SASI TEMBANG WULAN TEMBUNG – Fitrah Makna & Tugu Kata

Di suatu kedalaman yang tak selalu terjangkau oleh kata, manusia pernah mengenal sebuah cara mendengar yang tidak bersandar pada suara. Ia tidak membaca, tidak menafsir, tidak pula merangkai makna—ia langsung memahami. Di sana, antara Sang Pencipta dan ciptaan, tidak ada jarak yang harus dijembatani oleh bahasa. Yang ada hanyalah kehadiran yang utuh, dan pemahaman yang lahir tanpa usaha. Itulah awal dari segala asal: sebuah perjumpaan yang lembut, jernih, dan tak tercemar. 

Namun perjalanan tidak berhenti di kejernihan. Manusia tumbuh, dan bersama pertumbuhannya, terbentanglah lapisan-lapisan yang memperkaya sekaligus menguji. Apa yang semula langsung, perlahan menjadi berlapis. Apa yang semula hening, mulai beresonansi. Dari sanalah lahir cara-cara baru untuk memahami—akal, akhlak, adab—yang bukan menggantikan, melainkan mengiringi dan menjaga cahaya awal agar tetap dapat ditemukan di tengah keragaman pengalaman. 

Di sisi lain, muncul pula dinamika yang tak terelakkan. Rasa ingin tahu yang menggerakkan, dorongan yang menguji, dan bisikan halus yang tak selalu mudah dibedakan arahnya. Manusia mulai mengenal pikir dan nafsu, bukan sebagai lawan yang harus dimusnahkan, melainkan sebagai ranting ujian yang menentukan arah langkahnya. Di sinilah, jalur yang dahulu jernih mulai mengalami gangguan—bukan karena terputus, tetapi karena tertutup oleh lapisan-lapisan yang kian kompleks. 

Syawal datang sebagai pengingat yang halus, bahwa kejernihan itu bukan milik masa lalu yang hilang, melainkan fitrah yang senantiasa menunggu untuk disadari kembali. Di tengah limpahan ucapan, doa, dan saling memaafkan, terselip satu kesempatan yang sering luput: kembali merasakan bahasa. Bukan sekadar mendengar kata, tetapi merasakan makna yang mengalir di baliknya. 

Maka hidup di dunia ini bukan sekadar perjalanan ke depan, melainkan perjalanan menembus ke dalam. Bukan tentang menambah yang belum ada, tetapi tentang mengingat kembali yang telah tertanam. Sebab pada hakikatnya, tidak ada yang benar-benar hilang. Yang ada hanyalah jalur yang terlupa, arah dengar yang bergeser, dan rasa yang menunggu untuk dibangunkan kembali. 

Ruang ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan segalanya, apalagi mengikat makna dalam definisi yang kaku. Ia hanyalah hantaran—sebuah undangan untuk duduk sejenak, mendengar lebih pelan, dan memberi ruang bagi sesuatu yang mungkin telah lama dikenal, namun jarang disadari. Jika ada yang terasa, biarlah ia tumbuh. Jika belum, biarlah ia berlalu tanpa paksaan. Karena tidak semua yang penting harus segera dimengerti—sebagian hanya perlu didekati dengan hati yang bersedia hadir. 

 

-Majlis Gugurgunung- 

Facebooktwitteryoutubetumblrinstagram
Posted in Mukadimah.