MADU LUMEBER TUMETES

Posted in Mukadimah.



Mengartikan diam sebagai pilihan aktif dalam bersikap. Diam kan statis, sedangkan untuk aktif butuh dinamika. Seperti kita semua tahu, kondisi saat ini tengah ada anjuran tingkat dunia bahwa manusia dianjurkan untuk diam di rumah. Tentunya bukan berarti setelah berada di rumah hanya diam. Mereka tetap beraktifitas dan menjalankan fungsi lumrah kemanusiaan sebagai kegiatan sehari-hari. Oleh sebab demikian, maka diam di rumah tidak bisa disebut sebagai proses statis dan stagnasi, kecuali ketika seseorang telah kehilangan gairah perjuangan hidup, tak punya inisiatif, hingga kehilangan kreatifitas, dimana kreatifitas itu lahir proses syukur, sabar, cita-cita dan gairah mengkontribusi. Syukur dengan pengetahuan yang kita punya, maka ia melakukan percobaan. Sabar pada ketidaktahuan maka butuh menambah pengalaman. Dikarenakan ada cita-cita dengan demikian ia melangkah. Dengan adanya gairah mengkontribusi, membuat ia mengharuskan dirinya sendiri meskipun tak ada yang menharuskan.

 

Seseorang yang kreatif selalu punya peluang emas untuk berkreasi, tak jarang bahwa produk yang brilian muncul justru pada kondisi sempit dan terdesak. Maka mengertikan diam sebagai sikap aktif adalah proses pengeraman atau proses fermentasi dimana seolah tak banyak berinteraksi aktif secara luas namun justru tengah menjalankan pertapaan karya gemilang, yang justru proses pengeraman atau pun proses fermentasi tersebut akan ‘gagar’ atau batal jika tak diam atau menutup diri.

 

Telur yang kemudian hari menetas, ia memerlukan kesanggupan untuk diam dan terjaga suhunya. Ia akan berakhir sebagai telur ceplok atau dadar kalau berkeliaran di atas wajan panas berisi minyak goreng. Nektar tak akan menjadi madu jika tak didiamkan pada sebuah ruang tetap dan terjaga temperaturnya dalam kurun waktu yang lama. Keberhasilan lebah memperoleh nektar karena mereka melakukan penjelajahan dan sikap dinamis yang kentara, namun untuk menjadikan nektar menjadi madu justru harus menetap dan terjaga di rumahnya. Sehingga berkeliaran adalah mencari bahan baku dari hamparan karunia Tuhan yang ditaburkan ke bumi. Dan tinggal di rumah adalah memproses bahan-bahan dari hasil unduhan karunia tersebut menjadi produk yang berkhasiat dan dicari banyak orang.

 

Kondisi ini perlu kiranya kita telisik, sesungguhnya rumah yang dihuni oleh masyarakat Maiyah itu apa? Dimana? Dimana ruang tamunya, ruang keluarga, kamar-kamar tidur, jedhing, dapur, pekarangan, dan halamannya? Tentunya hampir seluruh masyarakat Maiyah tahu dan oleh sebab demikian marilah kita semua tak usah terlalu peduli pada virus-virus kepentingan, hasutan, dan segala ocehan sampah yang tak pernah mampu menghasilkan manisnya kehidupan, justru mbudhet, mbulet, pahit dan saling menebarkan kegetiran. Sebaiknya kita tetap tinggal di rumah, tak berhias seperti kaum jahiliyyah, dan agar Tuhan membersihkan diri kita, sebersih-bersihnya.

 

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا ۚ ﴿الأحزاب : ۳۳﴾

 

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab: 33)

 

 

MUMPUNG PADHANG REMBULANE, MUMPUNG JEMBAR KALANGANE.

