Nuansa Salam Nusantara II

Facebooktwittertumblr

Majlisgugurgunung:: Beberapa aspek salam yang telah diaplikasikan secara turun-temurun

  1. Permisi atau memohon ijin, dengan konsep bahwa kemanapun mengalami perjumpaan sangat dianjurkan untuk mengajukan ijin, meskipun hanya berjumpa saling berpapasan. Hal ini dengan asumsi bahwa kehadiran kita akan menjadi pengunjung bagi dunia pihak lain, begitupun sebaliknya. Maka sebagai yang hadir hendaklah menyampaikan ijin sebagai ikrar bahwa kehadirannya tidak untuk mengusik kehidupan yang lain.
  2. Mengabarkan bahwa hari ini adalah hari yang indah, adalah karena keberadaanmu yang ikut memperindahkannya. Dengan asumsi bahwa sebuah peristiwa hari akan menjadi indah karena segala unsur di dalamnya memangku harmoni dan saling mengindahkan. Keberadaan seseorang yang juga bagian dari unsur hari merupakan faktor yang sangat diakomodir karena dianggap ikut menentukan apakah hari akan indah atau kurang indah.
  3. Mendoakan bahwa dalam setiap kejadian yang indah hendaknya terserap dalam sanubari masing-masing orang untuk lebih terdorong mengembangkan keindahan dan mengemban langkah dalam konsep keindahan. Ini semacam doa keselamatan, bahwa hari senantiasa diawali dengan butiran-butiran dan tetesan-tetesan bening layaknya embun. Maka diharapkan hilangnya embun bukan karena menjadi keruh namun karena menguap menyatukan diri kepada dinamika hari.
  4. Semangat, bahwa setiap hari ataupun setiap perjumpaan layaknya pertemuan sinar fajar mentari kepada penghuni bumi. Dengan kemudian diekspresikan bagi para burung untuk menyalurkan gairah semangat tersebut dalam kicauan suaranya. Burung juga digolongkan sebagai aves (secara filologi berkait dengan ava, aiva, ayva, aywa, dlsb), dimana ayam termasuk di dalamnya. Kita semua tahu bahwa ayam sebagai salah satu golongan burung yang paling dini merespon hari dan menebarkan salam kegembiraan.
  5. Spirit harmoni, jika sapaan-sapaan ini terimplementasikan dengan apik dalam hiruk-pikuk kehidupan maka akan cepat terjadinya harmoni.

Perimbangan :

  1. Masyarakat yang sangat menghormati kehidupan yang lain, bukan hanya kehidupan manusia namun juga kehidupan hutan, gunung, samudra, dan lain sebagainya akan sangat berhati-hati dalam mengambil sikap. kerentanannya adalah : Kehati-hatian ini bisa memproduksi sikap naif dan inferior. Sikap ini juga berdampak pada cara pandang regional atau sektoral, meskipun kelas pilihan sikapnya sesungguhnya sudah sangat universal.
  2. Sulit terjadi sebuah pencapaian ilmu pengetahuan yang diawali dengan keserakahan, ambisi, rasa ingin menguasai, dlsb. Yang dengan demikian maka kualitas ruhani manusia sebagai pengambil kebijakan pemangku kehidupan dikurangi terus kualitasnya untuk berani memerankan “disharmonisasi”, misal keserakahan. Keserakahan adalah alat untuk memperluas kesaksian dan karunia Tuhan (Rahmat) yang sangat detail dan berharga sampai pada tingkat molekul dan yang lebih lembut lagi. Dalam Islam, kondisi seperti ini sesungguhnya untuk mempertemukan kehidupan bagi yang memilih cara positif untuk menapaki kehidupan dalam konsep Rohim.
  3. Orang tidak akan mencapai tingkat penghormatan yang lebih baik kepada oranglain jika tak pernah berperan mengakurasi sabar dalam menghadapi keserakahan. Orang yang serakah tak akan menghormati kesabaran jika tak pernah mengalami penderitaan kemanusiaan atas peristiwa yang menimpa oranglain. Demikian selanjutnya berlanjut pada setiap sisi polaritas.
  4. Justru karena pilihan menebar salam secara menyeluruh ini terkondisikan dengan baik, akan membuahkan persepsi bahwa tidak akan ada pertikaian yang keras, perbedaan yang fatal, dan perseteruan yang panjang. Semua diasumsikan paham benar tentang keselamatan oranglain dan keselamatan lingkungan. Maka, persepsi itu tanpa sadar bisa menjadi suplemen dari luar yang tak pernah diproduksi secara sadar dan mandiri akibatnya jika bertemu pada ketidakharmonisan akan mudah terseret, tersiksa, atau bahkan putus-asa.
  5. Bunga yang baik bukan hanya yang indah, wangi dan mekar. Melainkan juga tidak rentan terhadap kondisi eksternal, ini bukan saja akan menjadi bunga yang indah namun juga teruji. Konsep Rohim adalah sebuah jalur pilihan yang disepakati oleh pihak-pihak tertentu yang tetap menggunakan konsep Salam turun-temurun dengan teguh dan tidak rentan penyakit. Konsep Salam turun-temurun ini tetap dijunjung spiritnya dan dimutakhirkan dengan kedewasaan kesadaran dan konsekuensi menghadapi perubahan sebagai Rahmat yang mengandung Berkah.

Facebooktwittertumblr

Posted in Kembang Gunung and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , .