SENGKUD

Tahun 2019 menjadi sedikit berbeda untuk rutinitas Majlis gugurgunung. Dimana biasanya muncul sebuah tema untuk didiskusikan secara mendalam, namun tahun ini Majlis gugurgunung bersama-sama untuk berusaha menghasilkan sebuah produk nyata. Sesuatu produk yang bisa lebih dirasakan kemanfaatannya, baik untuk yang melingkar di dalam majlisan dan semoga dirasakan pula oleh masyarakat. Baik dalam bentuk satu produk bersama ataupun produk dari masing-masing sedulur yang nantinya akan diperkenalkan nama dan jenis produknya, disampaikan beberapa kendala yang dialami serta dirembug beberapa alternatif solusi pemecahan.

 

Tanggal 26 Januari 2019, malam minggu terakhir di kediaman Mas Mundari salah seorang sesepuh di Majlis gugurgunung menjadi waktu dan tempat digelarnya rutinitas kegiatan. Dengan tema Sengkud yang berarti cekat-ceket ditandangi atau dalam bahasa indonesia yakni dilakukan segera mungkin. Sengkud, secara tersurat berarti srempeng, cekat-ceket, disegerakan. Secara tersirat yakni sesungguhnya kita sedang akan membangun pondasi peradaban, diantaranya :

 

Adab Bebrayan

Adab Sinau Bareng

 

Sengkud merupakan perilaku yang terlatih terus menerus dalam kurun waktu yang panjang hingga terbiasa, lalu terbentuklah kebiasaan yg cekat-ceket, srempeng, dsb. Prosesnya membutuhkan teknologi mutakhir yang bernama kesabaran. Lambaran utamanya adalah Rasa Kamanungsan, karena aset utama Manusia adalah Rasa Kamanungsan. Sengkud sendiri masih sejalan dengan program dari Maiyah cluster subregion (Paradesa Ken Sengkud) yang menjadi hasil saat Silatnas 2018 lalu di Surabaya.

Kisaran pukul 21.00 WIB dimulai seperti biasa yakni pembukaan, lalu pembacaan do’a wasilah serta munajat Maiyah. Kloso utami menjadi bahasan awal yang menarik untuk dirembug. Dimana ini akan menjadi salah satu produk yang akan coba dijalankan oleh Majlis gugurgunung. Sebuah matras yang terbuat dari beberapa bahan kering seperti pelepah batang pisang, eceng gondok serta jerami.

pembacaan do’a wasilah serta munajat Maiyah

Mas Anjar mempresentasikan produk berupa wi-fi RTRW

Pemaparan berikutnya yakni dari Mas Anjar dkk yang menggeluti sebuah produk berupa wi-fi RTRW. Yakni menyalurkan sinyal wi-fi ke wilayah pedesaan untuk mempermudah masyarakat desa dalam mengakses internet. Tak bisa dipungkiri bahwa internet sekarang menjadi sarana komunikasi yang tenar dipakai oleh masyarakat luas. Sebab memang penggunaan komunikasi internal alias tanpa alat bantu eksternal sekarang sangat sulit untuk dilakukan. Alih-alih memburu kemudahan namun dalam pada itu dibersamai pula dengan kesulitan. Namun tetap program wi-fi RTRW ini mendapat apresiasi yang baik bahkan sedulur-sedulur gugurgunung sendiri turut menantikan produk tersebut dapat dipraktekkan sebab malam itu belum dapat dilaksanakan.

Lanjut pada pemaparan berikutnya dari Pak Zamroni, keluarga Majlis gugurgunung yang berdomisili di  Kendal, meski tinggal di Kendal namun keberadaan Pak Zamroni tak pernah terasa jauh sebab dekat di hati. Beliau pun merupakan salah satu sesepuh di majlis gugurgunung. Beliau menyampaikan bahwa ada seorang pakar teknologi yang telah membuat penemuan alat yang mengubah bahan baku plastik menjadi bahan bakar terendah yakni solar. Pakar teknologi tersebut juga sudah memiliki kedekatan secara personal dengan Majlis gugurgunung, namun malam ini sedang berhalangan hadir. Sebuah alat yang sangat memberi gambaran kemanfaatan yang luar biasa, namun juga beberapa kendala terkait regulasi yang turut serta.

Selain alat tersebut ada pula sebuah alat untuk membuat balok-balok es dengan biaya yang lebih rendah sebab menggunakan teknologi sederhana. Alat tersebut juga besar kemungkinan untuk bermanfaat pada masyarakat wilayah pesisir utamanya nelayan yang membutuhkan es balok untuk proses pengolahan ikan. Senada dengan ungkapan Mas Agus dimana sedulur-sedulur Maiyah di Brebes yang mampu mengubah sampah-sampah plastik menjadi biji plastik baru. Hal ini menjadi harapan yang besar dalam pemberdayaan masyarakat serta perbaikan kondisi lingkungan.

