REPORTASE: RE MIND ING

Facebooktwittertumblr

Wasilahan yang dipimpin oleh Mas Tyo

Sabtu, 28 Oktober 2017, Cangkruk Budidoyo Maiyah Ungaran di gelar di Art Cafe, Mbalong Sari, Pringapus, Ungaran. Acara dimulai pukul 21.30 WIB. Mas Dian selaku moderator membuka acara, kemudian dilanjutkan dengan Wasilahan yang dipimpin oleh Mas Tyo, dan Munajat oleh Kang Jion. Tembang Gugurgunung karya Ki Narto Sabdo kembali dilantunkan setelah beberapa pertemuan tidak ditembangkan.

Tema “RE MIND ING” malam itu diawali dengan penjelasan Mas Kasno tentang terpilihnya tema tersebut. Mas Kasno menjelaskan soal belum didapatnya tema untuk pembahasan Majlis Gugurgunung hingga menemui kebuntuan terhadap pemilihan tema. Kemudian mas Kasno mencoba mengingat-ingat bagaimana awal mula tema itu terbentuk pada bulan-bulan sebelumnya. Lalu mencoba merelaksasi dan mengingat-ingat apa-apa saja yang sudah pernah dilakukan dari setiap tema dan bahasan yang telah bergulir tiap bulannya. Begitulah penuturan Mas Kasno tentang diangkatnya tema “RE MIND ING”. “Tema ini juga dipersembahkan untuk Mas Tyo dan Mas Didit yang senantiasa mengingatkan tentang rutinitas kegiatan Majelisan.” Imbuh Mas Kasno.

Rutinan Majlis Gugurgunung edisi Oktober 2017 dihadiri kurang lebih 20 orang menjadikan suasana kian hangat dengan hadirnya sedulur dari Jepara, Mas Haris dan Mas Anang. Mas Dian juga mempersilahkan perkenalan diri untuk Mas Ida, dan Mas Kamal yang baru sekali hadir di gugurgunung. Kang Jion ikut berkomentar soal tema dengan pemahaman berbeda. Menurutnya RE adalah mbalik, MIND itu pikir, ING yaitu balik ING Gusti Allah. Tema berbahasa Inggris itu diolahnya dan di-babar ke dalam bahasa Jawa. Menjelaskan lebih lengkap, tentang bagaimana cara menghadirkan Gusti Allah di setiap kegiatan kita sehari-hari. Manusia bisa berencana, Tapi Gusti Allah yang menentukan.

Mas Agus kemudian mulai merespon tema yang dari judul tema saja sudah dapat menyentuh hati, dan sangat menikmati respon dari setiap jama’ah yang hadir.

Mas Agus kemudian mulai merespon soal tema yang dari judul tema saja sudah dapat menyentuh hati, dan sangat menikmati respon dari setiap jama’ah yang hadir. Tema kali ini sangat luas, melebar, dan dapat dibahas dari sisi manapun. Mas Agus juga merekomendasikan untuk mengungkap beberapa tema tentang “RE MIND ING”. Pertama, mengingat posisi kita sebagai warga Maiyah. Kedua, mengingat posisi kita sebagai orang Indonesia. Dan ketiga, mengingat posisi kita sebagai umatnya Rasulullah SAW.

Mengingat posisi sebagai manusia ini sunguh asik sekali untuk dibahas dan tidak akan ada habisnya. Sebagaimana kita selalu merindukan presisi, jadi semakin kita merindukan presisi kita sebagai manusia maka  semakin indah. Tingkat kepresisian itu hanya bisa dibantu atau ditolong oleh ilham filtrasi terkadang oleh Allah SWT sendiri. Sehingga ketika kita mengemban posisi kita sebagai manusia agar presisi, sesungguhnya kita sedang menjalin keintiman kepada Allah SWT. Kita tidak memiliki gagasan tentang presisi sehingga perlu ditetesi oleh Allah SWT. Jika ingin berada di posisi presisi maka mari kita angen-angen diri sendiri, bertafakur, dievaluasi, di-scan sampai nanti bertemu sesuatu yang intim tersebut.

