pukul 20.30 dengan bacaan basmallah, kemudian mukadimah dibacakan. Tak lama kemudian turunlah hujan yang semakin deras yang menambah rahmat dan syukur di malam itu. Mas Agus membuka sesi tanggapan oleh setiap jamaah tentang persepsi kesombongan menurut pribadi sendiri-sendiri walaupun keadaan pada malam itu dipenuhi oleh gemercik hujan yang deras maka bersamailah itu dengan rasa penuh bahagia dan syukur dalam ikatan penuh kehangatan dimalam itu.

 

SESI I –
Ngudhari kesombongan diri

 

Maka diawali mas Koko, mempersepsikan bahwasannya kesombongan itu adalah “rumongso biso” padahal seharusnya “biso rumongso”. Berlanjut pada mbak Cahya, mempersepsikan bahwasannya “kesombongan itu ketika kita melihat yang lain lebih rendah daripada diri kita dan kita menyadari itu dan menghentikan kebaikan”. Disusul mas Fidhoh yang mempersepsikan bahwa “kesombongan itu tidak berarti pada orang-orang yang berpakaian bagus karena pada dasarnya itu adalah upaya untuk mengindahkan, tetapi kesombongan itu terletak pada ke-Akuan, tidak mau menerima pandangan orang lain merasa dirinya paling benar sendiri.” Berlanjut pada dek May, mempersepsikan kesombongan adalah “apapun yang dia lakukan atau bersikap merasa benar, dan lebih baik, entah dihadapan sesama manusia ataupun bahkan dihadapan Tuhan.”

Berlanjut lagi pada mas Dhani, mempersepsikan kesombongan adalah “segala yang manusia perbuat tak dia sadari bahwa itu semua berasal dari Tuhan”. Berlanjut mas Dhidit mengajukan sudut pandang bahwa kesombongan itu adalah “merasa lebih tinggi dari siapapun dan singkatnya tidak memanusiakan manusia” mas Dhidit memberikan contoh tentang seseorang yang mendaki gunung dia menganggap dirinya sendiri hebat karena sudah menakklukkan gunung yang tinggi padahal yang dia takklukan seharusnya adalah dirinya sendiri. Disusul oleh Mas Tri, yang mengajukan pula pandangan dan persepsinya bahwasannya kesombongan itu dirasakan dari rasa dan visual, seseorang yang berpenampilan biasa saja namun cara berbicaranya sedikit meninggi dan dalam hal berperilaku tulus atau tidak bisa dinilai itulah letak kesombongan, namun beliau mengungkapkan lagi bahwa kesombongan bisa dilihat juga walaupun belum bertemu bagaimana orang itu sebenarnya meremehkan atau tidak entah disengaja atau tidak mendatangkan kemudlaratan.

 

Mas Nardi menambahkan pula persepsinya bahwasannya kesombongan itu adalah “disaat kebanyakan orang tidak menyadari dan hanya tergantung oleh yang menilai, dari sifat sombong itu sendiri entah itu dari sifat pembawaan atau pun diluar sifat itu”. Berlanjut lagi pada mas Kasno, mempersepsikan kesombongan itu sering muncul dan berdampingan dengan perilaku baik, indah, luhur, keunggulan dlsb. Dan kebalikannya atau lawan dari itu adalah putus-asa karena sering berdampingan dengan perbuatan buruk atau keadaan dimana manusia merasa hidupnya tidak berjalan dengan indah. Setelah mas Kasno, pak Zam menyampaikan pula pandangannya bahwa kesombongan adalah “sesuatu yang hanya menyertakan salah satu sisi saja, entah itu, teknologi, budaya ekonomi dll, dan dapat dianalogikan seperti menomor satukan tangan kanan saja dan tidak menyadari keberadaan tangan kiri, dan kesombongan itu dekat sekali dengan kebodohan dan mengingkari peradaban”. Terakhir pada mbak Kety, peserta baru yang hadir bersama mbak Cahya, tak cuma mau diam, dia juga menyumbangkan pandangannya tentang kesombongan. Persepsinya: “kesombongan itu adalah disaat manusia merasa selalu benar dan tidak mau menerima nasihat dari yang lainnya”.

