Posted in reportase.

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– Rahasia Tuhan dibalik Sinau Bareng –



Pak Carik malam ini turut membersamai pula, dan oleh Mas Kasno seketika diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu. Pak Carik menceritakan bahwa baru pertama kali di Gintungan diadakan majlisan dengan kemasan seperti ini. “Biasanya ya ngaji pake peci, sarung, gak ada yang gondrong-gondrong” demikian salah satu respon beliau terkait sinau bareng di maiyah. Pak Carik dulunya merupakan murid dari Pak Kiai Mahrun. Di Mushola yang sama pula, meskipun bentuknya kali ini sudah lebih modern. Pak Carik juga sedikit penasaran tentang alasan pemilihan tempat ini. Menurutnya banyak tempat yang lebih bagus, “apakah akan ada rahasia yang terbuka?” Demikian sambil tertawa. Namun beliau juga penuh harap bahwa apapun yang akan terkuak atau terjadi setelah ini senantiasa mendapat barokah dari Allah SWT. Sedikit bercerita bahwa semenjak dahulu Pak Kiai Mahrun selalu berharap mushola ini menjadi sebuah tempat yang bermanfaat dengan berbagai kegiatan. Mungkin kegiatan ini menjadi salah satu bentuk doa yang dahulu terucap itu.

Putra Pak Kiai Mahrun yakni Ust. Shobirin juga sedang merintis sebuah pondok pesantren berbasis tahfidzul qur’an. Namun dengan konsep yang sedikit berbeda. Sebab diajarkan pula skill yang mampu mendukung tingkat kreatifitas santri untuk diterapkan kelak usai menjadi hafidz qur’an dan hidup di tengah-tengah jaman yang semakin sulit ini. Harapan-harapan yang tentu di-amin-i oleh semua yang hadir.Kemudian ada pula Mas Kafi yang diminta untuk turut merespon. Terpantik dari pertanyaan Pak Carik tentang rahasia apakah yang akan terkuak juga menimbulkan rasa penasaran bagi pribadi Mas Kafi.

Sedikit merefresh sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut. Mas Yoga seorang performer dari Majlis gugurgunung membawakan sebuah lagu. Lagu dari Baraswara yang berjudul Pancarona dipilih untuk dibawakan.Hanya sejarak lima jengkal dari Mas Sabrang, Mas Yoga nampak sangat canggung. Namun di ruang pemakluman ini baik, benar memang bukan hal utama sebab keindahan lebih diapresiasi oleh dulur-dulur yang merasa bungah dan terhibur.

 

Andhika Hedryawan

Facebooktwittertumblr