Posted in Kembang Gunung.



BOLOR & JOLODONG






Majlisgugurgunung:: Suatu ketika Jolodong datang menemui Bolor untuk memamerkan foto-foto gadis-gadis molek dan mengatakan kepada Bolor bahwa itu bukan download dari internet tapi kenalannya. Mereka bisa dikontak via BBM atau WA dan diantaranya ada yang mau gratis karena gak semuanya urusan butuh duit, ada yang butuh lawan jenis dan kepuasan. Semacam hobby.

Bolor : Bener gak itu?? (agak ngiler)
Jolodong : Beneran! kamu mau yang SMP, yang sok mau cepet gede, Oon dan masih bau kencur? Ada. Mau SMA yang masih labil dan kepo dalam banyak hal termasuk urusan sex? Ada. Kamu mau yang mahasiswi? Gila itu buanyakkk lagi. Atau kamu yang jilbabers? Sst… itu pun ada, semua punya kostum masing-masing. Yang cuman kesepian? Yang nyambi berprofesi sesuatu? Yang maniak boleh pake gratis asal memuaskan? Ada juga yang mabuk bingung gak ngerti pulang sehabis jeng-jeng dari diskotek, itu lebih mudah lagi! Ada semua itu.. Mau nggak??

Bolor : NGgg.. edyan ya? Mingin-mingini tenan e kamu
Jolodong : Tak kontak sekarang… datang ini..
Bolor : Sik sik….
Jolodong : wahahahaa… takut yo kamu?? Gak usah ingkar sama hati nuranimu, hatimu kan pengen ya sudah dilakukan. Daripada nanti kepikiran, gelisah dan mempengaruhi banyak hal dalam aktifitasmu.
Bolor : Hati nurani nDhuasmu… iki urusan peli, syahwat, kacuk, cuuukk. Aku ancen ngacengan kau tawari gituan
Jolodong : wahahahaha…. Lha terus? Piye? Mau nggak?
Bolor: Nggak!!
Jolodong : Nggak pengen?
Bolor : Pengen..!
Jolodong : Lhoh pengen, ada kesempatan, ada fasilitas? Kurang opo maneh kalo bukan kurang keberanian
Bolor : Nahhh… itu bener Lod, aku kurang memiliki keberanian. Dan bahkan asline aku takut, bukan takut sama si A, si B, si anu, si itu, aku takut kepada diriku sendiri. Aku takut ketagihan. Sehingga segala hal yang saat ini masih menjadi alternatif kebahagiaanku menjadi tertutup karena kalah keindahan, pesona, dan daya tariknya oleh wawuk. Aku jadi memasuki putaran cokromanggilingan yang ingin lepas tapi gak bisa lepas karena kasat matanya justru aku diumbar, ingin memutus tapi gak ingin terputus karena untuk memutus hal yang paling memuncaki segala kenikmatan dan keindahan itu bener-bener butuh akal yang jernih, iman yang baik, dan cinta kepada Tuhan yang begitu besar.
Sedangkan aku tidak seperti itu. Akalku jongkok, Imanku tipis, dan cintaku kepada Tuhan masih banyak sekedar kepura-puraan. Jika kemudian aku menemukan puncak kenikmatan yang mampu mengusir kenikmatan yang lain, termasuk kenikmatan berTuhan. Jika itu yang terjadi betapa aku memilih untuk terjebak pada penyembahan kesenangan yang sesungguhnya akan menyengsarakanku di hari tua, di hari papa, di hari duka, di hari ajal mulai menyapa. Gitu Lod..
Jolodong : edyan.. aku tak pamitan sik.. kayaknya aku perlu nyari pawang buat nangani orang kesurupan. | Belum sempat pergi, Bolor menyambung kembali kalimatnya
Bolor : Masaku sebagai laki-laki selesai ketika peliku wis gak iso ngaceng maneh Lod, setelah itu jika aku gak siap jadi manusia dan berharap bisa terus melanggengkan kekuasaan dan peranku sebagai laki-laki maka aku akan tertekan dan menemukan neraka saat melihat perempuan cantik, kulit mulus, bibir basah merekah, dan semua hal-hal yang hanya berpasangan dengan kelaki-lakian. Dan jika aku tak siap jadi manusia betapa itu semua sungguh menakutkan Lod. Kamu masih punya hasrat kelaki-lakian atas perempuan dan ada perempuan secantik bidadari tergolek telanjang di hadapanmu dan mengajakmu bersetubuh gratis dan kamu bener-bener ingin dan nggak bisa melakukannya karena kondisi fisikmu sudah tidak memadai. Itu seperti singa lapar yang dihadapkan daging kijang segar siap santap tapi mulutnya dijahit. Bayangkan! Itu menyiksa banget.
Sedangkan jika sejak sekarang aku belajar menjadi manusia, maka kelaki-lakianku cuma identitas peran dan berfungsi sebagai laki-laki di bawah pertimbangan nalar kemanusiaan yang beradab. Aku belajar tentang peran sebagai Manusia. Manusia itu bisa diperankan oleh laki-laki dan oleh perempuan, namun manusia itu bukan laki-laki dan bukan perempuan. Manusia inilah yang jika ia diperankan oleh laki-laki ia tetap memanusiakan perempuan dan jika diperankan perempuan ia akan memanusiakan laki-laki, ia tak akan depresi dan tertekan ketika kehilangan fasilitas dan tak lantas muram jika tidak terhidang lawan kelamin. Lawan kelamin! Bukan lawan jenis, karena jenisnya sesungguhnya sama yakni Manusia.
Manusia-lah yang akan tetap mampu bertahan hidup karena urusan manusia adalah mengabdi dan mengakhalifahi muka bumi. Jika aku tidak mulai berfikir untuk melangkah menjadi manusia sama saja aku memilih menjadi depresi sebab masa puncakku sebagai laki-laki berangsur pudar waktu demi waktu. Aku takut betul kepada diriku sendiri yang tak mengerti tahapan kapan harus makan dan kapan harus berhenti.
Jolodong : Stop stop.. Bol kamu ini tiba-tiba ngoceh ngalor-ngidul kaya kesurupan, itu benar-benar menjelaskan betapa kamu takut dan takut. Intinya kamu takut tidak mampu menahan diri atas dorongan keinginan di pagi hari yang ketika kau ambil tak akan membuatmu tetap bisa menikmatinya di penghujung hari kan? Aku jadi ingat kata-kata simbahku ketika itu
Bolor : Gimana itu Lod?
Jolodong : Simbahku mengatakan :
“Ketahuilah Ngger, kelak saat usiamu makin renta dan mendekati lanjut. Sesungguhnya apa-apa yang sangat menggiurkanmu untuk kau petik akan kau sadari bahwa sesungguhnya kau tak menginginkannya. Kau hanya menginginkan memetik hal yang ketika kau lanjut dan renta masih tetap bisa kau nikmati, dan senikmat-nikmatnya memetik adalah menggigit hasil petik dari tanaman yang kau tanam sendiri.”
Bolor : Nah.. aku setuju sama simbahmu.

Ungaran, 11 Dzulhijjah 1437 H
Facebooktwittertumblr