Mas Agus merasa sangat senang atas pendapat-pendapat yang disampaikan. Diibaratkan sebagai mutiara-mutiara yang satu dengan yang lainnya akan bisa saling belajar dan melengkapi pandangannya tentang kesombongan. Apa yang dipersepsikan tentang kesombongan dari keluarga gugurgunung yang sangat menarik dan otentik. Ini membuktikan bahwa point-point tentang kesombongan telah dipahami dalam diri setiap orang. Semua orang telah memahami sebagai pandangan Ilmu bawah sadar untuk menganalisis kesombongan. Di dalam al-Quran, Allah berfirman untuk tidak memusuhi malaikat Jibril, sebab malaikat Jibril sudah diutus Allah untuk menanamkan Al-kitab dalam dada setiap manusia. Demikian maka pemahaman tentang kesombongan pun sudah diperoleh oleh setiap manusia. Dengan bekal ilmu itu kita memerlukan media yang dinamakan dunia untuk menguraikan ayat demi ayat dari al-Quran yang berada di dalam dada kita tersebut.

 

Kesombongan itu sudah ada sejak Zaman Nabi Adam kalau memang Allah tidak menyukai kesombongan, maka tidak akan pernah menciptakan kesombongan itu, dan jika kesombongan bisa dihentikan oleh Nabi-nabi dan Rasul maka tidak ada lagi orang yang sombong, tapi nyatanya masih saja ada orang yang bersikap sombong. Jadi kesombongan tidak bisa dihentikan sekalipun oleh Malaikat, melainkan oleh dirinya sendiri. Argumen apapun akan tetap bisa dibantah dan dilemahkan apabila manusia selalu eman-eman, nguri-nguri, nglelithing sifat sombong, dan maka timbullah sikap melebih-lebihkan, kalau orang jawa memberi ungkapan “kumo”, kumo ayu jadi “kumayu”, kumo pinter jadi “keminter”, kumo laki jadi “Kumaki”, dlsb.

 

Sebagai contoh, bahwa pandangan yang sudah benar dan baik akan mengalami proses reduksi dengan bantahan yang melemahkan pandangan tentang kesombongan. Mengeruhkan pandangan yang jernih. Orang dibuat lemah dan rendah hati bahkan putus asa jika merasa salah pandangannya. Atau justru orang menjadi semakin bersikeras dan keras hati dengan pandangannya sehingga tak ingin mempedulikan pandangan oranglain. Kedua efek ini sama-sama merugikan. Misal merespon perspektif dari Mas Koko, bahwa kesombongan itu “merasa bisa” padahal seharusnya “bisa merasa”, lantas dibantah kalau “memang bisa” mengapa mengatakan “tidak bisa”? bukankah “merasa bisa” ini juga baik jika yang bersangkutan memang benar-benar bisa? Justru akan lebih buruk jika mengatakan “masih belum bisa” dengan alasan mengakui bahwa kemampuannya masih rendah sementara dan banyak yang jauh lebih baik di dunia ini. Pengakuan yang “masih belum bisa” ini bisa menjadi lebih sombong karena mengabaikan kemampuannya sendiri yang tengah dibutuhkan oranglain.

 

Maka disitulah dikatakan kesombongan itu amatlah lembut hingga kita tidak bisa memahami apa itu kesombongan secara detail. Kemudian sebagai contoh lain respon terhadap perspektif Pak Zam sudah sangat baik dalam pandangannya tentang kesombongan. Tiba-tiba pandangan ini ditentang oleh sebuah pendapat tentang contoh penggunaan tangan kanan tadi dibenturkan dengan adab makan. Seolah ada dialektika baru yang memposisikan seolah pendapat awal tadi memerlukan koreksi. Kita masih banyak punya counter jawaban sehingga kesombongan itu tidak akan pernah hilang.

 

Mekanika pandangan tentang kesombongan itu tidak akan selesai kita akan terus bergulir di posisi salah atau benar. Tidak ada orang lain yang bisa menyadarkan diri kita karena kita selalu punya cara untuk membantahnya. Hanya ada dua pihak yang bisa menyadarkan yang pertama adalah diri sendiri yang mau dan yang kedua anjuran dari yang kita anut. Setiap orang punya anutan, ada yang menjadi panutan. Ciri-cirinya adalah pikiran, perkataan, dan perbuatan berusaha selaras mungkin terhadap apa yang dianutnya.

bahwasannya mereka yang kita anut hanyalah seberkas percikan keindahan yang berasal dari Tuhan, maka hanya pada Tuhan lah sebaiknya meminta petunjuk itu. Membaik sangkai perilakunya maka akan paham tujuannya. kita memiliki kesempatan untuk menggunakan fasilitas yang Allah berikan dan fasilitas itu bisa bermanfaat untuk orang banyak. Cara bersyukur bisa dengan mengaplikasikan apa yang kita bisa untuk memberi manfaat pada orang banyak.

 

Cinta tidak membuktikan pengorbanan, tapi cinta itu membuktikan cinta dengan rela berkorban. Disetiap pribadi, sombong itu pasti ada dan tergantung bagaimana mengontrol dan menyadarinya. Jika tidak menyadari atau mengingat maka ‘biji sawi’ kesombongan itu akan tumbuh secara cepat dan masif. Perbanyaklah perbuatan mulia dan tepat ukuran sebagai perimbangan ‘biji sawi’ yang baik sebagaimana yang tertulis dalam Al Qur’an  Surat Al Anbiyaa ayat 7 dan Surat Luqman ayat 16

 

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۗ وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفٰى بِنَا حَاسِبِيْنَ ﴿الأنبياء : ۴۷

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya’: 47)

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ﴿لقمان : ۱۶

(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti. (QS. Luqman: 16)

SESI II –
Tanya-jawab

 

Setelah dibahas tentang kesombongan, kini tiba waktunya untuk mengutarakan unek-unek dan hal apapun saja yang bisa digelar bareng sebagai bahan pasinaon. Malam Nisfu Sya’ban ini bagi keluarga gugunung dianggap sebagai malam yang sakral dan istimewa karena dipercaya sebagai karunia tertaburnya cahaya langit yang menerpa bagi siapapun yang masih terjaga.

Pak Zam kemudian mengajukan pertanyaan, beliau merasa sedikit gelisah atas permintaan putrinya. “Bagaimana saya bersikap saat saya merasa takut pada anak saya yang ingin masuk pondok, padahal disana anak saya pasti mengalami tekanan-tekanan oleh kebijakan pondok, bagaimana saya bisa menghilangkan kebimbangan dan noktah-noktah itu?”. Mas Agus merespon pertanyaan Pak Zam, untuk meminta kemantaban pada Allah, dengan sholat Istikharah. Jika memang mantab maka bersamailah dengan doa dan pasrah. Bahwasannya sebagai orang tua pasti tidak bisa selalu 24 jam hadir untuk menjamin atas apapun yang hendak menimpa anak. Sedangkan Allah akan memiliki penjagaan yang tak sedikitpun lepas. Apalagi mungkin, si anak justru ingin menguji mental dan kehandalannya dengan jauh dari orangtua meskipun akan merasakan penderitaan dan tekanan. Dia tidak akan bersikap lembut kepada yang hatinya lembut dan akan bersikap keras kepada yang perangainya keras. Proses ini menjadi mental yang juga akan meruntuhkan kesombongan orang lain. Sehingga kita sebagai orangtua yang mungkin merasa cemas dan khawatir benar-benar perlu berkeyakinan atas peran Al Hafidz, Allah Yang Maha Menjaga. Posisi cemas, khawatir dikonversi menjadi ketulusan doa maka semakin hal-hal yang mencemaskan dan mengkhawatirkan itu hadir semakin pula pengharapan dan penyerahan diri kepada Allah ini tersampaikan secara sungguh-sungguh dan tulus.