Malam ini seperti karunia yang benar karena para sesepuh gugurgunung dari berbagai daerah turut berkenan membersamai majlis, selain Pak Zam dari Kendal, hadir pula Mas Bayu dari Yogyakarta. Mas Bayu yang juga diminta oleh Mas Kasno yang malam ini menjadi moderator bersama Mas Chafid. Beliau mengungkapkan beberapa hal tentang adab. Dimana setiap wilayah pasti memiliki adabnya masing-masing, dan adab untuk belajar yakni nglesot, tidak merasa bisa juga tidak merasa memiliki agar ilmu dapat tertuang dengan baik. Adab untuk bebrayan, ra seneng diapusi ojo ngapusi, ra seneng dilarani ojo ngelarani (tidak senang dibohongi ya jangan membohongi, tidak senang disakiti ya jangan menyakiti). Setiap usaha apapun dilambari dengan adab yang baik agar tercipta sambungan persaudaraan yang baik pula.

Mas Agus menambahkan bahwa semua perlu pembelajaran tentang adab yang baik, sebab dampaknya adalah pada sebuah peradaban yang baik pula. Hal tersebut yang menjadi bagian dari landasan yang akan kita bawa menuju periode berikutnya.

Mas Agus merespon yang sedang bergulir dalam diskusi malam ini

 

Koperasi

Mas Agus tertarik pada prinsip koperasi. Bukan semata pada angka-angka keuntungan yang diperoleh namun lebih kepada pembelajaran tentang gotong royong di dalamnya. Ditambahkan pula oleh Mas Bayu tentang koperasi, dapat dibagi menjadi produsen, konsumen dan perintis agar dapat dilaksanakan bersama. Semua hal didasarkan pada kekeluargaan, dimana rentan goyah sebab banyak ujian di dalamnya yang senantiasa membutuhkan kehati-hatian dalam proses perjalanannya. Lanjut Mas Bayu tentang konsep Baitul Mal yang mungkin nantinya dapat dijalankan. Segala pengelolaan sekian persen pemasukan serta pengeluaran, dikelola disana. Bukan sekedar bertujuan untuk menumpuk harta yang tampah WAH. Jangan sampai tergoda “WAH” sebab hanya akan menjadi “uWUH”.

Kemudian Mas Mundari yang memiliki angan tentang peternakan unggas yang dipresentasikan secara jelas, runtut, gamblang dan apik. Kami semua berharap bahwa gagasan tersebut akan segera terlaksana paling tidak pada bulan ke-lima tahun ini.

Masih tersambung dengan peternakan, Mas Kasno meminta pada Mas Dhika yang malam itu diminta oleh Mas Kasno menceritakan progres serta kendala dalam perjalanan Setyaki Farm, sebuah peternakan ayam kampung dengan pakan organik. Kendala besar masih pada kandang ayam yang beberapa waktu lalu didatangi banjir sehingga merendam telur-telur yang sedang dierami. Langkah antisipasi yang kurang, ditambah banjir kiriman serta curah hujan yang memang tinggi saat itu. Meskipun hanya dalam hitungan jam namun membuat beberapa butir telur gagal untuk menetas dan harus menunggu periode bertelur berikutnya. Sehingga dari segi jumlah kurang begitu meningkat secara signifikan. Namun satu langkah antisipasi sudah dilaksanakan yakni memindahkan kandang pengeraman diletakkan di tanah yang lebih tinggi. Selain itu terkendala pula masalah teamwork yang disampaikan pula oleh Mas Dhika.

Mas Agus kembali menyampaikan terkait beberapa usaha yang dijalankan. Yakni setiap proses yang tidak berhasil bukannya tidak menghasilkan. Namun ada hasil pembelajaran yang didapatkan dalam proses kegagalan tersebut. Orang yang berhasil adalah orang yang mampu menyerap sebanyak-banyak ilmu ke dalam dirinya sehingga ia menjadi makin terhindar pada kesulitan. Kegagalan, kesulitan, dan sejenisnya sesungguhnya merupakan makanan ruhani yang saripatinya menjadikan penyantapnya mendapatkan sel-sel kemudahan yang baru.

Manusia sebagai khalifah fil ardh dan ahsani takwim

Aset utama manusia adalah rasa kemanusiaan (rasa kamanungsan). Dalam hal apapun di bumi ini, rasa kamanungsan yang lebih tinggi dibanding lainnya akan memberikan peluang bagi akhlak untuk mendapatkan tempat lebih baik untuk menampilkan dirinya. Pada peristiwa hukum, rasa kemanusiaanakan meletakkan supremasi hukum dibawah supremasi keadilan, keadilan posisinya lebih tinggi dari hukum.