 

Apabila orang diminta untuk menyaksikan bulan, bukankah ia perlu menunggu malam tiba? Bukan soal waktu tapi soal suasana. Pada malam menghadirkan suasana gelap, sehingga akan memperlihatkan taburan cahaya langit dan benderangnya rembulan. Dan saat malam tiba dan ternyata bulan tidak nampak, apakah mendung? Apakah akhir bulan? Atau bagaimana apabila ternyata kita lah rembulannya? Ah tentunya sama sekali tidak mungkin bukan?

 

Ummat Islam punya utusan yang kepada beliau tersemat sebagai “Syamsun”, “Badrun”, bahkan “nuurun fawqo nuurin”. Beliau matahari, karena risalah yang beliau emban membawa cahaya yang menyibak kelamnya kebodohan dunia. Dan beliau adalah rembulan, karena beliau punya ummat yang siap muncul melanjutkan cahaya pada saat kebodohan berusaha tampil kembali berniat menenggelamkan risalahnya. Lalu apakah kita sekadar qomar, sekadar rembulan? Ataukah badrun, bulan purnama? Mari kita ingat segitiga cinta yang Mbah Nun ajarkan kepada kita anak cucunya.

 

“Mumpung jembar kalangane”. Kalangan adalah cahaya melingkar yang mengelilingi rembulan, sehingga hanya tampak saat bulan berbentuk bulat. Saat bulannya sabit kemungkinan kecil untuk bisa muncul. Sehingga orang-orang membuat kalangannya sendiri. Ada kebiasaan yang rutin dimeriahkan setiap malam purnama; Pandhang mbulan. Pada saat bulan mulai bulat apalagi purnama, orang-orang keluar dari rumahnya meleburkan pada kalangan rembulan. Dengan melantunkan tetembangan, bercengkrama dengan tetangga meski hanya duduk di lincak beranda sambil berkepul asap rokok, wedang, dan panganan, ada keceriaan anak-anak yang dolanan di halaman, ada pula yang berbagi kebahagiaan lain yang pada intinya tetap ingin terlibat dan menyatu pada kemeriahan pesona Badrun tersebut.

 

Demikian pula peristiwa pada kehidupan. Keutuhan tampil sebagai rembulan adalah kebutuhan membawakan diri sebagai penerus perjuangan dari yang telah dirintis dan diperjuangkan oleh para Nabi dan dipungkasi oleh Rasulullah Muhammad SAW. Perjuangan itu memerlukan kebulatan agar tidak menghadirkan bulan-bulan sabit tidak bulat dan tak benderang. Sebagaimana bahwa kanjeng Nabi tak membuat akhlaknya menjadi baik hanya sebulan sekali, melainkan setiap saat. Saat ummat penerus ini lemah, sehingga tampilannya tidak utuh, maka keberadaannya tak benar-benar menjadi faktor yang dirindukan dan tidak menjadi toloh utama di saat kelam. Orang-orang akan berkumpul secara terpisah dan membuat kalangan sendiri-sendiri untuk tampak paling mumpuni sebagai yang paling benderang. Ada kalangan politik, ada kalangan seni budaya, ada kalangan pecinta lingkungan, ada kalangan selebritis, ada kalangan terpelajar, ada kalangan petani, ada kalangan pedagang, ada kalangan pengusaha, ada kalangan ulama, ada kalangan priyayi, ada kalangan dukun,hingga kalangan penggemar sinetron. Kalangan demi kalangan akan terus muncul dan kian tak bermutu karena tak segera berjumpa kalangan rembulan yang membenderang dari langit dimana cahaya purnamanya yang lembut tertebar indah dan ramah ke penjuru permukaan bumi, cahayanya yang indah dan ramah merasuk ke dalam setiap sanubari. Ramah dan indah pangan dan pertaniannya, ramah dan indah politiknya, ramah dan indah seni budayanya, penataan lingkungan dan alamnya, ramah dan indah perdagangannya, pendidikannya, hankamnya, teknologinya, para orangtuanya, anak-anak dan generasinya, ramah dan indah al-mutahabbina Fillah.

 

Ungaran, 27 Februari 2021

Facebooktwittertumblr