Mukadimah: MALIKINNAS ILAHINNAS

Mukadimah – MGG Feb 2018 – MALIKINNAS ILAHINNAS

Mulai dari orang yang satu kemudian berkumpul menjadi orang yang banyak atau bisa disebut kawulowarga, keluarga. Berawal dari diri (wargo) menuju kulowargo (luar diri terdekat), dan menggandeng kulowargo-kulowargo yang lebih luas. Terus bertambah hingga menjadi kumpulan kawulowarga. Secara lebih luas dapat digambarkan sebagai sebuah kerajaan dimana masing-masing saling mengerti ikatannya karena mempunyai galih yang sama. Kerajaan disini mungkin bisa jadi ejawantah dari bebrayan agung dengan prinsipnya yakni memayu hayuning diri, memayu hayuning sasomo, memayu hayuning bawono.

Di dalam sebuah lingkup wilayah kerajaan ada wilayah yang dibebaskan/dimerdekakan dari segala macam pajak, karena di daerah tersebut ada salah satu warga/tokoh yang dianggap mampu untuk ngemong _kulowargo_ wilayah tersebut. Biasanya adalah para satrio pilih tanding atau resi dan wilayahnya bernama daerah Perdikan. Didalam bermaiyah kerap kali dianjurkan supaya kita terus menerus berupaya menjadi Manusia. “Menjadi…., pasangan kata yang paling tepat adalah manusia”.Continue reading

Tatanan Desa Turun Temurun II

Masih melanjutkan pijakan dalam mendampingi pertumbuhan di tingkat keluarga dan antar keluarga. Bab yang kemarin sudah dibahas tentang pendampingan kepada anak usia tunggal, Konsep Tunggal. Kini berlanjut ke Konsep Kawelasan.

Konsep KAWELASAN

Yakni untuk fase usia 11 – 19 tahun. Di usia ini anak sudah menemukan keluarga yang lebih besar. Yakni pertemuannya dengan kombinasi keluarga lain dalam tingkat Dusun (atau Dukuh atau Dukun). Semua keluarga yang ada pada Dusun itu akan membantu anak tumbuh dengan memberikan paugeran dan melatih anak untuk mengerti tentang belas kasih. Anak tidak lagi terus menyangka bahwa ia adalah pusat semesta, ia adalah bagian dari yang lain yang orang lain juga punya keinginan yang sama dalam hal mendapatkan sesuatu yang terindah dan terbaik. Di sini anak-anak biasanya dilatih tepo sariro dan kepeduliannya dengan diberikan kambing, kerbau, atau sapi untuk digembalakan. Agar anak menemukan ilmu Angon langsung dengan pengalaman dan tanggung-jawabnya secara akurat dan empiris.

Konsep KUR-KURAN (pengukuran)

Yakni fase pertumbuhan manusia di usia 21 – 29 tahun. Pada usia ini seseorang telah beranjak makin dewasa, ia harus mendapati pengalaman dalam hal mawas diri, memetakan posisi, mengukur situasi dan pilihan sikap. Di usia ini keluarga yang ia temui bisa lebih luas lagi, sebab ia mulai diijinkan menjelajah pengalaman dengan melakukan perjalanan ke kawasan lain. Ia perlu pandai membawa diri, menjaga sikap secara terukur. Pada usia ini ada fase yang disebut fase ‘kemlawe’ yang berarti tandang, tandhing (mengerjakan, menghadapi). Usia kemlawe terletak di usia Selawe atau 25 tahun. Masyarakat memahami bahwa usia kur-kuran adalah usia seseorang merasa hebat, merasa pandai, paling ahli, brangasan, merasa tak tertandingi. Ada yang merasa hebat dalam hal fisik, ada pula yang merasa hebat dalam hal pemikiran, dan ada pula yang merasa hebat dalam hal peribadatan. Di usia 25 tahun ini, seseorang akan mengalami fase keterbalikan dari rumus ukuran yang sempat ia anggap benar. Ia akan disadarkan bahwa ukuran-ukuran dan persepsinya dalam melihat hidup harus melibatkan Tuhan sebagai perancang utama kehidupan langit dan bumi dan segala semesta alam.

Usia 21 – 24 
Belajar mengukur, analisis, observasi, inspeksi, optimisme, search, research, masa depan, masa lalu, menakar kemampuan, memandang dinamika keadaan, menelisik tujuan.
Ekses minus :  over kalkulatif, percaya ukurannya sebagai standar kebenaran, ambisius, menabrak norma / ukuran umum / paugeran.

Usia 25 (SELAWE)
Sinau kemlawe, tandang, menep
Ekses minus : leyeh-leyeh, lenggang (tinggal glanggang colong playu). Acuh tak acuh, cuek, tak bertanggung jawab.