Pada peristiwa tanding, rasa kamanungsan akan menyadarkan hidup adalah sendau gurau belaka. Tanding masih di bawah nalar tenggang rasa dan tepo sariro, derajat kemenangan diri masih dibawah derajat kemenangan sosial. Pada peristiwa perdagangan, rasa kamanungsan akan menyadarkan bahwa keuntungan masih di bawah nilai kejujuran. Kejujuran lebih tinggi levelnya dibanding keuntungan. Sehingga keuntungan materi yang merugikan kejujuran adalah kerugian besar.

Dalam peristiwa penghambaan, rasa kamanungsan akan mengkhalifahi bumi bukan menyembahnya. Mengkhalifahi bumi adalah menghormati dan menjaga kecantikan luar dalam bumi. Sedangkan minimnya rasa kamanungsan akan meletakkan bumi sebagai budak rendah yang bebas dieksploitasi dan dikuras potensinya sampai sakit-sakitan. Akibat makin tipisnya aset kemanusiaan berupa rasa kamanungsan, niscaya akan meningkatkan kualitas keserakahan, kerakusan, keterlenaan, kebuasan, keliaran dan lain sebagainya.

Dalam peristiwa apapun di bumi, jika rasa kamanungsan terus terjaga, terolah dan terasah secara makin cemerlang pada kehidupan manusia, maka orang-orang akan berhati-hati dan teliti dalam menjaga keadilan, tenggang rasa, kesadaran nalar, kejujuran dan keteguhan pengabdian. Tiap-tiap individu akan berhenti melakukan hal-hal yang tak perlu berlaku pada dirinya dan memberlakukan hal-hal yang utama sebagai metode menata perilaku ter-utama dalam kehidupannya.

Semoga dalam berdiskusi malam ini mampu memunculkan titik-titik untuk menuju pada tahap-tahap berikutnya dengan setiap bulan senantiasa ada progres yang dapat diceritakan, ataupun kendala yang akan dibagikan. Sekian reportase kali ini, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

Mukaddimah: Desa Purwa

Mukaddimah Maiyah Kalijagan edisi 6 April 2018 dengan tema “Desa Purwa”

Mukaddimah Maiyah Kalijagan edisi 6 April 2018

Wacana mengenai manusia tidak akan selesai sampai manusia diselesaikan oleh Allah. Namun yang perlu dipelajari manusia yakni asal-usulnya, sebagai penanda, pemetaan, penataan, perenungan dan sangu untuk berjalan di kesekarangan dan menuju masa depan. Dari asal-usulnya, manusia akan menemukan kesejatian hidupnya pula, yakni Allah sebagai desa wiwitan, Al Awwalu. Ya, dari desa, peradaban manusia mulai terbentuk oleh tatanan sistem yang telah Allah sabdakan dalam satu kata “Kun” di surat Yaasin.

Dari “Kun”nya Allah, bependarlah cahaya kehidupan, terciptanya makhluk-makhluk, tatanan jagad semesta dan segala ubo rampenya, termasuk desa. Khususnya desa, ada yang menarik untuk kita pelajari. Salah satunya mengenai pilar utamanya, yang pertama adalah spiritual. Kedua: pemikiran, jiwa, ideologi dan pranatan. Ketiganya yakni sandang, pangan, juga papan. Mengenai jalinan dan ikatannya, desa tidak bisa dilepaskan dari tiga subyek: Tuhan, Manusia dan Alam. Dari tiga pilar utama dan subyek jalinan tersebut ada tujuh hal yang tidak bisa kita pisahkan juga. Yakni i am, i feel, i think, i love, i speak, i see, dan i understand dalam konsep cahaya yang utuh dan manunggal. Dan desa yang utuh dan manunggal adalah desa di atas desa, desa yang tidak sekedar gemah ripah loh jinawi (baldatun thoyyibatun), lebih dari itu masyarakatnya mendapat pangapura dari Allah (Rabbun ghofur).

Desa sebagaimana konsep baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur dalam buku “Desa Purwa” disebutnya sebagai Paradesa. Secara linguistik, kata “paradesa” kemudian diadopsi menjadi kata “paradise”(di negara Inggris dan sekitarnya) dan “firdaus”(di negara Arab dan sekitarnya). Jika memang begitu, maka tak mengherankan kalau nuansa yang kita imajinasikan mengenai surga (paradise/firdaus) tidak jauh berbeda dengan nuansa paradesa. Banyak tanaman hidup didukung tanah yang subur, kondisi sandang, pangan dan papan yang makmur, serta masyarakat yang taat pada Sang Ada, Hyang Widi, Arrohman, Allah, Tuhan semesta raya.