Mengingat posisi sebagai orang Maiyah, bahwa orang Maiyah itu telah bersepakat bahwa simpul-simpul Maiyah merupakan Majelis Ilmu. Maiyah juga bukan sebuah organisasi, Maiyah adalah organisme. Lalu siapa yang paling berilmu dari setiap simpul Maiyah, kita perlu mengingat kembali bahwa yang memiliki ilmu-ilmu bukanlah manusia. Manusia hanya ketetesan ilmu sehingga mampu menyampaikan ke pihak lain dengan kapasitas yang dia miliki. Semua orang mampu menyampaikan sesuatu dengan kapasitas yang dimiliki. Bahkan orang yang gila pun mampu menyampaikan sesuatu meski terkesan hanya ngguya-ngguyu dengan kapasitas yang dimiliki. Kalau kita merasa lebih waras berarti kita tidak hanya sekedar ngguya-ngguyu saja. Di dalam maiyah juga senantiasa merepetisi secara terus menerus segitiga cinta. Kita – Rasulullah – Gusti Allah. Itulah pijakan utama di dalam melakukan semua hal selama hidup di dunia. Apakah yang kita lakukan itu Rasulullah menyukainya apa tidak, yang kita lakukan dan pasti disaksikanNya itu sebuah perilaku yang Gusti Allah ridha atau tidak. Ketika kita terlatih dengan cara seperti itu, InsyaAllah sejelek-jeleknya kita merasa malu dan ingin untuk sedikit lebih baik, ketika merasa sedikit lebih baik muncul keinginan lebih baik lagi, dan sampai menjadi baik. Kemudian mari mengingat lagi apakah kita benar sudah baik, sedangkan manusia itu hanya makhluk, sebaik-baiknya manusia hanya diberikan kebaikan, ilmu kebijaksanaan, keadilan, untuk menjalankan laku kehidupan yang datang dari Gusti Allah.[hapus]Posisi mengingat (mengingat kembali terus menerus) menjadikan diri kita terbuka dan menjadi wadah yang kosong agar lebih mudah dalam menerima pemberianNya tersebut.

Kita berkumpul secara lokal dan mengatasnamakan sebagai simpul Maiyah dan menjadi anatomi Maiyah kemudian mengkaitkan satu dengan yang lain. Kita sebagai simpul memiliki keinginan untuk menggandeng kebersamaan dengan tetangga, handai taulan dan sebagainya. Kemudian terjalin antar simpul kerjasama-kerjasama yang lebih konstruktif. Berbagai cara dari sharing ilmu, bermuwajahah, saling mengunjungi menjadi peluang yang bisa ditempuh sebagai orang Maiyah. Sebagai contoh simpul di Jawa tengah, diibaratkan sebagai  gunung kecil yang memiliki penampang sosial dan memperluasnya sehingga Allah SWT mengangkat derajat sosial menjadi lebih tinggi. Namun bila simpul-simpul yang diibaratkan sebagai gunung dan tidak bekerjasama sejak awal, dan akan beregenarasi, terus tumbuh dan tidak pernah menyangka kalo tidak semestinya untuk berdiri sendiri-sendiri, maka yang terjadi adalah pergesekan antar gunung. Mari menjadi gunung yang satu dan saling bekerja sama untuk menjadikan penampang sosial yang lebih besar dengan cara bermaiyah. Gunung yang besar dan tinggi pasti penampangnya lebar.

Mengingat posisi sebagai orang Indonesia yang paham bahasa Indonesia. Indonesia awal mula dibangun untuk kemaslahatan bersama. Senantiasa ingat akan Indonesia yang sejak awal dibangun dengan jerih payah dan cita-cita besar. Jadi kalo ingin aman tinggal di Indonesia menjadi pihak yang saling mengamankan satu dengan yang lain adalah posisi kita sebagai orang Indonesia.

Mengingat posisi kita sebagai umat Rasulullah sebagai pedoman hidup yang pastinya sangat luas. Kita memahami konsep-konsep yang telah ditata oleh Rasulullah secara sungguh-sungguh untuk nggayuh katresnane Gusti Allah. Ketika kita mau menjalankan kehidupan kita sungguh tidak bisa bila tidak bersama dengan Rasulullah. Itu hukum pasti, tidak bisa dan tidak mungkin, Karena Rasulullah itu ibarat kotanya.