Usia 26 – 29 
Mengukur dengan lebih cermat ; Mengalikan/memberkalikan kesungguhan. Membagi skala prioritas/ menata. Menambahkan kesadaran/introspeksi. Mengurangi ambisi-ambisi melampaui batas.
Ekses minus : pesimistis, paranoid, over dramatic calculative, takut kepada hitungan sendiri

Konsep LUH-LUHAN (Luluh, Peluruhan)

Yakni fase manusia pada rentang usia 31 – 39 tahun. Pada usia ini seseorang sudah dianggap bagian inti yang produktif bagi pertahanan hidup sebuah Kawasan. Ia bisa menyumbangkan tenaga, pemikiran, dan harta, atau salah satu dari ketiganya untuk melebur menjadi bagian dari hajat bersama dalam sosial kawasan. Di usia ini banyak yang sudah melanjutkan menjadi Bopo atau Biyung, menjadi Yayah atau Wibi. Pelajarannya adalah meluruhkan keinginan dan kepemilikan pribadi untuk pihak lain dengan segenap kasih sayang. Pada fase ini maka, mereka sudah memiliki kulowargo atau keluarga sendiri. Bagi keluarga yang lebih sepuh akan memberikan banyak support kepada pasangan keluarga muda yang masih belum banyak pengalaman dalam menghadapi & menyelesaikan beberapa persolaan. Demikian maka fase ini akan kembali kepada fase tentang Keluarga di awal. Keluarga sebagai turunan Dusun, Dusun sebagai turunan Luhurah.

Wilayah Kelurahan

Wilayah ini adalah kawasan yang tergabung dari beberapa Padusunan. Sebuah Kelurahan dipimpin oleh seorang Luhurah yang bertugas merentangkan dan menjulurkan kehidupan, meluhurkan kehidupan. Luhurah adalah sosok yang dianggap pantas memimpin di atas para Dhusun karena kehandalan, kelebihannya dan kematangannya dalam memimpin. Luhur = Tinggi, Mulia. Rah = Rah : Hidup/ Kehidupan/ Putaran kehidupan/ Darah. Luhur Rah = Kehidupan yang mulia / kehidupan yang luhur.

Luhurah kini disingkat menjadi Lurah. Inilah kondisi struktur sosial yang representatif dengan kondisi Paradesa. Maka kawasan di bawah kepemimpinan Lurah ini lebih ditengarai sebagai Desa. Dinamikanya lebih kompleks, namun bisa membina hubungan saling memudahkan dan meringankan satu dengan yang lain. Disini pula lahir tradisi kebersamaan Gotong Royok-Boyong (Gotong Royong) atau Gugur gunung sebagai kegiatan kebersamaan masyarakat yang hidup bareng dalam keluarga besar yang menjunjung keluhuran di wilayah Kelurahan.

Lurah akan saling bersambung dan berjalinan dengan Kelurahan yang lain untuk membangun kawasan terintegrasi secara lebih luas. Kawasan berikutnya ialah Kademangan yang dipimpin oleh seorang Demang. Kademangan akan saling bertaut dan bergabung dengan Kademangan lain dengan kawasan yang disebut sebagai Kadipaten dengan pemimpin yang ditunjuk dengan sebutan Adipati. Kadipaten terintegrasi dengan Kadipaten yang lain dalam kawasan yang disebut sebagai Keratuan dengan pemimpin yang disebut sebagai Ratu atau Sang Noto atau Prabu. Keratuan sering disingkat menjadi Kraton. Maka untuk mendapati kawasan Keratuan yang sayuk rukun, toto titi tentrem kerto raharjo bermula dari kondisi paling mendasar sebagai komponen termungilnya yakni Keluarga yang dipimpin dengan baik untuk mengawal generasi seiring umur dengan pendidikan yang baik. Kemudian masing-masing keluarga diatur di bawah kepemimpinan Dusun yang baik, dan seterusnya. Maka pembinaan pada level keluarga inilah yang sangat fundamental mempengaruhi pengukuhan kedaulatan sebuah kawasan yang berbudi-pekerti luhur.

TIM GUGURGUNUNG

05 JULI 2017.

Tatanan Desa Turun Temurun

keluarga

Pada pembahasan sebelumnya kita bahas tentang Desa yang beratutan dengan Paradise dan Firdaus. Kini kita mulai untuk memahami kondisi Desa yang sejak awal jaman dibangun hingga untuk diterapkan pada akhir jaman. Perubahan Desa secara fisik pasti terjadi, namun konsep utama desa atau kawasan sebisa mungkin tetap dipertahankan sebagai bagian dari memperjuangkan Sunatullah. Kenapa demikian? Sebab kawasan yang dihuni oleh manusia seyogyanya tidak terlepas apalagi melepaskan diri dari urusan langit.

Sejak mula, desa dibangun dengan konsep pertautan antara langit dan bumi. Sebab konsep kehakikian penciptaan dengan unsur Sukma, Jiwa, dan Jasad telah secara baik dipahami oleh leluhur kita yang memiliki pengetahuan bulat tentang sebuah kediaman atau kawasan yang sempurna bernama Surga. Kembali saya ingatkan untuk jangan terjebak menganggap bahwa kehidupan awal manusia itu primitif, dungu, kagetan, gumunan dan tak tahu apapun kecuali memenuhi urusan perut. Itu salah parah karena sama saja menuduh Nabi Adam AS sebagai yang pertama adalah sosok yang demikian. Justru dari sekian rentang peradaban, jika ada yang paling dungu, kagetan, gumunan, adalah peradaban kita saat ini.

Pengetahuan leluhur yang adiluhung memberangkatkan peradaban dengan keindahan, kebaikan, kebenaran, sebagai konsep dasar ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan segala hal pasti dengan unsur itu ; Baik, Benar, Indah. Unsur ini adalah unsur spiritual. Tidak membosankan dan senantiasa menebar menyalurkan inspirasi. Oleh sebab itu Sandang dirancang dengan konsep spiritual. Papan dibangun dengan konsep spiritual. Pangan dikembangkan dengan mengacu pada tatanan dan paugeran spiritual. Sehingga para leluhur kita seakan tidak mau menyia-nyiakan sejengkal tanahpun tanpa ada Tuhan padanya. Tak ingin mengabaikan peristiwa apapun tanpa ada andil Tuhan di dalamnya. Tak ingin membuang hal sepele apapun tanpa meminta ijin dan mempertimbangkan jauh ke depan sebagai tanggung-jawab perilakunya kepada Tuhan. Leluhur kita disebut luhur bukan karena sudah menjadi ruh-ruh gentayangan. Disebut luhur karena telah meruhani menjadi satu dengan spirit keluhuran akibat dari perilakunya di dunia yang senantiasa menjaga keluhuran.

Konsep Keluhuran inilah yang hendak terus diwariskan kepada anak turun hingga pada jaman kita saat ini. Ada istilah “Wong kang ngalah luhur wekasane” / Orang yang mengalah akan membekaskan keluhuran, “Budi luhur lembah manah andhap asor” / Budi yang luhur, dan rendah hati, “Wong luhur iku awit premono ing Kang Moho Luhur” / Orang luhur itu akibat dari ketelitiannya pada Yang Maha Luhur. Untuk menyusun skema keluhuran ini, dibuatlah beberapa lapis kepemimpinan untuk kemudian saling berpilin berjalinan pada kelompok sosial lebih besar.

Keluarga (Kulowargo)

Inilah pola paling fundamental yang akan memberangkatkan warganya melakukan perjalanan menemukan keluarga-keluarga berikutnya dalam ikatan dan pengalaman lebih luas dan terintegrasi. Oleh sebab itu, sejak bermula dari sini peraturan utama yang ditanamkan adalah kejujuran sebagai representasi sikap luhur. Setelah kejujuran, setiap keluarga akan menanamkan kegembiraan saling berbagi sebagai bekal kehidupannya yang kelak makin harus mengerti bahwa untuk dimengerti dan diperhartikan oleh Tuhan, maka harus mengerti dan memberi perhatian kepada makhluk ciptaanNya.

Konsep Tunggal, adalah pendampingan keluarga kepada anak usia dengan nomina angka Tunggal 1 – 9 tahun. Konsep yang diberikan adalah memahami anak bahwa karena usianya tunggal maka anak perlu diakomodir semestanya yang merasa menjadi ‘pusat semesta’, menjadi pihak yang harus mendapat predikat terbaik, memperoleh hadiah dan pujian terbaik, mendapat perhatian utama, dan mendapat pengakuan dari lingkungannya. Inilah yang perlu dipahami orangtua kepada anaknya pada fase usia tunggal. Selain itu, orangtua perlu membuat pagar-pagar (paugeran) agar dengan karakternya yang seperti itu, anak tetap bisa belajar tentang berbagi. Konsep ini akan terus berangkat ke fase usia berikutnya, yakni usia las-lasan usia belas kasih (kawelasan). Pada ‘pemerintahan’ keluarga. Bapak, atau BOPO, adalah sebagai ‘kepala negaranya’. Disebut Bopo karena Ubo lan Upo, Ubo itu ubet, obah, bergerak untuk memenuhi fasilitas keluarga. Upo adalah adalah Nasi, simbol pangan, Upo juga merupakan Upoyo, dimana Nasi yang didapatkan harus dengan usaha dan upaya yang baik, benar, serta indah, agar menjadi hidangan yang memberikan vibrasi dan kadar cahaya berkah yang besar bagi keluarganya.

Konsep Kawelasan, yakni untuk fase usia 11 – 19 tahun. Di usian ini anak sudah menemukan keluarga yang lebih besar. Demikan dahulu, ke depan kita lanjutkan pembahasan tentang Konsep Kawelasan dan ke atasnya.

TIM GUGURGUNUNG

04 Juli 2017