 

Lalu mas Kasno sebagai moderator menyampaikan pada topik selanjutnya, bagaimanakah upaya pada diri untuk menemukan jimat tolak balak terhadap kesombongan itu sendiri. Dimulai dari Mas Tri, mengutarakan bahwa belum ada upaya dan memilih diam jika ada sesuatu yang mengganggu dan bahkan memilih lari dari masalah atau memilih untuk mencoba tidak untuk bersinggungan, agar tidak terjadi perdebatan yang akan berlarut larut.

Berlanjut pada mas Nardi mengutarakan bahwa upayanya adalah pasrah pada Allah karena semua kesombongan terkadang tidak dapat disadari dan tidak ada petunjuk. Mas Agus sepakat dengan pasrah kepada Allah. Sebab itu tindakan paling dianjurkan sebagai seorang muslim. Sedangkan tentang petunjuk, mas Agus merespon bahwa tak jarang ketidak-hadiran petunjuk itu karena semua ukuran datangnya petunjuk tersebut telah dibuat sendiri patokannya. Misalnya kita minta petunjuk melalui shalat istikharah, justru petunjuk itu hadir dalam bentuk antitesis nya. Sebagai contoh seorang pemuda meminta petunjuk pada Tuhan dengan istikharah untuk mendapat kemantapan hati apakah benar si gadis yang ditaksirnya adalah jodohnya sementara gadis tersebut sudah bertunangan. Si pemuda ini kemudian bermimpi bahwa dalam mimpi di berjodoh dengan wanita itu, saat itu pasti senang dengan mimpi itu dan amat yakin kalau wanita itu jodohnya, namun apakah kesenangan itu lantas membuat hatinya mantab? Ternyata tidak, sebab ia berfikir apakah pantas demi kebahagiaan sendiri harus menyakiti hati orang lain. Ia mungkin mendapat jawaban yang gamblang tapi yang memantapkan hatinya justru menjauh dari gadis tersebut. Maka disitulah kemantaban jawabannya, sesungguhnya saat-saat Tuhan memberi petunjuk, bersama itu juga diberi rangsangan nurani pada hati dan akal.

 

Mas Dhidit mengaku bahwa belum ada upaya dalam hal tolak balak ini, sementara yang bisa dilakukan hanya mencoba untuk terus memanusiakan manusia dan tidak untuk merendahkan untuk memgoptimalkannya, sebenarnya manusia lebih mudah daripada hewan. Mas Agus menyepakati upaya yang tampaknya sederhana ini. Padahal itu adalah sikap yang tidak mudah. Sebab dalam kenyataannya manusia yang kita jumpai tak selalu bersikap sama. Oleh sebab demikian, perlu kiranya untuk memiliki ukuran dan kategori tentang manusia, jangan hanya sekadar yang berwujud manusia namun yang masih memiliki sikap dan perilaku yang mengindikasikan adanya rasa kemanusiaan pada dirinya. Jaman sekarang telah melahirkan kembali raksasa, buta, denawa, yang sekarang dalam rupa manusia. Bentuknya, bahasanya, sama persis hanya keserakahan, kekejian, ketidak-pedulian, grusah-grusuh, kesewenang-wenangannya, masih bertahan dan ingin diluap-luapkan pada dirinya. Muliakan yang layak dimuliakan, dan jangan muliakan orang yang hanya paham kehinaan, sebab jika engkau memaksakan diri untuk memuliakan pada pihak yang tak mampu menghargainya maka upayamu hanya akan dihinakan dan menjadi percuma. Dan jangan pula menjadi grusa-grusu mengambil sikap sebelum mendapat kesimpulan yang valid secara nurani.

 

Fidhoh mengutarakan bahwa upayanya adalah mencoba jangan terlena untuk terus membangun benteng untuk orang lain yang berusaha untuk mengajaknya berdebat. Mas Agus merespon, upaya itu perlu dimutakhirkan sebab jenis perdebatan itu tak selalu hadir secara konfrontatif dari luar namun bisa juga hadir secara konfrontatif dari dalam diri sendiri. Dihimbau agar selalu mencoba memahami debat, supaya bisa mengetahui baik itu secara implisit atau eksplisit, baik secara eksternal maupun internal. Hal utama pada fenomena perdebatan adalah bukan menang dan kalah namun tentang tesis dan antitesis untuk menemukan sintesa. Jika perdebatan hanya untuk mencari menang kalah maka benar buatlah benteng yang tinggi. Namun apabila perdebatan itu terjadi di dalam dirimu sendiri, kamu tak bisa menang separo dan mengalahkan separo dirimu yang lain. Dengan demikian sintesanya adalah membuat keduanya sepakat pada ukuran kemenangan yang dijunjung bersama. Apapun yang dilakukan mengandung resiko tapi jangan mengambil resiko yang merendahkan yang lainnya. Ada perdebatan yang tampak, ada pula pedebatan yang tak tampak. Perdebatan yang tidak tampak ini hadir melalui kondisi yang sama sekali tidak berupa perdebatan namun kondisi tersebut menjadikan polemik dan perdebatan dalam dirimu sendiri. Maka benteng diri untuk mengatasi perdebatan itu adalah sikap tenang dan nalar yang berpegang teguh pada al-biiru (kebaikan).

 

Dek May mengemukakan pendapat bahwa upayanya adalah mencoba sadar jika itu kesombongan dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Mas Agus menaruh apresiasi untuk dek May untuk seusia itu sudah mampu mengemukakan pandangannya secara berwawasan, dan berpesan agar tetap terikat cinta pada Nabi dan Allah.

 

Mas Koko mengutarakan upayanya dalam hal tolak balak kesombongan ini adalah mencoba untuk terus bersyukur tidak membandingkan dengan yang lain, dan selalu menyikapi sombong di era milenial. Mas Agus membenarkan pendapat ini dan memberikan sedikit tanggapan bahwa terkadang kita tidak memiliki kecakapan untuk memindai kesombongan di era milenial ini. Motivasinya akan terbaca ketika ada pola berulang yang tampak, apakah pamer? mencoba menginspirasi? atau lalai? atau memang niat untuk memperlihatkan citra kebaikan. Sombong sudah ada sejak Zaman Nabi Adam hingga Rasulullah Muhammad SAW. Semua Nabi akan berhadapan dengan orang-orang yang sombong. Lantas apakah setelah wafatnya Rasullah maka kita tak lagi menemui orang sombong? Ternyata masih. Dengan demikian apakah berarti nabi dan rasul tidak berhasil menjalankan tugasnya? Sama sekali tidak demikian.

 

Para Nabi dan Rasul telah berhasil dengan gemilang mencontohkan hidupnya yang penuh perjuangan tanpa terpengaruh kesombongan, karena memang tugasnya para nabi dan rasul bukanlah menghapus kesombongan oranglain, melainkan menyempurnakan akhlak dengan contoh perilaku yang tidak mengakomodir kesombongan dalam hidupnya. Sedangkan apakah nubawwah atau risalah ini diterima atau ditentang adalah pilihan masing-masing pihak yang menelaahnya. Oleh sebab itulah maka perlu disadari bahwa tiap-tiap kita ini memilki tugas untuk memperbaiki akhlak kita masing-masing dengan berbagai fasilitas yang Allah telah berikan. Inilah upaya syukur demi terhindar dari sikap kufur. Katakanlah bahwa salah satu fasilitasnya adalah benih kesombongan, akan kita bisa gunakan sebagai apa benih kesombingan itu? Apakah bisa sebagai sikap pengabdian yang menghindarkan kekufuran?  Apabila memang benih itu tak dapat kita hapus maka baik-sangkailah bahwa adanya benih itu bukan untuk digunakan sebagai alat menyombongkan diri melainkan sebagai alat untuk mampu mengindentifikasi secara akurat getaran-getaran kesombongan. Syukur merupakan sikap memimpin diri yang bisa mengeliminasi potensi kekufuran. Pengaturan porsi dan kewaspadaan diri sangat diperlukan. Kufur bisa terjadi lantaran merasa kuasa, dan juga bisa terjadi lantaran merasa tak berarti.