Respon selanjutnya datang dari mas Arip, teringat tentang benih ra’ dan ba’ juga tentang love and light, dan Tulisan mas Agus “Eling minangka Upaya” Ingat adalah salah satu upaya. Mencoba mengingat laku dan mencoba mengevaluasi. Tidak sekedar mengingat saja namun juga harus dilakukan.

Berikutnya Mas Norman mengabarkan tentang radio Gugurgunung yang sudah bisa diperdengarkan melalui media streaming (online). Lalu menambahkan versi lain tentang RE MIND ING. RE – kembali MIND – mengingat ING mbunderi dinding (kalender). Mengingat dari awal bulan Januari sampai Oktober dengan melingkari kalender dan diaplikasikan menjadi pointer laku kehidupan. Selanjutnya kang Patmo teringat dari hal paling mendasar tentang konsep berkeluarga. Sandang-Pangan-Papan juga keinginan tak selalu bersambut dengan keadaan.

Merespon mas Didit yang menanyakan soal Adzan apakah termasuk kedalam reminding apa tidak pasalnya dilakukan secara berulang-ulang dan tiap waktu. Mas Agus merespon bahwa Adzan disampaikan secara repetitif, dan suara Muadzin adalah sebagai seruan Allah SWT. Sholat juga mencegah dari perbuatan fasiq dan mungkar. Meskipun melalui Muadzin mari menyerap bahwa  sebaiknya menyaksikan Akbarnya Allah SWT dan bukan akbarnya diri. Kita sadar bahwa diri kerdil dan tidak tahu apa-apa. Adzan juga merangsang kegiatan yang mengingatkan tentang fitrah manusia. Kemudian mas Tyo juga ikut menambahkan soal Ahmaq yang disebut di dalam mukadimah. Ahmaq yang dimaksud adalah posisi dimana sikap/pemahaman cara berpikir, pemahaman diri yang sudah bersifat final, seperti memegang kebenaran yang hakiki. Ibarat gelas yang sudah penuh dan susah untuk menerima tetesan.

Mas Jion andum bebungah dengan melantunkan Kidung Wahyu Kala Seba yang menambah suasana hati makin tentram.

Hampir memasuki tengah malam Mas Jion andum bebungah dengan melantunkan Kidung Wahyu Kala Seba yang menambah suasana hati makin tentram. Apalagi kidung yang ditembangkam juga kaya serat akan makna.

Acara dilanjutkan dengan tanggapan mas Dika soal tema. Keterbatasan mengingat segala informasi yang didapat setiap hari, namun karena kesibukan maka tak sempat dilakukan, dijalankan. Dia juga menyikapi hal ini dengan cara memasukkan segala jenis informasi, dimasukkan saja semuanya sampai alam bawah sadar, dan diharapkan dapat bermanfaat di lain waktu. Ia juga sempat menyinggung kesibukannya yang padat, pergi dari satu kota ke kota yang lain. Namun ada saja yang membuat dirinya ingat. Dimanapun tempatnya berada ia selalu teringat akan rumah. Tidak jauh beda mas Agus juga sepakat dengan informasi yang berjubel, memori tidak akan mampu/kuat dalam proses penyimpanan. Maka informasi yang banyak itu perlu dimasukkan kedalam ruang yang lebih luas, di dalam dada kita sendiri. Informasi perlu untuk masuk ke dalam filter, agar semua informasi yang sedemikian banyak bisa lebih tersaring. Mbah Nun pernah menyampaikan soal pengibaratan kunci. Ibarat informasi adalah kunci yang tercecer dan saat itu kita berada di tengah alas/hutan  kemudian bertemu dengan rumah atau kotak. Sehingga kita mempunyai peluang membuka gembok pada rumah atau kotak yang kita temui tersebut dengan salah satu kunci yang tercecer tadi. Lalu menjawab Sohibu baity, yang sempat diminta penjelasannya oleh mas Dika. Sohibu Baity itu memposisikan Gusti Allah sebagai tuan rumah, dan Rasul adalah penjaga pintunya.

