Reportase: Songolasan Majlis Gugur Gunung Februari 2017

Facebooktwittertumblr

Majlisgugurgunung:: Songolasan merupakan rutinitas majlis gugur gunung setiap bulan pada tanggal 19 atau dijatuhkan sekitar tangal 19 penanggalan masehi. Pertemuan yang dimaksudkan untuk lebih mempererat tali persaudaraan serta untuk menggodog tema yang akan dibahas pada ruitinan majlis gugur gunung di malam minggu terakhir. songolasan dibuka oleh Mas Norman yang kemudian dilanjutkan oleh Mas Jion untuk memimpin munajat maiyah.

pembacaan munajat maiyah yang dipimpin Mas jion

pembacaan munajat maiyah yang dipimpin Mas jion

Berawal dari puisi dari Mas Agus yang berjudul “Negeri Daun” yang langsung direspon oleh sedulur sedulur yang hadir. Negeri daun ini mengingatkan Mas Norman tentang tema “Hasta Janma” pada gugur gunung bulan januari lalu. Beberapa hari yang lalu Mas Norman mendapati fenomena tentang daun yang jatuh. Daun tersebut berwarna kuning yang bisa diartikan Kuning sebagai laku wening. pada saat daun berwarna hijau maka akan menyerap cahaya. Lalu berubah menjadi kuning dan akhirnya jatuh/mupus yang diartikannya sebagai menghilangkan diri dan menyatu kembali dengan pencipta.

Beberapa waktu yang lalu pula Mas Norman dibuatkan sebuah geguritan oleh Mas Jion. Ditanggapi oleh Mas Agus bahwa puisi tersebut diberangkatkan dari sikap multiplayer dari adegan makro yang bercerita tentang pondasi rohani. Ada pula hal lain yang bisa ditangkap yakni manusia memiliki kesadaran mutlak untuk tidak bersatu. Tidak memahami bahwa eksistensinya sebenarnya berhubungan dengan yang lain. Sebagai daun yang bergaluh satu dengan tangkainya, batangnya ataupun akarnya diam-diam juga merasa aku bukan tangkai bukan pula batang apalagi akar. Begitu pula tangkai, dahan dan akar tidak menyadari bahwa mereka bergaluh satu. Berasal dari satu pohon tetapi setiap bagian memiliki versi kebenarannya masing-masing.

Dalam berbangsa, Entah itu dahan, ranting, dll seperti hanya sedang menjadi lembaran-lembaran daun. Hanyalah seperti wuwuh, uwuh atau sampah atau bahkan larahan. Untungnya kita tidak sedang diperankan untuk mrantasi itu. Sebagai jamiyah baiknya memiliki kesadaran manunggaling sajaroh.  Tentang larahan dengan kata dasar “larah” itu mengingatkan pembelajaran “A I U” yang jika diterapkan menjadi laku “Larah Lirih Luruh”. Majlis gugur gunung minimal sebagai Mikroorganisme untuk menjadi pupuk yang bermanfaat menumbuhkan syajaroh atau sejarah baru yang baik.

Ilmu tidak ada jawa atau bukan jawa. Ilmu hanyalah milik Allah. Jadi sangat mungkin ilmu satu dengan yang lain hampir memiliki kesamaan. Karena sourcenya hanya satu yakni pasti dari Allah.

Kita mungkin berbeda dengan orang india, amerika dll. Berbeda pula dengan orang yang ke gereja, kuil, dll. Tapi galihnya bisa saja sama. Kita yang sama-sama bernaung dalam islam Bisa saja malah tidak menemukan kesamaan galihnya. Dalam hal persaudaraan, yang akan dipertemukan adalah yang memiliki hubungan galih yang sama.

Namun ketika ada yang jelas secara akidah, itu jangan dianggap tidak saudara. Tapi dicari galihnya terlebih dahulu.

Keburukan dari hal tersebut memunculkan potensi mudah tega. Sebab membunuh diri sendiri saja mampu apalagi orang lain. Bukan diartikan hal ini secara harfiah karena yang kita cari adalah bentuk kehakikian. Kita pahami dahulu sifat-sifat kebaikan dari orang lain jangan langsung ditelan begitu saja.

Mas Wahid bercerita tentang kitab Al Hikam yang dipelajarinya. Bahwa ada dua maqom yakni maqom tajrik dan qasab. Maqom tajrik, dia dititahkan anteng seperti pohon atau undur-undur. Pohon yang kelihatannya diam namun dia juga bergerak untuk hidup meski tidak nampak. Begitu pula undur-undur yang membuat pusaran lemah sampai halus bahkan tidak keluar dari sarangnya itu melainkan menunggu makanan yakni hewan-hewan kecil terjebak dan mati dalam pusarannya tadi. Sedangkan qasab untuk memenuhi kehidupannya aktif bergerak ibarat burung.

Pengabdiannya untuk berbakti seperti posisi maqomnya. Ngerti, weruh, kroso, wicaksono wikan adalah ciri pembelajaran manusia jawa menurut kitab wedha.

Masih bersambung kepada tema guur gunung bulan januari yakni “wisno”. Dalam pada itu terdapat wirogo, wiromo, dan wiroso. Salah satu output yg akan kita tempuh adalah olah kanuragan/fisik atau olahraga. Jika mengikuti Hadist Nabi ialah berenang, memanah dan berkuda. Yang paling mungkin dilakukan adalah berenang. Namun itu adalah top down. Yang lebih diprioritaskan adalah hal yang bottom up sesuai diskusi-diskusi sebelumnya dianjurkan untuk menata pekarangannya sendiri. Karena menata pekarangan sangat mengutamakan wirogo dan  wiromo, syukur bisa wiroso. Dengan adanya kemungkinan bulan februari dan maret rutinitas gugur gunung di “off”kan. Maka tema wismo pada bulan januari semakin menegaskan pada diri kita selama dua bulan kedepan untuk menata wismo atau rumah atau minimal pekarangan rumah masing-masing.

Dengan banyaknya warna hijau atau Ijo atau ijem. Bisa menjadi idi ing jenjem. Penegasan diri yang sifatnya mulia. Bukan dengan mengakomodir bahwa melihat kita adalah yang mulia. Tapi dengan melihat bahwa ada yang Maha Mulia dan sejauh mana tetesan kemuliaan untuk kita terapkan dalam perilaku keseharian.

Memasuki pukul 01.00 dini hari songolasan majlis gugur gunung diakhiri dengan senyum bahagia dari wadyo bolo gugur gunung dan doa.

Andika Hendryawan

 

Facebooktwittertumblr
Posted in reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .