Posted in Kembang Gunung.



Belajar dekat






Betapa bersyukur bahwa kita kembali dihadiri hari yang menyegarkan ingatan kembali pada fenomena suri tauladan yang menganjurkan tentang cinta dan pengorbanan. Kita semua mencecap kembali anjuran itu dengan kembali hadir pada sebuah hari yang menghadirkan kembali kenangan pada kesungguhan, keteladanan, dan wasiat kebajikan yang sering tidak lagi hadir dalam kehidupan yang kita jalankan. Marilah makin memantapkan diri belajar dan kemudian menghadirkan langkah-langkah keutamaan, meneladani langkah-langkah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Langkah yang mengandung Evaluasi, Tanggungjawab, dan Visi atau Tujuan ke depan.

DZULHIJJAH SEBAGAI PENUTUP TAHUN HIJRIAH

Dzulhijjah sebagai bulan pamungkas dalam tahun Hijriah seakan mengajak kita untuk melakukan evaluasi atas perilaku yang telah kita hadirkan dalam kehidupan selama satu tahun ini. Apakah langkah kita adalah langkah mendekat kepada Allah swt? Ataukah tanpa sadar kita justru menambah jarak sehingga mengakibatkan langkah menjauh kepadaNya. Evaluasi ini penting agar kita menjadi punya langkah yang tegas dan memiliki tujuan yang pasti. Yakni senantiasa memperbaiki diri dengan mewaspadai setiap langkah demi langkah untuk berjalan dengan seakan-akan tengah memenuhi titian mesra jiwa dan raga karena setiap langkah kita dalam rangka memenuhi panggilan Allah swt.

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Dan apabila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya (perkumpulan malaikat). Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil.” (HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi).
Allah swt akan senantiasa melipat-gandakan kecepatan dan jaraknya untuk mendekat kepada hamba yang mendekat kepadaNya. Oleh sebab itu alangkah utama dan bijaknya apabila setiap akan memasuki satuan tahun Hijriah, kita terlebih dahulu menengok ke belakang atas apa yang belum sudah bisa kita junjung, apa yang seharusnya mulai kita letakkan, apa yang telah kita letakkan, dan apa yang seharusnya tidak kita letakkan.
Yang sudah bisa kita junjung mungkin adalah perjuangan mengutamakan kebaikan yang melatih kerelaaan kita agar memperoleh ridho Allah. Maka kita bisa menjunjungnya terus sebagai prinsip pada langkah Hijriah berikutnya.
Yang seharusnya kita mulai letakkan adalah keinginan-keinginan diri yang mengandung pembiasaan diri untuk terlatih memiliki, menguasai, daripada memberi. Kita mulai letakkan sikap yang terlatih dalam hal menuntut daripada memenuhi. Kita mulai letakkan sikap ringkih karena lebih terlatih meminta daripada merelakan. Hal-hal tersebut, apabila masih kita junjung perlu untuk mulai diletakkan sebab kepemilikan dengan landasan kesenangan dan selera diri beresiko menjauh dari ridho Allah SWT. Maka yang harus mulai kita letakkan adalah selera, sebab selera kita menggoda untuk menuruti langkah penuh hasrat kepemilikan. Dan dengan demikian selera hidup kita belum tentu pada satu jalur ‘selera’ Allah yang sesungguhnya mencptakan manusia untuk senantiasa mengabdi dan mendekat kepada dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang menyempurnakan akhak.
Apa yang telah kita letakkan? Apakah kita telah masih meletakkan kepercayaan kepada kekayaan kita sebagai penolong? Apakah kita masih meletakkan ketergantungan kepada harta benda kita sebagai jaminan dunia dan akhirat? Apakah kita masih dengan sangat naif meletakkan kepercayaan kepada hasutan, adu domba, dan silang sengakarut informasi sebagai seakan firman yang berguna bagi ruhani pengabdian kita sedangkan firman Allah malah kita anggap tidak faktual? Ataukah : kita mulai letakkan itu semua sebagai bagian dari pengalaman kekeliruan meletakkan kepercayaan dan ketergantungan. Sebab yang pantas kita percaya adalah Allahu Akbar, yang Maha lebih besar dari kekayaan, harta benda, kepandaian dan apapun saja yang bagi sebagian kita masih tanpa sadar menganggap lebih menjamin dan menolong dalam kehidupan.
Apa yang seharusnya tidak kita letakkan, adalah membangun terus menerus kedekatan dan kemesraan hubungan kita kepada Allah SWT agar menjadi Karib. Akrob, akrab. Untuk akrab dan mesra kepada Allah, kita tidak lantas tanpa pernah keliru, tanpa pernah tumpul dan dungu, tanpa pernah punya pengalaman mengabaikan dan cuek. Untuk mengakrabkan diri justru kita perlu kepala-kepala kedunguan itu, kekeliruan itu, ketumpulan, cuek, dan abai atas anjuran kebaikan dan keutamaan. Agar kita menjadi tahu bahwa kepala-kepala itu laksana kepala-kepala berhala yang harus kita penggal. Kekeliruan yang terpenggal akan menuntun pada hal yang lebih mampu menerima kebenaran. Kedunguan yang terpenggal akan menggiring pada kemengertian yang lebih baik. Sikap mengabaikan, cuek yang terpenggal, akan melatih pada kepekaan dan tepo sariro yang lebih baik. Ketumpulan yang terpenggal maka akan menjadi pintu masuk yang membuat kita masuk pada ketajaman dan kejernihan dalam memandang kehidupan. Dan pada saat kita berani memenggal kepala-kepala itu, kemesraan kita sebagai Abdi kepada Allah SWT sebagai Robbinnaas, Malikinnaas, Ilaahinnaas terjalin semakin akrab dan karib.
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.”

KISAH NABI IBRAHIM KHALILULLAH AS DAN NABI ISMAIL DZABIHULLAH AS

Marilah kita menyimak dan meneliti kembali pesan pesan keutamaan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS melalui peristiwa yang sangat penuh dramatika yakni tatkala Allah memerintahkan kepada seorang Bapak yang lama tak memiliki keturunan untuk menyembelih putranya yang menawan dan cemerlang yang telah lama didambakannya. Kisah seorang bapak yang harus memenuhi ucapannya sendiri. Apakah Nabi Ibrahim langsung dengan segera memenuhi perintah tersebut? Tidak. Sebagai seorang manusia ia tetap kalut, khawatir, berharap itu bukan perintah Allah melainkan bisikan yang tidak haq. Nabi yang mendapat julukan Khalilullah ini benar-benar gelisah, tidak mentang-mentang langsung mengambil pisau, menyeret anaknya, dan menyembelih dengan tanpa dosa. Nabi Ibrahim saat itu sungguh-sungguh merasakan perasaan sebagai seorang bapak meskipun ia Nabi.
Pada suatu ketika di bulan Dzulihijjah Nabi Ibrahim menyerahkan kurban berupa 1000 ekor kambing 300 ekor Sapi, 100 ekor Onta. Manusia menaruh kekaguman dan Malaikat juga demikian. Nabi Ibrahim Berkata : “Apapun perkara yang bisa mendekatkanku kepada Allah. Andaikan pun aku memiliki seorang putra dan Allah memerintahkanku untuk menyembelihnya maka akan aku lakukan”. Benarlah, pada beberapa kurun waktu kemudian Nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra yang telah lama dinanti-nantikannya. Seorang putra bagus dan menyenangkan jiwa. Namun, pada suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi bahwa Allah berfirman kepadanya : “Ya Ibrahim, tunaikanlah Nadzarmu”. Mimpi ini tidak terjadi hanya satu kali.