Namun apakah hal itu masih bisa kita temukan di tengah penjajahan elit global, konspirasi global atas kapitalisme kerakusan fir’aun raja naga, namrud paman sam? Penggusuran desa demi kemaslahatan perut konglomerat unta, naga dan koboi? Sehingga penduduk paradesa agaknya kelimpungan dan lupa bahwa muasalnya adalah desa, paradesa, firdaus, paradise dan mereka harusnya nanti kembali ke sana. Ada pula masyarakat desa yang rela menyesatkan diri di belantara jalanan kota. Maka selebihnya mengenai desa mari kita diskusikan lebih mendalam, tenang dan mesra sebagaimana nuansa surga yang mengalir sungainya dan tumbuhnya banyak pepohonan dan hidup tentram bersama binatang. Mari pulang kepada keabadian desa sebagaimana tema Kalijagan April 2018, “Desa Purwa” adalah sebuah judul buku yang ditulis mas Agus Wibowo dan diterbitkan Maiyah Gugur Gunung Ungaran.

[Redaksi Kalijagan]

*Sumber: https://www.kalijagan.com/2018/04/02/desa-purwa/

Mukadimah: MALIKINNAS ILAHINNAS

Mukadimah – MGG Feb 2018 – MALIKINNAS ILAHINNAS

Mulai dari orang yang satu kemudian berkumpul menjadi orang yang banyak atau bisa disebut kawulowarga, keluarga. Berawal dari diri (wargo) menuju kulowargo (luar diri terdekat), dan menggandeng kulowargo-kulowargo yang lebih luas. Terus bertambah hingga menjadi kumpulan kawulowarga. Secara lebih luas dapat digambarkan sebagai sebuah kerajaan dimana masing-masing saling mengerti ikatannya karena mempunyai galih yang sama. Kerajaan disini mungkin bisa jadi ejawantah dari bebrayan agung dengan prinsipnya yakni memayu hayuning diri, memayu hayuning sasomo, memayu hayuning bawono.

Di dalam sebuah lingkup wilayah kerajaan ada wilayah yang dibebaskan/dimerdekakan dari segala macam pajak, karena di daerah tersebut ada salah satu warga/tokoh yang dianggap mampu untuk ngemong _kulowargo_ wilayah tersebut. Biasanya adalah para satrio pilih tanding atau resi dan wilayahnya bernama daerah Perdikan. Didalam bermaiyah kerap kali dianjurkan supaya kita terus menerus berupaya menjadi Manusia. “Menjadi…., pasangan kata yang paling tepat adalah manusia”.Continue reading

Reportase: Peran Imajiner

Majlisgugurgunung:: Malam ini tanggal 29 bulan oktober tahun 2016, merupakan Malam Minggu terakhir di bulan Oktober dan seperti biasa Majlis Gugurgunung mengadakan cangkruk budidoyo yang bertempat di taman bermain Qomaru Fuadi, Balongsari,Ungaran. Tema diskusi malam ini adalah Peran Imajiner, dan juga spesial persembahan pagelaran  Wayang Kerdus mBangetayu.

Tepat jam 20.30 WIB cangkruk budidoyo malam ini diawali oleh Moderator Gugurgunung yakni Mas Dian.  Lalu dimulai dengan membacakan al fatihah untuk almarhumah ibu dari Mas Tyo yang meninggal beberapa hari yang lalu, semoga beliau meninggal dalam keadaan khusnul khotimah (Amin..) . Dan dilanjutkan doa wasilah yang dipimpin oleh Mas Tyo. Dilanjutkan dengan munajat Maiyah yang dipimpin oleh Mas Jion lalu menyanyikan Mars Gugurgunung bersama-sama untuk membangun gairah dan mempererat paseduluran para jamaah.Continue reading

Peran Imajiner

 

peran-imajiner

peran-imajiner

Dewata Wanna be

Jika ada sebuah jaman dimana masyarakatnya dipenuhi gairah perubahan nan besar, itulah jaman dimana sesungguhnya masing-masing pihak sangat paham secara bawah sadar keterpurukannya. Namun, masing-masing pihak lantas berlomba-lomba menisbatkan diri sebagai pihak paling kredibel dalam mrantasi berbagai keterpurukan. Dan, masing-masing pihak akan saling membuktikan diri, siapa sesungguhnya yang paling Dewata. Politik – Agama – Ekonomi – Ideologi – Kekuatan Militer – Sosial Budaya – Entertainment – Media Massa – Sains, dll, Masing-masing bagaikan Dewa-Dewa yang hendak menjawab carut marut keadaan.

Agama , yang seharusnya tidak patut ikut berderet di sana pun ikut menjadi peserta Dewata Wanna be (keinginan menjadi Dewa). Karena agama masih belum benar-benar ditangkap oleh pemeluknya sebagai karunia informasi yang sesungguhnya meng-atas-i apa-apa yang ada di bumi.Continue reading