Mas Syarif menanyakan “Apakah pas ketika ada obrolan yang bersikap sensitif lalu diambil sikap bercanda?”. Mas Agus merespon bahwa tidak apalah disikapi dengan cara bercanda, karena tidak setiap hal bisa disikapi secara serius/berat. Maka terkadang menyikapi dengan cara bercanda juga diperlukan. Apalagi bila lawan bicara hanya bisa menangkap bahasa candaan. Justru tidak pas bila ditanggapi dengan hal berat berbau seperti filosofi.

Kemudian respon dari Mas Fidoh yang teringat setiap pagi dibuatkan teh/kopi oleh Ibu. Lalu Mas Ida juga sampai puasa informasi karena kemeplekan oleh berjubelnya informasi. Mas Ari Lodang yang datang terakhiran juga ikut merapat dan berkomentar. Kita tidak bisa memaksakan siapa saja untuk mau kita ingatkan (reminding) dibungkus dengan gaya khas candaannya.

Kita kadang merasa memiliki kemampuan untuk menata dengan cara merusaknya. Apalagi bila bebrayan yang baik itu dikira bertanding dengan bebrayan pihak yang lain dan semakin pihak lain tampak lebih buruk kita menjadi lebih baik. Salah satu identitas sebagai manusia terletak di akal, perasaan, rasa pangrasa. Ketika rasa pangrasa sudah ditautkan ke pihak lain kita menemukan bebrayan yang bundar. Kita menyadari apapun yang diciptakan oleh Allah SWT itu semuanya mengabdi. Kita perlu menyadari fungsi Sholat, Shodaqoh, Infaq, Hidup bebrayan dan harus ditemukan secara cerdas agar nanti menjadi pihak yang senantiasa kembali kepada Allah.

Mas Agus menutup dengan Harapan utama setelah kita menjalankan lagi proses dalam perjalanan hidup agar ada reminder-reminder baru. Apakah ada anjuran dari Mbah Nun yang sudah kita implementasikan, dan sungguh sayang apabila anjuran tersebut hanya lewat begitu saja. Bagaimana perkembangan respon kita atas tadris, ta’mil, tafhim, tarbiyatul, ta’dibul Islam, dlsb bagaimana tahap rakaat panjang yang bisa kita tegakkan? Maiyah itu sendiri juga tidak apa bila tidak ada, yang penting ada Islam. Dan bahkan tidak perlu juga ada Islam yang padat jika telah tersadarkan peradaban manusia untuk pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, peradaban yang mampu menciptakan kedamaian, saling menebarkan salam, saling membangun keselamatan, saling mengamankan, tidak mengancam harta benda, jiwa, dan martabat, disitu kita sedang menjalankan Islam yang cair tanpa beradu padatan-padatan sesama manusia dan sesama ummat Islam sendiri. Kita akan berbaur dengan cair dan mengalir tanpa perlu meniadakan padatan. Semua unsur bukan untuk saling mengelabui, menghalang-halangi, melainkan saling indah-mengindahkan. Insya Allah demikian apa yang Rasulullah pernah sampaikan di dalam kehidupan melalui perilakunya. Semoga kita bisa memberi jaminan diri sendiri atas pertolongan Allah SWT yang Maha Menjamin. Hidup kita tidak tergantung dari oranglain, hidup kita tergantung terhadap keluarga kita sendiri yang mempertautkan cinta kepada Rasulullah dan kepada Allah SWT. Tinggal kita mau keluarga dengan luasan apa. Kelak akan kita sadari pentingnya merasa dalam sebuah hunian yang sama, dalam atap rumah yang sama, merasa dalam keluarga yang sama, karena kita memproses diri membangun cinta dalam sebuah Rumah, yang Allah sebagai tuan rumah, dan Rasulullah sebagai penjaga pintunya.

Demikian, Majlisan malam itu disudahi pada pukul 00.30 WIB. Seluruh jamaah berdiri, lampu dimatikan, kemudian bersama-sama melantunkan Shohibu Baiti yang dipandu oleh mas Tyo. Seperti biasa ada beberapa sedulur yang berpamitan ada juga yang masih tinggal untuk menikmati sisa malam hari itu.

 

Chafid Herdianto
2 November 2017

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, reportase and tagged , , , , , , , , , , , .