 

Gambaran kesombongan yang disampaikan Pak Zam di awal tadi mengandung maksud yang telah benar, bahwa jika sebuah tindakan atau perbuatan hanya menggunakan satu sisi saja. Menyertakan satu tangan bukan berarti sombong, tapi selalu menggunakan tangan kanan saja tanpa peduli pada fungsi tangan kiri adalah kesombongan. Dalam hidup ada akhlak dan adab. Ada yang memang dianjurkan menggunakan tangan kanan pada satu pekerjaan khusus ada pula yang dianjurkan melakukan dengan tangan kiri pada suatu pekerjaan tertentu, keduanya punya fungsi yang ditata secara apik pada letak yang baik, tak ubahnya manner dalam penggunaan sendok dan garpu.

 

Dalam kehidupan, tema benar dan salah akan terus berputar. Hari ini benar tapi besok salah, dan lusa ternyata benar lagi. Kebenaran absolut sebagai makhluk adalah mengedepankan akhlak. Sebab pada akhlak itu ada niat, tanggung-jawab, kesadaran tindakan, perhitungan dampak, dan keberserahan diri pada Sang Khalik yang Maha Benar. Karena mengawal diri berjalan pada kebenaran adalah tindakan utama pempimpin, pemimpin yang baik bukan hanya mengajak pada jalan yang indah, halus, dan menyenangkan, namun juga perjalanan yang mendaki dan terjal. Sebab perjalanan yang lurus bukan pada bentuk jalannya, namun pada kondisi hati dan mental para pejalan yang tetap teguh tidak mau berbelok dari kebenaran Allah SWT untuk kehidupannya.

 

Tidak boleh melebihi porsinya sebagai pemimpin, mantra pemimpin adalah syahadat. Gamelan menemukan tone-nya secara stabil setelah usianya duapuluhlima tahun dan selama itu pun terus di-laras atau dimainkan, jika gamelan itu berasal dari bahan yang kurang bagus dan tak pernah di-laras (dimainkan) maka notasinya akan lebih rendah dari yang seharusnya. Pada diri manusia bisa jadi terekspresikan sebagai sikap inferior, rendah diri hingga putus asa. Sedangkan apabila gamelan terbuat dari bahan yang bagus yang tak di-laras maka notasi akan terlalu tinggi dari yang seharusnya. Pada diri manusia terekspresikan sebagai sikap superior yang menghantarkan kesombongan. Sedangkan laras pada diri manusia adalah ketukan demi ketukan terus-menerus dalam hidupnya baik berupa kesulitan, sedikit rasa sakit, sedikit kekurangan makanan, dan lain sebagainya demi menemukan kestabilan tone kepribadian dan mentalnya.

Diskusi masih terus berlanjut hingga tengah malam, untaian pertanyaan tersimpan dan tersampaikan terus dirangkai terus dirangkai untuk menemukan sebuah jawaban yamg tentunya bermanfaat untuk sedulur yang hadir pada malam itu. Pada intinya kita dituntut untuk selalu jujur pada diri kita sendiri, waspada pada perbaikan ataupun ketimpangan akhkak. Disitulah kita akan bisa memindai setiap perilaku kita dalam keseharian yang dapat digunakan dalam rangka mengupayakan jimat tolak balak yang bermanfaat untuk orang banyak. Keluarga gugurgunung memungkasi acara dan dilanjutkan dengan makan bersama. Sebelum masing-masing pulang, kami masih sempatkan untuk berkunjung ke Makam Eyang Benowo sambil bermaksud melihat bulan. Namun kabut masih cukup tebal sehingga bulan Nisfu yang kami nantikan tidak terlihat. Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan singgah lagi sebentar untuk menikmati sebatang rokok dan kemudian saling bersalaman untuk pamit ke rumah masing-masing. Alhamdulillah, saat menghampiri motor, langit di atas sangat cerah dan bulan menampakkan bulat purnamanya dengan jernih dan terang. Alhamdulillah.

 

Fidhoh Akmal & Cahya
Juru Panyarik Majlis gugurgunung
.

Facebooktwittertumblr