Posted in Artikel, Mukadimah.



spontanitas






spontanitasMukadimmah: spontanitas

Spontanitas, kata yang nampak sederhana namun justru sulit ketika dimaknai lebih dalam. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,  arti spontan : /spon·tan/ adalah serta merta, tanpa dipikir, atau tanpa direncanakan lebih dulu; melakukan sesuatu karena dorongan hati, tidak karena anjuran dan sebagainya.

Apakah merupakan respon atas stimulus yang perangainya “Seperti” gerakan bawah sadar, karena mungkin seperti tidak berhitung dalam ruang polaritas?

Bahkan ketika semakin ditelusuri lebih kedalam lagi, spontanitas seperti gerakan yang diperintah hati. Kecepatannya sak keclapan, akselerasinya sak klebatan seperti karakter cahaya. Namun gerakan spontanitas, antar orang satu dengan lainnya tentu beda, ini bukan begitu saja terjadi. Hal ini terlatih dalam kebiasaan sehari hari, gerak Inderawi yang terus menerus merespon kondisi sekitar dengan baik, yang lama kelamaan menjadi gerak Ruhani. Cekat ceket yang terakurasi menjadi sebuah  Spontanitas. Jadi, spertinya tindakan spontan adalah tindakan yang lebih mendekatkan pada fatwa hati. Uniknya lagi, tindakan spontan akan berjodoh dengan tindakan yang positif. Contoh: spontan menghindari air panas yang tumpah, spontan membantu korban kecelakaan, spontan memberi jalan pada orang yang mau lewat, Wirid, dan nafas. Spontanitas ialah gerakan yang terlatih seperti Wirid. Lebih dalam lagi Wirid yang kerapatannya seperti Nafas.

Sebuah pertanyaan oleh mas Sabrang. Kira-kira begini; “kowe nak adus seng mbok sabuni ngendi disik? lha kok iku disik kenopo? kok ora nggon liyane?”

Apakah dapat disambungkan pula dengan nasab. apa yang tertulis di alur kehidupan kita pasti ada sambungannya dengan leluhur kita terdahulu. maka tirakat adalah salah satu cara untuk lebih meluaskan kehidupan anak cucu kita kedepan. Nabung, nyelengi bukan untuk diri sendiri namun pelayanan kepada yang lain dalam rangka sebagai abdi.

Dimeriahkan pula malam ini dengan pementasan teater dari sanggar Wangker Bayu. Penaampilan puisi monolog atau teater singkat ini membawakan sebuah puisi dari mas Agus yang berjudul “Percakapan jabang bayi kepada diri”.

Setiap  jabang warna bertindak, maka secara spontan jabang bayi mengikuti, dan ketika tak sesuai fitrah, secara spontan pula jabang bayi mengingatkan jabang warna dengan suara yang sangat lirih dan tenang. suara jabang bayi itu sendiri tak lain adalah suara jabang warna itu sendiri yang harus dicari kebenarannya. dan pencarian ini tidak dpt langsung. bertahap dan istiqomah. teteg dan tetap tenang.

Mungkinkah tindakan spontan itu tindakan yang melibatkan rasa? Pribadi spontan mungkin pribadi yang faham unggah-ungguh dan tepo sliro?

Facebooktwittertumblr