Irigasi 8 Asnaf – Gerak Pulang Hati Petani

Tema kali ini menyoroti delapan bilah masyarakat yang berhak atas zakat. Kita coba menelaah lebih dalam makna 8 asnaf ini. Bagaimana 8 asnaf ini dalam kosmologi tani Nusantara—masyarakat yang menumbuhkan bulir padi dengan gotong royong hidup, dan menjadikannya penopang kehidupan sosial. 

Zakat, yang secara sejarah pun tumbuh dalam masyarakat agraris-perdagangan di Mekkah dan Madinah, lahir dari ekosistem produksi yang riil—tanah, ternak, niaga, dan kerja tangan. 

Zakat bukan sekadar angka atau bobot yang dipindahkan, melainkan irigasi. Bagai petani, ia adalah soal bagaimana air mengalir, tanah bernapas, dan martabat yang dijaga agar tidak kering kerontang. Namun, jika kita mau jujur pada batin sendiri, bukankah 8 asnaf itu juga menetap dalam diri kita—dan anjuran zakat sesungguhnya sedang menyapa batin kita sendiri? 

Terkadang kita adalah Fakir yang mati rasa karena haus validasi. Di waktu lain, kita adalah Miskin yang batinnya pucat karena terus membandingkan nasib. Kita seringkali menjadi Gharimin yang tercekik oleh ekspektasi yang kita buat sendiri, atau menjadi Riqab yang terjajah oleh sistem pola hidup yang tanpa sadar membelenggu kemerdekaan jiwa. 

Maka, membedah “Irigasi 8 Asnaf” adalah cara kita menjadi Amil bagi diri kita sendiri. Kita sedang belajar mengenali kapan batin butuh “air” yang menyejukkan, kapan butuh “pupuk” yang menguatkan, dan ke arah mana “aliran” hidup ini mau kita sampaikan. Mari kita telaah dalam hangatnya berkah bulan puasa ini, agar zakat tidak berhenti sebagai kewajiban yang selesai di angka atau timbangan, tetapi sebagai aliran yang menjaga kehidupan tetap tumbuh—antara tanah yang kita pijak dan air yang menghidupi batin.  

Sebab, tanah yang retak bukan hanya karena kemarau, tapi acapkali karena aliran yang tak lagi dijaga bersama. Keluarga gugurgunung bulan ini mencoba mengkhidmati lebih jauh makna di balik zakat.  

Facebooktwitteryoutubetumblrinstagram
Posted in Mukadimah.