Mimpi terjadi beberapa malam dengan isi kejadian yang mengingatkan ucapannya tentang qurban yang disampaikannya sekian tahun lalu. Nabi Ibrahim tertegun, padahal ketika itu ia bermaksud mengucapkan kalimat perumpamaan. Sedangkan bagi Allah, perumpamaan itu telah disaksikanNya sebagai nadzar yang harus ditunaikan. Beliau benar-benar menata diri agar mampu melaksanakan perintah ini sebaik-baiknya tanpa khawatir dan ragu-ragu. Mampu memenangkan perintah Allah dan mengalahkan kesenangan pribadinya. Andaikanpun sang Nabi ini telah berhasil menata diri, akankah ia sanggup menyampaikan perintah ini kepada istrinya dan juga putranya. Kita tidak perlu menjadi Nabi untuk memahami perasaan yang begitu miris ini, cukup menjadi seorang ayah kita tahu bagaimana kecamuk perasaan beliau.
Namun, memang Nabi Ibrahim salah satu uswah kehidupan. Kita perlu belajar kepada Nabi Ibrahim atas keberhasilannya memantapkan keyakinannya menentukan langkah yang memihak kepada Allah SWT meskipun sangat besar rasa kepemilikan yang harus direlakan. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan kepada istrinya Siti Hajar.
Sang istri yang patuh ini berusaha tetap tenang, ia yakin kepada risalah yang dibawa sang suami. Namun bukan peristiwa mudah pula untuk merelakan anaknya yang pernah dengan sangat susah payah ia bela dan pertahankan dengan sepenuh jiwa raga. Ia ingat tatkala sendirian di tengah gurun pasir yang panas dan tandus mencoba mencarikan air untuk putra yang masih bayi itu. Ia ingat tatkala fatamorgana mengombang-ambingkan arahnya dengan tanpa berjumpa oase apalagi telaga. Ia ingat saat kemudian dipersimpuhannya karena kelelahan dan perasaan tidak tega yang begitu rupa kepada sang putra, Allah memberikan sumber air yang sangat jernih dan sejuk sebagai hadiah perjuangan langkahnya yang tanpa menyerah. Langkah beliau kini diabadikan sebagai langkah yang harus dititi oleh kaum muslimin dalam ritual ibadah haji. Begitulah teladan mulia seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu, yang tak mudah rapuh sebab keyakinannya yang kuat kepada Allah SWT.
Kini, ia dihadapkan lagi pada sebuah perintah yang mengoyak dada. Dengan cepat beliau menata diri, menata hati, pikiran, dan segala ketidaktahuannya untuk membaik-sangkai ketentuan Allah swt dan mengambil hikmah dari peristiwa yang sama sekali tak mudah ini. Sebagai seorang ibu, beliau tetap menaruh rasa yang wajar dimiliki oleh seorang ibu. Ia seakan-akan tengah dihadapkan pada sebuah perpisahan kepada anaknya. Tak lama lagi ia harus merelakan kebahagiaannya saat melihat putranya tersenyum, bercanda, berkata-kata. Ia harus rela dan mengerti bahwa anaknya akan segera pergi untuk menuju kepada tempat yang begitu indah dan suci. Maka ia perlu mempersiapkan baju terbaik dan segala perlakuan terbaik untuk putra kesayangannya itu. Ia tetap ingin menggunakan kesempatan bersama dengan putranya dalam sisa waktu sesingkat apapun itu dalam suasana penuh kebahagiaan dan tanpa penyesalan. Keyakinannya satu, yakni : Bahwa Allah tidak akan memerintah nabiNya dalam perkara yang batil.
Setelah kepada sang istri, kemudian Sang Nabi Ibrahim memberikan kabar ini keesokan harinya kepada sang putra, Nabi Ismail AS. Dengan sangat lembut tutur kata dan susunan kalimat demi kalimat disampaikan kepada sang putra. Tetap dengan tegar, tertata, tanpa airmata dan padahal tengah menyangga kerapuhan. Dihantamnya sendiri kerapuhannya itu sehingga tersungkur dan yang bangkit hanyalah daya dan kekuatan dari Allah SWT bukan lagi kerapuhan dirinya.
“Hai anakku, aku melihat dari dalam mimpi, ayah menyembelih dirimu. Cobalah engkau beri pendapatmu, bagaimanakah itu menurutmu?” Kata Nabi Ibrahim
Nabi Ismail menjawab : “Wahai ayahku, mari, apapun yang telah diperintahkan Allah kepadamu, laksanakanlah. Insya Allah ayah akan menjumpai diriku sebagai seseorang yang masuk dalam golongan orang yang sabar”
Nabi Ismail menyimak dengan seksama dan kemudian mengiyakan dengan cepat. Ia sudah tidak punya keraguan bahwa ayahandanya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah, ia bersaksi dan meyakini. Maka segala apa yang disampaikan dari ayahnya adalah sesuatu yang Haq dari Pengutusnya yakni Allah SWT. Tidak perlu ada perdebatan, tidak perlu ada banyak pertanyaan yang mengurangi keyakinan. Ia justru mendukung dan ingin terlibat dalam menyempurnakan perintah Allah ini, padahal perintah itu berkaitan langsung pada jiwanya, hidupnya.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
Pada hari yang telah dipilih yakni pada 1o Dzulhijjah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bersiap berangkat ke tempat yang dituju untuk menyempurnakan perintah Allah SWT tersebut. Siti Hajar, sang ibunda telah memberikan pakaian yang terindah, bersih dan tidak berlebihan. Sang ibu yang begitu tegar ini sungguh menganggap perpisahan kepada anaknya ini adalah peristiwa yang tidak boleh diratapi, sebab putranya dipilih Allah SWT dimana semua orang dalam keadaan apapun pasti akan kembali kepadaNya. Bahkan harus disyukuri sebab putranya menjalankannya dengan sikap teguh dan tenang tanpa bantahan. Mereka berdua Taqorub kepada Allah. Peristiwa ini ada yang mengatakan usia Nabi Ismail saat itu tepat 7 tahun dan ada pula yang berpendapat usia Nabi Ismail saat itu berusia di kisaran 13 tahun.
Setelah sampai pada suatu tempat yang dituju Nabi Ibrahim berkata kepada sang putra : “Wahai putraku, adakah yang hendak engkau sampaikan sebelum ayah melaksanakan perintahNya ini?”
Nabi Ismail menjawab : “ Ikatlah kedua tanganku agar aku tidak meronta, hadapkanlah mukaku ke bumi agar ayah tidak melihat wajah dan darahku. Sesungguhnya perasaan iba ayahanda besar kepada diriku. Lepaskanlah pakaian ayah, agar pakaian tersebut tidak terkena percikan darahku. Darah yang terciprat ke pakaian ayah bisa menjadi sebab berkurangnya ridhlo Allah kepadaku karena jika ibu melihat darah tersebut maka akan membuat perasaan ibu menjadi susah. Asahlah pisau ayah dengan tajam dan cepatkanlah tatkala menggunakannya pada leherku agar supaya keadaan matiku lebih mudah. Serahkanlah pakaian yang ananda pakai ini kepada ibunda, untuk menjadi cendera mata untuknya. Kemudian Sampaikanlah salamku sebab ini perintah dari Allah, Ayah juga jangan menceritakan proses ayah menyembelih dan mengikat kepada kedua tanganku. Berikutnya jangan membawa ke rumah seorang anak dengan perawakan dan seumuranku sebab akan membuat ibunda menderita. Juga apabila ayah melihat anak dengan perawakan dan umuranku jangan memandangnya terlalu lama segera berpalinglah agar ayah tidak bersedih dan susah”
Nabi Ibrahim menjawab : “Wahai putraku, Sebaik-baik pertolongan kepada diriku adalah engkau sanggup melaksanakan perintah Allah ta’ala” Demikianlah, Senjata diasah dengan tajam, kemudian kedua tangan Nabi Ismail diikat, Nabi Ibrahim melepaskan bajunya agar tak terciprati darah. Kemudian menghadapkan muka dan arah leher Nabi Ismail ke arah bumi. Diarahkannya pisau yang tajam itu dengan begitu cepat. Pada saat itu kerelaan sebagai seorang ayah, sebagai seorang anak, sebagai seorang abdi tengah dipertaruhkan. Saat pisau digerakkan cepat, itu adalah saat dimana batas paling tipis sebuah ujian dengan pertolongan besar. Batas yang mampu ditempuh oleh kedua manusia utama ini. Batas ini begitu menakutkan. Namun Allah swt sungguh-sungguh tidak akan menyia-nyiakan ketangguhan iman hambaNya.
Memang demikianlah akhirnya, sebagai bentuk RidhoNya atas kegigihan dan kerelaan yang sedemikian hebat atas diri Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, maka kemudian diangkatlah Nabi Ibrahim oleh Allah sebagai Imam bagi seluruh manusia. Yakni seorang yang mampu menundukkan kepalanya yang berisi kepentingan, selera, hasrat, merasa paling, dan lain sebagainya yang terkadang membelotkan, karena isi kelapa itu sering menjelma menjadi kiblat yang kita tunduk mengabdi kepadanya. Namun kiblat palsu itu berhasil dipenggal oleh Nabi Ibrahim, ia tundukkan kepalanya untuk tetap bersujud kepada Allah swt dan sujudnya Nabi Ibrahim ini kelak dimakmumi oleh ummat berikutnya.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji [87] Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku” [88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
Sedangkan Nabi Ismail, Allah tidak benar-benar membiarkan darah NabiNya memancar. Sekilat pisau sang ayah yang melesat cepat ke kulit lehernya, sekilat kejadian. Pisau sang Nabi Khalilullah justru menyembelih leher seekor kambing. Sedangkan Nabi Ismail telah diselamatkan Allah tanpa cedera sedikitpun. Ia tergolong sebagai orang yang sabar. Kedua Nabi ini di kemudian hari meninggikan dasar-dasar Baitullah yang menjadi tempat penziarahan kaum Muslimin hingga sekarang.
Maka baitullah dibangun oleh orang yang tunduk dan orang yang sabar. Mampu menundukkan dirinya meski sulit dan terasa berat. Dengan demikian, ribuan tahun berikutnya yakni pada jaman kita sekarang mampukah kita menggeser kiblat? Jika kiblat yang sementara kita thawafi ternyata adalah kiblat kepentingan diri dan bukan kiblat pengabdian kepada Allah. Sikap tunduk dan sabar itu bisa menjadi cara bagi diri kita masing-masing untuk menjumpai Baitullah di dalam hati, yang kita thawaf, rukuk, sujud bersamanya. Insya Allah sikap tunduk dan sabar akan menjalinkan iman kita kepada para Nabi dan Rasul. Jika pada bulan Dzulhijjah ini kita dikaruniai kesadaran dan untuk melakukan evaluasi mulai menemukan kekurangan diri, mengambil tanggung jawab, dan memiliki visi ke depan dengan koridor pengabdian kepada Allah swt. Insya Allah, ditetapkan bagi kita Kiblat dimana Kiblat tersebut menggolongkan kita sebagai satu ummat dan satu Kiblat dengan para Nabi dan Rasul.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
Monggo kita tingkatkan Iman dan Taqwa, kita waspadai menjelang akhir tahun Hijriah 1437 H ini menuju sikap yang lebih tertata memasuki Muharram tahun mendatang. Sehingga setiap tahun adalah perpindahan atau hijrah kita dari tidak tahu menjadi tahu, dari kelam menjadi benderang, dan dari berjarak menjadi dekat dan aqrob kepada Allah swt.
Ungaran, Dzulhijjah 1437 H
Majlis gugurgunung
Facebooktwittertumblr